Renungan Kamis, 17 September 2015

Renungan Kamis, 17 September 2015, Hari Biasa, Pekan Biasa XXIV

Pfak. S. Robertus Bellarminus, UskPujG
O.Carm/ OCD : Pesta S. Albertus dr Yerusalem, Usk. Pemberi Regula Karmel.
OCSO : Pfak. S.Martinus dr FinoJosa, Usk,
OFM/OFM.Conv/OFMCap/OSC/OFR/OFS :Pesta Stigmata Bapa Kita Fransiscus,
SFD : Pw.Stigmata Bapa Kita Fransiskus,
SJ : Pw.S.Robertus Bellarminus, ImPujG,
SSps : Pesta S.Hildegardis; Pelindung Tarekat

Bacaan I : 1Tim 4:12-16

4:12 Jangan seorangpun menganggap engkau rendah karena engkau muda. Jadilah teladan bagi orang-orang percaya, dalam perkataanmu, dalam tingkah lakumu, dalam kasihmu, dalam kesetiaanmu dan dalam kesucianmu. 4:13 Sementara itu, sampai aku datang bertekunlah dalam membaca Kitab-kitab Suci, dalam membangun dan dalam mengajar. 4:14 Jangan lalai dalam mempergunakan karunia yang ada padamu, yang telah diberikan kepadamu oleh nubuat dan dengan penumpangan tangan sidang penatua. 4:15 Perhatikanlah semuanya itu, hiduplah di dalamnya supaya kemajuanmu nyata kepada semua orang. 4:16 Awasilah dirimu sendiri dan awasilah ajaranmu. Bertekunlah dalam semuanya itu, karena dengan berbuat demikian engkau akan menyelamatkan dirimu dan semua orang yang mendengar engkau.

Mazmur 111:7-8,9,10

Refren : Agunglah karya Tuhan.

Mazmur:

* Perbuatan tangan-Nya ialah kebenaran dan keadilan, segala titah-Nya teguh, perintah-Nya lestari untuk selama-selamanya, dilakukan dalam kebenaran dan kejujuran.

* Ia memberikan kebebasan kepada umat-Nya, Ia menetapkan perjanjian untuk selama-lamanya; kudus dan dahsyatlah nama-Nya.

* Pangkal kebijaksanaan adalah takut akan TUHAN, semua orang yang mengamalkannya memiliki budi bahasa yang baik, dia akan disanjung sepanjang masa.

Bacaan Injil : Luk 7:36-50

Yesus diurapi oleh perempuan berdosa
7:36 Seorang Farisi mengundang Yesus untuk datang makan di rumahnya. Yesus datang ke rumah orang Farisi itu, lalu duduk makan. 7:37 Di kota itu ada seorang perempuan yang terkenal sebagai seorang berdosa. Ketika perempuan itu mendengar, bahwa Yesus sedang makan di rumah orang Farisi itu, datanglah ia membawa sebuah buli-buli pualam berisi minyak wangi. 7:38 Sambil menangis ia pergi berdiri di belakang Yesus dekat kaki-Nya, lalu membasahi kaki-Nya itu dengan air matanya dan menyekanya dengan rambutnya, kemudian ia mencium kaki-Nya dan meminyakinya dengan minyak wangi itu. 7:39 Ketika orang Farisi yang mengundang Yesus melihat hal itu, ia berkata dalam hatinya: “Jika Ia ini nabi, tentu Ia tahu, siapakah dan orang apakah perempuan yang menjamah-Nya ini; tentu Ia tahu, bahwa perempuan itu adalah seorang berdosa.” 7:40 Lalu Yesus berkata kepadanya: “Simon, ada yang hendak Kukatakan kepadamu.” Sahut Simon: “Katakanlah, Guru.” 7:41 “Ada dua orang yang berhutang kepada seorang pelepas uang. Yang seorang berhutang lima ratus dinar, yang lain lima puluh. 7:42 Karena mereka tidak sanggup membayar, maka ia menghapuskan hutang kedua orang itu. Siapakah di antara mereka yang akan terlebih mengasihi dia?” 7:43 Jawab Simon: “Aku kira dia yang paling banyak dihapuskan hutangnya.” Kata Yesus kepadanya: “Betul pendapatmu itu.” 7:44 Dan sambil berpaling kepada perempuan itu, Ia berkata kepada Simon: “Engkau lihat perempuan ini? Aku masuk ke rumahmu, namun engkau tidak memberikan Aku air untuk membasuh kaki-Ku, tetapi dia membasahi kaki-Ku dengan air mata dan menyekanya dengan rambutnya. 7:45 Engkau tidak mencium Aku, tetapi sejak Aku masuk ia tiada henti-hentinya mencium kaki-Ku. 7:46 Engkau tidak meminyaki kepala-Ku dengan minyak, tetapi dia meminyaki kaki-Ku dengan minyak wangi. 7:47 Sebab itu Aku berkata kepadamu: Dosanya yang banyak itu telah diampuni, sebab ia telah banyak berbuat kasih. Tetapi orang yang sedikit diampuni, sedikit juga ia berbuat kasih.” 7:48 Lalu Ia berkata kepada perempuan itu: “Dosamu telah diampuni.” 7:49 Dan mereka, yang duduk makan bersama Dia, berpikir dalam hati mereka: “Siapakah Ia ini, sehingga Ia dapat mengampuni dosa?” 7:50 Tetapi Yesus berkata kepada perempuan itu: “Imanmu telah menyelamatkan engkau, pergilah dengan selamat!”

Renungan:

Bertekun.
Seorang pelayan seperti Timotius harus dapat mengatasi segala sesuatu yang berpotensi untuk menyulitkan, mencemarkan, menghalangi, bahkan menggagalkan pelayanan yang dilakukannya. Untuk itu, ketekunan menjadi kata kunci yang harus Timotius cermati dan perhatikan. Ia tidak boleh membiarkan umurnya menjadi perintang bagi dirinya atau batu sandungan bagi orang lain. Karena itu, ia perlu menjadi teladan dalam perkataan, tingkah laku, kasih, dan kesuciannya (ayat 12). Timotius juga diminta untuk tetap bertekun dalam pembacaan dan pengajaran nas-nas Kitab Suci di antara jemaatnya (ayat 13), tidak lalai dalam mempergunakan karunia yang Tuhan berikan padanya (ayat 14), dan sungguh-sungguh membiarkan hidupnya dikuasai oleh hal-hal yang baik tersebut, sehingga kemajuannya nyata bagi orang-orang di sekitarnya (ayat 15). Timotius juga harus mengawasi dirinya sendiri dan ajarannya (ayat 1 6). K esemuanya itu harus dilakukannya dalam ketekunan (ayat 16). Singkatnya, Timotius harus memperhatikan semua aspek di dalam kehidupannya.

Akibat yang ditimbulkan dari semua ini adalah “engkau akan menyelamatkan dirimu dan semua orang yang mendengar engkau” (ayat 16). Melalui karya pelayanan Timotius dan melalui ketekunan Timotius di dalam melakukan hal-hal di atas tadi, Allah bekerja untuk menyelamatkan orang-orang yang mendengarkannya, dan juga diri Timotius sendiri.

Sebagai pelayan Tuhan, Timotius harus sungguh-sungguh memperhatikan hidupnya, mengusahakan hal-hal yang sempurna bagi Allah dalam ketekunan. Semua ini bertujuan tidak hanya agar orang tidak menganggap rendah diri Timotius karena umurnya, tetapi terutama demi terlaksananya panggilan Allah bagi Timotius (lih. 14).

Melayani Tuhan bukan hanya berarti menyisihkan sebagian waktu yang dikhususkan untuk Tuhan, tetapi, seperti yang pernah diajarkan rasul Paulus, mempersembahkan seluruh tubuh atau hidup kita (Rm. 12:1). Ketekunan kita sangat diperlukan di dalam mewujudkan semua hal tadi selama kehidupan kita sebagai pelayan-pelayan-Nya.

Mazmur, Pujian dan hikmat.
Perbuatan Allah yang penuh kuasa dan yang bersumber dari kasih setia-Nya yang kekal, membangkitkan pujian dalam diri pemazmur. Awal dan akhir Mazmur ini adalah pujian, seluruhnya berawal dari karya-karya dan sikap kasih setia kekal Allah (ayat 2-9). Tidak begitu jelas perbuatan Allah yang mana yang dimaksud oleh pemazmur. Tetapi, petunjuk di ayat 5 mungkin sekali mengacu pada kisah pemeliharaan Allah selama Israel mengembara menuju tanah perjanjian. Dari perenungan akan perbuatan-perbuatan Allah itu (ayat 2b), pemazmur beroleh pengenalan lebih dalam tentang siapa Allah sesungguhnya. Karya-karya Allah tidak saja menunjukkan kemahakuasaan Allah (ayat 3a), tetapi juga menampakkan kebenaran dan kemurahan Allah (ayat 3b,4). Perbuatan Allah di masa lalu membuat pemazmur teguh beriman bahwa karena Allah setia adanya (ayat 7), seluruh rencana dan semua pekerjaan Allah akan berlangsung terus selamanya (ayat 8a).

Pujian memang adalah perbuatan manusia beriman terhadap Allahnya. Namun demikian, perbuatan itu adalah tanggapan atas perbuatan- perbuatan Allah yang sangat besar, baik, ajaib dan penuh kasih. Karena itu, meskipun pujian memang memperkenan hati Allah, namun demikian tidak pernah Kitab Suci memandang pujian sebagai hal yang mengandung nilai menghasilkan pahala dari Tuhan. Puji-pujian kita kepada Tuhan semata-mata dilandaskan atas karya dan sifat Allah yang setia dan penuh kasih kepada kita dan bukan karena mengharapkan semacam balas jasa baik berbentuk keselamatan atau berkat-berkat lain. Pujian yang benar harus dilakukan dengan segenap hati tanpa pamrih apa pun (ayat 1). Juga pujian yang benar tidak berhenti hanya pada kegiatan pribadi, tetapi mendorong orang beriman untuk memuji Allah bersama umat-Nya.

Di bagian akhir mazmur ini, pujian dihubungkan dengan hikmat. Pujian adalah ungkapan dari sikap meninggikan Allah, dan karena itu berhubungan sangat erat dengan takut dan taat kepada Allah. Dalam penilaian Allah, orang yang sungguh paham kebenaran dan memiliki pengertian untuk menilai dan bertindak benar adalah orang yang takut akan Allah.

Renungkan: Memupuk kebiasaan memuji Tuhan dengan segenap hati mempertajam indra iman kita di tengah dunia yang penuh kepahitan ini.

Injil hari ini, Perbuatan kasih karena pengampunan.

Suatu kehormatan dapat mengundang Yesus ke perjamuan makan di rumah sendiri. Itu yang dirasakan Simon, si Farisi ketika Yesus menerima undangannya. Namun kebahagiaan itu serasa berkurang saat seorang perempuan yang terkenal dengan reputasi kurang baik menerobos masuk ke rumahnya untuk mengurapi kaki Yesus, dengan air mata dan minyak wangi, serta melapnya dengan rambutnya.

Sikap Simon, jelas kurang suka. Kurang suka kepada perempuan yang dianggap mengacau pesta perjamuannya. Kurang suka kepada Yesus karena sebagai Guru agama yang saleh, Ia tak pantas membiarkan perempuan berdosa menjamah dan menajiskan diri-Nya (39).

Yesus menanggapi reaksi Simon tersebut dengan dua hal. Pertama, dengan perumpamaan dua orang yang berhutang (41-42). Orang yang berhutang kecil, rasa syukurnya pun kecil ketika hutangnya dihapus. Mungkin saja dengan sombong ia akan berkata, “Sebenarnya hutang sekecil itu bisa kubayar asal diberi sedikit waktu lagi.” Kedua, dengan membandingkan sikap penyambutan Simon terhadap diri-Nya dengan yang dilakukan perempuan berdosa itu (44-46). Jelas Simon belum mengalami anugerah pengampunan Allah sehingga sambutannya pada Yesus sekadar formalitas, sangat mungkin untuk menyombongkan kesalehannya. Sebaliknya, sikap perempuan itu menunjukkan penyesalannya terhadap dosa, dan berpaling pada Yesus untuk pengampunan. Yesus mengampuni perempuan itu (47-48)!

Hanya orang yang sudah mengalami anugerah Allah mampu menanggapi Allah dengan syukur yang keluar dari hati yang tulus. Syukur yang tulus tidak mempedulikan gunjingan orang lain karena dirinya terbuka di hadapan Allah apa adanya. Oleh karena itu, mari kita memeriksa diri jangan-jangan kita hanya berpenampilan Kristen, tetapi anugerah-Nya belum mengubah hati kita

Perhatikanlah; Ketulusan syukur kita terungkap lewat hal-hal kecil yang disaksikan oleh orang lain!

DOA: Tuhan Yesus, Engkau mengasihi jiwaku dan memberikan “hidup baru” kepadaku. Aku sungguh mengasihi Engkau, ya Tuhan! Oleh Roh Kudus-Mu, aku menjadi bebas untuk hidup dalam damai-sejahtera dan kasih yang dipenuhi dengan sukacita. Terima kasih, Tuhan Yesus. Amin. (Lucas Margono)

September17

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s