Renungan Jumat, 20 Januari 2017

Renungan Jumat, 20 Januari 2017, Hari Biasa, Pekan Biasa II

Bacaan I : Ibr 8:6-13

“Kristus menjadi Pengantara perjanjian yang lebih agung.”

8:6 Tetapi sekarang Ia telah mendapat suatu pelayanan yang jauh lebih agung, karena Ia menjadi Pengantara dari perjanjian yang lebih mulia, yang didasarkan atas janji yang lebih tinggi. 8:7 Sebab, sekiranya perjanjian yang pertama itu tidak bercacat, tidak akan dicari lagi tempat untuk yang kedua. 8:8 Sebab Ia menegor mereka ketika Ia berkata: “Sesungguhnya, akan datang waktunya,” demikianlah firman Tuhan, “Aku akan mengadakan perjanjian baru dengan kaum Israel dan dengan kaum Yehuda, 8:9 bukan seperti perjanjian yang telah Kuadakan dengan nenek moyang mereka, pada waktu Aku memegang tangan mereka untuk membawa mereka keluar dari tanah Mesir. Sebab mereka tidak setia kepada perjanjian-Ku, dan Aku menolak mereka,” demikian firman Tuhan. 8:10 “Maka inilah perjanjian yang Kuadakan dengan kaum Israel sesudah waktu itu,” demikianlah firman Tuhan. “Aku akan menaruh hukum-Ku dalam akal budi mereka dan menuliskannya dalam hati mereka, maka Aku akan menjadi Allah mereka dan mereka akan menjadi umat-Ku. 8:11 Dan mereka tidak akan mengajar lagi sesama warganya, atau sesama saudaranya dengan mengatakan: Kenallah Tuhan! Sebab mereka semua, besar kecil, akan mengenal Aku. 8:12 Sebab Aku akan menaruh belas kasihan terhadap kesalahan mereka dan tidak lagi mengingat dosa-dosa mereka.” 8:13 Oleh karena Ia berkata-kata tentang perjanjian yang baru, Ia menyatakan yang pertama sebagai perjanjian yang telah menjadi tua. Dan apa yang telah menjadi tua dan usang, telah dekat kepada kemusnahannya.

Mazmur 85:8.10.11-12.13-14, R:9a do = a, 4/4, PS 815

Ref. Perlihatkanlah kepada kami kasih setia-Mu, ya Tuhan.
(atau) Kasih dan kesetiaan akan bertemu.

*    Perlihatkanlah kepada kami kasih setia-Mu, ya Tuhan, dan berilah kami keselamatan-Mu. Sungguh, keselamatan dari Tuhan dekat pada orang-orang takwa, dan kemuliaan-Nya diam di negeri kita.

*    Kasih dan kesetiaan akan bertemu, keadilan dan damai sejahtera akan berpelukan. Kesetiaan akan tumbuh dari bumi, dan keadilan akan merunduk dari langit.

*    Tuhan sendiri akan memberikan kesejahteraan, dan negeri kita akan memberikan hasil. Keadilan akan berjalan di hadapan-Nya, dan damai akan menyusul di belakang-Nya.

Bait Pengantar Injil, do = f, 4/4, PS 960

Refren : Alleluya, alleluya, alleluia

Ayat. (2Kor 5:19)

*    Dalam diri Kristus Allah mendamaikan dunia dengan Diri-Nya dan telah mempercayakan berita pendamaian itu kepada kami.  

Bacaan Injil : Mrk 3:13-19

Yesus memanggil kedua belas rasul

3:13 Kemudian naiklah Yesus ke atas bukit. Ia memanggil orang-orang yang dikehendaki-Nya dan merekapun datang kepada-Nya. 3:14 Ia menetapkan dua belas orang untuk menyertai Dia dan untuk diutus-Nya memberitakan Injil 3:15 dan diberi-Nya kuasa untuk mengusir setan. 3:16 Kedua belas orang yang ditetapkan-Nya itu ialah: Simon, yang diberi-Nya nama Petrus, 3:17 Yakobus anak Zebedeus, dan Yohanes saudara Yakobus, yang keduanya diberi-Nya nama Boanerges, yang berarti anak-anak guruh, 3:18 selanjutnya Andreas, Filipus, Bartolomeus, Matius, Tomas, Yakobus anak Alfeus, Tadeus, Simon orang Zelot, 3:19 dan Yudas Iskariot, yang mengkhianati Dia.

Renungan :

 “Aku akan menaruh hukum-Ku dalam akal budi mereka dan menuliskannya dalam hati mereka, maka Aku akan menjadi Allah mereka dan mereka akan menjadi umat-Ku.Dan mereka tidak akan mengajar lagi sesama warganya, atau sesama saudaranya dengan mengatakan: Kenallah Tuhan! Sebab mereka semua, besar kecil, akan mengenal Aku” (Ibr 8:10-11).

“Hukum Tuhan ada dalam akal budi dan tertulis dalam hati” siapapun yang terpanggil oleh Tuhan atau menjadi sahabat dan kekasih Tuhan. Cara hidup dan cara bertindak kita sangat dipengaruhi oleh apa yang ada di dalam akal budi atau hati kita, maka sebagai sahabat atau kekasih Tuhan mau tak mau kita akan melasanakan ‘hukum Tuhan’. Hukum Tuhan yang paling utama adalah perintah untuk saling mengasihi satu sama lain, Jika kita hidup dan bertindak saling mengasihi maka tak ada lagi tuan dan hamba, guru dan murid di antara kita, karena kita adalah sama-sama sahabat atau kekasih Tuhan. Saling mengasihi antara lain berarti saling menghormati dan menjunjung tinggi harkat martabat manusia, yang diciptakan sebagai gambar atau citra Tuhan, dan dengan demikian kita akan saling bersembah-sujud, memuliakan dan membahagiakan, sehingga kita semua dalam keadaan sehat wal’afiat, segar bugar baik jasmani maupun rohani. Tejadilah kesatuan hati dan budi di antara kita, meskipun wujud tindakan atau pelayanan konkret berbeda satu sama lain. Perbedaan yang ada di antara kita menjadi dukungan untuk semakin saling mengasihi, saling tertarik dan memikat serta mendekat, sebagaimana laki-laki dan perempuan berbeda satu sama lain tetapi saling tertarik, memikat dan tergerak untuk bersatu dan bersahabat. Sekali lagi kami berharap kepada para bapak-ibu atau orangtua untuk dapat menjadi teladan bagi anak-anaknya dalam saling mengasihi satu sama lain, dua insan yang berbeda namun sepadan.

Mazmur, Allah telah menyelamatkan.

Tuhan telah menyelamatkan umat-Nya dari pembuangan. Keselamatan itu utuh dan total. Dosa diampuni, hak atas tanah dipulihkan. Masa lampau telah lalu, namun masa untuk memperbaiki akibat-akibat dosa yang menghancurkan itu kini terbentang menantang karya umat Allah. Desa dan kota yang tinggal puing-puing, tanah yang gersang tak siap untuk menghasilkan, kelumpuhan ekonomi; itulah yang kini mereka gumuli dalam doa di hadapan kasih setia Tuhan. Pengampunan memang penting dan vital tetapi bukan segala-galanya. Kini mereka memerlukan keyakinan dan kekuatan bahwa Tuhan yang telah mengampuni dan memulihkan itu akan memampukan mereka membangun kehidupan baru bersama-Nya (11-14).

Arti keselamatan. “Selamat” istilah Indonesia untuk salam atau syalom mengandung arti sangat luas. Akibat hubungan mesra umat dengan Tuhan, umat menjalani kehidupan yang serasi de-ngan kehendak Allah dan berkat penyertaan Allah mengalir ke segala segi kehidupan. Ketenangan jiwa, keserasian sosial, kualitas hidup terhormat, kemakmuran merata, dlsb. adalah bagian yang tercakup dalam keselamatan. Ketika Israel balik kembali dari pembuangan, pengalaman pertama mereka adalah diampuni Tuhan. Pengalaman berikut adalah tantangan bahwa mereka harus bertindak dalam iman yang taat untuk membangun kembali kehidupan ekonomi-sosial-politik yang telah hancur sebelumnya. Banyak keluh kesah dalam hidup ini dilontarkan orang. Banyak doa permohonan ampun atas dosa-dosa yang terjadi di antara bangsa Indonesia telah kita tujukan kepada Tuhan. Dalam terang janji firman-Nya, kita tahu bahwa Dia mengampuni. Namun akibat-akibat buruk dosa-dosa itu tidak dapat lenyap begitu saja. Kita ditantang untuk berusaha keras menata kembali kehidupan bermasyarakat, bekerja, bersosial-politik yang berintikan takut akan Tuhan (ayat 11-12). Sebagai orang yang memahami kebenaran firman, Kristen seharusnya lebih aktif bersinar di tengah situasi sekarang ini. Saksikan Kristus dan wujudkan karya iman kita!

Injil hari ini, Dipilih dari antara orang banyak. 

Yesus menyembuhkan banyak orang dari berbagai tempat. Yesus menjadi sangat popular, tetapi tugas Yesus bukan untuk menjadi penyembuh. Karena itu Yesus melarang mereka bersaksi, Yesus ingin agar orang banyak mengenal-Nya sebagai Anak Allah melalui perkataan dan perbuatan-Nya.

Selanjutnya, Yesus berinisiatif memilih dari antara orang banyak 12 orang untuk ditetapkan menjadi rasul. Meskipun mereka yang dipilih-Nya berasal dari berbagai latar belakang, tetapi kebanyakan adalah orang “biasa”. Empat dari mereka adalah nelayan, Matius adalah pemungut cukai, Simon orang Zelot adalah seorang pejuang kemerdekaan bangsa Yahudi. Memang tidak mudah bekerja dan hidup bersama dengan orang-orang yang berbeda latar belakang, karena itu Yesus tidak pernah memaksa murid-murid untuk tetap mengikut-Nya. Yesus tidak menginginkan keikutsertaan paksa, tetapi kesukarelaan. Mereka yang dipilih-Nya melakukan dua tugas, pertama, untuk menyertai-Nya dalam tugas pelayanan. Kedua, memberitakan Injil. Tugas ini berat, namun Tuhan memperlengkapi mereka dengan kuasa yang besar. Kuasa yang melampaui kuasa setan-setan dan roh-roh jahat.

Renungkan: Orang Kristen dipilih Yesus dipilih untuk suatu tugas yang mulia, yaitu memberitakan Injil Kerajaan Allah. Tanyakan pada diri sendiri, sudahkah tugas tersebut Anda jalankan?

DOA: Bapa surgawi, kami datang menghadap Engkau pada hari ini sebagai anak-anak yang butuh dipenuhi dengan hidup-Mu. Oleh Roh Kudus-Mu, ajarlah kami agar mau dan mampu untuk bekerja bersama-sama membawa terang-Mu ketengah dunia. Amin. (Lucas Margono)

januari20

Renungan Kamis, 19 Januari 2017

Renungan Kamis, 19 Januari 2017, Hari Biasa, Pekan Biasa II

Bacaan I : Ibr 7:25-8:6

 Kristus mempersembahkan diri sekali untuk selama-lamanya.”

7:25 Karena itu Ia sanggup juga menyelamatkan dengan sempurna semua orang yang oleh Dia datang kepada Allah. Sebab Ia hidup senantiasa untuk menjadi Pengantara mereka. 7:26 Sebab Imam Besar yang demikianlah yang kita perlukan: yaitu yang saleh, tanpa salah, tanpa noda, yang terpisah dari orang-orang berdosa dan lebih tinggi dari pada tingkat-tingkat sorga, 7:27 yang tidak seperti imam-imam besar lain, yang setiap hari harus mempersembahkan korban untuk dosanya sendiri dan sesudah itu barulah untuk dosa umatnya, sebab hal itu telah dilakukan-Nya satu kali untuk selama-lamanya, ketika Ia mempersembahkan diri-Nya sendiri sebagai korban. 7:28 Sebab hukum Taurat menetapkan orang-orang yang diliputi kelemahan menjadi Imam Besar, tetapi sumpah, yang diucapkan kemudian dari pada hukum Taurat, menetapkan Anak, yang telah menjadi sempurna sampai selama-lamanya.
8:1 Inti segala yang kita bicarakan itu ialah: kita mempunyai Imam Besar yang demikian, yang duduk di sebelah kanan takhta Yang Mahabesar di sorga, 8:2 dan yang melayani ibadah di tempat kudus, yaitu di dalam kemah sejati, yang didirikan oleh Tuhan dan bukan oleh manusia. 8:3 Sebab setiap Imam Besar ditetapkan untuk mempersembahkan korban dan persembahan dan karena itu Yesus perlu mempunyai sesuatu untuk dipersembahkan. 8:4 Sekiranya Ia di bumi ini, Ia sama sekali tidak akan menjadi imam, karena di sini telah ada orang-orang yang mempersembahkan persembahan menurut hukum Taurat. 8:5 Pelayanan mereka adalah gambaran dan bayangan dari apa yang ada di sorga, sama seperti yang diberitahukan kepada Musa, ketika ia hendak mendirikan kemah: “Ingatlah,” demikian firman-Nya, “bahwa engkau membuat semuanya itu menurut contoh yang telah ditunjukkan kepadamu di atas gunung itu.” 8:6 Tetapi sekarang Ia telah mendapat suatu pelayanan yang jauh lebih agung, karena Ia menjadi Pengantara dari perjanjian yang lebih mulia, yang didasarkan atas janji yang lebih tinggi.

Mzm 40:7-8a,8b—9,10,17,

Refren: kini aku datang untuk melakukan kehendak-Mu.

*    Kurban dan persembahan tidak Kuinginkan tetapi Engkau telah membukamtelingaku; kurban baker dank urban silih tidak Engkau tuntut. Lalu aku berkata, “Lihatlah Tuhan, aku datang!?

*    “Dalam gulungan kitab ada tertulis tentang aku; Aku senang melakukan kehendak-Mu, ya Allahku; Taurat-Mua ada di dalam dadaku.”

*    Aku mengabarkan keadilan di tengah jemaat yang besar, bibirku tidak kutahan terkatup; Engkau tahu itu, ya Tuhan.

*    Biarlah bergembira dan bersukacita semua orang yang mencari Engkau; biarlah mereka yang mencintai keselamatan dari pada-Mu tetap berkata, “Tuhan itu besar!”

Bait Pengantar Injil, do = g, 4/4, PS 963

Ref. Alleluya, alleluya. Alleluya, alleluia

Sesudah ayat, Alleluya dilagukan dua kali.

Ayat. (2 Tim 1:10b)

*     Penebus kita Yesus Kristus telah membinasakan maut dan menerangi hidup dengan Injil.

Bacaan Injil : Mrk 3:7-12

Yesus menyembuhkan banyak orang

3:7 Kemudian Yesus dengan murid-murid-Nya menyingkir ke danau, dan banyak orang dari Galilea mengikuti-Nya. Juga dari Yudea, 3:8 dari Yerusalem, dari Idumea, dari seberang Yordan, dan dari daerah Tirus dan Sidon datang banyak orang kepada-Nya, sesudah mereka mendengar segala yang dilakukan-Nya. 3:9 Ia menyuruh murid-murid-Nya menyediakan sebuah perahu bagi-Nya karena orang banyak itu, supaya mereka jangan sampai menghimpit-Nya. 3:10 Sebab Ia menyembuhkan banyak orang, sehingga semua penderita penyakit berdesak-desakan kepada-Nya hendak menjamah-Nya. 3:11 Bilamana roh-roh jahat melihat Dia, mereka jatuh tersungkur di hadapan-Nya dan berteriak: “Engkaulah Anak Allah.” 3:12 Tetapi Ia dengan keras melarang mereka memberitahukan siapa Dia.

Renungan :

 “Ia sanggup juga menyelamatkan dengan sempurna semua orang yang oleh Dia datang kepada Allah. Sebab Ia hidup senantiasa untuk menjadi Pengantara mereka.”(Ibr 7:25),

Demikian petikan dari perikop Ibrani yang menjadi salah satu cirikhas imam agung. Hidup sebagai pengantara atau penyalur itulah jati diri seorang imam. Namun sebagai orang beriman kita semua juga memiliki panggilan imamat umum, maka marilah kita sekalian untuk merenungkan kutipan di atas. Hendaknya semua orang atau siapa saja yang mendatangi kita, segera kita selamatkan, artinya kita layani sebaik mungkin sehingga mereka sungguh berbahagia dan damai sejahtera, senang dan kerasan tinggal, hidup dan bekerja dengan kita. Segala sapaan, sentuhan, saran, kritik, tegoran atau perlakuan dari orang lain marilah kita tanggapi dan sikapi sebagai ‘tangan-tangan Allah’ yang mengasihi dan memperhatikan kita, yang lemah dan rapuh ini. Kita hayati semuanya itu sebagai kasih karunia Allah yang kita terima melalui mereka yang telah berbuat baik kepada kita melalui aneka cara. Memang nasib sebagai pengantara atau penyalur antara lain harus berani dan siap sedia untuk menderita dan berkorban demi kebahagiaan umum/bersama. Pengantara atau penyalur bagaikan ‘leher’, bagian anggota tubuh kita yang senantiasa siap sedia untuk dilewati namun tak mungkin menikmati serta tak pernah mengkorupsi atau mengambil sedikitpun apa yang melewatinya, entah itu makanan, minuman atau udara. Apa yang ia terima langsung diteruskan kepada mereka yang kemudian berhak menerimanya. Dengan kata lain penghayatan imamat umum kaum beriman dapat berupa hidup dan bertindak jujur, adil, rendah hati, tidak pernah korupsi atau menyakiti orang lain sedikitpun dst.. Keutamaan-keutamaan ini hendaknya sedini mungkin dibiasakan atau dididikkan pada anak-anak di dalam keluarga dengan teladan konkret dari orangtua/bapak-ibu. Marilah kita berantas aneka macam bentuk korupsi yang menyengsarakan banyak orang.

Mazmur, Penantian belum berakhir.

Bagi sebagian orang, menanti adalah pekerjaan yang sulit dan membosankan karena menuntut kesabaran dan disiplin diri yang besar. Bagi orang beriman menanti berhubungan erat dengan kedewasaan mental spiritual.

Sehubungan dengan “menanti”, umat Tuhan dikenal sebagai orang-orang yang menanti-nantikan Tuhan. Orang beriman yang belajar menanti, tidak akan diperbudak oleh hal-hal yang mendesak sebab tahu apa yang hakiki dan penting. Iman, harap, dan kasihlah yang membuat kita mampu menempatkan semua hal dalam hidup ini dalam nilai dan perspektif ilahi.

Dalam Mazmur ini, pemazmur melukiskan pengalaman hidupnya ketika ia jatuh ke dalam jerat dosa, dan menanti-nantikan Tuhan. Bagi pemazmur dosa seumpama lumpur hidup yang menghisap orang yang jatuh ke dalamnya untuk mati terbenam hidup-hidup. Semakin keras orang itu meronta berusaha melepaskan diri, semakin ia akan tersedot oleh lumpur itu. Hanya jika ada pertolongan dari luar sajalah, orang itu dapat diselamatkan. Inilah penantian yang sekaligus menunjukkan bahwa usaha manusia jelas tak mampu menyelesaikan masalah dosa. Allah tidak hanya mendengar teriakan pemazmur minta tolong. Ia bahkan menjenguk dan mengangkat si pemazmur dari lubang kebinasaan.

Banyak sekali kebaikan dan perbuatan Allah untuk kita, orang beriman. Kebaikan Allah mencapai klimaksnya pada kedatangan pertama sang Juruselamat. Ini menunjukkan bahwa Allah menggenapi janji keselamatan yang dinantikan manusia. Penggenapan janji Allah ini tidak berhenti sampai di sini, karena penggenapan pertama ini justru memasukkan kita pada penantian yang terbesar yaitu kedatangan-Nya yang kedua kali.

Renungkan: Belajarlah hidup dalam penantian kedatangan Tuhan sebab itu akan membuat kita mengutamakan kasih, kesucian, keadilan dan kebenaran.

Injil hari ini, KETULUSAN KASIH YESUS

Pada zaman ini, banyak orang berlomba-lomba untuk terkenal. Setiap ada kesempatan, orang akan menggunakan semua cara untuk semakin dikenal, disanjung, dan dihormati semua orang. Hal ini bukan hanya terjadi di kalangan selebritis, pun terjadi juga di kalangan tokoh pemerintah dan masyarakat. Kebanyakan dari antara mereka, sadar ataupun tidak, berprinsip semakin terkenal maka semuanya akan semakin lancar.

Bila kita mengikuti bacaan Injil hari ini, tampak bahwa Yesus pun semakin dikenal banyak orang. Dari berbagai tempat, banyak orang datang untuk bertemu dengan Yesus. Mereka ingin disembuhkan oleh Yesus dan berharap agar Yesus mengusir roh-roh jahat dari mereka. Dan nyatanya roh-roh jahat itu jatuh tersungkur dan mengakui bahwa Yesus adalah Anak Allah.

Dalam hal ini, kita diundang untuk bermenung sejenak tentang siapakah Yesus. Titik utama kita bukanlah pada keterkenalan Yesus, melainkan kepada apa yang telah dilakukan oleh Yesus bagi banyak orang dan kerendahan hati-Nya. Yesus banyak membantu orang dan sekaligus tidak ingin  dipuji orang. Karena itu, Yesus sangat melarang roh jahat memberitahu siapakah sesungguhnya diri-Nya. Yesus ingin agar Bapa semakin dimuliakan. Tujuan-Nya murni hanya menjalankan kehendak Bapa-Nya. Mampukah kita meniru teladan Yesus, yakni bersedia membantu sesama tanpa mengharapkan pujian dan maksud supaya semakin terkenal berbuat baik? Semoga kita tulus membantu sesama dan rendah hati!

DOA: Bapa surgawi, penuhilah diriku dengan kasih-Mu yang tanpa batas, agar supaya aku dapat dibebaskan dari rasa cemburu atau iri-hati terhadap orang-orang lain. Oleh kuasa Roh Kudus-Mu, sembuhkanlah diriku sehingga aku dapat mengasihi sebagaimana Yesus mengasihi. Amin. (Lucas Margono)

januari19

Renungan Rabu, 18 Januari 2017

Renungan Rabu, 18 Januari 2017, Hari Biasa, Pekan Biasa II

Bacaan I : Ibr 7:1-3,15-17

Kristus dan Melkisedek

7:1 Sebab Melkisedek adalah raja Salem dan imam Allah Yang Mahatinggi; ia pergi menyongsong Abraham ketika Abraham kembali dari mengalahkan raja-raja, dan memberkati dia. 7:2 Kepadanyapun Abraham memberikan sepersepuluh dari semuanya. Menurut arti namanya Melkisedek adalah pertama-tama raja kebenaran, dan juga raja Salem, yaitu raja damai sejahtera. 7:3 Ia tidak berbapa, tidak beribu, tidak bersilsilah, harinya tidak berawal dan hidupnya tidak berkesudahan, dan karena ia dijadikan sama dengan Anak Allah, ia tetap menjadi imam sampai selama-lamanya.
7:15 Dan hal itu jauh lebih nyata lagi, jikalau ditetapkan seorang imam lain menurut cara Melkisedek, 7:16 yang menjadi imam bukan berdasarkan peraturan-peraturan manusia, tetapi berdasarkan hidup yang tidak dapat binasa. 7:17 Sebab tentang Dia diberi kesaksian: “Engkau adalah Imam untuk selama-lamanya, menurut peraturan Melkisedek.”

Mazmur 110:1,2,3,4

Refren: Engkaulah Imam untuk selama-lamanya menurut Melkisedek.

*    Beginilah firman Tuhan kepada tuanku, “Dduduklah di sebelah kanan-Ku, sampai musuh-musuhmu Kubuat menjadi tumpusn kskimu!”

*    Tongkat kuasamu akan diulurkan Tuhan dari Sion; berkuasalah Engkau di antara musuhmu!

*    Engkau meraja di atas gunung yang suci sejak hari kelahiranmu sejak dalam kandungan, sejak fajar masa mudamu.

*    Tuhan telah bersumpah dan tidak akan menyesal: “Engkau adalah imam untuk selama-lamanya, menurut Melkisedek.”

Bait Pengantar Injil

Ref. Alleluya, alleluia

Ayat. (Mat 4:23)

*    Yesus memberitakan Injil Kerajaan Allah, dan menyembuhkan semua orang sakit.

Bacaan Injil : Mrk 3:1-6

Yesus menyembuhkan orang pada hari Sabat

3:1 Kemudian Yesus masuk lagi ke rumah ibadat. Di situ ada seorang yang mati sebelah tangannya. 3:2 Mereka mengamat-amati Yesus, kalau-kalau Ia menyembuhkan orang itu pada hari Sabat, supaya mereka dapat mempersalahkan Dia. 3:3 Kata Yesus kepada orang yang mati sebelah tangannya itu: “Mari, berdirilah di tengah!” 3:4 Kemudian kata-Nya kepada mereka: “Manakah yang diperbolehkan pada hari Sabat, berbuat baik atau berbuat jahat, menyelamatkan nyawa orang atau membunuh orang?” Tetapi mereka itu diam saja. 3:5 Ia berdukacita karena kedegilan mereka dan dengan marah Ia memandang sekeliling-Nya kepada mereka lalu Ia berkata kepada orang itu: “Ulurkanlah tanganmu!” Dan ia mengulurkannya, maka sembuhlah tangannya itu. 3:6 Lalu keluarlah orang-orang Farisi dan segera bersekongkol dengan orang-orang Herodian untuk membunuh Dia.

Renungan :

Diragukan karena tradisi

Iman, kasih, dan kesetiaan Kristen Yahudi kepada Yesus perlu terus diteguhkan, terutama tentang keimaman Yesus Kristus menurut Melkisedek yang mengatasi keimaman Harun dan keturunannya. Bukanlah hal yang mudah. Orang Yahudi dibesarkan dan dididik dalam adat istiadat Yahudi yang sangat menghormati seorang Imam Besar. Pelecehan terhadap seorang imam berarti pemberontakan besar terhadap Allah. Karena itu ada ikatan emosi yang mendalam antara orang Yahudi dan Imam Besar mereka. Maka peran Yesus sebagai Imam Besar harus dilegitimasi. Artinya harus dibuktikan dan disahkan bahwa Melkisedek memang lebih besar dari Harun.

Legitimasi bukan dari tradisi. Pengesahan pertama, firman Tuhan sendiri yang memberikan data tentang pertemuan Melkisedek dengan Abraham (ayat 1-2 bdk.Kej 14:17-20). Pengesahan kedua berdasarkan siapa Melkisedek menurut firman Allah yaitu raja kebenaran dan raja damai sejahtera (ayat 1-2). Pengesahan ketiga berdasarkan apa yang ia lakukan yaitu memberkati dan menerima perpuluhan (ayat 1-2). Pengesahan keempat, generasi keturunan Abraham khususnya kaum Lewi pun bisa dikatakan memberikan perpuluhan kepada Melkisedek (ayat 9-10). Dengan demikian keabsahan Yesus sebagai Imam Besar dan Agung bukanlah berdasarkan suatu keyakinan semu dan dongeng fantastis masyarakat Kristen waktu itu; tetapi berdasarkan firman Tuhan, identitas, karya dan efek dari peran Melkisedek yang menembus lapisan generasi selanjutnya.

Legitimasi yang dibuktikan. Ketika Yesus di dunia, Allah sendiri yang menyatakan kepada dunia siapa Dia (Mat 3:17). Kemudian Yesus senantiasa menyatakan kepada dunia siapa diri-Nya sebelum menyatakan mengapa Ia datang ke dunia (Mrk 10:45). Akibat dari peran yang Ia lakukan menembus dimensi ruang dan waktu (Ibrani 7:27). Dengan demikian Ia patut menerima penghormatan dan kemuliaan bukan dari orang Kristen Yahudi saja, tetapi juga dari seluruh umat Kristen yang telah ditebus oleh korban persembahan yang Ia bawa.

Penjelasan tentang Imamat Yesus mencapai puncaknya. Ia adalah seorang Imam Besar yang agung dan sempurna; semua imam yang ada sebelumnya dalam Perjanjian Lama tidak mungkin dan tidak akan pernah mencapai kesempurnaan. Karena itu tidak dibutuhkan seorang imam lain lagi, kecuali Dia. Mengapa demikian?

1) Yesus adalah Imam menurut peraturan Melkisedek (Mazmur 110:4), yang jauh melebihi kedudukan para imam seperti Abraham, Harun, dan Lewi.

2) Yesus adalah Imam sejati yang dipilih bukan berdasarkan silsilah keturunan, tetapi berdasarkan “hidup yang tidak dapat binasa” (ayat 16, 24). Yesus tidak hanya mati melainkan juga bangkit dan tidak akan mati lagi selama-lamanya. Maka Imamat-Nya tidak mungkin berujung pada kesudahan.

3) Yesus membawa suatu perjanjian yang lebih kuat kokoh, permanen, dan yang dijamin keabsahannya oleh sumpah yang telah Allah nyatakan sendiri (ayat 20-22, 28).

4) Yesus melakukan sesuatu yang tidak pernah dan tidak mungkin dilakukan oleh imam lain, siapa pun juga. Yesus Kristus mempersembahkan diri dan nyawa-Nya sendiri sebagai korban penebus dosa (ayat 22). Dia serentak menjadi imam dan persembahan untuk menyelamatkan kita! Hanya Yesus sendiri, telah sempurna. Terpujilah Dia!

Mazmur, Pengharapan mesianis. 

Yaitu kerinduan datangnya seorang tokoh yang diutus Allah untuk mendirikan kerajaan kebenaran-Nya di bumi, sudah berkembang sejak era pembuangan. Tokoh-tokoh seperti Musa, Harun, dan Daud menjadi model bagi sang mesias, yang diharapkan akan mengemban fungsi nabi, imam, dan raja secara sempurna. Bila MMazmmur 109 berisi permohonan agar Allah menegakkan keadilan-Nya, mazmur ini lebih terpusat pada sang mesias. Karena itu, sejak awal era Perjanjian Baru, para bapa gereja mengartikan bahwa Yesus penggenapnya.

Pasal 109 menyatakan bahwa Allah berdiri di tangan kanan orang yang menderita (ayat 31). Azmur 110 mengklaim bahwa sang Raja (yang mewakili seluruh umat sehingga seluruh umat tercakup di dalamnya) duduk di sebelah kanan Allah (dalam ayat 5, Allah di sebelah kanan raja). Jadi, kedua mazmur ini mengungkapkan hubungan mesra antara Allah dan umat-Nya. Allah di pihak umat-Nya yang menderita, umat-Nya merupakan wujud nyata pemerintahan Allah dalam dunia. Kekuasaan sang raja akan datang dari Allah sendiri. Ini ditegaskan melalui tiga hal: Allah sendiri mendudukkannya di sebelah kanan Allah (ayat 1a), membuat musuh-musuhnya alas kakinya (ayat 1b), dan mengulurkan tongkat kekuatan dari Zion (ayat 2a). Semua ini menunjukkan kemuliaan yang amat besar yang setara dengan yang biasa dipakai untuk mengungkapkan kebesaran Allah.

Raja memiliki fungsi rangkap. Seperti ayat 1, kini firman datang lagi menyatakan bahwa oknum yang sama juga adalah imam menurut garis Melkisedek (ayat 4). Dua hal penting muncul dalam kaitan dengan ungkapan ini. Pertama, dalam Perjanjian Lama, fungsi raja dipisah dari fungsi imam, meski dalam liturgi kadang-kadang raja bisa memimpin puji-pujian seperti yang pernah Daud lakukan (ayat 1Taw. 16). Kedua, keimaman raja yang bukan mengikuti garis keturunan Lewi kini disebut mengikuti keimaman Melkisedek. Hal ini menarik sebab dalam kisah Abraham yang adalah nenek moyang Harun dan Lewi, Abraham justru memberikan persembahan kepada Melkisedek. Ungkapan ini oleh Perjanjian Baru dilihat sebagai keimaman Yesus yang lebih mulia daripada keimaman Lewi (Ibr 7).

Renungkan: Pernyataan bahwa Yesus adalah Tuhan tidak saja bermuatan rohani (keselamatan kita), tetapi juga bermuatan politis (pemerintahan- Nya atas dunia).

Injil hari ini, Makna Sabat

Istilah workaholic dikenakan kepada pecandu kerja. Meski melakukan aktivitas pada hari Sabat, Yesus bukanlah seorang workaholic.

Sabat memang berarti hari perhentian. Orang tidak boleh melakukan aktivitas apapun pada hari itu. Namun orang Farisi membuat Sabat menjadi belenggu yang membatasi ruang gerak umat Allah. Sebab itu Yesus menunjukkan bahwa Sabat merupakan karunia Allah bagi manusia, yang dirancang sebagai hari istirahat dan hari ibadah. Bila Yesus dan para murid beraktivitas pada hari Sabat, Ia tidak bermaksud melanggar hari Sabat. Ia juga bukan sedang mengajar para murid melawan hukum Sabat. Yesus menjadikan karya-Nya sebagai bukti bahwa Anak Manusia adalah Tuhan atas hari Sabat. Dalam peristiwa makan di ladang gandum dan penyembuhan orang yang tangannya sakit sebelah, Yesus mengembalikan arti Sabat yang sesungguhnya. Sabat dilihat dari perspektif Allah yaitu mendatangkan berkat, bukan menjadi belenggu. Sabat menjadikan manusia makin menyadari hakikat diri dan memahami bahwa Allah adalah Si empunya hari Sabat.

Manusia membutuhkan hari Sabat sebagai hari ketika Allah menganugerahkan berkat-Nya. Berkat pemulihan bagi mereka yang sakit, makanan bagi yang lapar, dan pembebasan bagi yang tertindas. Memaknai Sabat sebagai hari perhentian berarti menyediakan ruang bagi Allah untuk menyatakan karya-Nya dalam hidup kita. Juga ruang bagi kita untuk menumbuhkan kepekaan terhadap sesama yang membutuhkan atau yang menderita. Maka kita bisa simpulkan bahwa Sabat ada untuk kesejahteraan manusia.

Yesus adalah Tuhan atas hari Sabat. Maksud Sabat yaitu agar manusia beroleh hubungan intim dengan Allah telah dipulihkan Yesus melalui kematian dan kebangkitan-Nya. Maka Sabat bukan lagi hanya satu hari dalam setiap minggu. Namun tiap hari adalah kesempatan bagi kita untuk berelasi intim dengan Allah. Mari kita syukuri karya Kristus ini di sepanjang hidup kita.

DOA: Yesus Kristus, Engkau adalah Tuhan dan Juruselamat kami. Terima kasih penuh syukur kami haturkan kepada-Mu untuk hukum cintakasih yang Kauberikan kepada kami. Semoga hukum cintakasih-Mu ini senantiasa mengatur hidup kami. Amin. (Lucas Margono)

januari18

Renungan Selasa, 17 Januari 2017

Renungan Selasa, 17 Januari 2016, Pw St. Antonius Abas, Pekan Biasa II

Bacaan I : Ibr 6:10-20

Tuhan Memperhitungkan

6:10 Sebab Allah bukan tidak adil, sehingga Ia lupa akan pekerjaanmu dan kasihmu yang kamu tunjukkan terhadap nama-Nya oleh pelayanan kamu kepada orang-orang kudus, yang masih kamu lakukan sampai sekarang. 6:11 Tetapi kami ingin, supaya kamu masing-masing menunjukkan kesungguhan yang sama untuk menjadikan pengharapanmu suatu milik yang pasti, sampai pada akhirnya, 6:12 agar kamu jangan menjadi lamban, tetapi menjadi penurut-penurut mereka yang oleh iman dan kesabaran mendapat bagian dalam apa yang dijanjikan Allah. 6:13 Sebab ketika Allah memberikan janji-Nya kepada Abraham, Ia bersumpah demi diri-Nya sendiri, karena tidak ada orang yang lebih tinggi dari pada-Nya, 6:14 kata-Nya: “Sesungguhnya Aku akan memberkati engkau berlimpah-limpah dan akan membuat engkau sangat banyak.” 6:15 Abraham menanti dengan sabar dan dengan demikian ia memperoleh apa yang dijanjikan kepadanya. 6:16    Sebab manusia bersumpah demi orang yang lebih tinggi, dan sumpah itu menjadi suatu pengokohan baginya, yang mengakhiri segala bantahan. 6:17 Karena itu, untuk lebih meyakinkan mereka yang berhak menerima janji itu akan kepastian putusan-Nya, Allah telah mengikat diri-Nya dengan sumpah, 6:18 supaya oleh dua kenyataan yang tidak berubah-ubah, tentang mana Allah tidak mungkin berdusta, kita yang mencari perlindungan, beroleh dorongan yang kuat untuk menjangkau pengharapan yang terletak di depan kita. 6:19 Pengharapan itu adalah sauh yang kuat dan aman bagi jiwa kita, yang telah dilabuhkan sampai ke belakang tabir, 6:20 di mana Yesus telah masuk sebagai Perintis bagi kita, ketika Ia, menurut peraturan Melkisedek, menjadi Imam Besar sampai selama-lamanya.

Mazmur 111:1-2.4-5.9.10c  

Refren : Tuhan selamanya ingat akan perjanjian-Nya.

Ayat. (Mzm 111:1-2.4-5.9.10c)

*    Aku bersyukur kepada Tuhan dengan segenap hati, dalam lingkungan orang-orang benar dan di tengah jemaat. Besarlah perbuatan-perbuatan Tuhan, layak diselidiki oleh semua orang yang menyukainya.

*    Perbuatan-perbuatan-Nya yang ajaib dijadikan peringatan; Tuhan itu pengasih dan penyayang. Kepada orang takwa diberikan-Nya rezeki. Selama-lamanya Ia ingat akan perjanjian-Nya.

*    Ia memberikan kebebasan kepada umat-Nya, Ia menetapkan perjanjian untuk selama-lamanya; kudus dan dahsyatlah nama-Nya! Dia akan disanjung sepanjang masa.

Bait Pengantar Injil

Refren : Alleluya

Ayat.

*    Bapa Tuhan kita Yesus Kristus akan menerangi mata budi kita, agar kita mengenal harapan panggilan kita.

Bacaan Injil : Mrk 2:23-28

Hari Sabat diadakan untuk manusia dan bukan manusia untuk hari Sabat

2:23 Pada suatu kali, pada hari Sabat, Yesus berjalan di ladang gandum, dan sementara berjalan murid-murid-Nya memetik bulir gandum. 2:24         Maka kata orang-orang Farisi kepada-Nya: “Lihat! Mengapa mereka berbuat sesuatu yang tidak diperbolehkan pada hari Sabat?” 2:25 Jawab-Nya kepada mereka: “Belum pernahkah kamu baca apa yang dilakukan Daud, ketika ia dan mereka yang mengikutinya kekurangan dan kelaparan, 2:26         bagaimana ia masuk ke dalam Rumah Allah waktu Abyatar menjabat sebagai Imam Besar lalu makan roti sajian itu?yang tidak boleh dimakan kecuali oleh imam-imam?dan memberinya juga kepada pengikut-pengikutn 2:27 Lalu kata Yesus kepada mereka: “Hari Sabat diadakan untuk manusia dan bukan manusia untuk hari Sabat, 2:28 jadi Anak Manusia adalah juga Tuhan atas hari Sabat.”

Renungan :

Tuhan selalu memmperhitungkan

 “Sebab Allah bukan tidak adil, sehingga Ia lupa akan pekerjaanmu dan kasihmu yang kamu tunjukkan terhadap nama-Nya oleh pelayanan kamu kepada orang-orang kudus, yang masih kamu lakukan sampai sekarang.” Ibrani 6:10

Banyak kita temukan sebagai umat beriman atau anak-anak Tuhan, yang selalu mengeluh dan bersungut-sungut ketika melayani Tuhan. Mereka berkata, “Mengapa hidupku penuh masalah dan tidak mengalami perubahan apa-apa, padahal aku sudah bertahun-tahun melayani Tuhan? Sedangkan orang lain yang tidak terlibat pelayanan hidupnya lebih enak dan terlihat tidak pernah berkekurangan. Hal ini menjadikan orang frustasi kemudian timbul niat  untuk tidak ikut pelayanan, karena pelayanan tidak menghasilkan apa-apa. Kalau aku melayani malah kehilangan banyak waktu, tenaga, materi, terkadang dicaci maki dan dijauhi teman dan saudara.” Kita berpikir Tuhan menutup mata atau melupakan segala jerih payah dan pekerjaan yang kita lakukan untuk Dia. Kita menjadi lemah dan tidak lagi bersemangat melayani Tuhan. Secara perlahan ‘api’ itu redup dan akhirnya benar-benar padam.

Anggapan bahwa Tuhan diam saja adalah salah besar! Firman Tuhan dengan sangat jelas menyatakan bahwa Tuhan akan memperhitungkan segala yang kita kerjakan untuk kemuliaan namaNya. Apa pun pelayanan kita, tidak satu pun yang terlewat dalam pandanganNya. Tuhan sudah menyediakan upah! Penulis Amsal berkata, “Dalam tiap jerih payah ada keuntungan,” (Amsal 14:23a). Maka dari itu Abraham tetap menunjukkan kesungguhannya dan terus berpegang teguh pada pengharapan, dia menanti janji Tuhan dengan sabar, dan pada waktuNya ia memperoleh apa yang dijanjikan baginya.
Bila saat ini janji Tuhan serasa jauh dan belum sepenuhnya dinyatakan dalam hidup kita, jangan menjadi kendor apalagi frustasi, tetapi  “…berdirilah teguh, jangan goyah, dan giatlah selalu dalam pekerjaan Tuhan! Sebab kamu tahu, bahwa dalam persekutuan dengan Tuhan jerih payahmu tidak sia-sia.” (1 Korintus 15:58). Marilah kita ‘menangkap’ seiap kesempatan yang ada untuk lebih bersungguh-sungguh lagi berkarya bagi Tuhan!

“Sekarang telah tersedia bagiku mahkota kebenaran yang akan dikaruniakan kepadaku oleh Tuhan, “2 Timotius 4:8.

Mazmur, Menilai dan mensyukuri keadaan.

Setiap manusia memiliki kemampuan menyikapi peristiwa yang terjadi di sekitarnya. Tanggapan tersebut seringkali berupa lontaran kata-kata kesal, keluh-kesah, atau cercaan. Sedikit sekali ucapan syukur bagi Allah.

Pemazmur yang berasal dari zaman setelah Yehuda kembali dari Babilonia menilai bahwa semua peristiwa yang terjadi atas bangsanya telah menunjukkan perbuatan Allah. Perbuatan-Nya yang agung, ajaib, benar dan adil (ay. 3, 4, 7, 8) sepatutnyalah disyukuri. Allah tidak pernah melupakan janji-Nya kepada nenek moyang bangsa Yehuda, Abraham (ay. 5). Bahkan ketika Yehuda gagal setia, Allah tetap setia dan membebaskan Yehuda dari perbudakan Babel (ay. 9). Semua itu menghantarnya untuk bersyukur.

Bersyukur karena takut akan Tuhan. Ucapan pujian dan syukur bagi Allah keluar dari setiap mulut manusia yang memiliki hati yang takut akan Tuhan. Itulah sebabnya, setiap orang Kristen selayaknya menjadikan pujian kebesaran Allah dalam setiap situasi. Ucapan pemazmur, “Aku mau bersyukur kepada Tuhan dengan segenap hati, dalam lingkungan orang-orang benar dan dalam jemaat” (ay. 1) memotivasi orang Kristen untuk merenungkan pekerjaan Tuhan setiap hari dalam hidup ini. Motivasi ini akan mendorong orang Kristen untuk lebih sering memuji nama Tuhan di setiap saat dan tempat.

Injil hari ini, Hakekat Sabat

Hakikat sabat. 

Makna sesungguhnya dari Sabat adalah saat ketika umat beristirahat dan ‘bersenang-senang karena Tuhan’ ( Yes 58:14). Allah menciptakan alam semesta beserta isinya selama 6 hari, lalu pada hari ke 7 beristirahat. Satu hari perlu bagi Allah untuk relaks. Allah pun menyadari bahwa manusia bukanlah robot yang mampu bekerja tanpa henti. Sabat merupakan saat ketika manusia disegarkan kembali rohani dan fisiknya. Namun, orang Farisi mengartikan lain. Bagi mereka tindakan para murid Yesus memetik bulir-bulir gandum pada hari Sabat adalah suatu pelanggaran. Sesungguhnya apa yang dilakukan para murid Yesus melanggar hukum yang ditetapkan orang Farisi, tetapi tidak melanggar Taurat.

Melalui perikop ini kita melihat bahwa Yesus tidak membatalkan Sabat, apalagi membuatnya menjadi tidak berlaku. Justru Yesus berupaya meletakkan kembali fungsi sabat bagi umat manusia. Bahkan terjadi perluasan jangkauan, tidak hanya berlaku bagi orang Yahudi saja, tetapi untuk semua umat manusia (ayat 27). Sabat dibuat untuk manusia, untuk kepentingan dan kesejahteraan manusia. Sabat bukan beban bagi manusia. Melalui Sabat, umat mengingat Allah, yang menciptakan alam dan isinya selama 6 hari, dan beristirahat pada hari ke-7. Kita mendapatkan pelajaran penting mengenai makna Sabat, yaitu bahwa selama enam hari manusia menikmati ciptaan — bekerja, berusaha — dan pada hari ke tujuh manusia menikmati persekutuan dengan sang Pencipta. Hanya dengan demikian manusia mengerti makna dan tujuan ciptaan. Kedua, Sabat mengingatkan bahwa Allah pembebas dan penyelamat (Ul 5:15). Mengabaikan Sabat berarti mengabaikan Allah pencipta dan penyelamat.

Renungkan: Menikmati ciptaan tanpa mengenal Allah pencipta berarti penghujatan. Manusia perlu keselamatan dari penghujatan kepada Allah.

DOA: Yesus Kristus, Engkau adalah Tuhan dan Juruselamat kami. Terima kasih penuh syukur kami haturkan kepada-Mu untuk hukum cintakasih yang Kauberikan kepada kami. Semoga hukum cintakasih-Mu ini senantiasa mengatur hidup kami. Amin. (Lucas Margono)

januari17

Renungan Senin, 16 Januari 2017

Renungan Senin, 16 Januari 2016, Hari Biasa Pekan Biasa II

Bacaan I : Ibr 5:1-10

“Yesus belajar menjadi taat, sekalipun ia Anak Allah.”

5:1 Sebab setiap imam besar, yang dipilih dari antara manusia, ditetapkan bagi manusia dalam hubungan mereka dengan Allah, supaya ia mempersembahkan persembahan dan korban karena dosa. 5:2 Ia harus dapat mengerti orang-orang yang jahil dan orang-orang yang sesat, karena ia sendiri penuh dengan kelemahan, 5:3 yang mengharuskannya untuk mempersembahkan korban karena dosa, bukan saja bagi umat, tetapi juga bagi dirinya sendiri. 5:4 Dan tidak seorangpun yang mengambil kehormatan itu bagi dirinya sendiri, tetapi dipanggil untuk itu oleh Allah, seperti yang telah terjadi dengan Harun. 5:5 Demikian pula Kristus tidak memuliakan diri-Nya sendiri dengan menjadi Imam Besar, tetapi dimuliakan oleh Dia yang berfirman kepada-Nya: “Anak-Ku Engkau! Engkau telah Kuperanakkan pada hari ini”, 5:6 sebagaimana firman-Nya dalam suatu nas lain: “Engkau adalah Imam untuk selama-lamanya, menurut peraturan Melkisedek.” 5:7 Dalam hidup-Nya sebagai manusia, Ia telah mempersembahkan doa dan permohonan dengan ratap tangis dan keluhan kepada Dia, yang sanggup menyelamatkan-Nya dari maut, dan karena kesalehan-Nya Ia telah didengarkan. 5:8 Dan sekalipun Ia adalah Anak, Ia telah belajar menjadi taat dari apa yang telah diderita-Nya, 5:9 dan sesudah Ia mencapai kesempurnaan-Nya, Ia menjadi pokok keselamatan yang abadi bagi semua orang yang taat kepada-Nya, 5:10 dan Ia dipanggil menjadi Imam Besar oleh Allah, menurut peraturan Melkisedek.

Mazmur 110:1.2.3.4

Refren: Engkaulah imam untuk selama-lamanya menurut Melkisedek.

*    Beginilah firman Tuhan kepada tuanku, “Duduklah di sebelah kanan-Ku,sampai musuh-musuhmu Kubuat menjadi tumpuan kakimu!”

*    Tongkat kuasamu akan diulurkan Tuhan dari Sion; berkuasalah Engkau di antara musuhmu!

*    Engkau meraja di atas gunung yang suci sejak hari kelahiranmu, sejak fajar masa mudamu.

*    Tuhan telah bersumpah dan tidak akan menyesal: “Engkau adalah imam untuk selama-lamanya, menurut Melkisedek”.

Bait Pengantar Injil

Ref Alleluya

Ayat: 

*    Sabda Allah itu hidup dan kuat. Sabda itu menguji segala pikiran dan maksud hati. 

Bacaan Injil : Mrk 2:18-22

“Pengantin itu sedang bersama mereka.”

2:18 Pada suatu kali ketika murid-murid Yohanes dan orang-orang Farisi sedang berpuasa, datanglah orang-orang dan mengatakan kepada Yesus: “Mengapa murid-murid Yohanes dan murid-murid orang Farisi berpuasa, tetapi murid-murid-Mu tidak?” 2:19 Jawab Yesus kepada mereka: “Dapatkah sahabat-sahabat mempelai laki-laki berpuasa sedang mempelai itu bersama mereka? Selama mempelai itu bersama mereka, mereka tidak dapat berpuasa. 2:20 Tetapi waktunya akan datang mempelai itu diambil dari mereka, dan pada waktu itulah mereka akan berpuasa. 2:21 Tidak seorangpun menambalkan secarik kain yang belum susut pada baju yang tua, karena jika demikian kain penambal itu akan mencabiknya, yang baru mencabik yang tua, lalu makin besarlah koyaknya. 2:22 Demikian juga tidak seorangpun mengisikan anggur yang baru ke dalam kantong kulit yang tua, karena jika demikian anggur itu akan mengoyakkan kantong itu, sehingga anggur itu dan kantongnya dua-duanya terbuang. Tetapi anggur yang baru hendaknya disimpan dalam kantong yang baru pula.”

Renungan:

“Engkau adalah Imam untuk selama-lamanya, menurut peraturan Melkisedek.”  (Ibrani 5:6)

Tuhan menciptakan manusia dengan kehendak bebas  agar manusia dapat belajar memahami akibat dari pilihan-pilihan hidup yang diambil.  Tuhan sangat meninginkan manusia ciptaanNya membuat keputusan yang benar dalam hidupnya yaitu mengasihi Tuhan dengan sungguh dan menaati perintah-perintahNya, dan Tuhan tidak akan pernah berdiam diri melihat orang-orang yang hidup dalam ketaatan:  Ia selalu menyediakan upah.

Hidup dalam ketaatan inilah kehendak Tuhan bagi manusia, sedangkan ketaatan itu sendiri untuk kebaikan dan mendatangkan manfaat bagi manusia.  Yesus berkata,  “Jikalau kamu mengasihi Aku, kamu akan menuruti segala perintah-Ku.”  (Yohanes 14:15).  Ia sendiri telah meninggalkan teladan ketaatan kepada kita.  “Dan sekalipun Ia adalah Anak, Ia telah belajar menjadi taat dari apa yang telah diderita-Nya,”  (Ibrani 5:8).  Ketaatan yang ditunjukkan Yesus adalah ketaatan untuk mengalami penderitaan.  Bagi kita, untuk taat saja terasa sulit apalagi taat yang menimbulkan penderitaan.

Tuhan Yesus harus mengalami penderitaan selama Ia hidup di dunia.  “Dan dalam keadaan sebagai manusia, Ia telah merendahkan diri-Nya dan taat sampai mati, bahkan sampai mati di kayu salib.”  (Filipi 2:8).  Ketaatan Yesus dalam menghadapi penderitaan membawa-Nya kepada kesempurnaan.  “dan sesudah Ia mencapai kesempurnaan-Nya, Ia menjadi pokok keselamatan yang abadi bagi semua orang yang taat kepada-Nya, dan Ia dipanggil menjadi Imam Besar oleh Allah, menurut peraturan Melkisedek.”  (Ibrani 5:9-10).  Ketaatan-Nya dalam menyelesaikan dan menggenapi misiNya menjadikan Yesus sebagai pokok keselamatan kekal bagi semua orang yang percaya kepadaNya.  “Itulah sebabnya Allah sangat meninggikan Dia dan mengaruniakan kepada-Nya nama di atas segala nama, supaya dalam nama Yesus bertekuk lutut segala yang ada di langit dan yang ada di atas bumi dan yang ada di bawah bumi, dan segala lidah mengaku: ‘Yesus Kristus adalah Tuhan,’ bagi kemuliaan Allah, Bapa!”  (Filipi 2:9-11).

Saat kita hidup dalam ketaatan itulah Tuhan berkata,  “Kamu adalah sahabat-Ku, jikalau kamu berbuat apa yang Kuperintahkan kepadamu.”  (Yohanes 15:14).  Ketaatan menjadikan kita sebagai sahabat Tuhan.

Mazmur, Duduk di sebelah kanan Allah.

Tuhan berfirman agar Daud duduk di sebelah kanan-Nya. Sebelah kanan melambangkan kepercayaan. Tuhan memberikan kepercayaan kepada Daud untuk memimpin bangsa-Nya dan bahkan Tuhan sendiri yang akan bertindak mengatasi musuh-musuh Daud. Pemerintahan Daud adalah sah karena berdasarkan pada otoritas yang datangnya dari Tuhan. Tuhan adalah sumber dari segala kekuasaan dan kerajaan Daud.

Peperangan Rohani. Pernyataan Allah bahwa Dia sendiri yang akan bertindak mengatasi “musuh-musuh” Daud bukan berarti bahwa tentara Daud hanya berdiam diri. Mereka harus maju (ay. 3), tetapi bukan dengan persenjataan atau pakaian baja yang lengkap, melainkan dengan kekudusan yang murni dan belum tercemari. Daud mengungkapkan bahwa “peperangan rohani” lebih dari peperangan jasmani. Untuk menjadi pemenang dalam peperangan ini seseorang harus memiliki kekudusan yang tak tercemari.

Kristus yang berperang. Peristiwa salib Kristus adalah peristiwa peperangan terhebat sepanjang sejarah manusia, di mana kekudusan sedang diperjuangkan dan dipertaruhkan. Kekudusan menobatkan Kristus sebagai Pemenang atas maut. Marilah kita yang kudus bermegah dan menaruh harap penuh pada Kristus.

Injil hari ini, Hakikat puasa. 

Bagi orang Yahudi berpuasa sudah merupakan tradisi. Farisi memiliki kebiasaan berpuasa 2 kali seminggu (Luk 18:12). Ada beberapa alasan untuk berpuasa. Selain puasa merupakan ungkapan kesedihan (ayat 1Samuel 31:13; 2Samuel 1:12), puasa juga dilakukan untuk menyatakan pertobatan (ayat 1Sammuel 7:6). Ketika melihat murid-murid Yesus tidak berpuasa, murid-murid Yohanes dan orang Farisi menjadi heran. Mereka ingin tahu alasannya. Yesus menjawab dengan menjelaskan dua sifat menonjol murid- murid-Nya, yaitu bahwa menjadi murid Yesus berarti bersukacita dan hidup dalam suasana yang sama sekali baru.

Pertama, sukacita. Suasana perkawinan dipakai untuk melukiskan sukacita kedatangan-Nya. Makna yang terkandung di dalamnya adalah bahwa kedatangan Yesus membawa sukacita. Karena dosa telah diampuni; permusuhan dengan Allah telah berakhir. Melalui kedatangan Yesus, manusia dan Allah telah didamaikan. Ini adalah sumber sukacita dalam hidup orang beriman.

Kedua, suasana baru. Kedatangan Yesus juga membawa suasana baru. Suasana yang sama sekali berbeda dengan yang lama. Suasana baru apa yang dibawa Yesus? Pertama, jika orang Farisi membenci dosa dan orang berdosa, Yesus justru bersekutu dengan orang-orang berdosa. Yesus membenci dosa, namun mengasihi orang berdosa. Kedua, bagi orang Farisi puasa adalah status rohani dan kesalehan yang membedakannya dengan orang lain (Luk 18:12). Tetapi, bagi Yesus puasa adalah untuk Allah, bukan untuk manusia (Mat 6:18).

Ketiga, bagi Farisi manusia untuk sabat. Bagi Yesus sabat untuk manusia.

Yesus tidak menentang apalagi menghilangkan puasa (ayat 20, bdk. Mat 4:2). Bahkan tradisi berpuasa dilanjutkan gereja Kristen purba (lih. Kis 13:2-3; 14:23). Yesus meluruskan penghayatan maknanya.

Renungkan: Tanpa perubahan moral puasa sia-sia. Tanpa transformasi hidup puasa menghina Allah (Yes 58:3-6).

DOA: Tuhan Yesus, Engkau adalah mempelai laki-laki yang telah menghantar kami untuk sampai ke Kerajaan Allah, dan dalam Engkau, Allah ada bersama dengan kami. Semoga Roh Kudus-Mu mengajar kami untuk menghargai segala sesuatu yang baik, lama maupun baru, sehingga dengan demikian kami tidak menolak apa pun yang diberikan guna memajukan Kerajaan Allah di atas bumi dan kami pun dapat sepenuhnya merangkul hidup baru yang Kauberikan kepada kami. Amin. (Lucas Margono)

januari16

 

Renungan Minggu, 15 Januari 201

Renungan Minggu, 15 Januari 2016, Hari Minggu Biasa, Pekan Biasa II

Bacaan I : Yes 49:3,5-6

“Aku akan membuat engkau menjadi terang bagi bangsa-bangsa, supaya keselamatan yang dari pada-Ku sampai ke ujung bumi.”

49:3 Ia berfirman kepadaku: “Engkau adalah hamba-Ku, Israel, dan olehmu Aku akan menyatakan keagungan-Ku.”
49:5 Maka sekarang firman TUHAN, yang membentuk aku sejak dari kandungan untuk menjadi hamba-Nya, untuk mengembalikan Yakub kepada-Nya, dan supaya Israel dikumpulkan kepada-Nya — maka aku dipermuliakan di mata TUHAN, dan Allahku menjadi kekuatanku –, firman-Nya: 49:6 “Terlalu sedikit bagimu hanya untuk menjadi hamba-Ku, untuk menegakkan suku-suku Yakub dan untuk mengembalikan orang-orang Israel yang masih terpelihara. Tetapi Aku akan membuat engkau menjadi terang bagi bangsa-bangsa supaya keselamatan yang dari pada-Ku sampai ke ujung bumi.”

Mazmur 40:2+4ab.7-8a.8b-9.10, do = f, 4/4, PS 850

Refren : Ya Tuhan aku datang melakukan kehendak-Mu.

*    Aku sangat menanti-nantikan Tuhan; lalu Ia menjengukku dan mendengar teriakku minta tolong. Ia memberikan nyanyian baru dalam mulutku untuk memuji Allah kita.

*    Kurban dan persembahan tidak Kauinginkan, tetapi Engkau telah membuka telingaku; kurban bakar dan kurban silih tidak Engkau tuntut. Lalu aku berkata, “Lihatlah Tuhan, aku datang!

*    Dalam gulungan kitab ada tertulis tentang aku: Aku senang melakukan kehendak-Mu, ya Allahku; Taurat-Mu ada di dalam dadaku.”

4. Aku mengabarkan keadilan, di tengah jemaat yang besar, bibirku tidak kutahan terkatup; Engkau tahu itu, ya Tuhan.

Bacaan II : 1Kor 1:1-3

“Kasih karunia dari Allah, Bapa kita, dan dari Tuhan Yesus Kristus.”

1:1 Dari Paulus, yang oleh kehendak Allah dipanggil menjadi rasul Kristus Yesus, dan dari Sostenes, saudara kita, 1:2 kepada jemaat Allah di Korintus, yaitu mereka yang dikuduskan dalam Kristus Yesus dan yang dipanggil menjadi orang-orang kudus, dengan semua orang di segala tempat, yang berseru kepada nama Tuhan kita Yesus Kristus, yaitu Tuhan mereka dan Tuhan kita. 1:3 Kasih karunia dan damai sejahtera dari Allah, Bapa kita, dan dari Tuhan Yesus Kristus menyertai kamu.

Bait Pengantar Injil, do = f, 4/4, PS 960

Ref. Alleluya, alleluya, alleluya
Ayat. (Yohanes 1:14:12b)
Firman telah menjadi manusia, dan diam di antara kita, semua orang yang menerima-Nya diberi kuasa menjadi anak-anak Allah.

Bacaan Injil : Yoh 1:29-34

“Lihatlah Anak Domba Allah yang menghapus dosa dunia.”

1:29 Pada keesokan harinya Yohanes melihat Yesus datang kepadanya dan ia berkata: “Lihatlah Anak domba Allah, yang menghapus dosa dunia. 1:30 Dialah yang kumaksud ketika kukatakan: Kemudian dari padaku akan datang seorang, yang telah mendahului aku, sebab Dia telah ada sebelum aku. 1:31 Dan aku sendiripun mula-mula tidak mengenal Dia, tetapi untuk itulah aku datang dan membaptis dengan air, supaya Ia dinyatakan kepada Israel.” 1:32 Dan Yohanes memberi kesaksian, katanya: “Aku telah melihat Roh turun dari langit seperti merpati, dan Ia tinggal di atas-Nya. 1:33     Dan akupun tidak mengenal-Nya, tetapi Dia, yang mengutus aku untuk membaptis dengan air, telah berfirman kepadaku: Jikalau engkau melihat Roh itu turun ke atas seseorang dan tinggal di atas-Nya, Dialah itu yang akan membaptis dengan Roh Kudus. 1:34 Dan aku telah melihat-Nya dan memberi kesaksian: Ia inilah Anak Allah.”

Renungan :

Hamba Allah.
Hamba Allah dalam perikop ini berbicara tentang Yesus Kristus. Apakah petunjuknya bahwa itu menunjuk pada Yesus Kristus? Sebutan “hamba Allah” menunjuk pada kedudukan yang rendah, namun mengarah pada tuntutan ilahi yang mutlak. Dia digambarkan sebagai suatu pribadi yang tanpa cacat cela dan sepenuhnya berkenan kepada Tuhan. Dia dibebani tugas mulia yang bukan saja menyangkut pembebasan dan pemulihan Israel, tetapi juga penyelamatan bangsa-bangsa.

Yesus Kristus adalah Hamba Allah sejati. Nubuatan Yesaya tentang Yesus Kristus menyatakan bahwa Dia telah rela menjadi hamba. Renungkan lebih dalam, betapa banyak pengorbanan yang telah dipikul-Nya untuk kita! Pikirkan juga betapa dalam dan pedih penderitaan-Nya demi menggenapi misi penyelamatan Allah untuk kita! Bagi Dialah sepatutnya kita mengarahkan segala hormat dan penaklukkan diri. Teladan-Nya sebagai Hamba Allah Sejati akan bermakna dalam hidup kita, bila kita pun mengikuti jejak-Nya.

Renungkan: Yesus Kristus telah merelakan diri-Nya menjadi hamba untuk menerangi kegelapan, kesuraman dan kekalutan.

Doa: Tuhan berkatilah hidupku untuk menjadi hamba-Mu yang menuntun orang lain hidup dalam terang firman-Mu.

Mazmur, Penantian belum berakhir.

Bagi sebagian orang, menanti adalah pekerjaan yang sulit dan membosankan karena menuntut kesabaran dan disiplin diri yang besar. Bagi orang beriman menanti berhubungan erat dengan kedewasaan mental spiritual. Sehubungan dengan “menanti”, umat Tuhan dikenal sebagai orang-orang yang menanti-nantikan Tuhan. Orang beriman yang belajar menanti, tidak akan diperbudak oleh hal-hal yang mendesak sebab tahu apa yang hakiki dan penting. Iman, harap, dan kasihlah yang membuat kita mampu menempatkan semua hal dalam hidup ini dalam nilai dan perspektif ilahi.

Dalam Mazmur ini, pemazmur melukiskan pengalaman hidupnya ketika ia jatuh ke dalam jerat dosa, dan menanti-nantikan Tuhan. Bagi pemazmur dosa seumpama lumpur hidup yang menghisap orang yang jatuh ke dalamnya untuk mati terbenam hidup-hidup. Semakin keras orang itu meronta berusaha melepaskan diri, semakin ia akan tersedot oleh lumpur itu. Hanya jika ada pertolongan dari luar sajalah, orang itu dapat diselamatkan. Inilah penantian yang sekaligus menunjukkan bahwa usaha manusia jelas tak mampu menyelesaikan masalah dosa. Allah tidak hanya mendengar teriakan pemazmur minta tolong. Ia bahkan menjenguk dan mengangkat si pemazmur dari lubang kebinasaan.

Banyak sekali kebaikan dan perbuatan Allah untuk kita, orang beriman. Kebaikan Allah mencapai klimaksnya pada kedatangan pertama sang Juruselamat. Ini menunjukkan bahwa Allah menggenapi janji keselamatan yang dinantikan manusia. Penggenapan janji Allah ini tidak berhenti sampai di sini, karena penggenapan pertama ini justru memasukkan kita pada penantian yang terbesar yaitu kedatangan-Nya yang kedua kali.

Renungkan: Belajarlah hidup dalam penantian kedatangan Tuhan sebab itu akan membuat kita mengutamakan kasih, kesucian, keadilan dan kebenaran.

 Bacaan II, Dasar iman yang sejati

Kota Korintus merupakan sebuah kota yang makmur. Banyak orang yang cukup kaya dan banyak yang bertalenta. Akan tetapi, di kota ini terdapat penyembahan terhadap dewi, yang menyebabkan kehidupan moral orang Korintus menjadi bobrok. Ini tantangan yang besar bagi orang Kristen di sana. Itu sebabnya, topik-topik kekudusan dan kesatuan diperhatikan di dalam surat ini. Berdasarkan Kisah Rasul 18:9-17, kita mengetahui bahwa ada pergumulan yang dihadapi oleh Paulus. Namun, Tuhan memberikan kekuatan dan semangat bagi Paulus untuk melayani dan memberitakan firman di sana. Ada penolakan yang dialaminya. Salah satu contohnya adalah Sostenes (seorang rekan Paulus) mengalami aniaya. Sostenes bukanlah orang yang terkenal di dalam Kitab Suci (lihat ayat 10). Sostenes adalah juru tulis Paulus  orang  biasa, namun ia adalah orang yang setia.

Apakah patokan yang kita gunakan untuk mengajak seseorang menjadi rekan pelayanan kita? Apakah itu pendidikan? Kecerdasan? Talenta? Jemaat di Korintus tidak kekurangan semuanya ini. Tapi, sayangnya, di gereja itu seringkali terjadi perselisihan. Yang mereka butuhkan adalah seorang yang setia, seperti Sostenes. Ingat, bahwa kesetiaan berkaitan erat dengan imanya. Paulus juga mengajak jemaat di Korintus untuk kembali lagi kepada pengajaran tentang dasar iman yang sejati, yakni Yesus Kristus. Yesuslah Tuhan atas gereja di Korintus dan atas seluruh gereja-Nya. Disebutkan bahwa Yesus itulah yang telah menguduskan kita (ayat 2). Kata kudus  memiliki 2 arti, yakni (1) tidak berdosa; (2) dipisahkan, dibedakan atau diasingkan dari yang lain. Dua pengertian ini dikerjakan oleh Tuhan Yesus. Kematian-Nya di kayu salib menyucikan kita dari dosa-dosa kita; dan hal ini membuat kita menjadi orang-orang yang berbeda dari orang-orang dunia, yang belum mengenal Yesus. Hidup kita bukan lagi untuk dunia ini, tapi untuk Tuhan.

Hal ini membawa implikasi bahwa kehidupan orang percaya adalah kehidupan yang kudus. Kehidupan yang selaras dengan firman Tuhan. Misalnya, kita tidak mengucapkan kata-kata yang kotor, memfitnah orang lain, mempergunjingkan orang lain, dsb. Kita memang ditempatkan Tuhan di dalam dunia ini, tapi kita bukan dari dunia ini. Penerima surat ini adalah jemaat di Korintus. Tapi, menarik sekali bahwa Paulus justru menyebutkan “semua orang di segala tempat; yang berseru kepada nama Tuhan kita Yesus Kristus” (ayat 2c). Ini berarti, Paulus bukan hanya berbicara tentang gereja lokal, tapi juga gereja universal. Dengan konsep gereja universal ini, maka kita akan saling menghormati dan mengasihi. Kita akan tahu bahwa semua orang yang berseru kepada nama Yesus kristus adalah saudara seiman. Memang kehadiran gereja baru terbaca pada Kisah Para Rasul 2. Namun, sesungguhnya gereja sudah ada dalam rencana Allah yang kekal dan akan terus ada di atas bumi ini sampai Tuhan Yesus datang kembali.

Injil hari ini, Yesus, Anak Allah

Yesus adalah Anak Allah. Hal ini merupakan pengakuan iman yang sangat penting. Namun, sering kita tidak mengerti dari mana asal pengakuan iman tersebut dan apa maknanya.

Yohanes memperkenalkan Yesus kepada publik sebagai Anak Domba Allah yang menghapus dosa dunia (ayat 29). Menurut tradisi Perjanjian Lama, Yesus adalah anak domba yang akan dikurbankan maka darahnya menjadi kurban penghapus dosa. Meskipun Yesus akan datang setelah Yohanes, keberadaan-Nya adalah kekal (ayat 30). Yohanes menjadi saksi bahwa Roh Tuhan turun ke atas Yesus seperti burung merpati (ayat 32) Itu adalah tanda bahwa Yesuslah Anak Allah yang akan membaptis manusia dengan Roh Kudus. Yohanes menunjukkan kelebihan Yesus dibandingkan dengan dirinya. Baptisan Roh Kudus lebih berkuasa dibandingkan dengan ritual baptisan air. Yesus, Anak Allah yang kekal superior dibandingkan dengan Yohanes yang diutus untuk mendahului-Nya. Kalau begitu untuk apa Yesus dibaptis oleh Yohanes? Untuk menyatakan kepada orang banyak bahwa Yesus adalah Anak Allah (ayat 31, 34). Di satu sisi, Anak Domba Allah datang untuk dikurbankan dan dicurahkan darah-Nya, di sisi lain Yesus, Anak Allah bersifat kekal dan pribadi yang diperkenan Allah untuk mencurahkan Roh-Nya. Yesus adalah Allah sendiri yang telah rela menjadi anak domba yang dikurbankan demi keselamatan manusia.

Pengalaman dan pengetahuan Yohanes yang utuh tentang Yesus sebagai Anak Allah telah mendorongnya memberi kesaksian tentang Dia. Bagaimanakah dengan kita? Banyak di antara kita yang sering bersaksi tentang Yesus, tetapi sungguhkah kita mengenal Yesus sebagai Anak Allah? Ada juga di antara kita yang merasa telah memiliki pengetahuan dan pengalaman yang utuh dengan Yesus, Anak Domba Allah, tapi sudahkah kita bersaksi tentang Dia?

Doaku: Tuhan berikan aku ketekunan untuk mengenal-Mu lebih dalam dan menyaksikan-Mu dengan berani dan rela. Amin. (Lucas Margono)

 

Renungan Sabtu, 14 Maret 2017

Renungan Sabtu, 14 Januari 2017, Hari Biasa, Pekan Biasa I

Bacaan I : Ibr 4:12-16

“Marilah kita menghampiri takhta kerahiman Allah dengan penuh keberanian.”

4:12 Sebab firman Allah hidup dan kuat dan lebih tajam dari pada pedang bermata dua manapun; ia menusuk amat dalam sampai memisahkan jiwa dan roh, sendi-sendi dan sumsum; ia sanggup membedakan pertimbangan dan pikiran hati kita. 4:13 Dan tidak ada suatu makhlukpun yang tersembunyi di hadapan-Nya, sebab segala sesuatu telanjang dan terbuka di depan mata Dia, yang kepada-Nya kita harus memberikan pertanggungan jawab. 4:14 Karena kita sekarang mempunyai Imam Besar Agung, yang telah melintasi semua langit, yaitu Yesus, Anak Allah, baiklah kita teguh berpegang pada pengakuan iman kita. 4:15 Sebab Imam Besar yang kita punya, bukanlah imam besar yang tidak dapat turut merasakan kelemahan-kelemahan kita, sebaliknya sama dengan kita, Ia telah dicobai, hanya tidak berbuat dosa. 4:16 Sebab itu marilah kita dengan penuh keberanian menghampiri takhta kasih karunia, supaya kita menerima rahmat dan menemukan kasih karunia untuk mendapat pertolongan kita pada waktunya.

Mazmur 19:8-9.10.15, do = f, 2/4, PS 853

Ref. Sabda-Mu, ya Tuhan, adalah roh dan kehidupan.

*    Taurat Tuhan itu sempurna, menyegarkan jiwa; peraturan Tuhan itu teguh memberikan hikmat kepada orang yang bersahaja.

*    Titah Tuhan itu tepat, menyukakan hati; perintah Tuhan itu murni, membuat mata ceria.

*    Takut akan Tuhan itu suci, tetap untuk selama-lamanya; hukum-hukum Tuhan itu benar, adil selamanya.

*    Lebih indah daripada emas, bahkan daripada emas tua; dan lebih manis daripada madu, bahkan daripada madu tetesan dari sarang lebah.

Bait Pengantar Injil, do = g, 4/4, PS 963

Ref. Alleluya, alleluya, alleluia

Ayat. (Luk 4:18-19)

*    Tuhan mengutus Aku mewartakan Injil kepada orang yang hina-dina dan memberitakan pembebasan kepada orang tawanan. Alleluya.

Bacaan Injil : Mrk 2:13-17

“Aku datang bukan untuk memanggil orang benar, melainkan orang berdosa.”

2:13 Sesudah itu Yesus pergi lagi ke pantai danau, dan seluruh orang banyak datang kepada-Nya, lalu Ia mengajar mereka. 2:14 Kemudian ketika Ia berjalan lewat di situ, Ia melihat Lewi anak Alfeus duduk di rumah cukai lalu Ia berkata kepadanya: “Ikutlah Aku!” Maka berdirilah Lewi lalu mengikuti Dia. 2:15 Kemudian ketika Yesus makan di rumah orang itu, banyak pemungut cukai dan orang berdosa makan bersama-sama dengan Dia dan murid-murid-Nya, sebab banyak orang yang mengikuti Dia. 2:16 Pada waktu ahli-ahli Taurat dari golongan Farisi melihat, bahwa Ia makan dengan pemungut cukai dan orang berdosa itu, berkatalah mereka kepada murid-murid-Nya: “Mengapa Ia makan bersama-sama dengan pemungut cukai dan orang berdosa?” 2:17 Yesus mendengarnya dan berkata kepada mereka: “Bukan orang sehat yang memerlukan tabib, tetapi orang sakit; Aku datang bukan untuk memanggil orang benar, melainkan orang berdosa.”

Renungan :

Kitab Suci bukan hanya berisi sejarah masa lalu atau tentang etika, moral ataupun tentang masa yang akan datang. Firman Tuhan adalah setiap perkataan yang keluar dari mulut Allah itu hidup dan kuat. Artinya Firman Tuhan itu berkarya dan bekerja dalam kehidupan manusia.

Dalam surat Ibrani ini dikatakan bahwa Firman Tuhan itu jauh lebih kuat dan tajam dari pedang bermata dua manapun. Sanggup memisahkan jiwa dan roh; sumsum dan tulang. Sebab Firman Allahlah yang menjadikan segala sesuatunya, maka rahasia tentang segala sesuatunya juga ada pada Firman Allah. Dengan demikian tidak ada sesuatu apapun yang dapat disembunyikan dari Tuhan. Maka Tuhan mengenal siapa kita dan bagaimana kita dan juga seperti apa kehidupan kita. Bahkan pengetahuan Tuhan akan diri kita jauh lebih tinggi dari pengetahuan akan diri kita sendiri. Pengetahuan Allah yang begitu luar biasa atas kehidupan kita telah membawa perubahan bagi kehidupan manusia.

Yesus Kristus, Imam Besar Agung yang telah mentasi segala langit. Tuhan mengetahui penderitaan dan kesengsaraan manusia. Bahkan tidak hanya mengetahui tetapi juga yang mau turut merasakan apa yang dirasakan manusia. Sebagaimana yang ditulis oleh Yohanes:“Firman itu telah menjadi manusia, dan diam diantara kita” (Yoh. 1: 14). Bahwa Firman itu hidup dan ada diantara kita, sehingga kita telah memiliki kuasa Allah yang besar dari sorga yang hidup, kuat dan ada bersama kita. Demikianlah kita telah memiliki kekuatan dalam menjalani kehidupan, kita telah diperlengkapi dengan senjata tercanggih sepanjang jaman yaitu Firman Allah. Tetapi Firman Allah itu adalah pedang bermata dua. Yang pertama kita akan dimampukan mengenal siapa diri kita, dan yang kedua bahwa Firman itu menjadi senjata kita untuk menghadapi kehidupan ini. Kuasa dari sorga telah dinyatakan untuk menjadi bagian kehidupan kita bahkan akan memberikan pertolongan kepada kita pada waktunya (ay.16). Firman Tuhan menyuarakan pada kita untuk datang menerima kasih karunia dan rahmat Tuhan yang besar itu.

Pengetahuan Tuhan akan diri kita dan kasih karunia Allah yang besar yang diberikan kepada manusia yaitu kuasa yang dari sorga selayaknyalah kita terima. Penerimaan kita adalah membuka hati dan pikiran, menerima Firman Allah yang bersabda atas diri kita. Sebab setiap ucapan yang keluar dari mulut Allah berkuasa menyelamatkan hidup kita, jangan lagi kita suam-suam kuku dalam menerima setiap Firman Tuhan, jangan pula kita seperti orang yang melihat tetapi tidak memperhatikan, mendengar tetapi tidak menyimak, membaca tetapi tidak melakukan. Imani dan lakukanlah, maka engkau akan diselamatkan!

Mazmur, Indahnya berintereaksi dengan firman-Nya.

Allah telah menyatakan kemuliaan dan pekerjaan tangan- Nya melalui ciptaan-Nya (2-7). Melalui alam semesta ini manusia sebetulnya dapat mengenal hikmat, kekuatan, serta kebaikan Allah. Walaupun alam semesta tidak dikaruniai kemampuan untuk berbicara (4), kebisuan mereka mampu menceritakan kemuliaan Allah sehingga didengar oleh siapa pun, dimana pun, serta kapan pun.

Penyataan Allah tidak berhenti sampai di sini sebab penyataan umum melalui alam semesta tidak mungkin memampukan manusia bertahan dalam kehidupan ini dan memiliki hidup yang berkenan kepada-Nya (15). Karena itu penyataan umum ini diperkaya dengan penyataan khusus Allah yaitu firman-Nya (8-11). Melaluinya Allah menjalin hubungan dengan manusia secara langsung dan menyentuh keberadaan manusia hingga ke pusat kehendaknya yaitu mulai dari akal budi, hati, hingga jiwa. Sentuhan yang dilakukan oleh firman-Nya adalah sentuhan secara pribadi dan bekerja di dalam diri manusia. Manusia yang tersentuh oleh firman-Nya menjadi manusia yang tidak terpengaruh oleh situasi dan kondisi di sekitarnya. Apa pun yang terjadi jiwanya tetap segar dan hatinya tetap bersuka. Kesegaran dan kesukaan itu akan memancar keluar dari matanya sehingga orang lain dapat menyaksikannya (9). Ia akan menyadari dosa- dosanya, dan mengerti bagaimana seharusnya ia hidup (12), serta ketidakmampuannya untuk hidup sesuai dengan kehendak-Nya (13). Daud menyadari semuanya ini dan dituntun untuk memohon kepada Allah agar dianugerahi kemampuan dan kesempatan untuk hidup berkenan kepada- Nya (14-15).

Jika alam semesta bekerja dalam kebisuannya, firman itu akan bekerja dalam intereaksinya dengan manusia. Karena itu manusia harus mempelajari dan memegang teguh firman-Nya seperti yang diteladankan oleh Daud (12-13).

Renungkan: Betapa indah, sempurna, teguh, tepat, murni, benar dan lebih bernilainya firman Allah dari segala kemuliaan harta dunia, (11). Karena itu jangan biarkan firman itu diam dalam kebisuan karena keengganan kita untuk berintereaksi dengannya. Keindahan dan kekuatannya akan bekerja dalam diri kita jika kita mau menyediakan waktu secara khusus untuk berintereaksi dengannya.

Injil hari ini, Meneladani sikap Farisi atau Yesus?

Bagaimana sikap kita terhadap orang yang kita anggap jahat? Seandainya ada tetangga kita yang mantan narapidana kembali ke rumahnya, bagaimana kira-kira sikap kita dan lingkungan kita terhadap dia? Mungkin sebagian besar akan menjauhi dia. Bahkan berprasangka buruk terhadap dia. Lalu apakah Allah juga menjauhi dia?

Perikop hari ini menunjukkan hal yang berbeda. Yesus memanggil Lewi, si pemungut cukai, untuk mengikut Dia. Ini menimbulkan tanda tanya besar dalam benak ahli-ahli Taurat dari golongan Farisi. Apalagi Yesus bukan hanya memanggil Lewi, tetapi ikut makan juga di rumahnya bersama pemungut cukai lain dan orang-orang berdosa (ayat 14-15). Bagi orang-orang Farisi yang setia memelihara Hukum Taurat, pemungut cukai serta orang-orang berdosa adalah kelompok yang harus dijauhi. Tak layak untuk didekati sebab para pemungut cukai bekerja untuk pemerintahan Romawi yang dianggap kafir. Maka mereka pun dianggap menjadi najis. Apalagi mereka bekerja dengan tamak. Orang-orang berdosa juga harus dijauhi karena mengingkari Hukum Taurat dan melanggar peraturan Farisi. Namun bagi Yesus, para pemungut cukai dan orang-orang berdosa harus dirangkul masuk ke dalam Kerajaan Allah. Orang-orang tersebut bagai orang sakit yang harus disembuhkan. Dan itulah tujuan utama kedatangan Yesus, yaitu untuk memanggil orang berdosa supaya bertobat. Dengan demikian kehadiran Kerajaan Allah menjadi nyata bagi kaum yang tersisih (ayat 17).

Sebagai pengikut Kristus, bagaimana sikap kita terhadap orang-orang yang dikucilkan? Sebagai gereja, apakah kita sudah peka dan membuka mata hati bagi orang-orang yang disingkirkan? Ataukah gereja yang telah mengalami penerimaan Allah bersikap tak peduli dan sibuk membangun diri hingga bak menara gading? Atau malah terjun sebagai pemain baru dan ikut mengucilkan orang-orang yang dipinggirkan? Kiranya Tuhan menolong kita untuk memiliki hati seperti Dia: melihat bahwa orang berdosa memerlukan Kristus.

DOA: Tuhan Yesus, aku membuka hatiku kepada-Mu. Biarlah sabda-Mu memotong segala sesuatu yang berdosa dalam diriku. Aku percaya kepada kuasa-Mu untuk menyembuhkan segala sakit-penyakit. Berikanlah kepadaku kekuatan untuk melalukan pertobatan. Bersihkanlah aku dan berdayakanlah aku untuk selalu bertumpu pada hidup dan kasih-Mu. Amin. (Lucas Margono)

januari14