Renungan Kamis, 14 Juli 2016

Renungan Kamis, 14 Juli 2018, Hari Biasa, Pekan Biasa XV

Bacaan I : Yes 26:7-9.12.16-19

“Hai kalian yang sudah dikubur dalam tanah, bangkitlah dan bersorak-sorailah.”

26:7 Pada suatu waktu, kidung berikut akan dinyanyikan di tanah Yehuda, “Jejak orang benar adalah lurus, sebab Engkau yang merintis jalan lurus baginya. 26:8 Ya TUHAN, kami juga menanti-nantikan saatnya Engkau menjalankan penghakiman; kesukaan kami ialah menyebut nama-Mu dan mengingat Engkau. 26:9 Dengan segenap jiwa aku merindukan Engkau pada waktu malam, juga dengan sepenuh hati aku mencari Engkau pada waktu pagi; sebab apabila Engkau datang menghakimi bumi, maka penduduk dunia akan belajar apa yang benar.                                                                                                                                           26:12 Ya TUHAN, Engkau akan menyediakan damai sejahtera bagi kami, sebab segala sesuatu yang kami kerjakan, Engkaulah yang melakukannya bagi kami.                              26:16 Ya TUHAN, dalam kesesakan mereka mencari Engkau; ketika hajaran-Mu menimpa mereka, mereka mengeluh dalam doa. 26:17 Seperti perempuan yang mengandung yang sudah dekat waktunya untuk melahirkan, menggeliat sakit, mengerang karena sakit beranak, demikianlah tadinya keadaan kami di hadapan-Mu, ya TUHAN: 26:18 Kami mengandung, kami menggeliat sakit, tetapi seakan-akan kami melahirkan angin: kami tidak dapat mengadakan keselamatan di bumi, dan tiada lahir penduduk dunia. 26:19 Ya, TUHAN, orang-orang-Mu yang mati akan hidup pula, mayat-mayat mereka akan bangkit pula. Hai orang-orang yang sudah dikubur di dalam tanah bangkitlah dan bersorak-sorai! Sebab embun TUHAN ialah embun terang, dan bumi akan melahirkan arwah kembali.

Mazmur 102:13-14ab.15.16-18.19-21

Refren : Tuhan memandang ke bumi dari surga.

*    Tetapi Engkau, ya Tuhan, bersemayam untuk selama-lamanya, dan nama-Mu tetap turun-temurun. Engkau sendiri akan bangun, akan menyayangi Sion.

*     Sebab sudah waktunya untuk mengasihaninya, sudah tiba saatnya. Sebab hamba-hamba-Mu sayang kepada batu-batunya, dan merasa kasihan akan debunya.

*     Maka bangsa-bangsa menjadi takut akan nama Tuhan, dan semua raja bumi akan kemuliaan-Mu, bila Tuhan sudah membangun Sion, sudah menampakkan diri dalam kemuliaan-Nya, sudah berpaling mendengarkan doa orang-orang yang bulus, dan tidak memandang hina doa mereka.

*     Biarlah hal ini dituliskan bagi angkatan yang kemudian, dan bangsa yang diciptakan nanti akan memuji-muji Tuhan, sebab Ia telah memandang dari ketinggian-Nya yang kudus, Tuhan memandang dari sorga ke bumi, untuk mendengar keluhan orang tahanan, untuk membebaskan orang-orang yang ditentukan mati dibunuh,

Bacaan Injil :  Mat 11:28-30

“Aku ini lemah lembut dan rendah hati.”

11:28 Sekali peristiwa bersabdalah Yesus, “Datanglah kepada-Ku, kamu semua yang letih lesu dan berbeban berat, Aku akan memberi kelegaan kepadamu. 11:29 Pikullah kuk yang Kupasang dan belajarlah pada-Ku, karena Aku lemah lembut dan rendah hati dan jiwamu akan mendapat ketenangan.11:30 Sebab kuk yang Kupasang itu enak dan beban-Kupun ringan.”

Renungan: Tuhan, penjaga dan pelindung.

Dengan tegas dan jelas, Yesaya mengatakan, ia melihat Allah diproklamasikan sebagai Gunung Batu yang kekal, Penyelamat dan Pemberi damai sejahtera bagi manusia yang percaya dengan hati teguh, yang lurus jalannya. Gambaran istimewa ini menunjukkan bahwa Allahlah sang Pejuang yang meruntuhkan kubu-kubu benteng musuh. Dia membuka semua ketertutupan menjadi jalan-jalan, pintu-pintu yang terbuka bagi umat-Nya. Kebangkitan pun terbentang di hadapan umat-Nya sebagai karya diri-Nya di tengah kenyataan sejarah dunia.

Titik tolak iman. Gereja berdiri di atas puncak proklamasi karya keselamatan Allah yang dikaryakan dalam diri Yesus Kristus. Kebangkitan-Nya memberi dan mengokohkan titik tolak iman Gereja. Iman yang berpangkal pada keselamatan, dan yang di dalam-Nya ada pengharapan: yang mati dibangkitkan, yang runtuh dibangunkan, yang usang diperbarui, yang hancur dipulihkan. Karena itu gereja harus berani memberitakan pengharapan besar itu. Jangan takut, dan putus asa sebab yang diberitakan bukanlah isapan jempol melainkan karya besar tentang kebenaran yang berlaku sepanjang abad dan masa.

Mazmur, Semua akan binasa tetapi Engkau tetap ada.

Di kala diri merasa sangat tak berdaya, pasti membutuhkan tumpuan yang kokoh dan kekal. Semua yang ada di dunia ini akan binasa, namun Allah Sang Pencipta tetap ada selamanya. Semua boleh usang seperti pakaian, tetapi Tuhan tetap sama, dan tahun-tahun-Nya tidak berkesudahan (27-28). Tuhanlah tumpuan yang kokoh dan kekal dari selama-lamanya sampai selama-lamanya. Di dalam naungan-Nya, kita merasakan ketenteraman sejati, walau di dalam penderitaan yang berat sekalipun; karena Dia menanggungnya bagi kita.

Tiba saatnya. Seluruh umat percaya harus meyakini bahwa Allah bukan sekadar ada, tetapi hadir dan bertindak tepat waktu di tengah-tengah kehidupan umat-Nya. Keyakinan inilah yang telah membuat Kristen mampu bertahan di tengah-tengah keadaan dunia sekarang ini, yang jahat, kacau, dan tak menentu. Akan tiba saatnya, di mana Allah yang bersemayam di tempat maha tinggi akan memandang ke bumi dan mendengar doa keluhan umat-Nya. Ia akan membebaskan umat-Nya, agar nama-Nya dimuliakan.

Renungkan: Semua bisa berubah, bahkan akhirnya binasa. Tetapi Allah kita kekal. Dia yang telah menciptakan, menebus, dan memelihara kita.

Injil hari ini, Kuk yang enak.

Para rabbi Yahudi sering menggambarkan penyerahan pada Allah dan hukum-hukum-Nya dengan sebuah kuk. Konteks Mat 11:28-30 adalah beratnya beban hukum dan aturan agama Yahudi yang harus dipikul oleh rakyat kebanyakan. Yesus tidak menolak kuk sebagai gambaran dari penyerahan diri kepada Allah. Ia juga tidak menganjurkan manusia untuk tidak ‘memiliki’ atau membuang kuk kehidupannya. Pada Mat 11:30, Yesus hanya mau mengganti kuk yang ada dengan kuk yang enak . Bukan hanya itu, Yesus juga mengajak kita untuk “belajarlah pada-Ku” (Mat 11:29).

Yesus mengajak kita untuk memikul kuk bersama dengan Dia, untuk berkolaborasi menjadi satu tim perjalanan hidup. Kuk yang dipakai adalah kuk yang chrestos, yang dirancang dan didesain sesuai dengan rencana-Nya, yaitu pengampunan, keadilan, dan kasih. Jaminan sebagai team-mate pun sudah sangat jelas: “Aku ini lemah lembut dan rendah hati, dan jiwamu akan mendapat ketenangan” (Mat 11:29).

Bersediakah kita selalu berkolaborasi dengan Yesus, khususnya di kala beban kehidupan melanda? Beban bisnis macet, kerja menumpuk, perkawinan rusak, uang kurang, kesehatan buruk, keamanan yang tidak pasti, keperluan anak, umur tua, pilihan-pilihan sulit, kritik dan tentangan, kesepian, sering membuat orang meninggalkan kuk religiositasnya.

DOA: Tuhan Yesus. Aku mengalami sendiri betapa Engkau sangat mengasihiku. Aku menyerahkan hidupku kepada Engkau. Terimalah diriku sebagai apa adanya aku, bahkan dalam saat-saat penderitaanku, dan bentuklah diriku seturut gambar dan rupa-Mu sendiri. Terima kasih, ya Tuhan Yesus. Terpujilah nama-Mu selama-lamanya. Amin.(Lucas Margono)

Juli14

 

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s