Renungan Jumat 25 Juli 2014

Pesta St. Yakobus, Ras

Bacaan I : 2Kor 4:7-15

4:7 Tetapi harta ini kami punyai dalam bejana tanah liat, supaya nyata, bahwa kekuatan yang melimpah-limpah itu berasal dari Allah, bukan dari diri kami. 4:8 Dalam segala hal kami ditindas, namun tidak terjepit; kami habis akal, namun tidak putus asa; 4:9 kami dianiaya, namun tidak ditinggalkan sendirian, kami dihempaskan, namun tidak binasa. 4:10 Kami senantiasa membawa kematian Yesus di dalam tubuh kami, supaya kehidupan Yesus juga menjadi nyata di dalam tubuh kami. 4:11 Sebab kami, yang masih hidup ini, terus-menerus diserahkan kepada maut karena Yesus, supaya juga hidup Yesus menjadi nyata di dalam tubuh kami yang fana ini. 4:12 Maka demikianlah maut giat di dalam diri kami dan hidup giat di dalam kamu. 4:13 Namun karena kami memiliki roh iman yang sama, seperti ada tertulis: “Aku percaya, sebab itu aku berkata-kata”, maka kami juga percaya dan sebab itu kami juga berkata-kata. 4:14 Karena kami tahu, bahwa Ia, yang telah membangkitkan Tuhan Yesus, akan membangkitkan kami juga bersama-sama dengan Yesus. Dan Ia akan menghadapkan kami bersama-sama dengan kamu kepada diri-Nya. 4:15 Sebab semuanya itu terjadi oleh karena kamu, supaya kasih karunia, yang semakin besar berhubung dengan semakin banyaknya orang yang menjadi percaya, menyebabkan semakin melimpahnya ucapan syukur bagi kemuliaan Allah.

Mzm 126:1-2ab,2cd-3,4-5,6

Bacaan Injil : Mat 20:20-28

Permintaan ibu Yakobus dan Yohanes Bukan memerintah melainkan melayani
20:20 Maka datanglah ibu anak-anak Zebedeus serta anak-anaknya itu kepada Yesus, lalu sujud di hadapan-Nya untuk meminta sesuatu kepada-Nya. 20:21 Kata Yesus: “Apa yang kaukehendaki?” Jawabnya: “Berilah perintah, supaya kedua anakku ini boleh duduk kelak di dalam Kerajaan-Mu, yang seorang di sebelah kanan-Mu dan yang seorang lagi di sebelah kiri-Mu.” 20:22 Tetapi Yesus menjawab, kata-Nya: “Kamu tidak tahu, apa yang kamu minta. Dapatkah kamu meminum cawan, yang harus Kuminum?” Kata mereka kepada-Nya: “Kami dapat.” 20:23 Yesus berkata kepada mereka: “Cawan-Ku memang akan kamu minum, tetapi hal duduk di sebelah kanan-Ku atau di sebelah kiri-Ku, Aku tidak berhak memberikannya. Itu akan diberikan kepada orang-orang bagi siapa Bapa-Ku telah menyediakannya.” 20:24 Mendengar itu marahlah kesepuluh murid yang lain kepada kedua saudara itu. 20:25 Tetapi Yesus memanggil mereka lalu berkata: “Kamu tahu, bahwa pemerintah-pemerintah bangsa-bangsa memerintah rakyatnya dengan tangan besi dan pembesar-pembesar menjalankan kuasanya dengan keras atas mereka. 20:26 Tidaklah demikian di antara kamu. Barangsiapa ingin menjadi besar di antara kamu, hendaklah ia menjadi pelayanmu, 20:27 dan barangsiapa ingin menjadi terkemuka di antara kamu, hendaklah ia menjadi hambamu; 20:28 sama seperti Anak Manusia datang bukan untuk dilayani, melainkan untuk melayani dan untuk memberikan nyawa-Nya menjadi tebusan bagi banyak orang.”

Renungan:

Injil dan pemberitanya
Paradoks adalah pernyataan yang seolah-olah bertentangan dengan pendapat umum, tetapi sesungguhnya mengandung kebenaran. Dalam nas ini, terlihat paradoks antara harta Injil yang tak ternilai dan pemberita Injil yang tak bernilai, yang Paulus sebut “bejana tanah liat”. Kerentanan “bejana tanah liat” itu terlihat saat Paulus menjalankan misinya. Namun ada maksud ilahi di dalamnya, yaitu supaya orang bisa memahami bahwa kekuatan itu dari Allah saja asalnya. Maka meski Paulus ditekan dari berbagai sisi, tetap tidak bisa sepenuhnya disudutkan. Tidak pernah sampai tidak ada ruang untuk bergerak lagi, tidak pernah sampai ada kata “menyerah”.

Meski berisiko nyawa, Tuhan selalu menyelamatkan dia dari keputusasaan dan kehancuran. Sebagaimana penderitaannya bagaikan penderitaan Kristus, maka kelepasan yang berulang-ulang dia alami juga merupakan bukti kuasa kebangkitan Tuhan. Kuasa itu tampak saat Paulus tidak putus asa waktu menghadapi maut dan perlawanan musuhnya. Iman akan kuasa itu membuat Paulus tidak akan diam saja. Pengalaman itu menguatkan jemaat Korintus, supaya kebangkitan Kristus yang telah dia alami akan membangkitkan juga orang percaya di Korintus. Maka penderitaan yang Paulus alami akan berujung pada kemuliaan Allah.

Kita tentu tidak pernah berharap mengalami penderitaan di dalam pelayanan. Mungkin kita juga tidak bisa memahami “mengapa harus ada rintangan bagi orang yang melayani?” Wawasan dan pengalaman Paulus dalam penderitaannya, menolong kita memahami bahwa ada maksud Tuhan di balik semua itu. Karena di dalam kesulitan itulah, kita ambil bagian dalam penderitaan Kristus karena pelayanan-Nya. Lebih dari itu, kita juga akan mengalami kemenangan-Nya atas semua penderitaan itu. Sebab itu, jangan pernah mundur karena adanya tantangan dalam pelayanan. Ingatlah, Allah akan dimuliakan melalui pelayanan Anda!

Injil hari ini berhubungan dengan hal, Siapa duduk di “sebelah kiri dan kanan” Tuhan?

Wajarlah jika Yohanes dan Yakobus berharap bisa mendampingi Tuhan Yesus dalam kerajaan-Nya. Mereka adalah murid terdekat-Nya dan telah meninggalkan segala sesuatu untuk mengiring Dia.

Persoalannya adalah mereka tidak peka akan perasaan Tuhan Yesus. Permintaan ini disampaikan pada saat Tuhan Yesus sedang menggumuli penderitaan yang akan dialami-Nya di atas salib. Mereka tidak memahami makna di balik penderitaan-Nya. Bagi mereka, Tuhan Yesus akan menjadi raja yang perkasa yang mengenyahkan penjajah Romawi dan mendirikan kerajaan-Nya di bumi ini. Maka kelak mereka pun akan memerintah bersama-Nya. Seandainya mereka mengerti bahwa Tuhan Yesus bukanlah Raja Yahudi seperti yang mereka harapkan, pasti mereka tidak akan menyanggupi meminum cawan penderitaan Tuhan Yesus itu. Kemarahan sepuluh murid lainnya terhadap Yohanes dan Yakobus menunjukkan bahwa sebenarnya mereka pun berpikiran yang sama.

Tuhan Yesus menegaskan bahwa Kerajaan Surga berbeda dengan pemerintahan dunia. Menurut hukum dunia, siapa yang berkuasa, dialah yang dilayani. Akan tetapi, dalam Kerajaan Surga, siapa yang mau melayani orang lain justru dialah yang terbesar. Tuhan Yesus sendiri menyatakan keteladanan-Nya dengan melepaskan hak untuk dilayani supaya bisa melayani manusia. Bahkan Ia rela mati sebagai tebusan demi keselamatan setiap orang.

Pada umumnya, manusia ingin berkuasa karena kekuasaan identik dengan dilayani, hidup enak, kaya, terkenal, dsb. Kalau perlu hal itu diperoleh dengan cara menjegal sesama atau menindas kebenaran demi mendapatkan posisi tertinggi. Kalau hal demikian dilakukan juga dalam gereja dan pelayanan, berarti kita telah menyalahartikan dan menyalahgunakan kekuasaan dalam Tuhan.

Ingatlah: Berkuasa berarti kesempatan melayani Tuhan dan sesama.

DOA: Tuhan Yesus, tolonglah aku agar dapat mengalami kasih-Mu setiap hari. Aku membawa semua dosaku ke hadapan hadirat-Mu agar Engkau dapat memurnikan aku dan mengajar aku untuk mengikuti jejak-Mu. Amin.

Yakobus

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s