Renungan Jumat, 29 Mei 2015

Renungan, Jumat 29 Mei 2015, Hari Biasa, Pekan Biasa VIII

OFS: Pw. S. Maria Anna dr Paredes, Prw Ordo III
OMI: Pfak. B. Yoseph Gerard, Im

Bacaan I: Sir 44:1,9-13

44:1    Dan sekarang kami hendak memuji orang-orang termasyhur, para nenek moyang kita menurut urut-urutannya.
44:9    Tetapi juga ada yang tidak diingat lagi, melainkan lenyap seolah-olah tidak pernah ada; mereka menjadi seolah-olah tidak pernah dilahirkan, dan demikianpun nasib anak-anak mereka sesudahnya.
44:10 Tetapi yang berikut ini adalah orang kesayangan, yang kebajikannya tidak sampai terlupa; 44:11 semuanya tetap tinggal pada keturunannya sebagai warisan baik yang berasal dari mereka.44:12    Keturunannya tetap setia kepada perjanjian-perjanjian, dan anak-anak merekapun demikian pula keadaannya.44:13 Keturunan mereka akan tetap tinggal untuk selama-lamanya, dan kemuliaannya tidak akan dihapus.

Mazmur: 149:1-2,3-4,5-6a

Refren: Tuhan berkenan kepada umat-Nya.

Mazmur:

*       Nyanyikanlah bagi Tuhan lagu yang baru! Pujilah Dia dalam jemaah orang-orang saleh! Biarlah Israel bersukacita atas Penciptanya, biarlah Sion bersorak-sorai atas raja mereka.

*    Biarlah mereka memuji-muji nama-Nya dengan tarian, biarlah mereka bermazmur kepada-Nya dengan rebana dan kecapi! Sebab Tuhan berkenan kepada umat-Nya, Ia memahkotai orang yang rendah hati dengan keselamatan.

*    Biarlah orang saleh beria-ria dalam kemuliaan, biarlah mereka bersorak-sorai di atas tempat tidur! Biarlah pujian pengagungan Allah ada dalam kerongkongan mereka. Itulah semarak bagi orang yang dikasihi Allah.

Bacaan Injil: Mrk 11:11-26

11:11 Sesampainya di Yerusalem Ia masuk ke Bait Allah. Di sana Ia meninjau semuanya, tetapi sebab hari sudah hampir malam Ia keluar ke Betania bersama dengan kedua belas murid-Nya. 11:12 Keesokan harinya sesudah Yesus dan kedua belas murid-Nya meninggalkan Betania, Yesus merasa lapar. 11:13 Dan dari jauh Ia melihat pohon ara yang sudah berdaun. Ia mendekatinya untuk melihat kalau-kalau Ia mendapat apa-apa pada pohon itu. Tetapi waktu Ia tiba di situ, Ia tidak mendapat apa-apa selain daun-daun saja, sebab memang bukan musim buah ara. 11:14 Maka kata-Nya kepada pohon itu: “Jangan lagi seorangpun makan buahmu selama-lamanya!” Dan murid-murid-Nya pun mendengarnya. 11:15 Lalu tibalah Yesus dan murid-murid-Nya di Yerusalem. Sesudah Yesus masuk ke Bait Allah, mulailah Ia mengusir orang-orang yang berjual beli dihalaman Bait Allah. Meja-meja penukar uang dan bangku-bangku pedagang merpati dibalikkan-Nya, 11:16
dan Ia tidak memperbolehkan orang membawa barang-barang melintasi
halaman Bait Allah. 11:17 Lalu Ia mengajar mereka, kata-Nya: “Bukankah ada tertulis: Rumah-Ku akan disebut rumah doa bagi segala bangsa? Tetapi kamu ini telah menjadikannya sarang penyamun!” 11:18 Imam-imam kepala dan ahli-ahli Taurat mendengar tentang peristiwa itu, dan mereka berusaha untuk membinasakan Dia, sebab mereka takut kepada-Nya,melihat seluruh orang banyak takjub akan pengajaran-Nya. 11:19 Menjelang malam mereka keluar lagi dari kota.11:20 Pagi-pagi ketika Yesus dan murid-murid-Nya lewat, mereka melihat pohon ara tadi sudah kering sampai ke akar-akarnya. 11:21 Maka teringatlah Petrus akan apa yang telah terjadi, lalu ia berkata kepada Yesus: “Rabi, lihatlah, pohon ara yang Kaukutuk itu sudah kering.” 11:22 Yesus menjawab mereka: “Percayalah kepada Allah! 11:23 Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya barangsiapa berkata kepada gunung ini: Beranjaklah dan tercampaklah ke dalam laut! asal tidak bimbang hatinya, tetapi percaya, bahwa apa yang dikatakannya itu akan terjadi, maka hal itu akan terjadi baginya. 11:24 Karena itu Aku berkata kepadamu: apa saja yang kamu minta dan doakan, percayalah bahwa kamu telah menerimanya, maka hal itu akan diberikan kepadamu. 11:25 Dan jika kamu berdiri untuk berdoa, ampunilah dahulu sekiranya ada barang sesuatu dalam hatimu terhadap seseorang, supaya juga Bapamu yang di sorga mengampuni kesalahan-kesalahanmu.” 11:26 (Tetapi jika kamu tidak mengampuni, maka Bapamu yang di sorga juga tidak akan mengampuni kesalahan-kesalahanmu.)

Renungan:

Dan sekarang kami hendak memuji orang-orang termasyhur, kalimat pembuka dalam perikop ini merupakan  ungkapan tradisional, yang dalam bahasa Ibrani istilah “orang-orang termasyur” ada dalam bentuk tunggal dan terpusatkan pada sikap menghormati leluhur Israel.

Ayat 9 merupakan komentar umum mengenai orang jahat mereka akan lenyap dan tidak diingat lagi, bahkan seperti tidak pernah ada atau tidak pernah dilahirkan. Sebaliknya orang yang hidupnya baik, kebajikannya akan selalu dikenang, turun temurun. Anak keturunannya pun  tetap menghormati bahkan meneladan kebaikan yang pernah dilakukannya menjadi pengajaran kepada anak-cucu. Sehingga seluruh keturunannya mendapatkan keselamatan dan kemuliaannya tetap abadi.

Injil hari ini, iman yang sehat
Apa yang diharapkan dari sebuah pohon buah? Tentu buahnya. Kita tidak akan mengharapkan semaraknya bunga-bunga dari sebuah pohon buah. Kesukaan melihat bunga di pohon buah adalah karena munculnya harapan bahwa suatu saat bunga itu akan menjelma menjadi buah.

Melihat daun-daun sebuah pohon ara, Yesus berharap menemukan buahnya. Memang saat itu belum musim panen buah ara, tetapi seharusnya sudah ada bakal buah. Bila tidak ada bakal buah berarti pohon itu memang tidak akan berbuah. Lalu apa gunanya? Maka Yesus menjadikan pohon itu sebagai media untuk mengajar murid-murid-Nya. Pohon itu merupakan gambaran tentang ketidakpercayaan orang Israel. Tuhan memang terus mencari buah iman dalam hidup orang Israel saat itu (band. Yer. 8:13; Hos. 9:10; Mi. 7:1). Secara tampak luar, kerohanian orang Israel memang mengesankan. Namun seperti rimbunnya daun pada sebuah pohon buah, kelihatan indah tapi bukan itu yang diharapkan. Tidak ada buah iman yang tampak. Ini munafik namanya.

Tidak adanya buah iman diperlihatkan oleh para pemimpin agama Yahudi yang bertugas mengelola Bait Allah. Mereka tidak mengawasi penggunaan Bait Allah dengan benar, bahkan ikut terlibat dalam penyalahgunaannya. Akibatnya kekhusukan ibadah berganti dengan riuh aktivitas pasar, yang penuh kecurangan karena didorong oleh keinginan mencari keuntungan. Padahal Bait Allah adalah rumah doa dan bukan sarang penyamun. Itulah sebabnya Yesus kemudian menyucikan Bait Allah.

Iman yang hidup dan bertumbuh adalah iman yang berbuah. Buah ditunjukkan bukan melalui banyaknya keterlibatan kita dalam aktivitas kerohanian atau pelayanan. Buah yang menunjukkan pertumbuhan iman yang sehat terlihat melalui tindakan atau perilaku kita. Yaitu ketika kita mendahulukan Allah dan bukan kepentingan diri, ketika kita mendahulukan ibadah dan bukan keuntungan sendiri. Marilah kita periksa iman kita, sehatkah? Bertumbuhkah?

Memindahkan gunung.
Bagi orang Kristen, ini mungkin sudah biasa. Iman yang sanggup memindahkan gunung adalah slogan dari banyak orang Kristen. Sayang, kadang iman dimengerti secara sangat simpel, “percaya saja!” Nas ini mengajak kita untuk merenungkan, iman seperti apa yang sanggup memindahkan gunung.

Pohon ara yang mengering karena kutukan Yesus menjadi batu loncatan bagi diskusi tentang apa arti dari kepercayaan kepada Allah. Pertama tentu saja adalah kepercayaan penuh kepada kuasa Allah. Bahkan, iman ini (Yun.: pistis) dapat memindahkan gunung ke dalam laut. Tidak ada yang tidak mungkin untuk terjadi bagi orang yang meminta dan berdoa kepada Allah.
Tetapi ada hal penting lain yang tidak boleh dilupakan. Seseorang yang beriman kepada Allah juga harus mempunyai hubungan yang baik pula dengan sesamanya. Iman yang dapat memindahkan gunung tidak terpisahkan dari perbuatan yang dapat meruntuhkan tembok- tembok pemisah. Yesus dengan spesifik menunjuk kepada mengampuni kesalahan sesama. Di dunia yang penuh dengan kemajuan teknologi ini, kadang sungguh-sungguh lebih mudah memindahkan sebuah bukit ke dalam laut untuk menguruk sebuah teluk ketimbang meruntuhkan tembok maya berupa kebencian antara sesama manusia. Karena itu, pengampunan kepada sesama sebenarnya merupakan salah satu tanda iman yang penting. Bahkan bisa dikatakan, seseorang belum benar- benar beriman kepada Allah, dan kepada karya pengampunan-Nya, bila ia belum dapat mengampuni sesamanya. Ingin memindahkan gunung, dan melakukan hal-hal besar lain bagi Allah dalam iman dan ketaatan kepada kehendak-Nya? Saling mengampunilah karena Allah.

Renungkan: Hal terpenting bukan bahwa gunung pindah, tetapi demi rencana kasih dan kemuliaan Siapa sang gunung pindah karena iman?

DOA: Tuhan Yesus, bersihkan hatiku dan buatlah aku menjadi tempat yang layak untuk kediaman Roh-Mu. Amin. (Lucas Margono)

Gbr29Mei

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s