Renungan Senin, 18 Agustus 2014

Renungan Senin, 18 Agustus 2014; Hari Biasa, Pekan Biasa XX

Pfak. Beato Angelus Agustinus Mazzinghi, Im; Pfak Para Martir Beato Gervasius Bruntel dan Paulus Charles, Im dan Elias Desgardin, Prtp; Pw. St. Helena, Ratu dan Janda; Pfak. Beato Alberto Hurtado Cruchaga; Hari Raya St. Yohana Delanoue.

Bacaan I: Yeh 24:15-24

Kematian isteri Yehezkiel sebagai lambang kejatuhan Yerusalem
24:15 Kemudian datanglah firman TUHAN kepadaku: 24:16 “Hai anak manusia, lihat, Aku hendak mengambil dari padamu dia yang sangat kaucintai seperti yang kena tulah, tetapi janganlah meratap ataupun menangis dan janganlah mengeluarkan air mata. 24:17 Diam-diam saja mengeluh, jangan mengadakan ratapan kematian; lilitkanlah destarmu dan pakailah kasutmu, jangan tutupi mukamu dan jangan makan roti perkabungan.” 24:18 Pada paginya aku berbicara kepada bangsa itu dan pada malamnya isteriku mati. Pada pagi berikutnya aku melakukan seperti diperintahkan kepadaku. 24:19 Maka bangsa itu berkata kepadaku: “Tidakkah engkau bersedia memberitahukan kepada kami, apa artinya ini bagi kami, bahwa engkau melakukan demikian?” 24:20 Lalu kujawab mereka: “Firman TUHAN sudah datang kepadaku: 24:21 Katakanlah kepada kaum Israel: Beginilah firman Tuhan ALLAH: Sesungguh-sungguhnya Aku akan menajiskan tempat kudus-Ku, kekuasaanmu yang kaubanggakan, kenikmatan bagi matamu dan bagi jiwamu; dan anak-anakmu lelaki dan perempuan yang kamu tinggalkan akan mati rebah oleh pedang. 24:22 Kamu akan melakukan seperti yang kulakukan: Mukamu tidak akan kamu tutupi dan roti perkabungan tidak akan kamu makan, 24:23 kepalamu pakai destar dan kakimu pakai kasut; dan kamu tidak akan meratap atau menangis. Tetapi kamu akan hancur lebur dalam hukumanmu, dan kamu akan mengeluh seorang kepada yang lain. 24:24 Demikianlah Yehezkiel menjadi lambang bagimu; tepat seperti yang dilakukannya kamu akan lakukan. Kalau itu sudah terjadi maka kamu akan mengetahui, bahwa Akulah Tuhan ALLAH.

MT Ul. 32:18-19,20,21

Bacaaan Injil: Mat 19:16-22

Orang muda yang kaya
19:16 Ada seorang datang kepada Yesus, dan berkata: “Guru, perbuatan baik apakah yang harus kuperbuat untuk memperoleh hidup yang kekal?” 19:17 Jawab Yesus: “Apakah sebabnya engkau bertanya kepada-Ku tentang apa yang baik? Hanya Satu yang baik. Tetapi jikalau engkau ingin masuk ke dalam hidup, turutilah segala perintah Allah.” 19:18 Kata orang itu kepada-Nya: “Perintah yang mana?” Kata Yesus: “Jangan membunuh, jangan berzinah, jangan mencuri, jangan mengucapkan saksi dusta, 19:19 hormatilah ayahmu dan ibumu dan kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri.” 19:20 Kata orang muda itu kepada-Nya: “Semuanya itu telah kuturuti, apa lagi yang masih kurang?” 19:21 Kata Yesus kepadanya: “Jikalau engkau hendak sempurna, pergilah, juallah segala milikmu dan berikanlah itu kepada orang-orang miskin, maka engkau akan beroleh harta di sorga, kemudian datanglah ke mari dan ikutlah Aku.” 19:22 Ketika orang muda itu mendengar perkataan itu, pergilah ia dengan sedih, sebab banyak hartanya.

Renungan:

Menjadi lambang murka Allah
Menjadi hamba-Nya berarti meletakkan semua keberadaan diri kita sepenuhnya kepada Tuhan. Dari ujung rambut hingga ujung kaki semuanya dipersembahkan untuk menyatakan keagungan-Nya. Tak terkecuali bagi mereka yang telah hidup berumah tangga. Suami, istri, dan anak-anak serta apa saja yang kita miliki sepenuhnya menjadi satu bagian yang tidak terpisahkan dari diri kita sebagai media/alat untuk memuliakan nama-Nya.

Tuhan berfirman hendak mengambil istri Yehezkiel, tetapi Ia melarang Yehezkiel berkabung (ayat 16-17). Demikianlah saat kematian istrinya terjadi, Yehezkiel tidak berkabung (ayat 18). Hal yang tidak lazim ini menimbulkan pertanyaan dari umat Israel (ayat 19). Yehezkiel kemudian menjelaskan kepada bangsa itu bahwa Tuhan akan menghukum mereka dengan keras karena dosa-dosa mereka. Mereka akan mengalami kematian, tetapi mereka tidak akan bisa berkabung. Umat Tuhan mengalami semua ini agar mereka sadar bahwa dosa-dosa mereka tidak dapat ditolerir oleh Allah yang kudus. Selama itu mereka menyombongkan diri bahwa apa yang mereka miliki: kekuasaan yang pernah ada, kenikmatan-kenikmatan lahiriah, serta anak lelaki dan perempuan mereka, adalah hak atau hasil upaya mereka sendiri. Maka semua hal itu akan Tuhan ambil dari mereka.

Peristiwa tragedi Yehezkiel ini dipakai Tuhan sebagai gambaran yang hidup atau lambang bagi bangsa Israel (ayat 24) agar mereka mengetahui dan mengakui bahwa \’Akulah Tuhan ALLAH\’ (ay. 24 b, 27). Sebagai seorang hamba Allah keberadaan Anda serta keluarga sepenuhnya di dalam rencana dan kehendak Allah. Anda harus siap sedia sekalipun apa yang akan terjadi melalui keluarga/yang dicintai untuk menjadi media Allah menyatakan kebesaran dan keagungan-Nya. Bukankah hari ini adalah HUT Kemerdekaan bangsa kita, Indonesia? Apa yang hendak Anda kerjakan bagi bangsa kita untuk mengagungkan nama-Nya di negara ini? Berbuatlah sesuatu bagi bangsa kita untuk memuliakan Tuhan kita.

Injil hari ini, Kekayaan dapat membawa duka.
Kekayaan seringkali menjadi dambaan insan demi kebahagiaan. Namun seringkali pula realita berbicara sebaliknya, bahwa kekayaan membawa duka: ketidakharmonisan, retaknya persahabatan, rela menjual kejujuran dan ketulusan, dan kehancuran diri. Terlebih lagi bila kekayaan telah menjadi dewa dalam kehidupan seseorang, sehingga segala sesuatu diukur dengan kekayaan. Inilah yang terjadi dalam diri sang pemuda kaya yang malang.

Strategi pemuda kaya dalam mengajukan pertanyaan (ayat 16) menunjukkan bahwa sesungguhnya ia tidak sedang bertanya, tetapi memamerkan kesalehannya (ayat 20). Ketika ia menganggap bahwa semua yang baik telah dilakukannya, Yesus menegaskan bahwa hanya Satu yang baik (ayat 17), yakni Tuhan. Bagaimana pun baiknya manusia tetaplah manusia berdosa, yang tidak mungkin mencapai standar kebaikan Allah. Maka Yesus mengatakan bahwa untuk memperoleh hidup kekal, manusia harus datang kepada Allah (ayat 17), dan tidak mungkin dengan usaha atau perbuatan baik manusia. Namun pemuda tersebut menilai kehidupan kekal hanya sejauh usaha manusia (ayat 20). Mungkinkah seorang dapat melakukan semua perintah Allah dengan sempurna, bukan dengan standar manusia tetapi dengan standar Allah?! Bila benar bahwa pemuda tersebut telah melakukan semuanya demi kasihnya kepada Allah, maka ketika Yesus menyuruhnya menjual segala miliknya dan membagikan kepada orang miskin, tidak akan membuatnya sedih, tetapi dengan sepenuh hati ia akan melakukannya. Namun ia gagal karena kekayaan telah menjeratnya.

Ketidakmengertian murid-murid, menyebabkan Yesus harus menjelaskan bahwa orang kaya sulit masuk surga, bukan karena kekayaannya, tetapi karena pemahaman yang salah, sehingga tidak menyadari bahwa keselamatan adalah anugerah, yang sesungguhnya tidak dapat diukur dan diupayakan dengan materi. Demikian pula pemahaman mereka tentang apa yang didapatkan sebagai balasan dari kerelaan meninggalkan segala sesuatu untuk mengikut Yesus. Mereka pun mengukur segala sesuatu dengan neraca untung-rugi. Bagi mereka kehidupan kekal masih merupakan sesuatu yang abstrak, maka titik tolak pembicaraan mereka berkisar hal materi.

Renungkan: Kekayaan manakah yang lebih berarti, yang bersifat sementara ataukah yang bersifat kekal walau tak nampak wujudnya kini?

DOA: Tuhan Yesus, lembutkanlah hatiku dan bawalah diriku ke dalam hidup Allah lebih dalam lagi. Aku ingin ikut ambil bagian dalam pemikiran-pemikiran-Mu, perasaan-perasaan-Mu, dan kehendak-Mu bagi hidupku. Aku ingin mengenal diri-Mu dalam semua hal yang kulakukan. Amin.

Yesus 18 Agt

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s