Renungan Sabtu, 31 Januari 2015

Renungan Sabtu, 31 Januari 2015, Peringatan Wajib St. Yohanes Bosko, Im; Pekan Biasa III

Bacaan I: Ibr 11:1-2,6-19

Saksi-saksi iman
11:1 Iman adalah dasar dari segala sesuatu yang kita harapkan dan bukti dari segala sesuatu yang tidak kita lihat. 11:2 Sebab oleh imanlah telah diberikan kesaksian kepada nenek moyang kita.
11:6 Tetapi tanpa iman tidak mungkin orang berkenan kepada Allah. Sebab barangsiapa berpaling kepada Allah, ia harus percaya bahwa Allah ada, dan bahwa Allah memberi upah kepada orang yang sungguh-sungguh mencari Dia. 11:7 Karena iman, maka Nuh — dengan petunjuk Allah tentang sesuatu yang belum kelihatan — dengan taat mempersiapkan bahtera untuk menyelamatkan keluarganya; dan karena iman itu ia menghukum dunia, dan ia ditentukan untuk menerima kebenaran, sesuai dengan imannya. 11:8 Karena iman Abraham taat, ketika ia dipanggil untuk berangkat ke negeri yang akan diterimanya menjadi milik pusakanya, lalu ia berangkat dengan tidak mengetahui tempat yang ia tujui. 11:9 Karena iman ia diam di tanah yang dijanjikan itu seolah-olah di suatu tanah asing dan di situ ia tinggal di kemah dengan Ishak dan Yakub, yang turut menjadi ahli waris janji yang satu itu. 11:10 Sebab ia menanti-nantikan kota yang mempunyai dasar, yang direncanakan dan dibangun oleh Allah. 11:11 Karena iman ia juga dan Sara beroleh kekuatan untuk menurunkan anak cucu, walaupun usianya sudah lewat, karena ia menganggap Dia, yang memberikan janji itu setia. 11:12 Itulah sebabnya, maka dari satu orang, malahan orang yang telah mati pucuk, terpancar keturunan besar, seperti bintang di langit dan seperti pasir di tepi laut, yang tidak terhitung banyaknya. 11:13 Dalam iman mereka semua ini telah mati sebagai orang-orang yang tidak memperoleh apa yang dijanjikan itu, tetapi yang hanya dari jauh melihatnya dan melambai-lambai kepadanya dan yang mengakui, bahwa mereka adalah orang asing dan pendatang di bumi ini. 11:14 Sebab mereka yang berkata demikian menyatakan, bahwa mereka dengan rindu mencari suatu tanah air. 11:15 Dan kalau sekiranya dalam hal itu mereka ingat akan tanah asal, yang telah mereka tinggalkan, maka mereka cukup mempunyai kesempatan untuk pulang ke situ. 11:16 Tetapi sekarang mereka merindukan tanah air yang lebih baik yaitu satu tanah air sorgawi. Sebab itu Allah tidak malu disebut Allah mereka, karena Ia telah mempersiapkan sebuah kota bagi mereka. 11:17 Karena iman maka Abraham, tatkala ia dicobai, mempersembahkan Ishak. Ia, yang telah menerima janji itu, rela mempersembahkan anaknya yang tunggal, 11:18 walaupun kepadanya telah dikatakan: “Keturunan yang berasal dari Ishaklah yang akan disebut keturunanmu.” 11:19 Karena ia berpikir, bahwa Allah berkuasa membangkitkan orang-orang sekalipun dari antara orang mati. Dan dari sana ia seakan-akan telah menerimanya kembali.

Mazmur Tanggapan Luk 1:69-70,71-72,73-75

Refren:

Terpujilah Tuhan Allah Israel, sebab Ia telah mengunjungi dan membebaskan umat-Nya.

Kidung:

* Ia mengangkat bagi kita seorang penyelamat yang gagah perkasa, putera Daud, hamba-Nya. Seperti dijanjikan-Nya dari sediakala, dengan perantaraan para nabi-Nya yang kudus.

* Untuk menyelamatkan kita dari musuh-musuh kita dan dari tangan semua lawan yang membenci kita. Untuk menunjukkan rahmat-Nya kepada leluhur kita dan mengindahkan perjanjian-Nya yang kudus.

* Sebab Ia telah bersumpah kepada Abraham, bapa kita, akan membebaskan kita dari tangan musuh. Agar kita dapat mengabdi kepada-Nya tanpa takut dan berlaku kudus dan jujur di hadapan-Nya seumur hidup.

Bacaan Injil: Mrk 4:35-41

Angin ribut diredakan
4:35 Pada hari itu, waktu hari sudah petang, Yesus berkata kepada mereka: “Marilah kita bertolak ke seberang.” 4:36 Mereka meninggalkan orang banyak itu lalu bertolak dan membawa Yesus beserta dengan mereka dalam perahu di mana Yesus telah duduk dan perahu-perahu lain juga menyertai Dia. 4:37 Lalu mengamuklah taufan yang sangat dahsyat dan ombak menyembur masuk ke dalam perahu, sehingga perahu itu mulai penuh dengan air. 4:38 Pada waktu itu Yesus sedang tidur di buritan di sebuah tilam. Maka murid-murid-Nya membangunkan Dia dan berkata kepada-Nya: “Guru, Engkau tidak perduli kalau kita binasa?” 4:39 Iapun bangun, menghardik angin itu dan berkata kepada danau itu: “Diam! Tenanglah!” Lalu angin itu reda dan danau itu menjadi teduh sekali. 4:40 Lalu Ia berkata kepada mereka: “Mengapa kamu begitu takut? Mengapa kamu tidak percaya?” 4:41 Mereka menjadi sangat takut dan berkata seorang kepada yang lain: “Siapa gerangan orang ini, sehingga angin dan danaupun taat kepada-Nya?”

Renungan:

Pahlawan iman Perjanjian Lama
Sering kita mendengar orang berkata bahwa Perjanjian Lama mengajarkan perbuatan yang menyelamatkan seseorang. Barulah pada Perjanjian Baru, iman kepada Tuhan Yesus yang menyelamatkan. Penulis Ibrani telah menguraikan bahwa Kristus adalah penggenapan hukum ritual, nubuat, dan simbol-simbol yang ada dalam Perjanjian Lama. Berarti Perjanjian Lama juga menekankan iman kepada Kristus melalui menaati berbagai peraturan Taurat. Kurban persembahan tidak dapat menghapus dosa, tetapi iman kepada Allah yang menginstruksikan peraturan itulah yang menyelamatkan.

Seluruh pasal 11 berisikan catatan pahlawan-pahlawan iman Perjanjian Lama, yaitu mereka yang bukan karena perbuatan disebut orang benar melainkan karena iman. Penulis mencatat banyak tokoh Perjanjian Lama yang hanya memiliki janji-janji Allah tanpa melihat realisasinya pada masa mereka hidup. Akan tetapi, janji-janji itu cukup membuat mereka menjalani kehidupan sehari-hari mereka dalam ketaatan kepada Tuhan (ayat 1- 2). Mereka bahkan hidup taat seakan-akan janji-janji itu sudah digenapi. Habel memberikan yang terbaik bagi Allah karena ia yakin Allah menjanjikan yang terbaik baginya (ayat 4). Henokh mendapatkan yang terbaik dari Allah karena imannya (ayat 5). Sama seperti manusia lainnya yang berdosa, ia tidak mungkin bisa melihat Allah muka dengan muka. Namun, Kitab Suci mencatat Henokh bergaul dengan Allah (Kej. 5:24). Iman Henokh memperkenan Allah (Ibr. 11:6). Nuh taat bekerja membangun bahtera karena ia percaya pada rencana Allah, karenanya keluarganya pun selamat (ayat 7).

Tiga tokoh di atas adalah para pahlawan iman sebelum masa Hukum Taurat. Iman mereka memandang kepada Allah dan tidak menjadi goyah. Orang Kristen masa kini memiliki Kitab Suci yang berisikan janji-janji Allah, yang terbukti digenapi dalam sejarah. Maka seharusnya kita tidak ragu untuk memercayai Dia yang tak pernah ingkar janji.
Menantikan penggenapan suatu janji adalah pekerjaan yang sulit. Apalagi ketika penggenapan janji yang kita tunggu itu tidak kunjung terjadi. Satu-satunya yang memampukan kita bertahan dalam penantian itu adalah jika kita kenal dan percaya penuh kepada pihak yang berjanji.
Tidak heran kalau Abraham disebut bapak kaum beriman. Ia tekun menantikan penggenapan janji Allah walaupun kapan dan seperti apa realisasi janji itu tidak jelas. Ia menaati perintah Allah untuk pergi meninggalkan negeri leluhurnya dan tinggal di tempat asing (ayat 8). Kemah-kemah yang didirikannya di setiap perhentian menunjukkan bahwa ia selalu siap berpindah sesuai dengan petunjuk Tuhan sampai ia tiba di Tanah Perjanjian (ayat 9-10). Sikap iman Abraham ini sebenarnya merupakan gambaran sikap iman Kristen yang meyakini bahwa hidup di dunia ini hanyalah sementara dan merupakan bagian dari perjalanan hidup bermusafir (ayat 13). Tujuan mereka ada di depan, yaitu Surga yang dijanjikan Allah. Surga adalah tempat abadi yang jauh lebih indah dibandingkan kesementaraan dalam dunia ini (ayat 14-16).

Kunci iman Abraham adalah ia percaya kepada kesetiaan Allah, Sang Pemberi Janji. Kepercayaan penuh ditunjukkannya dengan tidak ragu sedikit pun akan janji Allah mengenai ahli waris kandungnya, padahal secara biologis ia dan istrinya tidak mungkin lagi menurunkan keturunan (ayat 11). Imam Abraham teruji dan terpuji sebab sepenuhnya ditujukan kepada Allah dan diberdayakan oleh Allah.

Umat Kristen mewarisi kekayaan sejarah iman umat Allah masa lampau, baik yang dicatat dalam Alkitab maupun dalam catatan sejarah gereja. Kepercayaan para tokoh iman itu disandarkan hanya pada Allah yang setia memenuhi janji-Nya. Kini, kita menyaksikan melalui Alkitab dan gereja penggenapan janji-janji Allah bagi mereka satu per satu terwujud. Patutkah kita meragukan kesetiaan-Nya?

Iman Abraham bisa dibilang sebagai iman yang nekad kepada Allah yang tidak dapat diduga. Artinya, iman Abraham adalah kepasrahan kepada nasib. Kalau ternyata Allah jahat, berarti iman kepada-Nya adalah sia-sia.
Iman Abraham bukan iman nekad. Iman Abraham adalah iman berdasarkan pengenalannya akan pribadi Allah dan pengalamannya akan kuasa-Nya. Abraham mengenal Allah sebagai Allah yang mengasihi dan memelihara dirinya beserta keluarganya. Ia juga telah melihat kuasa Allah yang membuat Sara mengandung dan melahirkan Ishak pada masa tuanya. Maka Abraham pun yakin akan janji Allah tentang Ishak sebagai pewarisnya pasti ditepati-Nya. Meskipun Ishak harus tetap dikurbankan, Allah akan membangkitkannya lagi (ayat 19;).

Teladan iman para bapak leluhur Israel ini menjadi pelajaran iman bagi umat Israel di kemudian hari. Umat Israel terus-menerus diingatkan bahwa Allah yang mereka sembah adalah Allah nenek moyang mereka, yang terbukti setia dan berkuasa. Maka mereka dituntut untuk memercayai-Nya sama seperti para leluhur mereka memercayai-Nya. Kita yang percaya kepada Kristus adalah keturunan-keturunan Abraham berdasarkan iman (Rm. 4:16). Oleh karena itu, kita pun harus meneladani iman Abraham dengan memercayai penuh kasih dan kuasa Allah. Janji-janji-Nya tidak pernah ditarik-Nya.

Injil hari ini, Tuhan atas alam
Bagaimana Anda menilai iman Anda terhadap Tuhan kita? Pernahkah Anda merasa sulit untuk beriman pada Tuhan? Dalam hal apa?
Para murid yang telah dipanggil untuk mengikut Yesus ternyata memiliki iman yang tidak jauh berbeda dari iman kebanyakan orang dalam berbagai kisah di kitab Markus ini. Itu terlihat waktu topan melanda perahu mereka. Yesus yang sedang tidur dianggap tidak memedulikan keselamatan mereka. Maka mereka membangunkan Yesus (ayat 38). Lalu Yesus bangun, menghardik danau, dan danau itu tiba-tiba teduh (ayat 39). Namun Yesus menghardik para murid juga. Bukan karena rasa takut mereka pada topan, tetapi karena menganggap bahwa Yesus tidak peduli pada mereka (ayat 40). Ini menunjukkan bahwa mereka tidak beriman. Bukankah Tuhan yang mengajak mereka menyeberang (ayat 35)?

Tidakkah mereka sadar bahwa Tuhan juga yang akan membawa mereka sampai ke seberang dengan selamat? Tidakkah mereka sadar bahwa Yesus pun tidak akan membiarkan diri-Nya tenggelam? Rasa takut membuat mereka hanya peduli pada keselamatan diri sendiri. Ketakutan mereka merupakan wujud kegagalan untuk percaya bahwa Tuhan tetap memegang kendali. Memang perlu iman yang besar untuk memercayai bahwa Tuhan \’yang sedang tidur\’ tetap memerhatikan kita. Inilah jenis iman yang ingin dibangun Tuhan dalam diri para murid, hingga mereka dapat menyadari bahwa Yesus juga berkuasa atas alam semesta. Dan Ia yang berkuasa itu, peduli juga pada mereka.

Meski demikian, Tuhan menunjukkan kepedulian bukan dengan cara seperti yang ada dalam pikiran para murid. Mereka memang nelayan kawakan dan tahu apa yang harus di-lakukan dalam situasi seperti itu. Namun bukankah kepiawaian sebagian dari mereka sebagai nelayan ternyata tidak berarti apa-apa saat itu? Sebab itu kita perlu belajar bahwa iman kepada Kristus akan kokoh ketika orang tidak lagi bergantung pada kemampuannya sendiri, melainkan hanya jika kita menjadikan Dia sebagai satu-satunya harapan kita.

DOA: Tuhan Yesus, jagalah agar kami selalu sadar akan keberadaan berbagai anugerah-Mu dan tolonglah kami agar dapat bertumbuh dalam iman sehingga dapat menghadapi berbagai pencobaan dengan penuh ketenangan. Bukalah mata-hati kami terhadap kehadiran-Mu sebagai Imanuel di tengah-tengah kami. Amin. (Lucas Margono)

mukjizat-yesus-menenangkan-badai

Renungan Jumat, 30 Januari 2015

Renungan Jumat, 30 Januari 2015, Hari Biasa, Pekan Biasa III

OFMCon/OFS : Peringatan Wajib St. Yasinta Mareskoti, Perawan Ordo III OFN.OFMcap/OFR :Pfak St. Yasinta Mareskoti, Perawan, Ordo III SDB: Pfak Beato Bronislaus Markiewicz, Im

Bacaan I: Ibr 10:32-39

10:32 Ingatlah akan masa yang lalu. Sesudah kamu menerima terang, kamu banyak menderita oleh karena kamu bertahan dalam perjuangan yang berat, 10:33 baik waktu kamu dijadikan tontonan oleh cercaan dan penderitaan, maupun waktu kamu mengambil bagian dalam penderitaan mereka yang diperlakukan sedemikian. 10:34 Memang kamu telah turut mengambil bagian dalam penderitaan orang-orang hukuman dan ketika harta kamu dirampas, kamu menerima hal itu dengan sukacita, sebab kamu tahu, bahwa kamu memiliki harta yang lebih baik dan yang lebih menetap sifatnya. 10:35 Sebab itu janganlah kamu melepaskan kepercayaanmu, karena besar upah yang menantinya. 10:36 Sebab kamu memerlukan ketekunan, supaya sesudah kamu melakukan kehendak Allah, kamu memperoleh apa yang dijanjikan itu. 10:37 “Sebab sedikit, bahkan sangat sedikit waktu lagi, dan Ia yang akan datang, sudah akan ada, tanpa menangguhkan kedatangan-Nya. 10:38 Tetapi orang-Ku yang benar akan hidup oleh iman, dan apabila ia mengundurkan diri, maka Aku tidak berkenan kepadanya.” 10:39 Tetapi kita bukanlah orang-orang yang mengundurkan diri dan binasa, tetapi orang-orang yang percaya dan yang beroleh hidup.

Mzm 37:3-4,5-6,23-24,39-40

Refren: Orang-orang benar akan diselamatkan oleh Tuhan.

Mazmur:

* Percayalah kepada Tuhan dan lakukanlah yang baik, diamlah di negeri dan berlakulah setia; bergembiralah karena Tuhan; maka Ia akan memenuhi keinginan hatimu!

* Serahkanlah hidupmu kepada Tuhan dan percayalah pada-Nya, maka Ia akan bertindak; Ia akan memunculkan kebenaranmu seperti terang, dan menampilkan hakmu seperti siang.

* Tuhan menetapkan langkah-langkah orang yang hidupnya berkenan kepada-Nya. Kalaupun ia jatuh, tidaklah sampai binasa, sebab Tuhan menopang tangannya.

* Orang-orang benar akan diselamatkan oleh Tuhan; Dialah tempat perlindungan mereka pada waktu kesesakan; Tuhan menolong dan meluputkan mereka dari tangan orang-orang fasik. Tuhan menyelamatkan mereka, sebab mereka berlindung pada-Nya.

Bacaan Injil: Mrk 4:26-34

Perumpamaan tentang benih yang tumbuh
4:26 Lalu kata Yesus: “Beginilah hal Kerajaan Allah itu: seumpama orang yang menaburkan benih di tanah, 4:27 lalu pada malam hari ia tidur dan pada siang hari ia bangun, dan benih itu mengeluarkan tunas dan tunas itu makin tinggi, bagaimana terjadinya tidak diketahui orang itu. 4:28 Bumi dengan sendirinya mengeluarkan buah, mula-mula tangkainya, lalu bulirnya, kemudian butir-butir yang penuh isinya dalam bulir itu. 4:29 Apabila buah itu sudah cukup masak, orang itu segera menyabit, sebab musim menuai sudah tiba.”

Perumpamaan tentang biji sesawi
4:30 Kata-Nya lagi: “Dengan apa hendak kita membandingkan Kerajaan Allah itu, atau dengan perumpamaan manakah hendaknya kita menggambarkannya? 4:31 Hal Kerajaan itu seumpama biji sesawi yang ditaburkan di tanah. Memang biji itu yang paling kecil dari pada segala jenis benih yang ada di bumi. 4:32 Tetapi apabila ia ditaburkan, ia tumbuh dan menjadi lebih besar dari pada segala sayuran yang lain dan mengeluarkan cabang-cabang yang besar, sehingga burung-burung di udara dapat bersarang dalam naungannya.” 4:33 Dalam banyak perumpamaan yang semacam itu Ia memberitakan firman kepada mereka sesuai dengan pengertian mereka, 4:34 dan tanpa perumpamaan Ia tidak berkata-kata kepada mereka, tetapi kepada murid-murid-Nya Ia menguraikan segala sesuatu secara tersendiri.
Renungan:

Tekun dalam iman
Tiga serangkai kebajikan Kristen yang diajarkan dalam Kitab Suci adalah iman, pengharapan, dan kasih. Iman artinya mendasarkan kehidupan pada anugerah Tuhan. Kasih adalah praktik iman dalam hidup sehari-hari. Sedangkan pengharapan melihat jauh ke depan kepada penggenapan janji-janji Allah yang setia.

Pada nas ini, penulis Ibrani mengungkapkan alasan kedua agar para pembacanya bertekun dalam iman. Penulis mengingatkan mereka bahwa mereka sudah ada di dalam terang (ayat 32). Penderitaan yang datang kepada mereka sebenarnya menunjukkan kesejatian iman mereka. Semua pengurbanan kasih mereka dalam mengikut Kristus, semua penderitaan yang mereka terima karena iman kepada Dia (ayat 32-33), dan semua pengharapan mereka akan keselamatan kekal kelak (ayat 34-35) adalah tanda-tanda jelas dari kesejatian iman mereka. Mereka sudah ada di bagian akhir perjalanan iman mereka. Sedikit waktu lagi, Kristus akan datang dan menyempurnakan semua perjuangan iman anak-anak-Nya (ayat 37-38). Namun, semua ini akan menjadi sia-sia kalau mereka pada akhirnya menyangkal Kristus. Oleh karena itu, yang sekarang mereka butuhkan adalah terus bertahan dan bertekun dalam iman, kasih, dan pengharapan itu, dengan percaya bahwa Dia tidak pernah meninggalkan mereka.

Karya Kristus mengubah orang berdosa menjadi anak Tuhan. Seorang anak Tuhan sejati pasti akan bertekun dalam iman karena ada janji penyertaan Tuhan baginya untuk menghadapi berbagai pencobaan, ajaran sesat, dan aniaya. Tuhan Yesus sendiri dalam kasih dan kuasa-Nya akan memeliharanya untuk tetap setia kepada-Nya (ayat 39). Roh Kudus yang tinggal di dalam hati kita akan memampukan kita bertahan dalam berbagai pencobaan. Oleh sebab itu, peliharalah persekutuan intim dengan-Nya agar iman terus bertumbuh, kasih makin melimpah, dan pengharapan tidak meredup.

Injil hari ini, Frustasi? Jangan!

Pernahkah Anda merasa frustasi karena pelayanan Anda tidak segera menunjukkan hasil seperti yang Anda harapkan? Pernahkah Anda kecewa karena pekerjaan Tuhan yang Anda lakukan terlalu sederhana dan tidak spektakuler?

Tidak sedikit orang-orang yang melayani Tuhan merasa kecewa, pesimis, bahkan frustasi karena setelah bertahun-tahun berkutat dalam pelayanan, belum juga melihat hasil pelayanannya. Mengapa demikian? Hal ini biasanya terjadi karena menganggap bahwa keberhasilan atau kesuksesan pelayanan adalah semata-mata karena pekerjaan atau usaha sendiri. Apalagi mengukur keberhasilan pelayanan dari besar atau kecilnya pekerjaan yang dilakukan. Bukankah tidak sedikit juga anggapan bahwa kesuksesan pelayanan dilihat dari pekerjaan-pekerjaan spektakuler yang sanggup dilakukan oleh seorang pelayanan Tuhan?
Misalnya mukjizat penyembuhan atau pengusiran setan.

Perikop ini mengingatkan agar kita tidak merasa kecewa apalagi frustasi. Perkembangan Kerajaan Allah (kesuksesan pelayanan kita) sepenuhnya merupakan pekerjaan Allah (ayat 26-28), tidak tergantung usaha manusia. Manusia dapat berupaya, tetapi pertumbuhan atau perkembangannya tergantung sepenuhnya pada karya Allah. Kita juga tidak perlu merasa bahwa segala sesuatu yang sudah kita kerjakan sia-sia. Dan itu terjadi karena menganggap bahwa pekerjaan Tuhan yang kita lakukan bukan pekerjaan yang spektakuler, tetapi sederhana dan tidak mencolok. Justru dari sesuatu yang kita anggap tidak mencolok (tidak spektakuler), di tangan Tuhan akan diubah menjadi sesuatu yang sangat berharga. Sama seperti biji sesawi yang sangat kecil, di tangan Tuhan, setelah bertumbuh justru menjadi pohon yang sangat besar, yang bisa memberikan perlindungan atau rasa nyaman pada burung-burung yang hinggap di cabang-cabangnya (ayat 31-32).

Renungkan: Jangan frustasi! Lakukan pelayanan Anda, sekecil apapun, dengan sepenuh hati. Biarkan Tuhan yang menjadikannya sebagai sesuatu yang besar, seturut kehendak-Nya.

DOA: Ya Tuhan Allah, Engkaulah yang menanamkan benih dalam kehidupan kami dan mendatangkan buah-buah. Tolonglah kami hari ini agar dapat mengenali karya-Mu dan menghargai buah-buah yang dihasilkan. Semoga kami tidak pernah menjadi penghalang terhadap karya-Mu. Amin. (Lucas Margono)

sajut-ilustrasi-luka-yesus-desember-2014-hidup-katolik

Renungan Kamis, 29 Januari 2015

Renungan Kamis, 29 Januari 2015,Hari Biasa, Pekan Biasa III

CIJ/PRR/SSpS/SSPSap/SAP/SVD: Pesta St. Yosef Freinademetz, ImBiarw       O.Carm : Pfak Beata Arkanjela Girlani, Prw

Bacaan I: Ibr 10:19-25

Ketekunan

10:19 Jadi, saudara-saudara, oleh darah Yesus kita sekarang penuh keberanian dapat masuk ke dalam tempat kudus, 10:20 karena Ia telah membuka jalan yang baru dan yang hidup bagi kita melalui tabir, yaitu diri-Nya sendiri, 10:21 dan kita mempunyai seorang Imam Besar sebagai kepala Rumah Allah. 10:22 Karena itu marilah kita menghadap Allah dengan hati yang tulus ikhlas dan keyakinan iman yang teguh, oleh karena hati kita telah dibersihkan dari hati nurani yang jahat dan tubuh kita telah dibasuh dengan air yang murni. 10:23 Marilah kita teguh berpegang pada pengakuan tentang pengharapan kita, sebab Ia, yang menjanjikannya, setia. 10:24 Dan marilah kita saling memperhatikan supaya kita saling mendorong dalam kasih dan dalam pekerjaan baik. 10:25 Janganlah kita menjauhkan diri dari pertemuan-pertemuan ibadah kita, seperti dibiasakan oleh beberapa orang, tetapi marilah kita saling menasihati, dan semakin giat melakukannya menjelang hari Tuhan yang mendekat.

Mzm 24:1-2,3-4ab,5-6

Refren: Itulah angkatan orang-orang yang mencari wajah-Mu, ya Tuhan.

Mazmur:

*   Milik Tuhanlah bumi dan segala isinya, jagat dari semua yang diam di dalamnya. Sebab Dialah yang mendasarkan bumi di atas lautan, dan menegakkannya di atas sungai-sungai.

*    Siapakah yang boleh naik ke gunung Tuhan? Siapakah yang boleh berdiri di tempat-Nya yang kudus? Orang yang bersih tangannya dan murni hatinya, yang tidak menyerahkan diri kepada penipuan.

*    Dialah yang akan menerima berkat dari Tuhan dan keadilan dari Allah, penyelamatnya. Itulah angkatan orang-orang yang mencari Tuhan, yang mencari wajah-Mu, ya Allah Yakub.

Bacaan Injil: Mrk 4:21-25

Perumpamaan tentang pelita dan tentang ukuran

4:21 Lalu Yesus berkata kepada mereka: “Orang membawa pelita bukan supaya ditempatkan di bawah gantang atau di bawah tempat tidur, melainkan supaya ditaruh di atas kaki dian. 4:22 Sebab tidak ada sesuatu yang tersembunyi yang tidak akan dinyatakan, dan tidak ada sesuatu yang rahasia yang tidak akan tersingkap. 4:23 Barangsiapa mempunyai telinga untuk mendengar, hendaklah ia mendengar!” 4:24 Lalu Ia berkata lagi: “Camkanlah apa yang kamu dengar! Ukuran yang kamu pakai untuk mengukur akan diukurkan kepadamu, dan di samping itu akan ditambah lagi kepadamu. 4:25 Karena siapa yang mempunyai, kepadanya akan diberi, tetapi siapa yang tidak mempunyai, apapun juga yang ada padanya akan diambil dari padanya.”

Renungan:

Kekudusan dalam Kekristenan.
Kekristenan bukanlah suatu teori namun kebenaran yang aplikatif. Karena itu iman kristen dipraktekkan dan diekspresikan secara verbal. Kebenaran itu harus dihidupi bukan hanya secara apa yang nampak namun juga secara apa yang tidak nampak, yaitu kehidupan batin manusia. Demikian juga kekudusan Kristen bukanlah bersifat mistis ataupun magis, atau yang membuat orang Kristen menjadi manusia yang hidup dengan dirinya sendiri dan terpisah dari dunia, atau kekudusan yang menekankan kepada manusia batiniah saja, namun kekudusan yang komprehensif meliputi seluruh kehidupan manusia, dinamis, dan kooperatif.

Karya penebusan Kristus yang menguduskan manusia harus dihidupi dan diwujudnyatakan dalam kehidupan Kristen secara individu maupun komunitas. Oleh karena darah Kristus, orang Kristen mempunyai hak istimewa untuk menghampiri takhta Allah dengan penuh keberanian. Tidak ada lagi dosa yang menghambat. Tidak diperlukan lagi prosesi ataupun upacara yang bertele-tele untuk menghadap Allah, karena umat Kristen adalah umat yang kudus di hadapan Allah. Kekudusan itu harus dimanifestasikan melalui hati yang tulus dan keyakinan iman yang teguh ketika menghadap takhta Allah. Ini berarti kekudusan Kristen meliputi hati dan pikiran, ketulusan dan iman, perasaan dan logika.

Di samping itu, umat Kristen yang kudus harus berpegang teguh pada pengakuan tentang pengharapan Kristen. Orang Kristen harus selalu memandang kepada Kristus yang berdiri di sebelah kanan Allah, sebagai Imam Besar. Sebagai orang Kristen janganlah mudah terombang-ambing oleh berbagai isu yang seringkali menggoncangkan imannya. Ia yang menjanjikan adalah setia sehingga apa pun yang terjadi dalam kehidupan umat Kristen di dunia, yakinlah bahwa orang Kristen akan tetap sampai kepada takhta Allah yang kudus. Berarti kekudusan meliputi ketekunan dan kesetiaan. Setelah kehidupan yang tidak kasat mata secara individual, Kristen harus menghidupi kebenaran Kristen secara komunitas, melawan dosa, Iblis, dan pencobaan. Kekudusan Kristen termanifestasikan ketika mereka berbagi hidup dengan yang lain, memberi, dan menerima dorongan, mendorong satu dengan yang lain dalam kasih dan perbuatan baik (24).

Injil hari ini, Mendengar adalah belajar
Berdasarkan sifatnya, terang membuat dirinya nyata hingga dapat dilihat oleh banyak orang. Begitu jugalah kebenaran, yang adalah terang firman Tuhan. Jika kita telah mendengar kebenaran Allah, kita bertanggung jawab untuk menyatakan terang itu. Tidak boleh disembunyikan.

Yesus tidak menginginkan murid-murid-Nya menutupi segala perkataan-Nya. Apa yang telah mereka dengar bukan untuk disimpan bagi diri mereka sendiri saja. Mereka harus menyebarkan perkataan itu. Sebab itu mereka harus mendengarkan setiap perkataan Tuhan dengan baik. Apa yang akan mereka dengar akan memberikan manfaat pada mereka. Jika mereka memperhatikan pernyataan yang Yesus berikan, Dia akan membuat mereka mampu memahami. Orang yang tidak menggunakan kemampuannya untuk memahami dan merespons firman Tuhan, akan kehilangan kemampuan itu. Maka para murid tidak bisa diam saja tentang pemahaman mengenai Yesus dan Kerajaan Allah. Harus diberitakan.

Sebatang lilin dinyalakan bukan untuk disembunyikan, melainkan diletakkan di tempat yang membuat orang lain merasakan manfaat terangnya (ayat 21). Begitulah terang firman yang dinyatakan pada kita, bukan hanya untuk kepentingan kita sendiri, melainkan kepentingan orang lain juga. Kewajiban untuk menyebarkan terang firman bukan hanya tugas para Romo, Suster, Bruder, Biarawan, Biaeawati, Pewarta atau Katekis dan Dewan Paroki, tetapi seluruh umat. Orang yang menemukan sesuatu yang berharga pasti tidak akan diam saja dan menyembunyikannya. Ia pasti akan memberi tahu orang lain dengan sukacita. Setiap orang yang percaya kepada Kristus seharusnya menyatakan kepada orang lain bahwa mereka telah menemukan Sahabat yang berharga bagi jiwa mereka.

Meski demikian, kita harus memikirkan dengan saksama apa yang seharusnya menjadi isi pemberitaan kita. Jangan terlalu berlebihan hingga orang memiliki pemahaman yang keliru tentang Yesus. Jangan juga kita membuat orang lain mengambil keputusan untuk ikut Yesus dengan terburu-buru. Kiranya kita belajar dari Tuhan sendiri.

DOA: Berbicaralah ya Tuhan, hamba-Mu mendengarkan. Ya Allahku, berikanlah kepadaku sebuah hati yang terbuka. Bukalah pikiranku sehingga aku dapat mendengar dan menanggapi apa yang Kausabdakan kepadaku pada hari ini. Amin.

(Lucas Margono)

Gambar renungan 29 Jan

Renungan Rabu, 28 Januari 2015

Renungan Rabu, 28 Januari 2015 Peringatan Wajib St. Tomas Aquino, Im PujG/ Pekan Biasa III

Bacaan I: Ibr 10:11-18

10:11 Selanjutnya setiap imam melakukan tiap-tiap hari pelayanannya dan berulang-ulang mempersembahkan korban yang sama, yang sama sekali tidak dapat menghapuskan dosa. 10:12 Tetapi Ia, setelah mempersembahkan hanya satu korban saja karena dosa, Ia duduk untuk selama-lamanya di sebelah kanan Allah, 10:13 dan sekarang Ia hanya menantikan saatnya, di mana musuh-musuh-Nya akan dijadikan tumpuan kaki-Nya. 10:14 Sebab oleh satu korban saja Ia telah menyempurnakan untuk selama-lamanya mereka yang Ia kuduskan. 10:15 Dan tentang hal itu Roh Kudus juga memberi kesaksian kepada kita, 10:16 sebab setelah Ia berfirman: “Inilah perjanjian yang akan Kuadakan dengan mereka sesudah waktu itu,” Ia berfirman pula: “Aku akan menaruh hukum-Ku di dalam hati mereka dan menuliskannya dalam akal budi mereka, 10:17 dan Aku tidak lagi mengingat dosa-dosa dan kesalahan mereka.” 10:18 Jadi apabila untuk semuanya itu ada pengampunan, tidak perlu lagi dipersembahkan korban karena dosa.

Mzm 110:1,2,3,4

Refren: Engkaulah imam untuk selama-lamanya, menurut Melkisedek.

Mazmur:

* Beginilah firman Tuhan kepada tuanku, sampai musuh-musuh-Mu Kubuat menjadi tumpuan kakimu!!

* Tongkat kuasamu akan diulurkan Tuhan dari Sion, berkuasalah Engkau di antara musuhmu!

* Engkau meraja diatas gunung yang suci sejak kelahiranmu, sejak dalam kandungan, sejak fajar masa mudamu.

* Tuhan telah bersumpah, dan tidak akan menyesal: “Engkau adalah imam untuk selama-lamanya, menurut Melkisedek.”

Bacaan Injil : Mrk 4:1-20

Perumpamaan tentang seorang penabur
4:1 Pada suatu kali Yesus mulai pula mengajar di tepi danau. Maka datanglah orang banyak yang sangat besar jumlahnya mengerumuni Dia, sehingga Ia naik ke sebuah perahu yang sedang berlabuh lalu duduk di situ, sedangkan semua orang banyak itu di darat, di tepi danau itu. 4:2 Dan Ia mengajarkan banyak hal dalam perumpamaan kepada mereka. Dalam ajaran-Nya itu Ia berkata kepada mereka: 4:3 “Dengarlah! Adalah seorang penabur keluar untuk menabur. 4:4 Pada waktu ia menabur sebagian benih itu jatuh di pinggir jalan, lalu datanglah burung dan memakannya sampai habis. 4:5 Sebagian jatuh di tanah yang berbatu-batu, yang tidak banyak tanahnya, lalu benih itupun segera tumbuh, karena tanahnya tipis. 4:6 Tetapi sesudah matahari terbit, layulah ia dan menjadi kering karena tidak berakar. 4:7 Sebagian lagi jatuh di tengah semak duri, lalu makin besarlah semak itu dan menghimpitnya sampai mati, sehingga ia tidak berbuah. 4:8 Dan sebagian jatuh di tanah yang baik, ia tumbuh dengan suburnya dan berbuah, hasilnya ada yang tiga puluh kali lipat, ada yang enam puluh kali lipat, ada yang seratus kali lipat.” 4:9 Dan kata-Nya: “Siapa mempunyai telinga untuk mendengar, hendaklah ia mendengar!” 4:10 Ketika Ia sendirian, pengikut-pengikut-Nya dan kedua belas murid itu menanyakan Dia tentang perumpamaan itu. 4:11 Jawab-Nya: “Kepadamu telah diberikan rahasia Kerajaan Allah, tetapi kepada orang-orang luar segala sesuatu disampaikan dalam perumpamaan, 4:12 supaya: Sekalipun melihat, mereka tidak menanggap, sekalipun mendengar, mereka tidak mengerti, supaya mereka jangan berbalik dan mendapat ampun.” 4:13 Lalu Ia berkata kepada mereka: “Tidakkah kamu mengerti perumpamaan ini? Kalau demikian bagaimana kamu dapat memahami semua perumpamaan yang lain? 4:14 Penabur itu menaburkan firman. 4:15 Orang-orang yang di pinggir jalan, tempat firman itu ditaburkan, ialah mereka yang mendengar firman, lalu datanglah Iblis dan mengambil firman yang baru ditaburkan di dalam mereka. 4:16 Demikian juga yang ditaburkan di tanah yang berbatu-batu, ialah orang-orang yang mendengar firman itu dan segera menerimanya dengan gembira, 4:17 tetapi mereka tidak berakar dan tahan sebentar saja. Apabila kemudian datang penindasan atau penganiayaan karena firman itu, mereka segera murtad. 4:18 Dan yang lain ialah yang ditaburkan di tengah semak duri, itulah yang mendengar firman itu, 4:19 lalu kekuatiran dunia ini dan tipu daya kekayaan dan keinginan-keinginan akan hal yang lain masuklah menghimpit firman itu sehingga tidak berbuah. 4:20 Dan akhirnya yang ditaburkan di tanah yang baik, ialah orang yang mendengar dan menyambut firman itu lalu berbuah, ada yang tiga puluh kali lipat, ada yang enam puluh kali lipat, dan ada yang seratus kali lipat.”

Renungan:

Dibebaskan secara sempurna
Orang yang menyandarkan diri kepada Hukum Taurat untuk keselamatannya, akan mendapatkan diri terus-menerus dituntut untuk melakukan segala perintah Taurat itu sebagai jaminan keselamatannya. Akibatnya, keselamatan tergantung pada usaha manusia dan bisa hilang. Orang seperti ini tidak mungkin memiliki sukacita dan damai sejahtera. Sebaliknya, ia hidup dalam ketakutan akan kehilangan keselamatan dan akhirnya binasa. Ketakutan ini wajar karena mereka bergantung kepada kemampuan diri sendiri untuk setia kepada semua perintah Taurat dan juga kepada kesetiaan para imam mempersembahkan kurban. Kalau para imam berhenti mempersembahkan kurban berarti mereka tidak akan mengalami pengampunan. Apakah hidup seperti ini yang Anda inginkan?

Kesempurnaan kurban Diri Kristus dengan satu kali persembahan kurban, menunjukkan Ia sudah menang terhadap kuasa dosa. Sekarang Kristus duduk di sebelah kanan Bapa untuk menyatakan pemerintahan-Nya atas dunia ini (ayat 12). Keselamatan yang diwujudkan oleh pengurbanan-Nya di kayu salib bersifat permanent, Yesus telah memperdamaikan manusia dengan Allah. Namun hal ini tidak berarti bahwa orang bisa selamat dengan hanya sekedar percaya atau beriman kepada Yesus. Tetapi Iman itu harus diwujudkan dalam kehidupan yang baik (Efs 2:10) Oleh sebab itu, marilah kita yang sudah menjadi anak-anak-Nya karena iman dan perbuatan melayani Dia sepenuh hati.

Injil hari ini, Mendengar dengan peka

Mendengar adalah tindakan penting dalam sebuah proses belajar mengajar. Mendengar berarti menyimak agar dapat memahami dengan baik. Meski demikian, tidak semua orang dapat mendengar dengan saksama.
Dalam bacaan Kitab Suci hari ini, Yesus mengajak orang banyak dan para murid untuk mendengar: “Dengarlah” (ayat 3). Menarik bahwa dalam Markus 4 tidak kurang dari 11 kali kata dengar diucapkan oleh Yesus ( 4:3, 9, 12, 15, 16, 18, 20, 23, 24). Mengapa demikian? Sebab Yesus menghendaki orang mendengar dengan saksama, bukan asal mendengar. Itulah yang disampaikan Yesus melalui perumpamaan penabur.

Yesus mewakili tibanya Kerajaan Allah ke dalam sejarah umat manusia dengan menjadi Penabur benih Injil. Walau demikian tidak seorang pun luput dari pengaruh kerja Iblis. Ada tiga jenis tanah yang tidak bisa menerima benih dengan baik: tanah di pinggir jalan, tanah berbatu, dan tanah yang ditumbuhi semak duri. Ketiganya menggambarkan orang yang mendengar firman tanpa menyimak dengan baik. Maka bisa saja terjadi penerimaan yang dangkal, penganiayaan dan penindasan yang memunculkan kekhawatiran, dan lahirnya keinginan duniawi. Akibatnya banyak yang mengalami firman itu tercabut, menjadi gersang dan kering, atau tidak tumbuh subur. Tentu kita tak bisa mengharapkan buah dalam kondisi semacam ini.

Sedangkan tanah yang baik adalah gambaran tentang pendengar firman yang menyimak dan menyambut dengan baik. Mereka memahami dan menaati dalam iman. Selanjutnya firman menjadikan iman matang dan mendatangkan hasil. Ini akan terlihat dalam disiplin dan kesetiaan mendengar firman terus menerus, aktif dalam pelayanan, mencintai kebenaran dan keadilan, serta gemar melakukan kebajikan bagi sesama. Inilah murid Yesus yang sejati. Tentu buah yang luar biasa itu merupakan anugerah Allah.

Renungkan: “Yang berbahagia ialah mereka yang mendengar Firman Allah dan yang memeliharanya.” (Luk. 11:28)

DOA: Tuhan Yesus, aku sadar sekali bahwa Engkau sangat mengasihiku dan sesamaku. Engkau begitu memperhatikan diriku dan mengajar aku bagaimana caranya menghayati hidup sebagai murid-Mu di dunia ini. Berkatilah langkah-langkahku hari ini selagi aku berupaya menyuburkan benih hidup baru-Mu dalam diriku. Ajarlah aku untuk percaya sepenuhnya kepada rahmat-Mu dalam setiap langkah yang kuambil. Amin. (Lucas Margono)
Menebar benih

Renunagan Selasa, 27 Januari 2015

Renungan Selasa, 27 Januari 2015, Hari Biasa, Pwkan Biasa III

Pfak St. Angela Merici, Perawan; OCSO : Pesta St. Robertus, Alberikus, dan Stefanus Pr. Abas, Pendiri Ordo Sistersian

Bacaan I: Ibr 10:1-10

Persembahan yang sempurna
10:1 Di dalam hukum Taurat hanya terdapat bayangan saja dari keselamatan yang akan datang, dan bukan hakekat dari keselamatan itu sendiri. Karena itu dengan korban yang sama, yang setiap tahun terus-menerus dipersembahkan, hukum Taurat tidak mungkin menyempurnakan mereka yang datang mengambil bagian di dalamnya. 10:2 Sebab jika hal itu mungkin, pasti orang tidak mempersembahkan korban lagi, sebab mereka yang melakukan ibadah itu tidak sadar lagi akan dosa setelah disucikan sekali untuk selama-lamanya. 10:3 Tetapi justru oleh korban-korban itu setiap tahun orang diperingatkan akan adanya dosa. 10:4 Sebab tidak mungkin darah lembu jantan atau darah domba jantan menghapuskan dosa. 10:5 Karena itu ketika Ia masuk ke dunia, Ia berkata: “Korban dan persembahan tidak Engkau kehendaki — tetapi Engkau telah menyediakan tubuh bagiku –. 10:6 Kepada korban bakaran dan korban penghapus dosa Engkau tidak berkenan. 10:7 Lalu Aku berkata: Sungguh, Aku datang; dalam gulungan kitab ada tertulis tentang Aku untuk melakukan kehendak-Mu, ya Allah-Ku.” 10:8 Di atas Ia berkata: “Korban dan persembahan, korban bakaran dan korban penghapus dosa tidak Engkau kehendaki dan Engkau tidak berkenan kepadanya” — meskipun dipersembahkan menurut hukum Taurat –. 10:9 Dan kemudian kata-Nya: “Sungguh, Aku datang untuk melakukan kehendak-Mu.” Yang pertama Ia hapuskan, supaya menegakkan yang kedua. 10:10 Dan karena kehendak-Nya inilah kita telah dikuduskan satu kali untuk selama-lamanya oleh persembahan tubuh Yesus Kristus.

Mzm 40:2,4ab,7-8a,10,11

Refren: Ya Tuhan, jinni aku datang untuk melakukan kehendak-Mu.

Mazmur

* Aku sangat menanti-nantikan Tuhan; lalu Ia menjengukku dan mendengar yeriakku minta tolong. Ia memberikan nyanyian baru dalam mulutku untuk memuji Allah kita.

* Kurban dan persembahan tidak Kauinginkan, tetapi Engkau telah membuka telingaku; kurban baker dan kurban silih tidak Engkau tuntut. Kaku aku berkata, “Lihatlah, Tuhan, aku datang!:

* Aku mengabarkan keadilan di tengah jemaat yang besar,mibirku tidak kutahan terkatup; Engkau tahu it, ya Tuhan.

* Keadilan-Mu tidaklah kusembunyikan dalam hatiku, kesetiaan dan keselamatan-Mu kubicaraka, kasih dan kebenaran-Mu tidak kudiamkan, tapi kuwartakan kepada jemaat yang besar.

Bacaan Injil: Mrk 3:31-35

Yesus dan sanak saudara-Nya
3:31 Lalu datanglah ibu dan saudara-saudara Yesus. Sementara mereka berdiri di luar, mereka menyuruh orang memanggil Dia. 3:32 Ada orang banyak duduk mengelilingi Dia, mereka berkata kepada-Nya: “Lihat, ibu dan saudara-saudara-Mu ada di luar, dan berusaha menemui Engkau.” 3:33 Jawab Yesus kepada mereka: “Siapa ibu-Ku dan siapa saudara-saudara-Ku?” 3:34 Ia melihat kepada orang-orang yang duduk di sekeliling-Nya itu dan berkata: “Ini ibu-Ku dan saudara-saudara-Ku! 3:35 Barangsiapa melakukan kehendak Allah, dialah saudara-Ku laki-laki, dialah saudara-Ku perempuan, dialah ibu-Ku.”

Renungan:

Bukan kurban melainkan iman
Tidak perlu menjadi orang pintar untuk mengetahui bahwa manusia lebih tinggi dan mulia daripada binatang. Oleh karena itu, tidak masuk di akal jika darah binatang yang dikurbankan bisa menghapus dosa manusia (ayat 4). Logika kita mengatakan bahwa paling sedikit ada dua hal yang salah. Yaitu, yang lebih rendah tidak dapat menggantikan yang lebih tinggi dan tidak adil jika binatang yang harus menanggung kesalahan manusia.

Walaupun demikian, itulah cara Allah menyatakan kehendak-Nya pada masa Perjanjian Lama. Kurban yang tidak sempurna itu dipakai Allah untuk pengampunan dosa (ayat 1). Bukan kurbannya yang terpenting melainkan kepercayaan dan ketaatan kepada kehendak-Nya (ayat 5-8). Allah sendiri yang menyediakan kurban sempurna yang membereskan masalah dosa, yaitu Kristus. Kristus dengan ketaatan penuh mengerjakan kehendak Bapa. Oleh sebab itu, sesuai dengan kehendak Bapa, setiap orang yang percaya kepada-Nya telah mendapatkan keselamatan satu kali yang berlaku untuk selama-lamanya (ayat 10).

Salah satu alasan Allah mengizinkan kurban yang tidak sempurna dipakai sebagai sarana pengampunan dosa, agar umat-Nya menyadari keseriusan dosa dan tidak “bermain-main” dengannya. Kesadaran ini membuat mereka berharap pada kasih dan kesetiaan Allah, bukan pada usaha menerapkan peraturan kurban secara teliti dan akurat. Tanpa iman, ritual masa Perjanjian Lama tidak berarti.

Anugerah keselamatan yang dicurahkan Allah kepada orang percaya adalah suatu misteri. Kita tidak dapat menyelami kedalaman hikmat-Nya, yakni bagaimana hanya dengan percaya kepada Kristus, dosa-dosa kita dapat diampuni. Namun, kita dituntut untuk percaya sepenuhnya kepada rancangan Allah. Bukan peraturan kurban yang dituntut Allah melainkan memiliki iman kepada-Nya!

Injil hari ini, Anggota keluarga Allah
Orang Yahudi menjunjung tinggi nilai sebuah keluarga, yakni hubungan yang terbentuk karena adanya ikatan/pertalian darah di dalamnya. Kita pun, yang dibesarkan dalam budaya timur, memiliki pandangan demikian. Hubungan darah dianggap lebih kental dibanding hubungan lain.

Namun dalam bacaan hari ini, Yesus seolah merendahkan nilai hubungan keluarga (ayat 32-33). Benarkah? Tak sepenuhnya. Yang Yesus maksud, meski hubungan keluarga penting, tetapi tidak membuat orang secara otomatis mengenal Yesus. Kita perhatikan bahwa keluarga-Nya menganggap Dia tidak waras (Mrk. 2:31). Maka menurut Yesus, hubungan di antara orang-orang yang melakukan kehendak Allah bersifat abadi (ayat 35). Hubungan ini terdapat di antara orang-orang yang berorientasi pada Allah. Yaitu orang yang mengikut Dia, mendengar ajaran-Nya, dan mementingkan kehendak-Nya. Inilah basis fundamental keluarga Allah. Orang yang memiliki prioritas seperti itulah, yang disebut Yesus sebagai saudara-Nya laki-laki, saudara-Nya perempuan, dan ibu-Nya (ayat 35).

Tekanan utama terletak pada kata “melakukan” kehendak Allah. Jadi bukan hanya orang yang menyebut diri sebagai murid, yang secara otomatis akan menjadi anggota keluarga Allah. Yang benar-benar pas disebut murid ialah mereka yang konsekuen mengikut Dia dan sungguh-sungguh menjadi pelaku kehendak Allah.

Kita, yang menyebut diri sebagai pengikut Kristus, harus bercermin dan introspeksi diri: sudahkah kita memprioritaskan kehendak Allah dalam hidup kita. Karena menjadi Kristen bukan sekadar menunjukkan identitas dengan pergi ke gereja setiap minggu dan hidup sebagai orang baik-baik. Menjadi Kristen berarti membiarkan Tuhan menduduki tempat pertama dalam hidup kita. Juga berarti memprioritaskan kehendak-Nya. Bahkan jika itu harus mengorbankan segala hasrat dan cita-cita kita. Memang tidak mudah. Namun Roh Kudus akan memberi kita kekuatan. Dan saat itulah kita akan menunjukkan kesejatian kita sebagai anggota keluarga Allah.

DOA: Bapa surgawi, Allah yang baik, sumber segala kebaikan, satu-satunya yang baik, terima kasih penuh syukur kami haturkan kepada-Mu: karena kasih-Mu, Engkau mengutus Yesus ke tengah dunia. Dia mati untuk menebus dosa-dosa kami, dan oleh karena penebusan-Nya lewat kematian dan kebangkitan-Nya, hubungan kami dengan Engkau pun diperdamaikan. Dengan demikian kami menjadi anak-anak-Mu, dan Yesus Kristus menjadi saudara kami. Amin. (Lucas Margono)

Pengajaran-Yesus-di-dalam-rumah-ibadat-702x336

Renungan Senin, 26 Januari 2015

Renungan Senin, 26 Januari 2015, Pw.St. Timotius dan Titus, Usk. Pekan Biasa III

Bacaan I: Ibr 9:15,24-28

9:15 Karena itu Ia adalah Pengantara dari suatu perjanjian yang baru, supaya mereka yang telah terpanggil dapat menerima bagian kekal yang dijanjikan, sebab Ia telah mati untuk menebus pelanggaran-pelanggaran yang telah dilakukan selama perjanjian yang pertama.
9:24 Sebab Kristus bukan masuk ke dalam tempat kudus buatan tangan manusia yang hanya merupakan gambaran saja dari yang sebenarnya, tetapi ke dalam sorga sendiri untuk menghadap hadirat Allah guna kepentingan kita. 9:25 Dan Ia bukan masuk untuk berulang-ulang mempersembahkan diri-Nya sendiri, sebagaimana Imam Besar setiap tahun masuk ke dalam tempat kudus dengan darah yang bukan darahnya sendiri. 9:26 Sebab jika demikian Ia harus berulang-ulang menderita sejak dunia ini dijadikan. Tetapi sekarang Ia hanya satu kali saja menyatakan diri-Nya, pada zaman akhir untuk menghapuskan dosa oleh korban-Nya. 9:27 Dan sama seperti manusia ditetapkan untuk mati hanya satu kali saja, dan sesudah itu dihakimi, 9:28 demikian pula Kristus hanya satu kali saja mengorbankan diri-Nya untuk menanggung dosa banyak orang. Sesudah itu Ia akan menyatakan diri-Nya sekali lagi tanpa menanggung dosa untuk menganugerahkan keselamatan kepada mereka, yang menantikan Dia.

Mzm 98:1,2-3ab,3cd-4,5-6

Refren: Nyanyikanlah lagu baru bagi Tuhan, sebab Ia telah melakukan karya-karya yang ajaib.

Mazmur:

* Nyanyikanlah lagu baru bagi Tuhan, sebab Ia telah melakukan karya-karya yang ajaib; keselamatan telah dikerjakan oleh tangan kanan-Nya, oleh lengan-Nya yang kudus..

* Tuhan telah memperkenalkan keselamatan yang datang dari pada-Nya, telah menyatakan keadilan-Nya di hadapan para bangsa, Ia ingat akan kasih dan kesetiaan-Nya terhadap kaum Israel..

* Segala ujung bumi telah melihat keselamatan yang datang dari Allah kita. Bersoral-sorailah bagi Tuhan, hai seluruh bumi, bergembiralah dan bermazmurlah!

* Bermazmurlah bagi Tuhan dengan kecapi, dengan kecapi dan lagu merdu; dengan nafiridan sangkakala yang nyaring, bersorak-sorailah di hadapan Raja, yakni Tuhan!

Bacaan Injil: Mrk 3:22-30

3:22 Dan ahli-ahli Taurat yang datang dari Yerusalem berkata: “Ia kerasukan Beelzebul,” dan: “Dengan penghulu setan Ia mengusir setan.” 3:23 Yesus memanggil mereka, lalu berkata kepada mereka dalam perumpamaan: “Bagaimana Iblis dapat mengusir Iblis? 3:24 Kalau suatu kerajaan terpecah-pecah, kerajaan itu tidak dapat bertahan, 3:25 dan jika suatu rumah tangga terpecah-pecah, rumah tangga itu tidak dapat bertahan. 3:26 Demikianlah juga kalau Iblis berontak melawan dirinya sendiri dan kalau ia terbagi-bagi, ia tidak dapat bertahan, melainkan sudahlah tiba kesudahannya. 3:27 Tetapi tidak seorangpun dapat memasuki rumah seorang yang kuat untuk merampas harta bendanya apabila tidak diikatnya dahulu orang kuat itu. Sesudah itu barulah dapat ia merampok rumah itu. 3:28 Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya semua dosa dan hujat anak-anak manusia akan diampuni, ya, semua hujat yang mereka ucapkan. 3:29 Tetapi apabila seorang menghujat Roh Kudus, ia tidak mendapat ampun selama-lamanya, melainkan bersalah karena berbuat dosa kekal.” 3:30 Ia berkata demikian karena mereka katakan bahwa Ia kerasukan roh jahat.

Renungan:

Keajaiban dan misteri anugerah Ilahi.
Yesus Kristus adalah satu-satunya Pengantara dari suatu perjanjian baru. Sebab hanya darah dan kematian-Nya yang telah berhasil mengerjakan apa yang tidak mampu dikerjakan oleh para imam dan korban persembahan di dalam perjanjian lama (14). Walaupun bukan suatu hal baru bagi Allah, bagi manusia merupakan perjanjian baru. Dalam sejarah manusia, perjanjian baru menggantikan dan melebihi perjanjian lama yang diberikan melalui perantaraan Musa. Transisi dari Musa kepada Yesus menandai transisi dari prinsip usaha manusia ke prinsip anugerah.
Ada 2 berkat yang diberikan oleh perjanjian baru. Pertama, membebaskan manusia dari penghukuman akibat pelanggaran hukum Allah. Ini tidak dapat dilakukan secara sempurna oleh persembahan korban hewan. Dengan demikian, perjanjian yang baru memberikan penawar racun ampuh bagi dosa manusia. Keampuhan berkat ini juga mengatasi dimensi waktu. Sebab mereka yang hidup sebelum Yesus namun percaya kepada janji Allah, akan menerima berkat yang sama. Kedua, perjanjian ini memberikan bagian yang kekal yang dijanjikan yaitu tanah surgawi. Ini diperuntukkan khusus kepada orang-orang yang sudah dipanggil. Melalui perjanjian ini, tujuan Illahi atas seluruh ciptaan dibawa kepada penggenapannya secara sempurna (lih. Why. 7:9). Apa yang membuat pengorbanan Kristus demikian sempurna dan ajaib? Bukankah perjanjian baru juga mempersembahkan korban tebusan dan penghapusan dosa bagi banyak orang (17-22)? Inilah keajaiban dan misteri anugerah Ilahi. Anak Allah yang seharusnya tidak mengalami kematian, harus mengalami kematian. Sebagai korban bagi sesama-Nya, bangkit, dan menyatukan manusia dengan diri-Nya sendiri, agar mereka dapat menikmati berkat yang kekal. Karena itu pula Ia hanya perlu menghadap Allah dan mempersembahkan diri-Nya satu kali. Ini juga bersesuaian dengan ‘nasib’ akhir manusia yaitu diadili oleh Hakim Agung setelah kematiannya. Setelah itu Ia akan datang kedua kalinya untuk menjemput umat-Nya dan membawanya kepada keselamatan kekal (28).

Tidak ada yang dapat dilakukan manusia untuk membalas anugerah-Nya yang ajaib dan penuh misteri. Namun hal terkecil yang bisa kita lakukan adalah membuka ‘misteri’ kehidupan kita di hadapan-Nya dan menjalani hidup yang sesuai dengan keajaiban anugerah-Nya.

Injil hari ini, Tanggapan terhadap Yesus.
Keluarga Yesus belum dapat menerima dan percaya pada-Nya — mereka baru percaya pada Yesus setelah peristiwa kebangkitan. Sekarang, mereka cemas melihat Yesus. Cemas bukan karena khotbah dan ajaran-Nya, tetapi karena Yesus tidak sempat lagi memperhatikan kebutuhan fisiknya, yaitu makan. Bagi keluarga, keadaan seperti ini menunjukkan bahwa Yesus sudah tidak waras. Keluarga-Nya salah mengerti tindakan Yesus karena mereka belum mengenal Yesus.Bagaimana dengan pemimpin agama Yahudi? Sama saja. Bahkan lebih parah. Para ahli Taurat yang datang dari Yerusalem melihat Yesus mengusir setan, lalu menyimpulkan bahwa Yesus kerasukan. Bagaimana respons Yesus? Yesus memberi peringatan keras dengan mengatakan bahwa tidak mungkin setan mengusir setan. Kerajaan setan tidak mungkin berlawanan dengan dirinya sendiri. Yang sesungguhnya adalah, yang kuat mengusir yang lemah. Jadi, jika Yesus mengusir setan, itu karena Yesus jauh lebih kuat dan lebih berkuasa dari pada roh-roh jahat dan setan.

Melalui perbincangan Yesus dengan ahli Taurat ini, Markus mengarahkan kita pada satu peringatan tentang dosa yang tidak dapat diampuni dosa menghujat Roh Kudus, yaitu menolak pengampunan dosa yang ditawarkan Yesus. Ini adalah dosa yang tidak dapat diampuni karena sama dengan melawan Roh Kudus dan tawaran pengampunan dari Yesus. Penolakan ini terlihat dari sikap ahli Taurat. Mereka menuduh pengampunan itu sendiri sebagai kejahatan. Yesus yang menawarkan pengampunan tidak hanya ditolak, bahkan dituduh sebagai orang kerasukan setan. Jika menolak pengampunan, maka tidak ada pengampunan lain karena hanya melalui Yesus ada pengampunan. Di luar Yesus tidak ada pengampunan dosa. Pengampunan dosa hanya ada pada Yesus.

Renungkan: Bahwa menolak pengampunan dosa bisa berakhir pada dosa maut menghujat Roh Kudus.

DOA: Tuhan Yesus, seperti mereka yang telah berjumpa dengan Engkau, aku seringkali merasa terganggu oleh rasa ragu, takut dan prasangka. Akan tetapi ketika Roh Kudus-Mu menjamahku, aku tahu bahwa Engkau adalah Tuhan dan Juruselamatku. Tolonglah aku agar dapat mengenal-Mu dengan lebih mendalam lagi, sehingga dengan demikian dapat menyerahkan diriku kepada-Mu secara total. Amin. (Lucas Margono)
Ren 26 Jan

Renungan Minggu, 25 Januari 2015

Renungan Minggu, 25 Januari 2015, Hari Minggu Biasa, Pekan Biasa III

Penutupan Pekan Doa Sedunia

Bacaan I: Yun 3:1-5,10

Pertobatan Niniwe
3:1 Datanglah firman TUHAN kepada Yunus untuk kedua kalinya, demikian: 3:2 “Bangunlah, pergilah ke Niniwe, kota yang besar itu, dan sampaikanlah kepadanya seruan yang Kufirmankan kepadamu.” 3:3 Bersiaplah Yunus, lalu pergi ke Niniwe, sesuai dengan firman Allah. Niniwe adalah sebuah kota yang mengagumkan besarnya, tiga hari perjalanan luasnya. 3:4 Mulailah Yunus masuk ke dalam kota itu sehari perjalanan jauhnya, lalu berseru: “Empat puluh hari lagi, maka Niniwe akan ditunggangbalikkan.” 3:5 Orang Niniwe percaya kepada Allah, lalu mereka mengumumkan puasa dan mereka, baik orang dewasa maupun anak-anak, mengenakan kain kabung.
3:10 Ketika Allah melihat perbuatan mereka itu, yakni bagaimana mereka berbalik dari tingkah lakunya yang jahat, maka menyesallah Allah karena malapetaka yang telah dirancangkan-Nya terhadap mereka, dan Iapun tidak jadi melakukannya.

Mzm 25:4bc-5ab,6-7bc,8-9

Refren: Beritahukanlah jalan-jalan-Mu kepadaku, ya Tuhan.

Mazmur:

* Beritahukanlah jalan-jalan-Mu kepadaku, ya Tuhan, tunjukanlah lorong-lorong-Mu kepadaku. Bawalah aku berjalan dalam kebenaran-Mu dan ajarlah aku, sebab Engkaulah Allah yang menyelamatkan daku.

* Ingatlah segala rahmat dan kasih setia-Mu, ya Tuhan, sebab semuanya itu sudah ada sejahpurbakala. Pelanggaran-pelanggaranku janganlah Kauingat, tetapi ingatlah kepadaku sesuai dengan kasih setia-Mu.

* Tuhan itu baik dan benar; sebab itu Ia menunjukkan jalan kepada orang yang sesat, Ia membimbing orang-orang yang rendah hati menurut hokum, dan mengajarkan jalan-Nya kepada orang-orang yang bersahaja.

Bacaan II: 1Kor 7:29-31
7:29 Saudara-saudara, inilah yang kumaksudkan, yaitu: waktu telah singkat! Karena itu dalam waktu yang masih sisa ini orang-orang yang beristeri harus berlaku seolah-olah mereka tidak beristeri; 7:30 dan orang-orang yang menangis seolah-olah tidak menangis; dan orang-orang yang bergembira seolah-olah tidak bergembira; dan orang-orang yang membeli seolah-olah tidak memiliki apa yang mereka beli; 7:31 pendeknya orang-orang yang mempergunakan barang-barang duniawi seolah-olah sama sekali tidak mempergunakannya. Sebab dunia seperti yang kita kenal sekarang akan berlalu.

Bacaan Injil: Mrk 1:14-20

Yesus tampil di Galilea

1:14 Sesudah Yohanes ditangkap datanglah Yesus ke Galilea memberitakan Injil Allah, 1:15 kata-Nya: “Waktunya telah genap; Kerajaan Allah sudah dekat. Bertobatlah dan percayalah kepada Injil!”

Yesus memanggil murid-murid yang pertama
1:16 Ketika Yesus sedang berjalan menyusur danau Galilea, Ia melihat Simon dan Andreas, saudara Simon. Mereka sedang menebarkan jala di danau, sebab mereka penjala ikan. 1:17 Yesus berkata kepada mereka: “Mari, ikutlah Aku dan kamu akan Kujadikan penjala manusia.” 1:18 Lalu merekapun segera meninggalkan jalanya dan mengikuti Dia. 1:19 Dan setelah Yesus meneruskan perjalanan-Nya sedikit lagi, dilihat-Nya Yakobus, anak Zebedeus, dan Yohanes, saudaranya, sedang membereskan jala di dalam perahu. 1:20 Yesus segera memanggil mereka dan mereka meninggalkan ayahnya, Zebedeus, di dalam perahu bersama orang-orang upahannya lalu mengikuti Dia.

Renungan:

Belas kasihan Allah.
Kejahatan Niniwe sampai di telinga Allah. Tetapi sebelum melaksanakan hukuman, Allah hendak memperingatkan mereka. Untuk itu Yunus diutus kembali. Yunus hanya menyampaikan berita penghukuman yang akan Allah jatuhkan, dan sama sekali tidak menyinggung agar mereka bertobat dari tingkah langkah mereka yang jahat (ayat 4). Hal ini menunjukkan bahwa kesediaannya adalah karena terpaksa. Ia memang lebih mengharap bangsa itu dihukum daripada bertobat dan diampuni. Tetapi yang di luar harapan Yunus justru terjadi. Bukan hanya raja dan rakyat yang berkabung tetapi juga binatang peliharaan.

Ada lagi hal lain yang mengejutkan dan yang kelak akan membuat Yunus protes kepada Allah. Di luar harapan Yunus, ternyata Allah menyesal ketika melihat pertobatan orang Niniwe. Karenanya Ia tidak jadi membinasakan mereka (ayat 10). Dilibatkannya binatang peliharaan untuk berkabung dan berpuasa mungkin dapat mengindikasikan bahwa orang Niniwe sendiri tidak yakin bahwa Allah akan sudi mengampuni mereka (ayat 7-8). Itulah sebabnya ada kemungkinan bahwa penyesalan Allah adalah sesuatu yang tidak diduga oleh orang Niniwe.

Sepertinya cerita ini banyak berisi hal-hal yang tidak terduga. Di satu sisi Yunus tidak menduga bahwa orang Niniwe akan menanggapi pemberitaannya, dan di lain sisi orang Niniwe sendiri tidak menduga bahwa Allah akan menjawab perkabungan mereka. Benarlah firman Tuhan yang disampaikan oleh nabi Yesaya: “Sekalipun dosamu merah seperti kirmizi, akan menjadi putih seperti salju; sekalipun berwarna merah seperti kain kesumba, akan menjadi putih seperti bulu domba (Yes. 1:18).”

Allah tidak pernah menolak mereka yang menyesali dosanya. Sekalipun kita merasa bahwa kita sudah sangat jauh dari Tuhan, tetapi sesungguhnya Ia tidak pernah berlambat-lambat untuk mendengar seruan umat-Nya.

Paulus dalam suratnya kepada jemaat di Korintus menyampaikan perintah bahwa dalam kondisi yang dikatakan darurat ini, Paulus terus berusaha mengimbau agar jemaat tetap menjalankan tanggung jawab yang Tuhan percayakan, karena mereka tidak tahu apa yang akan terjadi. Imbauan Paulus di ayat 29 dan 30 ini sebenarnya paradoks: orang- orang yang beristeri harus berlaku seolah-olah mereka tidak beristeri; orang-orang yang menangis, seolah-olah tidak menangis, dan seterusnya st. Sebenarnya Paulus sedang tidak membingungkan kita, karena ayat-ayat ini diucapkan agar jemaat Korintus selalu mengingat bahwa tugas utama mereka adalah melayani Tuhan atau memusatkan perhatiannya pada perkara Tuhan. Kita melihat dua pelajaran penting: [1] orang percaya dituntut untuk memikirkan pelayanan secara serius, bukan hanya kepentingan pribadi saja; [2] mereka yang serius dalam pelayanan harus juga perlu memperhatikan keseimbangan antara pelayanan dan keluarga, sehingga tanggung jawabnya dapat terlaksana dengan baik.

Tiap kita mempunyai kebutuhan dan pergumulan pribadi yang berbeda-beda. Bagaimana kita menjaga keseimbangan antara keduanya?

Injil hari ini, Yesus berkhotbah dan memanggil murid-murid.
Narasi ini menceritakan dua hal penting yang dilakukan Yesus, yaitu berkhotbah dan memanggil murid-murid. Tertangkapnya Yohanes Pembaptis merupakan awal khotbah Yesus. Isi khotbah Yesus diringkas oleh Markus dengan frasa ‘Injil Allah’ (ayat 14). Dikatakan bahwa Allah akan memerintah umat-Nya. Ini adalah kabar baik. Namun, sebelum ini terlaksana, persyaratan penting yang harus terlebih dahulu terjadi di tengah-tengah umat Allah – – sebagai syarat menjadi umat-Nya — yaitu, bertobat dan percaya kepada Yesus (ayat 15).

Yesus memanggil empat orang murid dengan cara yang hampir sama. Simon dan Andreas dipanggil ketika mereka sedang bekerja. Tampaknya, mereka segera memberi tanggapan dengan meninggalkan pekerjaan untuk mengikut Yesus (ayat 18). Inisiatif tidak datang dari mereka, melainkan dari Yesus. Hal ini kontras dengan tradisi Yahudi di mana murid-muridlah yang memilih seorang rabi menjadi gurunya. Begitu pula dengan Yakobus dan Yohanes. Mereka pun dipanggil dengan cara yang sama. Keempatnya dipanggil Yesus ketika sedang bekerja (ayat 19). Menarik untuk diperhatikan adalah bahwa murid-murid tersebut masih bersaudara, dan berasal dari kalangan orang-orang “biasa”, bukan dari kalangan bangsawan.
Simon, Andreas, Yakobus, dan Yohanes adalah orang-orang biasa, namun dipanggil oleh Yesus, yang luar biasa untuk tugas yang luar biasa. Dari cara pemanggilan-Nya, ada indikasi bahwa sebelumnya mereka telah mengenal Yesus. Peristiwa inilah yang dicatat oleh Yohanes 1:40. Mereka dipanggil untuk mengikut Yesus (ayat 17,20). Mereka dipanggil untuk tugas membawa orang lain untuk mengikut Yesus.

Renungkan: Yesus memanggil orang-orang biasa dan menjadikan mereka luar biasa. Yesus mampu menjadikan orang biasa seperti kita menjadi luar biasa di mata Allah.

DOA: Tuhan Yesus, berikanlah kepadaku keyakinan untuk mensyeringkan dengan orang-orang lain kehidupan yang telah Kauberikan kepadaku. Bentuklah aku menjadi seorang pribadi yang mau dan mampu mengasihi dengan bela rasa dan hanya menggantungkan kepada kuat-kuasa-Mu semata. Amin. (Lucas Margono)
Simon1