Renungan Sabtu, 9 Januari 2016

Renungan Sabtu, 9 Januari 2015, Hari Biasa sesudah Penampakan Tuhan.

O.Carm: Pesta S. Andreas Korsini, Usk,
OCD: Pfak. S. Andreas Korsini, Usk,
P Karm/CSE: Pesta S. Andreas Korsini, Usk.

Bacaan I: 1Yoh 5:14-21

“Allah mengabulkan doa kita.”

5:14 Saudara-saudaraku terkasih, inilah keberanian percaya kita kepada-Nya, yaitu bahwa Ia mengabulkan doa kita, jikalau kita meminta sesuatu kepada-Nya menurut kehendak-Nya. 5:15 Dan jikalau kita tahu, bahwa Ia mengabulkan apa saja yang kita minta, maka kita juga tahu, bahwa kita telah memperoleh segala sesuatu yang telah kita minta kepada-Nya. 5:16 Kalau ada seorang melihat saudaranya berbuat dosa, yaitu dosa yang tidak mendatangkan maut, hendaklah ia berdoa kepada Allah dan Dia akan memberikan hidup kepadanya, yaitu mereka, yang berbuat dosa yang tidak mendatangkan maut. Ada dosa yang mendatangkan maut: tentang itu tidak kukatakan, bahwa ia harus berdoa. 5:17 Semua kejahatan adalah dosa, tetapi ada dosa yang tidak mendatangkan maut. 5:18 Kita tahu, bahwa setiap orang yang lahir dari Allah, tidak berbuat dosa; tetapi Dia yang lahir dari Allah melindunginya, dan si jahat tidak dapat menjamahnya. 5:18 Kita tahu, bahwa kita berasal dari Allah dan seluruh dunia berada di bawah kuasa si jahat. 5:20 Akan tetapi kita tahu, bahwa Anak Allah telah datang dan telah mengaruniakan pengertian kepada kita, supaya kita mengenal Yang Benar; dan kita ada di dalam Yang Benar, di dalam Anak-Nya Yesus Kristus. Dia adalah Allah yang benar dan hidup yang kekal. 5:21 Anak-anakku, waspadalah terhadap segala berhala.

Mazmur 149:1-2,3-4,5-6a,9b

Refren: Tuhan berkenan pada umat-Nya

* Nyanyikanlah bagi Tuhan lagu yang baru! Pujilah Dia dalam jemaah orang-orang saleh! Biarlah Israel bersukacita atas Penciptanya, biarlah Sion bersorak-sorai atas raja mereka.

* Biarlah mereka memuji-muji nama-Nya dengan tarian, biarlah mereka bermazmur kepada-Nya dengan rebana dan kecapi! Sebab Tuhan berkenan kepada umat-Nya, Ia memahkotai orang yang rendah hati dengan keselamatan.

* Biarlah orang saleh beria-ria dalam kemuliaan, biarlah mereka bersorak-sorai di atas tempat tidur! Biarlah pujian pengagungan Allah ada dalam kerongkongan mereka; itulah semarak bagi orang yang dikasihi Allah.

Bacaan Injil: Yoh 3:22-30

“Sahabat mempelai bersukacita mendengar suara mempelai.”

3:22 Sekali peristiwa Yesus pergi dengan murid-murid-Nya ke tanah Yudea dan Ia diam di sana bersama-sama mereka dan membaptis. 3:23 Akan tetapi Yohanespun membaptis juga di Ainon, dekat Salim, sebab di situ banyak air, dan orang-orang datang ke situ untuk dibaptis, 3:24 sebab pada waktu itu Yohanes belum dimasukkan ke dalam penjara. 3:25 Maka timbullah perselisihan di antara murid-murid Yohanes dengan seorang Yahudi tentang penyucian. 3:26 Lalu mereka datang kepada Yohanes dan berkata kepadanya: “Rabi, orang yang bersama dengan engkau di seberang sungai Yordan dan yang tentang Dia engkau telah memberi kesaksian, Dia membaptis juga dan semua orang pergi kepada-Nya.” 3:27 Jawab Yohanes: “Tidak ada seorangpun yang dapat mengambil sesuatu bagi dirinya, kalau tidak dikaruniakan kepadanya dari sorga. 3:28 Kamu sendiri dapat memberi kesaksian, bahwa aku telah berkata: Aku bukan Mesias, tetapi aku diutus untuk mendahului-Nya. 3:29 Yang empunya mempelai perempuan, ialah mempelai laki-laki; tetapi sahabat mempelai laki-laki, yang berdiri dekat dia dan yang mendengarkannya, sangat bersukacita mendengar suara mempelai laki-laki itu. Itulah sukacitaku, dan sekarang sukacitaku itu penuh. 3:30 Ia harus makin besar, tetapi aku harus makin kecil.

Renungan:

Kepastian hidup kekal
Banyak orang berharap agar setelah mereka meninggal dunia, mereka masuk ke surga dan tinggal dalam kehidupan kekal. Oleh karena itu mereka berdoa dan melakukan banyak kebaikan demi memperoleh kebahagiaan di sana.

Yohanes berkata bahwa kita dapat mengetahui apakah kita memiliki kehidupan kekal (ayat 13). Jadi tidak perlu tunggu sampai di surga dulu baru kita bisa tahu. Kepastian itu didasarkan pada fakta bahwa Ia menganugerahkan kepada manusia kehidupan kekal melalui Anak-Nya. Jelas bahwa kehidupan kekal bukan bergantung pada perasaan dekat tidaknya seseorang dengan Allah. Namun “Apakah saya telah menyerahkan diri sepenuhnya kepada Yesus sebagai Tuhan dan Juruselamat saya?” Jika ya, kita tahu di dalam iman bahwa kita adalah anak Allah. Kepastian itu datangnya dari kehendak Allah, yang dinyatakan melalui Anak-Nya; bukan berdasarkan kehendak kita.

Dalam berkomunikasi dengan Allah pun, kita harus mendasarkannya pada kehendak Allah bagi kita. Kita bukan hanya meminta sesuatu yang kita inginkan. Tanyakan juga apa yang Dia inginkan bagi kita. Jika doa kita sejalan dengan kehendak-Nya maka Dia akan mendengar kita (ayat 14). Bila kita yakin bahwa Ia mendengar maka Ia akan memberikan jawaban yang pasti kepada kita (ayat 15). Kita juga perlu berdoa untuk pengampunan dosa saudara seiman, apapun kesalahan mereka. Ada dosa yang mendatangkan maut dan ada dosa yang tidak mendatangkan maut (ayat 16). Namun bukan berarti kita tidak perlu mendoakan orang yang melakukan dosa yang mendatangkan maut. Biarlah kita tetap mendoakan mereka, tetapi kita serahkan perkaranya pada Allah.

Karena kita telah memiliki kehidupan kekal, maka kita harus tetap waspada (ayat 21). Setan tetap berusaha untuk mengambil tempat Allah di dalam hidup kita. Ia juga berusaha mengacaukan pemahaman kita akan kemanusiaan dan keilahian Kristus. Karena itu belajarlah untuk tetap mengenal Allah.

Mazmur, Nyanyian kemenangan Tuhan.

Mazmur ini merayakan kemenangan Tuhan atas musuh-musuh-Nya. Demi umat-Nya, Tuhan menyatakan keadilan dan penghukuman-Nya atas mereka yang memusuhi umat-Nya. Pujian dari mazmur ini mengingatkan kita akan nyanyian umat Israel ketika mereka selesai menyeberangi laut Teberau dan menyaksikan musuh-musuh tenggelam binasa di laut itu (Kel. 15).
Pertama, ada sorak-sorai karena penyelamatan Tuhan atas Israel. Dulu umat pilihan Allah mengalami pembebasan dari perbudakan Mesir dan merayakannya dengan sukacita di padang gurun. Kini umat Tuhan di masa pascapembuangan melihat dengan penuh sukacita karena masa penghukuman sudah usai. Tuhan kembali berkenan kepada mereka dan memulihkan keadaan mereka (4).

Kedua, ada kesukaan besar terjadi karena keadilan Allah ditegakkan. Dulu, Firaun yang telah memperbudak dengan keji nenek moyang mereka, dan kemudian bersama pasukannya mengejar dengan garang untuk membinasakan mereka, Allah binasakan lewat laut Teberau. Kini sekali lagi, keadilan Allah ditegakkan. Musuh-musuh Israel, yang dulu Allah pakai untuk menghakimi Israel kini harus menerima hukuman dari Allah atas kekerasan yang berlebihan mereka timpakan atas umat Allah (6-9).

Mazmur menjelang terakhir ini, mengajak kita melihat juga jauh ke depan secara eskatologis. Ada masa di mana umat Tuhan, pada masa kini mengalami jatuh bangun, penderitaan dan pergumulan berat baik karena pikul salib melayani Tuhan, juga karena jatuh bangun dalam kesetiaan mengikut Tuhan. Namun, karena Kristus sudah menang terhadap kuasa dosa, maka dengan penuh pengharapan mata setiap orang beriman memandang ke depan. Satu hari kelak Kristus akan datang kembali dan Gereja akan dipulihkan sepenuhnya. Dosa akan dituntaskan dan musuh-musuh Tuhan dibinasakan. Itulah saat sorak sorai besar menyambut Sang Raja Pemenang, berkumandang di seluruh dunia.

Injil hari ini,

Dalam perikop ini kita jumpai Yohanes Pembaptis yang berjiwa besar, rendah hati, serta tidak mencari kemuliaan atau popularitasnya sendiri, melainkan hanya kemuliaan Allah—karena dia sungguh dijiwai Roh Allah. Secara manusiawi, dia seharusnya iri dan tidak senang dengan Yesus. Sebab, sebelum Yesus datang, dialah yang paling populer. Setelah Yesus datang, ”bintangnya” menjadi redup. Namun, Yohanes tidaklah iri, apalagi dengki dengan Yesus.

Berbeda sekali dengan keadaan banyak orang—yang katanya ”bekerja untuk Tuhan”, entah itu awam ataupun rohaniwan—yang mudah sekali iri hati kepada sesamanya yang tampaknya lebih berhasil, lalu mulai menjelek-jelekkan dia di mana-mana. Di antara orang-orang itu, tidak sedikit yang mengira dirinya telah hidup dan diperbarui oleh Roh Kudus, padahal sesungguhnya mereka dijiwai roh pendusta yang menghasilkan perbuatan daging atau dosa: percabulan, kedengkian, kebencian, dan lain-lain (bdk. Gal 5:19–21); berbeda sekali ciri-ciri orang yang sungguh dijiwai Roh Kudus: ”Buah Roh ialah: kasih, sukacita, damai sejahtera, kesabaran, kemurahan, kebaikan, kesetiaan, kelemahlembutan, penguasaan diri” (Gal 5:22–23a).

Doa: Ya Tuhan, berilah aku terang-Mu agar mampu membedakan tipu muslihat si Jahat yang menyamar sebagai Malaikat Terang, tetapi supaya sebaliknya aku mampu mengenali apa yang baik, apa yang berkenan kepada-Mu. Amin. (Lucas Margono)

Januari9

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s