Renungan Selasa, 13 Oktober 2015

Renungan Selasa, 13 Oktober 2015, Hari Biasa, Pekan Biasa XXVIII
 
OFMCap. : Pfak. B. Honoratus Kosminski, Biarw, OAD/OSA : PERINGATAN Arwah Pr. Dermawan/ Benefaktor Tarekat
FMA/SDB : Pfak. B. Alexandrina Maria da Costa, Prw,
 
Bacaan I : Rm 1:16-25
 
Injil itu kekuatan Allah
1:16 Sebab aku mempunyai keyakinan yang kokoh dalam Injil, karena Injil adalah kekuatan Allah yang menyelamatkan setiap orang yang percaya, pertama-tama orang Yahudi, tetapi juga orang Yunani. 1:17 Sebab di dalamnya nyata kebenaran Allah, yang bertolak dari iman dan memimpin kepada iman, seperti ada tertulis: “Orang benar akan hidup oleh iman.
1:18 Sebab murka Allah nyata dari sorga atas segala kefasikan dan kelaliman manusia, yang menindas kebenaran dengan kelaliman. 1:19 Karena apa yang dapat mereka ketahui tentang Allah nyata bagi mereka, sebab Allah telah menyatakannya kepada mereka. 1:20 Sebab apa yang tidak nampak dari pada-Nya, yaitu kekuatan-Nya yang kekal dan keilahian-Nya, dapat nampak kepada pikiran dari karya-Nya sejak dunia diciptakan, sehingga mereka tidak dapat berdalih. 1:21 Sebab sekalipun mereka mengenal Allah, mereka tidak memuliakan Dia sebagai Allah atau mengucap syukur kepada-Nya. Sebaliknya pikiran mereka menjadi sia-sia dan hati mereka yang bodoh menjadi gelap. 1:22 Mereka berbuat seolah-olah mereka penuh hikmat, tetapi mereka telah menjadi bodoh. 1:23 Mereka menggantikan kemuliaan Allah yang tidak fana dengan gambaran yang mirip dengan manusia yang fana, burung-burung, binatang-binatang yang berkaki empat atau binatang-binatang yang menjalar. 1:24 Karena itu Allah menyerahkan mereka kepada keinginan hati mereka akan kecemaran, sehingga mereka saling mencemarkan tubuh mereka. 1:25 Sebab mereka menggantikan kebenaran Allah dengan dusta dan memuja dan menyembah makhluk dengan melupakan Penciptanya yang harus dipuji selama-lamanya, amin.
 
Mazmur 19:2-3,4-5,
 
Refren: Langit mewartakan kemuliaan Allah.
 
Mazmur
 
* Langit menceritakan kemuliaan Allah, dan cakrawala memberitakan karya tangan-Nya; hari yang satu mengisahkannya kepada hari yang lain, dan malam yang satu menyampaikan pengetahuannya kepada malam berikut.
 
* Meskipun tidak berbicara dan tidak ada memperdengarkan suara, namun di seluruh bumi bergaunglah gemanya, dan amanat mereka sampai ke ujung bumi.
 
Bacaan Injil : Luk 11:37-41
 
Yesus mengecam orang-orang Farisi dan ahli-ahli Taurat
11:37 Ketika Yesus selesai mengajar, seorang Farisi mengundang Dia untuk makan di rumahnya. Maka masuklah Ia ke rumah itu, lalu duduk makan. 11:38 Orang Farisi itu melihat hal itu dan ia heran, karena Yesus tidak mencuci tangan-Nya sebelum makan. 11:39 Tetapi Tuhan berkata kepadanya: “Kamu orang-orang Farisi, kamu membersihkan bagian luar dari cawan dan pinggan, tetapi bagian dalammu penuh rampasan dan kejahatan. 11:40 Hai orang-orang bodoh, bukankah Dia yang menjadikan bagian luar, Dia juga yang menjadikan bagian dalam? 11:41 Akan tetapi, berikanlah isinya sebagai sedekah dan sesungguhnya semuanya akan menjadi bersih bagimu.
 
Renungan:
 
Paulus dalam suratnya kepada jemaat di Roma memperkenalkan Injil sebagai kekuatan Allah yang menyelamatkan setiap orang yang percaya. Dalam Injil berisi kebenaran Allah, bertolak dari kenaran ini membawa orang untuk beriman kepada Allah sehingga menjadi umat beriman, seperti ada tertulis: “Orang benar akan hidup oleh iman. Dengan iman umat Kristen menyerahkan diri seutuhnya kepada Allah guna menerima kebenaran tersebut.(Ayat 16-17).
 
Banyak orang menganggap dosa hanya semata-mata masalah kurang kemauan, pengetahuan, atau kemampuan. Mereka menganggap bahwa kalau motivasi digugah bahwa dosa itu menyakitkan hati Allah dan sesama, serta pengetahuan tentang hal yang benar diajarkan dan dilatihkan, pasti masalah dosa bisa teratasi.
 
Paulus menyatakan bahwa dosa adalah menindas kebenaran yang sudah dinyatakan Allah dan dengan sengaja melakukan kejahatan (ayat 18-23). Manusia tidak dapat berdalih karena Allah telah menyatakan kebenaran-Nya lewat hati nuraninya. Karena itu, sengaja berbuat kejahatan berarti sengaja melawan Allah. Sangat pantaslah murka Tuhan dinyatakan. Bagaimana Tuhan menghukum orang yang sengaja berbuat dosa? Pertama, Tuhan menyerahkan mereka kepada motivasi yang berdosa (ayat 24-27). Hawa nafsulah yang menguasai mereka bukan keinginan mulia. Itu sebabnya mereka tidak puas dengan hal-hal yang normal melainkan menikmati hal-hal yang melampaui kewajaran seperti penyembahan berhala, perilaku homoseksual, dan berbagai perbuatan mesum lainnya.
 
Kedua, Tuhan menyerahkan pikiran-pikiran mereka dibelenggu hal-hal yang tidak pantas. Pikiran berdosa sedemikian membelenggu mereka sehingga mereka tidak memiliki akal sehat untuk melihat bahwa tindakan mereka menjijikkan, jahat, dan merusak. Sebaliknya, mereka menganggap semua orang yang melakukan hal-hal itu sedang melakukan hal yang benar. Itulah perbudakan dosa!
 
Tidak ada orang yang bisa melepaskan diri dari belenggu dosa sedahsyat itu. Hanya Tuhan Yesus yang sanggup memerdekakannya. Kita sendiri harus memeriksa diri apakah sudah dimerdekakan oleh Tuhan Yesus. Bila belum, sekaranglah waktunya untuk sujud memohon belas kasih-Nya menghancurkan belenggu dosa dan mengampuni kita.
 
Mazmur, Kuasa, kemuliaan, dan hikmat Allah nyata di dalam alam semesta (ayat 1). Langit menjadi tempat bagi Allah untuk menempatkan matahari, bulan, dan bintang. Ketiganya berfungsi sebagai penerang bagi dunia, serta untuk membedakan siang dari malam (Kej. 1:14-19). Meski tidak ada suara atau kata-kata, berita tentang kemuliaan Allah terpancar ke seluruh jagat raya melalui keindahan semesta (ayat 2-5a). Memang tak perlu ada cerita maupun berita, karena panasnya sinar matahari yang menjamah seluruh ujung bumi menjadi bukti tak terbantahkan mengenai keberadaan Allah (ayat 5b-7).
 
Namun pengetahuan tentang Allah melalui alam tidak sejelas pengenalan yang dinyatakan di dalam Taurat-Nya. Melalui ciptaan kita tahu ada Allah yang mencipta alam. Akan tetapi, pengetahuan tersebut tidak cukup membawa kita mengenal Tuhan secara pribadi. Perhatikan, pemazmur memakai nama “Allah” (ayat 2) ketika berbicara mengenai ciptaan dan memakai nama Tuhan (ayat 8-10) ketika berbicara tentang Taurat. Kata Tuhan (ditulis dengan huruf kapital) berasal dari kata Yahweh. Jika Allah (berasal dari kataElohim) lebih menggambarkan Dia sebagai Pencipta langit dan bumi, maka Yahweh (yang merupakan nama pribadi Allah) lebih menggambarkan Tuhan, Allah perjanjian yang memberikan Taurat.
 
Pemazmur memaparkan tujuh (menunjukkan angka sempurna) karakter Taurat yaitu sempurna, teguh, tepat, murni, suci, benar, dan adil. Umat Allah yang merenungkan Taurat akan mendapatkan banyak faedah: disegarkan, diberi hikmat dan bersuka cita (ayat 8-9). Sebab itu pemazmur menganggap Taurat lebih indah daripada emas dan lebih manis daripada madu (ayat 11). Bukan itu saja, umat Allah yang berpegang pada Taurat akan terhindar dari banyak hal negatif termasuk kesesatan, pelanggaran, dan tipuan orang jahat (ayat 12-14).
 
Taurat dapat diartikan sebagai ajaran yang Tuhan berikan di dalam Alkitab. Marilah kita memperlakukan Alkitab sebagai anugerah berharga karena Tuhan memberikannya supaya kita dapat mengenal Dia secara pribadi.
 
Injil hari ini, Dari hati lahir perbuatan
 
Sejak kecil kita sudah diajar mencuci tangan sebelum makan supaya higienis. Tetapi bukan masalah kesehatan yang ada dalam pikiran orang Farisi ketika mereka heran melihat Yesus tidak mencuci tangan sebelum makan (38).
 
Yang ada dalam benak mereka adalah ritual cuci tangan yang dilewatkan oleh Yesus. Ritual itu sudah berlangsung lama dan dibuat oleh pendahulu mereka untuk `melengkapi\’ Taurat. Maka Yesus menegur mereka karena mengutamakan hal lahiriah, bagaikan membersihkan cawan dari luarnya saja sementara bagian dalam tetap kotor. Berbeda dari orang Farisi, Yesus mengutamakan apa yang ada di dalam hati. Bagi orang Farisi, manusia disucikan oleh perbuatan yang dilakukannya, sementara menurut Yesus, kesucian datang dari hati yang mewujud di dalam tindakan. Hukum Taurat memang berkaitan dengan perbuatan, tetapi tujuannya adalah mengajar bangsa Israel untuk menaatinya berdasarkan kasih kepada Allah dan kasih kepada manusia. Maka taat pada Taurat bukan semata-mata taat pada aturan, tetapi taat pada Allah. Perbuatan memang harus bersih, tetapi hati yang melahirkan perbuatan itu harus bersih juga. Dari luar, orang Farisi memang kelihatan baik, saleh dan terpuji, tetapi Yesus membukakan isi hati mereka yang sebenarnya yaitu penuh “rampasan dan kejahatan” (39, bdk. Mat. 23:5-7).
 
Bahaya mengutamakan perbuatan lebih daripada hati bisa juga terjadi pada kita. Keinginan untuk dipandang sebagai orang baik bisa saja membuat kita menjaga sikap sebaik mungkin di depan orang lain. Tetapi bagaimana bila tidak ada orang lain di sekitar kita? Adakah kita tetap bersikap baik karena keinginan menaati Allah? Yesus mengajar kita bahwa bila hati kita bersih maka motivasi dan sikap kita pun akan murni, perbuatan yang lahir pun bersih. Jika kita hanya memperhatikan apa yang tampak dari luar maka kesombongan akan muncul dari hati kita. Mari kita belajar dari Tuhan bahwa kekudusan dari-Nya terbit dari dalam hati dan mewujud di dalam perbuatan!
 
DOA: Tuhan Yesus, aku memang membutuhkan perubahan batiniah. Namun aku tidak dapat melakukannya sendiri, untuk itu tolonglah aku. Sembuhkanlah diriku, agar aku dapat mengasihi sebagaimana Engkau mengasihi. Amin.

Oktober13a
Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s