Renungan Kamis, 10 September 2015

Renungan Kamis, 10 September 2015, Hari Biasa, Pekan Biasa XXIII

Bacaan I : Kol 3:12-17

3:12 Karena itu, sebagai orang-orang pilihan Allah yang dikuduskan dan dikasihi-Nya, kenakanlah belas kasihan, kemurahan, kerendahan hati, kelemahlembutan dan kesabaran. 3:13 Sabarlah kamu seorang terhadap yang lain, dan ampunilah seorang akan yang lain apabila yang seorang menaruh dendam terhadap yang lain, sama seperti Tuhan telah mengampuni kamu, kamu perbuat jugalah demikian. 3:14 Dan di atas semuanya itu: kenakanlah kasih, sebagai pengikat yang mempersatukan dan menyempurnakan. 3:15 Hendaklah damai sejahtera Kristus memerintah dalam hatimu, karena untuk itulah kamu telah dipanggil menjadi satu tubuh. Dan bersyukurlah. 3:16 Hendaklah perkataan Kristus diam dengan segala kekayaannya di antara kamu, sehingga kamu dengan segala hikmat mengajar dan menegur seorang akan yang lain dan sambil menyanyikan mazmur, dan puji-pujian dan nyanyian rohani, kamu mengucap syukur kepada Allah di dalam hatimu. 3:17 Dan segala sesuatu yang kamu lakukan dengan perkataan atau perbuatan, lakukanlah semuanya itu dalam nama Tuhan Yesus, sambil mengucap syukur oleh Dia kepada Allah, Bapa kita.

Mazmur 150:1-2,3-4,5-6

Refren: Segala yang bernafas, pujilah Tuhan!

Mazmur:

* Pujilah Allah dalam tempat kudus-Nya! Pujilah Dia dalam cakrawala-Nya yang kuat! Pujilah Dia karena segala keperkasaan-Nya, pujilah Dia sesuai dengan kebesaran-Nya yang hebat!

* Pujilah Dia dengan tiupan sangkakala, pujilah Dia dengan gambus dan kecapi! Pujilah Dia dengan rebana dan tari-tarian, pujilah Dia dengan permainan kecapi dan seruling!

* Pujilah Dia dengan ceracap yang berdenting, pujilah Dia dengan ceracap yang berdentang! Biarlah segala yang bernafas memuji TUHAN!

Bacaan injil : Luk 6:27-38

Kasihilah musuhmu
6:27 “Tetapi kepada kamu, yang mendengarkan Aku, Aku berkata: Kasihilah musuhmu, berbuatlah baik kepada orang yang membenci kamu; 6:28 mintalah berkat bagi orang yang mengutuk kamu; berdoalah bagi orang yang mencaci kamu. 6:29 Barangsiapa menampar pipimu yang satu, berikanlah juga kepadanya pipimu yang lain, dan barangsiapa yang mengambil jubahmu, biarkan juga ia mengambil bajumu. 6:30 Berilah kepada setiap orang yang meminta kepadamu; dan janganlah meminta kembali kepada orang yang mengambil kepunyaanmu. 6:31 Dan sebagaimana kamu kehendaki supaya orang perbuat kepadamu, perbuatlah juga demikian kepada mereka. 6:32 Dan jikalau kamu mengasihi orang yang mengasihi kamu, apakah jasamu? Karena orang-orang berdosapun mengasihi juga orang-orang yang mengasihi mereka. 6:33 Sebab jikalau kamu berbuat baik kepada orang yang berbuat baik kepada kamu, apakah jasamu? Orang-orang berdosapun berbuat demikian. 6:34 Dan jikalau kamu meminjamkan sesuatu kepada orang, karena kamu berharap akan menerima sesuatu dari padanya, apakah jasamu? Orang-orang berdosapun meminjamkan kepada orang-orang berdosa, supaya mereka menerima kembali sama banyak. 6:35 Tetapi kamu, kasihilah musuhmu dan berbuatlah baik kepada mereka dan pinjamkan dengan tidak mengharapkan balasan, maka upahmu akan besar dan kamu akan menjadi anak-anak Allah Yang Mahatinggi, sebab Ia baik terhadap orang-orang yang tidak tahu berterima kasih dan terhadap orang-orang jahat. 6:36 Hendaklah kamu murah hati, sama seperti Bapamu adalah murah hati.” 6:37 “Janganlah kamu menghakimi, maka kamupun tidak akan dihakimi. Dan janganlah kamu menghukum, maka kamupun tidak akan dihukum; ampunilah dan kamu akan diampuni. 6:38 Berilah dan kamu akan diberi: suatu takaran yang baik, yang dipadatkan, yang digoncang dan yang tumpah ke luar akan dicurahkan ke dalam ribaanmu. Sebab ukuran yang kamu pakai untuk mengukur, akan diukurkan kepadamu.”

Renungan:
Wujud perubahan hidup.
Perubahan hidup hanya bisa terjadi bila penyesuaian diri terjadi. Penyesuaian diri yang terus menerus dengan Kristus akan menyebabkan orang semakin menyerupai Kristus. Kedua hal ini tidak terpisahkan. Pada perikop ini kita akan melihat bagaimana perubahan hidup semakin baik sebagai orang Kristen itu diteruskan dengan menerapkan tingkah laku yang mulia (ayat 16-17) dan menumbuhkan karakter ilahi (ayat 12-15).

Pertama, menumbuhkan karakter ilahi. Karakter-karakter yang dijabarkan di 12-15 adalah karakter Kristus yang dipraktikkan-Nya sepanjang hidup dan pelayanan-Nya di dunia ini. Teladan sudah ada, tinggal kita mempraktikkannya. Bagaimana caranya? “Sebagaimana Tuhan telah mengampuni kamu, kamu perbuat jugalah demikian(ayat 13b); “kenakanlah kasih … (ayat 14)”; “Hendaklah damai sejahtera Kristus memerintah dalam hatimu … (ayat 15a).”

Kedua, menerapkan tingkah laku mulia. Saling mengajar, dan saling menegur di antara sesama anak Tuhan (ayat 16a); menaikkan pujian dan syukur kepada Allah (ayat 16b); melakukan perbuatan (yang baik) dan mengatakan perkataan (yang membangun) di dalam nama Tuhan Yesus (ayat 17).

Pada masa modern ini, kadangkala perbuatan baik bukan keluar dari karakter baik, melainkan kamuflase dan manipulasi untuk mencapai keuntungan terselubung. Misalnya, pada saat kampanye pemilihan presiden maupun anggota legislative pasti disertai dengan berbagai perbuatan baik untuk memikat rakyat memilih capres dan cawapres tertentu maupun para calon anggota DPR. Namun, motivasi di baliknya bisa saja sekadar untuk menang dan mendapatkan kesempatan berkuasa untuk kepentingan pribadi/kelompok. Hal itu membuktikan karakter yang nonkristiani!
Mari kita sebagai orang Kristen/ Katolik yang sejati akan selalu mempraktikkan perbuatan baik yang sejalan dengan karakter yang sudah diubahkan.

Mazmur, Terus memuji Tuhan

Tak ada mazmur yang lebih tepat selain Mazmur 150 ini untuk mengakhiri kitab yang penuh dengan cita rasa dan haru biru perasaan dari para penulisnya. Semua perasaan yang tertumpah ruah dalam bentuk pujian maupun keluhan, syukur atau permohonan, dan keyakinan terkadang keraguan, diakhiri dengan satu puji-pujian yang mantap bahwa Tuhan memang layak dipuji.

Tuhan memang satu-satunya yang layak dipuji karena Dialah yang bertakhta di tempat tinggi oleh karena keperkasaan dan kebesaran-Nya (1-2). Itu berarti, semua ratap tangis, permohonan dan keputusasaan yang dipanjatkan pada mazmur-mazmur yang lampau tidaklah sia-sia. Dia mendengar dari langit yang tinggi untuk menjawab semuanya dengan kasih dan kuasa-Nya.

Oleh sebab itu, pujian yang dikumandangkan bagi-Nya tak boleh tanggung-tanggung. Bak orkestra, semua peralatan musik harus dipadukan untuk menembangkan kemegahan-Nya yang tak terbandingkan (3-5). Irama dan gerakan tarian pun harus mengekspresikan rasa syukur yang melimpah (4). Jauh lebih penting daripada semua instrumen musik dan gerak tari itu adalah ucap puji dan syukur yang keluar dari mulut umat Tuhan (6). Hanya mereka yang sudah mengalami anugerah pengampunan dan pemulihan Tuhan yang mampu menyanyikan kidung terindah, yang melampaui kemerduan paduan suara malaikat di surga.

Membaca, merenungkan serta menghayati mazmur adalah seperti mengarungi perjalanan hidup dengan aneka pengalaman, baik-buruk, senang-susah, berhasil-gagal. Tidak ada anak Tuhan yang luput dari gelombang kehidupan. Namun, perjalanan itu bukan tanpa ujung. Karena karya penebusan Kristus telah menyediakan jaminan surga mulia, pembebasan sejati dari kefanaan dan keberdosaan hidup di dunia ini. Kelak seluruh dunia akan menaikkan pujian Mazmur 150 ini. Maka, mari kita mulai melatih diri dalam setiap keadaan dan situasi untuk memuji Tuhan: Haleluya!

Injil hari ini, Mengasihi musuh

Sekali lagi mereka yang “mendengarkan” Yesus (27; bdk. 6:18, 45-49) dikejutkan dan ditantang untuk menganut pola hidup dan peri laku yang mencerminkan nilai-nilai kerajaan Allah yang ditandai oleh sikap radikal, “mengasihi musuh” (27a; 32; 35a). Sikap ini diwujudkan dalam dua tindakan konkret. Yang pertama ialah “berbuat baik” — bukan secara pasif melainkan secara proaktif di tengah serangan dan permusuhan terhadap kita: berbuat baik, memberkati, mendoakan, memberikan pipi yang lain, bahkan jubah dengan bajunya juga (27b-29; 33; 35b).

Yang kedua ialah “memberi” atau “meminjamkan” dengan ikhlas “tanpa mengharapkan balasan” (30; 34; 35c; 38). Inilah implikasi dari ucapan bahagia: pengikut Yesus dipanggil untuk membentuk suatu umat, warga Kerajaan Allah, yang ciri utamanya ialah tidak memperlakukan orang lain (khususnya mereka yang “membenci, mengucilkan, mencela dan menjelekkan” kita) sebagai musuh. Yang Yesus minta dari murid-murid-Nya ialah menerima nilai-nilai yang memutarbalikkan tata cara dunia sosial mereka.

Pola hidup dan perilaku ini haruslah berakar pada karakter Allah sebagai Bapa yang murah hati (36), termasuk kepada mereka “yang tidak tahu berterima kasih dan jahat” (35). Orang-orang semacam ini lazim kita pandang sebagai “musuh.” Kemurahan hati Allah itu harus kita terjemahkan pula dalam tindakan tidak menghakimi tetapi mengampuni, tidak menonjolkan kesalehan sendiri dengan menekankan kekurangan orang lain (37; 41-42). Kemurahan hati Allah yang berlimpah diibaratkan seperti pedagang di pasar yang tidak pelit, melainkan mengisi takaran atau timbangannya penuh-penuh, bahkan meluap ke luar (38). Demikianlah cara Allah Bapa memperlakukan anak-anak-Nya, yang dalam peri laku mereka terhadap sesama meneladani karakter-Nya.

Renungkan: Sama seperti Allah dengan murah hati meng-anugerahkan pengampunan dan penebusan dari dosa di dalam Kristus, demikianlah hendaknya anak-anak-Nya.

DOA: Tuhan Yesus, aku percaya bahwa Engkau memiliki pasokan rahmat tak terbatas untuk dicurahkan ke atas Gereja-Mu. Sembuhkanlah luka-lukaku. Tolonglah aku menjadi seorang pribadi yang berbelas-kasih terhadap orang-orang yang telah menyakitiku, seperti Engkau berbelas kasih terhadap diriku. Amin.(Lucas Margono)

September10

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s