Renungan Sabtu, 2 Agustus 2014

Renungan Sabtu, 2 Agustus 2014, Hari Biasa, Pekan Biasa XVII

Pfak St. Eusebius Vercelli, Usk; Pfak St. Petrus Yulianus Eymard, Im
Pfak Beato August Czartoryski, Im; Pesta St. Maria Ratu para Malaikat, Portiunkula
Pfak. Beato Yohanes dr Rieti, Biarw; Pfak. Beato Petrus Faber, Im

Bacaan I: Yer 26:11-16,24

26:11 Kemudian berkatalah para imam dan para nabi itu kepada para pemuka dan kepada seluruh rakyat itu, katanya: “Orang ini patut mendapat hukuman mati, sebab ia telah bernubuat tentang kota ini, seperti yang kamu dengar dengan telingamu sendiri.” 26:12 Tetapi Yeremia berkata kepada segala pemuka dan kepada seluruh rakyat itu, katanya: “Tuhanlah yang telah mengutus aku supaya bernubuat tentang rumah dan kota ini untuk menyampaikan segala perkataan yang telah kamu dengar itu. 26:13 Oleh sebab itu, perbaikilah tingkah langkahmu dan perbuatanmu, dan dengarkanlah suara TUHAN, Allahmu, sehingga TUHAN menyesal akan malapetaka yang diancamkan-Nya atas kamu. 26:14 Tetapi aku ini, sesungguhnya, aku ada di tanganmu, perbuatlah kepadaku apa yang baik dan benar di matamu. 26:15 Hanya ketahuilah sungguh-sungguh, bahwa jika kamu membunuh aku, maka kamu mendatangkan darah orang yang tak bersalah atas kamu dan atas kota ini dan penduduknya, sebab TUHAN benar-benar mengutus aku kepadamu untuk menyampaikan segala perkataan ini kepadamu.” 26:16 Lalu berkatalah para pemuka dan seluruh rakyat itu kepada imam-imam dan nabi-nabi itu: “Orang ini tidak patut mendapat hukuman mati, sebab ia telah berbicara kepada kita demi nama TUHAN, Allah kita.”
26:24 Tetapi Yeremia dilindungi oleh Ahikam bin Safan, sehingga ia tidak diserahkan ke dalam tangan rakyat untuk dibunuh.

Mzm. 69:15-16,30-31,33-34,

Bacaan Injil: Mat 14:1-12

Yohanes Pembaptis dibunuh
14:1 Pada masa itu sampailah berita-berita tentang Yesus kepada Herodes, raja wilayah. 14:2 Lalu ia berkata kepada pegawai-pegawainya: “Inilah Yohanes Pembaptis; ia sudah bangkit dari antara orang mati dan itulah sebabnya kuasa-kuasa itu bekerja di dalam-Nya.” 14:3 Sebab memang Herodes telah menyuruh menangkap Yohanes, membelenggunya dan memenjarakannya, berhubung dengan peristiwa Herodias, isteri Filipus saudaranya. 14:4 Karena Yohanes pernah menegornya, katanya: “Tidak halal engkau mengambil Herodias!” 14:5 Herodes ingin membunuhnya, tetapi ia takut akan orang banyak yang memandang Yohanes sebagai nabi. 14:6 Tetapi pada hari ulang tahun Herodes, menarilah anak perempuan Herodias di tengah-tengah mereka dan menyukakan hati Herodes, 14:7 sehingga Herodes bersumpah akan memberikan kepadanya apa saja yang dimintanya. 14:8 Maka setelah dihasut oleh ibunya, anak perempuan itu berkata: “Berikanlah aku di sini kepala Yohanes Pembaptis di sebuah talam.” 14:9 Lalu sedihlah hati raja, tetapi karena sumpahnya dan karena tamu-tamunya diperintahkannya juga untuk memberikannya. 14:10 Disuruhnya memenggal kepala Yohanes di penjara 14:11 dan kepala Yohanes itupun dibawa orang di sebuah talam, lalu diberikan kepada gadis itu dan ia membawanya kepada ibunya. 14:12 Kemudian datanglah murid-murid Yohanes Pembaptis mengambil mayatnya dan menguburkannya. Lalu pergilah mereka memberitahukannya kepada Yesus.

RENUNGAN

Tidak selalu ada perlindungan.
Perikop bacaan I, hari kemarin mengisahkan reaksi bangsa Yehuda ketika mendengarkan khotbah Yeremia tentang bait Allah (lihat Yeremia 7), pada permulaan pelayanan Yeremia di zaman pemerintahan raja Yoyakim. Reaksi awal dari para pemimpin rohani dan rakyat Yehuda sangat menggetarkan hati. Mereka menangkap Yeremia untuk dihukum mati sebab ia dinilai telah berkhianat terhadap bangsa dan negaranya (7-12).

Menerima reaksi yang demikian di awal pelayanannya tentu membuat Yeremia gentar dan takut. Tapi keadaan ini tidak membuat Yeremia berdiam diri, sebaliknya ia mengajukan pembelaannya (12-15). Pembelaan diri ini tidak dimaksudkan untuk mendapatkan pengampunan, karena dia memahami benar bahwa secara manusia musuh-musuhnya mempunyai kekuasaan dan kekuatan untuk membunuhnya. Tapi ia pun yakin bahwa hidupnya ada di tangan Tuhan. Pembelaan diri Yeremia ternyata agak memberi kelegaan, sehingga para pemuka dan seluruh rakyat memutuskan untuk membatalkan hukuman mati bagi Yeremia, karena mereka mengetahui bahwa berbicara atas nama Allah bukan merupakan pelanggaran hukum yang berat (16-18). Mereka juga takut ditimpa malapetaka karena membunuh seorang nabi Allah (19).

Namun apakah pembebasan Yeremia ini merupakan suatu tanda bahwa bangsa Yehuda terbuka hatinya terhadap firman-Nya? Tidak sama sekali. Peristiwa ini hanya memperlihatkan bahwa Allah tidak mengizinkan Yeremia dibunuh, sehingga tidak ada seorang pun yang berkuasa menyentuh nyawanya. Perlindungan dan jaminan Allah atas hidup hamba-Nya memang tidak selalu berupa keselamatan dari tangan musuh-musuh-Nya. Contohnya seorang nabi yang lain, Uria, yang mewartakan berita yang sama dan dihukum mati oleh raja Yoyakim.

Bacaan Injil hari ini menunjukkan bagaimana Herodes yang dihantui rasa bersalah.

Yesus semakin terkenal, pelayanan-Nya semakin meluas. Berita Yesus sampai ke telinga Herodes Antipas, raja wilayah propinsi Galilea dan Perea. Mendengar laporan tentang Yesus, Herodes segera teringat perbuatan jahatnya yang sudah lampau.

Berita tersebut menimbulkan perasaan dan reaksi aneh dalam diri Herodes. Yesus dianggapnya Yohanes pembaptis yang bangkit kembali (ayat 2). Perbuatan-perbuatan dosanya menceraikan istrinya, menikahi ipar sendiri (ayat 3), sampai membunuh Yohanes pembaptis yang menegur dosa-dosanya tersebut, satu per satu bermunculan kembali.

Pada awalnya Herodes seolah memiliki hati nurani yang masih bekerja baik. Buktinya ia tidak langsung melenyapkan Yohanes pembaptis ketika dosanya ditegur, yang dilakukannya hanya memenjarakan dia. Akan tetapi, hati nurani yang baik itu tidak sungguh didengarnya. Malah karena plot Herodias melalui Salome, Herodes terpojok di hadapan para bangsawan untuk akhirnya memerintahkan pemenggalan kepala Yohanes pembaptis (ayat 9-10). Kini berita tentang Yesus membuat kesalahan itu terhakimi kembali dalam hati Herodes.

Dosa tidak selesai begitu saja dengan berlalunya waktu. Cepat atau lambat kehadiran Yesus akan membongkar dan menghakimi semua dosa tanpa pengecualian. Termasuk semua dosa yang disembunyikan dan dilupakan. Peristiwa ini sekaligus menunjuk kepada fungsi Yesus kelak sebagai Hakim, juga menunjuk kepada fungsi Yesus sebagai Gembala bagi para murid Yohanes yang hidup melayani kebenaran. Selama orang belum mengakui dosa-dosanya di hadapan Yesus dan menerima pembaruan hidup dari-Nya, orang akan tetap hidup dalam bayang-bayang hukuman Allah. Hati nurani yang belum mengalami pengudusan akan terus berfungsi sebagai alat penghakiman Allah yang menunjuk kepada Hari penghakiman akhir kelak.

Untuk itu kita perlu dalam setiap hari ada waktu khusus untuk Tuhan, waktu hening. Tanggapan orang berbeda-beda ada yang mengatakan; “Hari gini masih diajak hening? membosankan dan membuang-buang waktu saja.” Tapi bukankah hening itu penting? Ya … anda dan saya hidup pada dunia yang menuntut kita untuk bekerja dan bekerja demi sebuah nilai; entah itu nilai yang bersifat sementara ataupun yang kekal. Tak dipungkiri bahwa kita membutuhkan keduanya agar hidup kitapun seimbang. Setiap detik kita dihadapkan pada pilihan; kecil dan besar. Tawaran untuk menjadi kaya, terkenal, memiliki kedudukan dan lain-lain selalu menanti. Kita diharapkan dan harus memilih yang terbaik menurut kita dan harapannya baik menurut Tuhan. Yang menjadi pertanyaan bagi kita adalah apakah kita sudah mendengarkan dan memperhatikan suara hati kita yang amat halus? Jika kita betul-betul memperhatikan suara hati moral, orang bijak dapat mendengar suara Allah yang berbicara kepadanya (KGK No 372). Tidaklah penting untuk bertanya dimana Yohanes Pembabtis dimakamkan? Atau mengapa orang baik seperti Yohanes diperlakukan seperti itu. Kisah Yohanes Pembabtis dan Herodes menarik untuk kita cermati; terlebih proses yang dilalui Herodes sebelum dan sesudah mengambil keputusan. Apakah ia kecewa dan menyesal sesudahnya?

Mari sejenak kita merenung, bisa jadi sikap Herodes juga menjadi sikap kita. Dalam hidup harian seringkali kita mengorbankan sesama, alam ciptaan dan terlebih iman kita akan Yesus demi sesuatu yang membuat kita tersanjung dan dipuji. Kita kurang berani menjadi diri kita dengan mempertahankan suara hati yang merupakan suara Tuhan. Cara yang dapat kita tempuh agar suara hati kita menjadi lurus dan benar adalah melalui doa dan penelitian batin yang dapat membantu pembentukan suara hati moral. Semoga kita berani menjadi saksi dan Yohanes Pembabtis masa kini…Amin.

Apa yang harus kulakukan? Akui dosa kepada Yesus. Ia akan menghapuskan kesalahan Anda dan rasa bersalah yang masih menghantui.

DOA: Bapa surgawi, buatlah aku agar mampu memandang diriku dengan cara seperti Engkau memandangku, sebagai anak-Mu yang Kaukasihi. Dengan dikuatkannya diriku oleh visi itu, semoga aku pun dengan berani melaksanakan otoritas yang telah Kauberikan kepadaku dalam dunia ini. Amin.

yohanes-pembaptis-di-penjara

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s