Renungan Selasa, 2 Juni 2015

Renungan Selasa, 2 Juni 2015, Hari Biasa, Pekan Biasa IX

Pfak. S. Marselinus dan Petrus, Mrt
CS/ RSCJ: Pesta B. Yohanes Babtista Skalabrini, Usk, Pld Utama Tarekat
OFMCAP: Pw. S. Feliks dr Nikosia, Biarw

Bacaan I: Tb 2:9-14

2:9 Pada malam itu juga aku membasuh diriku, lalu pergi ke pelataran rumah dan tidur dekat pagar temboknya. Mukaku tidak tertudung karena panas. 2:10 Aku tidak tahu bahwa ada burung pipit di tembok tepat di atas diriku. Maka jatuhlah tahu hangat ke dalam mataku. Muncullah bintik-bintik putih. Akupun lalu pergi kepada tabib untuk berobat. Tetapi semakin aku diolesnya dengan obat, semakin buta mataku karena bintik-bintik putih itu, sampai buta sama sekali. Empat tahun lamanya aku tidak dapat melihat. Semua saudaraku merasa sedih karena aku. Dua tahun lamanya aku dipelihara oleh Ahikar sampai ia pindah ke kota Elumais. 2:11 Di masa itu isteriku Hana mulai memborong pekerjaan perempuan. 2:12 Pekerjaan itupun diantarkannya kepada para pemesan dan ia diberi upahnya. Pada suatu hari, yaitu tanggal tujuh bulan Dustus, diselesaikannya sepotong kain, lalu diantarkannya kepada pemesan. Seluruh upahnya dibayar kepadanya dan ditambah juga seekor anak kambing jantan untuk dimakan. 2:13 Tetapi setiba di rumahku maka anak kambing itu mengembik. Lalu isteriku kupanggil dan berkata: “Dari mana anak kambing itu? Apa itu bukan curian? Kembalikanlah kepada pemiliknya! Sebab kita tidak diperbolehkan makan barang curian!” 2:14 Sahut isteriku: “Kambing itu diberikan kepadaku sebagai tambahan upahku.” Tetapi aku tidak percaya kepadanya. Maka kusuruh kembalikan kepada pemiliknya — Karena perkara itu aku merah padam karena dia! — Tetapi isteriku membantah, katanya: “Di mana gerangan kebajikanmu? Di mana amalmu itu? Betul, sudah ketahuan juga gunanya bagimu!”

Mazmur 112:1-2,7bc-8,9

Refren: Hati orang jujur teguh, penuh kepercayaan kepada Tuhan.

* Berbahagialah orang yang takut akan TUHAN, yang sangat suka kepada segala perintah-Nya. Anak cucunya akan perkasa di bumi; angkatan orang benar akan diberkati.

* Ia tidak takut kepada kabar celaka, hatinya tetap, penuh kepercayaan kepada TUHAN. Hatinya teguh, ia tidak takut, sehingga ia memandang rendah para lawannya.

* Ia membagi-bagikan, ia memberikan kepada orang miskin; kebajikannya tetap untuk selama-lamanya, tanduknya meninggi dalam kemuliaan.

Bacaan Injil: Mrk 12:13-17

Tentang membayar pajak kepada Kaisar
12:13 Kemudian disuruh beberapa orang Farisi dan Herodian kepada Yesus untuk menjerat Dia dengan suatu pertanyaan. 12:14 Orang-orang itu datang dan berkata kepada-Nya: “Guru, kami tahu, Engkau adalah seorang yang jujur, dan Engkau tidak takut kepada siapapun juga, sebab Engkau tidak mencari muka, melainkan dengan jujur mengajar jalan Allah dengan segala kejujuran. Apakah diperbolehkan membayar pajak kepada Kaisar atau tidak? Haruskah kami bayar atau tidak?” 12:15 Tetapi Yesus mengetahui kemunafikan mereka, lalu berkata kepada mereka: “Mengapa
kamu mencobai Aku? Bawalah ke mari suatu dinar supaya Kulihat!”
12:16 Lalu mereka bawa. Maka Ia bertanya kepada mereka: “Gambar dan tulisan siapakah ini?” Jawab mereka: “Gambar dan tulisan Kaisar.” 12:17
Lalu kata Yesus kepada mereka: “Berikanlah kepada Kaisar apa yang wajib kamu berikan kepada Kaisar dan kepada Allah apa yang wajib kamu berikan kepada Allah!” Mereka sangat heran mendengar Dia.

Renungan:

“Dari mana anak kambing itu? Apa itu bukan curian? Kembalikanlah kepada pemiliknya! Sebab kita tidak diperbolehkan makan barang curian!” (Tb 2:13), demikian kata Tobit kepada Hana, isterinya. “Kita tidak diperbolehkan makan barang curian”,itulah kiranya yang baik menjadi bahan permenungan maupun pegangan dan pedoman cara hidup dan cara bertindak kita. Mungkin kita tidak mencuri tetapi ada kemungkinan menerima hadiah dari orang lain berupa barang, harta benda atau uang curian. Pengalaman dan pengamatan menunjukkan: nampaknya yang mudah dan tanpa merasa ‘makan barang curian’ adalah para anggota lembaga legislatif, yudikatif maupun eksekutif. Jika diperhatikan imbal jasa atau gaji mereka sesuai dengan aturan yang berlaku, maka sungguh menjadi pertanyaan mereka menjadi kaya raya. Sama-sama pegawai negeri dan berpangkat sama mereka yang berkarya di bidang yudikatif maupun eksekutif pada umumnya pendapatan lebih besar daripada para guru yang berkarya di bidang edukatif, padahal para guru lah yang berjasa bagi mereka yang saat ini berkarya di bidang legislatif, edukatif maupun eksekutif maupun usaha-usaha atau bisnis. Maka dengan ini kami berharap kepada mereka yang kaya akan barang, harta benda atau uang, entah itu curian atau tidak, hendaknya dengan rela dan hati berkorban berani ‘mengembalikan barang, harta benda atau uang’ tersebut untuk penyelenggaraan pendidikan atau sekolah di negeri kita ini. Sungguh memprihatinkan: orang dapat membelanjakan jutaan atau ratusan ribu rupiah dalam satu hati untuk liburan atau pesta, sementara itu begitu pelit membayar uang sekolah. Marilah kita lebih memperhatikan ‘human investment’ daripada ‘material investment’.

“Hatinya tetap, penuh kepercayaan kepada TUHAN. Hatinya teguh, ia tidak takut, sehingga ia memandang rendah para lawannya.Ia membagi-bagikan, ia memberikan kepada orang miskin; kebajikannya tetap untuk selama-lamanya, tanduknya meninggi dalam kemuliaan” (Mzm 112:7b-9)

Mazmur, “Berbahagialah orang yang takut akan Tuhan”.
Pernyataan yang kedengarannya janggal mengawali mazmur pujian ini. Kata “takut” biasanya berhubungan dengan keadaan jiwa yang tertekan dan tidak tenang. Namun, pengertian tersebut berbeda dalam perikop ini. “Takut” di sini dapat berarti “hormat kepada” atau “kagum akan”. Seseorang yang berhadapan dengan kuasa dan kehadiran Allah akan merasa takut kepada-Nya (kagum atau hormat kepada Allah) karena peristiwa itu telah membangkitkan keinginan untuk hidup benar di hadapan Allah, dan tunduk terhadap kekuasaan-Nya. Itulah sebabnya kalimat “takut akan Tuhan” dipakai sejajar dengan pengertian “mengabdi” (Ul. 6:13), “mengasihi” (Ul. 10:12), “beribadah” (Ul. 10:20), “hidup menurut jalan-Nya” (Ul. 8:6) dan “melakukan ketetapan-Nya” (Ul. 6:4). Orang percaya, yang memuji perbuatan besar Allah dan beribadah, akan merasakan aliran kebahagiaan dan kekaguman yang luar biasa hingga akh irnya mengabdikan hidup mereka seluruhnya kepada Tuhan.

Dampak apa yang akan diperoleh setiap orang yang takut akan Allah? Pemazmur menyajikannya dengan indah sekali. Dikatakan bahwa orang yang takut akan Tuhan dan cinta firman-Nya akan menerima kelimpahan harta yang luar biasa, sekalipun kehidupannya juga tak lepas dari beragam ancaman (ayat 7-8). Harta di sini, bagi pemazmur, bukanlah sepenuhnya bermuara pada harta materi. Dalil ini sering menimbulkan salah paham, bahwa orang yang berlimpah harta materi dapat membanggakan diri bahwa Allah berkenan kepada mereka. Sebenarnya pemazmur menyampaikan pesan bahwa berkat materi diperoleh bukan karena mengumpulkan, tetapi karena memberi dengan bermurah hati. Harta terindah bagi orang yang takut akan Tuhan adalah anak cucunya akan perkasa di bumi (ayat 2), kebajikan (ayat 3b), mengalami terang dalam gelap (ayat 4a), memiliki hati yang pengasih (ayat 4b), iman yang tak goyah (ayat 6a), hati yang tetap teguh, penuh kepercayaan kepada Tuhan (ayat 7b).

Renungkan: Berkat Tuhan haruslah ditempatkan proporsional, sebagai akibat dari takut akan Tuhan, berkat pun harus dihayati dalam takut dan syukur kepada Tuhan.

Injil hari ini, Kepada pemerintah dan Allah
Kontroversi di seputar otoritas Yesus mengarahkan kontroversi mengenai pengajaran-Nya. Para pemimpin agama Yahudi memang sangat ingin menjatuhkan popularitas-Nya. Maka kontroversi digulirkan di seputar isu sensitif, yaitu pajak. Bukan karena para pemimpin agama itu tertarik menghadapi masalah sosial dari sudut iman, tetapi sebagai jebakan untuk mendiskreditkan Yesus.

Orang Farisi dan Herodian (ayat 13) sebenarnya memiliki paham politik yang bertentangan. Namun saat itu mereka bersatu melawan Yesus, yang mereka anggap sebagai musuh bersama. Mereka ingin memperhadapkan Yesus pada sebuah isu politik yang membuat mereka terpecah belah. Sejak Yudea menjadi sebuah provinsi dalam wilayah kekuasaan Roma, pemerintah Roma meminta orang Yahudi membayar pajak. Dalam hal ini setiap kelompok di Yudea berbeda pendapat. Orang Zelot menolak membayar pajak kepada pemerintah asing. Orang Farisi membayarnya, tetapi sebenarnya sangat keberatan. Herodian rela membayar karena mereka mendukung pemerintah Roma.

Bagaimana jawaban Yesus? Terperangkapkah Ia ke dalam jebakan mereka? Dengan hikmat yang Mahatinggi, Yesus menggunakan koin bergambar kaisar untuk menjawab bahwa orang Yahudi seharusnya membayar pajak (ayat 16-17). Jika kita menikmati berbagai fasilitas yang disediakan pemerintah maka kita wajib mendukung dengan membayar pajak.

Jawaban Yesus ini menolong para pembaca Injil Markus untuk memahami bahwa kekristenan tidak mengajarkan perlawanan terhadap pemerintah (band.Rm. 13:1-7; 1Tim. 2:1-6; 1Pet. 2:13-17). Kewajiban kepada Allah tidak begitu saja menghapuskan kewajiban kepada pemerintah. Begitu pula sebaliknya (ayat 17). Berikan pajak kepada pemerintah, tetapi persembahkan hidupmu kepada Allah.

Kita harus patuh kepada pemerintah kita. Namun kepatuhan itu tidak boleh mengurangi ketaatan kita kepada Allah. Allahlah Sang Raja yang harus kita taati sepenuhnya.

DOA: Tuhan Yesus, Engkau adalah satu-satunya jawaban! Tolonglah kami agar dapat mengajukan pertanyaan-pertanyaan yang benar kepada-Mu. Terima kasih Tuhan. Amin. (Lucas Margono)

Gb2Juni

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s