Renungan Sabtu, 26 Juli 2014

Renungan Sabtu, 26 Juli 2014; Hari Biasa; Pekan Biasa XVI

Pw. St Yoakim dan St. Anna, orangtua SP. Maria

Bacaan I : Sir. 44:1,10-15

44:1 Dan sekarang kami hendak memuji orang-orang termasyhur, para nenek moyang kita menurut urut-urutannya.
44:10 Tetapi yang berikut ini adalah orang kesayangan, yang kebajikannya tidak sampai terlupa; 44:11 semuanya tetap tinggal pada keturunannya sebagai warisan baik yang berasal dari mereka. 44:12 Keturunannya tetap setia kepada perjanjian-perjanjian, dan anak-anak merekapun demikian pula keadaannya. 44:13 Keturunan mereka akan tetap tinggal untuk selama-lamanya, dan kemuliaannya tidak akan dihapus. 44:14 Dengan tenteram jenazah mereka ditanamkan, dan nama mereka hidup terus turun-temurun. 44:15 Bangsa-bangsa bercerita tentang kebijaksanaannya, dan pujian mereka diwartakan jemaah.

Mzm 132:11,13-14,17-18

Bacaan Injil : Mat 13:16-17

13:16 Tetapi berbahagialah matamu karena melihat dan telingamu karena mendengar. 13:17 Sebab Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya banyak nabi dan orang benar ingin melihat apa yang kamu lihat, tetapi tidak melihatnya, dan ingin mendengar apa yang kamu dengar, tetapi tidak mendengarnya.

Renungan:

Kutipan dari Kitab Sirakh ini hendaknya kita renungkan dan hayati dalam cara hidup dan cara bertindak kita sebagai orang beriman. Kita semua orang beriman dipanggil untuk mengusahakan cara hidup dan cara bertindak yang bijaksana atau bijak. Apa yang bijak atau bijaksana senantiasa menyelamatkan dan membahagiakan, terutama keselamatan dan kebahagiaan jiwa manusia. Salah satu bentuk keutamaan yang bijaksana adalah kasih pengampunan, sebagaimana telah dihayati dan diajarkan oleh Yesus, Guru dan Tuhan kita. Di dalam puncak penderitaanNya di kayu salib, Ia tidak balas dendam kepada mereka yang menyalibkan, melainkan mengampuni mereka dengan berdoa “Ya Bapa, ampunilah mereka, sebab mereka tidak tahu apa yang mereka perbuat” (Luk 23:34). Ia konskwen dengan apa yang Ia ajarkan “Kasihilah musuhmu dan berdoalah bagi mereka yang menganiaya kamu ” (Mat 5:44). Orang bijak atau bijaksana adalah satu dalam kata dan tindakan, apa yang ia katakan itu juga yang ia lakukan. Pada masa kini cukup banyak pemimpin berkata-kata bagus dan baik, mengajarkan apa yang baik, namun mereka sendiri tidak melakukannya. Maka kami berharap kepada para pemimpin di tingkat kehidupan macam apapun untuk dapat menjadi teladan dalam satu kata dan tindakan; hendaknya apa yang anda katakan juga diusahakan dengan rendah hati untuk dihayati atau dilaksankan. Jika demikian adanya maka “bangsa-bangsa berceritera tentang kebijaksanaannya, dan pujian mereka diwariskan jemaah”. Semoga demikian juga terjadi dalam diri para orangtua, yaitu senantiasa dikenang oleh keturunannya, anak-cucu-cicit mereka, karena bijaksana.

Injil hari ini yang terdiri hanya 2 ayat, merupakan ayat penutup dalam perumpamaaan Yesus tentang penabur. Banyak nabi dan orang benar ingin melihat apa yang kamu lihat, tetapi tidak melihatnya, dan ingin mendengar apa yang kamu dengar, tetapi tidak mendengarnya.” Di balik pernyataan Yesus ini tersirat dua pertanyaan mendasar: apa yang dilihat atau didengar? Dan mengapa tidak dapat melihat atau mendengarnya? Sudah pasti apa yang dilihat atau didengar ini bukan sesuatu yang kasat mata, atau material-fisik yang dapat diindrai saja, melainkan sesuatu yang non material, yang metafisik. Maka, untuk memahaminya tidak cukuplah dengan indra lahiriah; dibutuhkan mata hati, mata iman, indra batiniah.

Banyak orang yang berhenti dan puas pada pencapaian hal-hal yang lahiriah, terpesona oleh hal-hal fisik belaka, serta menganggap di luar itu hanya ilusi. Orang-orang seperti itu tidak akan pernah dapat melihat apa yang orang beriman lihat; tidak akan pernah memahami apa yang didengar oleh orang yang membuka dirinya bagi sesuatu yang adikodrati. Namun, tidak berarti semua orang yang beriman pun otomatis bisa menangkap kebenaran-kebenaran adikodrati yang Yesus maksudkan ini. Hanya mereka yang fokus, yang bersedia meninggalkan ketertarikan lahiriah, dan menghayati keutamaan-keutamaan Yesus sajalah yang mampu melihat dengan benar dan menangkap kehendak Yang Ilahi. Dan mereka itulah ”yang berbahagia”.

Santo Yoakim dan Santa Ana, orangtua S.P. Maria yang kita rayakan hari ini, memang sungguh berbahagia, sebab mereka dengan mata batin dan iman telah menangkap maksud Ilahi dan memasrahkan Maria anak mereka kepada misteri penyelenggaraan Allah. Apakah Anda termasuk ke dalam kelompok orang ”yang berbahagia” itu?

Doa: Tuhan Yesus, aku sangat ingin Engkau menyapaku ”yang berbahagia”. Namun, aku sadar akan kelemahanku. Melekkanlah mata batinku agar senantiasa terbuka dan fokus pada rencana terbaik-Mu bagi hidupku dan sesamaku. Amin.

 

Roh Kudus 26 Juli

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s