Renungan Senin 22 September 2014

Renungan, Senin 22 September 2014, Hari Biasa, Pekan Biasa XXV

FMA/SDB : Pfak B. Yusuf Calasanz Marques, Henrikus Saiz dkkImMrt; OFMCap :Pw. St. Ignatius dr Santhi, ImBiarw;
SCJ :Pfak B. Yohanes Maria dr Salib, Martir pertama SCJ.

Bacaan I: Ams 3:27-34

Anjuran untuk berbuat baik
3:27 Janganlah menahan kebaikan dari pada orang-orang yang berhak menerimanya, padahal engkau mampu melakukannya. 3:28 Janganlah engkau berkata kepada sesamamu: “Pergilah dan kembalilah, besok akan kuberi,” sedangkan yang diminta ada padamu. 3:29 Janganlah merencanakan kejahatan terhadap sesamamu, sedangkan tanpa curiga ia tinggal bersama-sama dengan engkau. 3:30 Janganlah bertengkar tidak semena-mena dengan seseorang, jikalau ia tidak berbuat jahat kepadamu. 3:31 Janganlah iri hati kepada orang yang melakukan kelaliman, dan janganlah memilih satupun dari jalannya, 3:32 karena orang yang sesat adalah kekejian bagi TUHAN, tetapi dengan orang jujur Ia bergaul erat. 3:33 Kutuk TUHAN ada di dalam rumah orang fasik, tetapi tempat kediaman orang benar diberkati-Nya. 3:34 Apabila Ia menghadapi pencemooh, maka Iapun mencemooh, tetapi orang yang rendah hati dikasihani-Nya.

Mzm 15:2-3ab,3cd-4ab,5

Bacaan Injil : Luk 8:16-18

Perumpamaan tentang pelita
8:16 “Tidak ada orang yang menyalakan pelita lalu menutupinya dengan tempayan atau menempatkannya di bawah tempat tidur, tetapi ia menempatkannya di atas kaki dian, supaya semua orang yang masuk ke dalam rumah dapat melihat cahayanya. 8:17 Sebab tidak ada sesuatu yang tersembunyi yang tidak akan dinyatakan, dan tidak ada sesuatu yang rahasia yang tidak akan diketahui dan diumumkan. 8:18 Karena itu, perhatikanlah cara kamu mendengar. Karena siapa yang mempunyai, kepadanya akan diberi, tetapi siapa yang tidak mempunyai, dari padanya akan diambil, juga apa yang ia anggap ada padanya.”

Renungan:

Hikmat: kasih dan rendah hati.
Ternyata hikmat dikaitkan dengan dua karakter praktis yaitu kasih dan rendah hati. Dapat kita simpulkan bahwa kasih dan rendah hati adalah salah satu wujud nyata hikmat.

Seperti pedang bermata dua, kasih mempunyai dua sisi: pasif dan aktif. Kasih menolak untuk merugikan apalagi mencelakakan orang (ayat 29-30). Dalam hal inilah kasih memiliki makna pasif yaitu tidak berbuat jahat. Secara aktifnya, kasih mendorong kita melakukan sesuatu, yakni berbuat kebaikan kepada sesama (ayat 27-28). Tidak berbuat jahat memang bagian dari kasih, namun ini hanyalah bagian pasifnya. Berbuat kebaikan kepada orang yang membutuhkannya adalah bagian kasih yang aktif. Memiliki atau melakukan satu dari keduanya membuat kasih bukan saja tidak berimbang tetapi juga hilang. Rendah hati juga bermata dua: pasif dan aktif. Secara pasifnya, orang yang rendah hati menolak untuk meninggikan diri. Dengan kata lain, rendah hati merupakan lawan dari keangkuhan. Dari sisi aktifnya, rendah hati merupakan upaya terus menerus untuk hidup sesuai realitas. Rendah hati berarti bisa melihat realitas siapa kita dan menerima diri apa adanya serta hidup sesuai dengan fakta ini. Sebaliknya, orang yang angkuh tidak melihat realitas dengan tepat dan tidak bisa menerima diri apa adanya. Akibatnya, ia hidup berdasarkan diri yang tidak pernah ada; ia melandaskan siapa dirinya pada ilusi, bukan kenyataan. Imbalan untuk orang yang rendah hati adalah Tuhan mengasihaninya (ayat 34). Orang yang rendah hati mungkin tidak dikenal dan mungkin tidak diakui; ia tidak dikasihani dan tidak dihormati siapa-siapa. Namun ingatlah, Tuhan mengasihaninya dan akan mewariskan kehormatan kepadanya. Ini yang terpenting!

Orang yang rendah hati adalah orang yang berani: ia berani untuk tidak diakui dan ia berani untuk mengakui.

Injil hari ini, Dengar firman dan lakukan!
Seorang guru pasti berkeinginan membagi ilmu yang dimilikinya dengan murid yang dia ajar. Untuk itu ia akan mencari cara terbaik agar muridnya dapat memahami pelajaran yang dia berikan. Begitu pula dengan Yesus, Sang Guru. Banyak cara yang Dia pakai untuk menolong para murid memahami kebenaran. Misalnya dengan memakai perumpamaan. Perumpamaan, dalam pengajaran-Nya, tidak dimaksudkan-Nya untuk menjadi tudung yang menyembunyikan terang. Sebaliknya, justru seperti tiang tempat menggantungkan lampu supaya terangnya bisa bersinar semakin luas. (16)

Walaupun bagi sebagian orang, pengajaran Yesus sulit dimengerti tetapi itu bukan karena perumpamaan yang dipakai Yesus, melainkan karena mereka tidak memiliki pengertian. Memang ada kemungkinan bahwa kebenaran itu suatu saat tersembunyi dan orang tidak dapat memahaminya, namun akan ada masanya kebenaran itu disingkapkan (17). Dalam menantikan masa itu, hendaknya orang belajar memahami kebenaran sebaik-baiknya dan hidup di atas kebenaran itu. Karena jika orang menerima dan melakukan kebenaran maka Tuhan akan menyatakan kebenaran lebih banyak lagi kepada orang tersebut. Ia menghargai orang yang demikian karena dianggap memiliki pertalian dengan-Nya (21). Sebaliknya, jika orang tidak mendasarkan hidup di atas kebenaran maka orang itu akan kehilangan kepekaan dan kebutuhan akan kebenaran. Bila demikian yang terjadi maka iman pun tidak akan bertumbuh!

Tentu gambaran pertamalah yang kita inginkan terjadi dalam kehidupan kita, yakni menjadi orang yang dihargai Tuhan. Namun untuk menjadi seperti itu, tidak cukup hanya dengan melakukan aktivitas rohani. Kita perlu memiliki hati yang reseptif, yaitu hati yang terbuka dan tanggap.

Renungkan; Apa gunanya berdoa dan membaca firman Tuhan berjam-jam kalau tidak memiliki hati terbuka terhadap suara Tuhan? Mendengar firman saja tidak cukup! Perlu ketaatan!

DOA: Tuhan Yesus, aku sungguh ingin agar hidupku menjadi suatu kesaksian dari Kabar Baik-Mu. Tolonglah aku agar dapat menjadi Injil yang hidup, yang dapat dilihat oleh orang banyak. Terpujilah nama-Mu, ya Tuhan Yesus, sekarang dan selama-lamanya. Amin.

Dian 22 sept

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s