Renungan Selasa, 7 Oktober 2014

Renungan Selasa, 7 Oktober 2014, Hari Biasa, Pekan Biasa XXVII

Pw. St. Perawan Maria Ratu Rosario;
Bacaan I : Gal 1:13-24

1:13 Sebab kamu telah mendengar tentang hidupku dahulu dalam agama Yahudi: tanpa batas aku menganiaya jemaat Allah dan berusaha membinasakannya. 1:14 Dan di dalam agama Yahudi aku jauh lebih maju dari banyak teman yang sebaya dengan aku di antara bangsaku, sebagai orang yang sangat rajin memelihara adat istiadat nenek moyangku. 1:15 Tetapi waktu Ia, yang telah memilih aku sejak kandungan ibuku dan memanggil aku oleh kasih karunia-Nya, 1:16 berkenan menyatakan Anak-Nya di dalam aku, supaya aku memberitakan Dia di antara bangsa-bangsa bukan Yahudi, maka sesaatpun aku tidak minta pertimbangan kepada manusia; 1:17 juga aku tidak pergi ke Yerusalem mendapatkan mereka yang telah menjadi rasul sebelum aku, tetapi aku berangkat ke tanah Arab dan dari situ kembali lagi ke Damsyik. 1:18 Lalu, tiga tahun kemudian, aku pergi ke Yerusalem untuk mengunjungi Kefas, dan aku menumpang lima belas hari di rumahnya. 1:19 Tetapi aku tidak melihat seorangpun dari rasul-rasul yang lain, kecuali Yakobus, saudara Tuhan Yesus. 1:20 Di hadapan Allah kutegaskan: apa yang kutuliskan kepadamu ini benar, aku tidak berdusta. 1:21 Kemudian aku pergi ke daerah-daerah Siria dan Kilikia. 1:22 Tetapi rupaku tetap tidak dikenal oleh jemaat-jemaat Kristus di Yudea. 1:23 Mereka hanya mendengar, bahwa ia yang dahulu menganiaya mereka, sekarang memberitakan iman, yang pernah hendak dibinasakannya. 1:24 Dan mereka memuliakan Allah karena aku.

Mzm 139:1-3,13-14ab,14c-15

Bacaan Injil : Luk 10:38-42

Maria dan Marta
10:38 Ketika Yesus dan murid-murid-Nya dalam perjalanan, tibalah Ia di sebuah kampung. Seorang perempuan yang bernama Marta menerima Dia di rumahnya. 10:39 Perempuan itu mempunyai seorang saudara yang bernama Maria. Maria ini duduk dekat kaki Tuhan dan terus mendengarkan perkataan-Nya, 10:40 sedang Marta sibuk sekali melayani. Ia mendekati Yesus dan berkata: “Tuhan, tidakkah Engkau peduli, bahwa saudaraku membiarkan aku melayani seorang diri? Suruhlah dia membantu aku.” 10:41 Tetapi Tuhan menjawabnya: “Marta, Marta, engkau kuatir dan menyusahkan diri dengan banyak perkara, 10:42 tetapi hanya satu saja yang perlu: Maria telah memilih bagian yang terbaik, yang tidak akan diambil dari padanya.”

Renungan:

Ada orang yang senang memakai perhiasan imitasi untuk bergaya. Ada juga orang lain yang senang mengimitasi tokoh terkenal. Orang seperti ini biasanya mengenal tokoh yang ditirunya sebatas lahiriah saja, artinya ia tidak tahu motivasi dan hakikat dari perilaku tokoh yang dilakoninya. Paulus bukanlah orang yang sedemikian. Ia menjadi pemberita Injil bukan dengan cara meniru para rasul pendahulunya.

Paulus sadar perkataan kerasnya di perikop sebelum ini harus didukung dengan kewibawaan rasulinya. Maka ia telah menegaskan sejak permulaan bahwa ia menjadi rasul dan pemberita Injil bukan karena kehendak manusia, melainkan karena kehendak Allah (ayat 1). Sekarang ia menegaskan bahwa sumber Injilnya bukan dari manusia, melainkan dari Allah sendiri melalui penyataan Yesus Kristus (ayat 11-12). Riwayat hidupnya membuktikan kedua hal tersebut. Pertama, ia dahulu seorang Yahudi saleh yang sekaligus penganiaya jemaat Tuhan. Namun, Tuhan yang memilih dia sejak semula, secara langsung menugaskannya untuk memberitakan Injil kepada bangsa-bangsa nonyahudi (ayat 13-16). Kedua, Paulus belajar Injil langsung dari Allah di tanah Arab, sebelum ia bertemu dengan rasul Petrus dan tokoh gereja di Yerusalem, Yakobus (ayat 17-19). Ketiga, pelayanan Paulus di seluruh daerah Siria dan Kilikia menggema sampai ke jemaat di Yudea, sehingga mereka memuliakan Allah (ayat 21-24).

Pertemuan pribadi dengan Tuhanlah yang mengubah Paulus dari penganiaya jemaat menjadi pemberita Injil sejati. Kita juga harus demikian. Jangan mengandalkan dan meniru para tokoh gereja atau pengabar Injil semata-mata. Kita boleh meneladani hal-hal yang baik dari mereka, namun hal-hal itu tidak boleh menggantikan hubungan pribadi kita dengan Tuhan dalam doa dan firman.

Injil hari ini, Marta marah pada Tuhan
“Melayani Tuhan” jelas merupakan aktivitas yang mulia, apapun bentuknya. Oleh karena itu seharusnya dilakukan dengan sikap yang benar pula. Namun kadang kala orang mengalami disorientasi (kesamaran arah) sehingga tidak dapat bersikap sebagaimana seharusnya.

Inilah mungkin yang terjadi pada Marta. Kedatangan Yesus dan murid-murid membuat Marta merasa wajib menjadi tuan rumah yang baik. Tetapi Maria, saudaranya, tidak membantu. Dia malah duduk dengan tenangnya di kaki Yesus. Ini membuat Marta tidak dapat mengendalikan dirinya. Bagaimana mungkin Maria membebankan semua kerepotan itu di pundaknya saja, seolah-olah hanya dia yang berkewajiban mempersiapkan suguhan bagi para tamu? Marta juga menujukan kemarahannya pada Tuhan (40). Namun respons Yesus menunjukkan bahwa Ia bukan tidak peduli pada Marta yang bersusah payah menjadi tuan rumah yang baik. Hanya saja Yesus melihat bahwa Maria yang duduk di kaki-Nya, yang menyambut Dia dengan tepat. Marta ditegur karena telah khawatir dan menyusahkan diri dengan hal-hal yang tidak hakiki (41). Maria telah memilih yang terbaik (42), yaitu membiarkan Tuhan melayaninya. Jika Marta disibukkan dengan pelayanannya kepada Yesus maka Maria disibukkan oleh pelayanan Yesus baginya. Inilah sikap yang dihargai oleh Yesus yaitu sikap seorang murid, yang mau belajar dan mau mendengar.

Sudahkah sikap sebagai murid juga menjadi sikap kita? Ketahuilah bahwa menjadi murid bukan berarti menyerahkan diri pada kesibukan pelayanan! Jangan sampai kita menempatkan sesuatu yang baik (pelayanan) lebih utama daripada yang terbaik yaitu berpaut pada Allah dengan belajar dan mendengar firman-Nya. Ingatlah bahwa kesibukan melayani Tuhan bukanlah alasan untuk tidak punya waktu merenungkan firman Tuhan.

Renungkan: Sebelum firman Tuhan melayani kita, tidak mungkin kita siap melayani Tuhan.

DOA: Tuhan Yesus, Engkau adalah sumber segala berkat. Terima kasih penuh syukur kuhaturkan kepada-Mu untuk kasih-setia-Mu. Terima kasih Tuhan, Engkau senantiasa tak pernah luput memperhatikan diriku. Tolonglah aku juga agar senantiasa dapat menatap wajah-Mu dan siap melaksanakan perintah-Mu. Amin.

Marta Maria

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s