Renungan Sabtu, 6 Februari 2016

Renungan Sabtu, 6 Februari 2016, Pw. S. Paulus Miki, ImdkkMrt. Pekan Biasa IV.

OFM/OFMCap/OFMConv/OSCCap/OSCI/OFR/OFS: Pw. S. Petrus Baptista, Paulus Miki, Filipus dr Yesus, ImdkkMrt.
SJ: Pw. S. Paulus Miki, Biarw, dkkMrt.

Bacaan I: 1Raj 3:4-13

“Salomo memohon hati yang bijaksana agar sanggup memerintah umat Allah.”

3:4 Pada suatu hari raja pergi ke Gibeon untuk mempersembahkan korban, sebab di situlah bukit pengorbanan yang paling besar; seribu korban bakaran dipersembahkan Salomo di atas mezbah itu. 3:5 Di Gibeon itu TUHAN menampakkan diri kepada Salomo dalam mimpi pada waktu malam. Berfirmanlah Allah: “Mintalah apa yang hendak Kuberikan kepadamu.” 3:6 Lalu Salomo berkata: “Engkaulah yang telah menunjukkan kasih setia-Mu yang besar kepada hamba-Mu Daud, ayahku, sebab ia hidup di hadapan-Mu dengan setia, benar dan jujur terhadap Engkau; dan Engkau telah menjamin kepadanya kasih setia yang besar itu dengan memberikan kepadanya seorang anak yang duduk di takhtanya seperti pada hari ini. 3:7 Maka sekarang, ya TUHAN, Allahku, Engkaulah yang mengangkat hamba-Mu ini menjadi raja menggantikan Daud, ayahku, sekalipun aku masih sangat muda dan belum berpengalaman. 3:8 Demikianlah hamba-Mu ini berada di tengah-tengah umat-Mu yang Kaupilih, suatu umat yang besar, yang tidak terhitung dan tidak terkira banyaknya. 3:9 Maka berikanlah kepada hamba-Mu ini hati yang faham menimbang perkara untuk menghakimi umat-Mu dengan dapat membedakan antara yang baik dan yang jahat, sebab siapakah yang sanggup menghakimi umat-Mu yang sangat besar ini?” 3:10 Lalu adalah baik di mata Tuhan bahwa Salomo meminta hal yang demikian. 3:11 Jadi berfirmanlah Allah kepadanya: “Oleh karena engkau telah meminta hal yang demikian dan tidak meminta umur panjang atau kekayaan atau nyawa musuhmu, melainkan pengertian untuk memutuskan hukum, 3:12 maka sesungguhnya Aku melakukan sesuai dengan permintaanmu itu, sesungguhnya Aku memberikan kepadamu hati yang penuh hikmat dan pengertian, sehingga sebelum engkau tidak ada seorangpun seperti engkau, dan sesudah engkau takkan bangkit seorangpun seperti engkau. 3:13 Dan juga apa yang tidak kauminta Aku berikan kepadamu, baik kekayaan maupun kemuliaan, sehingga sepanjang umurmu takkan ada seorangpun seperti engkau di antara raja-raja.

Mazmur 119:9-10,11-12,13,14

Refren: Ajarkanlah ketetapa-Mu kepadaku, ya Tuhan.

Mazmur:

* Bagaimana kaum muda mempertahankan hidupnya tanpa cela? Dengan mengamalkan firman-Mu.

* Dengan segenap hatiku aku mencari Engkau, jangan biarkan aku menyimpang dari perintah-Mu.

* Dalam hatiku aku menyimpan janji-Mu, supaya aku jangan berdosa terhadap Engkau. Terpujilah Engkau,ya Tuhan; ajarkanlah ketetapan-ketetapan-Mu kepadaku.

* Dengan bibirku aku menceritakan segala hukum yang Kauucapkan.

* Aku bergembira atas peringatan-peringatan-Mu melebihi segala harta.

Bacaan Injil: Mrk 6:30-34

“Mereka itu bagaikan domba-domba tak bergembala.”

6:30 Kemudian rasul-rasul itu kembali berkumpul dengan Yesus dan memberitahukan kepada-Nya semua yang mereka kerjakan dan ajarkan. 6:31 Lalu Ia berkata kepada mereka: “Marilah ke tempat yang sunyi, supaya kita sendirian, dan beristirahatlah seketika!” Sebab memang begitu banyaknya orang yang datang dan yang pergi, sehingga makanpun mereka tidak sempat. 6:32 Maka berangkatlah mereka untuk mengasingkan diri dengan perahu ke tempat yang sunyi. 6:33 Tetapi pada waktu mereka bertolak banyak orang melihat mereka dan mengetahui tujuan mereka. Dengan mengambil jalan darat segeralah datang orang dari semua kota ke tempat itu sehingga mendahului mereka. 6:34 Ketika Yesus mendarat, Ia melihat sejumlah besar orang banyak, maka tergeraklah hati-Nya oleh belas kasihan kepada mereka, karena mereka seperti domba yang tidak mempunyai gembala. Lalu mulailah Ia mengajarkan banyak hal kepada mereka.

Renungan:

Banyak orang hanya bisa berbicara dan berteori tanpa bisa melakukannya. Apakah Salomo seorang raja yang seperti itu?
Alkitab mencatat bahwa Salomo mengasihi TUHAN dengan sungguh-sungguh. Hal itu dibuktikannya dengan hidup menurut ketetapan-ketetapan Daud, ayahnya (ayat 3). Ia mempersembahkan korban bakaran kepada TUHAN, sebagai wujud kasihnya itu. Korban-korban bakaran itu adalah pernyataan ibadah, ucapan syukur, dan persekutuan Salomo kepada TUHAN. Ini adalah bukti pertama Salomo mengasihi TUHAN sungguh-sungguh.

Bukti kedua Salomo mengasihi TUHAN, dapat kita lihat dari permohonannya dalam doa (ayat 6-9). TUHAN mengaruniakan Salomo satu permintaan, dan Salomo memanfaatkannya. Satu permintaan Salomo adalah memohonkan hikmat supaya bisa memerintah dengan baik dan demi kebaikan rakyatnya. Salomo tidak meminta kekayaan, kekuasaan, umur panjang, dll. Ini menunjukkan bahwa Salomo tidak mementingkan diri sendiri, tetapi peduli kepada rakyatnya yang begitu banyak. Dengan hikmat dari TUHAN, Salomo mensejahterakan umat Tuhan. Salomo mengasihi umat TUHAN karena Salomo mengasihi TUHAN! Bukti kedua ini diteguhkan dengan konfirmasi dari TUHAN sendiri (ayat 10-14).

Salomo membuktikan diri bukan raja yang hanya pandai bicara, tetapi tanpa kerja. Salomo mengasihi Tuhan bukan sekadar melalui kata-kata tetapi dengan tindakan konkret. Apakah kita mengasihi Tuhan? Apa bukti nyata kita mengasihi Tuhan? Kalau kita mengasihi Tuhan, pasti kita menaati firman-Nya, dan setia beribadah kepada-Nya. Kalau kita mengasihi Tuhan, pasti kita juga mengasihi sesama kita, dan kita akan meminta hal-hal yang terbaik bukan untuk diri sendiri melainkan untuk orang lain.

Renungkan: Apakah buktinya kita mengasihi Tuhan. Apakah hidup kita sudah sesuai dengan kehendak-Nya? Apakah hidup kita sudah menjadi berkat untuk sesama kita?

Mazmur, Dampak hidup berpegang pada firman Tuhan.

Selama ini banyak orang beranggapan salah tentang sumber kebahagiaan. Kebahagiaan diukur pada keberhasilan “memperoleh” bukan pada kerelaan “memberi”. Orang-orang berlomba-lomba mengejar kebahagiaan sekalipun dengan menggerogoti kebahagiaan orang lain. Cara seperti ini kasar, rakus, memalukan, dan menyeramkan. Kebahagiaan yang sebenarnya bersumber pada kehidupan yang bersih, berkepribadian seimbang, benar, dan jujur di hadapan Allah.

Kebahagiaan sejati adalah kebahagiaan yang bukan hanya untuk dirinya sendiri tetapi juga orang lain. Itu sebabnya kebahagiaan hanya di dapat dalam Tuhan, di dalam ketaatan kepada hukum-hukum-Nya.

Mempertahankan kelakuan bersih. Kebahagiaan dan kegembiraan hidup bersumber pada kehidupan yang bersih. Mungkinkah seseorang tetap mempertahankan dan memelihara kehidupannya bersih dari dosa dan salah? Bukankah godaan-godaan di sekitar kita, kelemahan diri sendiri, dan aturan-aturan dalam masyarakat seolah membuat kita tidak bisa menjaga hidup bersih? Apa yang diusulkan pemazmur? Pengenalan akan Tuhan dan ketaatan pada firman Tuhan yang diikuti tekad untuk taat pada hukum-hukum Tuhan, mendasari kehidupan yang berkenan kepada-Nya.

Injil hari ini,

Hidup terpanggil sebagai imam, bruder atau suster alias tidak menikah pada umumnya memang dapat membaktikan diri seutuhnya bagi pelayanan orang banyak, tanpa pandang bulu atau SARA. Mereka kurang lebih meneladan Yesus yang ‘tergerak hatiNya oleh belas kasihan kepada mereka, karena mereka seperti domba yang tidak mempunyai gembala’. Hati yang tergerak kepada keselamatan jiwa manusia, sehingga hatinya tertambat pada Allah sepenuhnya, itulah yang dialami atau dinikmati oleh mereka yang terpanggil secara khusus untuk hidup tidak menikah. “Hati yang tergerak oleh belas kasihan” kiranya juga menjadi panggilan kita semua umat beriman, orang yang percaya kepada Allah. “Compassion”, kepedulian kepada orang lain, lebih-lebih mereka yang miskin dan menderita dalam berbagai hal itulah yang hendaknya kita hayati, perdalam dan sebar-luaskan. Marilah kita perhatikan
anak-anak atau sesama kita yang kurang memperoleh perhatian kasih sayang dari orangtua mereka atau saudara-saudarinya, sehingga mereka harus menggelandang atau menjadi anak jalanan. Jika kita jujur melihat dan mengakui diri kiranya kebanyakan dari kita lebih memiliki kesempatan dan kemungkinan untuk menghayati kepedulian terhadap orang lain daripada mereka yang harus diperhatikan, dengan kata lain jumlah yang peduli kiranya lebih besar daripada yang diperhatikan, tentu saja yang memiliki kemungkinan untuk peduli melaksanakannya, serta tidak hidup serakah, berfoya-foya. Maka dengan ini kami mengajak siapapun yang cukup berada atau kaya akan harta benda dan uang untuk tidak serakah dan berfoya-foya, melainkan peduli terhadap mereka yang miskin, berkekurangan dan menderita.

DOA: Tuhan Yesus, aku menyadari bahwa tanpa Engkau aku tidak ubahnya seperti seekor domba tanpa gembala. Aku menyadari bahwa aku tidak dapat hidup sendiri dan tidak dapat mengandalkan kekuatanku sendiri dalam menghadapi berbagai godaan. Tetaplah bersama-Mu, ya Tuhan dan Juruselamatku. Amin. (Lucas Margono)

Februari6

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s