Renungan Senin, 1 Juni 2015

Renungan Senin, 1 Juni 2015, Pw. S. Yustinus, Pekan Biasa IX

Bacaan I: Tb 1:1a,2a,3,2:1b-8

1:1 Kitab kisah Tobit bin Tobiel bin Ananiel bin Aduel bin Gabael bin Rafael bin Raguel dari keturunan Asiel dari suku Naftali. 1:2 Di zaman Salmaneser, raja orang-orang Asyur, Tobit diangkut tertawan dari Tisbe yang terletak di sebelah selatan Kudios-Naftali di Galilea atas di atas Hazor, yakni di sebelah barat, dan di sebelah utara Fogor. 1:3 Aku, Tobit menempuh jalan kebenaran dan kesalehan seumur hidupku dan banyak melakukan kebajikan kepada para saudara dan segenap bangsaku yang bersama dengan daku telah berangkat ke pembuangan, ke negeri Asyur ke kota Niniwe.

2:1 Jadi, di masa pemerintahan Esarhadon aku kembali ke rumahku. Juga isteriku Hana dan anakku Tobia diserahkan kembali kepadaku. Sekali peristiwa pada hari raya Pentakosta, yaitu hari raya Tujuh Minggu, disajikanlah kepadaku suatu jamuan makan yang baik. Akupun telah duduk untuk makan. 2:2 Sebuah meja ditempatkan di hadapanku dan kepadaku disajikan banyak hidangan. Tetapi berkatalah aku kepada anakku Tobia: “Nak, pergilah dan jika kaujumpai seorang miskin dari saudara-saudara kita yang diangkut tertawan ke Niniwe dan yang dengan segenap hati ingat kepada Tuhan, bawalah ke mari, supaya ikut makan. Aku hendak menunggu, anakku, hingga engkau kembali.” 2:3 Maka keluarlah Tobia untuk mencari seorang saudara kita yang miskin. Sepulangnya berkatalah ia: “Pak!” Sahutku: “Ada apa, nak?” Jawabnya: “Salah seorang dari bangsa kita sudah dibunuh. Ia dicekik dan dibuang di pasar. Masih ada disitu juga!” 2:4 Aku melonjak berdiri dan jamuan itu kutinggalkan sebelum kukecap. Mayat itu kuangkat dari lapangan dan kutaruh di dalam salah satu rumah hingga matahari terbenam, untuk kukuburkan nanti. 2:5 Kemudian aku pulang, membasuh diriku, lalu makan dengan sedih hati. 2:6 Maka teringatlah aku kepada firman yang diucapkan nabi Amos mengenai kota Betel ini: “Hari-hari rayamu akan berubah menjadi hari sedih dan segala nyanyianmu akan menjadi ratap!” Lalu menangislah aku. 2:7 Setelah matahari terbenam aku pergi menggali liang lalu mayat itu kukuburkan. 2:8 Para tetangga menertawakan aku, katanya: “Ia belum juga takut! Sudah pernah ia dicari untuk dibunuh karena perkara yang sama. Dahuli ia melarikan diri dan sekarang ia menguburkan mayat lagi!.”

Mazmur 112:1-2,3-4,5-6

Refren : Berbahagialah orang yang takwa pada Tuhan

Mazmur :

*   Berbahagialah orang yang takut akan TUHAN,
yang sangat suka kepada segala perintah-Nya.
Anak cucunya akan perkasa di bumi; angkatan orang benar akan diberkati.

*    Harta dan kekayaan ada dalam rumahnya, kebajikannya tetap dikenang selama-lamanya. Bagi orang benar ia bercahaya laksana lampu di dalam gelap,
Ia pengasih dan penyayang serta berlaku adil.

*    Orang baik menaruh belaskasihan dan memberi pinjaman,
Ia melakukan segala urusan dengan semestinya ,
Orang jujur tidak pernah goyah,
Ia akan dikenang selama-lamanya.

Bacaan Injil: Mrk 12:1-12

Perumpamaan tentang penggarap-penggarap kebun anggur

12:1 Lalu Yesus mulai berbicara kepada mereka dalam perumpamaan: “Adalah seorang membuka kebun anggur dan menanam pagar sekelilingnya. Ia menggali lobang tempat memeras anggur dan mendirikan menara jaga. Kemudian ia menyewakan kebun itu kepada penggarap-penggarap lalu berangkat ke negeri lain. 12:2 Dan ketika sudah tiba musimnya, ia menyuruh seorang hamba kepada penggarap-penggarap itu untuk menerima sebagian dari hasil kebun itu dari mereka. 12:3 Tetapi mereka menangkap hamba itu dan memukulnya, lalu menyuruhnya pergi dengan tangan hampa.12:4 Kemudian ia menyuruh pulaseorang hamba lain kepada mereka. Orang ini mereka pukul sampai luka kepalanya dan sangat mereka permalukan.12:5 Lalu ia menyuruh seorang hamba lainlagi, dan orang ini mereka bunuh. Dan banyak lagi yang lain, ada yang mereka pukul dan ada yang mereka bunuh. 12:6 Sekarang tinggal hanya satu orang anaknya yang kekasih. Akhirnya ia menyuruh dia kepada mereka, katanya: Anakku akan mereka segani. 12:7 Tetapi penggarap-penggarap itu berkataseorang kepada yang lain: Ia adalah ahli waris, mari kita bunuh dia, maka warisan ini menjadi milik kita. 12:8 Mereka menangkapnya dan membunuhnya, lalu melemparkannya ke luar kebun anggur itu. 12:9 Sekarang apa yang akan dilakukan oleh tuan kebun anggur itu? Ia akan datang dan membinasakan penggarap-penggarap itu, lalu mempercayakan kebun anggur itu kepada orang-orang lain. 12:10 Tidak pernahkah kamu membaca nas ini: Batu yang dibuangoleh tukang-tukang bangunan telah menjadi batu penjuru: 12:11 hal itu terjadi dari pihak Tuhan, suatu perbuatan ajaib di mata kita.” 12:12 Lalu mereka berusaha untuk menangkap Yesus, karena mereka tahu, bahwa merekalah yang dimaksudkan-Nya dengan perumpamaan itu. Tetapi mereka takut kepada orang banyak, jadi mereka pergi dan membiarkan Dia.

Renungan:

“Nak, pergilah dan jika kaujumpai seorang miskin dari saudara-saudara kita yang diangkut tertawan ke Niniwe dan yang dengan segenap hati ingat kepada Tuhan, bawalah ke mari, supaya ikut makan. Aku hendak menunggu, anakku, hingga engkau kembali.”(Tb 2:2), demikian kata Tobit kepada Tobia, anaknya dalam jamuan makan bersama. Pesan Tobit kepada Tobia ini kiranya baik kita renungkan dan hayati.

Marilah kita perhatikan orang-orang miskin dan berkekurangan di lingkungan hidup kita dimanapun dan kapanpun. Marilah kita hayati salah atau motto hidup menggereja atau beriman, yaitu “preferential with/for the poor”. Memang pertama-tama harus kita perhatikan kebutuhan hidup mereka sehari-hari, antara lain makan dan minum yang memadai. Namun baiklah kami ingatkan bahwa dari mereka yang miskin dan berkekurangan kita juga dapat belajar, yaitu perihal keutamaan-keutamaan atau nilai-nilai kehidupan yang tidak kita miliki. Mereka yang miskin dan berkekurangan serta baik alias bermoral, pada umumnya memiliki keutamaan ‘penyerahan diri pada Penyelenggaraan Ilahi’, dengan kata lain mereka lebih beriman. Hati, budi dan tenaganya terbuka bagi yang lain serta siap sedia membantu mereka yang minta bantuan. Pengalaman saya pribadi sebagai imam atau pastor: melayani mereka yang miskin dan kaya sungguh berbeda. Yang miskin ketika dilayani kemudian berterima kasih, sementara yang kaya sudah dilayani dengan baik masih terus menuntut dan mengeluh. Maklum orang kaya biasa memerintah di tempat tinggal atau kerja mereka, maka di tempat umum atau kegiatan lain pun ada kecenderungan untuk memerintah dan ingin dilayani.

“Haleluya! Berbahagialah orang yang takut akan TUHAN, yang sangat suka kepada segala perintah-Nya. Anak cucunya akan perkasa di bumi; angkatan orang benar akan diberkati. Harta dan kekayaan ada dalam rumahnya, kebajikannya tetap untuk selamanya.Di dalam gelap terbit terang bagi orang benar; pengasih dan penyayang orang yang adil.” (Mzm 112:1-4)

Mazmur, Yang Tuhan lakukan.
Mazmur 111 sangat erat kaitannya dengan Mazmur 112 ini. Kedua mazmur ini dipisahkan menurut kebiasaan pembacaan mazmur dalam kehidupan ibadah Israel. Jika dalam Mazmur 111 pemazmur menyaksikan bahwa orang yang takut akan Tuhan selalu merenungkan perbuatan Tuhan, maka dalam Mazmur 112 ini, pemazmur menekankan apa yang Tuhan lakukan terhadap orang yang takut akan Dia.

Jaminan Allah bagi orang yang takut akan Dia. Banyak orang menganggap bahwa hidup sebagai orang yang takut akan Tuhan itu tidak populer, tidak membawa keuntungan dan tidak menyenangkan. Namun, pemazmur menyaksikan bahwa Tuhan berpihak kepada orang yang hidup dan takut akan Dia. Tuhan tidak pernah membiarkan hidup orang itu menderita dalam kegelapan. Jaminan pemeliharaan pasti dinyatakan. Hidup yang takut akan Tuhan adalah ciri rohani umat Kristiani yang mensyukuri sungguh-sungguh berkat Tuhan yang bekerja terus-menerus dalam kehidupannya.

Renungkan: Bagaimanakah Anda menilai diri Anda sendiri? Bagaimanakah Allah menunjukkan kuasa-Nya dalam kehidupan Anda?

Injil hari ini, Otoritas hanya pada Yesus
Penguasa biasanya merasa bahwa otoritas mutlak ada di tangannya. Semua orang harus tunduk, tidak boleh menentang otoritas itu.

Para pemimpin Yahudi merasa diri berkuasa. Apalagi otoritas yang mereka pegang adalah otoritas religius, sehingga orang tidak berani macam-macam. Menghadapi Yesus, mereka bagai kebakaran jenggot. Bagaimana mungkin ada orang yang bukan kelompok mereka kemudian mencoba mengajarkan kebenaran-kebenaran Tuhan? Bagaimana mungkin seorang yang tidak punya wewenang atas Bait Allah, berani-beraninya mengacaubalaukan perdagangan di Bait Allah? Maka hanya satu hal yang mereka inginkan atas Yesus, yaitu menangkap Dia!

Yesus, yang memahami kemarahan mereka, mengisahkan perumpamaan tentang penggarap-penggarap kebun anggur. Melalui perumpamaan itu, Yesus ingin menegaskan siapa diri-Nya sesungguhnya. Ia ingin memberitahu bahwa Dia diutus Allah dan Dialah Anak Allah. Kedatangan-Nya telah dinubuatkan oleh nabi-nabi. Namun mereka tidak mau percaya, bahkan membinasakan nabi-nabi itu. Dan ketika Ia datang ke hadapan mereka, mereka tetap tidak mau percaya. Memang ada waktunya mereka tampak berhasil dengan kematian-Nya. Namun batu yang dibuang oleh tukang bangunan itu akan menjadi batu penjuru. Dia akan mati dan kemudian bangkit. Ia akan memperlihatkan otoritas-Nya kembali.

Bicara tentang otoritas, sudahkah kita mengakui otoritas Kristus di dalam diri kita? Atau seperti para pemimpin agama Yahudi, kita masih berebut otoritas dengan Dia? Kita masih terlalu menyukai berbagai hal yang kita lakukan dan miliki di dunia ini. Kita keberatan bila Yesus mau ambil alih dan menguasai hidup kita. Namun ingatlah bahwa Dia telah mati untuk menebus kita dari segala dosa kita, dari segala hal yang membuat kita menjadi raja atas diri kita sendiri. Kembalikanlah otoritas atas hidup Anda ke dalam tangan-Nya, niscaya sukacita kekal akan mengisi hidup Anda.

DOA: Yesus Kristus, Engkau adalah Tuhan dan Juruselamatku. Aku menyerahkan diriku sepenuhnya ke bawah pengendalian kasih-Mu. Tuhan, usirlah apa saja dalam diriku yang bertentangan dengan Engkau dan nilai-nilai kerajaan-Mu. Aku sungguh ingin berbuah seturut rencana-Mu menciptakan diriku. Amin. (Lucas Margono)

Gb1Juni

Renungan Minggu, 31 Mei 2015

Renungan Minggu 31 Mei 2015, Hari Raya Tri Tunggal Maha Kudus

Bacaan I: Ul. 4:32-34,39-40

4:32 Sebab cobalah tanyakan, dari ujung langit ke ujung langit, tentang zaman dahulu, yang ada sebelum engkau, sejak waktu Allah menciptakan manusia di atas bumi, apakah ada pernah terjadi sesuatu hal yang demikian besar atau apakah ada pernah terdengar sesuatu seperti itu. 4:33 Pernahkah suatu bangsa mendengar suara ilahi, yang berbicara dari tengah-tengah api, seperti yang kaudengar dan tetap hidup? 4:34 Atau pernahkah suatu allah mencoba datang untuk mengambil baginya suatu bangsa dari tengah-tengah bangsa yang lain, dengan cobaan-cobaan, tanda-tanda serta mujizat-mujizat dan peperangan, dengan tangan yang kuat dan lengan yang teracung dan dengan kedahsyatan-kedahsyatan yang besar, seperti yang
dilakukan TUHAN, Allahmu, bagimu di Mesir, di depan matamu?
4:39 Sebab itu ketahuilah pada hari ini dan camkanlah, bahwa Tuhanlah
Allah yang di langit di atas dan di bumi di bawah, tidak ada yang lain. 4:40 Berpeganglah pada ketetapan dan perintah-Nya yang kusampaikan kepadamu pada hari ini, supaya baik keadaanmu dan keadaan anak-anakmu yang kemudian, dan supaya lanjut umurmu di tanah yang diberikan TUHAN, Allahmu, kepadamu untuk selamanya.”

Mazmur:  33:4-5,,6,9,18-19,20,22

Refren: Berbahagialah bangsa yang dipilih Allah menjadi milik pusaka-Nya.

*       Firman Tuhan itu benar, segala sesuatu dikerjakan-Nya dengan kesetiaan. Ia senang pada keadilan dan hokum, bumi penuh dengan kasih setia-Nya.

*    Oleh firman Tuhan langit telah dijadikan, oleh nafas dari mulut-Nya diciptakan segala tentaranya. Dia berfirman, maka semuanya jadi; Dia memberi perintah, maka semuanya ada.

*    Sungguh, mata Tuhan tertuju kepada mereka yang takwa, kepada mereka yang berharap akan kasih setia-Nya; Ia hendak melepaskan jiwa mereka dari maut dan memelihara hidup mereka pada masa kelaparan.

*    Jiwa kita menanti-nantikan Tuhan, Dialah penolong dan perisai kita. Kasih setia-Mu, ya Tuhan, kiranya menyertai kami, seperti kami berharap kepada-Mu.

Bacaan II: Rm 8:14-17

8:14 Semua orang, yang dipimpin Roh Allah, adalah anak Allah. 8:15 Sebab kamu tidak menerima roh perbudakan yang membuat kamu menjadi takut lagi, tetapi kamu telah menerima Roh yang menjadikan kamu anak Allah. Oleh Roh itu kita berseru: “ya Abba, ya Bapa!” 8:16 Roh itu bersaksi bersama-sama dengan roh kita, bahwa kita adalah anak-anak Allah.8:17 Dan jika kita adalah anak, maka kita juga adalah ahli waris, maksudnya orang-orang yang berhak menerima janji-janji Allah, yang akan menerimanya bersama-sama dengan Kristus, yaitu jika kita menderita bersama-sama dengan Dia, supaya kita juga dipermuliakan bersama-sama
dengan Dia.

Bacaan Injil: Mat 28:16-20

Perintah untuk memberitakan Injil
28:16 Dan kesebelas murid itu berangkat ke Galilea, ke bukit yang telah ditunjukkan Yesus kepada mereka. 28:17 Ketika melihat Dia mereka menyembah-Nya, tetapi beberapa orang ragu-ragu. 28:18 Yesus mendekati mereka dan berkata: “Kepada-Ku telah diberikan segala kuasa di sorga dan di bumi. 28:19 Karena itu pergilah, jadikanlah semua bangsa murid-Ku dan baptislah mereka dalam nama Bapa dan Anak dan Roh Kudus, 28:20 dan ajarlah mereka melakukan segala sesuatu yang telah Kuperintahkan kepadamu. Dan ketahuilah, Aku menyertai kamu Senantiasa
sampai kepada akhir zaman.”

Renungan:

Musa kini memperingatkan agar orang-orang Israel tidak lupa diri ketika mereka sudah enak tinggal di Tanah Kanaan. Karena kecenderungan Israel yang sering memberontak, Musa memperingatkan dengan keras agar mereka taat kepada Tuhan untuk tidak membuat patung dan menyembahnya, meskipun demi nama Yahweh. Langit dan bumi dipanggil menjadi saksi sebagai suatu pengesahan perjanjian bahwa bangsa Israel akan dihukum. Mereka di sini dikatakan akan disapu habis, tetapi ini adalah sebuah gaya bahasa yang keras — dalam ayat 27, kita melihat bahwa tidak semua dari mereka akan dibasmi Allah karena ketidaktaatan. Menyembah patung itu sendiri adalah sebuah hukuman. Bila Israel tidak mau menyembah Allah, mereka hanya akan dapat menyembah patung yang bisu dan tuli.
Kesia-siaan menyembah patung itu seyogyanyalah akan membuat Israel kembali kepada Tuhan. Allah yang dikatakan sebagai pencemburu dan tidak sabar (ayat 24) di sini disebutkan sebagai Allah yang penuh belas kasih.

Dalam budaya Timur Dekat purba, jika seorang raja menganugerahkan tanah kepada seorang hamba dan keturunannya, tanah itu tidak akan beralih meskipun ada keturunan hamba itu yang berbuat salah. Hanya orang yang berbuat salah itu yang akan dihukum — tanahnya tetap menjadi milik keturuan mereka. Ketika Allah berjanji kepada Abraham bahwa Ia akan memberikan tanah perjanjian kepada keturunannya, janji itu juga tak pernah dibatalkan (ayat 31), hanya mereka yang bersalah akan dihukum.

Allah adalah satu-satunya Allah yang layak untuk disembah. Allah adalah Allah yang begitu mengasihi bapa-bapa leluhur Israel. Ia sendiri (harfiah: dengan wajah-Nya) yang membebaskan mereka dari Mesir (ayat 38), tanpa memakai perantaraan malaikat.

Tuhan adalah Allah. Musa kemudian menunjuk kepada keseluruhan kemurahan yang ajaib pada masa lalu dan pengesahan pengharapan masa depan dalam perjanjian itu (ay. 40) sebagai alasan untuk menghadapi secara hati-hati berbagai klaim tentang keilahian eksklusif Tuhan.

Paulus mengajarkan tentang Menjadi anak-anak Allah
Orang yang percaya kepada Allah dan menerima karya Kristus di salib telah mengalami pengampunan dosa dan diberi kuasa menjadi anak-anak Allah (Yoh. 1:12). Kita menjadi anak-anak Allah berdasarkan pengangkatan dari Allah sendiri oleh karena karya Anak sulung Allah, yaitu Kristus (Rm. 8:23)

Apa yang menjadi bukti bahwa kita adalah anak-anak Allah? Roh Kudus akan memberi kesaksian di dalam hati kita bahwa kita adalah anak-anak Allah (ayat16). Roh Allah menolong kita untuk mampu dan berani menyapa Allah sebagai Bapa kita (ayat 15). Kita tidak takut lagi karena dosa-dosa kita sudah diampuni. Bukti lain bahwa kita adalah anak-anak Allah yaitu kita mampu untuk hidup tanpa dikendalikan lagi oleh keinginan daging (ayat 13). Sebaliknya Roh Allah menjadi pemimpin hidup kita (ayat 14) untuk menghasilkan buah-buah kebenaran (Gal. 5:22-23).

Sebagai anak-anak Allah, kita mengetahui bahwa kita adalah ahli waris Allah, yaitu orang-orang yang berhak menerima segala janji Allah (ayat 17). Janji apa sajakah itu? Yaitu suatu hari kelak kita akan menikmati kemuliaan bersama dengan Kristus di surga, walaupun saat di dunia yang fana ini kita masih mengalami berbagai penderitaan (ayat 19-24).

Kita dikuatkan dan dimampukan untuk berani menghadapi kesengsaraan hidup dalam kefanaan tubuh karena keyakinan kita pada janji Allah bahwa suatu hari kelak kita akan dibebaskan dari belenggu penderitaan yang memenjara tubuh kita. Dalam situasi yang sangat sulit, Roh Kudus akan menolong kita mengungkapkan keluhan yang tak terucapkan di dalam doa (ayat 26).

Semua ini merupakan bukti bahwa Allah telah memilih dan menetapkan kita sebagai anak-anak-Nya. Tidak ada hal apapun yang terjadi dalam kehidupan kita, yang luput kendali Allah. Justru sebenarnya lewat berbagai pengalaman yang Tuhan izinkan terjadi dalam hidup kita, kita belajar mengalami dan menikmati karya Allah serta mencicipi kemuliaan-Nya. Cicipan kemuliaan itu semakin terasa saat kita bersekutu dengan sesama anak Allah. Di dalam persekutuan itu iman kita semakin diteguhkan, pengharapan kita semakin fokus ke depan, dan kasih kita makin mewujud dalam keseharian kita.

Injil hari ini, Perintah terakhir Yesus.
Sekarang Matius tiba pada sebuah konklusi yang sarat dengan muatan perintah kepada para murid untuk segera dilaksanakan. Namun sebelum para murid terlibat dalam pelaksanaan perintah tersebut, ada hal lain yang Matius paparkan tentang kondisi iman para murid. Hal ini nampak dari reaksi mereka ketika melihat Yesus. Ada yang langsung menyembah-Nya, tetapi ada juga yang meragukan-Nya.

Matius memaparkan kepada pembaca tentang fakta bahwa ada murid Yesus Kristus yang masih meragukan-Nya, dan bahwa Yesus tahu tentang keadaan tersebut. Artinya, Yesus tahu hati setiap orang, baik mereka yang percaya sungguh bahwa diri-Nya telah bangkit dari kematian dan menang atas maut, maupun mereka yang meragukan-Nya. Namun keraguan manusia tidaklah menjadi penghalang bagi Yesus untuk memberikan ‘amanat agung’ kepada para murid. Karenanya sebelum ‘amanat agung’ itu diberikan kepada mereka, Yesus terlebih dahulu membereskan keraguan beberapa orang di antara mereka. Memang, setiap orang yang mau, dan sedang terlibat dalam pekerjaan Allah haruslah orang yang telah memiliki persekutuan dan hubungan yang tulus dan suci dengan Yesus Kristus. Itu berarti, tidak ada seorang pun yang dapat terlibat sebagai perpanjangan tangan Yesus Kristus untuk menyatakan amanat agung-Nya bila orang tersebut tidak memiliki hubungan yang kental, indah, dan mesra dengan Tuhan Yesus Kristus.

Wajar bila Matius memaparkan tindakan Yesus sebelumnya untuk membereskan keraguan hati di antara para murid tentang keberadaan diri-Nya. Tujuan-Nya adalah nantinya para murid akan keluar dengan dasar komitmen yang sama bahwa Yesus Kristus yang mereka imani adalah Tuhan yang berotoritas atas maut, alam semesta, bahkan sejarah manusia. Dengan demikian tanggung jawab untuk melaksanakan ‘amanat agung’ itu dapat terwujud. Para murid memikul tanggung jawab yang besar dalam pelaksanaan amanat agung ini. Tapi mereka tidak sendiri dalam pelaksanaannya, karena penyertaan Yesus terhadap mereka takkan berkesudahan.

Renungkan: Peran yang sekarang orang Kristen lakoni adalah peran para murid. Itu berarti tanggung jawab untuk mewujudkan amanat agung Yesus Kristus pun menjadi bagian kita.

DOA: Ya Yesus, Engkau adalah Tuhan dan Juruselamat kami. Engkau telah memberikan segala sesuatu yang ada dalam surga kepada kami sebagai para pewaris bersama-Mu. Kami menyadari bahwa kami tidak akan pernah mampu untuk membayar kembali karunia sedemikian. Dengan penuh rasa syukur dan kerendahan-hati, bersama ini kami menyerahkan hidup kami sendiri sehingga kami dapat bersatu dengan-Mu sepanjang segala masa. Amin. (Lucas Margono)

Gbr31Mei

Renungan Sabtu, 30 Mei 2015

Renungan Sabtu, 30 Mei 2015, Hari Biasa, Pekan Biasa VIII

PK: Pfak. B. Marta Wiecka,
OSCI/OSCap: Pfak. B. Baptista Varani, Biarw
PBHK/FDNSB/MSC: Hari Raya Bunda Hati Kudus, Pelindung Utama Tarekat
CDD: Pw. Ratu Para Rasul, Pelindung Utama Kongregasi

Bacaan I: Sir 51:12-20

51:12 Aku hendak bersyukur kepadaMu, ya Tuhan, dan memuji nama Tuhan. 51:13 Pada masa mudaku, sebelum mengadakan perjalanan, kebijaksanaan telah kucari dengan sungguh dalam sembahyangku. 51:14 Kebijaksanaan itu  telah kumohon di depan bait Allah,  dan akan kukejar sampai akhir hidup. 51:15 Hatiku bersukacita atas kebijaksanaan, karena bunganya yang bagaikan buah anggur yang masak. Kakiku melangkah di jalan yang lurus, dan sejak masa mudaku telah kuikuti jejaknya. 51:16 Hanya sedikit saja kupasang telingaku, lalu mendapatinya, dan memperoleh banyak pengajaran bagi diriku. 51:17 Aku maju di dalamnya, dan kuhormati orang yang memberikan kebijaksanaan kepadaku. 51:18 Sebab aku berniat melakukannya, dengan rajin kucari apa yang baik dan aku tidak dikecewakan.
51:19 Hatiku memperjuangkan kebijaksanaan, dan dengan teliti kulaksanakan hukum Taurat. Tanganku telah kuangkat ke sorga, dan aku menyesal karena kurang tahu akan dia. 51:20 Hatiku telah kuarahkan kepada kebijaksanaan, dan dengan kemurnian hati aku menemukannya.

Mazmur: 19:8,9,10,11

Refren: Titah Tuhan itu tepat, menyukakan hati.

Mazmur:

*       Taurat Tuhan itu sempurna, menyegarkan jiwa; peraturan Tuhan teguh, memberikan hikmat kepada orang bersahaja.

*    Titah Tuhan itu tepat, menyukakan hati; perintah Tuhan itu murni, membuat mata ceria.

*    Takut akan Tuhan itu suci, tetap untuk selama-lamanya; hokum-hukum Tuhan itu benar, adil selalu.

*    Lebih indah daripada emas, bahkan daripada emas tua; dan lebih manis daripada madu, bahkan daripada madu tetesan dari sarang lebah.

Bacaan Injil: Mrk 11:27-33

Pertanyaan mengenai kuasa Yesus
11:27 Lalu Yesus dan murid-murid-Nya tiba pula di Yerusalem. Ketika Yesus berjalan di halaman Bait Allah, datanglah kepada-Nya imam-imam kepala, ahli-ahli Taurat dan tua-tua, 11:28 dan bertanya kepada-Nya: “Dengan kuasa
manakah Engkau melakukan hal-hal itu? Dan siapakah yang memberikan
kuasa itu kepada-Mu, sehingga Engkau melakukan hal-hal itu?” 11:29 Jawab
Yesus kepada mereka: “Aku akan mengajukan satu pertanyaan kepadamu. Berikanlah Aku jawabnya, maka Aku akan mengatakan kepadamu dengan
kuasa manakah Aku melakukan hal-hal itu. 11:30 Baptisan Yohanes itu, dari sorga atau dari manusia? Berikanlah Aku jawabnya!” 11:31 Mereka memperbincangkannya di antara mereka, dan berkata: “Jikalau kita katakan: Dari sorga, Ia akan berkata: Kalau begitu, mengapakah kamu tidak percaya kepadanya? 11:32 Tetapi, masakan kita katakan: Dari
manusia!” Sebab mereka takut kepada orang banyak, karena semua orang menganggap bahwa Yohanes betul-betul seorang nabi. 11:33 Lalu mereka menjawab Yesus: “Kami tidak tahu.” Maka kata Yesus kepada mereka: “Jika demikian, Aku juga tidak mengatakan kepadamu dengan kuasa manakah Aku melakukan hal-hal itu.”

Renungan:

Sirakh memberikan kepada kita suatu perspektif yang indah tentang bagaimana mencari kebenaran Allah – dia rendah hati, menaruh kepercayaan, menaruh hormat, dan lapar akan kebijaksanaan dan rahmat. Para imam kepala dan ahli Taurat pada zaman Yesus justru menunjukkan kepada kita sikap yang benar-benar kebalikannya (lihat Mrk 11:27-33). Mereka banyak menuntut, merasa curiga dan menuduh, senantiasa mencari-cari bukti lanjutan tentang keilahian Yesus. Sirakh mencerminkan rasa percaya dan pengharapan, sedangkan para imam kepala dan ahli Taurat mencerminkan ketidakpercayaan dan rasa takut. Sementara tentunya kita lebih suka untuk mengidentifikasikan diri kita dengan Sirakh, kehidupan doa kita kadang-kadang menunjukkan keraguan dan kegelisahan.

“Maka dari itu aku hendak bersyukur kepada-Mu serta memuji Engkau dan memuji nama Tuhan. Ketika aku masih muda dan sebelum mengadakan perjalananku, maka kebijaksanaan telah kucari dengan sungguh dalam sembahyangku” (Sir 51:12-13)

Kutipan ini kiranya baik menjadi bahan permenungan atau refleksi bagi generasi muda atau mereka yang sedang bertugas belajar di tingkat apapun. Kepada mereka yang sedang bertugas belajar diharapkan belajar dengan sungguh-sungguh, membuka diri terhadap aneka kemungkinan dan kesempatan untuk tumbuh berkembang. Dengan kata lain diharapkan bersikap mental sebagai pembelajar yang tinggi. Selain belajar dari atau melalui apa yang diajarkan di sekolah, juga belajar dari aneka pengalaman hidup sehari-hari, dalam aneka pergaulan dan kebersamaan dengan orang lain. Ingatlah dan sadari bahwa aneka macam teori atau ajaran yang disampaikan di sekolah berasal atau digali dari pengalaman hidup konkret sehari-hari. Selain belajar hendaknya juga tidak dilupakan berdoa, sebagaimana diingatkan oleh penulis kitab Sirach bahwa “kebijaksanan telah kucari dengan sungguh dalam sembahyangku”.

Belajar dan berdoa hendaknya tidak dipisahkan dan hanya dapat dibedakan, artinya semakin banyak belajar hendaknya juga semakin berdoa, semakin berdoa hendaknya juga semakin giat belajar. Dengan kata lain doa menjiwai belajar dan belajar menjiwai doa. Dengan cara itu kami yakin anda akan sampai pada suatu kebajikan yang ada kemungkinan berkembang menjadi kebijakan dan kebijaksanaan. Semoga kita semua memiliki semangat ‘belajar terus-menerus’, on going education/formation. Maka bagi yang sudah bekerja atau berkarya hendaknya juga dengan semangat belajar setiap kali menerima tugas-tugas baru, atau fungsi atau kedudukan baru dalam pekerjaan.

Allah menyatakan disposisi-disposisi mendalam kita dengan menguji kita dalam berbagai situasi, teristimewa dalam doa kita. Ketika kita berjuang untuk berdoa, kita harus bertanya kepada diri kita sendiri dengan otoritas siapa kita sedang mencoba untuk mendekati Allah? Apakah berdasarkan performa/kinerja kita sendiri, atau berdasarkan kebaikan-kebaikan dari kematian dan kebangkitan Yesus? Orang-orang yang telah berhenti mencoba membuktikan kepantasan mereka di hadapan Allah dan kemudian menerima belas kasih dan cintakasih tanpa syarat yang berlimpah-limpah akan mengalami keintiman dengan Allah yang jauh melampaui ekspektasi manusiawi kita. Hati mereka mengalami kedamaian dan nurani mereka pun menjadi jernih.

“Taurat TUHAN itu sempurna, menyegarkan jiwa; peraturan TUHAN itu teguh, memberikan hikmat kepada orang yang tak berpengalaman.Titah TUHAN itu tepat, menyukakan hati; perintah TUHAN itu murni, membuat mata bercahaya. Takut akan TUHAN itu suci, tetap ada untuk selamanya; hukum-hukum TUHAN itu benar, adil semuanya, lebih indah dari pada emas, bahkan dari pada banyak emas tua; dan lebih manis dari pada madu, bahkan dari pada madu tetesan dari sarang lebah” (Mzm 19:8-11).

Injil hari ini, Tak mau mengakui kebenaran
Penyucian Bait Allah yang Yesus lakukan (Mrk. 11:15-19) ternyata memancing reaksi imam-imam kepala, ahli-ahli Taurat dan tua-tua. Tindakan Yesus bagai menantang otoritas mereka. Itulah sebabnya mereka seperti orang kebakaran jenggot. Ingin rasanya mereka menangkap Yesus saat itu juga.

Akan tetapi, popularitas Yesus menahan mereka untuk bertindak demikian, setidaknya untuk saat itu. Yang mereka bisa lakukan hanyalah bertanya kepada Yesus tentang otoritas yang Dia miliki hingga berani melakukan pembersihan di Bait Allah (ayat 28). Mereka berharap bahwa jawaban Yesus dapat menjatuhkan reputasi-Nya dihadapan orang banyak. Dan itu bisa menjadi alasan bagi mereka untuk menangkap Dia. Namun Yesus membalikkan situasi. Untuk menelanjangi motivasi mereka yang sebenarnya, Yesus mengajukan pertanyaan tentang Yohanes Pembaptis. Pertanyaan yang membuat para pemimpin Yahudi itu terjebak dalam posisi sulit. Bila mereka mengakui otoritas Ilahi yang Yohanes miliki, itu justru akan melemahkan posisi mereka karena mereka tidak memercayai dia. Namun jika mereka tidak mengakui, maka mereka akan menerima penilaian buruk dari orang banyak. Serba salah. Satu-satunya jalan yang mereka anggap baik adalah menjawab \’tidak tahu\’. Respons mereka terhadap jawaban Yesus mengemukakan fakta bahwa para pemimpin Yahudi itu bukan sedang mencari kebenaran. Mereka hanya ingin menangkap Yesus karena telah melangkahi otoritas mereka. Yesus tentu saja tahu bagaimana mengatasi keadaan.

Kisah tersebut merupakan contoh nyata tentang manusia yang tidak mau mengakui kebenaran karena kepentingan diri yang terancam. Gejala ini kita temui juga dalam berbagai situasi di sekitar kita. Masih banyak orang yang tidak rela membiarkan Yesus membongkar-bangkir hidupnya. Masih banyak orang yang terlalu khawatir membiarkan dirinya tersudut oleh kebenaran-kebenaran Yesus karena takut meninggalkan apa yang telah dimiliki dan dijalani. Termasuk orang seperti itu jugakah Anda?

DOA: Bapa surgawi, Engkau saja Tuhan (Kyrios) segala ciptaan. Tuan-tuan lain hanya mempunyai sebagian kecil saja dari kuasa-Mu. Terpujilah nama-Mu selama-lamanya. Amin. (Lucas Margono)

Gbr30Mei

Renungan Jumat, 29 Mei 2015

Renungan, Jumat 29 Mei 2015, Hari Biasa, Pekan Biasa VIII

OFS: Pw. S. Maria Anna dr Paredes, Prw Ordo III
OMI: Pfak. B. Yoseph Gerard, Im

Bacaan I: Sir 44:1,9-13

44:1    Dan sekarang kami hendak memuji orang-orang termasyhur, para nenek moyang kita menurut urut-urutannya.
44:9    Tetapi juga ada yang tidak diingat lagi, melainkan lenyap seolah-olah tidak pernah ada; mereka menjadi seolah-olah tidak pernah dilahirkan, dan demikianpun nasib anak-anak mereka sesudahnya.
44:10 Tetapi yang berikut ini adalah orang kesayangan, yang kebajikannya tidak sampai terlupa; 44:11 semuanya tetap tinggal pada keturunannya sebagai warisan baik yang berasal dari mereka.44:12    Keturunannya tetap setia kepada perjanjian-perjanjian, dan anak-anak merekapun demikian pula keadaannya.44:13 Keturunan mereka akan tetap tinggal untuk selama-lamanya, dan kemuliaannya tidak akan dihapus.

Mazmur: 149:1-2,3-4,5-6a

Refren: Tuhan berkenan kepada umat-Nya.

Mazmur:

*       Nyanyikanlah bagi Tuhan lagu yang baru! Pujilah Dia dalam jemaah orang-orang saleh! Biarlah Israel bersukacita atas Penciptanya, biarlah Sion bersorak-sorai atas raja mereka.

*    Biarlah mereka memuji-muji nama-Nya dengan tarian, biarlah mereka bermazmur kepada-Nya dengan rebana dan kecapi! Sebab Tuhan berkenan kepada umat-Nya, Ia memahkotai orang yang rendah hati dengan keselamatan.

*    Biarlah orang saleh beria-ria dalam kemuliaan, biarlah mereka bersorak-sorai di atas tempat tidur! Biarlah pujian pengagungan Allah ada dalam kerongkongan mereka. Itulah semarak bagi orang yang dikasihi Allah.

Bacaan Injil: Mrk 11:11-26

11:11 Sesampainya di Yerusalem Ia masuk ke Bait Allah. Di sana Ia meninjau semuanya, tetapi sebab hari sudah hampir malam Ia keluar ke Betania bersama dengan kedua belas murid-Nya. 11:12 Keesokan harinya sesudah Yesus dan kedua belas murid-Nya meninggalkan Betania, Yesus merasa lapar. 11:13 Dan dari jauh Ia melihat pohon ara yang sudah berdaun. Ia mendekatinya untuk melihat kalau-kalau Ia mendapat apa-apa pada pohon itu. Tetapi waktu Ia tiba di situ, Ia tidak mendapat apa-apa selain daun-daun saja, sebab memang bukan musim buah ara. 11:14 Maka kata-Nya kepada pohon itu: “Jangan lagi seorangpun makan buahmu selama-lamanya!” Dan murid-murid-Nya pun mendengarnya. 11:15 Lalu tibalah Yesus dan murid-murid-Nya di Yerusalem. Sesudah Yesus masuk ke Bait Allah, mulailah Ia mengusir orang-orang yang berjual beli dihalaman Bait Allah. Meja-meja penukar uang dan bangku-bangku pedagang merpati dibalikkan-Nya, 11:16
dan Ia tidak memperbolehkan orang membawa barang-barang melintasi
halaman Bait Allah. 11:17 Lalu Ia mengajar mereka, kata-Nya: “Bukankah ada tertulis: Rumah-Ku akan disebut rumah doa bagi segala bangsa? Tetapi kamu ini telah menjadikannya sarang penyamun!” 11:18 Imam-imam kepala dan ahli-ahli Taurat mendengar tentang peristiwa itu, dan mereka berusaha untuk membinasakan Dia, sebab mereka takut kepada-Nya,melihat seluruh orang banyak takjub akan pengajaran-Nya. 11:19 Menjelang malam mereka keluar lagi dari kota.11:20 Pagi-pagi ketika Yesus dan murid-murid-Nya lewat, mereka melihat pohon ara tadi sudah kering sampai ke akar-akarnya. 11:21 Maka teringatlah Petrus akan apa yang telah terjadi, lalu ia berkata kepada Yesus: “Rabi, lihatlah, pohon ara yang Kaukutuk itu sudah kering.” 11:22 Yesus menjawab mereka: “Percayalah kepada Allah! 11:23 Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya barangsiapa berkata kepada gunung ini: Beranjaklah dan tercampaklah ke dalam laut! asal tidak bimbang hatinya, tetapi percaya, bahwa apa yang dikatakannya itu akan terjadi, maka hal itu akan terjadi baginya. 11:24 Karena itu Aku berkata kepadamu: apa saja yang kamu minta dan doakan, percayalah bahwa kamu telah menerimanya, maka hal itu akan diberikan kepadamu. 11:25 Dan jika kamu berdiri untuk berdoa, ampunilah dahulu sekiranya ada barang sesuatu dalam hatimu terhadap seseorang, supaya juga Bapamu yang di sorga mengampuni kesalahan-kesalahanmu.” 11:26 (Tetapi jika kamu tidak mengampuni, maka Bapamu yang di sorga juga tidak akan mengampuni kesalahan-kesalahanmu.)

Renungan:

Dan sekarang kami hendak memuji orang-orang termasyhur, kalimat pembuka dalam perikop ini merupakan  ungkapan tradisional, yang dalam bahasa Ibrani istilah “orang-orang termasyur” ada dalam bentuk tunggal dan terpusatkan pada sikap menghormati leluhur Israel.

Ayat 9 merupakan komentar umum mengenai orang jahat mereka akan lenyap dan tidak diingat lagi, bahkan seperti tidak pernah ada atau tidak pernah dilahirkan. Sebaliknya orang yang hidupnya baik, kebajikannya akan selalu dikenang, turun temurun. Anak keturunannya pun  tetap menghormati bahkan meneladan kebaikan yang pernah dilakukannya menjadi pengajaran kepada anak-cucu. Sehingga seluruh keturunannya mendapatkan keselamatan dan kemuliaannya tetap abadi.

Injil hari ini, iman yang sehat
Apa yang diharapkan dari sebuah pohon buah? Tentu buahnya. Kita tidak akan mengharapkan semaraknya bunga-bunga dari sebuah pohon buah. Kesukaan melihat bunga di pohon buah adalah karena munculnya harapan bahwa suatu saat bunga itu akan menjelma menjadi buah.

Melihat daun-daun sebuah pohon ara, Yesus berharap menemukan buahnya. Memang saat itu belum musim panen buah ara, tetapi seharusnya sudah ada bakal buah. Bila tidak ada bakal buah berarti pohon itu memang tidak akan berbuah. Lalu apa gunanya? Maka Yesus menjadikan pohon itu sebagai media untuk mengajar murid-murid-Nya. Pohon itu merupakan gambaran tentang ketidakpercayaan orang Israel. Tuhan memang terus mencari buah iman dalam hidup orang Israel saat itu (band. Yer. 8:13; Hos. 9:10; Mi. 7:1). Secara tampak luar, kerohanian orang Israel memang mengesankan. Namun seperti rimbunnya daun pada sebuah pohon buah, kelihatan indah tapi bukan itu yang diharapkan. Tidak ada buah iman yang tampak. Ini munafik namanya.

Tidak adanya buah iman diperlihatkan oleh para pemimpin agama Yahudi yang bertugas mengelola Bait Allah. Mereka tidak mengawasi penggunaan Bait Allah dengan benar, bahkan ikut terlibat dalam penyalahgunaannya. Akibatnya kekhusukan ibadah berganti dengan riuh aktivitas pasar, yang penuh kecurangan karena didorong oleh keinginan mencari keuntungan. Padahal Bait Allah adalah rumah doa dan bukan sarang penyamun. Itulah sebabnya Yesus kemudian menyucikan Bait Allah.

Iman yang hidup dan bertumbuh adalah iman yang berbuah. Buah ditunjukkan bukan melalui banyaknya keterlibatan kita dalam aktivitas kerohanian atau pelayanan. Buah yang menunjukkan pertumbuhan iman yang sehat terlihat melalui tindakan atau perilaku kita. Yaitu ketika kita mendahulukan Allah dan bukan kepentingan diri, ketika kita mendahulukan ibadah dan bukan keuntungan sendiri. Marilah kita periksa iman kita, sehatkah? Bertumbuhkah?

Memindahkan gunung.
Bagi orang Kristen, ini mungkin sudah biasa. Iman yang sanggup memindahkan gunung adalah slogan dari banyak orang Kristen. Sayang, kadang iman dimengerti secara sangat simpel, “percaya saja!” Nas ini mengajak kita untuk merenungkan, iman seperti apa yang sanggup memindahkan gunung.

Pohon ara yang mengering karena kutukan Yesus menjadi batu loncatan bagi diskusi tentang apa arti dari kepercayaan kepada Allah. Pertama tentu saja adalah kepercayaan penuh kepada kuasa Allah. Bahkan, iman ini (Yun.: pistis) dapat memindahkan gunung ke dalam laut. Tidak ada yang tidak mungkin untuk terjadi bagi orang yang meminta dan berdoa kepada Allah.
Tetapi ada hal penting lain yang tidak boleh dilupakan. Seseorang yang beriman kepada Allah juga harus mempunyai hubungan yang baik pula dengan sesamanya. Iman yang dapat memindahkan gunung tidak terpisahkan dari perbuatan yang dapat meruntuhkan tembok- tembok pemisah. Yesus dengan spesifik menunjuk kepada mengampuni kesalahan sesama. Di dunia yang penuh dengan kemajuan teknologi ini, kadang sungguh-sungguh lebih mudah memindahkan sebuah bukit ke dalam laut untuk menguruk sebuah teluk ketimbang meruntuhkan tembok maya berupa kebencian antara sesama manusia. Karena itu, pengampunan kepada sesama sebenarnya merupakan salah satu tanda iman yang penting. Bahkan bisa dikatakan, seseorang belum benar- benar beriman kepada Allah, dan kepada karya pengampunan-Nya, bila ia belum dapat mengampuni sesamanya. Ingin memindahkan gunung, dan melakukan hal-hal besar lain bagi Allah dalam iman dan ketaatan kepada kehendak-Nya? Saling mengampunilah karena Allah.

Renungkan: Hal terpenting bukan bahwa gunung pindah, tetapi demi rencana kasih dan kemuliaan Siapa sang gunung pindah karena iman?

DOA: Tuhan Yesus, bersihkan hatiku dan buatlah aku menjadi tempat yang layak untuk kediaman Roh-Mu. Amin. (Lucas Margono)

Gbr29Mei

Renungan Kamis 28 Mei 2015

Renungan Kamis 28 Mei 2015, Hari Biasa, Pekan Biasa VIII

Bacaan I: Sir 42: 15-25

Kemuliaan Tuhan Dalam Alam Semesta

42:15 Pekerjaan Tuhan hendak kukenangkan, dan apa yang telah kulihat hendak kukisahkan. Segala pekerjaan Tuhan dijadikan dengan firman-Nya. 42:16 Matahari bercahaya memandang segala sesuatunya dan ciptaan Tuhan itu penuh dengan kemuliaan-Nya. 42:17 Kepada orang-orang-Nya yang kudus Tuhan tidak memberikan kemampuan untuk menceritakan segala buatan-Nya yang mengagumkan, yang telah ditentukan Tuhan alam semesta, supaya jagat raya didukung dengan kemuliaan-Nya. 42:18 Lubuk lautan dan hati diselami oleh-Nya, dan segala rencananya diketahui-Nya. Sebab Yang Mahatinggi mengenal segala sesuatu yang dapat dikenal dan menilik tanda-tanda zaman. 42:19 Yang sudah-sudah diberitahukan-Nya dan juga apa yang datang, dan bekas dari apa yang tersembunyipun disingkapkan-Nya. 42:20 Tidak ada pikiran satu pun yang terluput dari pada Tuhan dan perkataan mana pun tak tersembunyi bagi-Nya. 42:21 Ciptaan besar dari kebijaksanaan-Nya rapih diatur oleh-Nya, oleh karena dari kekal sampai kekal Ia ada. Tidak ada sesuatu pun yang dapat ditambahkan atau diambil dari padanya dan Ia tidak membutuhkan seorang pun sebagai penasehat. 42:22 Betapa eloklah segala ciptaan Tuhan, tetapi hanya sebagai bunga api sajalah apa yang nampak. 42:23 Semuanya hidup dan tetap tinggal untuk selama-lamanya guna setiap keperluan, dan semuanya patuh kepada-Nya. 42:24 Segala-galanya berpasang, yang satu berhadapan dengan yang lain, dab tidak ada sesuatu pun yang diciptakan-Nya kurang lengkap. 42:25 Yang satu menguatkan kebaikan dari yang lain, dan siapa gerangan pernah kenyang-kenyang memandang kemuliaan Tuhan?

Mazmur: 33:2-3,4-5,6-7,8-9

Refren: Oleh Firman Tuhan langit telah dijadikan.

Mazmur:

* Bersyukurlah kepada Tuhan dengan kecapi, bermazmurlah bagi-Nya dengan gambus sepuluh kali! Nyanyikanlah bagi-Nya lagu yang baru; petiklah kecapi baik-baik mengiringi sorak dan sorai!

* Sebab firman Tuhan itu benar, segala sesuatu dikerjakan-Nya dengan kesetiaan. Ia senang pada keadilan dan hokum; bumi penuh dengan kasih setia-Nya.

* Oleh firman Tuhan langit telah dijadikan, oleh nafas dari mulut-Nya diciptakan segala tentara-Nya. Ia mengumpulkan air laut seperti dalam kantung, samudra raya ditaruh-Nya dalam bejana.

* Biarlah seluruh bumi takut kepada Tuhan, biarlah segenap penduduk dunia gentar terhadap-Nya! Sebab Dia berfirman, maka semuanya jadi; Dia memberi perintah, maka semuanya ada.

Bacaan Injil: Mrk 10:46-52

Yesus menyembuhkan Bartimeus
10:46 Lalu tibalah Yesus dan murid-murid-Nya di Yerikho. Dan ketika Yesus keluar dari Yerikho, bersama-sama dengan murid-murid-Nya dan orang banyak yang berbondong-bondong, ada seorang pengemis yang buta, bernama Bartimeus, anak Timeus, duduk di pinggir jalan. 10:47 Ketika didengarnya, bahwa itu adalah Yesus orang Nazaret, mulailah ia berseru: “Yesus, Anak Daud, kasihanilah aku!” 10:48 Banyak orang menegornya supaya ia diam. Namun semakin keras ia berseru: “Anak Daud, kasihanilah aku!” 10:49 Lalu Yesus berhenti dan berkata: “Panggillah dia!” Mereka memanggil orang buta itu dan berkata kepadanya: “Kuatkan hatimu, berdirilah, Ia memanggil engkau.” 10:50 Lalu ia menanggalkan jubahnya, ia segera berdiri dan pergi mendapatkan Yesus. 10:51 Tanya Yesus kepadanya: “Apa yang kaukehendaki supaya Aku perbuat bagimu?” Jawab orang buta itu: “Rabuni, supaya aku dapat melihat!” 10:52 Lalu kataYesus kepadanya: “Pergilah, imanmu telah menyelamatkan engkau!” Pada saat itu juga melihatlah ia, lalu ia mengikuti Yesus dalam perjalanan-Nya.

Renungan:

“Pekerjaan Tuhan hendak kukenang” mengawali madah Bin Sirakh yang berbicara mengenai asal-usul karya Allah dan ketidakkemungkinannya untuk melukiskan semuanya, juga oleh orang-orang-Nya yang kudus (ay 17). Lubuk lautan adalah terjemahan istilah Ibrani bagi wilayah di bawah dunia yang tampak ini, dan hati manusia adalah lambang dari kenyataan yang tak terselami, hanya Sang Pencipta sendiri yang dapat memahaminya, Ayat 23-25 menambah sejumlah pengamatan atas kebaikan dan tata penciptaan. Bin Sirakh tidak bermaksud mengajar bahwa tidak akan ada akhir dari dunia.

Injil hari ini, Iman memampukan melihat
Setiap orang pasti mempunyai harapan dalam hidupnya. Bisa berupa kehidupan yang layak, kedudukan atau karier yang mantap, relasi yang baik, dan sebagainya.

Lalu apa yang menjadi harapan seorang buta, seperti Bartimeus? Tentu agar dia dapat melihat. Selama itu ia hidup dalam kegelapan. Ia hanya bisa mendengar cerita orang tentang cerahnya sinar matahari, tanpa bisa melihatnya. Maka ketika mendengar bahwa rombongan Yesus melewati tempat dia duduk mengemis, dia tidak mau melewatkan kesempatan itu sedikit pun. Mungkin sebelumnya ia telah mendengar berita tentang mukjizat-mukjizat yang Yesus lakukan. Siapa tahu itulah saatnya bagi dia untuk mengalami mukjizat Yesus. Lalu berteriaklah dia memanggil-manggil Yesus (ayat 47). Dia tak menghiraukan orang-orang yang menyuruh dia diam (ayat 48).

Adalah menarik bila kita melihat bahwa Bartimeus memanggil Yesus dengan sebutan “Anak Daud”. Sebutan ini bagai memperdengarkan pengharapan mesianik. Mungkin ungkapan Bartimeus bernuansa politis, tetapi melalui peristiwa ini Yesus menyatakan kemesiasan-Nya.

Kita juga melihat bahwa harapan Bartimeus yang dilandasi iman, yaitu agar ia dapat melihat, digenapi. Harapan itu menuntun dia memasuki masa pemuridan dan pengenalannya akan Yesus, yang saat itu dalam perjalanan menuju salib. Peristiwa ini juga memperlihatkan sikap Bartimeus sebagai seorang murid. Responsnya untuk meninggalkan segala sesuatu demi ikut Yesus, yang dilambangkan dengan ‘melemparkan jubahnya\’ (ayat 50), bertolak belakang dengan orang kaya yang tidak rela meninggalkan harta miliknya (ayat 17 dst). Keinginannya ‘hanya untuk dapat melihat\’ juga bertolak belakang dengan Yakobus dan Yohanes yang minta kedudukan. Beriman kepada Yesus dan menjadi murid-Nya bukan mengarahkan kita kepada hal-hal yang bersifat materi, tetapi menolong kita untuk memahami makna salib Kristus. Belajarlah dari Bartimeus, yang meskipun buta fisik, tetapi dapat melihat Tuhan dengan imannya.

DOA: Tuhan Yesus, aku ingin sekali mengalami kuasa dari kasih dan kebangkitan-Mu. Aku ingin menerima kepenuhan janji-janji-Mu dan ingin menjadi seorang pribadi yang utuh. Tuhan Yesus, bukalah mata hatiku agar dapat memandang-Mu pada hari ini. Sembuhkanlah aku dan berdayakanlah aku agar mau dan mampu memancarkan terang-Mu kepada dunia di sekelilingku. Amin. (Lucas Margono)

Mei28

Renungan Rabu, 27 Mei 2015

Renungan Rabu 27 Mei 2015, Hari Biasa Pekan Biasa VIII

Pfak. S. Agustinus dr Canterbury , Usk
OCSO. Pw. S. Agustinus dr Canterbury , Usk

Bacaan I: Sir 36:1,4-5a,10-17

36:1 Kasihanilah kami hai Penguasa, Allah semesta alam, dan pandangilah kami dan curahkanlah kedahsyatan-Mu ke atas segala bangsa.
36:4 Maka Engkau akan diketahui mereka seperti telah kami ketahui, bahwa tidak ada Allah kecuali Engkau, ya Tuhan. 36:5 Hendaklah membaharui tanda dan mengulang mujizat, memuliakan tangan-Mu serta lengan kanan-Mu.

36:10 Sudilah mengumpulkan segala suku Yakub serta mengembalikan  kepada mereka tanah pusakanya seperti sediakala. 36:11 Kasihanilah umat yang disebut menurut nama-Mu, yaitu Israel yang telah Kausamakan dengan anak sulung. 36:12 Kasihanilah kota-Mu yang kudus, yaitu Yerusalem, kota tempat istirahat-Mu. 36:13 Penuhilah Sion dengan pujian karena perbuatan-Mu yang perkasa, dan Bait-Mu dengan kemuliaan-Mu. 36:14 Berikanlah kesaksian tentang makhluk-makhluk-Mu yang pada awal mula Kauciptakan, dan penuhilah segala nubuat yang telah dibawakan atas nama-Mu. 36:15 Berikanlah ganjaran kepada mereka yang menantikan Dikau, dan buktikanlah kebenaran segala nabi-Mu. 36:16 Ya Tuhan, dengarkanlah doa hamba-hamba-Mu ini sesuai dengan berkat Harun atas umat-Mu. 36:17 Semoga semua penghuni bumi ini mengakui, bahwa Engkaulah Tuhan, Allah kekal.

Mazmur: 79:8,9,11,13

Refren: Tunjukkanlah kepada kami, ya Tuhan, cahaya belas kasih-Mu.

Mazmur:

*   Janganlah perhitungkan, kepada kami kesalahan nenek moyang! Kiranya rahmat-Mu segera menyongsong kami, sebab sudah sangat lemahlah kami,

*    Demi kemuliaan  nama-Mu, tolonglah kami, ya Allah penyelamat! Lepaskanlah kami, dan ampunilah dosa kami oleh karena nama-Mu!

*    Biarlah sampai kehadapan-Mu keluhan orang tahanan; sesuai dengan kebenaran lengan-Mu, biarkanlah hidup orang-orang yang ditentukan untuk mati dibunuh!

*    Maka kami, umat-Mu, dan kawanan domba gembalaan-Mu, akan bersyukur kepada-Mu untuk selama-lamanya, dan akan memberitakan puji-pujian bagi-Mu turun-temurun.

Bacaan Injil: Mrk 10:32-45

Pemberitahuan ketiga tentang penderitaan Yesus
10:32 Yesus dan murid-murid-Nya sedang dalam perjalanan ke Yerusalem dan Yesus berjalan di depan. Murid-murid merasa cemas dan juga orang-orang yang mengikuti Dia dari belakang merasa takut. Sekali lagi Yesus memanggil kedua belas murid-Nya dan Ia mulai mengatakan kepada mereka apa yang akan terjadi atas diri-Nya, 10:33 kata-Nya: “Sekarang kita pergi ke Yerusalem dan Anak Manusia akan diserahkan kepada imam-imam kepala dan ahli-ahli Taurat, dan mereka akan menjatuhi Dia hukuman mati. Dan mereka akan menyerahkan Dia kepada bangsa-bangsa yang tidak mengenal Allah, 10:34 dan Ia akan diolok-olokkan, diludahi, disesah dan dibunuh, dan sesudah tiga hari Ia akan bangkit.” 10:35 Lalu Yakobus dan Yohanes, anak-anak Zebedeus, mendekati Yesus dan berkata kepada-Nya: “Guru, kami harap supaya Engkau kiranya mengabulkan suatu permintaan kami!” 10:36 Jawab-Nya kepada mereka: “Apa yang kamu kehendaki Aku perbuat bagimu?” 10:37 Lalu kata mereka: “Perkenankanlah kami duduk dalam kemuliaan-Mu kelak, yang seorang lagi di sebelah kanan-Mu dan yang seorang di sebelah kiri-Mu.” 10:38 Tetapi kata Yesus kepada mereka: “Kamu tidak tahu apa yang kamu minta. Dapatkah kamu meminum cawan yang harus Kuminum dan dibaptis dengan baptisan yang harus Kuterima?” 10:39 Jawab mereka: “Kami dapat.” Yesus berkata kepada mereka: “Memang, kamu akan meminum cawan yang harus Kuminum dan akan dibaptis dengan baptisan yang harus Kuterima. 10:40
Tetapi hal duduk di sebelah kanan-Ku atau di sebelah kiri-Ku, Aku tidak
berhak memberikannya. Itu akan diberikan kepada orang-orang bagi siapa itu telah disediakan.” 10:41 Mendengar itu kesepuluh murid yang lain menjadi marah kepada Yakobus dan Yohanes. 10:42 Tetapi Yesus
memanggil mereka lalu berkata: “Kamu tahu, bahwa mereka yang disebut pemerintah bangsa-bangsa memerintah rakyatnya dengan tangan besi, dan pembesar-pembesarnya menjalankan kuasanya dengan keras atas mereka.10:43 Tidaklah demikian di antara kamu. Barangsiapa ingin menjadi besar diantara kamu, hendaklah ia menjadi pelayanmu, 10:44 dan barangsiapa ingin menjadi yang terkemuka di antara kamu, hendaklah ia menjadi hamba untuk semuanya. 10:45 Karena Anak Manusia juga datang bukan untuk dilayani, melainkan untuk melayani dan untuk memberikan nyawa-Nya menjadi tebusan bagi banyak orang.”

Renungan:

Doa-doa dalam kitab Sirakh merupakan gejala yang banyak terdapat dalam kitab ini, berlawanan dengan kitab-kitab kebijaksanaan yang lain. Sangat sukar menentukan keadaan yang mendorong penyusunan doa seperti mazmur ini. Karena banyak mazmur tidak mempunyai cirri khusus dan doa semacam ini dapat diterapkan kepada Israel sepanjang masa dalam saat kacau.

Ayat 1-4 menekankan tentang kekuatan dan universalnya Allah, sebagai Allah yang Esa. Yahwe melaksanakan kekuasaan atas segala bangsa. Mulai pembuangan di Babel orang-orang  Israel berulang kali menyerukan kesucian Allah yang mendorong umat Israel juga melakukan hidup suci; kekalahan para musuh di waktu mendatang akan menunjukkan kekuasaan Allah atas Israel (ay 3).

Bin Sirakh berseru kepada Allah mohon agar  mukjizat terjadi, (ay 5 dan 8) bagi bangsa Israel . Permohonan khas bagi Israel diarahkan untuk pembangunan kembali tatanan lama. Yakub sebagai nenek moyang dan asal-usul bangsa Yahudi disebut juga Israel, Suku kata terakhir Israel, yaitu “el”  berarti “Allah”. Maka panggilan Israel panggilan pada  nama Allah sendiri (ay 11). Permohonan untuk memenuhi kenizah dengan kemuliaan Allah (ay 13). Hal ini mengingatkan mereka pada masa sedih dan sengsara ketika kemuliaan Allah meninggalkan kenizah (Yeh 11:23). Jika kemuliaan Allah kembali maka para nabi seperti Yehezkiel akan dinyatakan benar (ay 14-15).

Bin Sirakh mengulangi permohonannya  dengan motif bahwa Allah selalu dan selamanya bermurah hati kepada Israel (ay 16). Jawaban Allah tentunya merupakan  kemuliaan yang lebih besar bagi Allah sendiri, sebab Allah akan diakui sebagai Allah kekal oleh seluruh penghuni dunia  (ay 17). Ayat ini menunjukkan perhatian yang berkembang dalam panggilan Israel sebagai nabi dari Allah yang Esa, dan akan mendorong usaha untuk menobatkan orang-orang Galilea kepada Yudaisme, tidak lama menjelang masa bin Sirakh.

Injil hari ini,  Ada apa dengan Yerusalem? Yerusalem, adalah kota yang disebut-sebut Yesus dalam pemberitaan-Nya sebagai kota penggenapan rencana keselamatan Allah. Di kota inilah Yesus akan mati di tangan bangsa-bangsa kafir! Mereka yang menyertai Yesus masuk kota itu cemas. Satu-satunya yang tidak menunjukkan kecemasan dalam rombongan itu hanyalah Yesus. Yesus dengan penuh kerelaan menyadari bahwa Ia harus menderita, dan mati bagi semua orang. Perjalanan menuju Yerusalem adalah perjalanan penuh ketakutan dan penderitaan, tetapi sekaligus perjalanan menuju kemenangan di mana semua tindakan dan karya-Nya mengarah ke salib yang membebaskan kita dari kuasa dosa.

Sungguh ironis, sebab di saat para murid cemas, Yakobus dan Yohanes, anak-anak Zebedeus, melihat kondisi ini sebagai suatu kesempatan untuk mendapatkan kedudukan tinggi, dan tempat terhormat. Namun permintaan mereka dijawab Yesus dengan menjelaskan dua hal. Pertama, cawan yang harus Ia minum. Cawan itu merupakan lambang sukacita (lih. Mzm. 23:5; 116:13), dan dukacita dalam PL (lih. Mzm. 11:6; Yeh. 23:31-34; Yes. 51:17-23; Yer. 25:15;Rat. 4:21). Yesus memakai cawan dalam pengertian terakhir, yaitu bahwa Ia harus minum dari cawan yang berisikan hukuman. Kedua, baptisan. Dibaptis berarti merendahkan diri dengan penuh kepatuhan, mengorbankan diri sendiri (bdk. Luk. 12:50). Melalui kedua gambaran ini jelas bahwa demi Kerajaan itu Yesus harus menderita. Mampukah para murid melakukan hal ini?

Melalui penderitaan Kristus, kita mendapatkan teladan pelayanan dan kehidupan kristiani, yaitu melayani dalam kasih, kerendahan hati, penaklukan diri kepada kehendak Allah (bdk. Flp. 2:1-11).

Renungkan: Kebenaran Allah menjadi nyata melalui kematian Yesus Kristus, dan belas kasihan Allah kepada kita dinyatakan melalui kurban pengganti yang Allah sendiri berikan.

DOA: Tuhan Yesus, aku ingin menjadi seorang pelayan seperti Engkau. Tolonglah aku untuk cukup mengerem diriku agar dapat berdiam dalam kasih-Mu dan kerahiman (belaskasih)-Mu, sehingga dengan demikian aku pun dapat berbagi kasih-Mu dan  kerahiman (belaskasih)-Mu itu dengan orang-orang lain. Amin. (Lucas Margono)

Mei27

Renungan Selasa, 26 Mei 2015

Renungan Selasa 26 Mei 2015, Pw. S. Filipus Neri, Im; Pekan Biasa VIII

Bacaan I: Sir 35:1-12

35:1 Barangsiapa memenuhi hukum Taurat mempersembahkan banyak korban, dan orang yang memperhatikan segala perintah menyampaikan korban keselamatan. 35:2 Orang yang membalas kebaikan mempersembahkan korban sajian dan yang memberikan derma menyampaikan korban syukur. 35:3 Yang direlai oleh Tuhan ialah menjauhi kejahatan, dan menolak kelaliman merupakan korban penghapus dosa. 35:4 Jangan tampil di hadirat Tuhan dengan tangan yang kosong, sebab semuanya wajib menurut perintah. 35:5 Persembahan orang jujur melemaki mezbah, dan harumnya sampai ke hadapan Yang Mahatinggi. 35:6 Tuhan berkenan kepada korban orang benar, dan ingatannya tidak akan dilupakan. 35:7 Muliakanlah Tuhan dengan kemurahan, dan buah bungaran di tanganmu janganlah kausedikitkan. 5:8 Sertakanlah muka yang riang dengan segala pemberianmu, dan bagian sepersepuluh hendaklah kaukuduskan dengan suka hati. 35:9 Berikanlah kepada Yang Mahatinggi berpadanan dengan apa yang la berikan kepadamu, dengan murah hati dan sesuai dengan hasil tanganmu. 35:10 Sebab Dia itu Tuhan pembalas, dan engkau akan dibalas-Nya dengan tujuh lipat. 35:11 Jangan mencoba menyuap Tuhan, sebab tidak diterima-Nya, dan janganlah percaya pada korban kelaliman! 35:12 Sebab Tuhan adalah Hakim, yang tidak memihak.

Mazmur: 50:5-6,7-8,14,23

Refren: Orang yang jujur jalannya, akan menyaksikan keselamatan yang dari Allah.

Mazmur:

* “Bawalah kemari orang-orang yang Kukasihi, yang mengikat perjanjian dengan Daku, perjanjian yang dilakukan dengan kurban sembelihan!” Maka langit memberitakan keadilan-Nya: Allah sendirilah Hakim!

* Dengarlah, hai umat-Ku, Aku hendak berfirman! Dengarkanlah, hai Israel, Aku hendak bersaksi terhadap kamu: Akulah Allah, Allahmu! Bukan Karena kurban sembelihan engkau Kuhukum. Sebab kurban bakaranmu senantiasa ada dihadapan-Ku!

* Persembahkanlah syukur sebagai kurban kepada Allah, dan bayarlah nazarmu kepada Yang Mahatinggi. Siapa yang mempersembahkan syukur sebagai kurban, ia memuliakan Daku; dan siapa yang jujur jalannya, akan menyaksikan keselamtan yang dari Allah!

Bacaan Injil: Mrk 10:28-31

Upah mengikut Yesus
10:28 Berkatalah Petrus kepada Yesus: “Kami ini telah meninggalkan segala sesuatu dan mengikut Engkau!” 10:29 Jawab Yesus: “Aku berkata kepadamu, sesungguhnya setiap orang yang karena Aku dan karena Injil meninggalkan rumahnya, saudaranya laki-laki atau saudaranya perempuan, ibunya atau bapanya, anak-anaknya atau ladangnya, 10:30 orang itu sekarang pada masa ini juga akan menerima kembali seratus kali lipat: rumah, saudara laki-laki, saudara perempuan, ibu, anak dan ladang, sekalipun disertai berbagai penganiayaan, dan pada zaman yang akan datang ia akan menerima hidup yang kekal.10:31 Tetapi banyak orang yang terdahulu akan menjadi yang terakhir dan yang terakhir akan menjadi yang terdahulu.”

Renungan:

Ibadat yang diterima.
Dalam ayat-ayat kitab Sirakh hari ini, mengumpulkan konsep hukum dan ibadat. Ayat 1 merupakan tema yang mengemukakan argument; Kurban keselamatan dan kurban sajian menunjuk kepada aneka kurban Ibrani, seperti membalas kebaikan dan kurban syukur dan kurban penghapus dosa (ay 2 dan 3). Sirakh disini berbicara secara umum, karena daftar kurban ini tidak mencantumkan semua kemungkinan kurban dalam Perjanjian Lama, meskipun ditambah dengan “sepersepuluhan” dalam ayat 8.

Ayat 10 menutup pengajaran dengan motif dasariah, diberikan dalam motif Amsal: Tuhan pembalas, suatu ungkapan yang benar sejak dulu, sekarang dan yang akan datang. Di sini seperti di tempat lain disebutkan konsep dari ganjaran perseorangan karena melakukan kebaikan; kasih bagi bin Sirakh bukanlah semata-mata pekerjaan yang layak diganjar saja.

Gaya kenabian dari bin Sirakh diteruskan lagi dalam pengajaran berikut, dalam ayat 11-12 dengan pernyataan tema dan motif . Motifnya adalah keadilan dan tidak ada suatu pun yang menyenangkan Allah, barangkali karena tidak ada yang menyenangkan dalam dunia yang sudah diatur oleh keadilan Allah.
Berlawanan dengan pandangan statis itu bin Sirakh menempatkan belas kasih Allah di hadapan dosa dan kebutuhan manusia.

Injil hari ini, Akan dihargai
Bila si orang kaya tidak bersedia melepas hartanya untuk mengikut Yesus, maka para murid telah meninggalkan segala sesuatu demi Yesus. Lalu adakah keuntungan bagi para murid yang telah melakukan semua itu?

Yesus menjelaskan bahwa segala pengorbanan bagi Tuhan akan dihargai (ayat 30). Mereka yang harus kehilangan sesuatu karena mengikut Kristus, akan menerima balasan berlipat kali ganda sebagai ganti dari semua kehilangan yang diderita. Meski yang kehilangan bersifat fisik atau materi, tetapi kita belum tentu mendapatkan ganti yang berupa demikian. Namun yang ingin Yesus katakan adalah bahwa Tuhan tidak tutup mata terhadap semua itu. Tuhan melihat dan memperhatikan. Dia tidak mengabaikan orang-orang yang telah mengorbankan segala sesuatu demi mengikut Dia. Maka meski murid-murid-Nya harus miskin, menderita, terhina, dan dianiaya karena Dia, mereka akan ditinggikan oleh Allah. Dan mereka yang duduk dalam posisi elite di dunia ini dan tidak pernah menghiraukan Kristus, akan menduduki tempat terakhir nantinya. Tidak akan ada penghormatan sedikit pun bagi mereka.

Pertanyaan para murid kadangkala menjadi pertanyaan kita juga ketika melihat pengorbanan kita dalam pelayanan begitu besar, baik berupa waktu, tenaga, pikiran, maupun harta. Lalu kita membandingkannya dengan orang lain, yang kelihatannya sedikit berkorban, tetapi mendapat nama dan penghargaan, bahkan dari apa yang kita lakukan. Mungkin terasa menyakitkan bagi kita. Namun jawaban Yesus kepada para murid memberikan kepastian bahwa Tuhan, Yang empunya pelayanan, melihat apa yang kita lakukan. Dan Dia menghargai semua itu. Tentu saja kita pun harus menyadari, hendaknya pelayanan yang kita lakukan tidak didasarkan atas bayangan penghargaan yang akan kita terima dari Allah. Lakukanlah pelayanan kita sebagai wujud ucapan syukur dan terima kasih kita kepada Dia, yang telah mempercayai kita untuk melayani Dia.

DOA: Tuhan Yesus, kupersembahkan segala pujian dan kehormatan dan kemuliaan! Tolonglah aku agar mau dan mampu menempatkan hatiku di atas altarmu. Aku percaya akan segala berkat-Mu yang berlimpah atas diriku dan aku pun bersukacita dalam kemanisan kehadiran-Mu. Amin. (Lucas Margono)

Mei26