Renungan Selasa 11 Juli 2017

Renungan Selasa 11 Juli 2017, PW. St Benediktus, Abas, Pekan Biasa XIV 

Bacaan I : Kej 32:22-32

“Namamu selanjutnya adalah Israel sebab engkau bergumul melawan Allah dan engkau menang.”

32:22 Pada malam itu Yakub bangun dan ia membawa kedua isterinya, kedua budaknya perempuan dan kesebelas anaknya, dan menyeberang di tempat penyeberangan sungai Yabok. 32:23 Sesudah ia menyeberangkan mereka, ia menyeberangkan juga segala miliknya. 32:24 Lalu tinggallah Yakub seorang diri. Dan seorang laki-laki bergulat dengan dia sampai fajar menyingsing. 32:25 Ketika orang itu melihat, bahwa ia tidak dapat mengalahkannya, ia memukul sendi pangkal paha Yakub, sehingga sendi pangkal paha itu terpelecok, ketika ia bergulat dengan orang itu. 32:26 Lalu kata orang itu: “Biarkanlah aku pergi, karena fajar telah menyingsing.” Sahut Yakub: “Aku tidak akan membiarkan engkau pergi, jika engkau tidak memberkati aku.” 32:27 Bertanyalah orang itu kepadanya: “Siapakah namamu?” Sahutnya: “Yakub.” 32:28 Lalu kata orang itu: “Namamu tidak akan disebutkan lagi Yakub, tetapi Israel, sebab engkau telah bergumul melawan Allah dan manusia, dan engkau menang.” 32:29 Bertanyalah Yakub: “Katakanlah juga namamu.” Tetapi sahutnya: “Mengapa engkau menanyakan namaku?” Lalu diberkatinyalah Yakub di situ. 32:30 Yakub menamai tempat itu Pniel, sebab katanya: “Aku telah melihat Allah berhadapan muka, tetapi nyawaku tertolong!” 32:31 Lalu tampaklah kepadanya matahari terbit, ketika ia telah melewati Pniel; dan Yakub pincang karena pangkal pahanya. 32:32 Itulah sebabnya sampai sekarang orang Israel tidak memakan daging yang menutupi sendi pangkal paha, karena Dia telah memukul sendi pangkal paha Yakub, pada otot pangkal pahanya.

Mazmur 17:1.2-3.6-7.8b.15
Ref. Dalam kebenaran aku akan memandang wajah-Mu, ya Tuhan.

*   Dengarkanlah, Tuhan, pengakuan yang jujur, perhatikanlah seruanku; berilah telinga kepada doaku, doa dari bibir yang tidak menipu.

*    Dari pada-Mulah kiranya datang penghakiman: kiranya mata-Mu melihat apa yang benar. Bila Engkau menguji hatiku; bila Engkau memeriksanya pada waktu malam dan menyelidiki aku, maka tidak suatu kejahatan pun Kautemukan.

*    Aku berseru kepada-Mu, karena Engkau menjawab aku, ya Allah; sendengkanlah telinga-Mu kepadaku, dengarkanlah perkataanku. Tunjukkanlah kasih setia-Mu yang ajaib, ya Engkau yang menyelamatkan orang-orang yang berlindung pada tangan kanan-Mu terhadap pemberontak.

*    Peliharalah aku seperti biji mata, sembunyikanlah aku dalam naungan sayap-Mu. Dalam kebenaran akan kupandang wajah-Mu, dan pada waktu bangun aku akan menjadi puas dengan rupa-Mu.

Bait Pengantar Injil
Ref. Alleluya
Ayat. (Yoh 10:14)
Aku ini gembala yang baik, sabda Tuhan; Aku mengenal domba-domba-Ku dan domba-domba-Ku mengenal Aku. 

Yesus meneguhkan para murid-Nya untuk bekerja sama dengan-Nya dalam mewartakan kabar keselamatan dan kasih Allah. Dia juga berharap akan semakin banyak orang yang turut serta dalam jalan pengabdian ini.

Bacaan Injil : Matius 9:32-38

“Tuaian memang banyak, tetapi sedikitlah pekerjanya!”

9:32 Sedang kedua orang buta itu keluar, dibawalah kepada Yesus seorang bisu yang kerasukan setan. 9:33  Dan setelah setan itu diusir, dapatlah orang bisu itu berkata-kata. Maka heranlah orang banyak, katanya: “Yang demikian belum pernah dilihat orang di Israel.” 9:34   Tetapi orang Farisi berkata: “Dengan kuasa penghulu setan Ia mengusir setan.” 9:35 Demikianlah Yesus berkeliling ke semua kota dan desa; Ia mengajar dalam rumah-rumah ibadat dan memberitakan Injil Kerajaan Sorga serta melenyapkan segala penyakit dan kelemahan. 9:36 Melihat orang banyak itu, tergeraklah hati Yesus oleh belas kasihan kepada mereka, karena mereka lelah dan terlantar seperti domba yang tidak bergembala. 9:37 Maka kata-Nya kepada murid-murid-Nya: “Tuaian memang banyak, tetapi pekerja sedikit. 9:38 Karena itu mintalah kepada tuan yang empunya tuaian, supaya Ia mengirimkan pekerja-pekerja untuk tuaian itu.”

Renungan :

Bergumul untuk berkat Allah

Kekuatiran tidak menyelesaikan masalah. Kekuatiran membuat kita mudah menyalahkan orang lain. Kekuatiran mengundang banyak penyakit. Kekuatiran bukanlah keadaan. Kekuatiran adalah pilihan . Mari kita pilih untuk “TIDAK KUATIR”.

Pergumulan Yakub dengan Allah dicatat di dalam kitab Kejadian 32:22-32. Latar belakang dari kisah ini bisa dibaca di ayat – ayat sebelumnya di pasal 31 dan 32. Setelah lebih dari 20 tahun meninggalkan ayahnya (Ishak), ibunya (Ribka), dan kakaknya (Esau), Allah berfirman kepada Yakub “pulanglah ke negeri nenek moyangmu dan kepada kaummu, dan Aku akan menyertai engkau” – (Kejadian 31:3). Lalu Yakub menurut dan ia berjalan pulang bersama dengan seluruh harta kekayaan dan anak istrinya.
“Yakub takut bertemu dengan Esau“, karena Yakub pernah menipu Esau 2 kali (Kejadian 27:36): Dengan roti dan masakan kacang merah, ia mendapatkan hak kesulungan dari Esau. Ia menipu Ishak untuk mendapatkan berkat anak sulung. Karena kedua hal tersebut, Esau sangat dendam dengan Yakub dan berniat untuk membunuhnya (Kejadian 27: 41). Karena itulah Yakub begitu takut untuk bertemu dengan Esau, kakak kandungnya yang pernah ia tipu.

MENGAPA ALLAH BERGUMUL DENGAN YAKUB

Sesudah Yakub bergumul ada satu kejadian penting yang terjadi, yakni nama Yakub dirubah menjadi Israel (Kej 32:28). Allah ingin mengubah Yakub dari sisi jasmani maupun rohani. Dalam Hosea 12:3-4 “Di dalam kandungan ia menipu saudaranya, dan dalam kegagahannya ia bergumul dengan Allah. Ia bergumul dengan Malaikat dan menang; ia menangis dan memohon belas kasihan kepada-Nya…“ Apa maksud dengan kedua – duanya (bergumul dengan Allah dan juga dengan malaikat) ? Secara fisik (JASMANI) Yakub bergumul DENGAN MALAIKAT. Namun secara batin (ROHANI) Yakub bergumul DENGAN ALLAH. Allah ingin merubah (transformasi) sisi rohani Yakub.

SISI ROHANI YAKUB YANG INGIN TUHAN UBAHKAN Untuk melihat transformasi rohani Yakub yang Allah kerjakan melalui pergumulan, mari kita terlebih dahulu mengenal siapa pribadi Yakub. Secara singkat, Yakub memiliki sifat sebagai berikut: Pandai, namun suka menipu. Ia menipu Esau untuk mendapatkan hak sulung dan Ishak ayahnya demi berkat anak sulung. Egois. Dia tidak memikirkan kepentingan Esau, dan ketika ia akan bertemu dengan Esau, ia mengirim anak istrinya terlebih dahulu menyebrangi sungai. Berkemauan keras. Untuk mendapatkan Rahel, ia bersedia bekerja selama 14 tahun bagi Laban mertuanya. Percaya kepada Tuhannya Ishak dan Abraham. Yakub mendengarkan Allah berfirman untuk kembali pulang ke rumah ayah ibunya. Walaupun nyawa adalah taruhannya, Yakub memutuskan untuk menurut. Kita lihat Yakub memiliki sifat yang baik dan juga yang jelek. Dari pergumulan ini Allah ingin merubah sifatnya yang jelek dan sekaligus memperkuat yang baik. Untuk itu Allah sengaja menyuruh Yakub pulang menghadapi Esau dan di dalam ketakutannya, Yakub tidak memiliki jalan lain… ia harus bergumul dengan Allah (ia harus mengadakan pemberesan rohani). Bagaimana Allah mengadakan pemberesan rohani dengan Yakub ? Dengan MEMBUAT PANGKAL PAHANYA TERPELECOK Allah ingin MENGAJARKAN Yakub untuk tidak lagi bergantung kepada dirinya sendiri, dan mulai hari itu BERGANTUNG SEPENUHNYA KEPADA ALLAH. Di Kejadian 32:10 ditulis “… sebab aku membawa tongkatku ini waktu aku menyeberangi sungai Yordan ini, tetapi sekarang telah menjadi 2 pasukan“:

Yakub mengenang ketika ia lari dari Esau dan pertama kalinya ia menyebrangi sungai Yordan. Bagi orang Israel tongkat adalah lambang kekuatan, dan bisa dipakai untuk membela diri. Saat itu Yakub masih muda, masih kuat, dan masih bisa bergantung kepada diri sendiri. Yakub berkata kepada Tuhan: “dahulu aku susah… namun dengan kekuatan dan kegigihan aku bekerja… sekarang aku sangat diberkati… aku bukan lagi seorang pelarian yang tidak memiliki apa – apa… kalau tongkat ini dapat berbicara, dia akan menjadi saksiku

Namun setelah kakinya pincang… tongkat Yakub bukan lagi menjadi simbol kekuatan… melainkan menjadi penopang (alat bantu berdiri). Setiap kali ia melihat kakinya yang pincang dan tongkat ini, Yakub diingatkan mengenai penyertaan Allah di dalam hidupnya. Yakub menyadari “Allah adalah sumber kekuatanku… tanpa Dia aku tidak bisa apa – apa “. Yakub tetap bergantung kepada Allah sampai pada hari ia mati, itulah sebabnya ia dikenal sebagai salah satu saksi iman. Ibrani 11:21 – “Karena iman maka Yakub, ketika hampir waktunya akan mati, memberkati kedua anak Yakub, LALU MENYEMBAH SAMBIL BERSANDAR PADA TONGKATNYA

Seperti dibahas di atas, Yakub adalah seorang penipu. Dia pernah berkata kepada Ishak bahwa dirinya adalah Esau. Kejadian 27:24 – “tetapi ia (Ishak) masih bertanya: “Benarkah engkau ini anakku Esau?” Jawabnya (Yakub): “Ya!”. Kita lihat bagaimana cara Allah memulihkan Yakub dari sifatnya sebagai penipu. Kejadian 32:7 – Bertanyalah orang itu (malaikat Allah) kepadanya “SIAPAKAH NAMAMU ?” Sahutnya “YAKUB“. Nama Yakub diberikan oleh orang tuanya karena dia memegang kaki kakaknya ketika lahir. Suatu sifat bawaan dari lahir dimana dia tidak mau berjuang untuk keluar lahir dari rahim ibunya, memanfaatkan orang lain, dan juga keinginan untuk memegang / mengambil kepunyaan kakaknya. Dengan nama itu, ia tumbuh menjadi orang yang suka menipu dan menghalalkan segala macam cara untuk mendapatkan apa yang ia mau. Namun betapa malangnya, dia sendiri ditipu oleh orang yang lebih lihai, yakni Laban mertuanya. Ketika dia menjawab dengan jujur mengenai namanya, Yakub dengan jujur menyadari SIAPA DIA. Dan Allah melihat hatinya Yakub dan berkata “bagus… Aku melihat kejujuranmu… dan sekarang Aku akan merubah engkau dengan memberikan nama baru, ISRAEL yang berarti “dia yang telah bergumul dengan Allah dan manusia”. Yakub sebagai Israel dapat berdiri tegak di hadapan Allah maupun manusia. Setelah Yakub mengalami transformasi tersebut bisa kita lihat di perubahan yang luar biasa di dalam diri Yakub. Mari kita baca di dalam Kejadian 33:2-3 “Ia menempatkan budak-budak perempuan itu beserta anak-anak mereka di muka, Lea beserta anak-anaknya di belakang mereka, dan Rahel beserta Yusuf di belakang sekali. Dan ia sendiri berjalan di depan mereka dan ia sujud sampai ke tanah tujuh kali,hingga ia sampai ke dekat kakaknya itu.” Kita lihat bagaimana Yakub menjadi seorang pribadi yang bertanggung jawab, berani menghadapi tantangan, dan memiliki kerendahan hati untuk mengakui kesalahannya di masa lalu. Inilah ciri – ciri dari seorang pria sejati. APA YANG BISA KITA PELAJARI DARI KISAH YAKUB INI ? Tuhan mengijinkan adanya masalah dan tantangan, untuk merubah kita menjadi lebih baik dan supaya iman kita kepada Nya bertumbuh. Permasalahan yang terbesar itu bukanlah situasi atau kondisi di luar, Allah lebih memasalahkan isi hati kita (aspek rohani). Transformasi hidup hanya bisa terjadi ketika kita mengalami perjumpaan pribadi dengan pencipta kita. Determinasi dalam mengejar Tuhan… SEKALI MENANGKAP TUHAN… KITA TIDAK AKAN PERNAH MELEPASKANNYA LAGI (NEVER LET HIM GO

Yakub belum lama melarikan diri dari Laban, mertuanya yang dia tipu, dan sekarang menuju tanah Kanaan, di mana dia harus berhadapan dengan Esau, kakaknya yang juga dia tipu. Kembali ke tanah Kanaan berarti kembali ke tanah perjanjian, tempat yang ditentukan baginya sebagai keturunan Abraham, tetapi untuk bisa menikmati janji Allah, Yakub harus belajar berdamai. Pada akhir Bab 31, dia berhasil berdamai dengan Laban. Tetapi Esau akan lebih sulit. Dalam 32:1-2, dia melihat malaikat-malaikat (malakim) Allah, yang dia sebut sebagai “bala tentara Allah” (32:2; Mahanaim (dari kata makheneh) = dua pasukan atau perkemahan). Semestinya hal itu menguatkan dia, dan memang dia kemudian mengambil inisiatif untuk menyuruh utusan (malakim) kepada Esau (32:3-5). Hanya, dia terkejut dengan berita bahwa Esau membawa 400 orang (32:6)! Menghadapi hal itu, dia membentuk dua pasukan (makheneh) supaya paling sedikit setengah bisa luput (32:7-8). Dengan kesamaan kosa kata (malakim dan makheneh), pencerita ingin agar kita melihat bahwa Yakub masih mencari jalan sendiri; dia belum siap mengandalkan pasukan Allah itu. Hanya setelah berdoa dan mengingat janji Allah kepadanya (32:9-12), dia memikirkan strategi yang lain, yaitu membanjiri Esau dengan persembahan untuk mendamaikan hatinya (32:13-2). Kosa kata “mendamaikan” (kipper) dan persembahan (minkhah) sering dipakai untuk pendamaian dengan Allah, dan dalam 33:10 Yakub menyamakan wajah Esau dengan wajah Allah. Berdamai dengan manusia dikaitkan erat dengan berdamai dengan Allah.

Setelah seluruh orang dan harta diseberangkan(22-23), Yakub tinggal seorang diri—mengapa tidak dijelaskan. Juga tidak dijelaskan bagaimana sampai dia bergulat dengan laki-laki itu (24). Hanya, hal itu mencerminkan kehidupannya; dia bergumul melawan Esau dan Laban, dan tidak mau dikalahkan. Dalam konteks seluruh kisah Yakub, ini adalah kelemahan Yakub, dan karena teguran halus dari pergulatan itu tidak tembus, ada teguran yang lebih keras, yang membuat Yakub pincang (25).

Kemudian, ada percakapan di antara mereka (26-29). Orang itu seakan-akan mau pamit, tetapi Yakub menuntut untuk diberkati dulu. Permintaan itu mengejutkan—bukankah semestinya Yakub marah atau takut karena dibuat pincang?—dan menunjukkan bahwa Yakub sudah menduga bahwa laki-laki ini lebih dari manusia biasa. Laki-laki itu menanyakan nama, tahap awal untuk menyampaikan berkat dengan sasaran yang tepat (27). Tetapi, ternyata orang itu mau mengubah nama Yakub. Dia tidak akan disebut “orang yang memegang tumit” lagi, dalam artian menyerang dari belakang atau dengan tipu daya (demikian pengartian nama Yakub dalam 25-26), melainkan Israel, yang berarti “bergumul dengan Allah”. Laki-laki itu menyatakan diri sebagai Allah (atau malaikat Allah, bdk.  Hos 12:5), sehingga Yakub disebut telah menang atas Allah dan manusia (28). Kata “menang” itu mengejutkan, karena memberi kesan bahwa Allah dan manusia yang dia lawan itu kalah, sementara Yakub baru saja menjadi terpelecok karena tangan-Nya, dan sedang menghadapi maut oleh tangan kakaknya. Apakah Yakub juga salah tafsir demikian, sehingga dia berani menanyakan nama dari malaikat Allah itu, seakan-akan dia sudah sederajat dengannya (29)? Bagaimanapun juga, yang baru saja dia menangkan adalah perdamaian dengan Laban dan berkat dari Allah. Hal-hal ini memang membawa keuntungan bagi Yakub, tetapi tidak berarti bahwa lawannya kalah. Perlu diketahui bahwa kata “melawan” (dalam “bergumul melawan”) tidak ada dalam bahasa aslinya. Sebagai tafsiran oleh LAI, kata itu cocok untuk menggambarkan sikap Yakub tadinya: Esau dan Laban memang dikalahkan. Namun, sekarang dia bergumul untuk hal-hal yang lebih berguna: perdamaian dengan Laban dan Esau, berkat dari Allah.

Yakub sadar bahwa dia telah diberi hak istimewa untuk melihat Allah (30), dan keturunannya, orang Israel, juga menilai peristiwa itu demikian (32). Tetapi dia telah menjadi pincang (31)! Sepertinya, hanya hal itu akan membuat Yakub sungguh-sungguh mau mengandalkan Allah.

Cerita ini menjelaskan perubahan nama Yakub menjadi Israel, nama bangsa yang menjadi umat Allah. Dengan demikian, cerita ini menggambarkan sesuatu tentang relasi umat dengan Allah. Kita belajar untuk mencari hal-hal yang utama, dan juga bahwa kedekatan dengan Allah menyangkut bukan hanya hal-hal yang manis melainkan juga pergumulan.

Makna

Bergulat dengan Allah dan dibuat pincang belum tentu akan disukai oleh mereka yang untuknya agama dilihat pertama-tama sebagai sumber penghiburan. Malahan, cerita ini adalah peringatan bagi orang-orang yang dengan gampang mengatakan, “Sekiranya Allah menampakkan diri-Nya langsung kepada saya.” Yakub luput dengan hanya menjadi pincang. Sebaliknya, jika iman adalah perjalanan menuju tanah perjanjian, yaitu, langit dan bumi yang baru, dan jika ada hal-hal dalam kehidupan kita yang tidak beres, sama seperti Yakub, maka Allah dalam belas kasihan akan menantang kita supaya kita sungguh-sungguh berbalik kepada-Nya. Demikian Hosea mengartikan cerita ini kepada Israel yang secara rohani jauh dari Tuhan (Hos 12:4-7). Seperti sering diungkapkan oleh para gembala pada zaman sekarang, tujuan Allah bagi umat-Nya pertama-tama adalah kekudusan, bukan kenyamanan.

Mazmur, Doa mohon perlindungan.

Dalam zaman yang chaos ini, apa yang dapat dilakukan orang benar? Mazmur ini memberikan kita model doa di tengah pergumulan sedemikian. Ada tiga inti kebenaran penting kita temukan dalam doa pemazmur.

Pertama, ia mendasari doanya atas pengujian Allah sendiri tentang ketidakbersalahannya (ayat 1-5). Memiliki hati nurani murni dan kesadaran tentang kehidupan kudus seperti yang disaksikan Roh dalam hati, tidak sama dengan merasa diri benar. Doa semacam ini lahir dari iman yang hidup  yang kesungguhannya terwujud di dalam ketaatan kepada Allah.

Kedua, pemazmur memusatkan doanya kepada serangan pihak yang memusuhinya. Ia meminta tiga hal, agar Allah mendengar doanya, menyatakan diri-Nya untuk memberi pembebasan, dan melindungi pemazmur (ayat 6-8). Ia kini menggunakan lukisan mesra tentang sifat perlakuan yang diharapkannya dari Tuhan (ayat 8). Jelas bahwa ia mampu mengucapkan kata-kata demikian sebab ia memperhitungkan kasih setia Allah dan hubungan perjanjian Allah dengan umat-Nya.

Ketiga, ia meminta kelepasan bagi dirinya (umat Tuhan) dan penghukuman terhadap para pelaku kejahatan (ayat 13-15). Ada Tuhan yang akan menyatakan “hamba-Ku yang setia” kepada setiap orang yang bertahan dalam kehidupan yang benar, walaupun semua orang melawannya.

Renungkan: Manakah lebih berarti bagi Anda, sesuai dengan dunia meski melawan Tuhan atau serasi dengan Tuhan meski sedunia menentang?

Injil hari ini, Kasih yang mencari.

Dari sejak manusia jatuh ke dalam dosa, hati Allah yang penuh belas kasihan mencari Adam dan Hawa untuk menyelamatkannya. Kasih agung itu terus mencari, hingga menyuruh anak-Nya sendiri datang ke dunia untuk mewujudkan rencana kasih-Nya, menyelamatkan manusia yang terlantar seperti domba sesat. Kasih itu juga yang membawa Yesus untuk mencari, menyembuhkan dan mengajar rahasia kerajaan Allah. Dia juga menganjurkan para murid-Nya terus berdoa, supaya Bapa mengutus banyak pekerja menjadi mitra kerja-Nya di ladang Allah. Kasih yang sama juga telah mendorong Paulus berdoa agar dapat memahami betapa lebar, panjang, tinggi dan dalam kasih Kristus.

Mandataris Amanat Agung. Yesus memilih dan mengutus para murid untuk mulai melakukan pekerjaannya. Yesus mempersiapkan mereka agar pada saat Dia meninggalkan dunia ini, murid-murid-Nya sudah siap dan melipatgandakan pekerja-pekerja untuk memenangkan dunia ini bagi Yesus. Kitalah orang-orang percaya yang sudah mengalami jamahan dan sentuhan lembut cinta kasih Tuhan Yesus. Sudahkah kita melakukan pekerjaan, sebagai murid-murid-Nya?

Yesus meneguhkan para murid-Nya untuk bekerja sama dengan-Nya dalam mewartakan kabar keselamatan dan kasih Allah. Dia juga berharap akan semakin banyak orang yang turut serta dalam jalan pengabdian ini.

Renungkan: Perintang orang menyaksikan kasih Yesus bukanlah situasi yang kurang menerima tetapi kesuaman kasihnya sendiri.

DOA: Bapa surgawi, terima kasih penuh syukur kami haturkan kepada-Mu karena Engkau membebaskan kami dari cengkeraman si Jahat dan memberikan kepada kami hidup yang baru. Tolonglah kami agar senantiasa setia kepada-Mu. Jadikanlah kami pekerja-pekerja untuk tuaian-Mu, membawa banyak orang ke dalam Kerajaan-Mu. Amin. (Lucas Margono)

Juli 1711

 

 

 

 

 

Iklan

Renungan Senin 10 Juli 2017

Renungan Senin 10 Juli 2017, Hari Biasa, Pekan Biasa XIV

Bacaan I : Kejadian 28:10-22a 

“Yakub melihat sebuah tangga, melihat malaikat Allah turun naik, dan melihat Allah yang bersabda.”

28:10 Maka Yakub berangkat dari Bersyeba dan pergi ke Haran. 28:11 Ia sampai di suatu tempat, dan bermalam di situ, karena matahari telah terbenam. Ia mengambil sebuah batu yang terletak di tempat itu dan dipakainya sebagai alas kepala, lalu membaringkan dirinya di tempat itu. 28:12 Maka bermimpilah ia, di bumi ada didirikan sebuah tangga yang ujungnya sampai di langit, dan tampaklah malaikat-malaikat Allah turun naik di tangga itu. 28:13 Berdirilah TUHAN di sampingnya dan berfirman: “Akulah TUHAN, Allah Abraham, nenekmu, dan Allah Ishak; tanah tempat engkau berbaring ini akan Kuberikan kepadamu dan kepada keturunanmu. 28:14 Keturunanmu akan menjadi seperti debu tanah banyaknya, dan engkau akan mengembang ke sebelah timur, barat, utara dan selatan, dan olehmu serta keturunanmu semua kaum di muka bumi akan mendapat berkat. 28:15 Sesungguhnya Aku menyertai engkau dan Aku akan melindungi engkau, ke manapun engkau pergi, dan Aku akan membawa engkau kembali ke negeri ini, sebab Aku tidak akan meninggalkan engkau, melainkan tetap melakukan apa yang Kujanjikan kepadamu.” 28:16 Ketika Yakub bangun dari tidurnya, berkatalah ia: “Sesungguhnya TUHAN ada di tempat ini, dan aku tidak mengetahuinya.” 28:17 Ia takut dan berkata: “Alangkah dahsyatnya tempat ini. Ini tidak lain dari rumah Allah, ini pintu gerbang sorga.” 28:18 Keesokan harinya pagi-pagi Yakub mengambil batu yang dipakainya sebagai alas kepala dan mendirikan itu menjadi tugu dan menuang minyak ke atasnya. 28:19 Ia menamai tempat itu Betel; dahulu nama kota itu Lus. 28:20 Lalu bernazarlah Yakub: “Jika Allah akan menyertai dan akan melindungi aku di jalan yang kutempuh ini, memberikan kepadaku roti untuk dimakan dan pakaian untuk dipakai, 28:21 sehingga aku selamat kembali ke rumah ayahku, maka TUHAN akan menjadi Allahku. 28:22 Dan batu yang kudirikan sebagai tugu ini akan menjadi rumah Allah. Dari segala sesuatu yang Engkau berikan kepadaku akan selalu kupersembahkan sepersepuluh kepada-Mu.”

Mazmur 91:1-2.3-4.14-15ab; R:10, mi = fis, 3/4, PS 851
Ref. Allahku, pada-Mulah aku percaya
atau Ya Tuhan, lindungi kami di dalam kesesakan.

*    Orang yang duduk dalam lindungan Yang Mahatinggi dan bermalam dalam naungan Yang Mahakuasa akan berkata kepada Tuhan, “Tuhanlah tempat perlindungan dan kubu pertahananku, Allahku, yang kupercayai.”

*    Sungguh, Dialah yang akan melepaskan engkau dari jerat perangkap burung, dari penyakit sampar yang busuk. Dengan kepak-Nya Ia akan menudungi engkau, di bawah sayap-Nya engkau akan berlindung, kesetiaan-Nya adalah perisai dan pagar tembok.

*    Sungguh hatinya melekat kepada-Ku, maka Aku akan meluputkannya, Aku akan membentenginya, sebab ia mengenal nama-Ku. Bila ia berseru kepada-Ku, Aku akan menjawab, “Aku akan menyertai dia dalam kesesakan.”

Bait Pengantar Injil, do = g, 4/4, PS 963
Ref. Alleluya, alleluya. Alleluya, alleluya.
Sesudah ayat, Alleluya dilagukan dua kali.
Ayat. (2 Tim 1:10b)
Penebus kita Yesus Kristus telah membinasakan maut dan menerangi hidup dengan Injil.   

Bacaan Injil : Matius 9:18-26    

“Anakku baru saja meninggal; tetapi datanglah, maka ia akan hidup.”

9:18 Sementara Yesus berbicara demikian kepada mereka, datanglah seorang kepala rumah ibadat, lalu menyembah Dia dan berkata: “Anakku perempuan baru saja meninggal, tetapi datanglah dan letakkanlah tangan-Mu atasnya, maka ia akan hidup.” 9:19         Lalu Yesuspun bangunlah dan mengikuti orang itu bersama-sama dengan murid-murid-Nya. 9:20        Pada waktu itu seorang perempuan yang sudah dua belas tahun lamanya menderita pendarahan maju mendekati Yesus dari belakang dan menjamah jumbai jubah-Nya. 9:21 Karena katanya dalam hatinya: “Asal kujamah saja jubah-Nya, aku akan sembuh.” 9:22 Tetapi Yesus berpaling dan memandang dia serta berkata: “Teguhkanlah hatimu, hai anak-Ku, imanmu telah menyelamatkan engkau.” Maka sejak saat itu sembuhlah perempuan itu. 9:23 Ketika Yesus tiba di rumah kepala rumah ibadat itu dan melihat peniup-peniup seruling dan orang banyak ribut, 9:24         berkatalah Ia: “Pergilah, karena anak ini tidak mati, tetapi tidur.” Tetapi mereka menertawakan Dia. 9:25 Setelah orang banyak itu diusir, Yesus masuk dan memegang tangan anak itu, lalu bangkitlah anak itu. 9:26 Maka tersiarlah kabar tentang hal itu ke seluruh daerah itu.

Renungan :

Mimpi Yakub di Betel

Yakub mengadakan perjalanan dari Bersyeba ke Lus, sekitar 12 mil di sebelah utara Yerusalem, di mana dia menginap. Betel terletak di dekat situ. Pada malam harinya dia memperoleh kehormatan melalui sebuah hubungan khusus dengan Allah, sebuah penglihatan atau mimpi tentang para malaikat yang naik turun sebuah tangga yang mencapai langit. Dia menjadi sadar bahwa hal itu merupakan suatu hubungan di antara surga dengan bumi. Di sana dia mengetahui bahwa Allah hadir di sisinya, menjanjikan bimbingan sepanjang hidupnya serta kebesaran pada masa yang akan datang. Yehovah berfirman, “Aku menyertai engkau dan Aku akan melindungi engkau … dan Aku akan membawa engkau kembali ke negeri ini, sebab Aku tidak akan meninggalkan engkau.” (ay.15). Pesan yang begitu menantang! Tidak heran kalau Yakub berseru, “Tuhan ada di tempat ini … Alangkah dahsyatnya tempat ini! (ay. 16, 17). Yakub sangat terharu. Mungkin baru pertama kali di dalam hidupnya dia sadar akan kehadiran Allah di sisinya. Suara yang didengarnya, kata-kata yang memberikan harapan, kehadiran aktual dari El Shadday telah membuat dia menyembah dan terpesona dan menyerahkan diri. (Ayat 10-17).

Dia menamakan tempat itu Betel yang artinya Rumah Allah, sebab Allah hadir di situ. Untuk menjadikan peristiwa itu tidak dapat dilupakan, dia mendirikan sebuah tugu batu untuk menunjukkan bahwa tempat itu adalah tempat suci, sebuah tempat kudus di mana persekutuan yang intim dengan Allah senantiasa dimungkinkan (ay. 18). Secara rohani perjalanannya masih panjang, tetapi dia telah mengalami kemajuan pesat akibat perjumpaannya dengan Allah. Dia juga bernazar untuk menyerahkan hidupnya dan sepersepuluh dari seluruh harta yang akan diperolehnya sesudah ini. Namun dia membuat nazar ini dengan syarat: Jika Allah beserta dengannya, melindungi dia sepanjang perjalanannya, dan dengan aman mengantarkannya pulang kembali, maka dia akan memenuhi nazarnya itu. Tindakan itu merupakan sebuah langkah maju yang panjang. Tugu (massēbâ) yang didirikan olehnya akan berdiri sebagai pengingat yang permanen tentang nazar yang telah diucapkannya itu (ay. 22).

Mazmur: Jaminan keamanan.

Di zaman Perjanjian Lama, ada berbagai bentuk bahaya yang mengancam orang. Serangan bangsa-bangsa yang lebih kuat merupakan bentuk ketakutan “wajar” yang dialami bangsa-bangsa yang lemah. Dalam lingkungan masyarakat Israel, selain ancaman bangsa sekitar, ada juga bentuk bahaya lain yang sangat ditakuti, seperti wabah penyakit sampar, penyakit menular, yang setiap saat dapat merenggut nyawa siapa saja (ayat 3,5,6). Mengatasi semua ini Pemazmur memperoleh jaminan keamanan dari rasa takut di dalam Allah (ayat 2). Diyakininya bahwa Allah dengan perisai dan tembok membentengi umat-Nya dari segala yang jahat dan yang mengancam (ayat 3-13). Keyakinan ini muncul karena kedekatan dan pengenalannya akan Allah. Ia adalah Tuhan, Yahweh yang setia, yang telah mengeluarkan Israel dari Mesir. Dari Dia akan datang keselamatan kekal.

Ancaman kini. Bentuk ancaman apakah yang mendatangkan ketakutan masa kini? Perang nuklir, perang saudara, kelaparan, krisis kerohanian: materialisme yang merongrong iman. Tak jarang situasi ini berakhir pada “seutas tali”, “pemakaman massal”, dlsb., bahkan keraguan terhadap kedaulatan pemeliharaan Allah. Sebagaimana keyakinan Pemazmur, kita pun di dalam Kristus memperoleh hal yang sama, yaitu bahwa Tuhan Yesus Kristus kasih adanya dan Penyelamat.

Injil hari ini, Kuasa dan Pribadi Yesus.

Yesus memiliki kuasa mutlak atas segala sesuatu yang ada, yang sudah ada maupun yang akan ada. Tidak satu kondisi pun yang dapat membatasi Yesus untuk melaksanakan kehendak- Nya.

Ia berkuasa membangkitkan anak kepala rumah ibadat. Ketika Yesus sampai di rumah kepala rumah ibadat, nampaknya sudah terlambat. Upacara penguburan akan segera dimulai karena para peniup seruling dan penduka profesional yang disewa sudah siap menjalankan pekerjaan mereka. Kuasa Yesus mampu membalikkan kenyataan yang sudah terlambat, karena firman-Nya berkuasa menolak kematian (ayat 28). Upacara penguburan berganti menjadi perayaan yang penuh sukacita karena yang mati sudah bangkit. Ia berkuasa mengembalikan kehidupan ke dalam diri anak itu sebab memang Dialah sumber kehidupan itu.

Yesus juga berkuasa menyembuhkan perempuan yang sudah 12 tahun menderita pendarahan. Tidak ada pengharapan baginya dan tidak ada vitalitas di dalam dirinya. Namun yang tidak berpengharapan akan menemukan pengharapan dan yang tidak bervitalitas akan menemukannya di dalam Yesus. Yesus pun berkuasa memberikan penglihatan kepada 2 orang buta. Penglihatan yang diberikan tidak hanya memampukan mereka melihat dunia namun juga mampu melihat kemuliaan Allah. Demikian pula ikatan setan yang membuat orang menjadi bisu dilepaskan- Nya, sehingga orang itu menjadi manusia normal kembali yang dapat berkomunikasi.

Semua mukjizat itu bersumber dari Pribadi Yesus yang berkuasa. Perhatikan setiap proses mukjizat yang terjadi. Yesus memegang tangan anak kepala rumah ibadat yang mati, lalu bangkitlah ia. Perempuan yang sakit pendarahan itu sembuh bukan karena jubah Yesus berkuasa namun karena ia beriman kepada Pribadi Yesus. Orang buta disembuhkan karena jamahan kuasa Yesus. Demikian pula orang bisu dapat berbicara karena kuasa setan dipatahkan oleh kuasa-Nya. Kuasa-Nya tidak dapat dipisahkan dari pribadi-Nya, sebab melalui kuasa yang dinyatakan-Nya terungkaplah identitas Yesus (Mat. 11:2-5).

Renungkan: Orang Kristen seharusnya bukan hanya takjub kepada kuasa-Nya namun juga tunduk kepada Pribadi Yesus yang adalah sumber kuasa itu. Sebab banyak orang Kristen yang hanya tergiur mengalami Kuasa-Nya tanpa mau datang dan tunduk kepada Sang Sumber Kuasa.

DOA: Tuhan Yesus, Engkau adalah Mesias dari Allah yang memberikan hidup kepada semua orang, baik orang besar maupun kecil di mata masyarakat. Aku menaruh kepercayaanku pada janji-Mu dan datang kepada-Mu dalam iman. Amin. (Lucas Margono)

Juli 1710

Renungan Minggu 9 Juli 2017

Renungan Minggu 9 Juli 2017, Hari Minggu Biasa XIV

Bacaan I :  Zakaria 9:9-10

“Lihat! rajamu datang kepadamu.”

9:9 Bersorak-soraklah dengan nyaring, hai puteri Sion, bersorak-sorailah, hai puteri Yerusalem! Lihat, rajamu datang kepadamu; ia adil dan jaya. Ia lemah lembut dan mengendarai seekor keledai, seekor keledai beban yang muda. 9:10 Ia akan melenyapkan kereta-kereta dari Efraim dan kuda-kuda dari Yerusalem; busur perang akan dilenyapkan, dan ia akan memberitakan damai kepada bangsa-bangsa. Wilayah kekuasaannya akan terbentang dari laut sampai ke laut dan dari sungai Efrat sampai ke ujung-ujung bumi.

Mazmur 145:1-2.8-9.10-11; Ul: 1, do = g, 4/4, PS 837
Ref. Tuhan rajaku, agunglah nama-Mu. Alam raya dan makhlukmu kagum memandang-Mu.

*    Aku hendak mengagungkan Dikau, ya Allah, ya Rajaku. Aku hendak memuji nama-Mu untuk selama-lamanya. Setiap hari aku hendak memuji Engkau, dan memuliakan nama-Mu untuk selama-lamanya.

*    Tuhan itu pengasih dan penyayang panjang sabar dan besar kasih setianya. Tuhan itu baik kepada semua orang penuh rahmat terhadap segala yang dijadikan-Nya.

*     Segala yang Kaujadikan aku bersyukur kepada-Mu, ya Tuhan dan orang-orang yang Kau kasihi akan memuji Engkau. Mereka akan mengumumkan kemuliaan kerajaan-Mu dan akan membicarakan keperkasaan-Mu.

Bacaan II :  Roma 8:9.11-13    

“Jika oleh Roh, kamu mematikan perbuatan-perbuatan tubuhmu, maka kamu akan hidup.”

8:9 Tetapi kamu tidak hidup dalam daging, melainkan dalam Roh, jika memang Roh Allah diam di dalam kamu. Tetapi jika orang tidak memiliki Roh Kristus, ia bukan milik Kristus. 8:11 Dan jika Roh Dia, yang telah membangkitkan Yesus dari antara orang mati, diam di dalam kamu, maka Ia, yang telah membangkitkan Kristus Yesus dari antara orang mati, akan menghidupkan juga tubuhmu yang fana itu oleh Roh-Nya, yang diam di dalam kamu. 8:12 Jadi, saudara-saudara, kita adalah orang berhutang, tetapi bukan kepada daging, supaya hidup menurut daging. 8:13 Sebab, jika kamu hidup menurut daging, kamu akan mati; tetapi jika oleh Roh kamu mematikan perbuatan-perbuatan tubuhmu, kamu akan hidup.

Bait Pengantar Injil, do = g, 2/4, PS. No. 963
Ref. Alleluya, alleluya. Alleluya, alleluya.
Sesudah ayat, Alleluya dilagukan dua kali.
Ayat. (Mat 11:25)
Terpujilah Engkau Bapa, Tuhan langit dan bumi. Sebab misteri kerajaan Kaunyatakan kepada kaum sederhana.
 
Bacaan Injil : Matius 11:25-30    

“Aku lemah lembut dan rendah hati.”

11:25 Pada waktu itu berkatalah Yesus: “Aku bersyukur kepada-Mu, Bapa, Tuhan langit dan bumi, karena semuanya itu Engkau sembunyikan bagi orang bijak dan orang pandai, tetapi Engkau nyatakan kepada orang kecil. 11:26 Ya Bapa, itulah yang berkenan kepada-Mu. 11:27 Semua telah diserahkan kepada-Ku oleh Bapa-Ku dan tidak seorangpun mengenal Anak selain Bapa, dan tidak seorangpun mengenal Bapa selain Anak dan orang yang kepadanya Anak itu berkenan menyatakannya. 11:28 Marilah kepada-Ku, semua yang letih lesu dan berbeban berat, Aku akan memberi kelegaan kepadamu. 11:29 Pikullah kuk yang Kupasang dan belajarlah pada-Ku, karena Aku lemah lembut dan rendah hati dan jiwamu akan mendapat ketenangan. 11:30 Sebab kuk yang Kupasang itu enak dan beban-Kupun ringan.”

Renungan :

Rajamu datang kepadamu. Bukan seorang penakluk yang kejam, melainkan Raja Israel yang rendah hati sekarang memenuhi penglihatan dan jarak pandang sang nabi (bdg. Mat 21:5). Ia adil. Keadilan adalah prasyarat pertama Mesias untuk jabatan-Nya sebagai Raja. Ini adalah dasar bagi semua damai sejahtera di dunia (bdg. Yes 45:21, Yer 23:5, 6; Mal 4:2). Dan jaya. Raja adil ini membawa penebusan yang adil bagi orang-orang milik-Nya. Apa gunanya kedamaian politik bagi hati yang tidak selaras dengan Allah yang hidup? Lemah lembut. Berbeda dengan Aleksander yang sombong, Mesias Israel datang dengan kerendahan hati yang sangat, yang sebagian diwujudkan dalam cara-Nya melakukan perjalanan. Lagi pula, keledai adalah binatang lambang damai (bdg. Kej 49:11). Ayat 9 digenapi sesuai dengan yang tersurat, yaitu melalui kedatangan Tuhan Yesus Kristus yang pertama kali.

Ia akan melenyapkan kereta-kereta. Zakharia dengan diam-diam melangkaui semua abad di antara kedatangan pertama dengan kedatangan kedua dari Sang Mesias kepada umatNya dan dunia. Ketika Dia kembali, Dia akan menghancurkan setiap alat perselisihan duniawi. Ia akan memberitakan damai. Hal yang tidak pernah bisa diselesaikan oleh berbagai konferensi dan perjanjian perlucutan senjata, akan Dia selesaikan dengan firman yang penuh kuasa kepada bangsa-bangsa. Sampai ke ujung-ujung bumi. Kerajaan damai sejahtera-Nya akan meliputi seluruh dunia (bdg. Mzm 72:8). Alkitab tidak mengenal damai sejahtera yang dibatasi atau ditahan. Ayat ini tidak menggunakan kata sandang tertentu dalam mengungkapkan luasnya wilayah kekuasaan Sang Raja.

Mazmur, Karya Allah sebagai Raja

Mazmur ini mengakhiri rangkaian Mazmur Daud (ps. 138-144) dan mengawali rangkaian mazmur doksologi, pujian bagi Allah (ps. 146-150). Bagi pemazmur, Allah adalah Raja yang bertakhta kekal sehingga patut menerima pujian dan hormat selama-lamanya (1-3). Pada bagian pertama mazmur ini, puji-pujian diarahkan pada perbuatan dahsyat, yang merupakan wujud dari pemerintahan Sang Raja semesta alam (4-7). Pada bagian kedua (8-21) puji-pujian diarahkan pada karakter mulia dari Raja atas umat-Nya.

Karya besar apa yang Allah perbuat di alam semesta ini? Pemazmur tidak merincinya. Namun mengingat setiap angkatan memberitakannya (4), hal itu pasti bisa dilihat dalam sejarah dunia dan juga melingkupi sejarah Israel. Yaitu, penciptaan dan pemeliharaan atas segala ciptaan-Nya.

Karya penciptaan Allah menghasilkan baik alam semesta maupun umat Israel. Sebagaimana Allah menciptakan dunia dan segala isinya melalui kuasa firman-Nya, demikian Israel hadir dalam sejarah dunia sebagai penggenapan janji-Nya kepada Abraham, nenek moyang mereka (Kej 12). Demikian juga dengan karya agung pemeliharaan Allah. Sebagaimana Allah menopang ciptaan-Nya dengan hukum-hukum yang Ia berlakukan dalam alam, demikian Israel dipelihara melalui Taurat dan para nabi-Nya. Dua karakter Allah yang mencerminkan pemeliharaan Allah atas umat-Nya adalah kebajikan (atau kebaikan, lih. Mzm 25:7) dan keadilan (Mzm 145:7).

Tuhan juga berkarya dalam hidup orang percaya. Dialah yang menciptakan hidup baru melalui kelahiran kembali yang dilakukan Roh. Dia juga yang mengutus Roh Kudus hadir dalam diri orang percaya untuk memelihara dan menumbuhkan hidup itu semakin menyerupai Kristus. Maka, kita patut bersama pemazmur memuji dan memuliakan Tuhan atas perbuatan-perbuatan besar-Nya dalam dunia ini, dalam umat-Nya, serta dalam diri kita masing-masing!

Renungkan: Dia Raja yang berdaulat atas hidup kita. Semua terjadi karena Dialah pencipta, pemelihara, dan penebus kita!

Injil hari ini, Bertelinga tetapi tidak mendengar, mempunyai mata namun tidak melihat.

Demikianlah dikatakan Yesus tentang kota-kota Betsaida, Khorazim, dan Kapernaum, yang telah menikmati banyak mukjizat Tuhan Yesus. Mereka senang menerima berkat Tuhan, tetapi tidak mau menerima sumber berkat itu sendiri. Itu sebabnya Tuhan Yesus mengecam dengan pedas, “Celakalah kamu, celakalah kamu, kota yang harus diturunkan ke neraka”. Hukuman Sodom akan lebih ringan daripada orang-orang yang menolak Tuhan Yesus.

Air sejuk bagi orang yang haus di padang pasir. Yesus membeberkan keberadaan kota-kota itu, agar mereka menyadari dan mengenali dirinya serta tahu apa dan siapa yang dibutuhkannya. Seseorang yang belum menyadari dirinya mengidap kanker ganas tidak akan pernah sungguh-sungguh mencari dokter. Ketika sinar rontgen membuktikan, barulah ia segera mencari pertolongan. Undangan Yesus itu ibarat air sejuk bagi orang yang akan mati haus di padang gurun. Berbahagialah kita yang telah menikmati kelegaan dan ketenangan dari Tuhan Yesus. Jadilah murid-murid yang mau taat belajar dan rela memikul kuk yang dipasang untuk kita.

Doa: Jauhkanlah kami dari hati yang senantiasa mencari berkat. Tolonglah agar bergantung pada sumber berkat itu sendiri, Amin. (Lucas Margono)

Juli 1709

Renungan Sabtu 8 Juli 2017

Renungan Sabtu 8 Juli 2017, Hari Biasa, Pekan Biasa XIII

Bacaan I : Kejadian 27:1-5.15-29

Yakub diberkati Ishak sebagai anak sulung

27:1 Ketika Ishak sudah tua, dan matanya telah kabur, sehingga ia tidak dapat melihat lagi, dipanggilnyalah Esau, anak sulungnya, serta berkata kepadanya: “Anakku.” Sahut Esau: “Ya, bapa.” 27:2 Berkatalah Ishak: “Lihat, aku sudah tua, aku tidak tahu bila hari kematianku. 27:3 Maka sekarang, ambillah senjatamu, tabung panah dan busurmu, pergilah ke padang dan burulah bagiku seekor binatang; 27:4 olahlah bagiku makanan yang enak, seperti yang kugemari, sesudah itu bawalah kepadaku, supaya kumakan, agar aku memberkati engkau, sebelum aku mati.” 27:5 Tetapi Ribka mendengarkannya, ketika Ishak berkata kepada Esau, anaknya. Setelah Esau pergi ke padang memburu seekor binatang untuk dibawanya kepada ayahnya,

27:15 Kemudian Ribka mengambil pakaian yang indah kepunyaan Esau, anak sulungnya, pakaian yang disimpannya di rumah, lalu disuruhnyalah dikenakan oleh Yakub, anak bungsunya. 27:16 Dan kulit anak kambing itu dipalutkannya pada kedua tangan Yakub dan pada lehernya yang licin itu. 27:17 Lalu ia memberikan makanan yang enak dan roti yang telah diolahnya itu kepada Yakub, anaknya. 27:18 Demikianlah Yakub masuk ke tempat ayahnya serta berkata: “Bapa!” Sahut ayahnya: “Ya, anakku; siapakah engkau?” 27:19 Kata Yakub kepada ayahnya: “Akulah Esau, anak sulungmu. Telah kulakukan, seperti yang bapa katakan kepadaku. Bangunlah, duduklah dan makanlah daging buruan masakanku ini, agar bapa memberkati aku.” 27:20 Lalu Ishak berkata kepada anaknya itu: “Lekas juga engkau mendapatnya, anakku!” Jawabnya: “Karena TUHAN, Allahmu, membuat aku mencapai tujuanku.”

Mazmur 135:1-2.3-4.5-6

Ref. Pujilah Tuhan, sebab Ia baik.

*    Pujilah nama Tuhan, pujilah, hai hamba-hamba Tuhan, hai orang-orang yang datang melayani di rumah Tuhan, di pelataran rumah Allah kita.

*    Pujilah Tuhan, sebab Tuhan itu baik, bermazmurlah bagi nama-Nya, sebab nama-Nya itu indah! Sebab Tuhan telah memilih Yakub bagi-Nya, ia memilih Israel menjadi milik kesayangan-Nya.

*    Sesungguhnya aku tahu, bahwa Tuhan itu mahabesar, bahwa Tuhan kita itu melebihi segala dewata. Tuhan melakukan apa yang dikehendaki-Nya, di langit dan di bumi, di laut dan di segenap samudera raya.
Bait Pengantar Injil
Ref. Alleluya, alleluya, alleluya
Ayat. Domba-domba-Ku mendengar suara-Ku, sabda Tuhan. Aku mengenal mereka dan mereka mengikuti Aku.

Bacaan Injil : Matius 9:14-17 

“Dapatkah sahabat-sahabat mempelai laki-laki berdukacita selama mempelai itu bersama mereka?”

9:14 Kemudian datanglah murid-murid Yohanes kepada Yesus dan berkata: “Mengapa kami dan orang Farisi berpuasa, tetapi murid-murid-Mu tidak?” 9:15 Jawab Yesus kepada mereka: “Dapatkah sahabat-sahabat mempelai laki-laki berdukacita selama mempelai itu bersama mereka? Tetapi waktunya akan datang mempelai itu diambil dari mereka dan pada waktu itulah mereka akan berpuasa. 9:16 Tidak seorangpun menambalkan secarik kain yang belum susut pada baju yang tua, karena jika demikian kain penambal itu akan mencabik baju itu, lalu makin besarlah koyaknya. 9:17 Begitu pula anggur yang baru tidak diisikan ke dalam kantong kulit yang tua, karena jika demikian kantong itu akan koyak sehingga anggur itu terbuang dan kantong itupun hancur. Tetapi anggur yang baru disimpan orang dalam kantong yang baru pula, dan dengan demikian terpeliharalah kedua-duanya.”

Renungan :

Ketika Ishak sudah tua … dipanggilnyalah Esau. Sulit untuk membayangkan segenap penderitaan, rasa tersiksa, kekecewaan menyakitkan yang terbungkus di dalam kisah penuh nuansa ini. Ishak yang sudah lanjut usia, dengan mata yang sudah buta dan tubuh yang bergemetaran, kini berencana mencurahkan berkat suci kepada anak sulungnya. Tetapi Ribka yang licik ikut mendengarkan apa yang diminta oleh Ishak dari Esau dan kemudian langsung bertindak untuk mengalihkan dan menggagalkan rencana tersebut. Putra kesayangannya, Yakub, sudah memiliki hak kesulungan itu; Ribka berketetapan bahwa Yakub juga harus menerima berkat lisan langsung dari bibir wakil Tuhan itu, agar warisan ilahi tersebut aman. Dia tidak berani mengambil risiko menanti Allah melaksanakan rencana-Nya dengan cara Allah sendiri. Akibatnya, Ribka merancang suatu penipuan yang sangat memalukan untuk memperoleh berkat bagi putra kesayangannya.

Kata Yakub kepada ayahnya, “Akulah Esau.” (ayat 18-29).  Dengan dibimbing oleh ibunya, Yakub menghadap ayahnya yang sudah lanjut usia itu dengan penipuan dan kebohongannya. Dia bahkan menyatakan bahwa Yehovah telah membantu dirinya untuk mempersiapkan segala sesuatu dengan cepat. Sesudah menipu ayahnya, Yakub memberikan ciuman palsu di bawah wajah orang tua itu.

Perikop bacaan I hari ini menggambarkan Ishak dan keluarganya sedang mencari berkat Allah dengan cara yang tidak halal. Bahwa Ishak lebih menyenangi Esau, bertentangan dengan kehendak Allah, dan penipuan Ribka dan Yakub melebihi manfaat rohani perjanjian Allah. Manakala pekerjaan Allah dilaksanakan dengan cara-cara yang tidak benar, maksud Allah dan semua yang terlibat dirugikan. Berkat kesulungan dan pernyataan lisan sang ayah sah secara hukum dalam hukum Timur Dekat kuno rupanya Ishak telah lupa atau mengabaikan sabda Allah bahwa Esau akan melayani Yakub, adiknya (Kej 25:23). Ishak juga mengabaikan fakta bahwa Esau sudah menikahi dua wanita kafir (bd. Kej 26:34-35). Lagi pula, Ishak tidak berusaha untuk mencari atau mempertimbangkan kehendak Allah dalam hal ini. Ribka dan Yakub berusaha menggenapi maksud-maksud perjanjian Allah dengan cara manipulasi dan penipuan. Mereka sudah tak ingat akan alasan mendasar bagi berkat Allah — mengadakan umat yang beriman dan benar yang hidup dengan Allah di dalam iman dan ketaatan. Ribka menderita sekali akibat penipuannya karena Yakub harus lari, dan dia tidak pernah melihat anaknya lagi (ayat Kej 27:43; 28:5).

Jikalau saja Yakub mempercayai Allah dan menyerahkan hidupnya kepada Tuhan, dia akan memperoleh berkat tersebut pada saatnya Tuhan. Akan tetapi, dia menipu dua kali untuk memperoleh berkat itu dengan caranya sendiri (ayat Kej 27:19-20).

1) Dia memperoleh apa yang diinginkannya, tetapi harganya sangat mahal. Dia harus lari menyelamatkan diri dan meninggalkan harta milik serta kesenangan hidup di rumahnya. Ia sendiri ditipu (Kej 29:20-25; 31:7; Kej 37:32-36) dan hidup bertahun-tahun dalam pengasingan (Kej 31:41). Sepanjang hidupnya ia mengalami kemalangan demi kemalangan sampai akhirnya ia mengatakan, “Tahun-tahun hidupku itu sedikit saja dan buruk adanya” (Kej 47:9).

2) Semua tindakan dan pengalaman Yakub harus dipikirkan oleh semua orang yang mengemukakan fakta-fakta yang tidak benar dan menipu orang lain dalam pekerjaan Kerajaan Allah. Keberhasilan rohani hendaknya dicapai dengan cara-cara yang benar, bukan melalui manipulasi dan penipuan.

Mazmur, Dasar pujian kepada Allah.

Pemazmur menunjukkan beberapa alasan yang menjadi dasar pujian umat kepada Allah. Pertama, Allah yang berkarya adalah Allah yang berdaulat melakukan apa yang dikehendaki-Nya. Kedua, Allah yang menyelamatkan adalah Allah yang telah mengalahkan banyak bangsa; membebaskan dan menyelamatkan umat dari perbudakan dan penjajahan. Ketiga, Allah yang Esa adalah Allah yang selalu memperlakukan umat-Nya dengan adil. Pemazmur melihat bahwa dengan tiga dasar pujian umat kepada Tuhan ini, menunjukkan bahwa tiada seorang pun dalam dunia ini yang memiliki kemampuan untuk menyelamatkan manusia. Keselamatan manusia seutuhnya dan sepenuhnya bergantung mutlak pada kedaulatan dan kemahakuasaan Tuhan. Hal ini membuktikan bahwa Allah kita benar dan hidup, tidak seperti berhala buatan manusia.

Mengumandangkan terus. Pengalaman kita bersama Allah yang benar dan hidup, akan menjadi pengalaman yang berarti bagi orang lain bila kita menyuarakannya kepada mereka. Berserulah bagi kemuliaan-Nya. Masih banyak orang yang hidup di dalam kebergantungannya kepada diri sendiri, benda-benda alam, patung, kekuatan roh, dlsb. Nyatakan bahwa Allah adalah satu-satunya yang patut dipuji dan ditinggikan.

Injil hari ini, Yang baru meniadakan yang lama.
Pada malam hari orang menyalakan lampu atau lilin supaya tidak kegelapan. Bila matahari sudah terbit semua alat penerang itu tidak lagi diperlukan. Demikian juga dengan semua upacara agama yang biasa dipraktikkan orang-orang Farisi, para ahli Taurat, termasuk murid-murid Yohanes pembaptis. Pada dasarnya peraturan-peraturan itu, misalnya berpuasa (ayat 14), dibuat untuk menolong orang mengharapkan kedatangan Mesias. Akan tetapi, Yesus Sang Mesias sudah hadir di tengah-tengah mereka. Mereka seharusnya berhenti menanti, dan mulai menikmati sukacita kehadiran-Nya (ayat 15).

Tuhan Yesus ingin menyatakan bahwa Ia datang bukan untuk sekadar menambalkan atau menambahkan sesuatu yang baru kepada ajaran agama yang lama. Kata “lama” (Yun.: palaios) berarti aus atau usang karena pemakaian. Ajaran Yahudi telah menjadi begitu tidak fleksibel karena akumulasi dari tradisi-tradisi nonalkitabiah selama berabad-abad. Ajaran Yahudi tersebut sudah berubah menjadi upacara semata-mata yang malah menjauhkan mereka dari Allah. Tuhan Yesus bukan sedang menambahkan ajaran baru ke dalam wadah yang lama itu. Ia sedang menyatakan bahwa masa yang baru (neos) dan kerajaan yang baru (kainos) sudah tiba dengan kehadiran-Nya. Dengan demikian, mereka yang ingin berbagian dalam kerajaan yang baru itu harus meninggalkan semua pemahaman agama dan sikap hidup yang lama lalu menerima Kristus dan hidup dalam kebenaran-Nya.

Apakah pesan Yesus ini dapat diartikan sebagai menolak tradisi rohani orang Kristen masa kini? Ya dan tidak. Kita tetap perlu bergereja, berdoa, membaca Firman, dsb. Namun, semua kebiasaan rohani tersebut menjadi sia-sia kalau kita tidak intim dengan Tuhan Yesus.

Renungkan: Jika Tuhan Yesus hadir dalam hidup dan ibadah kita, pasti suasananya adalah kesukaan dan bukan kedukaan.

DOA: Tuhan Yesus, oleh kuasa Roh Kudus-Mu, buatlah baptisan kami menjadi hidup. Jadikanlah segala sesuatu baru selagi kami hidup di bawah hukum cintakasih. Amin. (Lucas Margono)

Juli 1708

Renungan Jumat 7 Juli 2017

Renungan Jumat 7 Juli 2017, Haei Biasa, Pekan Biasa XIII

Bacaan I : Kejadian 23:1-4,19,24:1-8,62-67

23:1 Sara hidup seratus dua puluh tujuh tahun lamanya; itulah umur Sara. 23:2 Kemudian matilah Sara di Kiryat-Arba, yaitu Hebron, di tanah Kanaan, lalu Abraham datang meratapi dan menangisinya. 23:3 Sesudah itu Abraham bangkit dan meninggalkan isterinya yang mati itu, lalu berkata kepada bani Het: 23:4 “Aku ini orang asing dan pendatang di antara kamu; berikanlah kiranya kuburan milik kepadaku di tanah kamu ini, supaya kiranya aku dapat mengantarkan dan menguburkan isteriku yang mati itu.” 23:19 Sesudah itu Abraham menguburkan Sara, isterinya, di dalam gua ladang Makhpela itu, di sebelah timur Mamre, yaitu Hebron di tanah Kanaan. 24:1 Adapun Abraham telah tua dan lanjut umurnya, serta diberkati TUHAN dalam segala hal. 24:2 Berkatalah Abraham kepada hambanya yang paling tua dalam rumahnya, yang menjadi kuasa atas segala kepunyaannya, katanya: “Baiklah letakkan tanganmu di bawah pangkal pahaku, 24:3 supaya aku mengambil sumpahmu demi TUHAN, Allah yang empunya langit dan yang empunya bumi, bahwa engkau tidak akan mengambil untuk anakku seorang isteri dari antara perempuan Kanaan yang di antaranya aku diam.  Kej 24:4 Tetapi engkau harus pergi ke negeriku dan kepada sanak saudaraku untuk mengambil seorang isteri bagi Ishak, anakku.” 24:5 Lalu berkatalah hambanya itu kepadanya: “Mungkin perempuan itu tidak suka mengikuti aku ke negeri ini; haruskah aku membawa anakmu itu kembali ke negeri dari mana tuanku keluar?” 24:6 Tetapi Abraham berkata kepadanya: “Awas, jangan kaubawa anakku itu kembali ke sana. 24:7 TUHAN, Allah yang empunya langit, yang telah memanggil aku dari rumah ayahku serta dari negeri sanak saudaraku, dan yang telah berfirman kepadaku, serta yang bersumpah kepadaku, demikian: kepada keturunanmulah akan Kuberikan negeri ini?Dialah juga akan mengutus malaikat-Nya berjalan di depanmu, sehingga engkau dapat mengambil seorang isteri dari sana untuk anakku. 24:8 Tetapi jika perempuan itu tidak mau mengikuti engkau, maka lepaslah engkau dari sumpahmu kepadaku ini; hanya saja, janganlah anakku itu kaubawa kembali ke sana.” 24:62 Adapun Ishak telah datang dari arah sumur Lahai-Roi; ia tinggal di Tanah Negeb. 24:63 Menjelang senja Ishak sedang keluar untuk berjalan-jalan di padang. Ia melayangkan pandangnya, maka dilihatnyalah ada unta-unta datang. 24:64 Ribka juga melayangkan pandangnya dan ketika dilihatnya Ishak, turunlah ia dari untanya. 24:65 Katanya kepada hamba itu: “Siapakah laki-laki itu yang berjalan di padang ke arah kita?” Jawab hamba itu: “Dialah tuanku itu.” Lalu Ribka mengambil telekungnya dan bertelekunglah ia. 24:66 Kemudian hamba itu menceritakan kepada Ishak segala yang dilakukannya. 24:67 Lalu Ishak membawa Ribka ke dalam kemah Sara, ibunya, dan mengambil dia menjadi isterinya. Ishak mencintainya dan demikian ia dihiburkan setelah ibunya meninggal.

Mazmur 106:1–2.3–4a.4b–5; R:1a, do = bes, 2/4, PS 831
Ref. Bersyukurlah kepada Tuhan, karna baiklah Dia!

*    Bersyukurlah kepada Tuhan, sebab Ia baik! Kekal abadi kasih setia-Nya. Siapakah yang dapat memberitahukan keperkasaan Tuhan, dan memperdengarkan segala pujian kepada-Nya?

*    Berbahagialah orang yang berpegang pada hukum, yang melakukan keadilan di setiap saat! Ingatlah akan daku, ya Tuhan, demi kemurahan-Mu terhadap umat.

*    Perhatikanlah aku, demi keselamatan yang datang dari pada-Mu, supaya aku melihat kebahagiaan orang-orang pilihan-Mu, supaya aku bersukacita dalam sukacita umat-Mu, dan supaya aku bermegah bersama milik pusaka-Mu.

Bait Pengantar Injil
Ref. Alleluya, alleluya.
Ayat. (Mat 11:28)
Datanglah pada-Ku, kalian yang letih dan berbeban berat, maka Aku akan membuat kalian lega.

Bacaan Injil : Matius 9:9-13

9:9 Setelah Yesus pergi dari situ, Ia melihat seorang yang bernama Matius duduk di rumah cukai, lalu Ia berkata kepadanya: “Ikutlah Aku.” Maka berdirilah Matius lalu mengikut Dia. 9:10 Kemudian ketika Yesus makan di rumah Matius, datanglah banyak pemungut cukai dan orang berdosa dan makan bersama-sama dengan Dia dan murid-murid-Nya. 9:11 Pada waktu orang Farisi melihat hal itu, berkatalah mereka kepada murid-murid Yesus: “Mengapa gurumu makan bersama-sama dengan pemungut cukai dan orang berdosa?” 9:12 Yesus mendengarnya dan berkata: “Bukan orang sehat yang memerlukan tabib, tetapi orang sakit. 9:13 Jadi pergilah dan pelajarilah arti firman ini: Yang Kukehendaki ialah belas kasihan dan bukan persembahan, karena Aku datang bukan untuk memanggil orang benar, melainkan orang berdosa.”

Renungan :

Bila senja menghampiri kehidupan.

Penguburan dan pekuburan adalah dua bagian penting pada akhir hidup seseorang. Dalam kebudayaan Perjanjian Lama, juga kebudayaan-kebudayaan besar lainnya kedua hal ini menandakan tingkat kebudayaan seseorang, dan penghargaan terhadap almarhum/ah.

Sara mati dan perlu dikuburkan. Abraham meratapi kepergian istri terkasih yang sudah mendampinginya dengan setia dan penuh kasih. Hal itu sangat wajar. Namun Abraham tidak kehilangan kendali diri. Masih ada hal penting yang harus dilakukan, yang tidak boleh salah melakukannya, yaitu menyiapkan penguburan dan menyediakan pekuburan yang selayaknya.

Mengapa Abraham tidak mau menguburkan Sara di pekuburan umum milik orang Het, melainkan bersikeras (ayat 7-9, 12-13) membeli gua Makhpela untuk menjadi milik pribadi Abraham? Pertama, sampai saat usia tuanya, bahkan saat Sara sudah meninggal, mereka belum sungguh-sungguh memiliki tanah Perjanjian ini. Jadi pembelian gua Makhpela menjadi milik pribadi Abraham merupakan simbol kepemilikan tanah Perjanjian. Lagi pula dengan membeli tanah itu, Abraham menyatakan imannya kepada janji Allah. Tanah Perjanjian secara de facto belum menjadi miliknya, tetapi secara de jure, paling tidak areal pekuburan itu adalah miliknya (ayat 12-20).

Kedua, penguburan Sara di gua Makhpela, tanah Perjanjian melambangkan istirahat yang dinantikan sudah tiba. Kelak bangsa Israel akan dipimpin keluar dari Mesir tanah perbudakan melintasi padang gurun Sinai menuju tempat di mana mereka boleh beristirahat, menetap di tanah air mereka sendiri. Melalui kuburan Sara Abraham mengawali meraih tanah perhentian dari Allah.

Ketika kematian merenggut tubuh orang Kristen, kita percaya saat beristirahat dari jerih lelah di dunia sudah tiba. Saatnya menikmati warisan kekal kita bersama Bapa dan Tuhan Yesus di surga.

Jodoh di tangan Allah. Pernikahan adalah sakral. Bersatunya sepasang pria-wanita dalam mahligai pernikahan adalah atas kehendak dan berkat Allah, oleh karenanya tidak boleh sembarangan. Oleh sebab itu, Abraham pun tidak sembarangan mencarikan pasangan bagi Ishak. Ia mengutus hambanya yang paling senior, Eliezer untuk mencarikan teman hidup bagi Ishak bukan di Kanaan, melainkan kepada sanak Abraham sendiri yang tinggal di Haran (ayat 3-9). Keseriusan tugas itu diungkapkan penulis Kejadian dengan mengulang perintah Abraham kepada Eliezer pada mulut Eliezer (ayat 37-41).

Eliezer tidak menyelesaikan tugasnya itu dengan sendirian. Ia berdoa kepada Allah dan meminta petunjuk yang jelas agar tidak salah memilih. Penulis kitab Kejadian mengungkap keseriusan dan kebersandaran Eliezer kepada Allah dengan mencatat isi doa Eliezer sampai dua kali pada ayat 12-14, 42-44. Keyakinan akan nilai kudus rencana Allah melahirkan sikap berhati-hati dan bergantung penuh dalam memilih dan melakukan segala sesuatu. Tuhan mendengar doa orang yang berserah dan bersandar kepada-Nya. Jawaban doa Eliezer nyata di depan matanya. Semua permintaan doanya digenapi secara mendetail (ayat 15-20).

Doa dan Firman merupakan syarat mutlak mengerti kehendak Tuhan. Tuhan berkehendak memberikan jodoh yang terbaik untuk anak-anak-Nya.

Menyelesaikan tugas sampai tuntas. Jalan sudah terbuka. Permintaan doa Eliezer sudah dikabulkan TUHAN. Eliezer sudah sampai di rumah keluarga Ribka. Sekarang apa yang harus dilakukan?

Eliezer menceritakan maksud kedatangannya, sebagai utusan Abraham untuk mencarikan istri bagi putranya, Ishak. Eliezer menceritakan bahwa TUHAN sendiri yang menjawab doa permohonannya agar ia dituntun ke tempat yang tepat. Tepat seperti doa permohonannya, ia dihantar sampai ke rumah Ribka. Sekarang ia menantikan jawaban keluarga Ribka.

Tanggapan keluarga Ribka, dalam hal ini diwakili Laban dan Betuel (ayah Ribka dan Laban), adalah percaya dan menerima maksud TUHAN atas diri Ribka (ayat 50-51). Ribka sendiri percaya dan menerima hal itu sebagai kehendak Tuhan (ayat 58). Sebagai tanda pinangan, dikeluarkanlah sejumlah perhiasan dan pakaian untuk Ribka dan saudara dan ibunya.

Segera setelah pinangan diterima, dan bermalam satu malam, Eliezer pamit pulang untuk membawa Ribka kembali ke kemah Abraham. Namun, pihak keluarga Ribka hendak menahan Ribka selama mungkin, dan meminta waktu sepuluh hari lagi. Eliezer berkeras untuk berangkat saat itu juga (ayat 54-56).

Tindakan Eliezer sungguh tepat. Tugas harus diselesaikan dengan tepat dan tuntas. Penundaan pulang mungkin mengakibatkan keluarga Ribka berubah pikiran, dan akhirnya menolak melepaskan Ribka. Sebenarnya kalau Eliezer mau berdalih, perjalanan jauh sehingga butuh waktu istirahat panjang, tentu saja perjalanan boleh ditunda satu atau dua hari lagi. Sebagai hamba yang baik, ia ingin menyenangkan tuannya bukan dirinya.

Renungkan: Semua tugas, besar maupun kecil, bila dilihat sebagai pelayanan kepada Tuhan dan sesama, pasti akan kita lakukan dengan penuh tanggung jawab.

Mazmur, Tuhan itu baik.

Pemazmur bersyukur atas kebaikan Tuhan yang telah ia dan nenek moyangnya rasakan. Kebaikan Tuhan bukanlah bayang-bayang karena hal itu sangat nyata dirasakan (bdk. Mzm 34:9; 2Ptr 2:3). Dalam bagian ini, pemazmur tidak sedang mengemukakan pandangan imannya mengenai kebaikan Tuhan, tetapi mengenai pengalaman pribadi dengan Tuhan. Dalam banyak hal Tuhan telah menunjukkan kebaikan-Nya kepada umat-Nya.

Kasih karunia Tuhan. Kebaikan Tuhan diekspresikan melalui kasih karunia-Nya (dalam bahasa Ibrani disebut Chesed). Kasih karunia telah dipahami oleh bangsa Yahudi sebagai karakter yang sangat khusus dari Allah. Karena kasih karunia-Nya, Allah membebaskan umat Israel dari penindasan bangsa Mesir dan memimpin mereka menuju tanah perjanjian. Tindakan pemazmur mengutip sejarah Israel membuktikan dua hal penting: (1) Kasih karunia Tuhan tidak bersyarat, tidak bergantung pada sikap bangsa Israel yang seringkali melupakan Tuhan dan beralih kepada allah lain; (2) Kasih karunia Tuhan bersifat kekal, dan tidak berubah. Artinya, Tuhan yang telah menyatakan kasih karunia-Nya beribu-ribu tahun yang lalu, tetap akan menyatakan kasih karunia-Nya sekarang.

Renungkan: Saat ini, marilah kita kembali mengingat bagaimana Tuhan telah melimpahkan kasih dan setia-Nya bagi kita.

Injil hari ini, Ikutlah Aku!

Ada sebuah pujian yang bersyair “Alangkah indahnya hari itu, hari yang tak kulupa, setelah ku keliling dalam g’lap, ku dapat Juruselamat. Alangkah bahagia hatiku, ku dapat yang ku rindu…”.

Seandainya Matius hidup pada zaman ini, kemungkinan besar lagu itu menjadi pujian yang akan dinyanyikannya ketika ia mengundang Tuhan Yesus untuk makan di rumahnya bersama dengan para rekannya, sesama orang berdosa yang menjadi cemoohan bangsanya sendiri. Hari itu dimulai ketika Tuhan Yesus “melihat” dia dan berkata “Ikutlah Aku”(ayat 9). Undangan ini merupakan undangan yang tidak ternilai keistimewaannya. Yesus, Sang Mesias, mengundang dan memanggil orang berdosa yang menurut pandangan orang lain tidak berharga (ayat 11)! Namun, panggilan itu sendiri bukanlah sebuah panggilan tanpa konsekuensi. Ketika Allah memanggil, Ia memberikan anugerah dan sekaligus tanggung jawab. Mengikut Tuhan Yesus berarti meninggalkan seluruh kehidupan yang lama, termasuk pekerjaan yang telah memberikan suatu jaminan dan kemakmuran. Dan, Matius melepaskan semuanya itu. Keputusannya ini akan menjadi sebuah tekad tanpa kemungkinan untuk kembali. Ia mencatat peristiwa pemanggilannya dengan kata-kata “Maka berdirilah Matius lalu mengikut dia” (ayat 9b). Ia sudah memilih apa yang paling bernilai dalam hidupnya.

Terhadap orang Farisi yang mengkritik sikap-Nya mengundang Matius, Tuhan Yesus balik mengkritik mereka. Mereka tidak mengerti hakikat undangan Tuhan Yesus. Tuhan Yesus mengundang Matius karena Ia mengasihi orang berdosa dan ingin menyelamatkannya (ayat 13). Sikap orang Farisi ini menunjukkan bahwa mereka tidak merasa perlu mengikut Tuhan Yesus. Oleh karena itu, mereka tetap tinggal sebagai orang berdosa.

Renungkan: Apakah Anda seperti Matius yang menjawab panggilan-Nya mengikut Tuhan Yesus? Ataukah Anda seperti orang Farisi yang tidak merasa perlu mengikut Dia?

DOA: Tuhan Yesus, aku tidak pantas untuk menerima Engkau, namun aku merasa terhormat karena Engkau bersedia untuk meluangkan waktu denganku. Aku membuka hatiku kepada-Mu dan menerima kasih-Mu dan penyembuhan-Mu atas diriku. Terpujilah nama-Mu, ya Yesus, Tuhan dan Juruselamatku, sekarang dan selama-lamanya. Amin. (Lucas margono)

Juli 1707

Renungan Kamis 6 Juli 2017

Renungan Kamis 6 Juli 2017, Hari Biasa, Pekan Biasa XIII

Bacaan I : Kejadian 22:1-19

Kepercayaan Abraham diuji

22:1 Setelah semuanya itu Allah mencoba Abraham. Ia berfirman kepadanya: “Abraham,” lalu sahutnya: “Ya, Tuhan.” 22:2 Firman-Nya: “Ambillah anakmu yang tunggal itu, yang engkau kasihi, yakni Ishak, pergilah ke tanah Moria dan persembahkanlah dia di sana sebagai korban bakaran pada salah satu gunung yang akan Kukatakan kepadamu.” 22:3 Keesokan harinya pagi-pagi bangunlah Abraham, ia memasang pelana keledainya dan memanggil dua orang bujangnya beserta Ishak, anaknya; ia membelah juga kayu untuk korban bakaran itu, lalu berangkatlah ia dan pergi ke tempat yang dikatakan Allah kepadanya. 22:4 Ketika pada hari ketiga Abraham melayangkan pandangnya, kelihatanlah kepadanya tempat itu dari jauh. 22:5 Kata Abraham kepada kedua bujangnya itu: “Tinggallah kamu di sini dengan keledai ini; aku beserta anak ini akan pergi ke sana; kami akan sembahyang, sesudah itu kami kembali kepadamu.” 22:6 Lalu Abraham mengambil kayu untuk korban bakaran itu dan memikulkannya ke atas bahu Ishak, anaknya, sedang di tangannya di bawanya api dan pisau. Demikianlah keduanya berjalan bersama-sama. 22:7 Lalu berkatalah Ishak kepada Abraham, ayahnya: “Bapa.” Sahut Abraham: “Ya, anakku.” Bertanyalah ia: “Di sini sudah ada api dan kayu, tetapi di manakah anak domba untuk korban bakaran itu?” 22:8 Sahut Abraham: “Allah yang akan menyediakan anak domba untuk korban bakaran bagi-Nya, anakku.” Demikianlah keduanya berjalan bersama-sama. 22:9 Sampailah mereka ke tempat yang dikatakan Allah kepadanya. Lalu Abraham mendirikan mezbah di situ, disusunnyalah kayu, diikatnya Ishak, anaknya itu, dan diletakkannya di mezbah itu, di atas kayu api. 22:10 Sesudah itu Abraham mengulurkan tangannya, lalu mengambil pisau untuk menyembelih anaknya. 22:11 Tetapi berserulah Malaikat TUHAN dari langit kepadanya: “Abraham, Abraham.” Sahutnya: “Ya, Tuhan.” 22:12 Lalu Ia berfirman: “Jangan bunuh anak itu dan jangan kauapa-apakan dia, sebab telah Kuketahui sekarang, bahwa engkau takut akan Allah, dan engkau tidak segan-segan untuk menyerahkan anakmu yang tunggal kepada-Ku.” 22:13 Lalu Abraham menoleh dan melihat seekor domba jantan di belakangnya, yang tanduknya tersangkut dalam belukar. Abraham mengambil domba itu, lalu mengorbankannya sebagai korban bakaran pengganti anaknya. 22:14 Dan Abraham menamai tempat itu: “TUHAN menyediakan”; sebab itu sampai sekarang dikatakan orang: “Di atas gunung TUHAN, akan disediakan.” 22:15 Untuk kedua kalinya berserulah Malaikat TUHAN dari langit kepada Abraham, 22:16       kata-Nya: “Aku bersumpah demi diri-Ku sendiri?demikianlah firman TUHAN?:Karena engkau telah berbuat demikian, dan engkau tidak segan-segan untuk menyerahkan anakmu yang tunggal kepada-Ku, 22:17   maka Aku akan memberkati engkau berlimpah-limpah dan membuat keturunanmu sangat banyak seperti bintang di langit dan seperti pasir di tepi laut, dan keturunanmu itu akan menduduki kota-kota musuhnya. 22:18 Oleh keturunanmulah semua bangsa di bumi akan mendapat berkat, karena engkau mendengarkan firman-Ku.” 22:19 Kemudian kembalilah Abraham kepada kedua bujangnya, dan mereka bersama-sama berangkat ke Bersyeba; dan Abraham tinggal di Bersyeba.

Mazmur  116:1-2.3-4.5-6.8-9
Ref. Aku boleh berjalan di hadapan Tuhan di negeri orang-orang hidup.

*    Aku mengasihi Tuhan, sebab Ia mendengarkan suara dan permohonanku. Sebab Ia menyendengkan telinga-Nya kepadaku, maka seumur hidup aku akan berseru kepada-Nya.

*    Tali-tali maut telah melilit aku, dan kegentaran terhadap dunia orang mati menimpa aku; aku mengalami kesesakan dan kedukaan. Tetapi aku menyerukan nama Tuhan. “Ya Tuhan, luputkanlah kiranya aku!”

*    Tuhan adalah pengasih dan adil, Allah kita maha penyayang. Tuhan memelihara orang-orang sederhana; aku sudah lemah, tetapi diselamatkan-Nya.

*    Tuhan, Engkau telah meluputkan aku dari maut; Engkau telah meluputkan mataku dari air mata, dan kakiku dari tersandung. Aku boleh berjalan di hadapan Tuhan, di negeri orang-orang hidup.

Bait Pengantar Injil, do = f, 4/4, PS 960
Ref. Alleluya, alleluya, alleluya
Ayat. (2 Kor 5:19)
Allah mendamaikan dunia dengan diri-Nya dalam diri Kristus dan mempercayakan warta perdamaian kepada kita. Alleluya

Bacaan Injil : Matius 9:1-8  

“Mereka memuliakan Allah karena telah memberikan kuasa sedemikian besar kepada manusia.”

9:1 Sesudah itu naiklah Yesus ke dalam perahu lalu menyeberang. Kemudian sampailah Ia ke kota-Nya sendiri. 9:2 Maka dibawa oranglah kepada-Nya seorang lumpuh yang terbaring di tempat tidurnya. Ketika Yesus melihat iman mereka, berkatalah Ia kepada orang lumpuh itu: “Percayalah, hai anak-Ku, dosamu sudah diampuni.” 9:3 Maka berkatalah beberapa orang ahli Taurat dalam hatinya: “Ia menghujat Allah.” 9:4 Tetapi Yesus mengetahui pikiran mereka, lalu berkata: “Mengapa kamu memikirkan hal-hal yang jahat di dalam hatimu? 9:5 Manakah lebih mudah, mengatakan: Dosamu sudah diampuni, atau mengatakan: Bangunlah dan berjalanlah? 9:6 Tetapi supaya kamu tahu, bahwa di dunia ini Anak Manusia berkuasa mengampuni dosa” lalu berkatalah Ia kepada orang lumpuh itu?:”Bangunlah, angkatlah tempat tidurmu dan pulanglah ke rumahmu!” 9:7 Dan orang itupun bangun lalu pulang. 9:8 Maka orang banyak yang melihat hal itu takut lalu memuliakan Allah yang telah memberikan kuasa sedemikian itu kepada manusia.

Renungan :

Ketika cinta harus memilih!

Allah mengasihi kita, memberikan berkat-berkat-Nya yang melimpah kepada kita. Kita mengasihi Allah oleh karena segala berkat yang dinyatakan-Nya untuk kita. Namun, kita harus beranjak dari situ, kita harus dapat mengasihi Allah karena Diri-Nya, bukan semata karena berkat-berkat-Nya! Itu yang sedang diuji dari diri Abraham. Ujian itu tidak tanggung-tanggung! Berkat yang paling berharga, yang paling prestisius, yang telah dibuktikan pantas didapatkan sekarang harus dilepas karena mengasihi ALLAH adalah yang utama.

Sebenarnya perikop ini tidak mengungkapkan pergumulan pribadi Abraham ketika diperhadapkan dengan pilihan menyerahkan Ishak untuk dikorbankan karena ketaatan dan kasihnya kepada Allah, atau mempertahankan Ishak oleh karena kasih kepada diri sendiri. Namun, dengan imajinasi kita mencoba menangkap perasaan terdalam hati seorang ayah, baik dari sisi pribadi maupun kehidupan sosial masyarakat. Bagi Abraham, anak yang ditunggu-tunggu selama puluhan tahun ini, yang telah membuatnya lelah secara fisik dan batin, adalah suatu harta kesayangan yang tidak mungkin dilepaskan. Secara sosial masyarakat, memiliki ahli waris kandung berarti meneruskan nama dan prestise keluarga. Pasti dua hal ini berkecamuk dalam hati Abraham. Belum lagi memikirkan pertanyaan teologis apakah kini Allah membatalkan janji-Nya?

Apapun pergumulan pribadi Abraham, ketetapan hati untuk lebih mengutamakan Allahlah yang membuat ia taat untuk mempersembahkan Ishak di mezbah. Kasih kepada Allah mengalahkan keinginan Abraham untuk mempertahankan hak miliknya. Oleh sebab itu, Allah semakin memperjelas pengenalan Abraham akan Allah dan rencana-Nya (ayat 16-18).

Renungkan: Saatnya akan tiba, Anda harus memilih mempertahankan hak, diri, keluarga, apa saja yang Anda kasihi atau melepaskannya demi kesetiaan dan kasih kepada Kristus!

Mazmur, Allah pasti mempertahankan milik-Nya.

Mazmur ini dibuka dengan ungkapan pemazmur, “Aku mengasihi Tuhan”. Kasih pemazmur ini merupakan respons terhadap kasih Allah yang telah menyendengkan telinga-Nya kepadanya (ayat 2). Ungkapan ini didasari pada pengalamannya dibebaskan dari bahaya maut. Memang tidak disebutkan oleh apa bahaya maut itu disebabkan, tetapi ia merasa sudah tertangkap oleh sang maut (ayat 3). Pemazmur menuturkan bagaimana ia mengalami krisis iman ketika tenggelam dalam penderitaannya. Tidak ada seorang pun yang menolong. Sendiri dalam penderitaan melahirkan kekecewaan yang dalam. Namun, keadaan itu tidak menggoyahkan kepercayaannya kepada Tuhan. Wajar bila pemazmur rindu untuk membalas segala kebaikan Allah. Ia akan mengangkat piala keselamatan, menyerukan nama-Nya, membayar nazarnya di depan umat Allah; mempersembahkan kurban syukur kepada Allah. Arti nya, ia ingin hidupnya selalu memuliakan Allah.

Dari pengalaman iman pemazmur bersama Allah ini, kita belajar tiga hal. Pertama, hakikat hidup kita adalah karunia Tuhan semata-mata, dan bernilai kekal. Kedua, hidup kita berharga di mata-Nya. Hal ini makin membuat kita menghayati kehadiran dan keberadaan Allah yang mempedulikan keberadaan umat-Nya. Bahkan tidak akan dibiarkan-Nya kematian menjemput mereka sebelum waktunya. Ketiga, kebaikan Allah yang juga bernilai kekal itu ditanggapi dengan sikap paling mulia, yaitu mengabdi sebagai hamba-Nya, makin mengasihi-Nya untuk selama-selamanya.

Renungkan: Allah mengizinkan kita mengalami “krisis iman” agar kita menyadari dan makin menghayati kasih setia Allah dalam hidup kita.

Injil hari ini, Jesus membebaskan manusia dari kuasa Setan.
Setan-setan tahu dan mengenal, Yesus adalah Anak Allah. Mereka takut jika ditindak sebelum waktunya, lalu memohon, agar diusir masuk pada kawanan babi.Yesus mengabulkan, karena Dia berkuasa, baik atas manusia, hewan maupun setan. Namun, kini pada zaman iptek yang canggih ini terjadi keanehan. Orang-orang pintar, beragama dan berilmu takluk dan taat kepada setan-setan; dan melakukan perintah-perintahnya, bahkan beribadah, memuja dan menyembahnya. Bagaimanakah usaha orang percaya, untuk memperkenalkan Yesus dan membebaskan mereka dari pemujaan yang membelenggu jiwa mereka?

Yesus lebih mengetahui kebutuhan kita. Tuhan Yesus memuji para sahabat yang membawa seorang lumpuh kepada-Nya, untuk disembuhkan. Yesus melihat kebutuhan terdalam dari si lumpuh, yakni kesembuhan jiwa yang lumpuh, karena dosa yang membelenggu, yang membuat tulang-tulangnya lesu dan sumsumnya menjadi kering (Mzm. 32:34). Pengampunan dosa membebaskan dan memulihkan jasmaninya, sehingga jiwanya menjadi sehat. Marilah kita belajar tidak menyimpan dosa. Segeralah datang kepada Yesus dan bertobat.

Doa: Terima kasih Tuhan Yesus, Engkau lebih mencintai kami daripada kami mencintai diri kami sendiri. Amin. (Lucas Margono)

Juli 1706

Renungan Rabu 5 Juli 2017

Renungan Rabu 5 Juli 2017, Hari Biasa, Pekan Biasa XIII

Bacaan I : Kejadian 21:5,8-20

“Ismael tak mungkin menjadi ahli waris bersama dengan anakku Ishak.”

21:5 Adapun Abraham berumur seratus tahun, ketika Ishak, anaknya, lahir baginya. 21:8 Bertambah besarlah anak itu dan ia disapih, lalu Abraham mengadakan perjamuan besar pada hari Ishak disapih itu. 21:9 Pada waktu itu Sara melihat, bahwa anak yang dilahirkan Hagar, perempuan Mesir itu bagi Abraham, sedang main dengan Ishak, anaknya sendiri. 21:10 Berkatalah Sara kepada Abraham: “Usirlah hamba perempuan itu beserta anaknya, sebab anak hamba ini tidak akan menjadi ahli waris bersama-sama dengan anakku Ishak.” 21:11 Hal ini sangat menyebalkan Abraham oleh karena anaknya itu. 21:12 Tetapi Allah berfirman kepada Abraham: “Janganlah sebal hatimu karena hal anak dan budakmu itu; dalam segala yang dikatakan Sara kepadamu, haruslah engkau mendengarkannya, sebab yang akan disebut keturunanmu ialah yang berasal dari Ishak. 21:13 Tetapi keturunan dari hambamu itu juga akan Kubuat menjadi suatu bangsa, karena iapun anakmu.” 21:14 Keesokan harinya pagi-pagi Abraham mengambil roti serta sekirbat air dan memberikannya kepada Hagar. Ia meletakkan itu beserta anaknya di atas bahu Hagar, kemudian disuruhnyalah perempuan itu pergi. Maka pergilah Hagar dan mengembara di padang gurun Bersyeba. 21:15 Ketika air yang dikirbat itu habis, dibuangnyalah anak itu ke bawah semak-semak, 21:16 dan ia duduk agak jauh, kira-kira sepemanah jauhnya, sebab katanya: “Tidak tahan aku melihat anak itu mati.” Sedang ia duduk di situ, menangislah ia dengan suara nyaring. 21:17 Allah mendengar suara anak itu, lalu Malaikat Allah berseru dari langit kepada Hagar, kata-Nya kepadanya: “Apakah yang engkau susahkan, Hagar? Janganlah takut, sebab Allah telah mendengar suara anak itu dari tempat ia terbaring. 21:18 Bangunlah, angkatlah anak itu, dan bimbinglah dia, sebab Aku akan membuat dia menjadi bangsa yang besar.” 21:19 Lalu Allah membuka mata Hagar, sehingga ia melihat sebuah sumur; ia pergi mengisi kirbatnya dengan air, kemudian diberinya anak itu minum. 21:20 Allah menyertai anak itu, sehingga ia bertambah besar; ia menetap di padang gurun dan menjadi seorang pemanah.

Mazmur 34:7-8.10-11.12-13
Ref. Orang tertindas itu berseru, dan Tuhan mendengarkannya.

*    Orang yang tertindas ini berseru, dan Tuhan mendengarkan; Ia menyelamatkan dia dari segala kesesakannya. Malaikat Tuhan berkemah di sekeliling orang-orang yang takwa, lalu meluputkan mereka.

*    Takutlah akan Tuhan, hai orang-orangnya yang kudus, sebab orang yang takut akan Dia tak berkekurangan. Singa-singa muda merasa kelaparan, tetapi orang-orang yang mencari Tuhan tidak kekurangan suatu pun.

*    Marilah anak-anak, dengarkanlah aku, takut akan Tuhan akan kuajarkan kepadamu! Siapakah yang menyukai hidup? Siapakah yang mengingini umur panjang untuk menikmati yang baik?

Bait Pengantar Injil
Ref. Alleluya, alleluya
Ayat. (Yak 1:18)
Atas kehendak-Nya sendiri Allah telah menciptakan kita dengan kebenaran, agar kita menjadi yang pertama dari ciptaan-Nya.

Bacaan Injil : Matius 8:28-34

“Adakah Engkau kemari untuk menyiksa kami sebelum waktunya?”

8:28 Setibanya di seberang, yaitu di daerah orang Gadara, datanglah dari pekuburan dua orang yang kerasukan setan menemui Yesus. Mereka sangat berbahaya, sehingga tidak seorangpun yang berani melalui jalan itu. 8:29 Dan mereka itupun berteriak, katanya: “Apa urusan-Mu dengan kami, hai Anak Allah? Adakah Engkau ke mari untuk menyiksa kami sebelum waktunya?” 8:30 Tidak jauh dari mereka itu sejumlah besar babi sedang mencari makan. 8:31 Maka setan-setan itu meminta kepada-Nya, katanya: “Jika Engkau mengusir kami, suruhlah kami pindah ke dalam kawanan babi itu.” 8:32              Yesus berkata kepada mereka: “Pergilah!” Lalu keluarlah mereka dan masuk ke dalam babi-babi itu. Maka terjunlah seluruh kawanan babi itu dari tepi jurang ke dalam danau dan mati di dalam air. 8:33 Maka larilah penjaga-penjaga babi itu dan setibanya di kota, diceriterakannyalah segala sesuatu, juga tentang orang-orang yang kerasukan setan itu. 8:34        Maka keluarlah seluruh kota mendapatkan Yesus dan setelah mereka berjumpa dengan Dia, merekapun mendesak, supaya Ia meninggalkan daerah mereka.

Renungan :

Janji Allah digenapi secara adil.

Manusia cenderung hanya peduli pada dirinya sendiri atau kelompoknya, dan tidak peduli tentang orang lain. Banyak contoh kita lihat dalam tayangan berita televisi maupun suratkabar. Misal kelopok masyarakat pers  menyuarakan protesnya kepada pemerintah dan POLRI karena terbunuhnya seorang wartawan dari Media tertentu saat melkukan tugas di lapangan. Sementara ketika ratusan sipil di Timor Timur dibantai saat terjadi kerusuhan, tidak ada protes berarti dari para wartawan. Mereka baru ribut ketika rekan mereka yang menjadi korban.

Bacaan kita hari ini mengungkapkan kepedulian Allah kepada keluarga pilihan, Abraham dan Sara, juga kepada Hagar dan Ismael yang dibuang oleh mereka. Allah menggenapi janji kepada Abraham mengenai ahli warisnya. Ishak adalah penggenapan janji itu (ayat 1-7). Ya, Abraham sendiri tega mengusir Hagar dan Ismael, karena merasa kepentingan keluarganya terancam. Allah tidak demikian. Allah tidak pilih kasih. Allah tidak melupakan Hagar dan Ismael. Sesuai dengan janji-Nya kepada Hagar pada saat Ismael masih dalam kandungan (Kej 16:7-12), di padang gurun Bersyeba Allah melindungi dan memelihara mereka (ayat 17-21). Bahkan Allah menjanjikan Ismael menjadi bangsa yang besar (ayat 18). Kepedulian Allah jauh melampaui kasih manusia.

Kita belajar dari sikap Allah ini untuk peduli kepada orang lain, jangan hanya berpusat kepada diri sendiri dan kelompok kita. Bahwa Allah peduli kepada kita sampai memberi penyataan anugerah-Nya seharusnya membuat kita lebih mempedulikan orang lain. Karena, sesungguhnya siapakah kita? Apakah lebihnya kita daripada orang lain, yang adalah sesama kita?

Untuk ditindaklanjuti: Adakah orang yang tersisihkan oleh karena ego kita? Tunjukkan kasih Allah kepadanya melalui kepedulian Anda yang konkret dan praktis!

Mazmur, Tuhan melindungi

Bagaimana meyakinkan orang lain bahwa Tuhan itu baik? Untuk orang-orang yang berpikiran modern, kita bisa mengajukan sejumlah bukti akan kebaikan Tuhan yang dinyatakan dalam Kitab Suci, atau yang dapat diperiksa dari kenyataan alam semesta ciptaan-Nya. Namun orang-orang yang dipengaruhi oleh pandangan pascamodern, yang merelatifkan segala kebenaran, tidak butuh pengajaran dan berbagai bukti tertulis. Yang mereka butuhkan adalah pengalaman sebagai bukti.

Mazmur ini mengajak kita untuk merasakan perlindungan Tuhan. Rasakan  sendiri kebaikan-Nya (ayat 9) sebagaimana yang telah pemazmur rasakan. Apa yang pemazmur rasakan dan alami? Rupanya mazmur ini lahir dari pengalaman Daud yang dilindungi Tuhan saat melarikan diri dari Saul, yang hendak membunuh dirinya (ayat 1; lih 1 Samuel 18-27), Sebagai seorang buronan, berulang kali Daud mengalami kesesakan, penindasan, dan merasa terjepit. Namun setiap kali ia menjerit kepada Tuhan, Tuhan menolong tepat pada waktunya (ayat 7). Perlindungan Tuhan dirasakan bagai dijaga oleh pasukan malaikat yang mengelilingi dia (ayat 8). Pemazmur mengajak para pembacanya merespons Tuhan agar pengalaman hidup mereka diperkaya. Mari, pandanglah Tuhan, maka hidup ini akan penuh kesukacitaan (ayat 7). Takutlah akan Tuhan, maka Dia akan mencukupkan segala kebutuhan kita (ayat 10-11).

Mengalami Tuhan bisa terjadi dalam kehidupan sehari-hari, tak usah menunggu saat tekanan hidup tak tertahankan lagi. Alami Tuhan dengan melibatkan Dia dalam segala aspek hidup Anda. Dekatkan diri pada-Nya dengan sikap yang terbuka agar Dia dengan bebas menyapa dan menjamah hidup Anda. Saat Anda mengalami kehadiran atau pertolongan-Nya, naikkan syukur bersama-sama umat Tuhan lainnya. Mahsyurkan nama-Nya di hadapan orang lain.

Injil hari ini, Yesus peduli dan berkuasa.

Kita seringkali diperhadapkan pada dilema mengenai kepedulian dan kemampuan/kuasa. Orang yang peduli seringkali tidak memiliki kekuatan atau kuasa untuk memberi pertolongan. Akan tetapi, orang yang memilikinya justru sama sekali tidak peduli.

Kita bersyukur bahwa Allah kita bukanlah Allah yang seperti ini. Dua perikop ini merupakan bagian dari serangkaian mukjizat yang dilakukan Yesus di dalam pelayanan-Nya sebagai Mesias (pasal 8-9). Di ayat 28 kita dapat melihat bahwa Yesus sengaja hadir di Gadara melewati jalan ke pekuburan. Padahal tidak seorang pun yang berani melalui jalan itu karena di situ ada dua orang yang kerasukan roh-roh jahat. Mereka sangat berbahaya. Akan tetapi, Yesus justru datang dan menemui mereka. Kenyataan ini saja tidak mungkin tidak menyentuh hati kita. Yesus datang ke tempat yang tidak ingin didatangi siapa pun untuk menemui orang-orang yang tidak ingin didekati siapa pun. Bukan hanya itu, Yesus langsung dengan otoritas-Nya mengusir roh-roh jahat yang merasuk kedua orang itu (ayat 32). Roh-roh jahat tunduk kepada kuasa Yesus. Tindakan-Nya itu menunjukkan bahwa Dia peduli dan berkuasa. Pada perikop kedua, bukan hanya dalam masalah fisik Yesus peduli dan berkuasa menolong. Dia juga peduli atas masalah rohani manusia dengan mengampuni dosa orang lumpuh tersebut (ayat 9:6).

Otoritas Yesus atas penyakit, roh-roh jahat, dan alam memanggil orang untuk mengakui otoritas-Nya atas hidup mereka. Melalui mukjizat-mukjizat-Nya, Ia menyatakan diri sebagai satu-satunya Tuhan yang berdaulat atas hidup manusia, satu-satunya yang dapat menyelamatkan hidup kita dari segala belenggu yang mengikat dan menghancurkan hidup kita. Sungguh indah, bukan? Ia peduli, Ia datang, dan Ia memulihkan.

Ingat: Apa pun permasalahan hidup Anda, jangan pernah ragukan Yesus. Ia sanggup menolong Anda dan Ia mau melakukannya.

DOA: Tuhan Yesus, kami menolak dosa dan Iblis. Lanjutkanlah memimpin kami agar semakin dekat dengan Engkau dan memimpin kami kepada kemerdekaan lengkap yang telah Engkau menangkan bagi kami. Biarlah Roh Kudus-Mu menerangi kami selagi kami menjalani kehidupan sehari-hari kami, sehingga dengan demikian kami dapat mengikuti bimbingan-Mu, dan dengan hikmat-Mu kami dapat mengenali dan mewaspadai rencana busuk Iblis dan roh-roh jahat atas diri kami. Amin.(Lucas Margono)

Juli 1705