Renungan Kamis 31 Oktober 2013

Renungan Kamis, 31 Oktober 2013; Pekan Biasa XXX (H)

St. Alfonsus Rodriquez

Bacaan I: Rm. 8:31b–39

Sebab itu apakah yang akan kita katakan tentang semuanya itu? Jika Allah di pihak kita, siapakah yang akan melawan kita? 8:32 Ia, yang tidak menyayangkan Anak-Nya sendiri, tetapi yang menyerahkan-Nya bagi kita semua, bagaimanakah mungkin Ia tidak mengaruniakan segala sesuatu kepada kita bersama-sama dengan Dia? 8:33 Siapakah yang akan menggugat orang-orang pilihan Allah? Allah, yang membenarkan mereka? Siapakah yang akan menghukum mereka? 8:34 Kristus Yesus, yang telah mati? Bahkan lebih lagi: yang telah bangkit, yang juga duduk di sebelah kanan Allah, yang malah menjadi Pembela bagi kita? 8:35 Siapakah yang akan memisahkan kita dari kasih Kristus? Penindasan atau kesesakan atau penganiayaan, atau kelaparan atau ketelanjangan, atau bahaya, atau pedang? 8:36 Seperti ada tertulis: “Oleh karena Engkau kami ada dalam bahaya maut sepanjang hari, kami telah dianggap sebagai domba-domba sembelihan.” 8:37 Tetapi dalam semuanya itu kita lebih dari pada orang-orang yang menang, oleh Dia yang telah mengasihi kita. 8:38 Sebab aku yakin, bahwa baik maut, maupun hidup, baik malaikat-malaikat, maupun pemerintah-pemerintah, baik yang ada sekarang, maupun yang akan datang, 8:39 atau kuasa-kuasa, baik yang di atas, maupun yang di bawah, ataupun sesuatu makhluk lain, tidak akan dapat memisahkan kita dari kasih Allah, yang ada dalam Kristus Yesus, Tuhan kita.

Bacaan Injil: Luk. 13:31–35

Pada waktu itu datanglah beberapa orang Farisi dan berkata kepada Yesus: ”Pergilah, tinggalkanlah tempat ini, karena Herodes hendak membunuh Engkau.” Jawab Yesus kepada mereka: ”Pergilah dan katakanlah kepada si serigala itu: Aku mengusir setan dan menyembuhkan orang, pada hari ini dan besok, dan pada hari yang ketiga Aku akan selesai. Tetapi hari ini dan besok dan lusa Aku harus meneruskan perjalanan-Ku, sebab tidaklah semestinya seorang nabi dibunuh kalau tidak di Yerusalem. Yerusalem, Yerusalem, engkau yang membunuh nabi-nabi dan melempari dengan batu orang-orang yang diutus kepadamu! Berkali-kali Aku rindu mengumpulkan anak-anakmu, sama seperti induk ayam mengumpulkan anak-anaknya di bawah sayapnya, tetapi kamu tidak mau. Sesungguhnya rumahmu ini akan ditinggalkan dan menjadi sunyi. Tetapi Aku berkata kepadamu: Kamu tidak akan melihat Aku lagi hingga pada saat kamu berkata: Diberkatilah Dia yang datang dalam nama Tuhan!”

Renungan:

Gambar
Kasih Kristus kekal

Dengan kalimat-kalimat yang hidup dan menarik, Rasul Paulus menyatakan keyakinan imannya, bahwa tidak ada yang dapat melawan, menggugat, dan memisahkan orang percaya dari kasih Allah yang ada dalam Kristus Yesus. Justru karena Kristus sudah menghadapi kematian, lalu bangkit dan dipermuliakan maka Dia menjadi Pembela kita di saat kita menghadapi berbagai penderitaan dan penganiayaan (34-36), yang memang harus dihadapi oleh setiap anak Tuhan. Dia ada bersama dan mendampingi kita.

Jadi, apa pun yang terjadi pada kita, di mana pun kita berada, kita tidak dapat dipisahkan dari kasih Allah. Penderitaan tidak akan dapat memisahkan kita dari Allah. Justru penderitaan menolong kita untuk menghisabkan diri kita dengan Dia. Melalui penderitaan, kita justru akan semakin merasakan kasih-Nya. Ayat 37-39 mengajak kita melihat semua penderitaan itu dari sudut Kristus yang mengasihi kita, sehingga kita diyakinkan bahwa baik maut maupun hidup, malaikat, pemerintah, kuasa-kuasa, dan makhluk lain tidak akan dapat memisahkan kita dari kasih Allah, yang ada dalam Kristus Yesus.

Maka sebagai pengikut Yesus, kita hendaknya tidak berputus asa, atau berusaha lari dari tantangan. Penderitaan memang harus dihadapinya. Mungkin kadangkala penderitaan membuat kita beranggapan bahwa kita telah ditolak oleh Yesus. Akan tetapi, Paulus menyatakan bahwa tidak mungkin Kristus berbalik menolak kita atau Allah berbalik memusuhi kita. Kematian-Nya untuk kita merupakan bukti kasih yang tidak dapat dikalahkan oleh apa pun. Kasih-Nya melindungi kita dari berbagai bentuk kekuatan apa pun yang berupaya menguasai dan mengalahkan kita. Kasih-Nya yang begitu besar seharusnya membuat kita merasa aman di dalam Dia.

Kasih Allah dalam Yesus Kristus membantu kita menghadapi penderitaan. Bersyukurlah kepada Tuhan Yesus yang menyertai kita senantiasa, juga dalam kesulitan dan duka.

Hati-hati ‘Gede Rasa’ rohani sangat berbahaya. Teman saya seorang yang kristiani merasa senang sekali karena akan berjumpa dengan Bapak Baskara yang sekarang sudah menduduki posisi nomer satu dalam sebuah kantor perusahaan besar. Ia ingin segera bertemu dan berbincang- bincang dengan Bapak tersebut. Beberapa tahun lalu Bapak Baskara ini pernah numpang di rumah kostnya ketika masih berstatus sebagai seorang siswa orientasi Sarjana, calon pegawai di perusahaan telekomunikasi itu. Namun, apakah yang terjadi ketika berjumpa? Bapak Baskara menyambutnya dengan dingin, seakan-akan tidak pernah mengenal orang tersebut. Ketika diingatkan bahwa ia pernah tidur di rumahnya, Bapak Baskara hanya berkata bahwa ia lupa. Betapa malunya orang tersebut.

Walaupun tidak persis sama, kisah nyata di atas dapat memberikan gambaran lebih lanjut betapa pentingnya pengenalan dan hubungan pribadi di antara dua pihak, seperti yang diutarakan oleh Yesus dalam perumpamaan-Nya (ayat 22-30). Merasa kenal dan merasa dekat, tidaklah cukup untuk menyatakan bahwa dua pribadi itu saling mengenal (ayat 26). Hal ini dialami oleh orang yang tidak diperbolehkan masuk ke dalam pesta perjamuan. Perumpamaan ini menggambarkan bahwa “gede rasa” rohani sangat berbahaya. Kita seringkali mengira bahwa dengan melakukan banyak pelayanan Gerejawi, atau mendengarkan khotbah tiap hari Minggu, atau mengikuti Pendalaman Kitab Suci di gereja, sudah membawa kita pada hubungan pribadi dengan Yesus. Itu adalah ‘gede rasa’ rohani dan tidak cukup membawa kita kepada keselamatan kekal. Kita perlu menerima Yesus secara pribadi dan menjalin hubungan pribadi dengan-Nya agar kita semakin mengenal kehendak-Nya.

Pengenalan pribadi penting, karena pengenalan yang salah akan membuat seseorang memiliki persepsi yang salah tentang pihak yang merasa dikenal. Herodes memiliki pengenalan yang salah tentang Yesus, sehingga membuatnya memiliki persepsi yang salah. Ia berpikir bahwa Yesus ada untuk membangun kekuatan politik dan akan merongrong kekuasaannya atau pun untuk membuat kekacauan di daerah kekuasaan-nya. Itulah sebabnya ia ingin membunuh-Nya.

Manusia bisa menjadi sangat kejam dan jahat kepada sesamanya, saat manusia dipenuhi oleh kebencian. Kebencian membuat manusia buta untuk melihat kasih Tuhan dan kebaikan-kebaikan sesamanya. Kebencian membuat segala yang dilihat menjadi negatif. Kebencian adalah kekuatan yang merusak martabat luhur manusia dari dalam dirinya dan perlahan-lahan kebencian membuat hati manusia menjadi keras dan tidak mampu melihat kekurangannya sendiri, bahkan sebaliknya kebencian menjadikan dirinya keras dan jahat terhadap sesamanya dan suka menghakimi.

Tuhan Yesus sangat sedih terhadap orang-orang di Yerusalem karena mereka menolak kerinduan Allah untuk bersatu dengan mereka, bahkan sebaliknya mereka memilih hidup yang kacau dan penuh dengan kebencian. Tugas kita sebagai murid-murid Kristus adalah melawan segala macam bentuk kebencian dan kejahatan. Tuhan Yesus akan mendukung dan menguatkan saat kita berjuang melawan kejahatan dan mengupayakan terciptanya kehidupan yang damai. Kesetiaan kita sebagai murid Kristus dapat kita tunjukkan melalui perjuangan kita melawan kejahatan. Ketika kejahatan bisa kita kalahkan maka akan lahir damai dan sukacita.

Renungkan: Mengenal Kristus secara pribadi dan benar bukanlah perkara mudah, karena kriteria pengenalan itu ditentukan oleh Dia sendiri. Kadar pengenalan kita terhadap Dia akan menentukan tindakan dan sikap kita terhadap-Nya.

Doa: Allah Bapa Yang Mahakasih, Engkau sangat rindu untuk bisa selalu bersamaku. Se­moga aku selalu mendengarkan suara-Mu dan datang kepada-Mu. Dengan demikian, Engkau hidup dalam diriku dan mengubah diriku menjadi semakin lebih baik dan ba­hagia. Amin.

Iklan

Maria Pengantara Segala Rahmat

Mengapa dalam Gereja Katolik, Bunda Maria mempunyai peranan untuk menjadi perantara doa-doa kita (dengan adanya devosi-devosi), sedangkan saudari-saudara kita Kristen tidak demikian? Bukankah Yesus Kristus itu satu-satunya perantara kita kepada Allah Bapa, mengapa Bunda Maria disebut sebagai Perantara segala rahmat?

Gambar

Pertama, memang benar Yesus Kristus adalah satu-satunya pengantara kita manusia dan Allah (1 Tim 2:5-6). Bisa saja kita berdoa langsung kepada Allah melalui Yesus Kristus, seperti yang dilakukan oleh saudari-saudara kita yang Kristen. Tidak ada makhluk lain yang mampu menjadi pengantara kita dengan Allah, selain Yesus Kristus karena hanya Dialah yang sungguh Allah dan sungguh manusia. Dua kodrat yang dimiliki Yesus Kristus itulah yang memungkinkan kepengantaraan yang sungguh antara Allah dan manusia. Juga Bunda Maria tidak mempunyai dua kodrat seperti Yesus Kristus.

Kedua, kehadiran Bunda Maria tidak mengaburkan atau mengurangi kedudukan Yesus Kristus sebagai pengantara tunggal, tetapi justru menunjukkan kekuatan kepengantaraan Yesus Kristus (bdk LG 60, 62; MC 25, 28, 57; RMa 22, 38). Bunda Maria mengambil bagian atau nunut (bahasa Jawa) pada kepengantaraan Yesus Kristus. Jika Bunda Maria juga disebut sebagai pengantara, tentu kepengantaraan Maria tidak berada pada tingkatan yang sama dengan Yesus Kristus, tetapi di bawah dan nunut atau justru Bunda Maria menjalankan dan membuat kepengantaraan Yesus Kristus itu menjadi lebih efektif dalam diri kita.

Ketiga, bisa dikatakan bahwa Yesus Kristus membawa permohonan kita kepada Allah Bapa, tetapi Maria membawa permohonan kita kepada Yesus
seperti dalam perkawinan di Kana (Yoh 2:1-11). Ketika Maria memberitahu Yesus bahwa mereka kehabisan anggur, jawaban Yesus seperti menolak: ”Mau apakah engkau dari pada-Ku, Ibu? Saat-Ku belum tiba.” (Yoh 2:4). Namun demikian, Yesus mengabulkan permohonan Maria dengan mengubah air menjadi anggur. Peristiwa di Kana menunjukkan keampuhan peran Bunda Maria bagi kita di hadapan Yesus.

Bunda Maria mengajarkan kepada kita apa yang harus dimohonkan, bagaimana cara memohon yang tepat melalui Yesus, dan juga kapan waktu yang tepat untuk memohon kepada Tuhan. Demikian pula Bunda Maria
menunjukkan hal-hal apa yang harus kita lakukan agar permohonan kita bisa dikabulkan oleh Allah. Dalam peristiwa di Kana, Bunda Maria menyuruh pelayan-pelayan: ”Apa yang dikatakan kepadamu, buatlah itu!” (Yoh 2:5). Dengan demikian menjadi jelas, bahwa kehadiran Bunda Maria sama sekali tidak menghalangi atau mengaburkan kepengantaraan Yesus Kristus, tetapi
malah membuat kepengantaraan itu semakin bersinar cemerlang. Demikian pula kehadiran Bunda Maria tidak mempersulit kita dalam memohon kepada Allah, tetapi justru memperlancar terkabulnya doa permohonan kita. Dalam pengertian yang tepat seperti inilah Bunda Maria bisa disebut sebagai pengantara segala rahmat.

Seorang sahabat mengatakan, bahwa gambar Bunda Maria dengan bulan dan dua belas bintang di sekitarnya dan yang menginjak ular berasal dari gambar dewi kafir?

Pernyataan itu tidak benar. Sebagian dari ungkapan gambar yang demikian itu bisa ditemukan dalam Kitab Wahyu 12:1: ”Maka tampaklah suatu tanda besar di langit: Seorang perempuan berselubungkan matahari, dengan bulan di bawah kakinya dan sebuah mahkota dari dua belas bintang di atas kepalanya.” Sedangkan Bunda Maria yang menginjak ular merupakan penerapan Kej 1:15 pada Maria: ”Keturunannya akan meremukkan kepalamu.” Tradisi Katolik melihat ayat-ayat itu sebagai rujukan kepada Bunda Maria yang melahirkan
Yesus Kristus. Jadi, jelas bahwa gambaran Bunda Maria yang demikian itu tidak diambil alih dari gambaran dewi kafir, tetapi dari Kitab Suci.

Bisa jadi ada kemiripan antara gambar dewi kafir itu dengan gambar Bunda Maria. Tetapi, kedua rujukan di atas jelas menunjukkan bahwa gambar Bunda Maria yang kita miliki itu diilhami oleh Kitab Suci. Adanya kemiripan itu adalah suatu kebetulan. Pengamatan yang lebih cermat membuktikan bahwa kemiripan itu juga sebenarnya tidak benar, artinya keduanya sangat berbeda. Gambar Bunda Maria seperti digambarkan di atas tampak jelas dalam gambar Bunda Maria dari Medali Wasiat dan juga Bunda Maria dari Guadalupe.

Pastor Dr Petrus Maria Handoko CM

Renungan Rabu 30 Oktober 2013

Renungan Rabu, 30 Oktober 2013; Pekan Biasa XXX (H)

St. Marcellus; B. Angelus dr Acri;
B. Dominikus Collins

Bacaan I: Rm. 8:26–30

8:26 Demikian juga Roh membantu kita dalam kelemahan kita; sebab kita tidak tahu, bagaimana sebenarnya harus berdoa; tetapi Roh sendiri berdoa untuk kita kepada Allah dengan keluhan-keluhan yang tidak terucapkan. 8:27 Dan Allah yang menyelidiki hati nurani, mengetahui maksud Roh itu, yaitu bahwa Ia, sesuai dengan kehendak Allah, berdoa untuk orang-orang kudus. 8:28 Kita tahu sekarang, bahwa Allah turut bekerja dalam segala sesuatu untuk mendatangkan kebaikan bagi mereka yang mengasihi Dia, yaitu bagi mereka yang terpanggil sesuai dengan rencana Allah. 8:29 Sebab semua orang yang dipilih-Nya dari semula, mereka juga ditentukan-Nya dari semula untuk menjadi serupa dengan gambaran Anak-Nya, supaya Ia, Anak-Nya itu, menjadi yang sulung di antara banyak saudara. 8:30 Dan mereka yang ditentukan-Nya dari semula, mereka itu juga dipanggil-Nya. Dan mereka yang dipanggil-Nya, mereka itu juga dibenarkan-Nya. Dan mereka yang dibenarkan-Nya, mereka itu juga dimuliakan-Nya.

Bacaan Injil: Luk. 13:22–30

Kemudian Yesus berjalan keliling dari kota ke kota dan dari desa ke desa sambil mengajar dan meneruskan perjalanan-Nya ke Yerusalem. Dan ada seorang yang berkata kepada-Nya: ”Tuhan, sedikit sajakah orang yang diselamatkan?” Jawab Yesus kepada orang-orang di situ: ”Berjuanglah untuk masuk melalui pintu yang sesak itu! Sebab Aku berkata kepadamu: Banyak orang akan berusaha untuk masuk, tetapi tidak akan dapat. Jika tuan rumah telah bangkit dan telah menutup pintu, kamu akan berdiri di luar dan mengetok-ngetok pintu sambil berkata: Tuan, bukakanlah kami pintu! dan Ia akan menjawab dan berkata kepadamu: Aku tidak tahu dari mana kamu datang. Maka kamu akan berkata: Kami telah makan dan minum di hadapan-Mu dan Engkau telah mengajar di jalan-jalan kota kami. Tetapi Ia akan berkata kepadamu: Aku tidak tahu dari mana kamu datang, enyahlah dari hadapan-Ku, hai kamu sekalian yang melakukan kejahatan! Di sanalah akan terdapat ratap dan kertak gigi, apabila kamu akan melihat Abraham dan Ishak dan Yakub dan semua nabi di dalam Kerajaan Allah, tetapi kamu sendiri dicampakkan ke luar. Dan orang akan datang dari Timur dan Barat dan dari Utara dan Selatan dan mereka akan duduk makan di dalam Kerajaan Allah. Dan sesungguhnya ada orang yang terakhir yang akan menjadi orang yang terdahulu dan ada orang yang terdahulu yang akan menjadi orang yang terakhir.”

Gambar
Renungan

Roh membantu kelemahan kita dalam berdoa.

Pernahkah Anda merasa tidak mampu berdoa dengan benar? Jangan putus asa dan tak perlu risau. Perasaan demikian mungkin timbul karena kita tidak tahu jelas apakah kita harus memohon kekuatan di dalam menanggung derita atau memohon kelepasan dari derita itu. Dalam situasi demikian, Roh hadir di dalam diri kita. Ia membantu kita dalam kelemahan kita (ayat 26a). Ia berdoa syafaat untuk kita (ayat 26b). Dan Ia berdoa dengan keluhan-keluhan yang tak terkatakan sesuai kehendak Allah sendiri (ayat 27).

Menjadi serupa dengan gambaran Kristus. Manusia diciptakan menurut gambar dan rupa Allah (Kej. 1:26). Gambar dan rupa Allah yang rusak karena dosa itu, dipulihkan oleh Tuhan Yesus. Meski menderita kita tak perlu meragukan kebenaran ini, sebaliknya “kita tahu”. Allah menjadikan segala sesuatu menjadi alat-Nya untuk kebaikan kita asal kita mengasihi Dia. Alat-alat Tuhan itu akan menuntun kita menjalani proses yang telah Tuhan pilihkan dan tentukan dalam kekekalan, kini dalam pengalaman: dipanggil, dibenarkan, dimuliakan (ayat 29-30).

Penderitaan yang kita tanggapi dengan doa adalah sarana Tuhan untuk membuat kita mengalami Allah Bapa (kepada siapa kita berdoa), Putra (melalui-Nya kita berdoa), Roh (Penolong kita berdoa) secara nyata.

Injil hari ini menyatakan sbahwa untuk bisa masuk Kerajaan Sorga harus dipersiapkan mulai sekarang, menunda berarti terlambat. Kita tahu bahwa Free pass adalah tiket bebas masuk untuk menonton film di bioskop. Tiket ini diberikan kepada orang-orang yang bekerja atau memiliki saham di bioskop tersebut.

Sebagai keturunan Abraham, orang Israel mengira bahwa fakta itu merupakan jaminan untuk memperoleh free pass guna masuk ke dalam Kerajaan Surga. Padahal Yohanes pernah memperingatkan mereka akan hal ini (bdk. Luk. 3:7-8). Yesus juga menyanggah pendapat itu melalui perumpamaan tentang pintu yang sempit. Dalam perumpamaan ini kelihatannya seorang Tuan Rumah sedang mengadakan perjamuan. Namun tidak mudah untuk masuk ke dalam karena hanya ada satu pintu sempit, sementara banyak orang yang akan masuk (29). Itu sebabnya tiap orang harus berjuang keras untuk masuk. Tidak ada seorang pun yang mendapatkan free-pass. Bukan hanya itu masalahnya. Pintu akan segera ditutup. Mungkin perjamuan akan segera dimulai. Itu berarti tertutupnya kesempatan untuk masuk, siapapun dia dan bagaimanapun usahanya untuk masuk! Juga meskipun mereka berupaya mengetok pintu dan mengaku pernah bersama-sama dengan Si Tuan Rumah (25-27). Itu sebabnya tiap orang harus bertindak cepat! Perumpamaan ini adalah pesan yang Yesus ingin sampaikan pada para pendengar-Nya: waktu untuk bertobat dan menerima Yesus sungguh singkat!

Pesan ini juga merupakan peringatan bagi kita. Bertobatlah dan masuklah ke dalam Kerajaan Allah segera, selama pintu masih terbuka. Yesus berkata bahwa kita harus berusaha keras untuk masuk karena belum tentu ada kesempatan lain. Ini bukan berarti bahwa keselamatan dapat diperoleh dengan usaha manusia, tetapi karena waktunya begitu singkat. Bagaikan hadiah yang sedang diperebutkan banyak orang, kita harus menggapainya. Kita tidak bisa bersikap pasif! Segera atau kita akan kehilangan! Karena itu, jangan tunda! Jangan sampai terlambat! Inilah waktunya untuk mengambil keputusan! Jangan sampai kesempatan ditutup dan kita akan menyesal selama-lamanya.

Doa: Allah Bapa Yang Maharahim, ampunilah aku orang berdosa ini karena sering kali aku lebih senang memilih jalan hidupku sendiri. Semoga aku tidak lagi mengabaikan Kasih-Mu dengan hidup benar bagi-Mu seturut kehendak-Mu. Amin.

Hari Raya & Pesta Gerejani
6 Agustus
 Pesta Yesus Menampakkan Kemuliaan-Nya
Yesus membuka samaran-NyaGUNUNG – (Suratkabar Apostolik) Paus Petrus melaporkan suatu peristiwa aneh yang terjadi dalam minggu ini. Ia dan dua rekan Uskup, Yohanes dan Yakobus, merasa bahwa mereka telah mengenal Yesus dari Nazaret dan seperti apa Dia itu. Tetapi, sekarang mereka tidak yakin.
Tampaknya selama ini Yesus mengenakan topeng. Tukang kayu yang lemah lembut dengan rambut gondrong dan jenggot dipangkas rapi hanyalah suatu samaran. Kebenaran akhirnya diketahui saat Yesus membawa mereka ke atas gunung ini di Galilea untuk suatu retret. Sekonyong-konyong, Yesus membiarkan topeng-Nya terlepas dan mengungkapkan DiriNya yang sebenarnya. Ia bercahaya bagaikan sinar laser.  
Berikut ini kutipan komentar Paus Petrus mengenai peristiwa tersebut, “Kami tidak sedang menceritakan suatu cerita hebat yang dibuat-buat, tetapi dengan mata kepala kami sendiri, kami telah melihat kebesaran-Nya yang sesungguhnya. Tuhan, Bapa kita yang hebat serta mengagumkan, sungguh-sungguh memuliakan Dia dengan mengatakan, `Inilah Anak yang Kukasihi, kepada-Nyalah Aku berkenan, dengarkanlah Dia.’ Kami ada di sana bersama Yesus di atas gunung dan mendengar suara itu yang berbicara dari surga.”
Yesus adalah sungguh Allah dan sungguh manusia. Ia abadi, Yang Mahakuasa. Ia datang ke dunia untuk membebaskan kita dari batas-batas waktu dan dimensi – sehingga kita beroleh hidup yang kekal.
P. Richard Lonsdale
14 September
 Pesta Salib Suci
I.N.R.I adalah singkatan dari tulisan bahasa Latin: IESUS NAZARENUS REX IUDAEORUM.
“Dan Pilatus menyuruh memasang juga tulisan di atas kayu salib itu, bunyinya: ‘YESUS, ORANG NAZARET, RAJA ORANG YAHUDI.’ Banyak orang Yahudi yang membaca tulisan itu, sebab tempat di mana Yesus disalibkan letaknya dekat kota dan kata-kata itu tertulis dalam bahasa Ibrani, bahasa Latin dan bahasa Yunani. (Yohanes 19:19-20)
Pada hari ini kita merayakan rasa syukur serta cinta kasih kita kepada Yesus melalui penghormatan kita kepada Salib. Dulu salib merupakan lambang kehinaan yang paling mengerikan. Para penjahat yang dihukum mati dengan pedang diselamatkan dari “kehinaan” salib. Yesus memilih untuk melakukan pengorbanan yang paling besar untuk memperoleh keselamatan bagi kita. Ia memilih penderitaan salib. Bersama dengan penderitaan-Nya itu, Ia juga dihinakan.
Sejak itu, Salib menjadi lambang Kristiani yang paling suci. Tubuh Yesus yang menderita di atasnya kita sebut Corpus. Salib di dinding kamar kita atau salib di sekeliling leher kita mempunyai arti yang amat penting. Mereka mengingatkan kita bahwa Yesus telah membayar lunas harga kita.
Umat Kristiani senantiasa menghormati serta mencintai lambang Salib. Kata “Salib” juga dapat berarti penderitaan yang datang menimpa kita. Jika kita menerima penderitaan-penderitaan tersebut dengan cinta dan kesabaran seperti Yesus menerima salib-Nya, kita telah rela “memanggul salib” seperti Yesus.
Kami menyembah Dikau, ya Kristus, serta memuji-Mu, sebab dengan Salib Suci-Mu Engkau telah menebus dunia!
15 September
 SP Maria Berdukacita
Bunda Maria mengalami banyak sukacita sebagai Bunda Yesus, tetapi ia harus mengalami banyak dukacita pula. Cintanya yang begitu besar kepada Putera Ilahinya menyebabkan Bunda Maria menderita begitu hebat ketika ia menyaksikan Yesus diperlakukan dengan keji oleh para musuh-Nya. Bunda Maria adala ratu para martir karena ia mengalami penderitaan batin yang jauh lebih dahsyat daripada penderitaan jasmani para martir. Hatinya bagaikan sebuah altar saat di Kalvari ia menyerahkan Puteranya yang terkasih, Yesus, untuk menyelamatkan kita. Betapa dahsyat dukacita itu bagi seorang ibunda yang penuh belas kasih menyaksikan Puteranya wafat disalib.
Bunda Maria tidak mengasihani diri sendiri ataupun mengeluh mengapa ia harus mengalami begitu banyak penderitaan sepanjang hidupnya. Sebaliknya, ia mempersembahkan segala penderitaannya itu kepada Tuhan demi keselamatan kita. Bunda Maria adalah Bunda kita. Karena Bunda Maria amat mengasihi kita, ia senang dan rela menderita agar kita, suatu saat kelak, dapat berbagi sukacita dengannya bersama Yesus di surga.
Bagaimanakah sikapku dalam menghadapi penderitaan? Apakah yang diajarkan Bunda Yesus kepadaku tentang penderitaan?
1 November
 Hari Raya Semua Orang Kudus
Tanggal 1 November kita merayakan pesta Semua Orang Kudus dan kita akan terus merayakan pestanya sepanjang bulan November. Pikirkan tentang semua orang kudus yang kalian ketahui. Mungkin kalian juga mempunyai seorang nenek atau kakek yang baik hati yang telah meninggal dunia. Jika mereka berada di surga, berarti mereka juga termasuk orang kudus, dan November adalah bulan yang khusus bagi mereka! Kita menghormati semua orang kudus: pria, wanita, dan anak-anak yang mengenal, mencintai dan melayani Tuhan selama di dunia dan kini telah pergi untuk menerima hadiah abadi dalam rumah mereka yang sebenarnya. Semua orang kudus di surga berdoa bagi kita dan mendorong kita untuk menjadi kudus juga, supaya kelak kita semua dapat berkumpul di surga.
Berapa sekarang usiamu? Sepuluh? Duabelas? Empatbelas? Semoga umurmu cukup panjang untuk dapat melayani Tuhan. Namun, suatu hari kelak Tuhan akan memanggilmu pulang. Mengapa saya katakan pulang? Karena Surgalah rumah kita yang sebenarnya. Seperti dikatakan Yesus dalam Kitab Suci: Aku akan menyediakan tempat bagimu, dan Aku akan datang kembali dan membawa kamu ke tempat-Ku, supaya di tempat di mana Aku berada, kamupun berada. Bukankah Yesus begitu baik menyediakan tempat khusus bagi kita masing-masing!
Tuhan, tolonglah kami dalam perjalanan pulang.
2 November
 Peringatan Arwah Semua Orang Beriman
Setiap tanggal 2 November kita merayakan Peringatan Arwah Semua Orang Beriman. Pada hari ini kita mengingat mereka yang telah meninggal dunia dan kita berdoa agar mereka segera masuk surga seandainya mereka belum berada di sana. Jika seseorang meninggal dunia dalam keadaan rahmat dan pengenalan akan Tuhan, tetapi masih mempunyai dosa-dosa ringan dan jiwa mereka belum sempurna, atau mereka belum melakukan penitensi yang layak bagi dosa-dosa mereka, menurut ajaran Gereja, jiwanya terlebih dahulu harus dimurnikan dalam api penyucian.  Mengapa? Kitab Suci mengatakan Tidak akan masuk ke dalamnya [Surga] sesuatu yang najis (Wahyu 21:27). Sehingga hanya jiwa yang bersih atau yang telah dibersihkan sepenuhnya dapat masuk dalam hadirat Tuhan. Jiwa-jiwa dalam api penyucian adalah jiwa-jiwa yang memiliki sukacita yang besar, sebab mereka tahu bahwa suatu hari kelak mereka akan masuk ke surga. Tetapi pada saat yang sama, mereka juga adalah jiwa-jiwa yang sangat menderita, sebab mereka amat rindu berada bersama Allah, namun tidak bisa karena mereka harus disucikan sepenuhnya terlebih dahulu.
Kita di dunia dapat membantu jiwa-jiwa menderita di api penyucian dengan doa, amal, perbuatan-perbuatan baik, dan khususnya dengan Perayaan Misa. Tindakan-tindakan kita itu dapat membantu mengurangi masa tinggal mereka di api penyucian.  Jika suatu jiwa telah dibersihkan sepenuhnya, jiwa tersebut akan segera menuju surga untuk menikmati kebahagiaan bersama Yesus, Bunda Maria, semua orang kudus dan para malaikat untuk selama-lamanya! Kita yakin bahwa mereka akan menjadi pendoa bagi kita kepada Tuhan. Kita menolong mereka dan mereka menolong kita. Semuanya ini adalah bagian dari menjadi Keluarga Allah: persekutuan para kudus.
Betapa baiknya Tuhan itu yang menjadikan kita semua bagian dari Keluarga yang Sungguh Luar biasa ini! Mari kita luangkan waktu setiap hari, terutama selama bulan November, untuk berdoa bagi mereka yang telah meninggal dunia. Meraka pantas mendapatkan cinta dan doa kita.
9 November
 Pesta Pemberkatan Basilik Lateran
Basilika St Yohanes Lateran
Gereja perdana mengalami berbagai penindasan serta penganiayaan dalam pemerintahan Kaisar Romawi. Baru pada masa pemerintahan Kaisar Konstantin Agung, umat Kristen mendapat kebebasan. Kaisar dan ibunya, St. Helena, adalah umat Kristen yang saleh. Pada tahun 324, Kaisar mendirikan sebuah Basilik (= gereja besar) di Lateran yang diberi nama St. Yohanes. Oleh karenanya Basilik Lateran kemudian menjadi simbol pembebasan umat Kristen dari penindasan. Kaisar juga mendirikan sebuah Basilik di Vatikan, Roma yang sekarang dikenal dengan nama Basilik St. Petrus.
Yesus adalah batu penjuru. Setiap umat Kristen, adalah batu-batu rohani. Betapa Yesus menginginkan batu-batu-Nya kuat dan teguh dalam iman agar dapat disusun serta dibentuk-Nya mejadi Gereja yang kokoh dan kuat.  
P. Martin M. Anggut, SVD
 Hari Raya Tuhan Kita Yesus Kristus Raja Semesta Alam
HR Yesus Kristus Raja Semesta Alam merupakan minggu terakhir dalam kalendarium liturgi sebelum memasuki tahun baru / Masa Adven. Sebagaimana terjadi pada peristiwa akhir, yaitu orang sering mengadakan refleksi atau evaluasi, marilah kita juga mengevaluasi dan berrefleksi atas diri kita masing-masing: panggilan, tugas perutusan dst. Adakah perkembangan atau pemantapan, peningkatan dalam hidup beriman, hidup manusiawi, karya / pegawai atau panggilan (berkeluarga, imam dan biarawan)? Apakah kita semakin dikuasai dan dirajai oleh Raja Yesus Kristus, sehingga memiliki `budaya Raja Yesus Kristus’: cara melihat, cara merasa, cara berpikir, cara bersikap dan cara bertindak Yesus Kristus, dan bukan dengan caranya sendiri alias `sak penake wudhele dewe’, menurut selera sendiri.
Sebagai anggota tarekat / lembaga hidup bakti, sejauh mana saya semakin dijiwai oleh kharisma atau spiritualitas pendiri. Sebagai suami-isteri yang menyatu karena dan oleh cinta-kasih, sejauh mana semakin mengasihi sehingga berdua nampak bagaikan `anak kembar’. Sebagai pegawai atau karyawan semakin terampil dalam bekerja sesuai dengan bidang pekerjaan dan pelayanan masing-masing serta menghayati visi-misi unit / lembaga kerja di mana saya berada. Sebagai pelajar atau mahasiswa semakin mahir dalam belajar yang nampak dalam nilai-nilai akhir semester atau akhir tahun yang selalu naik meskipun hanya sedikit, dst. Dengan kata lain, pada akhir tahun liturgi ini marilah kita mawas diri apakah perjalanan setahun yang telah lewat sungguh bermanfaat dan berdaya-guna bagi hidup, keselamatan, kesejahteraan, panggilan atau tugas perutusan kita. Apakah kita juga sanggup menanggapi secara positif ajakan Sang Raja: “Aku berkata kepadamu, sesungguhnya hari ini juga engkau akan ada bersama-sama dengan Aku di dalam Firdaus.” Hari ini di manapun berada, apapun yang kita kerjakan… ingat bahwa kita berada di Taman Firdaus.
P. Ign. Sumarya, S.J.

Renungan Selasa 29 Oktober 2013

Renungan Selasa, 29 Oktober 2013; Pekan Biasa XXX (H)

B. Mikael Rua

Bacaan I: Rm. 8:18–25

Pengharapan anak-anak Allah
8:18 Sebab aku yakin, bahwa penderitaan zaman sekarang ini tidak dapat dibandingkan dengan kemuliaan yang akan dinyatakan kepada kita. 8:19 Sebab dengan sangat rindu seluruh makhluk menantikan saat anak-anak Allah dinyatakan. 8:20 Karena seluruh makhluk telah ditaklukkan kepada kesia-siaan, bukan oleh kehendaknya sendiri, tetapi oleh kehendak Dia, yang telah menaklukkannya, 8:21 tetapi dalam pengharapan, karena makhluk itu sendiri juga akan dimerdekakan dari perbudakan kebinasaan dan masuk ke dalam kemerdekaan kemuliaan anak-anak Allah. 8:22 Sebab kita tahu, bahwa sampai sekarang segala makhluk sama-sama mengeluh dan sama-sama merasa sakit bersalin. 8:23 Dan bukan hanya mereka saja, tetapi kita yang telah menerima karunia sulung Roh, kita juga mengeluh dalam hati kita sambil menantikan pengangkatan sebagai anak, yaitu pembebasan tubuh kita. 8:24 Sebab kita diselamatkan dalam pengharapan. Tetapi pengharapan yang dilihat, bukan pengharapan lagi; sebab bagaimana orang masih mengharapkan apa yang dilihatnya? 8:25 Tetapi jika kita mengharapkan apa yang tidak kita lihat, kita menantikannya dengan tekun.

Bacaan Injil: Luk. 13:18–21

Maka kata Yesus: ”Seumpama apakah hal Kerajaan Allah dan dengan apakah Aku akan mengumpamakannya? Ia seumpama biji sesawi, yang diambil dan ditaburkan orang di kebunnya; biji itu tumbuh dan menjadi pohon dan burung-burung di udara bersarang pada cabang-cabangnya.” Dan Ia berkata lagi: ”Dengan apakah Aku akan mengumpamakan Kerajaan Allah? Ia seumpama ragi yang diambil seorang perempuan dan diadukkan ke dalam tepung terigu tiga sukat sampai khamir seluruhnya.”

Gambar
Renungan

Penderitaan orang Kristen.
Boleh dikata tiap hari kita mendengar berbagai berita tentang penderitaan yang dialami orang di dunia ini. Orang Kristen sendiri menderitakah? Ya. Seperti halnya Kristus sudah menderita, kita pun ikut menderita bersama-Nya dan karena Dia (ayat 17). Karena kita masih hidup dalam dua zaman, antara zaman lama dan zaman baru, kita sedang berjalan dari penderitaan menuju kemuliaan (ayat 18). Penderitaan itu dialami baik oleh anak-anak Allah maupun segenap isi ciptaan (ayat 21-22). Namun penderitaan yang sedang kita alami ini tidak sebanding dengan kemuliaan yang akan kita terima kelak (ayat 18).

Bagaimana sikap kita sebagai orang Kristeni dalam menghadapi penderitaan? Sebagai orang Kristen kita tidak perlu hancur di dalam penderitaan. Ada beberapa prinsip yang memungkinkan kita menang. Pertama, kita telah menerima karunia sulung Roh yang tidak saja menguatkan kita tetapi juga menjamin bahwa kita akan tiba dalam kemuliaan kelak (ayat 23). Kedua, kita dapat berkeluh kesah kepada Allah tentang tubuh fana kita dan sifat daging dosa kita (ayat 23b). Ketiga, dalam iman dan harapan kita menatap ke Hari Tuhan (ayat 24). Keempat, pengharapan itu memberi kita ketekunan, kemenangan dan keselamatan di dalam penderitaan kita.

Hal yang bisa kita petik dari bacaan pertama, Kristus yang telah menderita hadir dalam penderitaan kita melalui Roh-Nya untuk mengubah keluh kesah kita menjadi nyanyian syukur.

Injil hari ini Yesus mengajarkan tentang Kerajaan Allah dengan perumpamaan, biji sesawi dan ragi. Tanda-tanda kehadiran Allah tidak selalu terwujud dalam hal yang besar dan menakjubkan. Ia mulai dari kecil seperti biji sesawi, namun, kemudian bertumbuh menjadi pohon yang besar. Atau, seperti sedikit ragi yang mengkhamirkan adonan roti. Kerajaan Allah hadir secara diam-diam, tetapi pengaruh yang dihasilkannya memberkati banyak orang.

Inilah Kuasa kehadiran Kerajaan Allah yang ingin digambarkan oleh Yesus melalui perumpamaan biji sesawi dan ragi. Tampaknya kecil tapi pada suatu waktu nanti akan menembus dan mempengaruhi dunia. Tidak ada satu kekuatan pun yang dapat menghentikan karya Kerajaan Allah, yang juga akan menjadi tempat bernaung bagi banyak orang. Maka kita seharusnya bukan bertindak seperti kepala rumah ibadat yang menghalangi orang untuk mengalami kuasa Kerajaan Allah itu. Kiranya kita justru menjadi agen-agen pembaruan yang memperluas kesempatan kepada banyak orang untuk mengenal dan mengalami kuasa Kerajaan Allah yang dinyatakan dalam diri Yesus Kristus.

Hal yang menjadi permenungan kita, orang Kristen sejati tidak perlu gembar gembor menyatakan kekristenannya, namun ia akan menjadi berkat bagi banyak orang, dan Injil Tuhan disebarluaskan.