Renungan Kamis, 8 Oktober 2015

Renungan Kamis, 8 Oktober 2015, Hari Biasa, Pekan Biasa XXVII
 
Bacaan I : Mal 3:13-4:2
 
Kemenangan terakhir bagi orang benar
3:13 Bicaramu kurang ajar tentang Aku, firman TUHAN. Tetapi kamu berkata: “Apakah kami bicarakan di antara kami tentang Engkau?” 3:14 Kamu berkata: “Adalah sia-sia beribadah kepada Allah. Apakah untungnya kita memelihara apa yang harus dilakukan terhadap-Nya dan berjalan dengan pakaian berkabung di hadapan TUHAN semesta alam? 3:15 Oleh sebab itu kita ini menyebut berbahagia orang-orang yang gegabah: bukan saja mujur orang-orang yang berbuat fasik itu, tetapi dengan mencobai Allahpun, mereka luput juga.” 3:16 Beginilah berbicara satu sama lain orang-orang yang takut akan TUHAN: “TUHAN memperhatikan dan mendengarnya; sebuah kitab peringatan ditulis di hadapan-Nya bagi orang-orang yang takut akan TUHAN dan bagi orang-orang yang menghormati nama-Nya.” 3:17 Mereka akan menjadi milik kesayangan-Ku sendiri, firman TUHAN semesta alam, pada hari yang Kusiapkan. Aku akan mengasihani mereka sama seperti seseorang menyayangi anaknya yang melayani dia. 3:18 Maka kamu akan melihat kembali perbedaan antara orang benar dan orang fasik, antara orang yang beribadah kepada Allah dan orang yang tidak beribadah kepada-Nya.
4:1 Bahwa sesungguhnya hari itu datang, menyala seperti perapian, maka semua orang gegabah dan setiap orang yang berbuat fasik menjadi seperti jerami dan akan terbakar oleh hari yang datang itu, firman TUHAN semesta alam, sampai tidak ditinggalkannya akar dan cabang mereka. 4:2 Tetapi kamu yang takut akan nama-Ku, bagimu akan terbit surya kebenaran dengan kesembuhan pada sayapnya. Kamu akan keluar dan berjingkrak-jingkrak seperti anak lembu lepas kandang.
 
Mazmur 1:1-2,3,4,6
 
Refren: Berbahagilah orang yang mengandalkan Tuhan.
 
* Berbahagialah orang yang tidak berjalan menurut nasihat orang fasik, yang tidak berdiri di jalan orang berdosa, dan yang tidak duduk dalam kumpulan pencemooh, tetapi yang kesukaannya ialah hukum TUHAN, dan siang malam merenungkannya.
 
* Ia seperti pohon, yang ditanam di tepi aliran air, yang menghasilkan buahnya pada musimnya, dan daunnya tak pernah layu; apa saja yang diperbuatnya berhasil.
 
* Bukan demikianlah orang-orang fasik: mereka seperti sekam yang ditiup angin. Sebab Tuhan mengenal jalan orang benar, tetapi jalan orang fasik menuju kebinasaan.
 
Bacaan Injil : Luk 11:5-13
 
11:5 Lalu kata-Nya kepada mereka: “Jika seorang di antara kamu pada tengah malam pergi ke rumah seorang sahabatnya dan berkata kepadanya: Saudara, pinjamkanlah kepadaku tiga roti, 11:6 sebab seorang sahabatku yang sedang berada dalam perjalanan singgah ke rumahku dan aku tidak mempunyai apa-apa untuk dihidangkan kepadanya; 11:7 masakan ia yang di dalam rumah itu akan menjawab: Jangan mengganggu aku, pintu sudah tertutup dan aku serta anak-anakku sudah tidur; aku tidak dapat bangun dan memberikannya kepada saudara. 11:8 Aku berkata kepadamu: Sekalipun ia tidak mau bangun dan memberikannya kepadanya karena orang itu adalah sahabatnya, namun karena sikapnya yang tidak malu itu, ia akan bangun juga dan memberikan kepadanya apa yang diperlukannya. 11:9 Oleh karena itu Aku berkata kepadamu: Mintalah, maka akan diberikan kepadamu; carilah, maka kamu akan mendapat; ketoklah, maka pintu akan dibukakan bagimu. 11:10 Karena setiap orang yang meminta, menerima dan setiap orang yang mencari, mendapat dan setiap orang yang mengetok, baginya pintu dibukakan. 11:11 Bapa manakah di antara kamu, jika anaknya minta ikan dari padanya, akan memberikan ular kepada anaknya itu ganti ikan? 11:12 Atau, jika ia minta telur, akan memberikan kepadanya kalajengking? 11:13 Jadi jika kamu yang jahat tahu memberi pemberian yang baik kepada anak-anakmu, apalagi Bapamu yang di sorga! Ia akan memberikan Roh Kudus kepada mereka yang meminta kepada-Nya.”
 
Renungan:
 
Mayoritas berwawasan dagang.
“Mengapa orang yang tidak mengindahkan Tuhan justru lebih enak hidupnya dibandingkan orang, yang rajin beribadah!”. Inilah pergumulan manusia dari zaman ke zaman (bdk. Mzm. 73). Akar pergumulan itu adalah persepsi yang menyamakan hubungan dengan Tuhan sebagai hubungan dagang benarkah Tuhan baik dan adil? Kalau Tuhan baik dan adil, mengapa orang baik menderita, dan orang yang jahat makin hari makin makmur. Setiap orang yang menganut paham ini, akhirnya akan dikecewakan. Hal ini sering menjadi alasan, untuk mencari allah lain, yang dianggap lebih mampu memberikan keuntungan.
 
Minoritas berwawasan kekal. Dalam suasana perhitungan untung rugi diterapkan dalam hubungan dengan Alah, ternyata terselip minoritas yang masih menghormati Tuhan. Mereka tetap setia mempertahankan penghayatan iman melalui ibadah dan sikap saling mendorong dalam iman (bdk. Ibr. 10:24, 25). Bagi orang beriman, Allahlah yang akan memperhatikan dan menghargai mereka sebagai “milik kesayangan-Nya”, bahkan bertindak mengasihi dan mewarisi kekekalan kepada mereka (bdk. Mzm. 73:26, 27).
 
Hari Tuhan, Gambaran Hari Tuhan yang mengerikan begitu dominan, sehingga setiap orang berusaha luput dari hari yang menakutkan itu. Maleakhi mengungkapkan hari itu sebagai hari tanpa pengharapan bagi orang-orang fasik. Hari itu menyala seperti perapian, dan semua orang fasik seperti jerami yang terbakar habis (ayat 1). Akan tetapi, sisi lain dari Hari Tuhan ialah hari sukacita dan bahagia bagi orang yang takut akan Tuhan (ayat 2). Pada hari itu, orang benar bersukacita dan berpesta karena orang jahat dikalahkan dan orang fasik tidak mendapat tempat lagi di bumi (ayat 3).
Perjalanan kebenaran yang panjang dan berliku-liku karena selalu mendapat hambatan dan rintangan, kini memasuki masa-masa yang bahagia. Itulah pengharapan setiap orang yang memperjuangkan kebenaran. Hari Tuhan menanamkan benih-benih pengharapan bagi orang benar yang frustrasi melihat kejahatan dan kefasikan yang mendominasi seluruh bidang kehidupan. Hari Tuhan memberikan ketegaran dan kekuatan bagi setiap orang yang mencintai Tuhan dan tekun dalam pekerjaan-Nya (ayat 4).
 
Memperjuangkan kebenaran di jalan Tuhan memang berat, tetapi menyukakan hati sebab orang tersebut sedang menjunjung tinggi nilai-nilai luhur dan kekal. Hal ini seperti benih yang ditabur hari ini, kendati banyak kendala dan tantangan, akan membuahkan buah-buah segar di hari esok.
Nubuat mengenai Hari Tuhan didahului dengan datangnya Nabi Elia yang akan mempersiapkan hati orang untuk bertobat menyambut Hari Tuhan tersebut (ayat 5-6). Dalam PB, Yohanes Pembaptis adalah Nabi Elia tersebut (lih. Pengantar kitab Maleakhi). Pada masa kini, kita dipanggil untuk meneruskan tugas kenabian itu agar banyak orang berpaling kepada Tuhan dan bertobat, sehingga Hari Tuhan menjadi hari yang penuh sukacita dan bukan ratap tangis penyesalan tanpa akhir.
 
Berjalanlah pada jalan Tuhan serta perjuangkanlah nilai-nilai luhur menyongsong datangnya Hari Tuhan.
 
Mazmur, Kebahagiaan yang sejati
Apa harapan masa depan anda? Banyak orang mendambakan kebahagiaan berupa kelegaan dari penderitaan, lepas dari berbagai kesulitan hidup, dan hidup serba berkecukupan. Apa benar semua itu mendatangkan kebahagiaan yang sejati?
 
Kebahagiaan seseorang terkait erat pada relasinya dengan Tuhan. Karena Tuhan adalah sumber hidup maka hanya dengan memiliki persekutuan intim dengan Tuhan, seseorang bisa menikmati hidup ini dan puas (ayat 2). Sebaliknya orang yang bergaul intim dengan Tuhan tak mungkin bisa menikmati pergaulan dengan orang berdosa apalagi ikut-ikutan dalam kehidupan dosanya (ayat 1).
 
Ikut-ikutan cara hidup orang berdosa hanya membawa seseorang semakin jauh dari kebenaran. Ayat 1 mengungkapkan bagaimana pergaulan yang sembarangan, dengan cepat merusak kebiasaan baik (ayat 1Kor. 15:33). Mulai dengan mendengar bujukan (“berjalan menurut nasihat orang fasik”), lalu mulai menjadi kebiasaan (“berdiri di jalan orang berdosa”), tahu-tahu sudah menjadi bagian dari kumpulan perencana kejahatan (“duduk di kumpulan pencemooh”). Dengan kata lain, mulai dengan mengikuti ajakan orang untuk berdosa, berujung pada ikut mengajak orang lain untuk berdosa! Apa yang mungkin dituai oleh orang yang hidup dalam keberdosaan? Tidak ada yang bernilai kekal yang bisa ditabung untuk masa depan (ayat 4). Bahkan kebinasaan menjadi akhir tragis bagi mereka (ayat 6b)!
 
Kebahagiaan apa yang bisa dinikmati orang yang bergaul dengan Tuhan? Kepuasan sejati karena tahu hidupnya berhasil di mata Tuhan, yaitu seperti pohon yang tumbuh subur menghasilkan buah yang baik dan lebat. Siapakah yang disenangkan kalau bukan pemiliknya sendiri? Juga kepuasan yang tidak dapat pudar karena tahu hidup yang menghasilkan buah itu adalah hidup yang Tuhan pakai untuk memberkati orang lain. Hidup ini menjadi bermakna saat orang lain mengenal Yesus karena hidup kita.
 
Injil hari ini, Terkabulnya doa
Metode menghafal yang dipakai dalam proses belajar mengajar memiliki kelemahan tersendiri, yakni orang tidak diajar untuk memahami logika berpikir dan juga tidak dilatih kreatif dalam berpikir. Begitu pula dengan doa, bila hanya diucapkan sebagai hafalan tanpa memahami maksud atau isi doa tersebut.
 
Pada nas ini Tuhan Yesus menjelaskan fungsi doa dan mengapa Ia menghendaki pengikut-Nya berdoa dengan menyebut Bapa. Tuhan Yesus mengumpamakan penyampaian doa seperti orang yang meminta roti kepada sahabatnya waktu larut malam, saat sahabat serta seisi rumahnya sudah tidur (5-8). Permintaan itu akan dikabulkan karena sahabatnya tidak mau diganggu lebih lama. Inilah yang Yesus ingin ajarkan: jika seorang sahabat saja mau memberikan apa yang diminta temannya, karena permintaan itu mengganggunya, apalagi Bapa di surga. Ia pasti akan menjawab doa para murid Yesus yang gigih dan konsisten. Doa juga dapat diibaratkan sebagai `tindakan mencari\’ untuk mendapatkan atau `tindakan mengetuk pintu` agar dibukakan (9-10). Seorang yang tekun pasti akan menerima imbalan. Yesus juga mengajar murid-murid-Nya untuk berdoa kepada Allah sebagai Bapa mereka. Sebagai Bapa surgawi, Ia bukan hanya memenuhi permintaan kita, tetapi juga melakukannya untuk kebaikan kita. Dan kebaikan yang terbesar terwujud dalam Roh Kudus yang diberikan-Nya pada kita.
 
Roh Kudus diperlukan karena Kerajaan Allah yang disebut dalam ay. 2 bersifat rohani. Orang tidak dapat melihat Kerajaan itu apalagi mengalami kedaulatan Allah hanya dengan cara jasmani. Dengan hadirnya Roh Kudus yang dianugerahkan Bapa, kita memiliki relasi riil dengan Allah dan mampu melakukan kehendak-Nya. Juga memiliki cara pandang berdasarkan wawasan yang diterangi oleh Roh Kudus. Oleh karena itu, mintalah Roh Kudus kepada Bapa!
 
Berikan kepada kami Roh Kudus ya Bapa, untuk menuntun kami di jalan-Mu!
 
DOA: Bapa surgawi, Engkau adalah Bapa terbaik yang pernah kami kenal, Abba, ayah tercinta. Engkau mengasihi kami jauh melebihi ekspektasi kami. Telinga-Mu senantiasa terbuka untuk mendengarkan permintaan-permintaan kami, bahkan permintaan kecil sekalipun. Kami menaruh segala kebutuhan kami di hadapan-Mu sekarang, dengan penuh keyakinan bahwa Engkau akan melakukan apa yang terbaik bagi kami dan seturut kehendak-Mu. Amin. (Lucas Margono)
Oktober8
Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s