Renungan Selasa, 19 Mei 2015

Renungan Selasa, 19 Mei 2015, Hari Biasa Pekan VII Paskah

OAD: Pfak. B. Clemens dr Osimo dan Augustinus Tarano, Im
OFMCap: Pw. S. Krispinus dr Viterbo, Biarw
OSCCap: Pfak. S. Krispinus dr Viterbo, Biarw
OSA: Pfak B.Clemens dr Viterbo dan Augustinus Tarano, Im.

Bacaan I: Kis 20:17-27

Perpisahan Paulus dengan para penatua di Efesus
20:17 Karena itu ia menyuruh seorang dari Miletus ke Efesus dengan pesan supaya para penatua jemaat datang ke Miletus. 20:18 Sesudah mereka datang, berkatalah ia kepada mereka: “Kamu tahu, bagaimana aku hidup di antara kamu sejak hari pertama aku tiba di Asia ini: 20:19 dengan segala rendah hati aku melayani Tuhan. Dalam pelayanan itu aku banyak mencucurkan air mata dan banyak mengalami pencobaan dari pihak orang Yahudi yang mau embunuhaku. 20:20 Sungguhpun demikian aku tidak pernah melalaikan apa yang berguna bagi kamu. Semua kuberitakan dan kuajarkan kepada kamu, baik di muka umum maupun dalam perkumpulan-perkumpulan di rumah kamu; 20:21 aku senantiasa bersaksi kepada orang-orang Yahudi dan orang-orang Yunani, supaya mereka bertobat kepada Allah dan percaya kepada Tuhan kita, Yesus Kristus. 20:22 Tetapi sekarang sebagai tawanan Roh aku pergi ke Yerusalem dan aku tidak tahu apa yang akan terjadi atas diriku di situ 20:23 selain dari pada yang dinyatakan Roh Kudus dari kota ke kota kepadaku, bahwa penjara dan sengsara menunggu aku. 20:24 Tetapi aku tidak menghiraukan nyawaku sedikitpun, asal saja aku dapat mencapai garis akhir dan menyelesaikan pelayanan yang ditugaskan oleh Tuhan Yesus kepadaku untuk memberi kesaksian tentang Injil kasih karunia Allah. 20:25 Dan sekarang aku tahu, bahwa kamu tida akan melihat mukaku lagi, kamu sekalian yang telah kukunjungi untuk memberitakan Kerajaan Allah. 20:26 Sebab itu pada hari ini aku bersaksi kepadamu, bahwa aku bersih, tidak bersalah terhadap siapapun yang akan binasa. 20:27 Sebab aku tidak lalai memberitakan seluruh maksud Allah kepadamu.

Mazmur: 68:10-11,20-21

Refren: Hai kerajaan-kerajaan bumi, menyanyilah bagi Allah!

* Hujan yang melimpah Engkau siramkan, ya Allah; tanah milik-Mu yang gersang Kaupulihkan, sehingga kawanan hewan-Mu menetap di sana; dalam kebaikan-Mu. Engkau memenuhi kebutuhan orang yang tertindas.

* Terpujilah Tuhan! Hari demi hari Ia menanggung beban kita; Allah adalah keselamatan kita. Allah kita adalah Allah yang menyelamatkan, Allah, Tuhanku, memberi keluputan dari maut.

Bacaan Injil: Yoh 17:1-11a

Doa Yesus untuk murid-murid-Nya
17:1 Demikianlah kata Yesus. Lalu Ia menengadah ke langit dan berkata: “Bapa, telah tiba saatnya; permuliakanlah Anak-Mu, supaya Anak-Mu mempermuliakan Engkau. 17:2 Sama seperti Engkau telah memberikan kepada-Nya kuasa atas segala yang hidup, demikian pula Ia akan memberikan hidup yang kekal kepada semua yang telah Engkau berikan kepada-Nya. 17:3 Inilah hidup yang kekal itu, yaitu bahwa mereka mengenal Engkau, satu-satunya Allah yang benar, dan mengenal Yesus Kristus yang telah Engkau utus. 17:4 Aku telah mempermuliakan Engkau di bumi dengan jalan menyelesaikan pekerjaan yang Engkau berikan kepada-Ku untuk melakukannya. 17:5 Oleh sebab itu, ya Bapa, permuliakanlah Aku pada-Mu sendiri dengan kemuliaan yang Kumiliki dihadirat-Mu sebelum dunia ada. 17:6 Aku telah menyatakan nama-Mu kepada semua orang, yang Engkau berikan kepada-Ku dari dunia. Mereka itu milik-Mu dan Engkau telah memberikan mereka kepada-Ku dan mereka telah menuruti firman-Mu. 17:7 Sekarang mereka tahu, bahwa semua yang Engkau berikan kepada-Ku itu berasal dari pada-Mu. 17:8 Sebab segala firman yang Engkau sampaikan kepada-Ku telah Kusampaikan kepada mereka dan mereka telah menerimanya. Mereka tahu benar-benar, bahwa Aku datang dari pada-Mu, dan mereka percaya, bahwa Engkaulah yang telah mengutus Aku. 17:9 Aku berdoa
untuk mereka. Bukan untuk dunia Aku berdoa, tetapi untuk mereka, yang telah Engkau berikan kepada-Ku, sebab mereka adalah milik-Mu 17:10 dan segala milik-Ku adalah milik-Mu dan milik-Mu adalah milik-Ku, dan Aku telah dipermuliakan di dalam mereka. 17:11 Dan Aku tidak ada lagi di dalam dunia, tetapi mereka masih ada di dalam dunia, dan Aku datang kepada-Mu. Ya Bapa yang kudus, peliharalah mereka dalam nama-Mu, yaitu nama-Mu yang telah Engkau berikan kepada-Ku, supaya mereka menjadi satu sama seperti Kita.

Renungan:

Kesetiaan memberitakan Injil
Di tengah zaman yang menawarkan berbagai bentuk persaingan, kompromi, dan kesenangan sesaat, orang Kristen perlu melakukan evaluasi terhadap orientasi hidup dan pelayanan. Kita bisa belajar dari Paulus:

Pertama, Paulus memiliki konsep pelayanan yang jelas. Ia tidak ragu sedikit pun akan panggilannya sebagai pengabar Injil, meski itu berarti penderitaan atau kematian (19-20, 24).

Kedua, Paulus tidak hanya ingin menyenangkan telinga pendengarnya. Sasarannya adalah supaya orang bertobat dan percaya kepada Tuhan Yesus (21). Itulah sebabnya, ia memberitakan Injil, baik kepada orang Yunani yang tidak mengenal Allah maupun kepada orang Yahudi yang ingin membunuh dia. Ia bahkan berkata bahwa ia telah memberitakan Injil kepada semua orang, baik yang diselamatkan, maupun yang akan binasa (26).

Ketiga, Paulus berorientasi pada tujuan akhir, yaitu menyelesaikan tugas yang diberikan oleh Tuhan kepada dia (24). Paulus melayani bukan untuk kebesaran namanya atau untuk mengumpulkan kekayaan (33). Motivasi Paulus adalah untuk menyenangkan Tuhan dengan cara mencapai garis akhir yang telah ditetapkan oleh Tuhan, bukan oleh ambisi pribadinya.

Keempat, Paulus adalah pelayan Tuhan yang tidak suka mengemis (33-35). Ia tidak hidup dari uang persembahan jemaat. Ia bekerja keras untuk membiayai pelayanannya, dan juga pelayanan rekan-rekan sekerjanya, serta mencukupkan kebutuhan mereka yang berkekurangan.

Paulus memusatkan hidupnya pada Kristus sehingga Kristuslah yang ia utamakan. Dirinya, penghidupannya, bahkan nyawanya sekali pun, rela dia nomor duakan; asalkan Kristus dimuliakan dan semakin dikenal oleh banyak orang. Sikap hidup Paulus kiranya menjadi panutan bagi kita. Walau pun kita bukan orang yang secara khusus bekerja dalam bidang pelayanan, tetapi hidup berpusatkan Kristus kiranya menjadi kerinduan kita juga. Memang akan ada tantangan dan risiko, namun panutan dari Paulus kiranya membangkitkan semangat kita untuk tetap bertahan.

Injil Hari ini, Akrab dengan Allah
Di dalam Kitab Suci, kita menemukan doa-doa yang agung. Kita tentu terkesan dengan doa Salomo (ayat 1Raj. 8), doa Abraham (Kej. 18), atau doa Musa (Kel. 32). Namun doa Tuhan Yesus ini adalah doa teragung yang dicatat di dalam Alkitab. Mempelajari doa Yesus merupakan kesempatan unik bagi kita untuk melihat karakter dan hati Yesus.

Di dalam doa-Nya, Tuhan Yesus menyatakan bahwa Ia telah memuliakan Bapa melalui hidup dan pelayanan-Nya di dunia (ayat 4). Namun saat kematian-Nya telah tiba (ayat 1). Bila sebelumnya Ia telah memuliakan Bapa melalui hidup dan ketaatan-Nya kepada Bapa, maka saat itu Ia berdoa agar dapat memuliakan Bapa juga di dalam kematian-Nya.

Di dalam permulaan doa-Nya, Yesus berdoa bagi diri-Nya sendiri. Ini bukanlah doa yang egois, karena sesungguhnya Ia menujukan semua itu bagi kemuliaan Bapa. Yesus sendiri dimuliakan melalui karya-Nya di kayu salib (ayat 2-3). Ia melakukan karya salib karena kehendak-Nya sendiri dengan menyampingkan kemuliaan kekal yang Dia miliki demi menyelamatkan manusia berdosa. Lalu bagaimana salib memuliakan Bapa? Melalui karya salib, Anak memuliakan Bapa dengan menyatakan kedaulatan Allah atas si jahat, belas kasih Allah bagi manusia, dan pembebasan orang percaya. Melalui salib, Yesus menjadi jalan eksklusif menuju hidup kekal. Dan hidup kekal ini ditemukan melalui pengenalan akan Allah yang dinyatakan di dalam Yesus Kristus (ayat 3).

Kita dapat melihat keakraban Tuhan kita dengan Bapa di dalam doa-Nya ini. Melalui karya salib-Nya, Yesus memungkinkan para pengikut-Nya di masa kini untuk menikmati juga keakraban dengan Bapa. Sebab itu, manfaatkanlah setiap waktu yang kita sediakan untuk bersekutu dengan Allah, menikmati keakraban dengan Bapa seperti yang Yesus nikmati di dalam doa-Nya. Namun ingatlah bahwa keakraban dengan Allah sebagai Bapa merupakan hak istimewa yang seharusnya membuat kita menghormati Dia. Ia telah membayar harga yang mahal untuk kita.

Pemeliharaan Bapa
Pokok doa kedua dari doa syafaat Yesus kepada Bapa adalah permohonan kepada Bapa untuk para murid. Yesus memohon agar Bapa memelihara mereka karena mereka telah menjadi milik Yesus dalam kasih Bapa (ayat 11b).

Beberapa hal penting tentang para murid-Nya, Yesus nyatakan dalam doa-Nya. Pertama, Yesus telah memberitahukan nama Allah kepada mereka. Berarti para pengikut-Nya mengenal kemuliaan Bapa karena Yesus telah menyatakan itu melalui hidup-Nya, ucapan-ucapan-Nya, dan salib-Nya. Kedua, mereka percaya karena diberikan Bapa kepada Yesus (ayat 6, 10). Ketiga, menjadi percaya berarti menaati firman Kristus (ayat 6b, 8). Mereka percaya bahwa Ia berasal dari Bapa dan Bapalah yang telah mengutus-Nya untuk keselamatan mereka. Keempat, Yesus telah memelihara para pengikut-Nya dan tidak seorang pun dari mereka yang binasa, kecuali yang telah ditentukan untuk binasa (ayat 12). Sekarang Ia akan kembali kepada Bapa, tetapi para pengikut-Nya masih tinggal dalam dunia karena ada misi yang harus mereka laksanakan. Maka Yesus berdoa bagi pemeliharaan Bapa atas mereka.

Yesus tidak berdoa bagi dunia, tetapi hanya bagi milik-Nya. Mengapa? Karena Dia ingin agar mereka terjamin pasti dalam hubungan dengan Allah sehingga hidup mereka penuh sukacita (ayat 13, bdk. 16:22), juga agar mereka dapat disiapkan untuk menruskan misi-Nya bagi dunia ini. Doa ini membentangkan kasih Yesus dan Allah yang luar biasa besar bagi para pengikut-Nya, juga keajaiban rencana-Nya bagi orang beriman.
Doa Yesus menunjukkan perhatian dan peduli-Nya bagi kita, murid-murid-Nya pada masa kini yang percaya pada-Nya. Agar kita dapat menjadi penerus pemberita Injil bagi dunia ini maka kita perlu pemeliharaan dan perlindungan Bapa senantiasa. Oleh karena itu, kita harus berdoa tak putus-putusnya memohonkan hal tersebut agar tergenapi.

DOA: Tuhan Yesus, penuhilah diriku dengan semangat penuh gairah seperti telah Kautanamkan ke dalam diri Santo Paulus. Buatlah rasa takutku menjadi tenang dan penuhilah diriku dengan keberanian sejati. Tolonglah aku agar tetap fokus atas kebutuhan-kebutuhan spiritual orang-orang di sekitarku – teristimewa mereka yang dekat padaku. Tuhan Yesus, berikanlah juga kepadaku rahmat untuk berbagi Injil-Mu kepada setiap orang yang kujumpai. Tuhan Yesus, aku sungguh mengasihi-Mu. Amin. (Lucas Margono)

 

Gb19Mei15

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s