Renungan Sabtu, 30 Mei 2015

Renungan Sabtu, 30 Mei 2015, Hari Biasa, Pekan Biasa VIII

PK: Pfak. B. Marta Wiecka,
OSCI/OSCap: Pfak. B. Baptista Varani, Biarw
PBHK/FDNSB/MSC: Hari Raya Bunda Hati Kudus, Pelindung Utama Tarekat
CDD: Pw. Ratu Para Rasul, Pelindung Utama Kongregasi

Bacaan I: Sir 51:12-20

51:12 Aku hendak bersyukur kepadaMu, ya Tuhan, dan memuji nama Tuhan. 51:13 Pada masa mudaku, sebelum mengadakan perjalanan, kebijaksanaan telah kucari dengan sungguh dalam sembahyangku. 51:14 Kebijaksanaan itu  telah kumohon di depan bait Allah,  dan akan kukejar sampai akhir hidup. 51:15 Hatiku bersukacita atas kebijaksanaan, karena bunganya yang bagaikan buah anggur yang masak. Kakiku melangkah di jalan yang lurus, dan sejak masa mudaku telah kuikuti jejaknya. 51:16 Hanya sedikit saja kupasang telingaku, lalu mendapatinya, dan memperoleh banyak pengajaran bagi diriku. 51:17 Aku maju di dalamnya, dan kuhormati orang yang memberikan kebijaksanaan kepadaku. 51:18 Sebab aku berniat melakukannya, dengan rajin kucari apa yang baik dan aku tidak dikecewakan.
51:19 Hatiku memperjuangkan kebijaksanaan, dan dengan teliti kulaksanakan hukum Taurat. Tanganku telah kuangkat ke sorga, dan aku menyesal karena kurang tahu akan dia. 51:20 Hatiku telah kuarahkan kepada kebijaksanaan, dan dengan kemurnian hati aku menemukannya.

Mazmur: 19:8,9,10,11

Refren: Titah Tuhan itu tepat, menyukakan hati.

Mazmur:

*       Taurat Tuhan itu sempurna, menyegarkan jiwa; peraturan Tuhan teguh, memberikan hikmat kepada orang bersahaja.

*    Titah Tuhan itu tepat, menyukakan hati; perintah Tuhan itu murni, membuat mata ceria.

*    Takut akan Tuhan itu suci, tetap untuk selama-lamanya; hokum-hukum Tuhan itu benar, adil selalu.

*    Lebih indah daripada emas, bahkan daripada emas tua; dan lebih manis daripada madu, bahkan daripada madu tetesan dari sarang lebah.

Bacaan Injil: Mrk 11:27-33

Pertanyaan mengenai kuasa Yesus
11:27 Lalu Yesus dan murid-murid-Nya tiba pula di Yerusalem. Ketika Yesus berjalan di halaman Bait Allah, datanglah kepada-Nya imam-imam kepala, ahli-ahli Taurat dan tua-tua, 11:28 dan bertanya kepada-Nya: “Dengan kuasa
manakah Engkau melakukan hal-hal itu? Dan siapakah yang memberikan
kuasa itu kepada-Mu, sehingga Engkau melakukan hal-hal itu?” 11:29 Jawab
Yesus kepada mereka: “Aku akan mengajukan satu pertanyaan kepadamu. Berikanlah Aku jawabnya, maka Aku akan mengatakan kepadamu dengan
kuasa manakah Aku melakukan hal-hal itu. 11:30 Baptisan Yohanes itu, dari sorga atau dari manusia? Berikanlah Aku jawabnya!” 11:31 Mereka memperbincangkannya di antara mereka, dan berkata: “Jikalau kita katakan: Dari sorga, Ia akan berkata: Kalau begitu, mengapakah kamu tidak percaya kepadanya? 11:32 Tetapi, masakan kita katakan: Dari
manusia!” Sebab mereka takut kepada orang banyak, karena semua orang menganggap bahwa Yohanes betul-betul seorang nabi. 11:33 Lalu mereka menjawab Yesus: “Kami tidak tahu.” Maka kata Yesus kepada mereka: “Jika demikian, Aku juga tidak mengatakan kepadamu dengan kuasa manakah Aku melakukan hal-hal itu.”

Renungan:

Sirakh memberikan kepada kita suatu perspektif yang indah tentang bagaimana mencari kebenaran Allah – dia rendah hati, menaruh kepercayaan, menaruh hormat, dan lapar akan kebijaksanaan dan rahmat. Para imam kepala dan ahli Taurat pada zaman Yesus justru menunjukkan kepada kita sikap yang benar-benar kebalikannya (lihat Mrk 11:27-33). Mereka banyak menuntut, merasa curiga dan menuduh, senantiasa mencari-cari bukti lanjutan tentang keilahian Yesus. Sirakh mencerminkan rasa percaya dan pengharapan, sedangkan para imam kepala dan ahli Taurat mencerminkan ketidakpercayaan dan rasa takut. Sementara tentunya kita lebih suka untuk mengidentifikasikan diri kita dengan Sirakh, kehidupan doa kita kadang-kadang menunjukkan keraguan dan kegelisahan.

“Maka dari itu aku hendak bersyukur kepada-Mu serta memuji Engkau dan memuji nama Tuhan. Ketika aku masih muda dan sebelum mengadakan perjalananku, maka kebijaksanaan telah kucari dengan sungguh dalam sembahyangku” (Sir 51:12-13)

Kutipan ini kiranya baik menjadi bahan permenungan atau refleksi bagi generasi muda atau mereka yang sedang bertugas belajar di tingkat apapun. Kepada mereka yang sedang bertugas belajar diharapkan belajar dengan sungguh-sungguh, membuka diri terhadap aneka kemungkinan dan kesempatan untuk tumbuh berkembang. Dengan kata lain diharapkan bersikap mental sebagai pembelajar yang tinggi. Selain belajar dari atau melalui apa yang diajarkan di sekolah, juga belajar dari aneka pengalaman hidup sehari-hari, dalam aneka pergaulan dan kebersamaan dengan orang lain. Ingatlah dan sadari bahwa aneka macam teori atau ajaran yang disampaikan di sekolah berasal atau digali dari pengalaman hidup konkret sehari-hari. Selain belajar hendaknya juga tidak dilupakan berdoa, sebagaimana diingatkan oleh penulis kitab Sirach bahwa “kebijaksanan telah kucari dengan sungguh dalam sembahyangku”.

Belajar dan berdoa hendaknya tidak dipisahkan dan hanya dapat dibedakan, artinya semakin banyak belajar hendaknya juga semakin berdoa, semakin berdoa hendaknya juga semakin giat belajar. Dengan kata lain doa menjiwai belajar dan belajar menjiwai doa. Dengan cara itu kami yakin anda akan sampai pada suatu kebajikan yang ada kemungkinan berkembang menjadi kebijakan dan kebijaksanaan. Semoga kita semua memiliki semangat ‘belajar terus-menerus’, on going education/formation. Maka bagi yang sudah bekerja atau berkarya hendaknya juga dengan semangat belajar setiap kali menerima tugas-tugas baru, atau fungsi atau kedudukan baru dalam pekerjaan.

Allah menyatakan disposisi-disposisi mendalam kita dengan menguji kita dalam berbagai situasi, teristimewa dalam doa kita. Ketika kita berjuang untuk berdoa, kita harus bertanya kepada diri kita sendiri dengan otoritas siapa kita sedang mencoba untuk mendekati Allah? Apakah berdasarkan performa/kinerja kita sendiri, atau berdasarkan kebaikan-kebaikan dari kematian dan kebangkitan Yesus? Orang-orang yang telah berhenti mencoba membuktikan kepantasan mereka di hadapan Allah dan kemudian menerima belas kasih dan cintakasih tanpa syarat yang berlimpah-limpah akan mengalami keintiman dengan Allah yang jauh melampaui ekspektasi manusiawi kita. Hati mereka mengalami kedamaian dan nurani mereka pun menjadi jernih.

“Taurat TUHAN itu sempurna, menyegarkan jiwa; peraturan TUHAN itu teguh, memberikan hikmat kepada orang yang tak berpengalaman.Titah TUHAN itu tepat, menyukakan hati; perintah TUHAN itu murni, membuat mata bercahaya. Takut akan TUHAN itu suci, tetap ada untuk selamanya; hukum-hukum TUHAN itu benar, adil semuanya, lebih indah dari pada emas, bahkan dari pada banyak emas tua; dan lebih manis dari pada madu, bahkan dari pada madu tetesan dari sarang lebah” (Mzm 19:8-11).

Injil hari ini, Tak mau mengakui kebenaran
Penyucian Bait Allah yang Yesus lakukan (Mrk. 11:15-19) ternyata memancing reaksi imam-imam kepala, ahli-ahli Taurat dan tua-tua. Tindakan Yesus bagai menantang otoritas mereka. Itulah sebabnya mereka seperti orang kebakaran jenggot. Ingin rasanya mereka menangkap Yesus saat itu juga.

Akan tetapi, popularitas Yesus menahan mereka untuk bertindak demikian, setidaknya untuk saat itu. Yang mereka bisa lakukan hanyalah bertanya kepada Yesus tentang otoritas yang Dia miliki hingga berani melakukan pembersihan di Bait Allah (ayat 28). Mereka berharap bahwa jawaban Yesus dapat menjatuhkan reputasi-Nya dihadapan orang banyak. Dan itu bisa menjadi alasan bagi mereka untuk menangkap Dia. Namun Yesus membalikkan situasi. Untuk menelanjangi motivasi mereka yang sebenarnya, Yesus mengajukan pertanyaan tentang Yohanes Pembaptis. Pertanyaan yang membuat para pemimpin Yahudi itu terjebak dalam posisi sulit. Bila mereka mengakui otoritas Ilahi yang Yohanes miliki, itu justru akan melemahkan posisi mereka karena mereka tidak memercayai dia. Namun jika mereka tidak mengakui, maka mereka akan menerima penilaian buruk dari orang banyak. Serba salah. Satu-satunya jalan yang mereka anggap baik adalah menjawab \’tidak tahu\’. Respons mereka terhadap jawaban Yesus mengemukakan fakta bahwa para pemimpin Yahudi itu bukan sedang mencari kebenaran. Mereka hanya ingin menangkap Yesus karena telah melangkahi otoritas mereka. Yesus tentu saja tahu bagaimana mengatasi keadaan.

Kisah tersebut merupakan contoh nyata tentang manusia yang tidak mau mengakui kebenaran karena kepentingan diri yang terancam. Gejala ini kita temui juga dalam berbagai situasi di sekitar kita. Masih banyak orang yang tidak rela membiarkan Yesus membongkar-bangkir hidupnya. Masih banyak orang yang terlalu khawatir membiarkan dirinya tersudut oleh kebenaran-kebenaran Yesus karena takut meninggalkan apa yang telah dimiliki dan dijalani. Termasuk orang seperti itu jugakah Anda?

DOA: Bapa surgawi, Engkau saja Tuhan (Kyrios) segala ciptaan. Tuan-tuan lain hanya mempunyai sebagian kecil saja dari kuasa-Mu. Terpujilah nama-Mu selama-lamanya. Amin. (Lucas Margono)

Gbr30Mei

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s