Renungan Jumat, 17 Juli 2015

Renungan Jumat, 17 Juli 2015, Hari Biasa, Pekan Biasa XV

MISC :HRAYA S.MARIA MAGDALENA POSTEL, Pendiri Tarekat. OAD/ OSA : Pfak. B. Magdalena Albrici dr Como, Prw. O.Carm : Pfak. B. Teresia dr. S. Agustinus dkkPrwMrt OCD : Pw. B. Teresia dr S.Agustinus dkkPrwMrt

Bacaan I : Kel 11:10-12:14

11:10 Musa dan Harun telah melakukan segala mujizat ini di depan Firaun. Tetapi TUHAN mengeraskan hati Firaun, sehingga tidak membiarkan orang Israel pergi dari negerinya.

Tentang perayaan Paskah
12:1 Berfirmanlah TUHAN kepada Musa dan Harun di tanah Mesir: 12:2 “Bulan inilah akan menjadi permulaan segala bulan bagimu; itu akan menjadi bulan pertama bagimu tiap-tiap tahun. 12:3 Katakanlah kepada segenap jemaah Israel: Pada tanggal sepuluh bulan ini diambillah oleh masing-masing seekor anak domba, menurut kaum keluarga, seekor anak domba untuk tiap-tiap rumah tangga. 12:4 Tetapi jika rumah tangga itu terlalu kecil jumlahnya untuk mengambil seekor anak domba, maka ia bersama-sama dengan tetangganya yang terdekat ke rumahnya haruslah mengambil seekor, menurut jumlah jiwa; tentang anak domba itu, kamu buatlah perkiraan menurut keperluan tiap-tiap orang. 12:5 Anak dombamu itu harus jantan, tidak bercela, berumur setahun; kamu boleh ambil domba atau kambing. 12:6 Kamu harus mengurungnya sampai hari yang keempat belas bulan ini; lalu seluruh jemaah Israel yang berkumpul, harus menyembelihnya pada waktu senja. 12:7 Kemudian dari darahnya haruslah diambil sedikit dan dibubuhkan pada kedua tiang pintu dan pada ambang atas, pada rumah-rumah di mana orang memakannya. 12:8 Dagingnya harus dimakan mereka pada malam itu juga; yang dipanggang mereka harus makan dengan roti yang tidak beragi beserta sayur pahit. 12:9 Janganlah kamu memakannya mentah atau direbus dalam air; hanya dipanggang di api, lengkap dengan kepalanya dan betisnya dan isi perutnya. 12:10 Janganlah kamu tinggalkan apa-apa dari daging itu sampai pagi; apa yang tinggal sampai pagi kamu bakarlah habis dengan api. 12:11 Dan beginilah kamu memakannya: pinggangmu berikat, kasut pada kakimu dan tongkat di tanganmu; buru-burulah kamu memakannya; itulah Paskah bagi TUHAN. 12:12 Sebab pada malam ini Aku akan menjalani tanah Mesir, dan semua anak sulung, dari anak manusia sampai anak binatang, akan Kubunuh, dan kepada semua allah di Mesir akan Kujatuhkan hukuman, Akulah, TUHAN. 12:13 Dan darah itu menjadi tanda bagimu pada rumah-rumah di mana kamu tinggal: Apabila Aku melihat darah itu, maka Aku akan lewat dari pada kamu. Jadi tidak akan ada tulah kemusnahan di tengah-tengah kamu, apabila Aku menghukum tanah Mesir. 12:14 Hari ini akan menjadi hari peringatan bagimu. Kamu harus merayakannya sebagai hari raya bagi TUHAN turun-temurun. Kamu harus merayakannya sebagai ketetapan untuk selamanya.

Mazmur 116:12-13,15-16bc,17-18

Refren: Aku akan mengangkat piala keselamatan dan menyerukan nama Tuhan.

* Bagaimana akan kubalas kepada TUHAN segala kebajikan-Nya kepadaku? Aku akan mengangkat piala keselamatan, dan akan menyerukan nama TUHAN,

* Sungguh berhargalah di mata TUHAN kematian semua orang yang dikasihi-Nya. Ya TUHAN, aku hamba-Mu! Aku hamba-Mu, anak dari sahaya-Mu! Engkau telah melepaskan belengguku!

* Aku akan mempersembahkan korban syukur kepada-Mu, dan akan menyerukan nama TUHAN, aku akan membayar nazarku kepada TUHAN di depan seluruh umat-Nya,

Bacaan Injil: Mat 12:1-8

Murid-murid memetik gandum pada hari Sabat
12:1 Pada waktu itu, pada hari Sabat, Yesus berjalan di ladang gandum. Karena lapar, murid-murid-Nya memetik bulir gandum dan memakannya. 12:2 Melihat itu, berkatalah orang-orang Farisi kepada-Nya: “Lihatlah, murid-murid-Mu berbuat sesuatu yang tidak diperbolehkan pada hari Sabat.” 12:3 Tetapi jawab Yesus kepada mereka: “Tidakkah kamu baca apa yang dilakukan Daud, ketika ia dan mereka yang mengikutinya lapar, 12:4 bagaimana ia masuk ke dalam Rumah Allah dan bagaimana mereka makan roti sajian yang tidak boleh dimakan, baik olehnya maupun oleh mereka yang mengikutinya, kecuali oleh imam-imam? 12:5 Atau tidakkah kamu baca dalam kitab Taurat, bahwa pada hari-hari Sabat, imam-imam melanggar hukum Sabat di dalam Bait Allah, namun tidak bersalah? 12:6 Aku berkata kepadamu: Di sini ada yang melebihi Bait Allah. 12:7 Jika memang kamu mengerti maksud firman ini: Yang Kukehendaki ialah belas kasihan dan bukan persembahan, tentu kamu tidak menghukum orang yang tidak bersalah. 12:8 Karena Anak Manusia adalah Tuhan atas hari Sabat.”

Renungan:

Peringatan karya penebusan Allah
Apa hal istimewa, sebelum tulah kesepuluh dijatuhkan, yang harus dilakukan umat Israel sebelum mereka dapat menikmati pembebasan yang Allah akan segera laku-kan? Mereka harus melakukan suatu ritual, yang kemudian dinamakan Paskah, dengan iman. Sesuai dengan instruksi di ayat 3-11, mereka harus mempersiapkan diri untuk perayaan Paskah di keluarga masing-masing, dalam keadaan yang siap untuk segera melakukan perjalanan. Satu hal yang penting dalam perayaan Paskah adalah mereka harus menorehkan darah kurban bakaran itu ke ambang pintu setiap rumah keluarga Israel (ayat 7).

Apa yang mereka lakukan itu kelak harus dilakukan ber-ulang-ulang sebagai peringatan atas apa yang Allah akan segera lakukan di hari terakhir itu (ayat 14). Yaitu bagaimana Tuhan menghukum bangsa Mesir, yang memusuhi mereka, dengan cara membinasakan anak-anak sulung keluarga-keluarga Mesir (ayat 12). Sedangkan umat Tuhan diluputkan dari kematian anak sulung oleh karena darah yang ditaruh di ambang pintu rumah-rumah mereka (ayat 13). Jadi peringatan kebebasan sekaligus mengenang kedahsyatan Tuhan menghukum musuh.

Perjamuan Paskah ini harus dirayakan secara berkala, lengkap dengan kelanjutannya, yaitu hari raya “roti tidak beragi” selama tujuh hari. Ritual yang diatur untuk perayaan Paskah maupun lanjutannya sangat penting untuk dihayati oleh generasi selanjutnya. Mereka yang tidak menyaksikan secara langsung bagaimana Tuhan membela dan berperang bagi umat-Nya, melalui ritual ini menyelami, menghayati, bahkan mengulang kembali pengalaman nenek moyang mereka dalam memori bersama mereka.

Gereja merayakan Paskah setahun sekali dalam Misa Agung Paskah dalam rangka menghadirkan kembali peristiwa sejarah keselamatan bagi umat manusia. Yaitu peristiwa Tuhan Yesus bertindak menebus umat-Nya dan mengalahkan musuh utama melalui kema-tian-Nya di kayu salib.
Mazmur, Allah pasti mempertahankan milik-Nya.

Mazmur ini dibuka dengan ungkapan pemazmur, “Aku mengasihi Tuhan”. Kasih pemazmur ini merupakan respons terhadap kasih Allah yang telah menyendengkan telinga-Nya kepadanya (ayat 2). Ungkapan ini didasari pada pengalamannya dibebaskan dari bahaya maut. Memang tidak disebutkan oleh apa bahaya maut itu disebabkan, tetapi ia merasa sudah tertangkap oleh sang maut (ayat 3). Pemazmur menuturkan bagaimana ia mengalami krisis iman ketika tenggelam dalam penderitaannya. Tidak ada seorang pun yang menolong. Sendiri dalam penderitaan melahirkan kekecewaan yang dalam (ayat 11). Namun, keadaan itu tidak menggoyahkan kepercayaannya kepada Tuhan (ayat 10). Wajar bila pemazmur rindu untuk membalas segala kebaikan Allah. Ia akan mengangkat piala keselamatan, menyerukan nama-Nya (ayat 13), membayar nazarnya di depan umat Allah (ayat 14,18); mempersembahkan kurban syukur kepada Allah. Arti nya, ia ingin hidupnya selalu memuliakan Allah.

Dari pengalaman iman pemazmur bersama Allah ini, kita belajar tiga hal. Pertama, hakikat hidup kita adalah karunia Tuhan semata-mata, dan bernilai kekal. Kedua, hidup kita berharga di mata-Nya. Hal ini makin membuat kita menghayati kehadiran dan keberadaan Allah yang mempedulikan keberadaan umat-Nya. Bahkan tidak akan dibiarkan-Nya kematian menjemput mereka sebelum waktunya (ayat 15). Ketiga, kebaikan Allah yang juga bernilai kekal itu ditanggapi dengan sikap paling mulia, yaitu mengabdi sebagai hamba-Nya, makin mengasihi-Nya untuk selama-selamanya.

Renungkan: Allah mengizinkan kita mengalami “krisis iman” agar kita menyadari dan makin menghayati kasih setia Allah dalam hidup kita.

Njil hari ini, Bukan aturan tetapi hati.

Dua peristiwa ini menunjuk kepada satu pesan penting tentang inti aturan-aturan agama. Murid-murid Yesus, karena lapar memetik bulir gandum (ayat 1). Perbuatan demikian tidak salah (Ul. 23:25). Yang membuat orang Farisi berang bukan tindakan tersebut melainkan waktu tindakan itu dilakukan. Murid Yesus memetik bulir gandum pada hari Sabat. Murid Yesus tidak melanggar hukum Allah, hanya melanggar hukum agama yang dibentuk orang Farisi. Respons Yesus menunjuk kepada dua peristiwa dalam PL.

Pertama, tindakan Daud (ayat 3-4). Ketika lapar, Daud dan rombongannya mengambil roti sajian Bait Allah. 12 roti sajian itu diletakkan di atas meja di dalam tempat kudus, hanya boleh dimakan oleh imam di tempat kudus karena roti itu kudus. Roti sajian itu diminta Daud dari imam Ahimelekh (ayat 1Sam. 21:1-6). Itu sebenarnya tidak boleh namun kebutuhan manusia lebih penting dari ritual agama (ayat 7, Hos. 6:6). Kedua, tindakan imam-imam (ayat 5). Aturan dalam Bilangan 28:9, mengatur pekerjaan yang harus para imam lakukan pada hari Sabat. Namun, mereka tidak dianggap bersalah walau melanggar Sabat. Dari kedua peristiwa ini Yesus menegaskan bahwa inti dari peraturan adalah mengutamakan hidup.

Renungkan: Apakah kita beragama sebatas ritual? Apakah kasih kita kepada Tuhan dan sesama terhambat atau justru bertumbuh melaluinya?

DOA: Tuhan Yesus, tolonglah aku agar dapat menghargai perayaan Ekaristi, melalui Ekaristi ini Engkau menghadirkan karya penebusan-Mu secara penuh. Tunjukkanlah kepadaku bagaimana caranya menghormati hari Sabat umat-Mu sebagai suatu hari pada saat mana Engkau secara istimewa ingin memberikan kepada semua pengikut-Mu ketenangan yang sejati. Amin. (Lucas Margono)

Juli17

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s