Renungan Minggu, 15 Januari 201

Renungan Minggu, 15 Januari 2016, Hari Minggu Biasa, Pekan Biasa II

Bacaan I : Yes 49:3,5-6

“Aku akan membuat engkau menjadi terang bagi bangsa-bangsa, supaya keselamatan yang dari pada-Ku sampai ke ujung bumi.”

49:3 Ia berfirman kepadaku: “Engkau adalah hamba-Ku, Israel, dan olehmu Aku akan menyatakan keagungan-Ku.”
49:5 Maka sekarang firman TUHAN, yang membentuk aku sejak dari kandungan untuk menjadi hamba-Nya, untuk mengembalikan Yakub kepada-Nya, dan supaya Israel dikumpulkan kepada-Nya — maka aku dipermuliakan di mata TUHAN, dan Allahku menjadi kekuatanku –, firman-Nya: 49:6 “Terlalu sedikit bagimu hanya untuk menjadi hamba-Ku, untuk menegakkan suku-suku Yakub dan untuk mengembalikan orang-orang Israel yang masih terpelihara. Tetapi Aku akan membuat engkau menjadi terang bagi bangsa-bangsa supaya keselamatan yang dari pada-Ku sampai ke ujung bumi.”

Mazmur 40:2+4ab.7-8a.8b-9.10, do = f, 4/4, PS 850

Refren : Ya Tuhan aku datang melakukan kehendak-Mu.

*    Aku sangat menanti-nantikan Tuhan; lalu Ia menjengukku dan mendengar teriakku minta tolong. Ia memberikan nyanyian baru dalam mulutku untuk memuji Allah kita.

*    Kurban dan persembahan tidak Kauinginkan, tetapi Engkau telah membuka telingaku; kurban bakar dan kurban silih tidak Engkau tuntut. Lalu aku berkata, “Lihatlah Tuhan, aku datang!

*    Dalam gulungan kitab ada tertulis tentang aku: Aku senang melakukan kehendak-Mu, ya Allahku; Taurat-Mu ada di dalam dadaku.”

4. Aku mengabarkan keadilan, di tengah jemaat yang besar, bibirku tidak kutahan terkatup; Engkau tahu itu, ya Tuhan.

Bacaan II : 1Kor 1:1-3

“Kasih karunia dari Allah, Bapa kita, dan dari Tuhan Yesus Kristus.”

1:1 Dari Paulus, yang oleh kehendak Allah dipanggil menjadi rasul Kristus Yesus, dan dari Sostenes, saudara kita, 1:2 kepada jemaat Allah di Korintus, yaitu mereka yang dikuduskan dalam Kristus Yesus dan yang dipanggil menjadi orang-orang kudus, dengan semua orang di segala tempat, yang berseru kepada nama Tuhan kita Yesus Kristus, yaitu Tuhan mereka dan Tuhan kita. 1:3 Kasih karunia dan damai sejahtera dari Allah, Bapa kita, dan dari Tuhan Yesus Kristus menyertai kamu.

Bait Pengantar Injil, do = f, 4/4, PS 960

Ref. Alleluya, alleluya, alleluya
Ayat. (Yohanes 1:14:12b)
Firman telah menjadi manusia, dan diam di antara kita, semua orang yang menerima-Nya diberi kuasa menjadi anak-anak Allah.

Bacaan Injil : Yoh 1:29-34

“Lihatlah Anak Domba Allah yang menghapus dosa dunia.”

1:29 Pada keesokan harinya Yohanes melihat Yesus datang kepadanya dan ia berkata: “Lihatlah Anak domba Allah, yang menghapus dosa dunia. 1:30 Dialah yang kumaksud ketika kukatakan: Kemudian dari padaku akan datang seorang, yang telah mendahului aku, sebab Dia telah ada sebelum aku. 1:31 Dan aku sendiripun mula-mula tidak mengenal Dia, tetapi untuk itulah aku datang dan membaptis dengan air, supaya Ia dinyatakan kepada Israel.” 1:32 Dan Yohanes memberi kesaksian, katanya: “Aku telah melihat Roh turun dari langit seperti merpati, dan Ia tinggal di atas-Nya. 1:33     Dan akupun tidak mengenal-Nya, tetapi Dia, yang mengutus aku untuk membaptis dengan air, telah berfirman kepadaku: Jikalau engkau melihat Roh itu turun ke atas seseorang dan tinggal di atas-Nya, Dialah itu yang akan membaptis dengan Roh Kudus. 1:34 Dan aku telah melihat-Nya dan memberi kesaksian: Ia inilah Anak Allah.”

Renungan :

Hamba Allah.
Hamba Allah dalam perikop ini berbicara tentang Yesus Kristus. Apakah petunjuknya bahwa itu menunjuk pada Yesus Kristus? Sebutan “hamba Allah” menunjuk pada kedudukan yang rendah, namun mengarah pada tuntutan ilahi yang mutlak. Dia digambarkan sebagai suatu pribadi yang tanpa cacat cela dan sepenuhnya berkenan kepada Tuhan. Dia dibebani tugas mulia yang bukan saja menyangkut pembebasan dan pemulihan Israel, tetapi juga penyelamatan bangsa-bangsa.

Yesus Kristus adalah Hamba Allah sejati. Nubuatan Yesaya tentang Yesus Kristus menyatakan bahwa Dia telah rela menjadi hamba. Renungkan lebih dalam, betapa banyak pengorbanan yang telah dipikul-Nya untuk kita! Pikirkan juga betapa dalam dan pedih penderitaan-Nya demi menggenapi misi penyelamatan Allah untuk kita! Bagi Dialah sepatutnya kita mengarahkan segala hormat dan penaklukkan diri. Teladan-Nya sebagai Hamba Allah Sejati akan bermakna dalam hidup kita, bila kita pun mengikuti jejak-Nya.

Renungkan: Yesus Kristus telah merelakan diri-Nya menjadi hamba untuk menerangi kegelapan, kesuraman dan kekalutan.

Doa: Tuhan berkatilah hidupku untuk menjadi hamba-Mu yang menuntun orang lain hidup dalam terang firman-Mu.

Mazmur, Penantian belum berakhir.

Bagi sebagian orang, menanti adalah pekerjaan yang sulit dan membosankan karena menuntut kesabaran dan disiplin diri yang besar. Bagi orang beriman menanti berhubungan erat dengan kedewasaan mental spiritual. Sehubungan dengan “menanti”, umat Tuhan dikenal sebagai orang-orang yang menanti-nantikan Tuhan. Orang beriman yang belajar menanti, tidak akan diperbudak oleh hal-hal yang mendesak sebab tahu apa yang hakiki dan penting. Iman, harap, dan kasihlah yang membuat kita mampu menempatkan semua hal dalam hidup ini dalam nilai dan perspektif ilahi.

Dalam Mazmur ini, pemazmur melukiskan pengalaman hidupnya ketika ia jatuh ke dalam jerat dosa, dan menanti-nantikan Tuhan. Bagi pemazmur dosa seumpama lumpur hidup yang menghisap orang yang jatuh ke dalamnya untuk mati terbenam hidup-hidup. Semakin keras orang itu meronta berusaha melepaskan diri, semakin ia akan tersedot oleh lumpur itu. Hanya jika ada pertolongan dari luar sajalah, orang itu dapat diselamatkan. Inilah penantian yang sekaligus menunjukkan bahwa usaha manusia jelas tak mampu menyelesaikan masalah dosa. Allah tidak hanya mendengar teriakan pemazmur minta tolong. Ia bahkan menjenguk dan mengangkat si pemazmur dari lubang kebinasaan.

Banyak sekali kebaikan dan perbuatan Allah untuk kita, orang beriman. Kebaikan Allah mencapai klimaksnya pada kedatangan pertama sang Juruselamat. Ini menunjukkan bahwa Allah menggenapi janji keselamatan yang dinantikan manusia. Penggenapan janji Allah ini tidak berhenti sampai di sini, karena penggenapan pertama ini justru memasukkan kita pada penantian yang terbesar yaitu kedatangan-Nya yang kedua kali.

Renungkan: Belajarlah hidup dalam penantian kedatangan Tuhan sebab itu akan membuat kita mengutamakan kasih, kesucian, keadilan dan kebenaran.

 Bacaan II, Dasar iman yang sejati

Kota Korintus merupakan sebuah kota yang makmur. Banyak orang yang cukup kaya dan banyak yang bertalenta. Akan tetapi, di kota ini terdapat penyembahan terhadap dewi, yang menyebabkan kehidupan moral orang Korintus menjadi bobrok. Ini tantangan yang besar bagi orang Kristen di sana. Itu sebabnya, topik-topik kekudusan dan kesatuan diperhatikan di dalam surat ini. Berdasarkan Kisah Rasul 18:9-17, kita mengetahui bahwa ada pergumulan yang dihadapi oleh Paulus. Namun, Tuhan memberikan kekuatan dan semangat bagi Paulus untuk melayani dan memberitakan firman di sana. Ada penolakan yang dialaminya. Salah satu contohnya adalah Sostenes (seorang rekan Paulus) mengalami aniaya. Sostenes bukanlah orang yang terkenal di dalam Kitab Suci (lihat ayat 10). Sostenes adalah juru tulis Paulus  orang  biasa, namun ia adalah orang yang setia.

Apakah patokan yang kita gunakan untuk mengajak seseorang menjadi rekan pelayanan kita? Apakah itu pendidikan? Kecerdasan? Talenta? Jemaat di Korintus tidak kekurangan semuanya ini. Tapi, sayangnya, di gereja itu seringkali terjadi perselisihan. Yang mereka butuhkan adalah seorang yang setia, seperti Sostenes. Ingat, bahwa kesetiaan berkaitan erat dengan imanya. Paulus juga mengajak jemaat di Korintus untuk kembali lagi kepada pengajaran tentang dasar iman yang sejati, yakni Yesus Kristus. Yesuslah Tuhan atas gereja di Korintus dan atas seluruh gereja-Nya. Disebutkan bahwa Yesus itulah yang telah menguduskan kita (ayat 2). Kata kudus  memiliki 2 arti, yakni (1) tidak berdosa; (2) dipisahkan, dibedakan atau diasingkan dari yang lain. Dua pengertian ini dikerjakan oleh Tuhan Yesus. Kematian-Nya di kayu salib menyucikan kita dari dosa-dosa kita; dan hal ini membuat kita menjadi orang-orang yang berbeda dari orang-orang dunia, yang belum mengenal Yesus. Hidup kita bukan lagi untuk dunia ini, tapi untuk Tuhan.

Hal ini membawa implikasi bahwa kehidupan orang percaya adalah kehidupan yang kudus. Kehidupan yang selaras dengan firman Tuhan. Misalnya, kita tidak mengucapkan kata-kata yang kotor, memfitnah orang lain, mempergunjingkan orang lain, dsb. Kita memang ditempatkan Tuhan di dalam dunia ini, tapi kita bukan dari dunia ini. Penerima surat ini adalah jemaat di Korintus. Tapi, menarik sekali bahwa Paulus justru menyebutkan “semua orang di segala tempat; yang berseru kepada nama Tuhan kita Yesus Kristus” (ayat 2c). Ini berarti, Paulus bukan hanya berbicara tentang gereja lokal, tapi juga gereja universal. Dengan konsep gereja universal ini, maka kita akan saling menghormati dan mengasihi. Kita akan tahu bahwa semua orang yang berseru kepada nama Yesus kristus adalah saudara seiman. Memang kehadiran gereja baru terbaca pada Kisah Para Rasul 2. Namun, sesungguhnya gereja sudah ada dalam rencana Allah yang kekal dan akan terus ada di atas bumi ini sampai Tuhan Yesus datang kembali.

Injil hari ini, Yesus, Anak Allah

Yesus adalah Anak Allah. Hal ini merupakan pengakuan iman yang sangat penting. Namun, sering kita tidak mengerti dari mana asal pengakuan iman tersebut dan apa maknanya.

Yohanes memperkenalkan Yesus kepada publik sebagai Anak Domba Allah yang menghapus dosa dunia (ayat 29). Menurut tradisi Perjanjian Lama, Yesus adalah anak domba yang akan dikurbankan maka darahnya menjadi kurban penghapus dosa. Meskipun Yesus akan datang setelah Yohanes, keberadaan-Nya adalah kekal (ayat 30). Yohanes menjadi saksi bahwa Roh Tuhan turun ke atas Yesus seperti burung merpati (ayat 32) Itu adalah tanda bahwa Yesuslah Anak Allah yang akan membaptis manusia dengan Roh Kudus. Yohanes menunjukkan kelebihan Yesus dibandingkan dengan dirinya. Baptisan Roh Kudus lebih berkuasa dibandingkan dengan ritual baptisan air. Yesus, Anak Allah yang kekal superior dibandingkan dengan Yohanes yang diutus untuk mendahului-Nya. Kalau begitu untuk apa Yesus dibaptis oleh Yohanes? Untuk menyatakan kepada orang banyak bahwa Yesus adalah Anak Allah (ayat 31, 34). Di satu sisi, Anak Domba Allah datang untuk dikurbankan dan dicurahkan darah-Nya, di sisi lain Yesus, Anak Allah bersifat kekal dan pribadi yang diperkenan Allah untuk mencurahkan Roh-Nya. Yesus adalah Allah sendiri yang telah rela menjadi anak domba yang dikurbankan demi keselamatan manusia.

Pengalaman dan pengetahuan Yohanes yang utuh tentang Yesus sebagai Anak Allah telah mendorongnya memberi kesaksian tentang Dia. Bagaimanakah dengan kita? Banyak di antara kita yang sering bersaksi tentang Yesus, tetapi sungguhkah kita mengenal Yesus sebagai Anak Allah? Ada juga di antara kita yang merasa telah memiliki pengetahuan dan pengalaman yang utuh dengan Yesus, Anak Domba Allah, tapi sudahkah kita bersaksi tentang Dia?

Doaku: Tuhan berikan aku ketekunan untuk mengenal-Mu lebih dalam dan menyaksikan-Mu dengan berani dan rela. Amin. (Lucas Margono)

 

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s