Renungan Kamis, 1 Oktober 2015

Renungan Kamis, 1 Oktober 2015, Pesta S. Teresia dr Kanak-Kanak Yesus, PrwPujG, Pelindung Misi, Pekan Biasa XXVI
 
AK : Pld II Tarekat
CIJ : Pld Tarekatr
Keuskupan Sibolga : HRAYA S.TERESIA DR KANAK-KANAK YESUS, PrwPujG, Pelindung Gereja Katedral
OCD : HRAYA S.TERESIA DR KANAK-KANAK YESUS, PrwPujG.
SND : Pesta Tarekat, Hari Jadi Kongregasi SND Coesfeld.
SS.CC : Pld Tarekat
SSpS : Pld Tarekat
 
Bacaan I : Neh 8:1-4a,5-6,7b-12
 
Ezra membuka Kitab dan memuji Tuhan. Maka seluruh umat menjawab, Amin! Amin!”
 
Pembacaan dari Kitab Nehemia:
 
8:1 maka serentak berkumpullah seluruh rakyat di halaman di depan pintu gerbang Air. Mereka meminta kepada Ezra, ahli kitab itu, supaya ia membawa kitab Taurat Musa, yakni kitab hukum yang diberikan TUHAN kepada Israel. 8:2 Lalu pada hari pertama bulan yang ketujuh itu imam Ezra membawa kitab Taurat itu ke hadapan jemaah, yakni baik laki-laki maupun perempuan dan setiap orang yang dapat mendengar dan mengerti. 8:3 Ia membacakan beberapa bagian dari pada kitab itu di halaman di depan pintu gerbang Air dari pagi sampai tengah hari di hadapan laki-laki dan perempuan dan semua orang yang dapat mengerti. Dengan penuh perhatian seluruh umat mendengarkan pembacaan kitab Taurat itu. 8:4a Ezra, ahli kitab itu, berdiri di atas mimbar kayu yang dibuat untuk peristiwa itu. 8:5 Ezra membuka kitab itu di depan mata seluruh umat, karena ia berdiri lebih tinggi dari semua orang itu. Pada waktu ia membuka kitab itu semua orang bangkit berdiri. 8:6 Lalu Ezra memuji TUHAN, Allah yang maha besar, dan semua orang menyambut dengan: “Amin, amin!”, sambil mengangkat tangan. Kemudian mereka berlutut dan sujud menyembah kepada TUHAN dengan muka sampai ke tanah. 8:7b Para Lewi, mengajarkan Taurat itu kepada orang-orang itu, sementara orang-orang itu berdiri di tempatnya. 8:8 Bagian-bagian dari pada kitab itu, yakni Taurat Allah, dibacakan dengan jelas, dengan diberi keterangan-keterangan, sehingga pembacaan dimengerti. 8:9Lalu Nehemia, yakni kepala daerah itu, dan imam Ezra, ahli kitab itu, dan orang-orang Lewi yang mengajar orang-orang itu, berkata kepada mereka semuanya: “Hari ini adalah kudus bagi TUHAN Allahmu. Jangan kamu berdukacita dan menangis!”, karena semua orang itu menangis ketika mendengar kalimat-kalimat Taurat itu. 8:10 Lalu berkatalah ia kepada mereka: “Pergilah kamu, makanlah sedap-sedapan dan minumlah minuman manis dan kirimlah sebagian kepada mereka yang tidak sedia apa-apa, karena hari ini adalah kudus bagi Tuhan kita! Jangan kamu bersusah hati, sebab sukacita karena TUHAN itulah perlindunganmu!” 8:11 Juga orang-orang Lewi menyuruh semua orang itu supaya diam dengan kata-kata: “Tenanglah! Hari ini adalah kudus. Jangan kamu bersusah hati!” 8:12 Maka pergilah semua orang itu untuk makan dan minum, untuk membagi-bagi makanan dan berpesta ria, karena mereka mengerti segala firman yang diberitahukan kepada mereka.
 
MAZMUR 19:8,9,10,11
 
Refren: Titah Tuhan tepat, menyenangkan hati.
 
Mazmur:
 
* Taurat TUHAN itu sempurna, menyegarkan jiwa; peraturan TUHAN itu teguh, memberikan hikmat kepada orang bersahaja.
 
* Titah TUHAN itu tepat, menyukakan hati; perintah TUHAN itu murni, membuat mata ceria.
 
* Takut akan TUHAN itu suci, tetap ada untuk selamanya; hukum-hukum TUHAN itu benar, adil selalu.
 
* Lebih indah dari pada emas, bahkan dari pada banyak emas tua; dan lebih manis dari pada madu, bahkan dari pada madu tetesan dari sarang lebah.
 
Bacaan Injil : Luk 10:1-12
 
Yesus mengutus tujuh puluh murid
10:1 Kemudian dari pada itu Tuhan menunjuk tujuh puluh murid yang lain, lalu mengutus mereka berdua-dua mendahului-Nya ke setiap kota dan tempat yang hendak dikunjungi-Nya. 10:2 Kata-Nya kepada mereka: “Tuaian memang banyak, tetapi pekerja sedikit. Karena itu mintalah kepada Tuan yang empunya tuaian, supaya Ia mengirimkan pekerja-pekerja untuk tuaian itu. 10:3 Pergilah, sesungguhnya Aku mengutus kamu seperti anak domba ke tengah-tengah serigala. 10:4 Janganlah membawa pundi-pundi atau bekal atau kasut, dan janganlah memberi salam kepada siapapun selama dalam perjalanan. 10:5 Kalau kamu memasuki suatu rumah, katakanlah lebih dahulu: Damai sejahtera bagi rumah ini. 10:6 Dan jikalau di situ ada orang yang layak menerima damai sejahtera, maka salammu itu akan tinggal atasnya. Tetapi jika tidak, salammu itu kembali kepadamu. 10:7 Tinggallah dalam rumah itu, makan dan minumlah apa yang diberikan orang kepadamu, sebab seorang pekerja patut mendapat upahnya. Janganlah berpindah-pindah rumah. 10:8 Dan jikalau kamu masuk ke dalam sebuah kota dan kamu diterima di situ, makanlah apa yang dihidangkan kepadamu, 10:9 dan sembuhkanlah orang-orang sakit yang ada di situ dan katakanlah kepada mereka: Kerajaan Allah sudah dekat padamu. 10:10 Tetapi jikalau kamu masuk ke dalam sebuah kota dan kamu tidak diterima di situ, pergilah ke jalan-jalan raya kota itu dan serukanlah: 10:11 Juga debu kotamu yang melekat pada kaki kami, kami kebaskan di depanmu; tetapi ketahuilah ini: Kerajaan Allah sudah dekat. 10:12 Aku berkata kepadamu: pada hari itu Sodom akan lebih ringan tanggungannya dari pada kota itu.”
 
Renungan:
 
Firman sebagai fondasi dan bahan pembangunan selanjutnya.
Sejak umat Israel dalam pembuangan, tidak ada lagi orang yang menyuarakan firman Tuhan bagi mereka. Oleh karena itu saat Ezra kembali membacakan kitab Taurat, hati mereka sangat tersentuh bahkan berduka cita. Mereka disadarkan bahwa mereka telah berbuat dosa dan melanggar perintah-perintahTuhan sehingga mereka harus mengalami hukuman-Nya. Ketika mereka semua sedang menangis, Nehemia menasihati mereka agar bersukacita. Nasihat Nehemia itu berdasarkan pada konsep yang benar yaitu semakin kita menyadari betapa berdosanya kita di hadapan Allah, semakin bersukacitalah kita atas pengampunan Allah. Akhirnya mereka menuruti segala nasihat Nehemia untuk mengadakan perjamuan sebagai bentuk ucapan syukur mereka, memang itulah yang seharusnya mereka lakukan sesuai dengan pemahaman firman Tuhan (13).
 
Pertobatan seluruh bangsa Israel adalah langkah awal bagi reformasi suatu bangsa. Langkah lebih lanjut yang harus dilakukan yaitu para pemimpin keluarga dan pemimpin spiritual masyarakat bersama Ezra menelaah kitab Taurat. Tindakan ini penting karena salah satu penyebab pembuangan bangsa Israel adalah kesalahan dan dosa para pemimpin bangsa. Langkah yang benar menghasilkan buah rohani yang efektif dan menyegarkan yaitu mereka kembali disadarkan untuk merayakan hari raya pondok daun yang sudah tidak pernah mereka rayakan sejak zaman Yosua. Ini tidak berarti mereka tidak pernah lagi menyelenggarakan hari raya pondok daun sebab Ezr. 3:4 menyatakan bahwa mereka sudah menyelenggarakan hari raya pondok daun sebelumnya. Disini ingin dinyatakan bahwa perayaan pondok daun dengan semangat dan penghayatan seperti zaman nenek moyang mereka baru terselenggara kembali setelah beratus-ratus tahun lamanya tidak pernah terjadi. Dan dalam perayaan selama 7 hari itu firman Tuhan dibacakan tiap hari.
 
Melalui peristiwa ini kita dapat melihat bahwa reformasi suatu bangsa yang dimulai dengan firman Tuhan harus dilanjutkan dengan firman Tuhan. Sebab firman Tuhan yang mampu terus mengarahkan dan membimbing kita kepada jalan yang harus kita lalui. Firman sebagai fondasi dan firman sebagai bahan pembangunan selanjutnya.
 
Mazmur, Kenal Tuhan melalui Kitab Suci
Kuasa, kemuliaan, dan hikmat Allah nyata di dalam alam semesta (ayat 1). Langit menjadi tempat bagi Allah untuk menempatkan matahari, bulan, dan bintang. Ketiganya berfungsi sebagai penerang bagi dunia, serta untuk membedakan siang dari malam (Kej. 1:14-19). Meski tidak ada suara atau kata-kata, berita tentang kemuliaan Allah terpancar ke seluruh jagat raya melalui keindahan semesta (ayat 2-5a). Memang tak perlu ada cerita maupun berita, karena panasnya sinar matahari yang menjamah seluruh ujung bumi menjadi bukti tak terbantahkan mengenai keberadaan Allah (ayat 5b-7).
Namun pengetahuan tentang Allah melalui alam tidak sejelas pengenalan yang dinyatakan di dalam Taurat-Nya. Melalui ciptaan kita tahu ada Allah yang mencipta alam. Akan tetapi, pengetahuan tersebut tidak cukup membawa kita mengenal Tuhan secara pribadi. Perhatikan, pemazmur memakai nama “Allah” (ayat 2) ketika berbicara mengenai ciptaan dan memakai nama Tuhan (ayat 8-10) ketika berbicara tentang Taurat. Kata Tuhan (ditulis dengan huruf kapital) berasal dari kata Yahweh. Jika Allah (berasal dari kataElohim) lebih menggambarkan Dia sebagai Pencipta langit dan bumi, maka Yahweh (yang merupakan nama pribadi Allah) lebih menggambarkan Tuhan, Allah perjanjian yang memberikan Taurat.
 
Pemazmur memaparkan tujuh (menunjukkan angka sempurna) karakter Taurat yaitu sempurna, teguh, tepat, murni, suci, benar, dan adil. Umat Allah yang merenungkan Taurat akan mendapatkan banyak faedah: disegarkan, diberi hikmat dan bersuka cita (ayat 8-9). Sebab itu pemazmur menganggap Taurat lebih indah daripada emas dan lebih manis daripada madu (ayat 11). Bukan itu saja, umat Allah yang berpegang pada Taurat akan terhindar dari banyak hal negatif termasuk kesesatan, pelanggaran, dan tipuan orang jahat (ayat 12-14).
 
Taurat dapat diartikan sebagai ajaran yang Tuhan berikan di dalam Kitab Suci. Marilah kita memperlakukan Kitab Suci sebagai anugerah berharga karena Tuhan memberikannya supaya kita dapat mengenal Dia secara pribadi.
 
Injil hari ini, Siap diutus dalam misi Kristus
Seperti padi yang sudah kuning dan membutuhkan penuai, begitu pula ladang Tuhan membutuhkan pekerja (2). Karena itu Yesus mengutus tujuh puluh murid untuk pergi memberitakan bahwa Kerajaan Allah telah tiba. Sifat pelayanan itu mendesak dan penuh bahaya maka mereka harus waspada (2-3, karena mereka bagaikan anak domba yang diutus ke tengah-tengah serigala). Konsentrasi mereka harus terpusat karena mereka mesti bersegera melaksanakan tugas itu. Segala sesuatu yang mengakibatkan penundaan, harus diabaikan karena mereka harus memanfaatkan waktu sebaik-baiknya. Mereka juga tidak boleh memusingkan diri dengan segala keperluan yang harus mereka bawa.
 
Meskipun tampaknya pengorbanan mereka begitu besar, belum tentu tanggapan yang akan mereka terima selalu menyenangkan. Adakalanya mereka akan mengalami penolakan yang mengecewakan (10-11). Namun demikian, mereka harus tetap memberitakan Kerajaan Allah dan juga menyembuhkan orang sakit. Bila berita itu ditolak, haruslah diucapkan suatu peringatan mengenai hukum Allah. Yang amat menggembirakan adalah bahwa Yesus menyiratkan betapa berarti dan mulianya penugasan itu (16), karena penerimaan terhadap mereka diidentikkan dengan penerimaan terhadap Allah sendiri. “Barangsiapa mendengarkan kamu ia mendengarkan Aku dan barangsiapa menolak kamu, ia menolak Aku; dan yang menolak Aku ia menolak Dia yang mengutus Aku”. Ini puncak penugasan sekaligus jaminan dukungan Yesus yang terus menerus.
 
Mendesaknya misi Tuhan Yesus ke dunia, menyadarkan kita bahwa misi itu ditujukan untuk semua orang, dan harus segera dilakukan! Meskipun terbayang ancaman dalam menjalani tugas ini namun penyertaan dan dukungan dari Tuhan Yesus kiranya menghilangkan keraguan kita.
 
Doa: Tuhan Yesus, kami ingin berkarya sebagai utusan-Mu. Kuatkan iman kami dan curahkan kuasa-Mu atas kami ketika kami takut dan merasa lemah. Amin. (Lucas Margono)
Oktober1

Renungan Rabu, 30 September 2015

Renungan Rabu, 30 September 2015, Pw. S. Hieronimus, ImPujG, Pekan Biasa XXVI

Bacaan I : Neh 2:1-8

Nehemia diutus ke Yerusalem
2:1 Pada bulan Nisan tahun kedua puluh pemerintahan raja Artahsasta, ketika menjadi tugasku untuk menyediakan anggur, aku mengangkat anggur dan menyampaikannya kepada raja. Karena aku kelihatan sedih, yang memang belum pernah terjadi di hadapan raja, 2:2 bertanyalah ia kepadaku: “Mengapa mukamu muram, walaupun engkau tidak sakit? Engkau tentu sedih hati.” Lalu aku menjadi sangat takut. 2:3 Jawabku kepada raja: “Hiduplah raja untuk selamanya! Bagaimana mukaku tidak akan muram, kalau kota, tempat pekuburan nenek moyangku, telah menjadi reruntuhan dan pintu-pintu gerbangnya habis dimakan api?” 2:4 Lalu kata raja kepadaku: “Jadi, apa yang kauinginkan?” Maka aku berdoa kepada Allah semesta langit, 2:5 kemudian jawabku kepada raja: “Jika raja menganggap baik dan berkenan kepada hambamu ini, utuslah aku ke Yehuda, ke kota pekuburan nenek moyangku, supaya aku membangunnya kembali.” 2:6 Lalu bertanyalah raja kepadaku, sedang permaisuri duduk di sampingnya: “Berapa lama engkau dalam perjalanan, dan bilakah engkau kembali?” Dan raja berkenan mengutus aku, sesudah aku menyebut suatu jangka waktu kepadanya. 2:7 Berkatalah aku kepada raja: “Jika raja menganggap baik, berikanlah aku surat-surat bagi bupati-bupati di daerah seberang sungai Efrat, supaya mereka memperbolehkan aku lalu sampai aku tiba di Yehuda. 2:8 Pula sepucuk surat bagi Asaf, pengawas taman raja, supaya dia memberikan aku kayu untuk memasang balok-balok pada pintu-pintu gerbang di benteng bait suci, untuk tembok kota dan untuk rumah yang akan kudiami.” Dan raja mengabulkan permintaanku itu, karena tangan Allahku yang murah melindungi aku.

Mazmur 137:1-2,3,4-5,

Refren: Biarlah lidahku melekat pada langit-langitku, bila aku tidak mengingat engkau.

Mazmur:

* Di tepi sungai-sungai Babel, di sanalah kita menangis, apabila kita mengingat Sion. Pada pohon-pohon gandarusa di tempat itu kita menggantungkan kecapi kita.

* Sebab di sanalah orang-orang yang menawan kita meminta kepada kita memperdengarkan nyanyian, dan orang-orang yang menyiksa kita meminta nyanyian sukacita: “Nyanyikanlah bagi kami nyanyian dari Sion!”

* Bagaimana mungkin kita menyanyikan nyanyian TUHAN di negeri asing? Jika aku melupakan engkau, hai Yerusalem, biarlah menjadi kering tangan kananku!

* Biarlah lidahku melekat pada langit-langitku, jika aku tidak mengingat engkau, jika aku tidak jadikan Yerusalem puncak sukacitaku!

Bacaan Injil : Luk 9:57-62

Hal mengikut Yesus
9:57 Ketika Yesus dan murid-murid-Nya melanjutkan perjalanan mereka, berkatalah seorang di tengah jalan kepada Yesus: “Aku akan mengikut Engkau, ke mana saja Engkau pergi.” 9:58 Yesus berkata kepadanya: “Serigala mempunyai liang dan burung mempunyai sarang, tetapi Anak Manusia tidak mempunyai tempat untuk meletakkan kepala-Nya.” 9:59 Lalu Ia berkata kepada seorang lain: “Ikutlah Aku!” Tetapi orang itu berkata: “Izinkanlah aku pergi dahulu menguburkan bapaku.” 9:60 Tetapi Yesus berkata kepadanya: “Biarlah orang mati menguburkan orang mati; tetapi engkau, pergilah dan beritakanlah Kerajaan Allah di mana-mana.” 9:61 Dan seorang lain lagi berkata: “Aku akan mengikut Engkau, Tuhan, tetapi izinkanlah aku pamitan dahulu dengan keluargaku.” 9:62 Tetapi Yesus berkata: “Setiap orang yang siap untuk membajak tetapi menoleh ke belakang, tidak layak untuk Kerajaan Allah.”

Renungan:

Allah berkarya melalui duta-Nya
Nehemia mungkin tidak dapat menduga bagaimana Tuhan akan memakai dia menjadi alat-Nya untuk menolong bangsanya, membangun tembok Yerusalem. Dia sedang melayani di puri Susan, yang letaknya jauh dari Yerusalem. Ia juga terikat dengan pekerjaannya sebagai juru minuman raja (1). Namun ternyata Tuhan memiliki rencana bagi dirinya. Yang indah adalah Nehemia peka dan cepat tanggap akan rencana-Nya itu.

Tuhan memakai kesedihan yang terlihat dalam wajah Nehemia (1b) untuk melibatkan raja Artahsasta dalam penggenapan rencana-Nya. Sewajarnya Nehemia takut, tapi ia tidak bungkam melainkan memakai kesempatan ini untuk membagikan pergumulan umat-Nya (3). Sekali lagi Tuhan bekerja dalam hati raja sehingga ia memberi wewenang kepada Nehemia untuk membangun kembali Yerusalem (8b). Nehemia pun merespons dengan sigap kesempatan yang Allah bukakan ini (4b). Hal ini nyata dari rencana dan perhitungannya yang matang (5, 6b, 7-8a).

Perjalanan “mulus” mendapatkan izin dan dukungan raja merupakan anugerah Tuhan bagi Nehemia untuk melayani Dia (lih. ay. 12). Tuhan dapat memberi kesempatan kepada kita untuk menjadi duta-Nya bagi pemulihan fisik dan spiritualitas umat-Nya dalam masyarakat, gereja, keluarga. Namun kita harus terlebih dulu terbuka akan kasih dan tangan pembentukan-Nya yang akan menempa, memoles, mengasah kita agar memiliki kepekaan terhadap penderitaan di sekitar kita dan memiliki rohani yang matang.
Melalui Nehemia, Allah memperlihatkan kepada kita sikap dan tindakan seorang duta-Nya. Pertama, memiliki hati yang peka. Kedua, memikirkan dengan matang apa yang harus dilakukan. Ketiga, menentukan sikap dan tindakan yang akan ditempuh dengan bijaksana. Keempat, memakai pendekatan yang strategis dan tepat sasaran. Kelima, memiliki spiritualitas yang matang.

Anda siap menjadi duta bagi Allah?

Mazmur, Lagu dalam derita
Ketidaktaatan membuat umat Tuhan harus mengalami pembuangan ke Babel. Kini bagi pemazmur dan umat Tuhan, kesukaan dan nyanyian adalah bagian dari kenangan masa lalu (1-2, 7-8). Bagian nyata mereka saat itu adalah derita dan kepedihan hati.

Meski kehidupan umat Tuhan di tanah pembuangan berlangsung dengan baik, tidak berarti bahwa mereka suka tinggal di sana. Tidak juga membuat mereka melupakan Yerusalem. Kenangan akan Sion membuat mereka menangis. Mereka tidak bisa lagi menyanyi untuk kota itu, karena kota itu telah menjadi puing-puing dan penduduknya dibuang ke tanah asing. Dalam situasi pahit seperti yang mereka alami saat itu, terbuka kesempatan bagi tiap orang untuk merenungkan ulang jati diri mereka. Meski mereka nyata-nyata sudah menjadi bagian dari Babel, tetapi hati mereka tetap terfokus ke Yerusalem (5-6). Rupanya hukuman Tuhan mengembalikan mereka untuk rindu hanya pada Dia saja!

Lagu apakah yang keluar dalam situasi demikian? Lagu agar Tuhan mengingat pokok yang menyebabkan penderitaan umat! Lagu doa agar Allah tidak mengabaikan kejahatan Edom. Bayangkan situasi lagu ini dalam ruang pengadilan. Umat memohon agar Sang Hakim yang adil memeriksa kasus kejahatan seteliti dan seadil diri-Nya. Pemazmur tidak meminta Edom dihancurkan. Ia sekadar mengajukan perkaranya kepada Sang Hakim (7). Pemazmur juga tidak meminta Allah menghancurkan Babel. Ia hanya mengatakan, “keberkatanlah” orang yang menjadi alat pembebasan Tuhan kepada Babel (8-9). Artinya, orang yang berpihak pada kebenaran dan keadilan Allah serta menghendaki kejahatan diperlakukan setimpal dengan kebenaran Allah, sesungguh-nya merupakan orang yang diberkati Allah.
Meski terkadang jatuh, orang percaya seharusnya tetap memiliki prinsip kebenaran di dalam hidupnya. Sehingga dalam keadaan bagaimana pun, kita tetap sepadan/serasi dengan sifat-sifat Allah: rindu kebenaran dan tolak kejahatan!

Injil hari ini, Fokus pada tujuan.

Ayat 51 dengan jelas menekankan bahwa Tuhan Yesus kini melangkah menuju kegenapan seperti yang telah diajarkan-Nya kepada para murid. Ia tahu Ia datang dari siapa, untuk apa, dan harus melalui jalan hidup yang bagaimana. Bahwa misi-Nya akan ditolak oleh sementara orang, adalah sesuai dengan rencana Allah yang telah dinubuatkan sejak zaman Perjanjian Lama dan selaras dengan tekanan ajaran-Nya bahwa Ia harus menderita (bdk. Yes. 53).

Dalam bacaan ini Lukas memaparkan kepada kita bahwa ada masalah yang mengganjal Yesus, yaitu reaksi murid-murid-Nya, Yakobus dan Yohanes terhadap orang Samaria yang menolak memberikan bantuan setelah tahu bahwa Yesus dan rombongan-Nya menuju ke Yerusalem (ayat 53). Memang Kerajaan Israel bersatu terpecah menjadi Israel Utara (Samaria) dan Israel Selatan (Yehuda=Yerusalem). Hubungan antara Samaria dan Yehuda semakin memburuk. Bahkan orang-orang Samaria digolongkan sebagai orang-orang yang harus dimarginalkan oleh orang-orang Yerusalem. Lukas menggambarkan penolakan ini sebagai bagian dari penggenapan nubuat Allah sebagai tanda bahwa Mesias akan menderita penolakan. Bagaimana rombongan Yesus bersikap terhadap penolakan tersebut? Yakobus dan Yohanes, khususnya, menganggap bahwa penolakan itu lebih merupakan penghinaan terhadap Yesus, yang seharusnya diperlakukan dengan segala hormat. Itulah sebabnya mereka mengusulkan untuk bertindak keras terhadap mereka (ayat 54)—mungkin seperti yang pernah dilakukan Elia dalam 2Raj. 1:10,12.

Reaksi Yesus sama sekali berbeda (ayat 55)! Justru Ia menilai bahwa reaksi yang ditunjukkan oleh Yakobus dan Yohanes ternyata belum menghayati bahwa salib adalah keharusan bukan saja bagi Yesus tetapi juga dalam misi dan kehidupan para pengikut-Nya.

Renungkan: Mengikut Yesus adalah satu-satunya yang harus secara serius dijalani dengan segala konsekuensinya.

DOA: Tuhan Yesus, Engkau memanggilku menjadi murid-Mu. Tolonglah diriku agar tidak menginginkan apa pun kecuali Engkau saja. Amin.(Lucas Margono)

September30

Renungan Selasa, 29 September 2015

Renungan Selasa, 29 September 2015, Pesta S. Mikael, Gabriel dan Rafael, Malaikat Agung, Pekan Biasa XXVI.

DW/SMM Pld II Bruder-bruder Santo Gabriel.
FMM : Pld Novis.
MSsCc : Pld Novis
PRR/SSPs/SVD/CP : Pld Tarekat
SS.CC : Pld Misionaris Tarekat

Bacaan I : Dan 7:9-10,13-14

Seribu kali beribu-ribu orang melayani Dia.
Pembacaaan dari nubuat Daniel:
7:9 Aku Daniel, melihat, takhta-takhta dipasang, lalu duduklah Yang Lanjut Usianya. Pakaian-Nya putih seperti salju dan rambut-Nya bersih seperti bulu domba. Tahta-Nya dari nyala api, roda-rodanya dari api yang berkobar-kobar; 7:10 Suatu sungai api timbul dan mengalir dari hadapan-Nya. beribu-ribu melayani Dia, beratus-ratus ribu berdiri dihadapan-Nya. Lalu duduklah Majelis Pengadilan dan dibukakan Kitab-Kitab.
7:13 Aku terus melihat dalam penglihatan itu, tampak dari langit bersama awan gemawan Seorang serupa Anak Manusia. Ia menghadap Dia Yang Lanjut Usianya itu, dan ia dihantar ke hadapan-Nya. 7:14 Kepada Dia yang serupa Anak Manusia itu diserakan kekuasaan dan kemuliaan dan kekuasaan sebagai raja. Maka segala bangsa, suku dan bahasa mengabdi kepadanya. Kekuasaannya kekal adanya dan kerajaannya. tidak akan binasa.

Mazmur 138:1-2a,2bc-3,4-5

Refren: Di hadapan para dewata aku hendak bermazmur bagi-Mu, ya Tuhan.

Mazmur:

* Aku hendak bersyukur kepada-Mu dengan segenap hati, sebab Engkau mendengarkan kata-kata mulutku; di hadapan para dewata aku akan bermazmur bagi-Mu. Aku hendak bersujud ke arah bait-Mu yang kudus.

* Aku hendak memuji nama-Mu, oleh karena kasih-Mu dan oleh karena setia-Mu; sebab Kaubuat nama dan janji-Mu melebihi segala sesuatu. Pada hari aku berseru, Engkau pun menjawab aku, Engkau menambahkan kekuatan dalam jiwaku.

* Semua raja di bumi akan bersyukur kepada-Mu, ya TUHAN, sebab mereka mendengar janji dari mulut-Mu; mereka akan menyanyi tentang jalan-jalan TUHAN, sebab besarlah kemuliaan TUHAN.

Bacaan Injil : Yoh 1:47-51

1:47 Kata Filipus kepadanya: “Mari dan lihatlah!” Yesus melihat Natanael datang kepada-Nya, lalu berkata tentang dia: “Lihat, inilah seorang Israel sejati, tidak ada kepalsuan di dalamnya!” 1:48 Kata Natanael kepada-Nya: “Bagaimana Engkau mengenal aku?” Jawab Yesus kepadanya: “Sebelum Filipus memanggil engkau, Aku telah melihat engkau di bawah pohon ara.” 1:49 Kata Natanael kepada-Nya: “Rabi, Engkau Anak Allah, Engkau Raja orang Israel!” 1:50 Yesus menjawab, kata-Nya: “Karena Aku berkata kepadamu: Aku melihat engkau di bawah pohon ara, maka engkau percaya? Engkau akan melihat hal-hal yang lebih besar dari pada itu.” 1:51 Lalu kata Yesus kepadanya: “Aku berkata kepadamu, sesungguhnya engkau akan melihat langit terbuka dan malaikat-malaikat Allah turun naik kepada Anak Manusia.”

Renungan:

Empat kekuatan dahsyat.
Pada tahun pertama pemerintahan raja Belsyazar, Daniel mendapat penglihatan di tempat tidurnya. Tampak empat binatang besar naik dari dalam laut, yang satu berbeda dengan yang lain. Empat binatang ini menggambarkan bangsa-bangsa kafir yang akan menentang Yang Mahatinggi. Daniel melihat suatu gambaran tentang ancaman bahaya yang besar bagi umat manusia. Ancaman itu sulit dikalahkan karena memiliki kekuatan yang dahsyat.

Di tengah-tengah ketakutan menghadapi kedahsyatan penguasa dunia, Daniel melihat seorang Yang Lanjut Usianya. Ia adalah Allah yang berkuasa dan berdaulat. Ia adalah Hakim. Ialah yang memberi batas waktu kekuasaan kepada binatang-binatang tersebut. Kemudian akan datang seorang Anak Manusia yang dibawa ke hadapan Yang Lanjut Usia. Segala bangsa, suku bangsa, dan bahasa akan mengabdi kepada-Nya. Kekuasaan-Nya kekal, tidak akan lenyap, dan kerajaan-Nya tidak akan musnah.

Renungkan: Begitu banyak bahaya yang terasa begitu dekat dan kuat mengancam hidup. Tetapi ada yang lebih kuat yang kita yakini dan percayai, yang kekuatan dan kekuasaan-Nya melebihi semuanya, yaitu Kristus, Sang Anak Manusia, Allah kita.

Mazmur, Kesempitan jadi kesempatan
Kesempitan dalam pengalaman hidup umat Tuhan dapat menjadi alat di tangan Allah untuk membuat umat lebih menyelami kebesaran kasih setia Allah (1-3), lebih paham tentang arah dunia (4-6) dan lebih yakin akan keamanan dirinya (7-8).

Mazmur ucapan syukur ini mengisahkan pengalaman pemazmur ketika dalam kesempitan diselamatkan oleh Allah. Daud menaikkan doanya kepada Allah, dan ia beroleh daya juang baru (lih. 2Sam. 5:17-21). Doa ini dipanjatkan saat Israel masih dalam tahap awal kerajaan yang sangat lemah. Namun pemazmur menjadi yakin, sampai-sampai ia berani bersaksi dihadapan para penguasa dari bangsa yang lebih digdaya (“para allah” – ay. 1). Artinya pemazmur meninggikan kekuasaan Tuhan di hadapan “para hakim/penguasa” bangsa-bangsa yang lebih berkuasa dari Israel (band. ay. 4).

Pemazmur memuji nama Allah karena kasih setia dan kesetiaan Allah kepada janji-Nya (2, 4). Pemazmur sangat sadar bahwa pertolongan yang Allah berikan kepadanya semata-mata hanya karena keberadaan diri Allah. Selain itu juga karena Allah setia kepada janji-Nya. Pemazmur yang menyadari siapa dirinya, tentu saja sangat berterima kasih karena Allah yang “tinggi” bersedia melihat dan menolong dia yang “hina” (6). Suatu hal yang sangat luar biasa bahwa kemegahan Allah diimbangi dengan anugerah yang berlimpah. Tidak mengherankan pemazmur begitu bersemangat memproklamirkan nama dan kesetiaan Allah dan yakin bahwa nantinya semua raja di bumi akan bersyukur kepada Allah (4-5).

Melalui mazmur ini, kita belajar bahwa orang percaya tidak perlu sempit hati pada waktu mengalami kesempitan hidup, demikian juga dengan Gereja Tuhan. Pujilah Allah, bersyukurlah atas kesetiaan-Nya, dan ingatlah bahwa segala kejadian berada di bawah sorotan kuasa dan pemerintahan-Nya; maka Tuhan akan mengubah kesempitan menjadi kesempatan menyelami kasih dan kuasa-Nya secara baru.

Injil hari ini, Menjadi murid Kristus

Kecenderungan manusia adalah melibatkan diri di dalam kegiatan yang menguntungkan dirinya. Seseorang memilih sekolah bagi pendidikannya, dokter bagi kesehatannya, dan gereja bagi pertumbuhan rohaninya.
Ketika Yesus memanggil murid-murid-Nya yang pertama, Ia diperkenalkan penulis Injil Yohanes bukan sebagai pemimpin besar yang sukses melainkan sebagai Anak Domba Allah. Istilah Anak Domba berkaitan dengan kurban. Itu sebabnya, pertama, menjadi murid Yesus bukanlah menjadi pengikut pemimpin “besar” yang sukses. Mengikut Yesus adalah mengikuti orang yang tujuan hidupnya menjadi kurban. Murid Yesus harus siap menderita bahkan sampai mati. Meskipun ada sukacita di dalamnya, namun kerelaan untuk menderita seperti Yesus adalah kualifikasi utama menjadi murid-Nya. Kedua, dalam interaksi dengan para murid-Nya, Yesus adalah guru yang baik. Andreas (ayat 40), Filipus (ayat 45), dan Natanael (ayat 49) mengatakan bahwa mereka telah menemukan Mesias yang dinubuatkan PL. Murid-murid itu mengenali identitas gurunya. Yesus bukan hanya mengajar, namun secara mengejutkan Ia mengajak murid-murid itu tinggal bersama-Nya untuk menyaksikan seluruh kehidupan-Nya (ayat 39). Dalam pemuridan, pengetahuan tentang iman penting, tetapi tanpa keteladanan berarti sia-sia. Ketiga, Yesus aktif mencari murid (ayat 43). Yesus mengamati dan memperhatikan sebelum Ia memilih (ayat 48). Keempat, pemuridan yang sukses terjadi jika ada pelipatgandaan. Yesus memuridkan Andreas, lalu Andreas membawa Simon dan Filipus membawa Natanael. Pemuridan melatih orang memuridkan orang lain, bukan menjadikannya pengikut pasif.

Kita telah menjadi murid Tuhan karena para pendahulu kita menerapkan prinsip pemuridan. Sekarang obor tugas pemuridan itu berada di tangan kita untuk disampaikan kepada penerus kita.
Renungkan: Sudahkah Anda menjadi murid Yesus yang memuridkan orang lain?

DOA: Kudus, kudus, kuduslah Tuhan Allah semesta alam. Dengan penuh ketakjuban dan hormat, kami semua sujud menyembah Engkau dalam kemuliaan-Mu. Perkenankanlah suara kami bergabung dengan paduan suara surgawi para malaikat dalam memuji-muji kemuliaan-Mu. Amin. (Lucas Margono)

September29

Renungan Senin, 28 September 2015

Renungan Senin, 28 September 2015, Hari Biasa, Pekan Biasa XXVI

Pfak. S. Wenseslaus, Mrt, S. Laurensius Ruiz, dkk, Mrt.
OP : Pfak. S. Dominikus Ibanez, S. Yakobus Kyushei Tomonaga, S. Laurensius Ruiz, dkk, Martir Jepoang.
OAD/ OSA : Pw. Para Martir Agustinian di Jepang.
OFMCap : Pfak. B. Inosensius dr Bertio, ImBiarw.

Bacaan I : Za 8:1-8

Keselamatan bagi Israel
8:1 Datanglah firman TUHAN semesta alam, bunyinya: 8:2 “Beginilah firman TUHAN semesta alam: Aku berusaha untuk Sion dengan kegiatan yang besar dan dengan kehangatan amarah yang besar. 8:3 Beginilah firman TUHAN: Aku akan kembali ke Sion dan akan diam di tengah-tengah Yerusalem. Yerusalem akan disebut Kota Setia, dan gunung TUHAN semesta alam akan disebut Gunung Kudus. 8:4 Beginilah firman TUHAN semesta alam: Akan ada lagi kakek-kakek dan nenek-nenek duduk di jalan-jalan Yerusalem, masing-masing memegang tongkat karena lanjut usianya. 8:5 Dan jalan-jalan kota itu akan penuh dengan anak laki-laki dan anak perempuan yang bermain-main di situ. 8:6 Beginilah firman TUHAN semesta alam: Kalau pada waktu itu sisa-sisa bangsa ini menganggap hal itu ajaib, apakah Aku akan menganggapnya ajaib? demikianlah firman TUHAN semesta alam. 8:7 Beginilah firman TUHAN semesta alam: Sesungguhnya, Aku menyelamatkan umat-Ku dari tempat terbitnya matahari sampai kepada tempat terbenamnya, 8:8 dan Aku akan membawa mereka pulang, supaya mereka diam di tengah-tengah Yerusalem. Maka mereka akan menjadi umat-Ku dan Aku akan menjadi Allah mereka dalam kesetiaan dan kebenaran.”

Mazmur 102:16-18,19-21,29,22-23

Refren: Tuhan sudah membangun Sion dan menampakkan diri dalam kemuliaan-Nya.

Mazmur:

* Maka bangsa-bangsa menjadi takut akan nama TUHAN, dan semua raja bumi menyegani kemuliaan-Mu, bila Engkau sudah membangun Sion, dan menampakkan diri dalam kemuliaan-Mu: bila Engkau mendengarkan doa orang-orang papa, dan tidak memandang hina doa mereka.

* Biarlah hal ini dituliskan bagi angkatan yang kemudian, dan bangsa yang diciptakan nanti akan memuji-muji TUHAN, sebab Ia telah memandang dari tempat-Nya yang kudus. TUHAN memandang dari sorga ke bumi, untuk mendengar keluhan orang tahanan, dan membebaskan orang-orang yang ditentukan harus mati.

* Anak hamba-hamba-Mu akan diam dengan tenteram dan anak cucu mereka akan tetap ada di hadapan-Mu, supaya nama TUHAN diceritakan di Sion, dan Dia dipuji-puji di Yerusalem, apabila psrs bsngsa berkumpul bersama-sama dan kerajaan-kerajaan berhimpun untuk beribadah kepada TUHAN.

Bacaan Injil : Luk 9:46-50

Siapa yang terbesar di antara para murid
9:46 Maka timbullah pertengkaran di antara murid-murid Yesus tentang siapakah yang terbesar di antara mereka. 9:47 Tetapi Yesus mengetahui pikiran mereka. Karena itu Ia mengambil seorang anak kecil dan menempatkannya di samping-Nya, 9:48 dan berkata kepada mereka: “Barangsiapa menyambut anak ini dalam nama-Ku, ia menyambut Aku; dan barangsiapa menyambut Aku, ia menyambut Dia, yang mengutus Aku. Karena yang terkecil di antara kamu sekalian, dialah yang terbesar.”
Seorang yang bukan murid Yesus mengusir setan
9:49 Yohanes berkata: “Guru, kami lihat seorang mengusir setan demi nama-Mu, lalu kami cegah orang itu, karena ia bukan pengikut kita.” 9:50 Yesus berkata kepadanya: “Jangan kamu cegah, sebab barangsiapa tidak melawan kamu, ia ada di pihak kamu.”

Renungan:

Nubuat Zakharia tentang kunci pemulihan penuh Israel ialah kembalinya Allah ke Sion, yang menunjuk kepada saat ketika Kristus datang kembali dalam kemuliaan dan memulai pemerintahan-Nya di dunia atas bangsa-bangsa. Pada saat itu kehadiran Allah akan menjadikan Yerusalem sebuah kota kebenaran dan kesetiaan, dan gunung Tuhan akan kudus, yaitu dikhususkan untuk beribadah kepada-Nya. Pasal ini memberikan sepuluh berkat yang akan menyertai pemerintahan di bumi itu, masing-masing diawali dengan frase, “Beginilah firman Tuhan semesta alam, …” Sehingga damai sejahtera, kemakmuran dan kebahagiaan terjadi di Yerusalem di masa mendatang. Za 8:4-5.

Kembalinya umat Israel dari pembuangan Babel dari timur; menjadi gambaran pemulihan di masa depan dari segala penjuru dunia, dari timur dan barat, yaitu dari seluruh bumi (bd. Yes 43:5-6), Allah akan sungguh-sungguh menjadi Allah umat-Nya, dan mereka akan menerima kebenaran-Nya melalui Kristus. Orang-orang yang kembali bukan hanya kaum buangan, tetapi semua orang Yahudi di perantauan dan setelah mereka kembali maka perjanjian akan dibaharui, bdk Yer 31:31+.

Keinginan Allah memulihkan Israel merupakan perbuatan serius walaupun umat Israel sendiri tidak menanggapi dengan antusias. Dan bahkan sering menyeleweng dan tidak tahan uji. Keseriusan Allah dinyatakan dalam ayat 8:2 ”Aku berusaha untuk Sion dengan kegiatan yang besar.” Dua kali Tuhan menyatakan kasih-Nya yang tak berkesudahan dan perhatian-Nya bagi Israel (bdg. ps. 1). “Kasih” atau Allah, pasti murka terhadap orang-orang yang mengusik umat Allah ( “Kehangatan amarah yang besar”). Allah begitu bertekad untuk kembali ke Sion dengan berkat pada masa mendatang, sehingga Dia berbicara tentang hal itu seolah-olah telah terlaksana. Yerusalem mendapat julukan kota yang Setia. Karena Allah sendiri yang berkenan berdiam di tengah-tengah kota tersebut. Za 8:3 Sehingga kedamaian dan keamanan Yerusalem terwujud, dan ketika Israel berhubungan dengan Tuhan sebagaimana mestinya dalam hal-hal rohani, berkat-berkat duniawi selalu mengikuti.

Peperangan-peperangan tidak akan mempengaruhi laju pertumbuhan umat Israel ataupun usia semua orang baik muda maupun tua. Maka di Yerusalem tetap “Penuh dengan anak laki-laki dan anak-anak perempuan” (Za 8:5). Bagi orang prediksi-prediksi ini tampak tidak mungkin, namun tidak ada yang terlalu hebat bagi Allah (Kej. 18:14; Mat. 19:26).

“Dari tempat terbitnya matahari sampai kepada tempat terbenamnya” orang-oang Yahudi yang terserak dikumpulkan kembali. Nubuat bahwa Israel harus berada di Tanah Perjanjian dan pada saat nubuat digenapi barulah oarang-orang Israel sadar akan maksud utama Allah baginya. Pemulihan negeri itu merupakan prasyarat pokok menurut kesaksian Kitab-kitab nubuat. Kembalinya orang-orang Israel ini akan terjadi dari segenap penjuru bumi (bdg. Yes. 11:11,12; Amos 9:14, 15).

Mazmur, Semua akan binasa tetapi Engkau tetap ada.

Di kala diri merasa sangat tak berdaya, pasti membutuhkan tumpuan yang kokoh dan kekal. Semua yang ada di dunia ini akan binasa, namun Allah Sang Pencipta tetap ada selamanya. Semua boleh usang seperti pakaian, tetapi Tuhan tetap sama, dan tahun-tahun-Nya tidak berkesudahan (27-28). Tuhanlah tumpuan yang kokoh dan kekal dari selama-lamanya sampai selama-lamanya. Di dalam naungan-Nya, kita merasakan ketenteraman sejati, walau di dalam penderitaan yang berat sekalipun; karena Dia menanggungnya bagi kita.

Tiba saatnya. Seluruh umat percaya harus meyakini bahwa Allah bukan sekadar ada, tetapi hadir dan bertindak tepat waktu di tengah-tengah kehidupan umat-Nya. Keyakinan inilah yang telah membuat orang Kristen mampu bertahan di tengah-tengah keadaan dunia sekarang ini, yang jahat, kacau, dan tak menentu. Akan tiba saatnya, di mana Allah yang bersemayam di tempat maha tinggi akan memandang ke bumi dan mendengar doa keluhan umat-Nya. Ia akan membebaskan umat-Nya, agar nama-Nya dimuliakan.

Renungkan: Semua bisa berubah, bahkan akhirnya binasa. Tetapi Allah kita kekal. Dia yang telah menciptakan, menebus, dan memelihara kita.

Injil hari ini, Ambisi untuk menjadi yang ter ….

Bagi sementara orang keinginan untuk maju, untuk terkenal, untuk berkuasa dan memiliki kredibilitas terpercaya adalah sah-sah saja, wajar-wajar saja. Bahkan tidak sedikit orang yang berambisi untuk itu dan siap menekuninya. Fokus perhatian pada pemenuhan ambisi ini pun terjadi di kalangan para murid Tuhan Yesus. Bahkan mereka dengan sangat ekstrim berani mengungkapkan hal tersebut kepada Yesus. Di saat Tuhan sedang memusatkan perhatian pada urusan kekal Kerajaan Allah dengan syarat-syaratnya yang berat — Ia harus menderita dan dibunuh—dan untuk kepentingan umat manusia, para murid lebih memusatkan perhatian pada ambisi dan kepentingan pribadi mereka (ayat 46). Itulah sebabnya mengapa para murid tidak mengerti apa maksud ucapan Tuhan Yesus tentang penderitaan-Nya.

Namun, Tuhan Yesus begitu baik dan sabar meladeni kekisruhan pikiran murid-murid-Nya. Padahal, ketidakpahaman mereka terhadap penderitaan yang akan dialami-Nya sebenarnya makin memberatkan pergumulan-Nya. Diambil-Nya seorang anak kecil. Melalui perkataan-Nya, Ia mengubah konsep para murid tentang arti “penting” dan besar. Anak kecil itu didudukkan sebagai pihak yang sering kali tidak dipedulikan orang. Menurut Yesus penilaian seperti ini tidak berlaku dalam Kerajaan Allah. Artinya, mereka yang benar-benar “besar” dan “penting” dalam Kerajaan Allah adalah mereka yang dengan segala kerendahan hati memperhatikan “orang-orang kecil“ dan “perkara-perkara kecil” (ayat 48).

Belajar memperhatikan yang kecil dan sedia menjadi kecil, adalah cara untuk mengerti apa sesungguhnya yang diartikan “penting” dalam prioritas Tuhan Yesus. Tuhan Yesus juga mengajar para murid untuk tidak hanya menganggap kalangan sendiri yang paling penting atau paling benar.

Renungkan: Orang yang berbesar hati akan sudi mengakui fakta kehadiran dan karya Allah melalui orang lain.

DOA: Tuhan Yesus, ajarlah kami untuk menjadi sungguh-sungguh rendah hati. Tolonglah kami untuk berhenti mengejar-ngejar kekuasaan serta status dan mulai melayani dalam kasih dan kerendahan hati. Amin. (Lucas Margono)

September28

Renungan Minggu, 27 September 2015

Renungan Minggu, 27 September 2015, Hari Minggu Biasa, Pekan Biasa XXVI

CM/PK : HRAYA S. VINSENSIUS A.PAULO, Im, Pendiri Tarekat.
PMY : HRAYA S.VINSENSIUS A. PAULO, Im, Pld Karya Tarekat.

Bacaan I : Bil 11:25-29

11:25 Lalu turunlah TUHAN dalam awan dan berbicara kepada Musa. Kemudian diambil-Nya sebagian dari Roh yang ada pada Musa, dan ditaruh-Nya atas ketujuh puluh tua-tua Israel. Ketika Roh itu hinggap pada mereka, penuhlah mereka dengan Roh seperti nabi, tetapi sesudah itu tidak lagi. 11:26 Pada waktu itu masih ada dua orang tinggal di perkemahan; yang seorang bernama Eldad, yang lain bernama Medad. Mereka itu termasuk orang-orang yang dicatat, tetapi mereka tidak turut pergi ke kemah. Ketika Roh itu hinggap pada mereka, penuhlah mereka itu dengan Roh seperti nabi di tempat perkemahan. 11:27 Lalu berlarilah seorang muda memberitahukan kepada Musa: “Eldad dan Medad penuh Roh seperti nabi di tempat perkemahan.” 11:28 Maka menyahutlah Yosua bin Nun, yang sejak mudanya menjadi abdi Musa: “Tuanku Musa, cegahlah mereka!”
11:29 Tetapi Musa berkata kepadanya: “Apakah engkau begitu giat mendukung diriku? Ah, sekiranya seluruh umat TUHAN menjadi nabi, oleh karena TUHAN memberi Roh-Nya hinggap kepada mereka!”

Mazmur 19:8,10,12-13,14

Refren: Titah Tuhan itu tepat, menyukakan hati.

Mazmur:

* Taurat Tuhan itu sempurna, menyegarkan jiwa; peraturan Tuhan itu teguh, memberikan hikmat kepada orang bersahaja.

* Takut akan TUHAN itu suci, tetap untuk selama-lamanya; hukum-hukum TUHAN itu benar, adil selalu.

* Semua itu diperhatikan oleh hamba-Mu, memang besar ganjaran orang yang berpegang padanya. Tetapi siapa yang sadar akan kesesatannya? Bebaskanlah aku dari apa yang tidak kusadari.

* Lindungilah pula hamba-Mu terhadap kecongkakan jangan sampai aku dikuasai olehnya! Memang aku menjadi tak bercela dan bebas dari pelanggaran besar.

Bacaan II : Yak 5:1-6

Peringatan kepada orang kaya
5:1 Jadi sekarang hai kamu orang-orang kaya, menangislah dan merataplah atas sengsara yang akan menimpa kamu! 5:2 Kekayaanmu sudah busuk, dan pakaianmu telah dimakan ngengat! 5:3 Emas dan perakmu sudah berkarat, dan karatnya akan menjadi kesaksian terhadap kamu dan akan memakan dagingmu seperti api. Kamu telah mengumpulkan harta pada hari-hari yang sedang berakhir. 5:4 Sesungguhnya telah terdengar teriakan besar, karena upah yang kamu tahan dari buruh yang telah menuai hasil ladangmu, dan telah sampai ke telinga Tuhan semesta alam keluhan mereka yang menyabit panenmu. 5:5 Dalam kemewahan kamu telah hidup dan berfoya-foya di bumi, kamu telah memuaskan hatimu sama seperti pada hari penyembelihan. 5:6 Kamu telah menghukum, bahkan membunuh orang yang benar dan ia tidak dapat melawan kamu.

Bacaan Injil : Mrk 9:38-43,45,47-48

Seorang yang bukan murid Yesus mengusir setan
9:38 Kata Yohanes kepada Yesus: “Guru, kami lihat seorang yang bukan pengikut kita mengusir setan demi nama-Mu, lalu kami cegah orang itu, karena ia bukan pengikut kita.” 9:39 Tetapi kata Yesus: “Jangan kamu cegah dia! Sebab tidak seorangpun yang telah mengadakan mujizat demi nama-Ku, dapat seketika itu juga mengumpat Aku. 9:40 Barangsiapa tidak melawan kita, ia ada di pihak kita. 9:41 Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya barangsiapa memberi kamu minum secangkir air oleh karena kamu adalah pengikut Kristus, ia tidak akan kehilangan upahnya.”
Siapa yang menyesatkan orang Tentang garam 9:42 “Barangsiapa menyesatkan salah satu dari anak-anak kecil yang percaya ini, lebih baik baginya jika sebuah batu kilangan diikatkan pada lehernya lalu ia dibuang ke dalam laut. 9:43 Dan jika tanganmu menyesatkan engkau, penggallah, karena lebih baik engkau masuk ke dalam hidup dengan tangan kudung dari pada dengan utuh kedua tanganmu dibuang ke dalam neraka, ke dalam api yang tak terpadamkan;
9:45 Dan jika kakimu menyesatkan engkau, penggallah, karena lebih baik engkau masuk ke dalam hidup dengan timpang, dari pada dengan utuh kedua kakimu dicampakkan ke dalam neraka;
9:47 Dan jika matamu menyesatkan engkau, cungkillah, karena lebih baik engkau masuk ke dalam Kerajaan Allah dengan bermata satu dari pada dengan bermata dua dicampakkan ke dalam neraka, 9:48 di mana ulat-ulat bangkai tidak mati dan api tidak padam.

Renungan:

Kepentingan golongan pemecah persatuan.
Alasan utama umat Tuhan tidak dapat bersatu adalah selalu adanya kepentingan golongan tertentu yang ditekan. Hal ini terlihat dari bacaan hari ini. Yosua mendesak Musa untuk menghentikan Eldad dan Medad yang juga kepenuhan seperti nabi, karena mereka berdua tidak termasuk kelompok 70 dan mereka tidak mau tampil ketika diundang Musa. Banyak orang Katolik masa kini memiliki sikap seperti Yosua yaitu mencela atau bahkan menghalangi orang lain untuk melakukan pelayanan, karena mereka tidak termasuk kelompok tertentu atau mereka dari kelompok yang lain. Teladanilah sikap kebesaran hati Musa (ayat 29)

Jawaban doa sumber malapetaka? Teriakan bangsa Israel untuk makan daging adalah hal wajar. Allah sangat mengerti dan memperhatikan. Dengan kuasa yang dahsyat dicurahkan-Nya daging burung puyuh dalam jumlah besar (ayat 31) sebagai jawaban atas teriakan mereka. Namun justru itu menjadi sumber malapetaka. Penyebabnya bukan terletak pada berkat yang dicurahkan Allah tetapi cara bangsa itu menikmati berkat-Nya yang membawa malapetaka. Tuhan murka kepada Israel karena mereka menikmati berkat Tuhan dengan nafsu rakus. Hati-hati, jangan biarkan nafsu rakus menguasai kita, bila kita tidak ingin murka Tuhan mewarnai kehidupan kita.

Mazmur, Kenal Tuhan melalui Kitab Suci
Kuasa, kemuliaan, dan hikmat Allah nyata di dalam alam semest. Langit menjadi tempat bagi Allah untuk menempatkan matahari, bulan, dan bintang. Ketiganya berfungsi sebagai penerang bagi dunia, serta untuk membedakan siang dari malam (Kej. 1:14-19). Meski tidak ada suara atau kata-kata, berita tentang kemuliaan Allah terpancar ke seluruh jagat raya melalui keindahan semesta. Memang tak perlu ada cerita maupun berita, karena panasnya sinar matahari yang menjamah seluruh ujung bumi menjadi bukti tak terbantahkan mengenai keberadaan Allah.

Namun pengetahuan tentang Allah melalui alam tidak sejelas pengenalan yang dinyatakan di dalam Taurat-Nya. Melalui ciptaan kita tahu ada Allah yang mencipta alam. Akan tetapi, pengetahuan tersebut tidak cukup membawa kita mengenal Tuhan secara pribadi. Perhatikan, pemazmur memakai nama “Allah” (ayat 2) ketika berbicara mengenai ciptaan dan memakai nama Tuhan (ayat 8-10) ketika berbicara tentang Taurat. Kata Tuhan (ditulis dengan huruf kapital) berasal dari kata Yahweh. Jika Allah (berasal dari kata Elohim) lebih menggambarkan Dia sebagai Pencipta langit dan bumi, maka Yahweh (yang merupakan nama pribadi Allah) lebih menggambarkan Tuhan, Allah perjanjian yang memberikan Taurat.
Pemazmur memaparkan tujuh (menunjukkan angka sempurna) karakter Taurat yaitu sempurna, teguh, tepat, murni, suci, benar, dan adil. Umat Allah yang merenungkan Taurat akan mendapatkan banyak faedah: disegarkan, diberi hikmat dan bersuka cita (ayat 8-9). Sebab itu pemazmur menganggap Taurat lebih indah daripada emas dan lebih manis daripada madu (ayat 11). Bukan itu saja, umat Allah yang berpegang pada Taurat akan terhindar dari banyak hal negatif termasuk kesesatan, pelanggaran, dan tipuan orang jahat (ayat 12-14).

Taurat dapat diartikan sebagai ajaran yang Tuhan berikan di dalam Kitab Suci. Marilah kita memperlakukan Kitab Suci sebagai anugerah berharga karena Tuhan memberikannya supaya kita dapat mengenal Dia secara pribadi.

Yakobus dalam bacaan kedua, Teguran terhadap orang kaya
Siapakah orang kaya yang ditegur oleh Yakobus sedemikian keras? Samakah dengan mereka yang takabur melupakan Tuhan dalam perencanaan usaha mereka (4:13-17)? Rupanya tidak! Yakobus kini berbicara dari konteks sosial zamannya, menegur keras para tuan tanah yang serakah menguasai tanah dan mempekerjakan orang di tanah tersebut secara tidak adil. Dalam surat Yakobus, “kerja” tidak saja mengandung arti harafiah: ekonomis, tetapi juga arti rohani: yakni cara tertentu orang memperlakukan harta, dalam hal ini harta orang lain. Bila orang kaya menambah harta dari upah buruh yang dia tahan (4), tentu salah! Setiap majikan mempunyai tanggung jawab di hadapan Allah untuk menggaji para pekerjanya secara memadai. Jangan sampai majikan menggelapkan hak para pekerja. Tuhan memperhatikan pekerja yang tertindas dan mendengarkan teriakan mereka!

Yakobus juga memperingatkan orang untuk tidak menimbun kekayaan (2-3, band. Mat. 6:19-21). Yang ia maksud bukanlah tabungan untuk hari depan, karena menabung merupakan tindakan bijaksana. Yesus mengajar orang untuk mendapatkan harta di surga dengan memberi bantuan kepada orang miskin (lih. Mrk. 10:21). Orang yang menimbun kekayaan namun tidak membantu si miskin disebut tamak! Ini salah! Sebab Yesus telah berjanji untuk menjamin kebutuhan umat-Nya (lih. Mat. 6:33). Ada dua kesalahan yang terkait dengan ketamakan dan tidak peduli sosial ini. Pertama, orang hanya memperhatikan yang fana dan mengabaikan yang kekal. Mereka lupa bahwa emas dan perak tidak dapat menyelamatkan mereka dari hukuman Allah. Padahal zaman ini sedang menuju akhir! Kedua, ketamakan membuat orang menginjak-injak orang-orang papa. Padahal Tuhan memihak mereka dan melawan orang yang menindas mereka.

Sampai kini pun dosa di sekitar perolehan kekayaan, perlakuan terhadap harta, dan sikap terhadap orang papa masih berlangsung di sekitar kita. Kiranya kita memiliki sikap yang benar terhadap semua itu!

Injil hari ini, Membela Yesus
Persaingan memang menjadi warna dalam dunia bisnis. Namun apakah dunia pelayanan juga mengenal persaingan? Lalu bagaimana perasaan Anda atas keberhasilan pelayanan gereja lain? Iri? Atau ada perasaan tersaingi?

Murid-murid yang diwakili oleh Yohanes menyatakan keheranan karena ada orang, di luar kedua belas murid, yang berhasil mengusir setan dengan memakai nama Yesus. Bagaimana hal itu bisa terjadi? Bukankah para murid memiliki hak monopoli dalam hubungan mereka dengan Sang Guru? Bukankah Yesus tidak menyuruh orang itu melakukannya sebagaimana Ia telah menyuruh kedua belas murid-Nya (Mrk. 3:14-15)? Atau mungkin keberhasilan orang itu dan kegagalan kesembilan murid yang lain yang justru mengganggu perasaan murid-murid Yesus (Mrk. 9:18)?

Meski demikian Yesus tidak ikut gusar. Yesus tidak keberatan bila orang itu memakai nama-Nya untuk mengusir setan. Dapat dipastikan bahwa orang tersebut adalah orang yang percaya pada Yesus walau ia tidak termasuk murid. Artinya orang itu bukan musuh Yesus. Yesus tidak mau para murid melihat pengusiran setan sebagai tindakan yang salah hanya karena orang itu tidak termasuk kedua belas murid. Karena dengan menolong orang lain, sesungguhnya orang itu telah melakukan perintah Allah. Malah ia akan menerima upah karena kebaikan yang telah dilakukan (ayat 41).

Kita pun hendaknya jangan pernah berpikir bahwa hanya kita saja yang dapat melakukan yang baik. Atau kita berpikir bahwa lebih baik bila orang lain bergabung dengan kita karena akan lebih banyak yang bisa dilakukan. Ini adalah pikiran yang sempit. Sebaiknya kita bersyukur atas pelayanan dan pekerjaan baik yang dilakukan orang lain. Hati-hatilah terhadap kecenderungan mencela pelayanan orang lain hanya karena mereka tidak termasuk aliran gereja kita. Mungkin saja mereka melakukan kesalahan dalam beberapa hal. Namun ingatlah bahwa lebih baik jika suatu pelayanan dilakukan oleh orang lain daripada tidak sama sekali.

Tuhan tidak menghendaki umat-Nya melakukan dosa. Karena itu bila ada orang yang menyebabkan orang lain berdosa, maka ia harus menerima ganjaran (ayat 42). Bahkan bila salah satu anggota tubuh kita menyebabkan kita berbuat dosa, Tuhan menyuruh kita untuk membuangnya. Terdengar ekstrim? Memang. Namun Tuhan tidak akan memberikan perintah tanpa suatu sebab.

Selanjutnya mari kita berpikir, apakah dengan memutilasi diri maka kita langsung dapat mengontrol dosa? Sesungguhnya dosa adalah masalah hati. Jika kita memotong tangan kanan, masih ada tangan kiri yang dapat melakukan dosa. Dan jika kita memotong semua anggota tubuh, masih ada pikiran dan hati yang dapat berbuat dosa. Maka kita melihat bahwa sesungguhnya yang Tuhan inginkan adalah keaktifan kita melawan segala sesuatu yang akan menjauhkan kita dari Tuhan. Sebab pencobaan datang melalui tangan dengan apa yang kita lakukan, melalui kaki dengan tujuan kita pergi, dan melalui mata dengan apa yang kita lihat. Aktif melawan dosa sangat perlu kita lakukan karena bila tidak, nerakalah yang akan menjadi bagian kita (ayat 47). Untuk itu murid Tuhan perlu melatih diri agar tidak kehilangan upah imannya.

Dalam kehidupan sebagai murid Tuhan, kita tidak akan lepas dari ujian-ujian yang diberikan Allah. Ujian itu bagai garam pada makanan yang akan memberi rasa serta mencegah pembusukan (band. Yak. 1:2-4). Namun jika garam menjadi tawar, maka hasil yang diinginkan tak akan tercapai. Begitu pula jika kita tidak memandang penting ujian dari Allah, kita bisa menjadi kebal sehingga ujian itu tidak lagi mendatangkan manfaat bagi kita.
Maka bagi kita yang telah memiliki anugerah yang menyelamatkan, berdoalah senantiasa agar kita tidak jatuh ke dalam dosa. Hiduplah dalam damai dan kasih dengan orang lain. Jangan mencari hal-hal besar, tetapi hiduplah dalam kerendahan hati. Semua hal ini kelihatan sederhana, tetapi akan mendatangkan upah bagi kita.

DOA: Tuhan Yesus Kristus, Engkau adalah Tuhan dan Juruselamat kami. Jauhkanlah kami dari sikap intoleransi dan angkuh terhadap pihak mana pun yang tidak seiman dengan kami. Amin. (Lucas Margono)

September27

Renungan Sabtu, 26 September 2015

Renungan Sabtu, 26 September 2015, Hari Biasa, Pekan Biasa XXV

Pfak. St. Kosmas dan St. Damianus, Mrt.
CSsR. Pfak. B. Gaspar Srangassiner, Im,
OFS. Pfak. St. Elzear dan Delfina, Ordo III

Bacaan I : Za 2:1-5,10-11a

Aku datang dan tinggal di tengah-tengahmu,
2:1 Aku Zakaria, melayangkan mataku dan melihat: Tampak seorang yang memegang tali pengukur. 2:2 Aku lalu bertanya: “Ke manakah engkau pergi?” Maka ia menjawab: “Ke Yerusalem, untuk mengukurnya, untuk melihat berapa lebar dan panjangnya.” 2:3 Lalu malaikat yang berbicara dengan daku maju ke depan. Sementara itu seorang seorang malaikat lain maju, lalu mendekatinya, 2:4 dan diberi perintah: “Larilah, katakanlah kepada orang muda di sana itu, demikian: Yerusalem akan tetap tinggal seperti padang terbuka oleh karena banyaknya manusia dan hewan di dalamnya. 2:5 Dan Aku sendiri, demikianlah sabda TUHAN, akan menjadi tembok berapi di sekelilingnya, dan Aku akan menjadi kemuliaan di dalamnya.”
2:10 Bersorak-sorailah dan bersukarialah, hai puteri Sion, sebab sesungguhnya Aku datang dan tinggal di tengah-tengahmu, demikianlah sabda TUHAN; 2:11a dan pada waktu itu banyak bangsa akan menggabungkan diri kepada Tuhan dan akan menjadi umat-Ku, dan Aku akan tinggal di tengah-tengahmu.”

Mazmur Tanggapan : Yer 31:10,11-12ab,13

Refren: Tuhan menjaga kita seperti gembala menjaga kawanan dombanya.

Mazmur:

* Dengarlah firman TUHAN, hai bangsa-bangsa, dan beritahukanlah di tanah-tanah pesisir yang jauh, katakanlah: Dia yang telah menyerakkan Israel akan menghimpunnya kembali, dan menjaganya seperti gembala menjaga kawanan dombanya!

* Sebab TUHAN telah membebaskan Yakub, telah menebusnya dari tangan orang yang lebih kuat dari padanya. Mereka akan datang bersorak-sorak di atas bukit Sion, muka mereka akan berseri-seri karena kebajikan TUHAN.

* Waktu itu anak-anak dara akan bersukaria menari beramai-ramai, orang-orang muda dan orang-orang tua akan bergembira. Aku akan mengubah perkabungan mereka menjadi kegirangan, akan menghibur dan menyukakan mereka sesudah kedukaan.

Bacaan Injil : Luk 9:43b-45

Pemberitahuan kedua tentang penderitaan Yesus
9:43b Semua orang heran karena segala yang dilakukan Yesus. Lalu Yesus berkata kepada murid-murid-Nya: 9:44 “Dengarlah dan camkanlah segala perkataan-Ku ini: Anak Manusia akan diserahkan ke dalam tangan manusia.” 9:45 Mereka tidak mengerti perkataan itu, sebab artinya tersembunyi bagi mereka, sehingga mereka tidak dapat memahaminya. Dan mereka tidak berani menanyakan arti perkataan itu kepada-Nya.

Renungan:

Yerusalem masih dalam keadaan yang memprihatinkan pada akhir pembuangan di Babel. Jumlah orang yang kembali relatif sedikit. Allah memberikan semangat kepada mereka dengan mengatakan bahwa Ia belum selesai dengan Yerusalem; kota itu akan dijadikan tempat paling mulia di bumi. Penglihatan ketiga ini memandang ke depan kepada kerajaan seribu tahun, ketika kota ini tidak akan bertembok lagi dan penuh sesak dengan orang banyak. Dalam kerajaan seribu tahun, Yerusalem tidak akan memerlukan tembok karena Tuhan sendiri akan menjadi tembok berapi di sekitarnya (bd. Yes 4:5). Bahkan yang lebih penting, kemuliaan Allah di tengah-tengah umat-Nya akan menjadikan seluruh kota itu suatu bait suci yang dipenuhi kehadiran-Nya (bd. Yeh 43:1-7). Bahkan kini, kehadiran dan kemuliaan Allah di antara umat-Nya adalah sesuatu yang seharusnya didambakan dan dicari oleh gereja melebihi segala sesuatu yang lain. (Yer 31:1-5).

Sesungguhnya Aku datang dan diam di tengah-tengahmu. Kegirangan Sion akan lengkap dengan kembalinya sang Mesias dalam penampakan-Nya yang kasat mata. Banyak bangsa akan menggabungkan diri kepada TUHAN. Pada masa kekuasaan dan kemuliaan-Nya, Mesias akan menarik banyak bangsa kepada-Nya. Aku akan diam di tengah-tengahmu. Untuk yang ketiga kalinya dalam pasal ini, nabi menyatakan bahwa Mesias akan tinggal di tengah-tengah umat-Nya. Yehuda sebagai milik-Nya. Dengan banyaknya bangsa-bangsa yang akan diberkati dalam Kristus TUHAN tidak akan mengurangi kemuliaan Israel. Israel akan tetap menjadi ahli waris TUHAN, dan Kota Kudus itu akan tetap merupakan tempat kediaman-Nya. (Yer 31:10-11)

Mazmur, Hari depan yang lebih baik.

Di dunia ini tidak ada yang dapat menandingi kualitas kasih sayang seorang ibu kepada anak-anaknya. Demikian pula tidak ada yang dapat menandingi duka seorang ibu yang kehilangan anak-anaknya. Namun dalam nas kita hari ini para ibu bangsa Yehuda diperintahkan oleh Allah supaya berhenti menangis karena kehilangan anak-anak mereka. Mengapa? Sebab masih ada harapan bagi masa depan mereka. Anak-anak mereka akan kembali. Penderitaan yang mereka alami bukanlah babak akhir bagi mereka, karena kebahagiaan dan kedamaian akan segera menggantikannya.

Firman kepada para ibu Yehuda merupakan bagian dari janji pengharapan yang diberikan kepada bangsa Yehuda. Semua janji Allah itu menyatakan bahwa masa depan mereka sangat cerah. Allah tidak hanya akan mempersatukan mereka kembali namun Allah sendiri yang akan memelihara dan menjaga keamanan mereka setelah dipersatukan, sehingga tidak akan ada lagi musuh yang dapat menghancurkanya (10). Jika Allah adalah gembalanya, apa yang harus ditakutkan oleh domba-domba-Nya. Mereka telah dilepaskan dari penguasa kuat yang menindas dan mengeksploitasinya (11). Kemerdekaan sebuah bangsa merupakan pintu gerbang menuju kebahagiaan di masa depan bagi sebuah bangsa. Apa yang akan terjadi pada taman yang diairi dengan baik? Itulah yang akan terjadi pada Yehuda sebab bukit Sion sudah dipulihkan. Ke sanalah Yehuda akan beribadah. Ke sanalah Yehuda akan menemukan sumber air kehidupan. Karena kebajikan Allah hidup mereka semuanya terjamin baik anak-anak, anak muda, hingga orang tua, baik yang dilayani maupun yang melayani.

Janji Allah ini pasti sebab Allah sendiri yang menjanjikan. Bahkan jika Allah tidak mau atau tidak dapat menepati janji-Nya, maka Nama Allah akan dipertaruhkan, sebab bukankah Ia sendiri sudah menyatakan semuanya bukan saja kepada bangsa Yehuda tapi juga kepada bangsa- bangsa lain di seluruh pelosok dunia (10)? Dialah Allah pengharapan yang pasti bagi masa depan yang lebih baik.

Jika Yehuda yang telah memberontak kepada Allah dijanjikan masa depan yang penuh harapan, lebih-lebih lagi umat Kristen yang sudah dibebaskan dari perbudakan dosa tidakkah hari depan kita juga penuh harapan?

Injil hari ini, Serangkaian peristiwa seputar diri Yesus makin menegaskan bahwa Ia adalah “Mesias dari Allah” (9:20). Peristiwa-peristiwa seperti pengusiran roh-roh jahat, pembangkitan orang mati, pemberian makan lima ribu orang, pemuliaan di atas gunung, dll., mungkin terasa beruntun untuk mereka pahami. Tiga perikop yang kita baca hari ini menunjukkan pergumulan mereka untuk memahami panggilan diri mereka sebagai murid-murid Yesus di tengah arus penyingkapan yang begitu deras ini.
Mereka sulit memahami pemberitahuan Yesus bahwa Ia harus menderita (44, bdk. 22). Bila ini saja masih sulit mereka terima, apalagi aplikasi ikutan bahwa sebagai para pengikut Yesus, mereka pun harus ikut memikul salib. Padahal mereka sendiri dipenuhi angan-angan kebesaran dan posisi tinggi. Sebagai antidot (obat penawar) bagi “pikiran” ini, Yesus mengambil seorang anak kecil dan, yang lebih mengejutkan lagi, menjadikannya sebagai teladan bagi para calon `pembesar’ Kerajaan Allah. Mereka juga lebih mementingkan masalah “kelompok dalam” versus. “orang luar” ketimbang menyadari bahwa orang tersebut sama-sama melakukan pelayanan dalam nama Tuhan Yesus. Tiga peristiwa ini menunjukkan pergumulan dan koreksi yang harus mereka alami. Betapa Tuhan membentuk mereka.

Pelajaran yang diberikan nas ini sangat luar biasa. Sebagai murid-murid Kristus, banyak di antara kita layak digolongkan sebagai aktivis-aktivis pelayan. Sayangnya, hingar-bingar pelayanan kerap membuat kita berorientasi pada status dan hierarki serta eksklusivisme kelompok. Padahal, kita dipanggil untuk memikul salib demi Dia, menjadi orang-orang hina demi Tuhan, dan bersekutu bersama semua orang yang menyebut nama-Nya sebagai Tuhan dan Juruselamat. Inilah kita di dalam Dia.

Renungkan: Bukan kemampuan dan talenta, tetapi bagaimana Tuhan membentuk kita seturut dengan kehendak-Nya, itulah yang mendefinisikan diri kita.

DOA: Bapa kami yang ada di surga, Allah yang Mahabaik dan sumber segala kebaikan. Hanya Engkaulah yang baik. Bapa, tulislah pesan salib dalam hati kami masing-masing, agar kami dapat menjadi semakin matang dalam hidup kami dalam Roh, melalui kemenangan Putera-Mu terkasih atas dosa dan maut. Amin. (Lucas Margono)

September 26

Renungan Jumat, 25 September 2015

Renungan Jumat, 25 September 2015, Hari Biasa, Pekan Buasa XXV

Bacaan I : Hag 2:1b-9

2:1b Pada tahun kedua pemerintahan Raja Darius, pada tanggal dua puluh satu bulan ketujuh, datanglah firman TUHAN dengan perantaraan nabi Hagai, bunyinya: 2:2 “Katakanlah kepada Zerubabel bin Sealtiel, bupati Yehuda, dan kepada Yosua bin Yozadak, imam besar, dan kepada sisa bangsa Israel, demikian: 2:3 Masih adakah di antara klian yang dahulu melihat rumah Tuhan dalam kemegahannya yang semula? Dan bagaimanakah kamu lihat keadaannya yang sekarang? Bukankah keadaannya yang sekarang kamu katakana sama sekali tidak berarti? 2:4 Tetapi sekarang, kuatkanlah hatimu, hai Yosua bin Yosadak, imam besar; kuatkanlah hatimu, hai segala rakyat negeri, demikianlah sabda TUHAN; Bekerjalah, sebab Aku ini menyertai kalian”, demikianlah sabda TUHAN semesta alam, 2:5 sesuai dengan janji yang telah Kuikat dengan kalian pada waktu kalian keluar dari Mesir. Dan Roh-Ku tetap tinggal di tengah-tengahmu. Janganlah takut! 2:6 Dan beginilah sabda TUHAN semesta alam: Sedikit waktu lagi maka Aku akan menggoncangkan langit dan bumi, laut dan darat; 2:7 Aku akan menggoncangkan segala bangsa, sehingga harta benda semua bangsa datang mengalir, Maka Aku akan memenuhi Rumah ini dengan kemegahan. 2:8 Sebab milik-Kulah perak dan emas, demikianlah sabda TUHAN semesta alam. 2:9 Maka kemegahan Rumah ini nanti, akan melebihi kemegahannya yang semula, sabda TUHAN semesta alam, dan di tempat ini Aku akan memberi damai sejahtera”, demikianlah sabda TUHAN.

Mazmur 43:1,2,3,4,

Refren: Berharap dan bersyukurlah kepada Allah, penolong kita.

Mazmur,

* Berilah keadilan kepadaku, ya Allah, dan perjuangkanlah perkaraku terhadap kaum yang tidak saleh! Luputkanlah aku dari penipu dan orang curang!

* Sebab Engkaulah Allah tempat pengungsianku. Mengapa Engkau membuang aku? Mengapa aku harus hidup berkabung di bawah impitan musuh?

* Suruhlah terang dan kesetiaan-Mu datang, supaya aku dituntun, dibawa ke gunung-Mu yang kudus dan ke tempat kediaman-Mu!

* Maka aku dapat pergi ke mezbah Allah, menghadap Allah, sukacita dan kegembiraanku, dan bersyukur kepada-Mu dengan kecapi, ya Allah, ya Allahku!

Bacaan Injil : Luk 9:19-22

9:19 Jawab mereka: “Yohanes Pembaptis, ada juga yang mengatakan: Elia, ada pula yang mengatakan, bahwa seorang dari nabi-nabi dahulu telah bangkit.” 9:20 Yesus bertanya kepada mereka: “Menurut kamu, siapakah Aku ini?” Jawab Petrus: “Mesias dari Allah.” 9:21 Lalu Yesus melarang mereka dengan keras, supaya mereka jangan memberitahukan hal itu kepada siapapun. 9:22 Dan Yesus berkata: “Anak Manusia harus menanggung banyak penderitaan dan ditolak oleh tua-tua, imam-imam kepala dan ahli-ahli Taurat, lalu dibunuh dan dibangkitkan pada hari ketiga.”

Renungan:

Allah berjanji kepada orang-orang Yahudi yang kembali dari pembuangan bahwa kemegahan Bait Suci yang dibangun kembali akan jauh melampaui kemegahan Bait Suci yang dibangun oleh raja Salomo – sebuah keindahan arsitektur zaman kuno. Ironisnya adalah bahwa Bait Suci yang dibangun kembali oleh orang-orang itu hanyalah merupakan bayangan dari Bait Suci yang didirikan oleh raja Salomo, artinya tidak ada apa-apanya apabila dibandingkan dengan Bait Suci sebelumnya. Baru beberapa abad kemudian – beberapa dekade sebelum kelahiran Yesus – Herodes Agung menyuruh melakukan perbaikan di sana-sini untuk memulihkan kemegahan Bait Suci seperti sebelumnya (yang dibangun oleh raja Salomo). Struktur yang baru dan telah diperbaiki ini kemudian dinamakan “Bait Suci kedua” seakan-akan bangunan pada zaman Hagai tidak termasuk hitungan.

Mengapa Allah menjanjikan kemegahan sedemikian untuk sebuah Bait Suci yang jauh dari memadai ketimbang Bait Suci sebelumnya (Salomo) maupun setelahnya (Herodes Agung)? Karena Allah melihat dengan cara yang lain daripada cara kita. Allah tidak berbicara mengenai kemegahan sebuah bangunan fisik, melainkan mengenai hati manusia yang dengan penuh pengorbanan membangunnya. Allah berjanji bahwa apabila mereka tetap setia kepada-Nya, maka mereka akan mengalami masa damai dan penuh berkat. Bukannya bangunan fisik yang membuat Allah merasa bahagia, melainkan suatu umat yang bergembira dalam Dia sebagai kekuatan mereka.
Pada hari ini pun Allah ingin membangun kembali Bait-Nya dalam diri kita masing-masing. Ia tidak mencari bangunan-bangunan fisik yang indah, melainkan umat dengan hati yang berkobar-kobar dengan kasih-Nya. Apa yang megah di mata dunia mungkin saja tidak sedikit pun menarik perhatian Bapa di surga. Apakah sebenarnya yang dinilai berharga oleh Allah? Kerendahan hati …… kedinaan! Ketaatan! Allah sangat menghargai sikap-sikap yang membuat hati kita terbuka bagi sabda-Nya, terbuka bagi koreksi-koreksi-Nya, dan terbuka bagi penghiburan-Nya. Allah menghargai setiap hal yang kita lakukan yang membawa satu langkah lagi lebih dekat untuk menjadi Kristus di tengah dunia.

Untuk melihat kemuliaan Bait Suci atau Bait Allah – sebuah bait yang kemegahannya jauh melampaui bait-bait yang lain – kita harus memperkenankan Roh Kudus untuk melanjutkan menyentuh hati kita serta mengubah hidup kita. Dia ingin mengubah diri kita menjadi pencerminan kehadiran-Nya. Marilah kita memperkenankan Yesus merobohkan struktur-struktur lama berupa kesombongan, kemandirian yang keliru, dan independensi dalam diri kita. Marilah kita memperkenankan Yesus membangun kembali diri kita masing di atas batu karang Kristus yang sungguh kokoh-kuat. Selagi Dia mengerjakan hal tersebut dalam diri kita, janganlah sampai kita pergi meninggalkan-Nya. Sebaliknya, kita sepatutnya mohon untuk diberikan lebih lagi.

Mazmur, Pengharapan akan keadilan Allah.

Ada saatnya bagi kita untuk menerima semua tekanan dari lingkungan yang tidak seiman dengan sepenuhnya bersandar kepada Allah yang akan menolong dan memberikan kekuatan. Ada pula saatnya bagi kita untuk mendobrak keluar dari tekanan itu dengan meminta Allah bertindak.
Mazmur 43 sebenarnya menyambung Mazmur 42. Pemazmur yang mulai berhasil mengatasi perasaan tertekannya sekarang meminta Allah bertindak demi keadilan-Nya. Ia adalah orang saleh yang mengalami penindasan dari orang-orang yang jahat, yaitu kaum tidak saleh, penipu, dan orang curang (ayat 1).

Tidak jelas apa yang pemazmur minta untuk Allah lakukan terhadap para musuhnya demi keadilan-Nya. Namun, pemazmur tahu apa yang ia dan bangsanya butuhkan. Pemazmur meminta agar Tuhan yang selama ini diyakininya sebagai tempat pengungsiannya bersegera menuntunnya kembali ke tempat di mana mereka boleh menikmati hadirat Allah (ayat 2,3).
Permintaan si pemazmur agar Tuhan bersegera melepaskan dia dari lingkungan orang-orang yang tidak percaya Tuhan sebenarnya mewakili kerinduan umat Israel untuk lepas dari penjajahan Babel dan kembali ke tanah mereka sendiri. Bagi mereka tempat ibadah yang sejati hanyalah di Yerusalem, kota kudus Allah, dan secara lebih spesifik lagi Bait Allah yang berdiri di Gunung Sion (ayat 3). Selama mereka masih dibuang di Babel, mereka tidak dapat dengan bebas beribadah kepada-Nya. Selama itu pula mereka tidak dapat menikmati Allah maupun Allah menikmati korban-korban persembahan dan puji-pujian mereka (ayat 4). Sekali lagi pemazmur menasihati jiwanya agar menaruh harapan pada Allah saja.

Renungkan: Katakan pada jiwa Anda: “Allah akan menolong saya.” Lalu, bersyukurlah kepada-Nya.

Injil hari ini, Pengakuan dari pengenalan yang benar.

Pertanyaan: “Siapakah Yesus?” tak pernah pupus di sepanjang sejarah era-mesianik. Berbagai asumsi orang tentang Yesus muncul dari kalangan rakyat sampai raja Herodes. Yesus perlu mempertegas pengenalan murid-murid tentang siapa Dia. Yesus bertanya: “Siapakah Aku ini?”. Bukan menurut pendapat orang banyak tetapi menurut diri mereka sendiri. Petrus menjawab: “Mesias dari Allah”.

Beberapa pengenalan akan Yesus dari orang banyak: Yesus dari Nazaret anak tukang kayu Yusuf, Rabi yang mengajarkan Kerajaan Allah, Penyembuh penyakit, dan Pengusir Setan. Maka mereka berpendapat bahwa Yesus mungkin Yohanes Pembaptis atau nabi Elia yang bangkit. Sama sekali tak ada dalam benak mereka bahwa Yesus adalah Mesias Karena gambaran Mesias yang diharapkan bangsa Yahudi adalah raja yang akan menjadi pembebas dari penjajahan bangsa Roma, raja yang agung dan perkasa. Sedang Yesus, sama sekali tidak menampakkan sifat rajawi-Nya. Pengakuan Petrus dan murid-murid tidak perlu disebarluaskan. Hal ini menjaga terjadinya salah paham dari orang-orang Yahudi tentang Kemesiasan Yesus.

Pengakuan ini amat penting. Yesus adalah nama pribadi, sedangkan Mesias (Kristus) adalah gelar-Nya. Mesias berarti yang diurapi untuk menyelamatkan manusia, bukan hanya dari penderitaan jasmani tetapi dari dosa dan maut. Sepanjang hidup-Nya di dunia Yesus tak dikenal sebagai Mesias yang sudah dinantikan berabad-abad. Kemesiasan-Nya menjadi jelas setelah kematian, kebangkitan, dan kenaikan-Nya ke sorga. Namun bagi murid-murid pengenalan ini amat penting. Sebab menjadi pengikut Yesus tanpa memiliki pengenalan pribadi yang jelas akan mudah terpengaruh oleh pendapat dan pandangan orang banyak yang jelas-jelas salah. Luk 9:22 – Anak Manusia harus menanggung banyak penderitaan … dan dibangkitkan pada hari ketiga

22. Anak Manusia harus menanggung banyak penderitaan … dan dibangkitkan pada hari ketiga.Kristus berkewajiban untuk memenuhi maksud Allah sebagaimana terungkap di dalam Kitab Suci. Konsep ini muncul di dalam pemberitaan gereja mula-mula (Kis. 2:23, 24; 13:17-34; 17:3; 26:22, 23). Kematian Yesus merupakan suatu tragedi, tetapi bukan suatu kebetulan; sebab Dia sedang menggenapi rencana penebusan Allah.

DOA: Tuhan Allah, ajarlah kami agar dapat mengenali tangan-tangan-Mu dalam peristiwa-peristiwa yang terjadi dalam kehidupan kami. Buatlah kami kaya dengan hikmat-Mu selagi Engkau membimbing kami melalui berbagai pencobaan dan sukacita kami, dengan demikian membawa kami lebih dekat lagi kepada persatuan akhir dengan-Mu. Amin. (Lucas Margono)

September 25