Renungan Kamis, 25 Desember 2014

Renungan Kamis 25 Desember 2014, Hari Raya Natal (Malam)

Bacaan I : Yes 9:1-6

Kelahiran Raja Damai
9:1 Tetapi tidak selamanya akan ada kesuraman untuk negeri yang terimpit itu. Kalau dahulu TUHAN merendahkan tanah Zebulon dan tanah Naftali, maka di kemudian hari Ia akan memuliakan jalan ke laut, daerah seberang sungai Yordan, wilayah bangsa-bangsa lain. 9:2 Bangsa yang berjalan di dalam kegelapan telah melihat terang yang besar; mereka yang diam di negeri kekelaman, atasnya terang telah bersinar. 9:3 Engkau telah menimbulkan banyak sorak-sorak, dan sukacita yang besar; mereka telah bersukacita di hadapan-Mu, seperti sukacita di waktu panen, seperti orang bersorak-sorak di waktu membagi-bagi jarahan. 9:4 Sebab kuk yang menekannya dan gandar yang di atas bahunya serta tongkat si penindas telah Kaupatahkan seperti pada hari kekalahan Midian. 9:5 Sebab setiap sepatu tentara yang berderap-derap dan setiap jubah yang berlumuran darah akan menjadi umpan api. 9:6 Sebab seorang anak telah lahir untuk kita, seorang putera telah diberikan untuk kita; lambang pemerintahan ada di atas bahunya, dan namanya disebutkan orang: Penasihat Ajaib, Allah yang Perkasa, Bapa yang Kekal, Raja Damai.

Mzm 96:1-2a,2b-3,11-12,13

Refren: Hari ini telah lahir bagi kita seorang Juruselamat. Yaitu Kristus Tuhan.

Mazmur:
* Nyanyikanlah lagu baru bagi Tuhan, menyanyilah bagi Tuhan, hai seluruh bumi! Menyanyilah bagi Tuhan, pujilah namanya.
* Kabarkanlah dari hari ke hari keselamatan yang datang dari padanya. Ceriterakanlah kemuliaan-Nya di antara bangsa-bangsa, kisahkanlah karya-karya-Nya yang ajaib di antara segala suku.
* Biarlah langit bersukacita dan bumi bersorak-sortai, biar gemuruhlah laut serta segala isinya! Biarlah berria-ria padang dan segala yang ada di atasnya, dan segala pohon di hutan bersorak-sorai.
* Biarlah mereka bersorak-sorai di hadapan Tuhan, sebab Ia datang ybtuk menghakimi bumi, Ia akan menghakimi dunia dengan keadilan, dan bangsa-bangsa dengan kesetiaan-Nya.

Bacaan II : Tit 2:11-14

Kasih karunia Allah menyelamatkan semua manusia
2:11 Karena kasih karunia Allah yang menyelamatkan semua manusia sudah nyata. 2:12 Ia mendidik kita supaya kita meninggalkan kefasikan dan keinginan-keinginan duniawi dan supaya kita hidup bijaksana, adil dan beribadah di dalam dunia sekarang ini 2:13 dengan menantikan penggenapan pengharapan kita yang penuh bahagia dan penyataan kemuliaan Allah yang Mahabesar dan Juruselamat kita Yesus Kristus, 2:14 yang telah menyerahkan diri-Nya bagi kita untuk membebaskan kita dari segala kejahatan dan untuk menguduskan bagi diri-Nya suatu umat, kepunyaan-Nya sendiri, yang rajin berbuat baik.

Bacaan Injil : Luk 2:1-14

Kelahiran Yesus
2:1 Pada waktu itu Kaisar Agustus mengeluarkan suatu perintah, menyuruh mendaftarkan semua orang di seluruh dunia. 2:2 Inilah pendaftaran yang pertama kali diadakan sewaktu Kirenius menjadi wali negeri di Siria. 2:3 Maka pergilah semua orang mendaftarkan diri, masing-masing di kotanya sendiri. 2:4 Demikian juga Yusuf pergi dari kota Nazaret di Galilea ke Yudea, ke kota Daud yang bernama Betlehem, — karena ia berasal dari keluarga dan keturunan Daud – 2:5 supaya didaftarkan bersama-sama dengan Maria, tunangannya, yang sedang mengandung. 2:6 Ketika mereka di situ tibalah waktunya bagi Maria untuk bersalin, 2:7 dan ia melahirkan seorang anak laki-laki, anaknya yang sulung, lalu dibungkusnya dengan lampin dan dibaringkannya di dalam palungan, karena tidak ada tempat bagi mereka di rumah penginapan. 2:8 Di daerah itu ada gembala-gembala yang tinggal di padang menjaga kawanan ternak mereka pada waktu malam. 2:9 Tiba-tiba berdirilah seorang malaikat Tuhan di dekat mereka dan kemuliaan Tuhan bersinar meliputi mereka dan mereka sangat ketakutan. 2:10 Lalu kata malaikat itu kepada mereka: “Jangan takut, sebab sesungguhnya aku memberitakan kepadamu kesukaan besar untuk seluruh bangsa: 2:11 Hari ini telah lahir bagimu Juruselamat, yaitu Kristus, Tuhan, di kota Daud. 2:12 Dan inilah tandanya bagimu: Kamu akan menjumpai seorang bayi dibungkus dengan lampin dan terbaring di dalam palungan.” 2:13 Dan tiba-tiba tampaklah bersama-sama dengan malaikat itu sejumlah besar bala tentara sorga yang memuji Allah, katanya: 2:14 “Kemuliaan bagi Allah di tempat yang mahatinggi dan damai sejahtera di bumi di antara manusia yang berkenan kepada-Nya.”

Renungan:

Penghukuman bukanlah tujuan akhir.
Penolakan umat Allah terhadap peranan Allah dalam sejarah memang mendatangkan penghukuman. Akan tetapi penghukuman bukanlah tujuan akhir Allah. Penghukuman Allah bukanlah jalan menuju kebinasaan, melainkan sebagai penuntun kepada tujuan Allah yang paling besar, yaitu keselamatan umat-Nya. Untuk sementara, penghukuman memang merendahkan. Tetapi tujuan akhir dari penghukuman adalah untuk memuliakan umat Tuhan.

Keselamatan Ajaib dari Allah. Keselamatan umat adalah anugerah Allah semata-mata. Keselamatan membalikkan situasi gelap yang meliputi umat Tuhan, menjadi terang besar (ayat 1). Keselamatan mengubah kedukaan yang mencekam umat Tuhan, menjadi sukacita besar (ayat 2). Keselamatan membuat umat Tuhan yang tengah memikul kuk, lepas bebas. Perubahan ajaib sedemikian jelas adalah anugerah dan kekuatan Allah semata.

Allah memakai manusia. Allah menyatakan keselamatan itu melalui seseorang yang berkenan kepada-Nya. Seseorang yang diharapkan di sini adalah seorang anak yaitu raja yang sepenuhnya bergantung kepada kuasa, kebenaran dan keadilan Allah (ayat 5, 6). Nama-nama yang disebutkan tentang sang raja itu menunjukkan bahwa Ia datang murni dari pihak Allah. Hanya raja yang demikian yang dapat menyalurkan damai sejahtera Allah bagi umat. Alangkah bedanya raja itu dari Ahas yang bertindak mengikuti kebijaksanaannya sendiri. Raja itu kelak akan mengikuti langkah-langkah Daud dan Salomo, yang takut akan Allah dan disertai Allah dengan hikmat ilahi. Seharusnya seperti itulah pemimpin dalam rencana Allah: diurapi Allah, menjadi anak Allah sendiri (bdk. Mzm. 2:7). Pada siapakah dapat kita jumpai penuh sifat-sifat pemerintahan Allah yang sempurna dan menyelamatkan itu kecuali dalam Yesus Kristus, Anak Allah yang hidup, Tuhan dan Juruselamat?

Dalam penyelamatan Allah melalui kematian dan kebangkitan Yesus, kita telah dilahirkan menjadi anak-anak Allah. Allah telah mengaruniakan kebenaran dan keadilan-Nya kepada kita. Apakah hidup kita telah benar-benar menjadi saluran keselamatan, keadilan dan kebenaran bagi umpur kita?
Paulus dalam suratnya kepada Titus berintikan tentang Hasil kasih karunia.

Apakah seseorang yang telah diselamatkan seharusnya menunjukkan perubahan? Ya! Orang yang menerima keselamatan berarti diubah oleh kasih karunia Tuhan.

Kasih karunia yang menyelamatkan itu terjadi melalui pengorbanan Kristus di kayu salib. Maka kasih karunia mendorong penerimanya untuk menyenangkan Tuhan dalam segala sesuatu yang dilakukan (ayat 14). Bukan hanya bicara masalah hidup tak bermoral atau keinginan duniawi yang jahat, bisa saja orang yang tampak baik-baik tidak memiliki tempat bagi Tuhan dalam hidupnya. Maka perubahan hidup yang dimaksud adalah perubahan hingga seseorang menempatkan Tuhan sebagai yang terutama di dalam hidupnya. Konsekuensinya, segala sesuatu yang dapat menggeser tempat Tuhan akan disingkirkan.

Orang Kristen yang sungguh telah mengalami perubahan menolak keegoisan, kesombongan, ketamakan, dan segala kesenangan hidup dalam dosa. Perubahan hidup berarti hidup dalam pengendalian diri, dalam kebenaran, dan dalam kesalehan (ayat 12). Pengharapan akan kedatangan Kristus yang kedua kali juga mendorong orang beriman untuk memiliki sikap siap sedia menyambut kedatangan Dia (ayat 13). Itu menghasilkan buah-buah perbuatan baik. Keselamatan memang seharusnya menghadirkan dampak positif yang mewujud pada aspek-aspek praktis dalam hidup orang yang telah dibebaskan Kristus. Karena memang untuk itulah Kristus mengorbankan diri-Nya. Namun tak cukup sampai di situ. Bicara tentang kasih karunia bukan hanya bicara tentang manfaatnya bagi diri sendiri, melainkan juga bicara tentang memberitakannya kepada orang lain agar mereka pun menikmatinya juga.

Bagaimana hidup kita setelah menerima kasih karunia Tuhan? Adakah yang dikikis dan adakah yang bertumbuh? Tunjukkanlah syukur kita atas kasih karunia yang kita peroleh dengan meninggalkan kefasikan dan keinginan duniawi, belajar hidup bijaksana, adil, serta rajin berbuat baik.

Injil malam ini, Kelahiran Yesus
Kelahiran seorang bayi biasanya disambut dengan berbagai persiapan yang menyibukkan orangtuanya. Terlebih kelahiran bayi pertama.
Tetapi bila kita mengamati kisah kelahiran Yesus maka kesan sederhanalah yang terlihat. Lahir di tempat yang sederhana dan dalam keluarga yang umpur e sederhana pula. Kesederhanaan ini makin jelas bila dibandingkan dengan kelahiran Yohanes, anak Zakharia. Ayah Yohanes adalah seorang imam, sedang ayah Yesus seorang tukang kayu. Pemberitahuan kelahiran Yohanes terjadi di Bait Allah di Yerusalem, pusat peradaban Yahudi; sementara kelahiran Yesus diberitahukan di kota kecil bernama Nazaret. Kelahiran Yohanes terjadi di rumah, sedang Yesus lahir di sebuah kandang hewan. Bayi Yohanes diletakkan di tempat tidur nyaman, sementara bayi Yesus di palungan. Kelahiran Yohanes dirayakan kerabat dan tetangga, sedang kelahiran Yesus hanya dihadiri para gembala yang merupakan kelompok orang sederhana. Ini terjadi karena Yusuf dan Maria harus pergi meninggalkan Nazaret ke kota asalnya yaitu Betlehem untuk mendaftarkan diri dalam sensus yang diadakan pemerintahan Romawi. Namun demikian, kelahiran Yesus mengundang kehadiran malaikat surgawi, yang menyatakan bahwa kelahiran Yesus merupakan `kesukaan besar untuk seluruh bangsa\’ (10).

Tetapi bukan kesederhanaan yang menjadi umpu penting kisah kelahiran ini. Dia yang lahir, itulah yang memberi makna penting. Karena Yesus lahir maka ada harapan bagi dunia ini untuk tidak lagi tenggelam dalam umpur dosa dan terjerat dalam belenggu maut. Kelahiran-Nya memberikan kesempatan pada dunia untuk beroleh kasih karunia Allah. Ia membuka jalan bagi manusia untuk berdamai dengan Bapa. Bagaimana respons kita pada Dia yang telah lahir?

Renungkan: Kiranya kita menjadikan hati kita sebagai palungan tempat kelahiran-Nya agar kita pun dapat menikmati sukacita Ilahi itu.

DOA: Yesus, Tuhanku dan Saudaraku, perkenankanlah aku memandang Engkau, teristimewa pandangan mata-Mu. Engkau turun dari tempat yang tinggi untuk menemukan diriku. Engkau membayar biaya yang begitu besar untuk membawa aku kembali kepada Bapa surgawi. Aku sungguh mengasihi Engkau, ya Tuhan dan Juruselamatku. Aku sungguh ingin senantiasa bersama-Mu. Amin.(Lucas Margono)

08bethlehembabyjesus

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s