Renungan Selasa, 1 Nopember 2016

Renungan Selasa, 1 Nopember 2016, HARI RAYA SEMUA ORANG KUDUS, Pekan Biasa XXXI

Bacaan I : Why 7:2-4,9-14

7:2 Dan aku melihat seorang malaikat lain muncul dari tempat matahari terbit. Ia membawa meterai Allah yang hidup; dan ia berseru dengan suara nyaring kepada keempat malaikat yang ditugaskan untuk merusakkan bumi dan laut, 7:3 katanya: “Janganlah merusakkan bumi atau laut atau pohon-pohon sebelum kami memeteraikan hamba-hamba Allah kami pada dahi mereka!” 7:4 Dan aku mendengar jumlah mereka yang dimeteraikan itu: seratus empat puluh empat ribu yang telah dimeteraikan dari semua suku keturunan Israel. 7:9 Kemudian dari pada itu aku melihat: sesungguhnya, suatu kumpulan besar orang banyak yang tidak dapat terhitung banyaknya, dari segala bangsa dan suku dan kaum dan bahasa, berdiri di hadapan takhta dan di hadapan Anak Domba, memakai jubah putih dan memegang daun-daun palem di tangan mereka. 7:10 Dan dengan suara nyaring mereka berseru: Keselamatan bagi Allah kami yang duduk di atas takhta dan bagi Anak Domba!” 7:11 Dan semua malaikat berdiri mengelilingi takhta dan tua-tua dan keempat makhluk itu; mereka tersungkur di hadapan takhta itu dan menyembah Allah, 7:12 sambil berkata: “Amin! puji-pujian dan kemuliaan, dan hikmat dan syukur, dan hormat dan kekuasaan dan kekuatan bagi Allah kita sampai selama-lamanya! Amin!” 7:13 Dan seorang dari antara tua-tua itu berkata kepadaku: “Siapakah mereka yang memakai jubah putih itu dan dari manakah mereka datang?” 7:14 Maka kataku kepadanya: “Tuanku, tuan mengetahuinya.” Lalu ia berkata kepadaku: “Mereka ini adalah orang-orang yang keluar dari kesusahan yang besar; dan mereka telah mencuci jubah mereka dan membuatnya putih di dalam darah Anak Domba.

Mazmur 24:1-2,3-4ab,5-6

Refren: Inilah angkatan orang-orang yang mencari wajah-Mu, ya Tuhan.

Mazmur;

*    Milik Tuhanlah bumi dan segala isinya, jagat dan semua yang diam di dalamnya.  Sebab Dialah yang mendasarkan bumi  di atas lautan, dan menegakkannya di atas sungai-sungai.

*   Siapakah yang boleh naik ke gunung TUHAN? Siapakah yang boleh berdiri di tempat-Nya yang kudus? Orang-orang yang bersih tangannya dan murni hatinya, yang tidak menyerahkan diri kepada penipuan.

*   Dialah yang akan menerima berkat dari TUHAN dan keadilan dari Allah,  penyelamatnya. Itulah angkatan orang-orang yang mencari Tuhan, yang mencari wajah-Mu, ya Allah Yakub.

Bacaan II : 1Yoh 3:1-3

3:1 Lihatlah, betapa besarnya kasih yang dikaruniakan Bapa kepada kita, sehingga kita disebut anak-anak Allah, dan memang kita adalah anak-anak Allah. Karena itu dunia tidak mengenal kita, sebab dunia tidak mengenal Dia. 3:2 Saudara-saudaraku yang kekasih, sekarang kita adalah anak-anak Allah, tetapi belum nyata apa keadaan kita kelak; akan tetapi kita tahu, bahwa apabila Kristus menyatakan diri-Nya, kita akan menjadi sama seperti Dia, sebab kita akan melihat Dia dalam keadaan-Nya yang sebenarnya. 3:3 Setiap orang yang menaruh pengharapan itu kepada-Nya, menyucikan diri sama seperti Dia yang adalah suci.

Bait Pengantar Injil

Refren : S. Alleluya. U. Alleluya

Ayat : Mat !!:28

*    Marilah Kepada-Ku, semmua yang letih lesu dan berbeban berat, Aku akan memberi kelegaan kepadamu. 

Bacaan Injil : Mat 5:1-12a

Ucapan bahagia

5:1Ketika Yesus melihat orang banyak itu, naiklah Ia ke atas bukit dan setelah Ia duduk, datanglah murid-murid-Nya kepada-Nya. 5:2 Maka Yesuspun mulai berbicara dan mengajar mereka, kata-Nya: 5:3 “Berbahagialah orang yang miskin di hadapan Allah, karena merekalah yang empunya Kerajaan Sorga. 5:4     Berbahagialah orang yang berdukacita, karena mereka akan dihibur. 5:5 Berbahagialah orang yang lemah lembut, karena mereka akan memiliki bumi. 5:6 Berbahagialah orang yang lapar dan haus akan kebenaran, karena mereka akan dipuaskan. 5:7      Berbahagialah orang yang murah hatinya, karena mereka akan beroleh kemurahan.5:8 Berbahagialah orang yang suci hatinya, karena mereka akan melihat Allah. 5:9 Berbahagialah orang yang membawa damai, karena mereka akan disebut anak-anak Allah. 5:10 Berbahagialah orang yang dianiaya oleh sebab kebenaran, karena merekalah yang empunya Kerajaan Sorga. 5:11Berbahagialah kamu, jika karena Aku kamu dicela dan dianiaya dan kepadamu difitnahkan segala yang jahat. 5:12       Bersukacita dan bergembiralah, karena upahmu besar di sorga, sebab demikian juga telah dianiaya nabi-nabi yang sebelum kamu.”

Renungan: 

Perlindungan ilahi bagi umat Allah

Meterai-meterai hukuman Allah atas dunia ini dibukakan, namun terhadap umat-Nya yang sejati meterai Allah dikenakan untuk melindungi mereka dari hukuman-Nya (ayat 1-4). Siapa 144.000 orang yang dimeteraikan itu? Siapa kumpulan besar yang yang tidak terhitung jumlahnya itu?

Orang Kristen tidak dijanjikan luput dari berbagai aniaya yang berasal dari orang-orang yang tidak takut akan Allah. Justru aniaya dunia ini adalah alat untuk menguji dan mendorong orang beriman untuk bertekun dalam iman agar beroleh kemenangan lewat ketekunan itu. Luput yang dipaparkan Yohanes adalah terhindar dari hukuman Allah atas penghuni dunia yang membenci Dia dan bertindak jahat terhadap umat-Nya. Penglihatan tentang meterai perlindungan ilahi ini menjawab teriakan (ayat 6:10) dan pertanyaan umat yang menderita (ayat 7:17). Hasil dari tindakan Allah membela umat-Nya adalah tak terbilang banyaknya umat yang setia kepada-Nya mengalami pemurnian dan siap menerima kemuliaan.

Siapakah umat yang dimeteraikan Allah agar luput dari hukuman-Nya bagi dunia ini? Bedakah 144.000 orang (ayat 7:4-8) dari kumpulan besar dalam ayat 9? Meski ditulis dalam dua kelompok berbeda bukan berarti Yohanes melihat dua golongan manusia yang beroleh meterai keselamatan dari Allah. Kelompok pertama adalah gambaran simbolis dari keseluruhan umat Allah zaman Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru. Mereka adalah orang-orang yang telah mempercayakan hidup mereka kepada Allah dan rencana keselamatan-Nya. Tindakan memberikan meterai yang mengakibatkan perlindungan ilahi itu adalah tindakan pengesahan kepemilikan Allah atas umat-Nya. Orang-orang yang menaruh iman kepada Kristus adalah kita dan seluruh umat Allah yang memperoleh meterai Roh. Tak satu pun yang terluput dari empat kuda dan empat malaikat penjuru bumi yang membinasakan dan menyesatkan itu, kecuali mereka yang bermeterai keselamatan dari Allah.

Mazmur, Hari ini harinya Tuhan.

Zaman Israel purba,mazmur 24 merupakan mazmur yang khusus dinyanyikan dalam setiap penyembahan di Bait Allah pada hari pertama. Mazmur ini dinyanyikan secara bergantian antara pemimpin penyembahan dengan umat Israel, sebagai manifestasi dari kesiapan hati dan seluruh keberadaan bangsa Israel untuk menyambut hadirat kemuliaan Allah.

Mula-mula seluruh umat Israel menyanyikan ayat 1-2, yang merupakan pengakuan bahwa Allahlah Pemilik seluruh bumi dan segala isinya termasuk manusia, karena Ialah yang menciptakan, menetapkan, dan memelihara. Mereka menyatakan dengan tegas apa pun yang mereka miliki baik itu kekayaan, kepandaian, bahkan kehidupannya adalah milik Tuhan. Karena itu mereka harus mendayagunakan semuanya dengan benar dan penuh rasa tanggung jawab. Pemimpin ibadah segera menyambung pujian itu dengan pertanyaan (3) agar jemaat mengevaluasi sudahkah hidup mereka layak di hadapan-Nya. Segera jemaat menjawab bahwa mereka yang mengakui kepemilikan Allah secara mutlak dalam kehidupan sehari-harilah yang layak datang kepada-Nya (4-6). Orang yang menggunakan tangannya untuk pekerjaan kotor, mendapatkan keuntungan materi dari orang lain, dan menipu untuk keuntungan pribadi sama dengan merampok harta Allah.

Akhirnya penyembahan itu ditutup dengan seruan bersama untuk menyambut Raja Kemuliaan (7-10) sebagai pernyataan bahwa mereka telah berusaha hidup dengan mengakui dan menghargai kedaulatan Allah atas seluruh keberadaan mereka dengan segala kekayaannya.

Renungkan: Betapa indahnya jika hidup kita setiap hari dievaluasi berdasarkan mazmur ini sehingga kita dapat menutup setiap hari dengan pujian bagi kemuliaan-Nya.

Bacaan II, Menanggapi kasih Allah

Relasi manusia dengan Allah terjadi karena kasih Allah yang dianugerahkan pada manusia. Kasih itu membuat kita layak disebut anak-anak Allah (ayat 1). Apa artinya?

Kasih Allah dinyatakan kepada semua orang melalui pengorbanan Yesus (Yoh 3:16). Orang yang percaya kepada Yesus dan menyambut kasih itu, diberi hak untuk menjadi anak-anak Allah (Yoh 1:12). Tuhan memberi jaminan mengenai hal ini (Rmm 8:16). Selanjutnya, kita harus semakin serupa dengan Yesus. Bukan berarti kita akan kehilangan kepribadian kita, lalu diganti dengan kepribadian dan karakter yang Allah berikan pada kita. Bukan demikian! Kita tetap menjadi diri kita sendiri, tetapi karakter dan natur kita akan disempurnakan ke dalam gambaran kesempurnaan Yesus (ayat 2). Walau demikian, kita masih akan melalui perjalanan panjang. Tidak ada seorang pun dari kita yang mencapai garis finish, sampai kita bertemu dengan Yesus. Pada saat itulah kita benar-benar akan menyerupai Dia.

Mengetahui tujuan kekal kita dan memiliki pengharapan akan mencapai  tujuan itu, memotivasi kita untuk memelihara kekudusan hidup. Bila kita tahu bahwa akhir hidup kita adalah berjumpa dengan Yesus, tentu kita ingin memulainya sejak sekarang. Itu membuat kita ingin melayani Dia, ingin hidup menyenangkan Dia. Kita tidak ingin melakukan dosa lagi karena itu berarti tidak menghargai Dia. Di dalam Roma 6, Paulus menjelaskan bahwa ketika orang datang pada Yesus, ketika dosa-dosa diampuni dan anugerah Allah dinyatakan, orang berubah secara radikal-manusia lama mati dan manusia baru hidup. Jadi bila orang mengakui diri sebagai ciptaan baru di dalam Kristus, tetapi tetap merasa nyaman dalam kebiasaan dosa, itu patut dipertanyakan. Sebab gaya hidup berdosa bertentangan dengan gaya hidup benar, berlaku benar dan mengasihi saudara.

Meski Allah mengasihi kita berdasarkan inisiatif-Nya sendiri, hendaknya kita menyatakan tanggapan kita dengan terus berjalan di dalam kebenaran, dalam setiap aspeknya.

Injil hari ini, Siapakah saya?

Pada akhir tahun ini, baiklah kita mencoba mawas diri. Bila sampai saat ini kita masih diberi hidup dan kesehatan, nyatalah besar anugerah dan sayang-Nya atas kita. Dalam pelayanan Yesus, tidak semua orang yang telah menerima pertolongan-Nya akan menjadi murid atau pengikut-Nya. Pengikut Tuhan memiliki ciri yang jelas karena Ia membuat berbagai tuntutan yang tinggi dan harus terjelma dalam hidup orang yang menanggapi-Nya.

Pola hidup baru. Tuhan ingin para pengikut-Nya bahagia. Itu pasti! Namun kebahagiaan itu dikaitkan dengan mutu manusianya, bukan apa yang dimilikinya. Kebahagiaan diawali pertobatan, yaitu perpalingan hidup dari perbuatan, kebiasaan, budaya salah dan lain sebagainya. Kesadaran akan betapa miskinnya kita di hadapan Allah, menjadi titik tolak dari proses pemuridan selanjutnya, yang kelanjutannya masih perlu kita tapaki.

Semakin dekat Dia semakin kita mirip Dia dan sifat-sifat-Nya. Lemah lembut bukannya keras, lapar dan haus akan kebenaran bukannya kecemaran, murah hati bukannya kikir atau tamak, berhati murni, juru damai. Itulah jalan bahagia, jalan penuh tuntutan harga namun juga jalan hidup sepenuhnya dalam pembentukan Tuhan.

Renungkan: Kita akan bahagia bila mengikuti pembentukan Allah atas diri kita dengan meninggalkan yang lama.

DOA: Bapa surgawi, jutaan orang dalam dunia pada saat ini sedang menanggung penderitaan karena iman-kepercayaan mereka kepada Putera-Mu, Yesus Kristus. Utuslah Roh Kudus-Mua untuk menghibur dan memperkuat mereka selagi mereka terus bersandar kepada-Mu. Amin. (Lucas Margono)

nopember1

Iklan

Renungan Senin, 31 Oktober 2016

Renungan Senin, 31 Oktober 2016, Hari Biasa, Pekan Biasa XXXI

 Bacaan I : Flp 2:1-4

“Lengkapilah sukacitaku, hendaklah kalian sehati sepikir.”

2:1 Saudara-saudara dalam Kristus ada nasihat, ada penghiburan kasih, ada persekutuan Roh, ada kasih mesra dan belas kasih. 2:2 Maka sempurnakanlah sukacitaku dengan ini: hendaklah kalian sehati sepikir, dalam satu kasih, satu jiwa dan satu tujuan, 2:3 dengan tidak mencari kepentingan sendiri atau pujian yang sia-sia. Sebaliknya dengan rendah hati anggaplah orang lain lebih utama daripada dirimu sendiri. 2:4 Janganlah masing-masing hanya memperhatikan kepentingan sendiri, melainkan kepentingan orang lain juga.

Mazmur 131:1.2.3

Refren : Tuhan, lindungilah aku dalam damai-Mu. 

*    Tuhan, aku tidak tinggi hati, dan tidak memandang dengan sombong; aku tidak mengejar hal-hal yang terlalu besar atau hal-hal yang terlalu ajaib bagiku.

*     Sungguh, aku telah menenangkan dan mendirikan jiwaku; seperti anak yang disapih berbaring dekat ibunya, ya, seperti anak yang disapih jiwaku dalam diriku.

*     Berharaplah kepada Tuhan, hai Israel, dari sekarang sampai selama-lamanya. 

Bait Pengantar Injil

Refren :  Alelluya

Ayat : Yoh 8:31b-32

*    Jika kalian tetap dalam firman-Ku, kalian benar-benar murid-Ku, dan kalian akan mengetahui kebenaran. 

Bacaan Injil : Luk 14:12-14

“Janganlah mengundang sahabat-sahabatmu, melainkan undanglah orang-orang miskin dan cacat.”

14:12 Yesus bersabda kepada orang Farisi yang mengundang Dia makan, “Bila engkau mengadakan perjamuan siang atau malam, janganlah mengundang sahabat-sahabatmu, saudara-saudaramu, kaum keluargamu, atau tetangga-tetanggamu yang kaya, karena mereka akan membalasnya dengan mengundang engkau pula, dan dengan demikian engkau mendapat balasnya. 14:13 Tetapi bila engkau mengadakan perjamuan, undanglah orang-orang miskin, cacat, lumpuh dan buta. 14”14 Maka engkau akan berbahagia, karena mereka tidak mempunyai apa-apa untuk membalas engkau. Sebab engkau akan mendapat balasnya pada hari kebangkitan orang-orang benar.”

Renungan

Kesatuan di dalam Kristus. 

Banyak nasihat firman Tuhan bagi warga gereja sulit kita praktikkan. Mengapa? Salah satu alasannya adalah karena nasihat-nasihat itu bertentangan dengan dorongan kodrati kita. Perikop ini dimulai dengan “Jadi karena dalam Kristus, atau “Sebagaimana dalam Kristus” (ayat 1). Karya dan teladan Kristus serta pengenalan kita akan Kristus adalah sumber aliran nasihat, penghiburan kasih, persekutuan Roh, kasih mesra dan belas kasihan (ayat 2-4). Tanpa sumber itu, semua kesatuan di antara manusia hanyalah semu belaka. Keakraban berdasarkan kepentingan sama, interes sama, hobi sama, hanyalah kesatuan berdasarkan kesamaan dorongan ego masing-masing orang.

Paulus mengaitkan kesatuan ini dengan kesempurnaan sukacita (ayat 1; bdk. Yoh 17:13). Inilah sukacita seorang yang saleh, yang afeksi dan emosi terdalamnya serasi dengan rencana Tuhan. Inilah sukacita karena melihat saudara seiman hidup dalam kesatuan. 

Kesatuan ini meliputi beberapa hal. Pertama, kesehatian. Kristen seharusnya memiliki arah hati yang sama yaitu kepada Tuhan, dalam segala sesuatu memuliakan dan menyenangkan Tuhan saja. Kedua, sepikir. Pikiran harus dikuasai oleh kebenaran yang sama, yaitu firman Tuhan. Ketiga, satu kasih. Kristus mengasihi kita dan mempersatukan kita dengan Bapa yang di sorga. Waktu kita mengasihi, kita sedang membawa orang ke dalam kesatuan tubuh Kristus dengan satu tujuan, yaitu hidup bagi Tuhan dengan meneladani kehidupan Kristus.

Ada dua hal yang dapat menghambat kesatuan ini, yaitu mencari kepentingan sendiri dan puji-pujian yang sia-sia. Untuk mengatasinya dibutuhkan sikap menganggap orang lain lebih utama daripada diri sendiri. Belajarlah melihat diri sendiri sebagai yang terakhir! Inilah cara kita menonjolkan kasih Kristus.

Mazmur, Rendah hati

Rendah hati bukan saja merupakan kualitas moral, tetapi ungkapan sikap iman di hadapan Tuhan. Kerendahan hati seorang Kristen melambangkan sikap hatinya di hadapan manusia maupun Tuhan. Di hadapan manusia ia tidak merasa diri lebih baik atau lebih tinggi, di hadapan Tuhan ia tunduk pada kedaulatan dan hikmat-Nya.

 Pernyataan pemazmur bahwa dirinya tidak tinggi hati dan sombong (1) adalah sikap komitmennya untuk menjaga diri rendah hati di hadapan Tuhan. Firman Tuhan mengingatkan bahwa kesombongan membawa kepada kehancuran (Amms 18:12). Hal-hal yang besar dan ajaib yang dilakukan manusia merupakan bentuk kesombongan. Sikap seperti demikian dilihat melawan Allah atau menganggap diri sebagai Allah.

 Pemazmur mengambil sikap menenangkan jiwa dan rendah hati (Mzm. 131:2). Ia merefleksikan keberadaan dirinya di hadapan Allah. Melaluinya ia menyadari bahwa dirinya seperti seorang anak kecil yang masih menyusu bergantung penuh pada ibunya. Demikian seharusnya ia bersandar penuh hanya kepada Allah. Pemazmur kemudian mengajak bangsanya untuk merendahkan diri dan berharap kepada-Nya (3), dengan tidak melakukan hal-hal yang sombong dan besar, tapi menenangkan diri dan berserah kepada Allah. Hanya dengan dua sikap hati inilah, bangsa Israel akan diberkati oleh Tuhan untuk selama-lamanya.

Banyak pemimpin baik umum maupun rohani yang jatuh karena kesombongan. Mereka tidak lagi mau mendengar apalagi menyimak keluhan bawahan atau orang yang dipimpinnya. Nasihat orang berpengalaman, kritikan dari pihak lawan, bahkan teguran Tuhan sekalipun diabaikannya. Orang sombong sebenarnya sasaran empuk Iblis karena ia mengandalkan diri sendiri dan menjauhkan diri dari Tuhan. 

Renungkan: Orang yang bersandar pada Tuhan mendapatkan kekuatan dan kemenangan karena Tuhan pasti akan membelanya!

Injil hari ini, Jangan Mengharap Immbalan

Dalam hal berbuat baik kepada orang lain janganlah kita mengharapkan balasan, lebih-lebih yang bersifat material. Pada masa kini masih terjadi praktek kehidupan dalam hal memberi sumbangan atau berbuat baik, yaitu  berbuat baik atau memberi sumbangan dengan harapan segera menerima balasan yang lebih besar daripada apa yang kita lakukan atau sumbangkan. Secara khusus kita diharapkan berbuat baik atau memberi sumbangan kepada ‘orang-orang miskin, orang-orang cacat, orang-orang lumpuh dan orang-orang buta’ (KLMTD), yang pada umumnya tak mungkin segera memberi balasan kepada yang telah membantunya, paling hanya ucapan kata ‘terima kasih’. Dalam penngalaman melayani orang-orang kaya maupun orang-orang miskin: orang-orang kaya sudah dilayani sangat bagus masih mengeluh dan menggerutu, sedangkan orang-orang miskin meskipun hanya menerima pelayanan atau bantuan sedikit terus-menerus berterima kasih dan mengungkapan serta mewujudkan terima kasihnya dengan berbuat baik kepada orang lain. Untuk itu Yesus mmemminta kepada kita saat kita mengundang pesta, undanganlah orang-orang miskin yang tak mungkin bisa membalas segala kebaikan kita. Marilah kita berbuat baik tanpa harapan balasan segera, melainkan biarlah Tuhan sendiri yang menganugerahkan balasan berupa hidup mulia dan bahagia selamanya setelah meninggal dunia.

Maka kita diundang untuk tidak mencari kepentingan diri sendiri atau pujian yang sia-sia. Dengan itu pula kita bisa menjawab tantangan untuk merangkul sebanyak mungkin orang. Mereka yang tersingkir dan terlupakan, yang miskin, cacat, lumpuh, buta, justru perlu kita undang. Tindakan tulus dengan percaya pada balasan berkat dari Tuhan saja bisa mengubah warna hidup bersama menjadi lebih menyenangkan. Jika tidak demikian, kita akan menjadi ahli dalam menciptakan neraka bagi yang lain.

Doa : Yesus, Engkaulah Tuhanku. Bimbinglah aku untuk tidak tinggi hati dan berilah aku kesediaan dan sukacita dalam merangkul banyak orang. Amin. (Lucas Margono)

oktober31

 

Renungan Minggu, 30 Oktober 1016

Renungan Minggu, 30 Oktober 2016, Hari Minggu Biasa, Pekan Biasa XXXI

Bacaan I : Keb 11:22-12:2

“Semua orang Kaukasihani, sebab Engkau mengasihi segala yang ada.”

11:22 Tuhan, laksana sebutir debu di atas neraca, atau seperti embun pagi yang jatuh ke bumi, demikianlah seluruh jagat di hadapan-Mu. 11:23 Tetapi, justru karena Engkau berkuasa atas segala sesuatu, maka semua orang Kaukasihani, dan dosa manusia tidak Kauperhatikan supaya mereka bertobat. 11:23 Sebab, Engkau mengasihi segala yang ada, dan tidak benci kepada barang apa pun yang telah Kaubuat. Sebab, andaikata sesuatu Kaubenci, niscaya tidak Kauciptakan. 11:25 Bagaimana sesuatu dapat bertahan jika tidak Kaukehendaki, atau bagaimana dapat tetap terpelihara kalau tidak Kaupanggil? 11:26 Engkau menyayangkan segala-galanya sebab semua itu milik-Mu, ya Penguasa penyayang hidup!

12:1 Roh-Mu yang baka ada di dalam segala sesuatu. 12:2 Dari sebab itu, orang-orang yang jatuh Kauhukum berdikit-dikit. Mereka Kautegur dengan mengingatkan dalam hal mana mereka sudah berdosa, supaya setelah menjauhi kejahatan itu mereka percaya kepada Dikau, ya Tuhan.

Mazmur 145:1-2.8-9.10-11.13cd-14, do = g, 2/4, PS 836. 

Refren : Segala bangsa bertepuk tanganlah berpekiklah untuk Allah raja semesta. 

*    Aku hendak mengagungkan Dikau, ya Allah, ya Rajaku, aku hendak memuji nama-Mu untuk selama-lamanya. Setiap hari aku hendak memuji Engkau dan memuliakan nama-Mu untuk selama-lamanya.

*   Tuhan itu pengasih dan penyayang, panjang sabar dan besar kasih setia-Nya. Tuhan itu baik kepada semua orang, penuh rahmat terhadap segala yang dijadikan-Nya.

*   Segala yang Kaujadikan akan bersyukur kepada-Mu, ya Tuhan, dan orang-orang yang Kaukasihi akan memuji Engkau. Mereka akan mengumumkan kemuliaan kerajaan-Mu, dan akan membicarakan keperkasaan-Mu.

*   Tuhan itu setia dalam segala perkataan-Nya, dan penuh kasih setia dalam segala perbuatan-Nya. Tuhan itu penopang bagi semua orang yang jatuh dan penegak bagi semua orang yang tertunduk.

Bacaan II : 2 Tes 1:11 – 2:2 

“Semoga nama Yesus, Tuhan kita, dimuliakan di dalam kamu, dan kamu di dalam Dia.
1:11
Saudara-saudara, kami senantiasa berdoa untuk kamu supaya Allah kita menganggap kamu layak bagi panggilan-Nya dan dengan kekuatan-Nya menyempurnakan kehendakmu untuk berbuat baik, dan menyempurnakan segala pekerjaan imanmu. 1:12 Dengan demikian, nama Yesus, Tuhan kita, dimuliakan di dalam kamu, dan kamu di dalam Dia, sesuai dengan kasih karunia Allah kita dan Tuhan kita Yesus Kristus.

2:1 Tentang kedatangan Tuhan kita Yesus Kristus dan berkumpulnya kita dengan Dia, kami minta kepadamu, Saudara-saudara, 2:2 jangan lekas bingung dan gelisah, baik oleh ilham roh maupun oleh kabar atau surat yang dikatakan dari kami, seolah-olah hari Tuhan telah tiba.

Bait Pengantar Injil, do = f, 2/4, PS 956.

Refren : Alleluya, alleluya, alleluya. Alleluya, alleluya, alleluia

Ayat. Yoh 3:16

*    Begitu besar kasih Allah akan dunia ini, sehingga Ia mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal, supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya beroleh hidup yang kekal.

 ==>Alleluya….

Bacaan Injil : Luk 19:1-10

“Anak Manusia datang untuk mencari dan menyelamatkan yang hilang.”

19:1 Sekali peristiwa Yesus memasuki kota Yerikho dan berjalan melintasi kota itu. 19:2  Di situ ada seorang kepala pemungut cukai yang amat kaya bernama Zakheus. 19:3 Ia berusaha melihat orang apakah Yesus itu, tetapi tidak berhasil karena orang banyak, sebab ia berbadan pendek. 19:4 Maka berlarilah ia mendahului orang banyak, lalu memanjat pohon ara untuk melihat Yesus, yang akan lewat di situ. 19:5 Ketika sampai di tempat itu, Yesus melihat ke atas dan berkata, “Zakheus, segeralah turun! Hari ini Aku harus menumpang di rumahmu.” 19:6 Zakheus segera turun dan menerima Yesus dengan sukacita. 19:7 Tetapi, semua orang yang melihat hal itu bersungut-sungut, katanya, “Ia menumpang di rumah orang berdosa!” 19:8 Tetapi, Zakheus berdiri dan berkata kepada Tuhan, “Tuhan, separo dari milikku akan kuberikan kepada orang miskin, dan sekiranya ada sesuatu yang kuperas dari seseorang akan kukembalikan empat kali lipat.” 19:9 Kata Yesus kepadanya, “Hari ini telah terjadi keselamatan atas rumah ini, karena orang ini pun Anak Abraham. 19:10 Sebab, Anak Manusia datang untuk mencari dan menyelamatkan yang hilang.”

Renungan

Sebab seperti sebutir debu dalam neraca, demikian seluruh jagat raya di hadapan-Mu, atau bagaikan setetes embun pagi yang jatuh ke bumi. Akan tetapi justru karena Engkau berkuasa akan segala sesuatu, maka semua orang Kaukasihani, dan dosa manusia tidak Kauperhatikan, supaya mereka bertobat. Sebab Engkau mengasihi segala yang ada, dan Engkau tidak benci kepada barang apapun yang telah Kaubuat. Sebab andaikata sesuatu Kaubenci, niscaya tidak Kauciptakan” (Keb 11:22-24), demikian kata penulis kitab Kebijaksanaan. “Semua orang Kaukasihani, dan dosa manusia tidak Kauperhatikan, supaya mereka bertobat”, inilah yang baik kita renungkan atau refleksikan. Marilah kita sadari dan hayati kasih dan perhatian Allah yang begitu besar pada diri kita masing-masing melalui siapapun yang telah berbuat baik dan mengasihi kita. Jika kita jujur mawas diri kiranya kita akan menyadari dan menghayati diri sebagai ‘yang terkasih’ artinya orang yang telah menerima kasih melimpah takterbatas.

Bermodalkan kasih Allah yang tercurah tanpa batas, melimpah ruah tersebut kita diharapkan bertobat atau memperbaharui diri terus menerus, antara lain dengan senantiasa berbuat baik kepada saudara-saudari atau sesama kita. Dengan kasih Allah marilah kita sempurnakan segala pekerjaan iman kita, kehendak untuk berbuat baik, dengan terus meneruskan melakukan apa yang baik, menyelamatkan dan membahagiakan, terutama bagi jiwa-jiwa manusia. Marilah kita sadari dan hayati bahwa masing-masing dari kita diciptakan oleh Allah sesuai dengan gambar atau citraNya, artinya dari diri kita masing-masing tercermin kehendak atau karya Allah, sehingga siapapun yang bertemu atau bergaul dengan kita semakin mempersembahkan diri kepada Allah, semakin beriman, semakin suci, semakin dikasihi oleh Allah dan sesama manusia.

Mazmur, ” Keagungan Allah abadi.

TUHAN itu pengasih dan penyayang, panjang sabar dan besar kasih setia-Nya. TUHAN itu baik kepada semua orang, dan penuh rahmat terhadap segala yang dijadikan-Nya. Segala yang Kaujadikan itu akan bersyukur kepada-Mu, ya TUHAN, dan orang-orang yang Kaukasihi akan memuji Engkau. Mereka akan mengumumkan kemuliaan kerajaan-Mu, dan akan membicarakan keperkasaan-Mu” (Mzm 145:8-11).

Pada situasi bagaimana dan atas alasan apa biasanya kita mengagungkan kebesaran Allah? Kenyataan menunjukkan bahwa kita mengagungkan dan memuji kebesaran Allah tergantung pada beberapa hal: pada waktu senang, ketika baru mengalami “berkat” Tuhan, atau karena kita menginginkan “berkat”-Nya. Pemazmur melihat bahwa keagungan dan kebesaran Allah tidak tergantung kepada suara pujian manusia dan tidak tertandingi oleh kuasa mana pun sepanjang masa. Apa yang dikatakan pemazmur merupakan suatu pengakuan yang berdasarkan pengalamannya menyaksikan pekerjaan Allah yang ajaib dan besar (ayat 4-7). Pekerjaan Allah yang ajaib dan besar itu akan berlangsung terus-menerus dari abad ke abad (ayat 13). Setiap generasi akan mengalami keajaiban pekerjaan Allah dan mereka akan terus memberitakannya (ayat 3-7,11-13).

Bukan pengakuan filosofis. Pengakuan pemazmur tentang Allah bukanlah suatu pengakuan filosofis (berdasarkan pengetahuan) melainkan bukti karya nyata Allah. Salah satunya dalam kehidupan nyata, kebesaran dan keagungan Allah itu nampak ketika Allah peduli terhadap keadaan manusia yang rapuh dan segala ciptaan lainnya (ayat 8-10, 14-17, 19-20). Karena itu kita yang telah mengalami perbuatan agung Allah, layak memberitakannya dalam kata dan tindakan.

Bacaan II,

Pada Surat 2 Tesalonika, Paulus berhadapan dengan para penganut Gnostik yang menyampaikan pemberitaan bahwa kedatangan hari Tuhan (parousia) telah tiba (2Tes 2:2). Tentu saja hal ini membuat jemaat Tesalonika bingung, Dengan melihat keadaan jemaat seperti itu, Paulus memberikan penghiburan agar mereka tenang dan tidak termakan oleh isu tersebut. Melalui surat ini Paulus mengharapkan jemaat tetap melanjutkan kegiatan sehari-hari seperti biasanya sambil tetap melaksanakan kewajiban sebagai orang Kristen.

Sebagai seorangf motivator Paulus terus mengingatkan jemaat agar tetap tabah, dengan senantiasa mengucap syukur kepada Tuhan, Dalam ucapan syukur tersebut, Paulus menyampaikan perasaan sukacitanya atas iman yang dimiliki jemaat yang dinilainya semakin bertambah (1:3-4). Paulus juga menjelaskan pada jemaat bahwa penderitaan yang sedang mereka rasakan tidak sia-sia, karena pasti ada maksud Allah di balik semua kejadian dan penderitaan itu.

Dalam surat yang kedua ini, Paulus mmeluruskan kesalahan jemaat di Tesalonika yang telah salah memahami pemberitaan kedatangan Tuhan tersebut. Untuk itulah, Paulus mengingatkan jemaat agar tetap berpegang teguh pada ajaran-ajaran yang ia sampaikan yaitu tetap menantikan hari kedatangan Yesus yang kedua, tetapi dengan hidup normal. Namun, Paulus juga menyatakan bahwa sebelum hari itu tiba, akan ada tanda-tanda yang mendahuluinya termasuk penderitaan yang sedang dirasakan jemaat dan mencapai puncaknya pada hari Tuhan datang. Saat itulah Allah akan memulihkan kembali umat-Nya.

Pemberitaan Hari Tuhan yang membingungkan jemaat juga semakin membuat anggota jemaat menjadi malas untuk bekerja. Oleh karena itu, Paulus menasihatkan jemaat agar menjauhkan diri dari orang-orang yang sudah tidak mau bekerja lagi (2 Tesalonika 3:6). Sebaliknya, Paulus mendorong jemaat untuk tetap giat dalam bekerja. Dalam surat yang terdahulu, nasihat ini juga disampaikan Paulus namun di surat ini Paulus semakin memotivasi jemaat agar mengikuti teladannya. Yang dimaksudkan Paulus adalah mengikuti teladannya yang tetap bekerja sebagai pembuat tenda selain melaksanakan tugas utamanya sebagai pemberita Injil. Dengan demikian, jemaat diajarkan dalam penantian kedatangan Tuhan tidak hanya berdoa tetapi juga giat bekerja. Paulus bahkan menegaskan dalam 2 Tes 3:10b bahwa “orang yang tidak mau bekerja janganlah ia makan”.

Injil hari ini, Pertobatan yang sejati. 

Jika dalam kasus orang Yerikho yang buta lalu oleh dorongan Roh Kudus orang tersebut berinisiatif menyapa Yesus lebih dahulu, dalam perikop kali ini Yesuslah yang berinisiatif memanggil orang berdosa untuk menyadari keberdosaannya dan bertobat. Inilah yang terjadi pada diri Zakheus.

Namun, melihat respons Zakheus, dapat dipastikan bahwa Roh Kudus sudah bekerja lebih dahulu pada diri Zakheus. Itu sebabnya, ketika Yesus memanggil Zakheus dan menyatakan keharusan dan keinginan-Nya menumpang di rumahnya, Zakheus segera menerima dengan sukacita (ayat 6). Bahkan, Zakheus segera menyatakan tekadnya untuk memperbaiki apa yang salah yang telah diperbuatnya, khususnya dalam kaitan dengan pekerjaan cukainya (ayat 8). Inikah yang disebut pertobatan sejati?

Melalui tanggapannya terhadap tawaran Yesus, dapat dikatakan bahwa Zakheus sedang mengalami pertobatan sejati. Ia menyadari bahwa perbuatannya baik dengan mencurangi orang-orang yang berhutang pajak pada kerajaan Romawi dengan cara memeras mereka untuk membayar pajak lebih banyak daripada jumlah yang seharusnya, maupun dengan tidak mempedulikan orang-orang miskin adalah dosa. Ia sadar akan status dan kondisi hidupnya sebagai orang berdosa. Namun, ia segera mengambil keputusan yang bukan hanya slogan iman belaka melainkan perbuatan nyata sebagai bayar harga atas semua kerugian yang telah diderita orang lain oleh perbuatan dosanya.

Ceritera tentang Zakheus adalah ceritera khas Injil Lukas. Dengan ceritera ini, Lukas bermaksud untuk meringkas secara dramatis beberapa tema kunci perihal MENJADI murid, sementara Yesus mendekati Yerusalem. Zakheus adalah seorang kaya dan kemungkinan besar sangat kaya sebagai “kepala wilayah” dari para pemungut cukai. Akibatnya, pemimpin Yahudi memandang dia sebagai “kepala para pendosa” yang bertanggung jawab atas segala kejahatan yang terkait dengan kegiatan semua pngumpul cukai di tengah masyarakat Yahudi. Dalam situasi ini, tindakan Yesus sungguh berbeda dari sikap para pemimpin Yahudi. Yesus mengambil inisiatif, Ia menyapa Zakheus. 

Walaupun mempunyai reputasi yang jelek, Zakheus adalah sosok pribadi yang menarik. Melalui perjumpaan yang singkat dengan Yesus, sifat-sifat yang mendekati sifat-sifat Petrus muncul. Zakheus spontan dan mudah bertindak, melontarkan pertanyaan-pertanyaan yang luar biasa. Ada kejujuran dalam peristiwa ini. Meskipun ia memiliki kedudukan dan jabatan yang penting, hal ini tidak menghalangi dia untuk memanjat pohon dan tidak menghalangi dia untuk mengakukan kesalahannya secara public dan menunjukkan pertobatannya. Yesus mengambil prakarsa dalam pertobatan ini. Yesus mengatakan bahwa ia adalah anak Abraham, meskipun dia adalah pemungut cukai. Ia hendaknya jangan dikucilkan karena kagagalannya melainkan dibantu untuk menemukan jalannya kembali kepada komunitasnya. Kasih Yesus terhadapnya telah membangkitkan kemungkinan-kemungkinan baru untuk kasih dan pelayanan. Bagaimakah sikapku terhadap saudara-saudari yang berdosa, lemah, dan melakukan kesalahan? 

Renungkan: Pertobatan sejati adalah respons positif iman terhadap anugerah keselamatan Allah di dalam Yesus! Dapatkah Anda menunjukkan bukti pertobatan sejati Anda?

DOA: Tuhan Yesus, aku ingin mengenal Engkau lebih mendalam lagi. Datanglah, ya Tuhan, dan penuhilah hidupku dengan Roh Kudus-Mu. Berikanlah aku iman agar sungguh mau dan mampu percaya bahwa Engkau sungguh merupakan Juruselamatku satu-satunya. Jadikanlah hatiku seperti hati-Mu. Amin. (Lucas Margono)

oktober30

Renungan Sabtu, 29 Oktober 2016

Renungan Sabtu, 29 Oktober 2016, Hari Biasa, Pekan Biasa XXX

Bacaan I : Flp 18b-26

“Bersukacita dalam iman.”

1:18b Saudara-saudara, aku akan tetap bersukacita, 1:19 karena aku tahu, bahwa kesudahan semuanya ini ialah keselamatanku oleh doamu dan pertolongan Roh Yesus Kristus. 1:20 Sebab yang sangat kurindukan dan kuharapkan ialah bahwa aku dalam segala hal tidak akan beroleh malu, melainkan seperti sediakala, demikianpun sekarang, Kristus dengan nyata dimuliakan di dalam tubuhku, baik oleh hidupku, maupun oleh matiku. 1:21 Karena bagiku hidup adalah Kristus dan mati adalah keuntungan. 1;22 Tetapi jika aku harus hidup di dunia ini, itu berarti bagiku bekerja memberi buah. Jadi mana yang harus kupilih, aku tidak tahu. 1:23 Aku didesak dari dua pihak: aku ingin pergi dan diam bersama-sama dengan Kristus–itu memang jauh lebih baik; 1:24 tetapi lebih perlu untuk tinggal di dunia ini karena kamu. 1:25 Dan dalam keyakinan ini tahulah aku: aku akan tinggal dan akan bersama-sama lagi dengan kamu sekalian supaya kamu makin maju dan bersukacita dalam iman, 1:26 sehingga kemegahanmu dalam Kristus Yesus makin bertambah karena aku, apabila aku kembali kepada kamu.

Mazmur 42:3.5bcd, do = d, 2/2, PS 843. 

RefREN : Jiwaku haus pada-Mu, Tuhan ingin melihat wajah Allah. 

*    Jiwaku haus akan Allah akan Allah yang hidup! Bilakah tiba saatnya aku boleh datang melihat Allah.

*     Ku terkenang, ketika berjalan maju di tengah kepadatan manusia, melangkah menuju ke rumah Allah di tengah sorak-sorai dan nyanyian syukur. 

Bait Pengantar Injil, d6 = g, 2/4, PS 952 

Refren : Alleluya, alleluya, alleluya. 

Ayat. : 1Yoh 2:5

*     Sempurnalah cinta Allah dalam hati orang yang mendengarkan sabda Kristus. 

Bacaan Injil : Luk 14:1.7-11

“Barangsiapa meninggikan diri, akan direndahkan; dan barangsiapa merendahkan diri, akan ditinggikan.”

14:1 Pada suatu hari Sabat Yesus datang ke rumah salah seorang pemimpin dari orang-orang Farisi untuk makan di situ. Semua yang hadir mengamat-amati Dia dengan saksama.

14:7 Karena Yesus melihat, bahwa tamu-tamu berusaha menduduki tempat-tempat kehormatan, Ia mengatakan perumpamaan ini kepada mereka: 14:8 “Kalau seorang mengundang engkau ke pesta perkawinan, janganlah duduk di tempat kehormatan, sebab mungkin orang itu telah mengundang seorang yang lebih terhormat dari padamu, 14:9 supaya orang itu, yang mengundang engkau dan dia, jangan datang dan berkata kepadamu: Berilah tempat ini kepada orang itu. Lalu engkau dengan malu harus pergi duduk di tempat yang paling rendah. 14:10 Tetapi, apabila engkau diundang, pergilah duduk di tempat yang paling rendah. Mungkin tuan rumah akan datang dan berkata kepadamu: Sahabat, silakan duduk di depan. Dan dengan demikian engkau akan menerima hormat di depan mata semua tamu yang lain. 14:11 Sebab barangsiapa meninggikan diri, ia akan direndahkan dan barangsiapa merendahkan diri, ia akan ditinggikan.”

Renungan :

Hidup menghasilkan buah. 

Apa sebabnya Paulus dapat optimis bahkan bersukacita di tengah penderitaannya, khususnya pemenjaraan yang menimpa dirinya? Bukankah ada kemungkinan ia akan dieksekusi oleh karena imannya?

Paulus tidak menguatirkan mengenai keselamatannya. Dia percaya bahwa kesudahan semua penderitaan dan penjara itu adalah keselamatan dirinya. Entah keselamatan dalam arti ia dibebaskan dari pemenjaraan fisik maupun keselamatan surgawi (ayat 19). Dirinya adalah pemberian dan milik Kristus, untuk Dia saja — hidup atau mati — Paulus mengabdikan dirinya.

Yang Paulus kuatirkan ialah bagaimana hidupnya tetap dapat mempermuliakan Tuhan baik ketika ia ada di dalam penjara, maupun pada masa mendatang entah dalam keadaan apapun dia, bahkan sampai pada saat kematiannya (ayat 20). Bagi Paulus persoalannya bukan mati atau hidup, asalkan kedua-duanya memuliakan Tuhan. Di satu sisi memang kematian akan menyelesaikan perkara penderitaan dan kesusahan di dunia ini. Kematian berarti permulaan dari menikmati secara penuh persekutuan keselamatan yang telah Kristus kerjakan (ayat 23). Namun, di sisi lainnya Paulus melihat kebutuhan dan sekaligus panggilan Tuhan untuk tetap berkarya di dalam dunia ini. Paulus melihat kebutuhan konkret jemaat Filipi dan pelayanan mereka. Oleh sebab itu Paulus memutuskan untuk taat pada kehendak Allah yaitu tinggal di dalam dunia ini untuk hidup menghasilkan buah (ayat 22, 24-25).

Kematian bukan pelarian bagi Paulus. Selama ia hidup, ia harus memberi buah: menjadi berkat bagi orang-orang yang kepadanya Tuhan pertemukan. Kalau tiba waktunya kematian menjemput, Paulus tahu ia akan ke sorga mulia. Namun, sekarang selagi ia hidup berarti bekerja dan melayani Tuhan.

Doa: Tuhan, kiranya kesukaanku yang terdalam ialah bahwa entah aku masih lama hidup atau segera akan mati, aku menyenangkan-Mu

Mazmur, Merindukan Allah.

Pernahkah Anda merasakan kegalauan rasa rindu yang tak terbendung ketika terpisah dari orang-orang yang Anda cintai? Hasrat seperti inilah yang dirasakan pemazmur.

Pemazmur merindukan Tuhan dengan hasrat yang sedemikian besar, tak tertahankan lagi dan harus segera mendapat pemenuhannya (Ayat 1-3). Ia haus, gundah gulana, tertekan, dan gelisah ketika menyadari keberadaan dirinya yang telah jauh dari Allah (ayat 3, 5, 6, 7, 12). Ia memenuhi hari-harinya dengan air mata karena celaan lawannya yang menikam tulang-tulangnya: “Di manakah Allahmu?” (ayat 4).  Ia sedemikian takut terpisah dari Allah sehingga berseru: “Mengapa Engkau melupakan aku? Mengapa aku harus hidup berkabung di bawah impitan musuh?” Kerinduannya yang sedemikian dalam ini tidak terobati oleh album kenangan yang dipenuhi dengan memori indah. Ingatannya tentang sorak-sorai, nyanyian syukur, dan perayaan yang pernah dinikmatinya di rumah Allah, maupun kenangan manis yang menjadi sejarah tidaklah memuaskan hasratnya, tetapi sebaliknya justru membawanya semakin tenggelam dalam ketakutan, keputusasaan, dan kegelisahan hati (ayat 5-8). Harapan satu-satunya, yang memungkinkannya untuk kembali bersyukur hanyalah ditemukan di dalam Tuhan.

Getaran rasa rindu yang sedemikian besar terhadap Tuhan seringkali tidak kita miliki. Hal ini dapat terjadi karena kita tidak menyadari bahwa kebutuhan kita yang terdalam, tidak lain adalah Allah yang hidup, sumber kehidupan kita (ayat 3, 9). Dialah sumber pertolongan yang melindungi dan memerintahkan kasih setia-Nya (ayat 6).

Renungkan: Apakah kita menyadari bahwa diri kita tidaklah mungkin dapat terpisah dari Allah karena kita tidak dapat hidup tanpa Dia? Dialah kebutuhan kita yang paling mendasar, dan tanpa Dia keberadaan kita tidaklah berarti apa-apa.

Injil hari ini, Harus rendah hati

Biasanya orang sangat senang menerima penghargaan, karena itu menunjukkan kemampuan dan kelebihannya. Namun bisa saja penghargaan membuat seseorang menjadi tinggi hati.

Dalam perumpamaan pertama, Yesus memperingatkan bahwa penghargaan bukan merupakan sesuatu yang seharusnya menjadi ambisi, tetapi merupakan anugerah. Karena itu jangan pernah merasa layak untuk mendapatkan tempat kehormatan, atau memburu penghargaan demi gengsi, harga diri atau untuk menaikkan status sosial (8). Bisa saja itu jadi berbalik mempermalukan diri kita sendiri, terlebih bila kita berhadapan dengan orang yang memang benar-benar pantas mendapatkannya (9). Kalau memang layak untuk memperoleh penghargaan, kita pasti akan mendapatkannya (10). Maka dalam hal ini, perlu ada sikap rendah hati. Rendah hati bukan karena kurang penghargaan terhadap diri sendiri, tetapi justru karena tahu bagaimana harus menempatkan diri.

Kemudian, dari lakon sebagai tamu, Yesus mengembangkan gambaran kerendahhatian, saat kita sendiri yang menjadi tuan rumah dalam suatu perjamuan. Menurut Yesus bahwa yang perlu kita undang bukanlah orang kaya dan terkenal atau kerabat kita sendiri (12). Mengundang mereka memang menyenangkan dan menguntungkan.Tetapi undanglah orang-orang yang tidak bisa membalas pemberian kita, mereka yang layak menerima belas kasih kita (13-14). Hendaknya kita menunjukkan sikap tidak membeda-bedakan kelas atau status. Untuk kerendahhatian dan keramahtamahan semacam itu, Tuhan menjanjikan berkat (14).

Jadi daripada berambisi meraih prestise karena ingin dihormati banyak orang, lebih baik kita memikirkan siapakah yang seharusnya kita layani. Karena dalam Kerajaan Allah, melayani orang lain lebih dihargai daripada kepemilikan status atau prestise.

Camkan: Orang masuk ke dalam Kerajaan Allah bukan karena tingginya status.

DOA: Tuhan Yesus, sekarang dan di tempat ini, aku bersembah sujud di hadapan hadirat-Mu karena kenyataan bahwa Engkau wafat dan bangkit untuk diriku dan sesamaku. Aku ingin menaruh hidupku dan segala sesuatu yang berharga di mataku di dekat kaki-Mu, agar dengan demikian aku dapat menyembah Engkau, satu-satunya yang pantas menerima kemuliaan dan kehormatan dan kuasa. Terpujilah nama-Mu selama-lamanya. Amin. (Lucas Margono)

oktober29

 

Renungan Jumat, 28 Oktober 2016

Renungan Jumat, 28 Oktober 2016, Pesta St. Simon dan Yudas, Pekan Biasa XXX

Bacaan I : Ef 2:19-22

“Kamu dibangun di atas dasar para rasul.”

2:19 Saudara-saudara, kamu bukan lagi orang asing dan pendatang, melainkan sewarga dengan orang kudus dan anggota keluarga Allah. 2:20 Kamu dibangun di atas dasar para rasul dan para nabi, dengan Kristus Yesus sebagai batu penjuru. 2:21 Di atas Dia tumbuhlah seluruh bangunan, yang rapih tersusun, menjadi bait Allah yang kudus dalam Tuhan. 2:22 Di atas Dia pula kamu turut dibangun menjadi tempat kediaman Allah dalam Roh.

Mazmur 19:2-3.4-5, do = g, 4/4, PS 834. 

Refren : Nama Tuhan hendak kuwartakan di tengah umat kumuliakan. 

*    Langit menceritakan kemuliaan Allah, dan cakrawala memberitakan karya tangan-Nya; hari yang satu mengisahkannya kepada hari yang lain, dan malam yang satu menyampaikan pengetahuannya kepada malam berikut. 

*     Meskipun tidak berbicara, dan tidak memperdengarkan suara, namun di seluruh bumi bergaunglah gemanya, dan amanat mereka sampai ke ujung bumi.

Bait Pengantar Injil, do = bes, PS 954

Refren :  Alleluya

Ayat :

*    Allah, Tuhan kami, Engkau kami puji dan kami muliakan. Kepada-Mu paduan para rasul bersyukur, ya Tuhan. 

Bacaan Injil : Luk 6:12-19

“Yesus memilih dari antara murid-murid-Nya dua belas orang yang disebut-Nya rasul.”

6:12 Sekali peristiwa Yesus mendaki sebuah bukit untuk berdoa. Semalam-malaman Ia berdoa kepada Allah. 8:13 Keesokan harinya, ketika hari siang, Ia memanggil murid-murid-Nya, lalu memilih dari antara mereka dua belas orang yang disebut-Nya rasul. 6:14 Mereka itu ialah: Simon yang juga diberi-Nya nama Petrus, Andreas saudara Simon, Yohanes dan Yakobus, Filipus dan Bartolomeus, 6:15 Matius dan Tomas, Yakobus anak Alfeus, dan Simon yang disebut orang Zelot, 6:16 Yudas anak Yakobus, dan Yudas Iskariot yang kemudian menjadi pengkhianat. 6:17 Lalu Yesus turun bersama mereka dan berhenti pada suatu tempat yang datar. Di situ berkumpul sejumlah besar dari murid-murid-Nya, dan banyak orang lain yang datang dari seluruh Yudea dan dari Yerusalem, dari daerah pantai Tirus dan Sidon. 6:18 Mereka datang untuk mendengarkan Dia dan untuk disembuhkan dari penyakit mereka; juga mereka yang dirasuk oleh roh-roh jahat beroleh kesembuhan. 6:19 Dan orang banyak itu berusaha menjamah Dia, karena dari pada-Nya keluar suatu kuasa, dan semua orang itu disembuhkan-Nya. 

Renungan :

“Di dalam Dia tumbuh seluruh bangunan, rapi tersusun, menjadi bait Allah yang kudus, di dalam Tuhan. Di dalam Dia kamu juga turut dibangunkan menjadi tempat kediaman Allah, di dalam Roh” (Ef 2;21-22), demikian peringatan Paulus perihal hidup menggereja atau paguyuban umat beriman. Secara organisatoris/ hirarkis ‘bangunan Gereja Katolik’ kiranya boleh dikatakan tersusun dengan rapi sejak dari Kepausan -> s/d lingkungan atau stasi, namun apakah para anggotanya sungguh ‘menjadi tempat kediaman Allah’  kiranya menjadi pertanyaan bagi kita semua.

Marilah kita mawas diri sebagai bangunan yang tumbuh diatas dasar Kristus dan ajaran para rasul, menjadi bait Allah, sudahkah kita layak menjadi tempat  kediaman Allah. Menjadi tempat kediaman Allah berarti Allah hidup dan berkarya di dalam diri kita dan dengan demikian kita hidup dan bertindak sesuai dengan kehendak Allah. Ini berarti kita setia menghayati janji baptis, yaitu ‘hanya mengabdi Tuhan Allah saja dan menolak semua godaan setan’. Allah hidup dan bekerja dalam diri kita artinya hidup di dalam Roh, sehingga cara hidup dan cara bertindak kita harus menghasilkan buah-buah Roh yaitu “kasih, sukacita, damai sejahtera, kesabaran, kemurahan, kebaikan, kesetiaan, kelemahlembutan, penguasaan diri” (Gal5:22 -23).

Disinilah kita benar-benar menjadi Pelita dan garam dunia, siapapun yang berhubungan dengan kita, hidup dan bekerja bersama kita akan tergerak untuk semakin beriman, membawa mereka semakin mempersembahkan diri seutuhnya kepada Tuhan, dan jika mereka sedang menderita sakit akan tersembuhkan.

Sebagai penutup,  kita sebagai umat katolik  benar-benar menghayati hidup dalam paguyuban umat basis, sehingga kehidupan bersama sebagai umat yang percaya kepada Yesus Kristus menarik, mempesona dan memikat bagi orang  lain.

Mazmur, Kenal Tuhan melalui Kitab Suci

Kuasa, kemuliaan, dan hikmat Allah nyata di dalam alam semesta (ayat 1). Langit menjadi tempat bagi Allah untuk menempatkan matahari, bulan, dan bintang. Ketiganya berfungsi sebagai penerang bagi dunia, serta untuk membedakan siang dari malam (Kej 1:14-19). Meski tidak ada suara atau kata-kata, berita tentang kemuliaan Allah terpancar ke seluruh jagat raya melalui keindahan semesta (ayat 2-5a). Memang tak perlu ada cerita maupun berita, karena panasnya sinar matahari yang menjamah seluruh ujung bumi menjadi bukti tak terbantahkan mengenai keberadaan Allah (ayat 5b-7).

Namun pengetahuan tentang Allah melalui alam tidak sejelas pengenalan yang dinyatakan di dalam Taurat-Nya. Melalui ciptaan kita tahu ada Allah yang mencipta alam. Akan tetapi, pengetahuan tersebut tidak cukup membawa kita mengenal Tuhan secara pribadi. Perhatikan, pemazmur memakai nama “Allah” (ayat 2) ketika berbicara mengenai ciptaan dan memakai nama Tuhan ketika berbicara tentang Taurat. Kata Tuhan (ditulis dengan huruf kapital) berasal dari kata Yahweh. Jika Allah (berasal dari kata Elohim) lebih menggambarkan Dia sebagai Pencipta langit dan bumi, maka Yahweh (yang merupakan nama pribadi Allah) lebih menggambarkan Tuhan, Allah perjanjian yang memberikan Taurat.

Pemazmur memaparkan tujuh (menunjukkan angka sempurna) karakter Taurat yaitu sempurna, teguh, tepat, murni, suci, benar, dan adil. Umat Allah yang merenungkan Taurat akan mendapatkan banyak faedah: disegarkan, diberi hikmat dan bersuka cita. Sebab itu pemazmur menganggap Taurat lebih indah daripada emas dan lebih manis daripada madu. Bukan itu saja, umat Allah yang berpegang pada Taurat akan terhindar dari banyak hal negatif termasuk kesesatan, pelanggaran, dan tipuan orang jahat.

Taurat dapat diartikan sebagai ajaran yang Tuhan berikan di dalam Kitab Suci. Marilah kita memperlakukan Kitab Suci sebagai anugerah berharga karena Tuhan memberikannya supaya kita dapat mengenal Dia secara pribadi.

Injil hari ini, Kuasa untuk pelayanan

Doa adalah salah satu tema utama Injil Lukas. Yesus naik ke “bukit” untuk berdoa kepada Allah semalam suntuk (12), sebagai persiapan untuk memilih kedua belas rasul (13-16) dan untuk pelayanan selanjutnya, baik dalam pengajaran maupun penyembuhan orang sakit (18-19).

Kedua belas rasul dipilih dari antara sekian banyak murid yang mengikut Yesus (13). Mereka disebut “rasul,” sebutan yang diberikan kepada orang yang diserahi tanggung jawab sebagai utusan dan saksi (bdk. Kis 1:21-25). Mereka dipersiapkan untuk melanjutkan pekerjaan Yesus di dunia dan menjadi pemimpin umat Allah yang baru, menggantikan kepemimpinan para pemuka agama Yahudi yang tidak mengakui karya penebusan Allah di dalam Yesus. Pemilihan para rasul dilakukan di atas “bukit,” suatu lokasi yang di dalam literatur Yahudi sering dikaitkan dengan penampakan Allah dan pemberian wahyu Ilahi. Itu berarti, mereka dipilih atas kehendak Allah, yang Ia nyatakan kepada Yesus melalui doa (bdk. 3:21-22; 5:16-17). Sesudah memilih kedua belas rasul, Yesus turun dari bukit bersama mereka (17a).

Melalui doa, Yesus diurapi dengan kuasa untuk pelayanan-Nya, baik dalam mengajar maupun menyembuhkan orang-orang dari segala lapisan masyarakat (17b-19). Kata yang sama, “menyembuhkan,” untuk penyakit fisik (18a) dipakai juga untuk pembebasan dari gangguan roh jahat (18b).

Bagi Lukas, kesehatan bukan hanya meliputi unsur fisik atau medis saja, tetapi juga unsur sosial dan spiritual. Orang yang sakit fisik atau dirasuk roh jahat bisa mendapat penderitaan lain, yaitu disingkirkan masyarakat. Kesembuhan mereka berarti pulihnya kembali status dan fungsi sosial mereka dalam keluarga dan masyarakat. Maka di dalam kuat kuasa Roh Allah, Yesus mematahkan kuasa iblis, musuh utama dari karya penebusan dan pemulihan Allah, seperti ditandaskan Lukas di ay. 19: “dan semua orang itu disembuhkan-Nya.”

Renungkan: Pelayanan yang disertai kuat kuasa Allah tidak terlepas dari ketekunan dalam doa.

DOA: Tuhan Yesus, ajarlah kami berdoa. Ampunilah kami apabila kami tidak setia dalam berdoa. Terpujilah nama-Mu yang kudus, sekarang dan selama-lamanya. Amin. (Lucas Margono)

oktober28a

Renungan Kamis, 27 Oktober 2016

Renungan Kamis, 27 Oktober 2016, Hari Biasa, Pekan Biasa XXX

Bacaan I : Ef 6:10-20

6:10 Saudara-saudara, hendaklah kalian kuat dalam Tuhan, dalam kekuatan kuasa-Nya. 6:11 Kenakanlah seluruh perlengkapan senjata Allah, agar kalian dapat bertahan melawan tipu muslihat iblis. 6:12 Sebab perjuangan kita bukanlah melawan manusia, melainkan melawan pemerintah dan penguasa, melawan para penghulu dunia gelap ini, melawan roh-roh jahat di udara. 6:13 Sebab itu kenakanlah seluruh perlengkapan senjata Allah, agar kalian dapat mengadakan perlawanan pada hari yang jahat itu dan tetap berdiri sesudah menyelesaikan segala sesuatu. 6:14 Jadi berdirilah tegap berikatpinggangkan kebenaran, berbajuzirahkan keadilan 6:15 dan kakimu berkasutkan kerelaan untuk memberitakan Injil damai sejahtera. 6:16 Dalam segala keadaan pergunakanlah perisai iman, sebab dengan perisai itu kalian akan dapat memadamkan semua panah api si jahat. 6:17 Terimalah ketopong keselamatan dan pedang Roh, yaitu sabda Allah, 6:18 dalam segala doa dan permohonan. Berdoalah setiap waktu dalam Roh dan berjaga-jagalah dalam doamu itu dengan permohonan terus-menerus untuk segala orang kudus. 6:19 Berdoalah juga untuk aku, supaya tiap kali membuka mulutku, aku dikaruniai perkataan yang tepat. Berdoalah, agar aku dengan berani mewartakan rahasia Injil, 6:20 yang kulayani sebagai utusan yang dipenjarakan. Berdoalah supaya aku menyatakannya dengan berani, sebagaimana seharusnya aku berbicara.

Mazmur  144:1.2.9-10

Refren : Terpujilah Tuhan, Gunung Batuku!

*    Terpujilah Tuhan, Gunung Batuku! Ia mengajar tanganku bertempur, Ia melatih jari-jariku berperang! 

*     Ia menjadi tempat perlindungan dan kubu pertahananku, kota bentengku dan penyelamatku; Ia menjadi perisai, tempat aku berlindung; Dialah yang menundukkan bangsa-bangsa ke bawah kuasaku! 

*     Ya Allah, aku hendak menyanyikan lagu baru bagi-Mu, dengan gambus sepuluh tali aku hendak bermazmur. Sebab Engkaulah yang memberikan kemenangan kepada raja-raja, dan yang membebaskan Daud, hamba-Mu!

Bait Pengantar Injil

Refren : Alleluya

Ayat : Luk 13:35; Mrk 11:10

*     Diberkatilah yang datang dalam nama Tuhan. Terpujilah Engkau di surga. 

Bacaan Injil : Luk 13:31-35

13:31 Pada waktu itu datanglah beberapa orang Farisi dan berkata kepada Yesus, “Pergilah, tinggalkanlah tempat ini, karena Herodes hendak membunuh Engkau.” 13:32 Jawab Yesus kepada mereka, “Pergilah, dan katakanlah kepada si serigala itu, ‘Aku mengusir setan dan menyembuhkan orang pada hari ini dan esok, dan pada hari yang ketiga Aku akan selesai. 13:33 Tetapi hari ini dan esok dan lusa Aku harus meneruskan perjalanan-Ku, sebab tidaklah semestinya sorang nabi dibunuh di luar Yerusalem’. 13:34 Yerusalem, Yerusalem, engkau membunuh nabi-nabi dan merajam orang-orang yang diutus kepadamu! Berkali-kali Aku rindu mengumpulkan anak-anakmu, sama seperti induk ayam mengumpulkan anak-anaknya di bawah sayap, tetapi kalian tidak mau. 13:35 Sungguh, rumahmu ini akan ditinggalkan dan menjadi sunyi! Tetapi Aku berkata kepadamu: Kalian tidak akan melihat Aku lagi hingga pada saat kalian berkata, ‘Diberkatilah Dia yang datang dalam nama Tuhan’.”

Renungan :

Perlengkapan rohani untuk hidup suci.

Paulus mengingatkan bahwa ada kuasa-kuasa yang tidak kelihatan yang berusaha merusak kesatuan umat dan menyelewengkan kesucian umat. Pemerintah, penguasa dan roh jahat di u dara (ayat 12); Roh-roh jahat ini sangat berkuasa dan licik penuh tipu muslihat. Manusia tidak mampu melawan mereka.

Jadi apa yang harus diperbuat? Ada dua sikap ekstrim yang harus dihindari. [1]. Terlalu memberi perhatian berlebihan terhadap roh-roh jahat sehingga mengabaikan kuasa Kristus. [2]. Mengabaikan kehadiran roh-roh jahat dalam dunia. Manusia lemah dan tidak mungkin menghadapi roh-roh. Karenanya orang percaya harus bergantung sepenuhnya pada kuasa Allah (ayat 10). Kuasa Allah telah diungkapkan melalui salib Kristus. Maut dan kuasa Iblis telah dikalahkan. Karenanya orang Kristen harus mengenakan seluruh perlengkapan senjata Allah (ayat 12).

Ada 6 jenis perlengkapan: kebenaran, pembenaran, berita Injil damai sejahtera, iman, keselamatan, dan firman Allah. Kebenaran adalah kebenaran isi Kitab Suci atau hidup kristiani yang benar (ayat 14). Baju zirah pembenaran adalah pulihnya relasi dengan Allah melalui Yesus yang melindungi orang percaya dari semua tuduhan iblis (ayat 14). Kerelaan memberitakan Injil damai sejahtera sangat dibenci iblis karena Injil adalah kekuatan Allah yang menyelamatkan manusia dari cengkeraman roh-roh jahat (ayat 15). Iman pada Allah berarti percaya pada janji Allah, akan melindungi kita dari serangan iblis berbentuk keraguan dan kebimbangan. Orang Kristen telah menerima keselamatan dari Allah dan sedang menanti sepenuhnya pada saat Yesus datang kedua kali; masa kini Allah menyelamatkannya dari semua serangan si jahat. Perlengkapan terakhir adalah firman Allah yang merupakan pedang Roh (ayat 17). Yesus melawan serangan iblis dengan firman Allah (Mat 4:1-10). Kita tidak tahu kapan dan bagimana iblis menyerang. Itulah sebabnya kita harus siap sedia, dengan setiap hari menjadikan firman Allah santapan kita dan setiap hari kita wujudkan dalam hidup.

Dalam bacaan kemarin telah kita lihat bagaimana orang Kristen bergantung sepenuhnya kepada Allah. Semua perlengkapan rohani yang disediakan Allah harus diambil dan dipakai. Di samping semua itu, hal terpenting adalah doa. Senjata yang lengkap tanpa doa tidak berarti apa-apa. Doa merupakan pernyataan bergantung sepenuhnya pada Allah.

Bagaimana berdoa? Paulus mengatakan bahwa orang Kristen harus berdoa setiap saat. Tidak hanya setiap saat, juga berdoa dengan berbagai bentuk doa dan permohonan. Doa juga disampaikan dengan tidak putus-putus. Berdoa tidak hanya untuk diri sendiri, melainkan untuk semua jemaat. Berdoa setiap saat dalam semua permohonan yang tak putus-putus kepada semua orang kudus, tidak otomatis berarti berdoa dalam Roh. Doa dalam Roh berarti doa yang digerakkan dan dipimpin oleh Roh Kudus. Paulus juga menyadari bahwa ia bergantung pada Allah. Ia tidak segan-segan memohon agar jemaat juga mendoakannya. Paulus tidak berbasa-basi dalam hal ini. Doa jemaat untuk Paulus tidak hanya merupakan ekspresi persekutuan di antara keduanya, juga merupakan pernyataan bahwa jemaat dan Paulus bergantung pada Allah. Secara khusus, Paulus memohon agar ia dengan benar dan berani menyampaikan Injil. Semua pemberita Injil membutuhkan dua hal ini yakni, benar dan berani. Benar mengerti Injil tetapi tidak berani memberitakannya menunjukkan Injl yang tanpa kuasa. Sebaliknya, berani memberitakan Injil tanpa pengertian yang benar memeperlihatkan Injil yang tanpa hikmat.

Renungkan: Sungguhkah Anda bergantung pada Allah dalam hidup dan pelayanan Anda?

Mazmmur, Memuji Tuhan dalam segala keadaan.

Kita memuji Tuhan bukan ketika keadaan damai dan bahagia. Dalam keadaan apa pun orang percaya pantas memuji Allah (ayat 6, 7, 11). Menurut pemazmur, orang percaya memuji Tuhan dalam segala keadaan karena kasih dan kemurahan Allah yang ajaib. Kemurahan ajaib itu nampak ketika Allah “prihatin” terhadap manusia yang rapuh dan tidak berarti (ayat 3, 4).

Allah andalan satu-satunya. Kemurahan dan kebaikan Allah yang ditujukan kepada manusia telah menempatkan Allah pada unggulan teratas dari apa pun yang ada di alam semesta ini. Itu berarti bahwa tidak ada yang lain selain Allah sendiri yang menjadi gunung batu, kubu pertahanan, kota benteng bagi manusia. Allahlah satu-satunya andalan manusia (ayat 1, 2).

Bersandar pada kebaikan Allah adalah berkat. Kesuburan, kemakmuran dan kualitas hidup (ayat 12, 14) tidak dilihat sebagai upah bagi mereka yang menerima kebaikan Allah. Tetapi semua itu harus dilihat sebagai bagian dari kebaikan Allah semata-mata.

Renungkan: Kebaikan Allah yang paling hakiki ialah keselamatan kekal dalam Yesus Kristus. Keselamatan itu adalah kenyataan masa kini dan pengharapan masa depan. Karena itu pujilah Allah dengan sepenuh hati dalam segala hal!

Injil hari ini, “Berkali-kali Aku rindu mengumpulkan anak-anakmu, sama seperti induk ayam mengumpulkan anak-anaknya di bawah sayapnya,…” Lukas 13:34b

Dalam pelayananNya di bumi Tuhan Yesus telah merefleksikan kasih Bapa setiap saat: membebakan orang-orang yang tertindas dan terbelenggu oleh kuasa-kuasa kegelapan, mencelikkan mata yang buta, serta menyembuhkan berbagai macam penyakit yang diderit aoleh manusia. Selain itu Dia juga mengajar dan memberitakan firman tentang Kerajaan Allah bagi siapa saja yang rindu, haus dan lapar akan kebenaran. 

Yesus Kristus merupakan ujud Allah Bapa di bumi, dan melalui Kristus Bapa menjalankan misi penyelamatan bagi manusia ciptaanNya. Tuhan Yesus dengan sepenuhnya mendemonstrasikan kasih Bapa bagi manusia dan mewujudkan keinginNya memberkati kita. Ungkapan atau ekspresi kasih Bapa bagi semua manusia dapat terlihat dari pernyataan Yesus kepada Yerusalem,“Yerusalem, Yerusalem, engkau yang membunuh nabi-nabi dan melempari dengan batu orang-orang yang diutus kepadamu! Berkali-kali aku rindu mengumpulkan anak-anakmu, sama seperti induk ayam mengumpulkan anak-anaknya di bawah sayapnya, tetapi kamu tidak mau.” (ayat 34). Ayat ini menegaskan bahwa Allah Bapa masih tetap mengekspresikan kemauan dan keinginan yang keras untuk menyelamatkan dan memberkati kita.

Sesungguhnya Tuhan masih tetap dan rindu mengusahakan agar manusia terlepas dari belenggu-belenggu dosa dan mau kembali ke Rumah Bapa. Tetapi sampai sekarang ini masih banyak orang Farisi yang menghalagi kasih Bapa dengan berbagai-bagai batasan dan peraturan-peraturan yang dibuatnya, sehingga kelancaran pertolongan Bapa menjadi terhambat. Orang-orang Farisi sangat membenci Yesus dan tidak senang apabila Yesus menyembuhkan orang sakit pada hari Sabat sehingga Tuhan Yesus berkata, “Siapakah di antara kamu yang tidak segera menarik ke luar anaknya dan lembunya kalau terperosok ke dalam sebuah sumur, meskipun pada hari Sabat?”(Lukas 14:5).

Bila saat ini masih ada hal-hal yang menjadi kendala bagi ibadah kita kepada Tuhan, misalnya peraturan-peraturan manusia, adat-istiadat atau tradisi nenek moyang, mari mohon Roh Kudus mematahkan belenggu-belenggu ini.

DOA: Kasihanilah aku, ya Allah, kasihanilah aku, sebab kepada-Mulah jiwaku berlindung; dalam naungan sayap-Mu aku akan berlindung, kepada Allah yang menyelesaikannya bagiku. Sungguh Engkau telah menjadi pertolonganku, dan dalam naungan sayap-Mu aku bersorak-sorai. Amin (Mzm 57:2; 63:9) (Lucas Margono).

oktober27

Renungan Rabu, 26 Oktober 2016

Renungan Rabu, 26 Oktober 2016, Hari Biasa, Pekan Biasa XXX

Bacaan I : Ef 6:1-9

“Laksanakan pelayananmu seperti orang yang melayani Kristus dan bukan manusia.”

6:1 Hai anak-anak, taatilah orang tuamu dalam Tuhan, karena memang haruslah demikian. 6:2 Hormatilah ayah dan ibumu, sebab inilah perintah penting yang memuat suatu janji, 6:3 yaitu: supaya kalian berbahagia dan panjang umur di bumi. 6:4 Dan kalian para bapak, jangan bangkitkan amarah dalam hati anak-anakmu, tetapi didiklah mereka dalam ajaran dan nasihat Tuhan. 6:5 Hai hamba-hamba, taatilah tuanmu di dunia ini dengan takut dan gentar dan dengan tulus hati, sama seperti kalian taat kepada Kristus. 6:6 Jangan hanya taat di hadapan mereka untuk menyenangkan hati orang, tetapi taatlah sebagai hamba Kristus yang dengan segenap hati melakukan kehendak Allah. 6:7 Laksanakanlah pelayananmu dengan rela seperti orang-orang yang melayani Tuhan, dan bukan manusia. 6:8 Kalian tahu, bahwa setiap orang, entah hamba, entah orang merdeka, akan menerima ganjaran dari Tuhan, kalau ia berbuat sesuatu yang baik. 6:9 Dan kalian para tuan, bersikaplah demikian juga terhadap hamba-hambamu, dan janganlah mengancam. Ingatlah bahwa Tuhan mereka dan Tuhanmu ada di surga, dan Ia tidak memandang muka.

Mazmur  145:10-11.12-14 

Refren : Tuhan itu setia dalam segala perkataan-Nya. 

*    Segala yang Kaujadikan akan bersyukur kepada-Mu, ya Tuhan, dan orang-orang yang Kaukasihi akan memuji Engkau. Mereka akan mengumumkan kemuliaan kerajaan-Mu, dan akan membicarakan keperkasaan-Mu. 

*     Untuk memberitahukankeperkasaan-Mu kepada anak-anak manusia, dan memaklumkan kerajaan-Mu yang semarak mulia. Kerajaan-Mu ialah kerajaan abadi, pemerintahan-Mu lestari melalui segala keturunan. 

*     Tuhan itu setia dalam segala perkataan-Nya dan penuh kasih setia dalam segala perbuatan-Nya.Tuhan itu penopang bagi semua orang yang jatuhdan penegak bagi semua orang yang tertunduk.

Bait Pengantar Injil

Refren :  Alleluya, alleluia

Ayat  : 2Tes 2:14

*     Allah telah memanggil kita untuk memperoleh kemuliaan Tuhan kita Yesus Kristus.

Bacaan Injil :
“Mereka datang dari timur dan barat, dan akan duduk makan di dalam Kerajaan Allah.”

13:22 Dalam perjalanan-Nya ke Yerusalem Yesus berkeliling dari kota ke kota dan dari desa ke desa sambil mengajar. 13:23 Maka bertanyalah orang kepada-Nya, “Tuhan, sedikit sajakah orang yang diselamatkan?” 13:24 Jawab Yesus kepada orang-orang di situ, “Berusahalah masuk melalui pintu yang sempit itu! Sebab Aku berkata kepadamu, ‘banyak orang akan berusaha untuk masuk, tetapi tidak akan dapat. 13:25 Jika tuan rumah telah bangkit dan menutup pintu, kalian akan berdiri di luar dan mengetok-ngetok pintu sambil berkata, ‘Tuan, bukakan pintu bagi kami.’ Tetapi dia akan berkata, ‘Aku tidak tahu dari mana kalian datang.’ 13:26 Maka kalian akan berkata, ‘Kami telah makan dan minum di hadapan-Mu, dan Engkau telah mengajar di jalan-jalan kota kami.’ 13:27 Tetapi ia akan berkata, ‘Aku tidak tahu dari mana kalian datang. Enyahlah dari hadapanku, hai kalian semua yang melakukan kejahatan!’ 13:28 Di sanalah akan terdapat ratap dan kertak gigi, apabila kalian melihat Abraham dan Ishak dan Yakub dan semua nabi ada di dalam Kerajaan Allah, tetapi kalian sendiri dicampakkan ke luar. 13:29 Dan orang akan datang dari timur dan barat, dari utara dan selatan, dan mereka akan duduk makan di dalam Kerajaan Allah. 13;30  Ingatlah, ada orang terakhir yang akan menjadi terdahulu, dan ada orang terdahulu yang akan menjadi yang terakhir.”

Renungan :

Relasi umat Allah: sebagai anak, orangtua, tuan-hamba.

‘Tunduk’ juga berlaku dalam relasi anak-orangtua, hamba-tuan (ayat 5:21). Pada masa kini, banyak orangtua sulit menjalankan fungsinya. Juga banyak anak-anak bingung bagaimana harus berlaku sebagai anak. Masalah ini terjadi karena kedua pihak tidak memahami kata tunduk. Bentuk tunduk anak adalah taat. Anak-anak tunduk kepada orangtua bukan karena tuntutan budaya, melainkan taat kepada kehendak Allah (ayat 2). Sesuai tuntutan hukum kelima (Kel 20:12). Janji kebahagiaan dan umur panjang melekat pada hukum kelima ini. Sejalan dengan ketaatan anak, orangtua juga tunduk kepada anak. Bentuk tunduk orangtua diekspresikan melalui perbuatan yang tidak membangkitkan amarah anak dan melalui didikan dalam ajaran dan nasihat Tuhan (ayat4).

‘Tunduk’ juga berlaku dalam relasi hamba-tuan. [1]. Hamba taat kepada tuan dengan takut dan gentar (ayat 5), bukan karena tertekan atau terpaksa, melainkan karena menyadari bahwa Kristus adalah Tuan yang tidak kelihatan. [2]. Hamba taat dengan bekerja segenap hati (ayat 6). [3]. Hamba bekerja bukan untuk menyenangkan hati tuan melainkan untuk menyenangkan Tuhan Yesus (ayat 7). Meski tidak dilihat tuannya, hamba bekerja rajin dan tekun karena kehadiran Yesus Kristus. [4]. Hamba taat kepada tuan dengan bekerja baik karena upahnya berasal dari Tuhan (ayat 8), bukan hanya manusia saja. Sejalan dengan itu, tuan juga harus tunduk kepada hamba. Tuan harus membayar upah yang layak dan memberi waktu istirahat yang cukup. Bentuk tunduk tuan diungkapkan melalui penggunaan otoritas yang benar. Otoritas disertai ancaman akan merusakkan relasi hamba-tuan. Relasi sejati tidak pernah dibangun di atas ancaman. Bentuk tunduk tuan ditampakkan dengan kesadaran bahwa Tuhan Yesus adalah Tuan mereka dan juga Tuan para hamba (ayat 9).

Renungkan: Menurut Anda, mengapa di Indonesia sering sekali kita menjumpai tindakan/aksi protes kaum pekerja/karyawan yang menuntut perusahaan/tuan mereka?

Mazmur, Raja adil penuh rahmat

Unsur-unsur kepemimpinan dunia ini biasanya didominasi dengan kekuatan dan keperkasaan militer, kecerdikan dan kekuatan diplomasi, dan sering kali pemaksaan serta penggunaan kekerasan. Para pemimpin atau penguasa adalah sosok yang ditakuti dan dijauhi. Bahkan tidak jarang, diam-diam dimusuhi dan dikutuki oleh rakyatnya sendiri karena penyalahgunaan kuasa.

Namun ke-Raja-an Allah berbeda sama sekali dari cara pemimpin dan penguasa dunia ini memerintah. Ke-Raja-an Allah yang berdaulat sepanjang zaman dan tak lekang oleh waktu (11-13), justru ditopang bukan oleh kekuatan militer, atau kekuatan diplomasi politis. Kekuasaan dan pemerintahan Allah ditopang oleh karakter mulia Allah yang merupakan bentuk kasih dan kepedulian-Nya terhadap umat-Nya. Kasih dan setia, kebaikan dan rahmat (8-9) memancar dari takhta Allah yang mulia. Dari singgasana Sang Raja diraja, karakter mulia itu mewujud dalam bentuk pertolongan-Nya kepada semua orang yang membutuhkannya (14-16).

Di sisi lain, karakter keadilan dari Raja diraja memberi rasa aman dan pengharapan atas rakyat-Nya. Hal ini tentu membangkitkan sikap takut dan cinta umat kepada-Nya. Dalam keadilan-Nya, Raja diraja akan membela umat-Nya atas semua ancaman dari pihak musuh dengan cara membongkar muslihat dan memporak-porandakan segala rencana kejahatan musuh. Tidak ada yang dapat bertahan menghadapi kedaulatan dan kekuasaan Raja diraja yang adil.

Maka pujian yang keluar dari mulut pemazmur adalah pujian yang lahir dari rasa aman dan syukur karena pengalaman dikasihi, dipelihara, dan dilindungi oleh Rajanya. Betapa damai dan berpengharapannya hidup ini kalau kita menyadari Allah kita adalah Raja yang berdaulat, penuh kuasa, dan sangat peduli atas hidup kita.

Renungkan: Ingat dan hitunglah berbagai bentuk kebaikan dan rahmat Tuhan kepada Anda! Adakah melodi syukur mengumandang dalam hidup Anda sehari-hari?

Injil hari ini, GR Rohani.

Hati-hati ‘Gede Rasa’ rohani sangat berbahaya. Ada seorang Kristen yang merasa senang sekali karena akan berjumpa dengan Bapak Fransiskus yang sekarang sudah menduduki jabatan bupati, orang nomor 1 (satu) di kota itu. Ia ingin segera bertemu dan berbincang- bincang dengan Bapak tersebut. Beberapa tahun lalu Bapak Fransiscus ini pernah menginap di rumahnya ketika masih berstatus sebagai seorang mahasiswa. Namun, apakah yang terjadi ketika berjumpa? Bapak Fransiscus menyambutnya dengan dingin, seakan-akan tidak pernah mengenal orang tersebut. Ketika diingatkan bahwa ia pernah tidur di rumahnya, Bapak Fransiscus hanya berkata bahwa ia lupa. Betapa malunya orang tersebut.

Walaupun tidak persis sama, kisah di atas dapat memberikan gambaran lebih lanjut betapa pentingnya pengenalan dan hubungan pribadi di antara dua pihak, seperti yang diutarakan oleh Yesus dalam perumpamaan-Nya (ayat 22-30). Merasa kenal dan merasa dekat, tidaklah cukup untuk menyatakan bahwa dua pribadi itu saling mengenal (ayat 26). Hal ini dialami oleh orang yang tidak diperbolehkan masuk ke dalam pesta perjamuan.

Perumpamaan ini menggambarkan bahwa “gede rasa” rohani sangat berbahaya. Kita seringkali mengira bahwa dengan melakukan banyak pelayanan Gerejawi, atau mendengarkan khotbah tiap hari Minggu, atau bahkan mengikuti Misa harian di gereja, sudah membawa kita pada hubungan pribadi dengan Yesus. Itu adalah ‘gede rasa’ rohani dan tidak cukup membawa kita kepada keselamatan kekal. Kita perlu menerima Yesus secara pribadi dan menjalin hubungan pribadi dengan-Nya agar kita semakin mengenal kehendak-Nya.

Pengenalan pribadi penting, karena pengenalan yang salah akan membuat seseorang memiliki persepsi yang salah tentang pihak yang merasa dikenal. Herodes memiliki pengenalan yang salah tentang Yesus, sehingga membuatnya memiliki persepsi yang salah. Ia berpikir bahwa Yesus ada untuk membangun kekuatan politik dan akan merongrong kekuasaannya atau pun untuk membuat kekacauan di daerah kekuasaan-nya. Itulah sebabnya ia ingin membunuh-Nya.

Renungkan: Mengenal Kristus secara pribadi dan benar bukanlah perkara mudah, karena kriteria pengenalan itu ditentukan oleh Dia sendiri. Kadar pengenalan kita terhadap Dia akan menentukan tindakan dan sikap kita terhadap-Nya.

DOA: Tuhan Yesus, terima kasih untuk memilih jalan yang sempit. Kuatkanlah kami dalam pilihan-pilihan yang akan kami buat hari ini, yang akan selalu memilih pintu sempit yang akan membawa kami kepada-Mu. Amin.  (Lucas Margono)

oktober26