Renungan Sabtu, 6 September 2013

Renungan Sabtu, 6 September 2014, Hari Biasa, Pekan Biasa XXII

Bacaan I : 1Kor 4:6b-15

Rendahkanlah dirimu
4:6 “Jangan melampaui yang ada tertulis”, supaya jangan ada di antara kamu yang menyombongkan diri dengan jalan mengutamakan yang satu dari pada yang lain. 4:7 Sebab siapakah yang menganggap engkau begitu penting? Dan apakah yang engkau punyai, yang tidak engkau terima? Dan jika engkau memang menerimanya, mengapakah engkau memegahkan diri, seolah-olah engkau tidak menerimanya? 4:8 Kamu telah kenyang, kamu telah menjadi kaya, tanpa kami kamu telah menjadi raja. Ah, alangkah baiknya kalau benar demikian, bahwa kamu telah menjadi raja, sehingga kamipun turut menjadi raja dengan kamu. 4:9 Sebab, menurut pendapatku, Allah memberikan kepada kami, para rasul, tempat yang paling rendah, sama seperti orang-orang yang telah dijatuhi hukuman mati, sebab kami telah menjadi tontonan bagi dunia, bagi malaikat-malaikat dan bagi manusia. 4:10 Kami bodoh oleh karena Kristus, tetapi kamu arif dalam Kristus. Kami lemah, tetapi kamu kuat. Kamu mulia, tetapi kami hina. 4:11 Sampai pada saat ini kami lapar, haus, telanjang, dipukul dan hidup mengembara, 4:12 kami melakukan pekerjaan tangan yang berat. Kalau kami dimaki, kami memberkati; kalau kami dianiaya, kami sabar; 4:13 kalau kami difitnah, kami tetap menjawab dengan ramah; kami telah menjadi sama dengan sampah dunia, sama dengan kotoran dari segala sesuatu, sampai pada saat ini. 4:14 Hal ini kutuliskan bukan untuk memalukan kamu, tetapi untuk menegor kamu sebagai anak-anakku yang kukasihi. 4:15 Sebab sekalipun kamu mempunyai beribu-ribu pendidik dalam Kristus, kamu tidak mempunyai banyak bapa. Karena akulah yang dalam Kristus Yesus telah menjadi bapamu oleh Injil yang kuberitakan kepadamu.

Mzm 37:3-4,5-6,27-28,39-40

Bacaan Injil : Luk 6:1-5

Murid-murid memetik gandum pada hari Sabat
6:1 Pada suatu hari Sabat, ketika Yesus berjalan di ladang gandum, murid-murid-Nya memetik bulir gandum dan memakannya, sementara mereka menggisarnya dengan tangannya. 6:2 Tetapi beberapa orang Farisi berkata: “Mengapa kamu berbuat sesuatu yang tidak diperbolehkan pada hari Sabat?” 6:3 Lalu Yesus menjawab mereka: “Tidakkah kamu baca apa yang dilakukan oleh Daud, ketika ia dan mereka yang mengikutinya lapar, 6:4 bagaimana ia masuk ke dalam Rumah Allah dan mengambil roti sajian, lalu memakannya dan memberikannya kepada pengikut-pengikutnya, padahal roti itu tidak boleh dimakan kecuali oleh imam-imam?” 6:5 Kata Yesus lagi kepada mereka: “Anak Manusia adalah Tuhan atas hari Sabat.”

Renungan:

Raja atau hamba? Tuan atau jongos?
Ini dapat dijawab dengan melihat siapa saja yang ada dalam lingkaran terdekat seseorang. Manusia cenderung untuk berusaha akrab dengan mereka yang secara sosial sejajar, atau kalau mungkin, lebih tinggi. Biasanya, pertemanan akrab dengan mereka yang secara sosial lebih “rendah”, apalagi “sampah”, dihindari karena berisiko menjatuhkan pamor.

Faktor sosial seperti ini adalah salah satu penyebab konflik yang terjadi antara sebagian jemaat Korintus dengan Paulus. Mereka menganggap Paulus yang kerap menderita (ayat 11-13), punya kelemahan fisik (“lemah”, 10; bdk. 2Kor. 12:7), dan menghidupi diri dari pekerjaan yang relatif kasar (ayat 12) itu tidak layak untuk tetap dekat dan melayani Korintus, jemaat yang kaya dalam karunia dan berkat. “Tidakkah akan terasa lucu bila Injil berkat melimpah yang jaya itu diberitakan oleh seorang malang, rendah, lemah dan hina (ayat 9-10)?”

Paulus mengkoreksi pandangan yang salah ini dengan ironi yang menyindir: mereka mulia sementara Paulus dan rekan-rekannya hina, dan seterusnya (ayat 8-10). Ironi ini bertujuan menyadarkan jemaat Korintus bahwa manusia yang rohani, menerima Roh Allah, memiliki hikmat-Nya, dan bermegah dalam-Nya, justru adalah manusia yang menjadi hamba. Paulus menunjukkan bahwa dalam penderitaan dirinya dan kawan-kawannya justru lebih dekat kepada keadaan Tuhan (bdk. 9-13 dengan Yes. 53:2b-3). Dalam keadaan seperti yang Paulus alami, justru nyata kebenaran bahwa sungguh- sungguh hikmat dan karya Allah adalah kebodohan bagi dunia (bdk. dengan 1:26-29). Karena itu, seperti pada Paulus, panggilan agar kita hidup menjadi orang-orang kudus (ayat 1:2) berarti hidup sedemikian rupa sebagai seorang hamba dengan konsekuensi dianggap bodoh serta hina oleh dunia.

Sikap dan tindakan macam apa yang sepatutnya menjadi ciri orang-orang yang bersahabat, berkerabat, atau bersekutu sebagai sesama orang beriman? Tepatkah bila karena ingin menghindari pergesekan perasaan, lalu masing-masing mengelak untuk menegur atau menasihati jika seseorang kedapatan keliru?

Dalam pergaulan bahkan di antara para sahabat dekat kita jumpai sikap demikian. Kita sungkan menegur atau menasihati orang-orang yang dengannya kita bersahabat cukup dekat. Kita khawatir perasaan yang ditegur akan tersinggung atau persahabatan akan renggang. Benarkah demikian? Kita tahu bahwa itu tidak benar. Sebab seharusnya, semakin kita dekat dengan seseorang, semakin kita akrab, semakin kita terdorong memperhatikan dan memberikan yang terbaik bagi dia. Maka tidak sedia menegur bukan sikap yang tepat di antara orang yang berhubungan erat! Justru itu menunjukkan pertalian yang semu!

Menegur atau menasihati tidak hanya diperlukan sewaktu sahabat atau saudara seiman kita berbuat salah. Menegur atau menasihati harus ditempatkan sebagai bagian integral dari persekutuan yang saling membangun, agar karakter dan ajaran Kristus dipraktikkan. Memang orang yang “berhak” menegur atau menasihati, wajar harus orang yang lebih dewasa iman. Dalam perikop ini, Paulus menegur dan menasihati jemaat hasil pelayanannya. Juga orang yang “berhak” menegur harus seperti Paulus yaitu yang menjalani imannya hingga menjadi teladan. Namun jangan berpikir bahwa kita harus sempurna dulu baru dapat memberi nasihat. Prinsip yang utama di sini adalah bahwa setiap orang Kristen harus berusaha mewujudkan karya anugerah Allah dalam hidupnya dengan menuruti teladan Krisus. Dengan kata lain, yang “berhak” menasihati dan yang dinasihati, tidak bicara tentang tingkatan rohani. Ini adalah prinsip persekutuan Kristen.

Sebagai sesama murid Kris-tus, sebagai orang yang sedang berproses untuk tumbuh dalam Tuhan, kita perlu saling menegur, menasihati, mendukung, mendoakan, dst. Jika saling menasihati sirna dari kehidupan bersama kita, gereja atau persekutuan atau persahabatan kita sedang mengalami disintegrasi!

Bacaan Injil : Tuhan atas hari Sabat
Pada masa hidup Yesus, ajaran ahli Taurat tentang hukum keempat, “Ingatlah dan kuduskanlah hari Sabat” (Kel. 20:8-11), difokuskan pada larangan melakukan berbagai kegiatan yang mereka artikan sebagai “bekerja”. Ada 39 kelompok kegiatan yang mereka tetapkan sebagai “melakukan pekerjaan,” misalnya: menabur benih, menuai, membuat roti, membuat simpul benang, melepaskan simpul, menulis dua huruf, menyalakan api, memadamkan api, atau memindahkan suatu benda dari satu tempat ke tempat lain. Setiap kelompok ini masih dirinci lagi sampai detail. Akhirnya, yang mereka utamakan bukan lagi memahami makna dan tujuan Sabat sebagai hari perhentian serta pemulihan jasmani dan rohani umat Allah, melainkan ketaatan kepada peraturan tersebut. Rasa syukur dan sukacita yang seharusnya mengiring hari Sabat sebagai anugerah Allah bagi umat-Nya, telah diganti dengan beban kewajiban menaati berbagai larangan dan ajang mencari kesalahan.

Yesus mengoreksi konsep keliru ini dengan menyatakan bahwa Dialah “Tuhan atas hari Sabat” (5). Dia, yang diurapi dan diutus Roh Allah, adalah satu-satunya yang mampu meluruskan makna Sabat sesuai dengan tujuan dan maksud Bapa-Nya. Yesus membuktikan kebenaran pernyataan-Nya itu dengan memperlihatkan kuasa-Nya dalam penyembuhan orang yang mati tangan kanannya (6-10).

Lukas memakai kata “pulihlah” untuk “sembuhlah” (10). Kata ini dipakai dalam Perjanjian Lama untuk pemulihan umat Israel setelah menjalani hukuman atas dosa mereka. Dengan menyembuhkan orang sakit pada hari Sabat, Yesus mewujudkan makna dan tujuan Sabat, yakni pemulihan umat Allah kepada keutuhan mereka lahir dan batin sebagai bagian dari ciptaan Allah yang indah. Menghormati Sabat diterapkan oleh Yesus dalam tindakan “berbuat baik dan menyelamatkan nyawa” mereka yang perlu ditolong (9).

Renungkan: Kiranya kita secara konkret menghayati Sabat sebagai pemulihan diri kita maupun dengan sesama kita.

DOA: Bapa surgawi, terima kasih penuh syukur kami haturkan kepada-Mu karena Engkau menyediakan satu hari setiap pekan agar kami dapat bersama-Mu. Terima kasih untuk Roh Kudus yang Kauutus, yang memampukan kami untuk menjadi semakin dekat dengan diri-Mu. Amin.

Yesus sabat

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s