Renungan Jumat, 15 Januari 2016

Renungan Jumat, 15 Januari 2015, Hari Biasa, Pekan Biasa I,

CIJ: Pesta S. Arnoldus Janssen, CDD: Pesta S. Fransiskus Fernandez de Capillas, Pld Tarekat, FMA: Pfak B. Aloisius Variara, Im,
SDB: Pw. B. Aloisius Variara, Im, OCSO: Pw. S. Maurus dan Plasidus, Biarw, PRR: Pesta S. Arnoldus Janssen, Pld Tarekat, SSpS/SSpSAP/SVD: HR S. Arnoldus Janssen, Pendiri Tarekat, OSM: Pfak. Beato Yakobus dari Citta dela Pieve, Eleemosynarii nuncupati,

Bacaan I: 1Sam 8:4-7,10-22a

Kalian akan berteriak karena rajamu, tetapi Tuhan tidak akan menjawab kalian.”

8:4 Sekali peristiwa berkumpullah semua tua-tua Israel; mereka datang kepada Samuel di Rama 8:5 dan berkata kepadanya: “Engkau sudah tua dan anak-anakmu tidak hidup seperti engkau; maka angkatlah sekarang seorang raja atas kami untuk memerintah kami, seperti pada segala bangsa-bangsa lain.” 8:6 Waktu mereka berkata: “Berikanlah kepada kami seorang raja untuk memerintah kami,” perkataan itu mengesalkan Samuel, maka berdoalah Samuel kepada TUHAN. 8:7 TUHAN berfirman kepada Samuel: “Dengarkanlah perkataan bangsa itu dalam segala hal yang dikatakan mereka kepadamu, sebab bukan engkau yang mereka tolak, tetapi Akulah yang mereka tolak, supaya jangan Aku menjadi raja atas mereka.
8:10 Dan Samuel menyampaikan segala firman TUHAN kepada bangsa itu, yang meminta seorang raja kepadanya, 8:11 katanya: “Inilah yang menjadi hak raja yang akan memerintah kamu itu: anak-anakmu laki-laki akan diambilnya dan dipekerjakannya pada keretanya dan pada kudanya, dan mereka akan berlari di depan keretanya; 8:12 ia akan menjadikan mereka kepala pasukan seribu dan kepala pasukan lima puluh; mereka akan membajak ladangnya dan mengerjakan penuaian baginya; senjata-senjatanya dan perkakas keretanya akan dibuat mereka. 8:13 Anak-anakmu perempuan akan diambilnya sebagai juru campur rempah-rempah, juru masak dan juru makanan. 8:14 Selanjutnya dari ladangmu, kebun anggurmu dan kebun zaitunmu akan diambilnya yang paling baik dan akan diberikannya kepada pegawai-pegawainya 8:15 dari gandummu dan hasil kebun anggurmu akan diambilnya sepersepuluh dan akan diberikannya kepada pegawai-pegawai istananya dan kepada pegawai-pegawainya yang lain. 8:16 Budak-budakmu laki-laki dan budak-budakmu perempuan, ternakmu yang terbaik dan keledai-keledaimu akan diambilnya dan dipakainya untuk pekerjaannya. 8:17 Dari kambing dombamu akan diambilnya sepersepuluh, dan kamu sendiri akan menjadi budaknya. 8:18 Pada waktu itu kamu akan berteriak karena rajamu yang kamu pilih itu, tetapi TUHAN tidak akan menjawab kamu pada waktu itu.” 8:19 Tetapi bangsa itu menolak mendengarkan perkataan Samuel dan mereka berkata: “Tidak, harus ada raja atas kami; 8:20 maka kamipun akan sama seperti segala bangsa-bangsa lain; raja kami akan menghakimi kami dan memimpin kami dalam perang.” 8:21 Samuel mendengar segala perkataan bangsa itu, dan menyampaikannya kepada TUHAN. 8:22a TUHAN berfirman kepada Samuel: “Dengarkanlah permintaan mereka dan angkatlah seorang raja bagi mereka.”

Mazmur 89:16-17,18-19

Refren: Kasih setia-Mu, ya Tuhan, hendak kunyanyikan selamanya.

* Berbahagialah bangsa yang tahu bersorak-sorai, ya TUHAN, mereka hidup dalam cahaya wajah-Mu; karena nama-Mu mereka bersorak-sorak sepanjang hari, dan karena keadilan-Mu mereka bermegah.

* Sebab Engkaulah semarak kekuatan mereka, dan karena Engkau berkenan, tanduk kami ditinggikan. Sebab milik Tuhanlah perisai kita, milik Yang Kudus Israellah raja kita.

Bacaan Injil: Mrk 2:1-12

“Di dunia ini Anak Manusia memiliki kuasa pengampunan dosa.”

2:1 Selang beberapa hari sesudah Yesus datang ke Kapernaum, tersiarlah kabar, bahwa Ia ada di rumah. 2:2 Maka datanglah orang-orang berkerumun sehingga tidak ada lagi tempat, bahkan di muka pintupun tidak. Sementara Ia memberitakan firman kepada mereka, 2:3 ada orang-orang datang membawa kepada-Nya seorang lumpuh, digotong oleh empat orang. 2:4 Tetapi mereka tidak dapat membawanya kepada-Nya karena orang banyak itu, lalu mereka membuka atap yang di atas-Nya; sesudah terbuka mereka menurunkan tilam, tempat orang lumpuh itu terbaring. 2:5 Ketika Yesus melihat iman mereka, berkatalah Ia kepada orang lumpuh itu: “Hai anak-Ku, dosamu sudah diampuni!” 2:6 Tetapi di situ ada juga duduk beberapa ahli Taurat, mereka berpikir dalam hatinya: 2:7 “Mengapa orang ini berkata begitu? Ia menghujat Allah. Siapa yang dapat mengampuni dosa selain dari pada Allah sendiri?” 2:8 Tetapi Yesus segera mengetahui dalam hati-Nya, bahwa mereka berpikir demikian, lalu Ia berkata kepada mereka: “Mengapa kamu berpikir begitu dalam hatimu? 2:9 Manakah lebih mudah, mengatakan kepada orang lumpuh ini: Dosamu sudah diampuni, atau mengatakan: Bangunlah, angkatlah tilammu dan berjalan? 2:10 Tetapi supaya kamu tahu, bahwa di dunia ini Anak Manusia berkuasa mengampuni dosa” –berkatalah Ia kepada orang lumpuh itu–: 2:11 “Kepadamu Kukatakan, bangunlah, angkatlah tempat tidurmu dan pulanglah ke rumahmu!” 2:12 Dan orang itupun bangun, segera mengangkat tempat tidurnya dan pergi ke luar di hadapan orang-orang itu, sehingga mereka semua takjub lalu memuliakan Allah, katanya: “Yang begini belum pernah kita lihat.”

Renungan:

Ketika menghadapi masalah
Sering dalam hidup ini kita diperhadapkan pada masalah yang menekan dan menghimpit kita. Tekanan ini tentu saja mempengaruhi hidup kita, dan mendesak kita untuk mengambil pilihan-pilihan yang ditawarkan dunia. Bukan tidak mungkin kita mengambil pilihan yang salah, yang akan menimbulkan penyesalan di kemudian hari.

Pada zaman hakim-hakim memimpin mereka, Israel mengalami keamanan dan kemerdekaan. Namun begitu seorang hakim mati, terjadilah kekosongan kepemimpinan. Akibatnya, mereka kembali dikuasai musuh. Saat itu, Samuel sudah tua, sebentar lagi pensiun. Anak-anaknya tidak bisa diharapkan menggantikan dia (ayat 3). Israel menyadari bahwa tanpa dipimpin seorang raja, sebagaimana yang dimiliki bangsa-bangsa lain, mereka rentan untuk dijadikan bulan-bulanan musuh-musuh mereka. Maka mereka meminta raja untuk menggantikan Samuel menjadi hakim atas mereka (ayat 5-6). Mereka lupa bahwa kekalahan yang dialami Israel bukan karena tidak ada kepemimpinan politik yang bersistem, melainkan karena dosa-dosa mereka. Mereka lupa bahwa Allah adalah Raja, pemimpin sejati mereka. Sudah berulang kali Allah terbukti dapat diandalkan. Maka pilihan keliru, menolak Allah sebagai Raja dan menggantikan Dia dengan manusia, mengandung konsekuensi yang besar. Samuel menguraikan harga mahal yang harus mereka bayar kepada raja (ayat 10-18). Walau demikian, bangsa Israel bersikeras untuk mengambil jalannya sendiri.

Tekanan hidup seharusnya menjadikan kita lebih dekat dan bersandar pada Bapa. Kita seharusnya minta petunjuk Tuhan lebih dulu dalam menghadapi masalah. Jangan hanya mengandalkan kemauan dan pikiran kita saja. Sebab pilihan kita belum tentu sesuai dengan kehendak dan rancangan Allah. Oleh karena itu, libatkan Allah ketika kita menghadapi setiap kesukaran. Ingatlah bahwa Tuhan mau campur tangan dan tidak akan tinggal diam dalam setiap masalah yang dihadapi anak-anak-Nya.

Mazmur, Kasih setia Allah.

Kita semua ingin memiliki pemerintahan yang bersih. Keadilan, kebenaran, kerukunan, keamanan, dan kesejahteraan merupakan nilai-nilai umum yang didambakan oleh warga masyarakat. Sayang sekali, dalam dunia ini tidak ada satu bangsa dan negara pun yang sempurna. Mungkinkah kehidupan yang ideal terwujud? Mazmur hari ini menunjukkan adanya kemungkinan terwujudnya idealisme dalam sebuah bangsa dan negara, yakni terletak pada kasih setia Tuhan. Pemazmur memulai nyanyiannya dengan suatu tekad yang indah, yaitu bersyukur atas kesetiaan Allah, bahkan ingin menceritakan-nya dari generasi ke generasi. Ia tahu bahwa Allah yang memimpin bangsa-Nya telah menetapkan rencana-Nya di surga untuk memberkati takhta Daud seterusnya. Kasih setia Tuhan begitu luar biasa, sehingga makhluk-makhluk surgawi pun kagum akan keagungan-Nya.

Dalam pengertian aslinya, istilah “kasih setia” biasanya dipakai dalam sebuah hubungan perjanjian antara 2 pihak. Ketaatan manusia akan menghasilkan berkat, sedangkan ketidaktaatan membawa hukuman. Maka memang ada unsur kesetiaan di dalam istilah “kasih setia”. Namun demikian, kesetiaan bukan satu- satunya unsur di sana. Yang lebih penting adalah “kasih”. Allah memberikan kasih setia-Nya bukan melulu karena syarat yang telah dipenuhi manusia, tapi terutama karena pemberian- Nya berdasarkan anugerah semata. Ia menegakkan takhta Daud karena kasih-Nya yang cuma-cuma, dan inilah yang membuat langit kagum.

Allah yang memberikan kasih setia-Nya menjalankan kuasa pemerintahan di atas takhta Daud dengan tongkat keperkasaan- Nya yang mulia. . Mereka yang berbagian dalam anugerah ini disebut ber-bahagia. Allah sendiri yang melindungi kerajaan yang dikasihi-Nya dan raja yang diurapi- Nya untuk menjadi wakil-Nya di dunia (ayat 18-19).

Renungkan: Segala kekuasaan dan nilai yang mulia hanya mungkin terwujud bila kasih setia Allah menopangnya. Marilah kita ber-syukur kepada-Nya dan mewujudkan nilai-nilai kerajaan-Nya di dunia. Doakan juga agar pemerintah kita selalu sadar akan sumber kekuasaan mereka, sehingga mereka bisa menjalankan roda pemerintahan berlandaskan takut akan Tuhan.

Injil hari ini, Menjadi Berkat

Ketika tersiar bahwa Yesus ada di rumah, datanglah orang-orang memenuhi rumah. Yang menarik sekaligus mengharukan adalah kehadiran seorang lumpuh yang digotong oleh empat orang. Setelah mengetahui bahwa tidak mungkin mereka membawa orang itu kepada Yesus lewat jalan yang wajar, mereka mengambil jalan yang tidak wajar. Mereka membawa si lumpuh naik ke atap, membukanya, dan kemudian menurunkan si lumpuh disana sehingga ia dapat bertemu Yesus (ayat. 1-4).

Harapan yang begitu besar atau keyakinan bahwa Yesus akan memberi kesembuhan mungkin bisa menjadi teladan bagi kita. Tetapi, ada satu hal lain yang amat indah juga menarik untuk direnungkan, yaitu solidaritas kawan-kawan si lumpuh yang mau berjerih payah mengusungnya sampai ke hadapan Yesus. Kasih kepada sesama terwujud dalam kerelaan mendampingi sahabat yang sedang menderita.

Iman keempat orang itu sungguh luar biasa. Bukan hanya percaya secara pasif, tetapi ada tindakan aktif yang menyatakan keyakinan mereka pada kuasa Yesus dalam menyembuhkan penyakit. Iman mereka berperan besar dalam hidup si lumpuh sehingga dia dapat berjalan dan menikmati hidup dalam pengampunan Tuhan.

Bagaimanakah peranan kita untuk menjadi berkat bagi hidup orang-orang di sekitar kita? Bagi ayah dan ibu yang sudah berusia lanjut, bagi tetangga yang membutuhkan perhatian, bagi rekan yang perlu pertolongan, dan seterusnya. Di awal tahun ini mari kita pikirkan suatu tindakan yang dapat menjadi berkat bagi mereka. Sesuatu yang memungkinkan mereka mengalami perjumpaan pribadi dengan Kristus.

DOA: Tuhan Yesus, berikanlah kepadaku suatu roh keberanian untuk mendoakan orang-orang sakit sehingga dengan demikian aku dapat sungguh percaya dalam kuat-kuasa penyembuhan-Mu. Bawalah kepadaku orang-orang dengan siapa aku dapat bersama mereka dan bercerita tentang Engkau. Tunjukkanlah kuat-kuasa-Mu, ya Tuhan, dan dimuliakanlah nama-Mu selalu. Amin. (Lucas Margono)

Januari15

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s