Renungan Rabu, 7 Januari 2015

Renungan Rabu 7 Januari 2015, Hari Biasa Sesudah Penampakan Tuhan

Pfak St. Raimondus dr Penyafort, Im. CM/PK : Pfak B. Lindalva, PrwMrt

Bacaan I: 1Yoh 4:11-18
4:11 Saudara-saudaraku yang kekasih, jikalau Allah sedemikian mengasihi kita, maka haruslah kita juga saling mengasihi. 4:12 Tidak ada seorangpun yang pernah melihat Allah. Jika kita saling mengasihi, Allah tetap di dalam kita, dan kasih-Nya sempurna di dalam kita. 4:13 Demikianlah kita ketahui, bahwa kita tetap berada di dalam Allah dan Dia di dalam kita: Ia telah mengaruniakan kita mendapat bagian dalam Roh-Nya. 4:14 Dan kami telah melihat dan bersaksi, bahwa Bapa telah mengutus Anak-Nya menjadi Juruselamat dunia. 4:15 Barangsiapa mengaku, bahwa Yesus adalah Anak Allah, Allah tetap berada di dalam dia dan dia di dalam Allah. 4:16 Kita telah mengenal dan telah percaya akan kasih Allah kepada kita. Allah adalah kasih, dan barangsiapa tetap berada di dalam kasih, ia tetap berada di dalam Allah dan Allah di dalam dia. 4:17 Dalam hal inilah kasih Allah sempurna di dalam kita, yaitu kalau kita mempunyai keberanian percaya pada hari penghakiman, karena sama seperti Dia, kita juga ada di dalam dunia ini. 4:18 Di dalam kasih tidak ada ketakutan: kasih yang sempurna melenyapkan ketakutan; sebab ketakutan mengandung hukuman dan barangsiapa takut, ia tidak sempurna di dalam kasih.

Mzm 72:1-2,10-11,12-13

Refren : Segala bangsa di bumi, ya Tuhan, sujud menyembah kepada-Mu.

Mazmur:

* Ya Allah, berikanlah hokum-Mu kepada raja dan keadilan-Mu kepada putera raja! Kiranya ia mengadili umat-Mu dengan keadilan dan menghakimi orang-orang-Mu yang tertindas dengan hukum!

* Kiranya raja-raja dari Tarsis dan pulau-pulau membawa persembahan-persembahan; kiranya raja-raja dari Syeba dan Seba menyampaikan upeti! Kiranya semua raja sujud menyembah kepadanya, segala bangsa menjadi hambanya!

* Sebab ia akan melepaskan orang miskin yang berteriak minta tolong, ia akan membebaskan orang tertindas, dan orang yang tidak punya penolong; ia akan saying kepada orang lemah dan orang miskin, ia akan menyelamatkan nyawa orang papa.

Bacaan Injil : Mrk 6:45-52

Yesus berjalan di atas air
6:45 Sesudah itu Yesus segera memerintahkan murid-murid-Nya naik ke perahu dan berangkat lebih dulu ke seberang, ke Betsaida, sementara itu Ia menyuruh orang banyak pulang. 6:46 Setelah Ia berpisah dari mereka, Ia pergi ke bukit untuk berdoa. 6:47 Ketika hari sudah malam perahu itu sudah di tengah danau, sedang Yesus tinggal sendirian di darat. 6:48 Ketika Ia melihat betapa payahnya mereka mendayung karena angin sakal, maka kira-kira jam tiga malam Ia datang kepada mereka berjalan di atas air dan Ia hendak melewati mereka. 6:49 Ketika mereka melihat Dia berjalan di atas air, mereka mengira bahwa Ia adalah hantu, lalu mereka berteriak-teriak, 6:50 sebab mereka semua melihat Dia dan merekapun sangat terkejut. Tetapi segera Ia berkata kepada mereka: “Tenanglah! Aku ini, jangan takut!” 6:51 Lalu Ia naik ke perahu mendapatkan mereka, dan anginpun redalah. Mereka sangat tercengang dan bingung, 6:52 sebab sesudah peristiwa roti itu mereka belum juga mengerti, dan hati mereka tetap degil.

Renungan:

Jikalau Allah sedemikian mengasihi kita, maka haruslah kita juga saling mengasihi. Dalam mengasihi kita tidak melihat tanggapan balik dari orang yang kita kasihi, kita tidak memikirkan tanggapan yang akan diberikan orang lain kepada kita. Sebab apapun yang kita lakukan adalah karena kasih, apa pun respons objek kasihnya tidak akan mengubah kasihnya. Ia dapat mengasihi karena ia telah hidup dalam sumber kasih, yang tidak akan pernah berhenti mengalir. Demikianlah kasihnya akan terus mengalir menjadi berkat bagi orang lain, karena kasihnya tidak bergantung kepada dirinya sendiri yang terbatas, namun kepada Allah yang tidak terbatas.

Menghadirkan kasih Allah dalam hidup sehari-hari memang membutuhkan proses yang panjang. Dalam proses ini kita seringkali mengalami kekecewaan karena mendapatkan respons yang tidak seimbang. Tetapi bila kasih Allah ada dalam kita, kekecewaan itu tidak mampu membendung kita untuk kembali belajar mengasihi. Kasih itu pula yang membentuk karakter dan kepribadian kita, tidak lagi memikirkan diri sendiri, tetapi bagaimana menyatakan kasih Allah agar semakin banyak orang mengenal Dia melalui kita. Kasih-Nya menjadi sempurna dalam kita jika kita berani percaya dan membuka kehidupan kita di hadapan-Nya. Karena kita telah menjaga kehidupan kita benar, kita pun tidak takut menghadapi penghakiman- Nya.

Injil hari ini, Sudah kenal Yesus?
Keajaiban ini terjadi beberapa saat setelah mukjizat pemberian makan lima ribu orang. Kedua mukjizat tersebut merupakan bagian dari program pelatihan bagi kedua belas murid Yesus agar mereka makin mengenal Yesus.

Setelah melayani orang banyak dalam memenuhi kebutuhan rohani dan jasmani mereka, Yesus mengambil waktu untuk bersendiri dengan Allah (ayat 46). Hari yang sibuk tidak membuat Yesus merasa tidak punya waktu untuk berdoa. Kesibukan pelayanan justru membuat Yesus merasa harus berdoa. Ini menunjukkan ketergantungan Yesus pada Bapa.
Saat Yesus berdoa, murid-murid-Nya menyeberang danau dengan perahu karena desakan Yesus (ayat 45). Setelah Yesus selesai berdoa, Ia menyusul mereka yang sedang kesulitan berlayar karena angin kencang. Namun Ia menyusul mereka bukan dengan perahu lain, melainkan dengan berjalan di atas air! Ini memperlihatkan bahwa keganasan laut tidak berarti apa-apa bagi Yesus, karena Dia adalah Anak Allah. Namun hal ini membuat murid-murid ketakutan. Bayangkan, waktu itu tengah malam buta, lalu tiba-tiba mereka melihat orang berjalan di atas air! Jelas mereka jadi ketakutan dan berteriak-teriak (ayat 49). Mereka mengira sedang melihat hantu. Namun Yesus menenangkan mereka dan masuk ke perahu (ayat 50-51).
Sungguh ironis. Para murid, yang sudah mengalami mukjizat pemberian makan lima ribu orang, belum juga mengenal Yesus dengan baik. Mereka belum menyadari bahwa Yesus adalah Tuhan. Pikiran mereka belum terbuka.

Apa yang terjadi pada para murid, mungkin juga terjadi pada kita. Meski kita menyebut diri anak-anak Tuhan, meski kita terlibat aktif dalam pelayanan, tetapi kita belum mengenal Yesus dengan baik. Ini bisa diuji dengan sikap kita tatkala menghadapi masalah, sudahkah kita menunjukkan ketergantungan pada Dia? Sudahkah sikap dan tindakan kita didasarkan pada kuasa-Nya? Tetaplah setia mengambil waktu untuk bersendiri dengan Tuhan, agar kita makin mengenal Dia dan belajar melibatkan Dia dalam segala hal.

DOA: Tuhan Yesus, pada saat-saat aku dibebani oleh rasa takut, perkenankanlah Roh Kudus-Mu mengingatkan aku akan sabda-Mu yang menyejukkan: “Tenanglah! Inilah Aku, jangan takut!” Terima kasih Tuhan Yesus, Engkau adalah sungguh Imanuel yang senantiasa menyertai umat-Mu. Amin. (Lucas Margono)

Tuhan-Yesus-berjalan-di-atas-air

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s