Renungan Sabtu, 13 Juni 2015

Renungan Sabtu, 13 Juni 2015, Peringatan Wajib Hati Tersuci SP. Maria

Pw. Santo Antonius dari Padua, ImPujG
OFM/OFMConv/OFMCap/OSCCCap/OSC/OFR/OFS:Pesta S. Antonius dr Padua,ImPujG
SMFA: Pesta Santo Antonius dr. Padua, ImPujG

Bacaan I: 2Kor 5:14-21

5:14 Sebab kasih Kristus yang menguasai kami, karena kami telah mengerti, bahwa jika satu orang sudah mati untuk semua orang, maka mereka semua
sudah mati. 5:15 Dan Kristus telah mati untuk semua orang, supaya mereka yang hidup, tidak lagi hidup untuk dirinya sendiri, tetapi untuk Dia, yang telah mati dan telah dibangkitkan untuk mereka. 5:16 Sebab itu kami tidak
lagi menilai seorang jugapun menurut ukuran manusia. Dan jika kami pernah menilai Kristus menurut ukuran manusia, sekarang kami tidak lagi menilai-Nya demikian. 5:17 Jadi siapa yang ada di dalam Kristus, ia adalah ciptaan
baru: yang lama sudah berlalu, sesungguhnya yang baru sudah datang. 5:18
Dan semuanya ini dari Allah, yang dengan perantaraan Kristus telah mendamaikan kita dengan diri-Nya dan yang telah mempercayakan
pelayanan pendamaian itu kepada kami. 5:19 Sebab Allah mendamaikan
dunia dengan diri-Nya oleh Kristus dengan tidak memperhitungkan
pelanggaran mereka. Ia telah mempercayakan berita pendamaian itu kepada kami. 5:20 Jadi kami ini adalah utusan-utusan Kristus, seakan-akan Allah menasihati kamu dengan perantaraan kami; dalam nama Kristus kami meminta kepadamu: berilah dirimu didamaikan dengan Allah. 5:21 Dia yang tidak mengenal dosa telah dibuat-Nya menjadi dosa karena kita, supaya
dalam Dia kita dibenarkan oleh Allah.

Mazmur: 103:1-2,3-4,8-9,11-12

Refren : Tuhan itu pengasih dan penyayang.

* Pujilah TUHAN, hai jiwaku! Pujilah nama-Nya yang kudus, hai segenap batinku! Pujilah TUHAN, hai jiwaku, dan janganlah lupakan segala kebaikan-Nya!

* Dialah yang mengampuni segala kesalahanmu, dan menyembuhkan segala penyakitmu, Dialah yang menebus hidupmu dari lobang kubur, yang memahkotai engkau dengan kasih setia dan rahmat!

* TUHAN adalah penyayang dan pengasih, panjang sabar dan berlimpah kasih setia. Tidak terus menerus Ia murka, dan tidak untuk selamanya Ia mendendam.

* Setinggi langit dari bumi, demikian besarnya kasih setia Tuhan atas orang-orang yang takut akan Dia; sejauh timur dari barat, demikian dijauhkan-Nya dari pada kita pelanggaran kita.

Bacaan Injil: Mat 5:33-37

5:33 Kamu telah mendengar pula yang difirmankan kepada nenek moyang
kita: Jangan bersumpah palsu, melainkan peganglah sumpahmu di depan Tuhan. 5:34 Tetapi Aku berkata kepadamu: Janganlah sekali-kali bersumpah
baik demi langit, karena langit adalah takhta Allah, 5:35 maupun demi
bumi, karena bumi adalah tumpuan kaki-Nya, ataupun demi Yerusalem, karena Yerusalem adalah kota Raja Besar; 5:36 janganlah juga engkau bersumpah demi kepalamu, karena engkau tidak berkuasa memutihkan atau
menghitamkan sehelai rambutpun. 5:37 Jika ya, hendaklah kamu katakan: ya, jika tidak, hendaklah kamu katakan: tidak. Apa yang lebih dari pada itu berasal dari si jahat.

Renungan:

Motivasi dalam melayani.
Motivasi orang dalam berbuat sesuatu dapat bermacam-macam. Ada yang ingin dipuji, mendapat keuntungan materil, mendapat kedudukan dan lain-lain. Motivasi Paulus melayani jelas: ia takut akan Tuhan dan kasih Kristus yang menguasainya (ayat 11, 14). Perbuatan-perbuatannya bukan untuk memuji diri melainkan agar jemaat mendapat bahan dalam menjawab guru-guru palsu yang memegahkan diri (ayat 12). Paulus tetap termotivasi melayani dengan membuang kepentingan diri sendiri, dan bercermin kepada Kristus (ayat 15). Motivasi seperti itulah yang seharusnya berkobar di dalam dada setiap orang percaya!

Pelayanan itu apa? Pelayanan pekabaran Injil bukan sekadar menambah jumlah orang percaya atau mengajak orang mengganti imannya. Ada hal lain yang lebih penting disebutkan di sini, yakni mendamaikan setiap orang yang mendengar Injil itu dengan Kristus (ayat 18). Untuk itu orang harus berbalik dari hidup lama dalam dosa dan masuk ke dalam hidup baru dalam Kristus (ayat 17). Korban yang diberikan Kristus untuk pendamaian itu amat mahal (ayat 21). Tahukah Anda bahwa begitu banyak orang hidup tanpa damai, karena tak mengenal pendamaian dengan Allah oleh Kristus?

Selidiki dan singkirkan motivasi pelayanan kami yang salah, Tuhan.

Mazmur, Kasih Allah yang besar.
Beban kehidupan yang kita alami kadang membuat kita mudah berkecil hati dan mengeluh. Dengan memperhatikan daftar panjang mazmur Daud, seharusnya segala kesusahan dan kegelisahan diganti dengan semangat memanjatkan puji syukur kepada Tuhan. Betapa tidak, Allah telah mengampuni dosa kita, menyembuhkan kita, menebus kita dari kebinasaan, melimpahi kita dengan kasih sayang, dengan kebenaran dan keadilan. Semua itu diberikan Allah kepada kita bukan karena kita berhak untuk memperolehnya, melainkan karena anugerah Allah.

Semakin mengenal kasih Allah. Kalau pun sekarang semua orang percaya mampu memanjatkan puji syukur kepada Allah, itu karena Allah telah menganugerahkan kasih dan pengampunan-Nya. Semua tindakan Allah ini, menjadi dasar pujian dalam sukacita kekristenan kita. Sebagai orang yang telah dianugerahi kasih dan pengampunan, kita harus mendisiplin diri belajar kebenaran firman Tuhan dengan penghayatan segar dalam ibadah kepada Tuhan. Itulah yang dapat kita lakukan sebagai respons umat tebusan.

Renungkan: Makin mengenal Allah, makin kita menyadari keterbatasan kita. Makin dekat Tuhan, makin kita alami kuasa dan kasih-Nya, yang memampukan kita menjadi pujian dan hormat bagi-Nya.

Injil hari ini; Jika ya katakan ya.
Di manakah kita bisa mendapatkan kebenaran? Bahkan di pengadilan pun kadang kita dapat menemukan saksi yang berbohong. Padahal ia sudah disumpah untuk hanya mengatakan kebenaran. Celakanya lagi, banyak orang yang sengaja menerima kesaksian palsu itu sebagai kebenaran.
Dalam bacaan ini kita menemukan bahwa Perjanjian Lama menekankan integritas umat untuk tidak bersumpah palsu (ayat 33). Bersumpah berarti mengikutsertakan Tuhan dalam kesepakatan bahwa apa yang dikatakan oleh orang yang bersumpah itu benar. Bersumpah palsu berarti mengklaim bahwa Tuhan akan membenarkan orang tersebut bahkan ketika ia berbohong. Dengan kata lain orang yang bersumpah palsu “menjebak” Tuhan untuk membenarkan dirinya. Itu sama saja dengan menjadikan Tuhan pembohong.

Oleh karena kenyataan banyak orang menyalahgunakan sumpah untuk membenarkan dirinya, Yesus menegaskan bahwa orang yang percaya kepada-Nya tidak perlu bersumpah. Bila dipertanyakan kebenarannya, seorang pengikut Tuhan cukup mengatakan ya bila ya dan tidak bila tidak (ayat 37). Pengikut Tuhan tidak memiliki hak untuk mengklaim Tuhan membela dirinya (ayat 34-36). Janji Tuhan untuk membela anak-anak-Nya merupakan anugerah semata. Artinya pengikut Tuhan harus hidup sedemikian sehingga kata-katanya, baik “ya” maupun “tidak” sudah cukup menjadi jaminan kebenaran.

Era ini sering disebut sebagai era informasi. Informasi dalam sekejap mata dapat beredar ke seluruh dunia. Namun, informasi yang beredar bisa sangat menyesatkan. Isinya penipuan dan kebohongan namun karena dibungkus dengan kata dan gambar yang sangat memikat akhirnya diterima sebagai kebenaran. Anak Tuhan harus memerangi kebohongan seperti itu. Caranya adalah dengan berkata benar, bersikap dan bertindak benar pula.

Renungkan: Integritas Kristen terlihat ketika mulut sepadan dengan hati, tingkah laku selaras dengan perkataan.

DOA: Tuhan Yesus, penuhilah aku dengan pengenalan akan kasih-Mu. Berikanlah kepadaku keyakinan dan hikmat-kebijaksanaan untuk mensyeringkan janji keselamatan-Mu dengan orang-orang di sekelilingku. Tolonglah aku untuk senantiasa waspada dan siap apabila kesempatan-kesempatan untuk memproklamasikan pesan-Mu datang ke hadapanku. Amin.

juni 13

Renungan Rabu, 6 Mei 2015

Renungan Rabu, 6 Mei 2015, Hari Biasa, Pekan V Paskah

PMA/ SDB: Pesta St. Dominikus Savio, Remaja;
DSA: Pesta B. Anna Rossa Gattorno, Pendiri Tarekat

Bacaan I: Kis 15:1-6

Sidang di Yerusalem
15:1 Beberapa orang datang dari Yudea ke Antiokhia dan mengajarkan
kepada saudara-saudara di situ: “Jikalau kamu tidak disunat menurut adat istiadat yang diwariskan oleh Musa, kamu tidak dapat diselamatkan.”
15:2 Tetapi Paulus dan Barnabas dengan keras melawan dan membantah
pendapat mereka itu. Akhirnya ditetapkan, supaya Paulus dan Barnabas
serta beberapa orang lain dari jemaat itu pergi kepada rasul-rasul dan
penatua-penatua di Yerusalem untuk membicarakan soal itu. 15:3 Mereka diantarkan oleh jemaat sampai ke luar kota, lalu mereka berjalan melalui Fenisia dan Samaria, dan di tempat-tempat itu mereka menceriterakan
tentang pertobatan orang-orang yang tidak mengenal Allah. Hal itu sangat
menggembirakan hati saudara-saudara di situ.15:4 Setibanya di Yerusalem mereka disambut oleh jemaat dan oleh rasul-rasul dan penatua-penatua, lalu mereka menceriterakan segala sesuatu yang Allah lakukan dengan perantaraan mereka. 15:5 Tetapi beberapa orang dari golongan Farisi, yang telah menjadi percaya, datang dan berkata: “Orang-orang bukan Yahudi harus disunat dan diwajibkan untuk menuruti hukum Musa.” 15:6 Maka bersidanglah rasul-rasul dan penatua-penatua untuk membicarakan soal itu.

Mazmur: 122:1-2,3-4a,4b-5

Refren: Mari kita pergi ke rumah Tuhan dengan sukacita!

* Aku bersukacita, ketika orang berkata kepadaku, “Mari kita pergi ke rumah Tuhan.” Sekarang kaki kami berdiri di pintu gerbangmu, hai Yerusalem.

* Hai Yerusalem, yang telah didirikan sebagai kota yang bersambung rapat, kepadamu suku-suku berziarah, yakni suku-suku Tuhan.

* Untuk bersyukur kepada nama Tuhan sesuai dengan peraturan bagi Israel. Sebab di Yerusalemlah ditaruh kursi-kursi pengadilan, kursi-kursi milik keluarga Raja Daud.

Bacaan Injil: Yoh 15:1-8

Pokok anggur yang benar
15:1 “Akulah pokok anggur yang benar dan Bapa-Kulah pengusahanya.
15:2 Setiap ranting pada-Ku yang tidak berbuah, dipotong-Nya dan setiap
ranting yang berbuah, dibersihkan-Nya, supaya ia lebih banyak berbuah.
15:3 Kamu memang sudah bersih karena firman yang telah Kukatakan
kepadamu. 15:4 Tinggallah di dalam Aku dan Aku di dalam kamu. Sama seperti ranting tidak dapat berbuah dari dirinya sendiri, kalau ia tidak
tinggal pada pokok anggur, demikian juga kamu tidak berbuah, jikalau
kamu tidak tinggal di dalam Aku. 15:5 Akulah pokok anggur dan kamulah
ranting-rantingnya. Barangsiapa tinggal di dalam Aku dan Aku di dalam dia, ia berbuah banyak, sebab di luar Aku kamu tidak dapat berbuat apa-apa. 15:6 Barangsiapa tidak tinggal di dalam Aku, ia dibuang ke luar seperti ranting dan menjadi kering, kemudian dikumpulkan orang dan dicampakkan ke dalam api lalu dibakar. 15:7 Jikalau kamu tinggal di dalam Aku dan firman-Ku tinggal di dalam kamu, mintalah apa saja yang kamu kehendaki, dan kamu akan menerimanya. 15:8 Dalam hal inilah Bapa-Ku dipermuliakan, yaitu jika kamu berbuah banyak dan dengan demikian kamu adalah murid-murid-Ku.”

Renungan:

Mengelola konflik

Gereja yang sedang bertumbuh dan mulai menata diri biasanya akan bertemu dengan permasalahan internal gereja, misalnya: masalah kepemimpinan, organisasi, bentuk pelayanan, dan pengajaran. Tak jarang pula perselisihan ini akan berakhir pada perpecahan jemaat. Prinsip apa yang seharusnya kita pakai untuk menyelesaikan persoalan ini?

Paulus menerima kedatangan beberapa orang Kristen Yahudi dari Yudea dengan baik meski mereka datang dengan membawa pengajaran yang tidak benar (ayat 1). Kemungkinan isu ini berasal dari kalangan orang Farisi yang telah menjadi Kristen (ayat 5). Walaupun Paulus menentang dengan keras pandangan keliru ini, namun ia tidak memaksakan pendapatnya kepada jemaat Antiokhia. Ia justru menyetujui usulan jemaat Antiokhia untuk menyelesaikan masalah ini dengan melibatkan pimpinan gereja lainnya yakni para rasul dan penatua jemaat di Yerusalem (ayat 2). Dalam perjalanannya menuju Yerusalem, ia berkesempatan menjumpai jemaat Tuhan di Fenisia dan Samaria. Paulus tidak memakai kesempatan itu untuk mempengaruhi jemaat tersebut dan mencari dukungan suara bagi pendapatnya melainkan ia menyaksikan anugerah Allah yang dicurahkan kepada orang non yahudi sehingga mereka menyambut Injil (ayat 3). Hal yang sama pun ia lakukan ketika berjumpa dengan pimpinan gereja di Yerusalem (ayat 4).

Gereja Katolik pun kadang menghadapi masalah serupa, namun dengan meneladani sikap Paulus, yaitu, tidak memperuncing perbedaan pendapat yang dapat memecah-belah umat. Konflik perlu dikelola dengan melibatkan pemimpin gereja yang kompeten untuk menyelesaikan masalah, dan tidak memanfaatkan posisi dalam gereja untuk mencari dukungan.

Injil hari ini, Tinggal dalam Yesus
Dalam Perjanjian Lama, Israel disebut sebagai kebun anggur milik Allah yang dipelihara dan dijaga oleh-Nya, namun ternyata Israel menghasilkan buah-buah anggur yang tidak manis (Yes. 5:1-7). Israel gagal menyenangkan Allah karena mereka memilih untuk bersekutu dan berselingkuh dengan dewa dewi bangsa-bangsa kafir.

Yesus mengajarkan kepada para murid, bahwa Dialah Pokok Anggur yang benar, Israel yang sejati yang memuaskan hati Allah. Kini para murid Yesus, yaitu cikal bakal gereja (band. Mat. 16:18) dipilih Allah untuk menghasilkan buah bagi kemuliaan-Nya, yaitu hidup yang menjadi berkat untuk sesama manusia. Untuk itu, gereja dan setiap orang Kristen harus bergantung penuh kepada Yesus seperti ranting-ranting tinggal dalam Pokok Anggur yang benar (Yoh. 15:5). Gereja hanya mungkin berhasil kalau tetap melekat sebagai ranting kepada Pokok Anggur itu dan menerima kehidupan dari-Nya. Di luar Kristus, gereja tidak memiliki daya apa pun untuk bertumbuh dan tidak akan mampu menghasilkan buah, bahkan gereja akan mati sehingga tidak memiliki fungsi apa pun selain dibuang dan dibakar (ayat 5-6). Ibarat ranting-ranting yang melekat pada Pokok Anggur, gereja yang tinggal dalam persekutuan yang hidup dengan Kristus dan menjadikan-Nya sebagai pusat hidupnya pasti akan menghasilkan “buah-buah” yang berkenan di hadapan-Nya (ayat 1-2). Sebab Allah Bapalah yang memelihara pertumbuhannya dan membersihkan penghalang ranting-ranting ini berbuah.

Bagaimana caranya orang Kristen dapat tetap melekat pada sumber kehidupan, yaitu Kristus? Dengan membiarkan firman-Nya menjadi pusat hidupnya (ayat7). Gereja dan orang Kristen yang demikian akan menghasilkan buah-buah rohani dan perbuatan baik yang memuliakan Allah. Apa pun yang dilakukan gereja dan orang Kristen, sesuai dengan janji Kristus, maka doa-doanya akan terkabul (ayat 7b).

Renungkan: Gereja dan orang Kristen yang hidup dan berbuah adalah mereka yang berpusatkan Kristus.

DOA: Tuhan Yesus, Engkaulah pokok anggur dan kami adalah ranting-rantingnya. Mampukanlah kami menjadi ranting yang senantiasa tinggal di dalam Engkau sehingga kami terus hidup dan menghasilkan buah dan buahnya tinggal tetap. Amin. (Lucas Margono)

konsili-di-yerusalem

Renungan Sabtu, 14 Februari 2015

Renungan Sabtu, 14 Februari 2014, Peringatan Wajib St. Sirilus, Pertapa dan Metodius, Uskup. Pekan Biasa V

Bacaan I: Kej 3:9-24

3:9 Tetapi TUHAN Allah memanggil manusia itu dan berfirman kepadanya: “Di manakah engkau?” 3:10 Ia menjawab: “Ketika aku mendengar, bahwa Engkau ada dalam taman ini, aku menjadi takut, karena aku telanjang; sebab itu aku bersembunyi.” 3:11 Firman-Nya: “Siapakah yang memberitahukan kepadamu, bahwa engkau telanjang? Apakah engkau makan dari buah pohon, yang Kularang engkau makan itu?” 3:12 Manusia itu menjawab: “Perempuan yang Kautempatkan di sisiku, dialah yang memberi dari buah pohon itu kepadaku, maka kumakan.” 3:13 Kemudian berfirmanlah TUHAN Allah kepada perempuan itu: “Apakah yang telah kauperbuat ini?” Jawab perempuan itu: “Ular itu yang memperdayakan aku, maka kumakan.” 3:14 Lalu berfirmanlah TUHAN Allah kepada ular itu: “Karena engkau berbuat demikian, terkutuklah engkau di antara segala ternak dan di antara segala binatang hutan; dengan perutmulah engkau akan menjalar dan debu tanahlah akan kaumakan seumur hidupmu. 3:15 Aku akan mengadakan permusuhan antara engkau dan perempuan ini, antara keturunanmu dan keturunannya; keturunannya akan meremukkan kepalamu, dan engkau akan meremukkan tumitnya.” 3:16 Firman-Nya kepada perempuan itu: “Susah payahmu waktu mengandung akan Kubuat sangat banyak; dengan kesakitan engkau akan melahirkan anakmu; namun engkau akan berahi kepada suamimu dan ia akan berkuasa atasmu.” 3:17 Lalu firman-Nya kepada manusia itu: “Karena engkau mendengarkan perkataan isterimu dan memakan dari buah pohon, yang telah Kuperintahkan kepadamu: Jangan makan dari padanya, maka terkutuklah tanah karena engkau; dengan bersusah payah engkau akan mencari rezekimu dari tanah seumur hidupmu: 3:18 semak duri dan rumput duri yang akan dihasilkannya bagimu, dan tumbuh-tumbuhan di padang akan menjadi makananmu; 3:19 dengan berpeluh engkau akan mencari makananmu, sampai engkau kembali lagi menjadi tanah, karena dari situlah engkau diambil; sebab engkau debu dan engkau akan kembali menjadi debu.” 3:20 Manusia itu memberi nama Hawa kepada isterinya, sebab dialah yang menjadi ibu semua yang hidup. 3:21 Dan TUHAN Allah membuat pakaian dari kulit binatang untuk manusia dan untuk isterinya itu, lalu mengenakannya kepada mereka. 3:22 Berfirmanlah TUHAN Allah: “Sesungguhnya manusia itu telah menjadi seperti salah satu dari Kita, tahu tentang yang baik dan yang jahat; maka sekarang jangan sampai ia mengulurkan tangannya dan mengambil pula dari buah pohon kehidupan itu dan memakannya, sehingga ia hidup untuk selama-lamanya.” 3:23 Lalu TUHAN Allah mengusir dia dari taman Eden supaya ia mengusahakan tanah dari mana ia diambil. 3:24 Ia menghalau manusia itu dan di sebelah timur taman Eden ditempatkan-Nyalah beberapa kerub dengan pedang yang bernyala-nyala dan menyambar-nyambar, untuk menjaga jalan ke pohon kehidupan.

Mzm 90:2,3-4,5-6,12-13

Refren: Tuhan, Engkaulah tempat perlindungan kami turun temurun.

Mazmur:

*    Sebelum gunung-gunung dilahirkan, sebelum bumi dan dunia diperanakkan, bahkan dari sediakala sampai selama-lamanya Engkaulah Allah.

*    Engkau mengembalikan manusia kepada debu, hanya dengan berkata, “Kembalilah, hai anak-anak manusia!” Sebab di mata-Mu seribu tahun sama seperti hari kemarin atau seperti satu giliran jaga di waktu malam,

*    Engkau menghanyutkan manusia seperti orang mimpi seperti rumput yang bertumbuh: di waktu pagi tumbuh dan berkembang, di waktu petang sudah lisut dan layu.

*    Ajarlah kami menghitung hari-hari kami, hingga kami beroleh hati yang bijaksana. Kembalilah, ya Tuhan, berapa lama lagi? Dan sayangilah hamba-hamba-Mu!

Bacaan Injil : Mrk 8:1-10

Yesus memberi makan empat ribu orang

8:1 Pada waktu itu ada pula orang banyak di situ yang besar jumlahnya, dan karena mereka tidak mempunyai makanan, Yesus memanggil murid-murid-Nya dan berkata: 8:2 “Hati-Ku tergerak oleh belas kasihan kepada orang banyak ini. Sudah tiga hari mereka mengikuti Aku dan mereka tidak mempunyai makanan. 8:3 Dan jika mereka Kusuruh pulang ke rumahnya dengan lapar, mereka akan rebah di jalan, sebab ada yang datang dari jauh.” 8:4 Murid-murid-Nya menjawab: “Bagaimana di tempat yang sunyi ini orang dapat memberi mereka roti sampai kenyang?” 8:5 Yesus bertanya kepada mereka: “Berapa roti ada padamu?” Jawab mereka: “Tujuh.” 8:6 Lalu Ia menyuruh orang banyak itu duduk di tanah. Sesudah itu Ia mengambil ketujuh roti itu, mengucap syukur, memecah-mecahkannya dan memberikannya kepada murid-murid-Nya untuk dibagi-bagikan, dan mereka memberikannya kepada orang banyak. 8:7 Mereka juga mempunyai beberapa ikan, dan sesudah mengucap berkat atasnya, Ia menyuruh supaya ikan itu juga dibagi-bagikan. 8:8 Dan mereka makan sampai kenyang. Kemudian orang mengumpulkan potongan-potongan roti yang sisa, sebanyak tujuh bakul. 8:9 Mereka itu ada kira-kira empat ribu orang. Lalu Yesus menyuruh mereka pulang. 8:10 Ia segera naik ke perahu dengan murid-murid-Nya dan bertolak ke daerah Dalmanuta.

Renungan:

Hukuman dan anugerah
Dosa menyebabkan perasaan bersalah dan takut menghantui Adam dan Hawa. Itu sebabnya mereka sembunyi ketika mendengar suara Tuhan Allah hadir di taman Eden. Lebih daripada itu, mereka menolak bertanggung jawab atas perbuatan mereka dengan melemparkan kesalahan kepada pihak lain, bahkan kepada Tuhan mereka sendiri (ayat 12). Tanpa mereka sadari, dosa telah membelenggu mereka dari ketulusan dan penyesalan yang seharusnya membawa kepada pertobatan.

Allah yang adil harus menghukum perbuatan dosa. Maka setiap yang terlibat harus menerima hukuman yang adil. Namun penghukuman itu bukan akhir segala-galanya, kecuali kepada ular. Kepada ular, penghukuman itu secara fisik adalah merayap di tanah serta memakan debu tanah (ayat 14). Nasibnya sudah dipastikan akan binasa (ayat 15). Kepada manusia, hukuman Allah diberikan bukan untuk membinasakan mereka. Tuhan memberikan jalan keluar dari penderitaan akibat hukuman dosa serta kelepasan dari perbudakan dosa. Nubuat yang biasa disebut sebagai Injil yang paling awal, di ayat 15 menegaskan bahwa kelak, melalui Mesias, keturunan perempuan itu, kuasa belenggu dosa yang diibaratkan sengat tipu daya ular akan dihancurkan tuntas. Dosa akan mendapatkan penyelesaian secara sempurna. Sedangkan untuk melepaskan manusia dari kemungkinan penderitaan berkepanjangan, Tuhan mengusir mereka dari taman Eden supaya mereka jangan sampai memakan buah kehidupan lalu harus hidup selamanya dalam penderitaan oleh karena dosa (ayat 22-24).

Di balik murka Tuhan kita temukan belas kasih dan anugerah-Nya. Keadilan-Nya menuntut penghukuman, tetapi kasih-Nya menyediakan pengampunan bahkan pemulihan. Hal itu menjadi sempurna ketika Kristus naik ke kayu salib. Dia adalah keturunan perempuan yang memusnahkan kuasa dosa (menginjak kepala ular) melalui kematian-Nya di salib (tumitnya diremukkan ular).

Injil hari ini, Tetap beriman
Pengalaman adalah guru yang paling baik, demikian kata pepatah. Melalui pengalaman, seharusnya orang bisa mempelajari banyak hal.

Pengalaman murid-murid Yesus ketika melihat mukjizat pemberian makan untuk lima ribu orang rupanya tidak membuat mereka belajar mengenal Yesus. Sudah tiga hari orang banyak mengikuti Yesus, tetapi murid-murid tidak mengingatkan Dia bahwa orang banyak itu perlu makan. Tampaknya belum peka hati mereka terhadap orang banyak. Ketika Yesus menyatakan belas kasihan-Nya kepada orang banyak itu, murid-murid tidak memberikan tanggapan positif. Meski perkataan Yesus seharusnya mengusik mereka, para murid melupakan bahwa Yesus berkuasa dan mampu melakukan apa yang tidak mungkin dilakukan manusia biasa. Mereka apatis dan pasif. Seolah tidak mau susah-susah memikirkan bagaimana mereka bisa memberi makan orang sejumlah empat ribu di tempat yang terpencil seperti itu. Betapa sabar Yesus menghadapi murid-murid-Nya yang kurang beriman dan kurang kenal hati-Nya. Meski mereka melupakan pelajaran yang telah Dia berikan, Dia bersedia mengulanginya kembali agar murid-murid-Nya sungguh-sungguh mengenal Dia.

Mungkin kita heran, begitu cepatkah para murid melupakan mukjizat Yesus yang menakjubkan itu? Bukankah peristiwa itu begitu luar biasa dan sulit dilupakan? Namun mari kita menengok ke dalam diri kita sendiri. Cobalah mengingat-ingat perkara-perkara yang Tuhan telah lakukan bagi kita. Sudah berapa kali doa kita dijawab Tuhan? Sudah berapa kali Tuhan menolong kita? Bukankah setelah itu pun masih ada masa-masa kita merasa apatis, putus asa, atau mengira bahwa Tuhan tidak akan menolong? Lalu harus bagaimana? Tetap labuhkan jangkar iman Anda pada Dia. Tetaplah berjalan memegang tangan-Nya meski keraguan terkadang menggoda Anda. Dia adalah Guru yang setia, yang senantiasa sabar untuk membimbing kita tetap beriman pada-Nya.

DOA: Tuhan Yesus, tariklah kami agar mendekat pada-Mu dan segarkanlah kami dengan makanan surgawi dari-Mu. Lipat-gandakanlah rahmat-Mu dalam diri kami semua sehingga kami diberdayakan untuk berbagi kasih-Mu dengan orang-orang di sekeliling kami. Tuhan Yesus, jadikanlah hati kami seperti hati-Mu. Amin. (Lucas Margono)

Renungan Sabtu, 14 Februari 2014, Peringatan Wajib St. Sirilus, Pertapa dan Metodius, Uskup. Pekan Biasa V

Bacaan I: Kej 3:9-24

3:9 Tetapi TUHAN Allah memanggil manusia itu dan berfirman kepadanya: “Di manakah engkau?” 3:10 Ia menjawab: “Ketika aku mendengar, bahwa Engkau ada dalam taman ini, aku menjadi takut, karena aku telanjang; sebab itu aku bersembunyi.” 3:11 Firman-Nya: “Siapakah yang memberitahukan kepadamu, bahwa engkau telanjang? Apakah engkau makan dari buah pohon, yang Kularang engkau makan itu?” 3:12 Manusia itu menjawab: “Perempuan yang Kautempatkan di sisiku, dialah yang memberi dari buah pohon itu kepadaku, maka kumakan.” 3:13 Kemudian berfirmanlah TUHAN Allah kepada perempuan itu: “Apakah yang telah kauperbuat ini?” Jawab perempuan itu: “Ular itu yang memperdayakan aku, maka kumakan.” 3:14 Lalu berfirmanlah TUHAN Allah kepada ular itu: “Karena engkau berbuat demikian, terkutuklah engkau di antara segala ternak dan di antara segala binatang hutan; dengan perutmulah engkau akan menjalar dan debu tanahlah akan kaumakan seumur hidupmu. 3:15 Aku akan mengadakan permusuhan antara engkau dan perempuan ini, antara keturunanmu dan keturunannya; keturunannya akan meremukkan kepalamu, dan engkau akan meremukkan tumitnya.” 3:16 Firman-Nya kepada perempuan itu: “Susah payahmu waktu mengandung akan Kubuat sangat banyak; dengan kesakitan engkau akan melahirkan anakmu; namun engkau akan berahi kepada suamimu dan ia akan berkuasa atasmu.” 3:17 Lalu firman-Nya kepada manusia itu: “Karena engkau mendengarkan perkataan isterimu dan memakan dari buah pohon, yang telah Kuperintahkan kepadamu: Jangan makan dari padanya, maka terkutuklah tanah karena engkau; dengan bersusah payah engkau akan mencari rezekimu dari tanah seumur hidupmu: 3:18 semak duri dan rumput duri yang akan dihasilkannya bagimu, dan tumbuh-tumbuhan di padang akan menjadi makananmu; 3:19 dengan berpeluh engkau akan mencari makananmu, sampai engkau kembali lagi menjadi tanah, karena dari situlah engkau diambil; sebab engkau debu dan engkau akan kembali menjadi debu.” 3:20 Manusia itu memberi nama Hawa kepada isterinya, sebab dialah yang menjadi ibu semua yang hidup. 3:21 Dan TUHAN Allah membuat pakaian dari kulit binatang untuk manusia dan untuk isterinya itu, lalu mengenakannya kepada mereka. 3:22 Berfirmanlah TUHAN Allah: “Sesungguhnya manusia itu telah menjadi seperti salah satu dari Kita, tahu tentang yang baik dan yang jahat; maka sekarang jangan sampai ia mengulurkan tangannya dan mengambil pula dari buah pohon kehidupan itu dan memakannya, sehingga ia hidup untuk selama-lamanya.” 3:23 Lalu TUHAN Allah mengusir dia dari taman Eden supaya ia mengusahakan tanah dari mana ia diambil. 3:24 Ia menghalau manusia itu dan di sebelah timur taman Eden ditempatkan-Nyalah beberapa kerub dengan pedang yang bernyala-nyala dan menyambar-nyambar, untuk menjaga jalan ke pohon kehidupan.

Mzm 90:2,3-4,5-6,12-13

Refren: Tuhan, Engkaulah tempat perlindungan kami turun temurun.

Mazmur:

*    Sebelum gunung-gunung dilahirkan, sebelum bumi dan dunia diperanakkan, bahkan dari sediakala sampai selama-lamanya Engkaulah Allah.

*    Engkau mengembalikan manusia kepada debu, hanya dengan berkata, “Kembalilah, hai anak-anak manusia!” Sebab di mata-Mu seribu tahun sama seperti hari kemarin atau seperti satu giliran jaga di waktu malam,

*    Engkau menghanyutkan manusia seperti orang mimpi seperti rumput yang bertumbuh: di waktu pagi tumbuh dan berkembang, di waktu petang sudah lisut dan layu.

*    Ajarlah kami menghitung hari-hari kami, hingga kami beroleh hati yang bijaksana. Kembalilah, ya Tuhan, berapa lama lagi? Dan sayangilah hamba-hamba-Mu!

Bacaan Injil : Mrk 8:1-10

Yesus memberi makan empat ribu orang

8:1 Pada waktu itu ada pula orang banyak di situ yang besar jumlahnya, dan karena mereka tidak mempunyai makanan, Yesus memanggil murid-murid-Nya dan berkata: 8:2 “Hati-Ku tergerak oleh belas kasihan kepada orang banyak ini. Sudah tiga hari mereka mengikuti Aku dan mereka tidak mempunyai makanan. 8:3 Dan jika mereka Kusuruh pulang ke rumahnya dengan lapar, mereka akan rebah di jalan, sebab ada yang datang dari jauh.” 8:4 Murid-murid-Nya menjawab: “Bagaimana di tempat yang sunyi ini orang dapat memberi mereka roti sampai kenyang?” 8:5 Yesus bertanya kepada mereka: “Berapa roti ada padamu?” Jawab mereka: “Tujuh.” 8:6 Lalu Ia menyuruh orang banyak itu duduk di tanah. Sesudah itu Ia mengambil ketujuh roti itu, mengucap syukur, memecah-mecahkannya dan memberikannya kepada murid-murid-Nya untuk dibagi-bagikan, dan mereka memberikannya kepada orang banyak. 8:7 Mereka juga mempunyai beberapa ikan, dan sesudah mengucap berkat atasnya, Ia menyuruh supaya ikan itu juga dibagi-bagikan. 8:8 Dan mereka makan sampai kenyang. Kemudian orang mengumpulkan potongan-potongan roti yang sisa, sebanyak tujuh bakul. 8:9 Mereka itu ada kira-kira empat ribu orang. Lalu Yesus menyuruh mereka pulang. 8:10 Ia segera naik ke perahu dengan murid-murid-Nya dan bertolak ke daerah Dalmanuta.

Renungan:

Hukuman dan anugerah
Dosa menyebabkan perasaan bersalah dan takut menghantui Adam dan Hawa. Itu sebabnya mereka sembunyi ketika mendengar suara Tuhan Allah hadir di taman Eden. Lebih daripada itu, mereka menolak bertanggung jawab atas perbuatan mereka dengan melemparkan kesalahan kepada pihak lain, bahkan kepada Tuhan mereka sendiri (ayat 12). Tanpa mereka sadari, dosa telah membelenggu mereka dari ketulusan dan penyesalan yang seharusnya membawa kepada pertobatan.

Allah yang adil harus menghukum perbuatan dosa. Maka setiap yang terlibat harus menerima hukuman yang adil. Namun penghukuman itu bukan akhir segala-galanya, kecuali kepada ular. Kepada ular, penghukuman itu secara fisik adalah merayap di tanah serta memakan debu tanah (ayat 14). Nasibnya sudah dipastikan akan binasa (ayat 15). Kepada manusia, hukuman Allah diberikan bukan untuk membinasakan mereka. Tuhan memberikan jalan keluar dari penderitaan akibat hukuman dosa serta kelepasan dari perbudakan dosa. Nubuat yang biasa disebut sebagai Injil yang paling awal, di ayat 15 menegaskan bahwa kelak, melalui Mesias, keturunan perempuan itu, kuasa belenggu dosa yang diibaratkan sengat tipu daya ular akan dihancurkan tuntas. Dosa akan mendapatkan penyelesaian secara sempurna. Sedangkan untuk melepaskan manusia dari kemungkinan penderitaan berkepanjangan, Tuhan mengusir mereka dari taman Eden supaya mereka jangan sampai memakan buah kehidupan lalu harus hidup selamanya dalam penderitaan oleh karena dosa (ayat 22-24).

Di balik murka Tuhan kita temukan belas kasih dan anugerah-Nya. Keadilan-Nya menuntut penghukuman, tetapi kasih-Nya menyediakan pengampunan bahkan pemulihan. Hal itu menjadi sempurna ketika Kristus naik ke kayu salib. Dia adalah keturunan perempuan yang memusnahkan kuasa dosa (menginjak kepala ular) melalui kematian-Nya di salib (tumitnya diremukkan ular).

Injil hari ini, Tetap beriman
Pengalaman adalah guru yang paling baik, demikian kata pepatah. Melalui pengalaman, seharusnya orang bisa mempelajari banyak hal.

Pengalaman murid-murid Yesus ketika melihat mukjizat pemberian makan untuk lima ribu orang rupanya tidak membuat mereka belajar mengenal Yesus. Sudah tiga hari orang banyak mengikuti Yesus, tetapi murid-murid tidak mengingatkan Dia bahwa orang banyak itu perlu makan. Tampaknya belum peka hati mereka terhadap orang banyak. Ketika Yesus menyatakan belas kasihan-Nya kepada orang banyak itu, murid-murid tidak memberikan tanggapan positif. Meski perkataan Yesus seharusnya mengusik mereka, para murid melupakan bahwa Yesus berkuasa dan mampu melakukan apa yang tidak mungkin dilakukan manusia biasa. Mereka apatis dan pasif. Seolah tidak mau susah-susah memikirkan bagaimana mereka bisa memberi makan orang sejumlah empat ribu di tempat yang terpencil seperti itu. Betapa sabar Yesus menghadapi murid-murid-Nya yang kurang beriman dan kurang kenal hati-Nya. Meski mereka melupakan pelajaran yang telah Dia berikan, Dia bersedia mengulanginya kembali agar murid-murid-Nya sungguh-sungguh mengenal Dia.

Mungkin kita heran, begitu cepatkah para murid melupakan mukjizat Yesus yang menakjubkan itu? Bukankah peristiwa itu begitu luar biasa dan sulit dilupakan? Namun mari kita menengok ke dalam diri kita sendiri. Cobalah mengingat-ingat perkara-perkara yang Tuhan telah lakukan bagi kita. Sudah berapa kali doa kita dijawab Tuhan? Sudah berapa kali Tuhan menolong kita? Bukankah setelah itu pun masih ada masa-masa kita merasa apatis, putus asa, atau mengira bahwa Tuhan tidak akan menolong? Lalu harus bagaimana? Tetap labuhkan jangkar iman Anda pada Dia. Tetaplah berjalan memegang tangan-Nya meski keraguan terkadang menggoda Anda. Dia adalah Guru yang setia, yang senantiasa sabar untuk membimbing kita tetap beriman pada-Nya.

DOA: Tuhan Yesus, tariklah kami agar mendekat pada-Mu dan segarkanlah kami dengan makanan surgawi dari-Mu. Lipat-gandakanlah rahmat-Mu dalam diri kami semua sehingga kami diberdayakan untuk berbagi kasih-Mu dengan orang-orang di sekeliling kami. Tuhan Yesus, jadikanlah hati kami seperti hati-Mu. Amin. (Lucas Margono)

Yesus-Kristus-memberi-makan-lima-ribu-orang

Renungan Sabtu, 7 Februari 2015

Renungan Sabtu, 7 Februari 2015, Hari Biasa, Pekan Biasa IV

CM : Pfak Beata Rosalie Rendu, Prw; CDD : Pfak St. Giovanni Triora; FMA/SDB: Pfak Beato Pius IX, Paus; OAD: Pfak B. Anselmus Polanca, UskMrt; OFM/OFMConv/OSC: PfaK St, Koleta dr Corbie, Biarw; OFR/OFS: Peringatan Wajib St, Koleta dr Corbie, Biarw; OFMCap/OSCCap Pesta St, Koleta dr Corbie, Biarw

Bacaan I: Ibr 13:15-17,20-21

13:15 Sebab itu marilah kita, oleh Dia, senantiasa mempersembahkan korban syukur kepada Allah, yaitu ucapan bibir yang memuliakan nama-Nya. 13:16 Dan janganlah kamu lupa berbuat baik dan memberi bantuan, sebab korban-korban yang demikianlah yang berkenan kepada Allah. 13:17 Taatilah pemimpin-pemimpinmu dan tunduklah kepada mereka, sebab mereka berjaga-jaga atas jiwamu, sebagai orang-orang yang harus bertanggung jawab atasnya. Dengan jalan itu mereka akan melakukannya dengan gembira, bukan dengan keluh kesah, sebab hal itu tidak akan membawa keuntungan bagimu.
13:20 Maka Allah damai sejahtera, yang oleh darah perjanjian yang kekal telah membawa kembali dari antara orang mati Gembala Agung segala domba, yaitu Yesus, Tuhan kita, 13:21 kiranya memperlengkapi kamu dengan segala yang baik untuk melakukan kehendak-Nya, dan mengerjakan di dalam kita apa yang berkenan kepada-Nya, oleh Yesus Kristus. Bagi Dialah kemuliaan sampai selama-lamanya! Amin.

Mzm 23:1-3a,3b-4,5,6

Refren: Tuhanlah gembalaku, aku takkan berkekurangan.

Mazmur:

* Tuhanlah gembalaku, aku takkan berkekurangan. Ia membaringkan daku di padang rumput yang hijau, Ia membimbing aku ke air yang tenang, dan menyegarkan daku.

* Ia menuntun aku di jalan yang lurus, demi nama-Nya yang kudus. Sekalipun berjalan dalam lembah yang kelam, aku tidak takut bahaya, sebab Rngkau besertaku. Tongkat gembalaan-Mu, itulah yang menghibur aku,

* Engkau menyediakan hidangan bagiku, di hadapan segala lawanku. Engkau mengurapi kepalaku dengan minyak, pialaku penuh berlimpah.

* Kerelaan dan kemurahan-Mu mengiringi aku seumur hiduplu. Aku akan diam di dalam rumah Tuhan sepanjang masa.

Bacaan Injil: Mrk 6:30-34

Yesus memberi makan lima ribu orang
6:30 Kemudian rasul-rasul itu kembali berkumpul dengan Yesus dan memberitahukan kepada-Nya semua yang mereka kerjakan dan ajarkan. 6:31 Lalu Ia berkata kepada mereka: “Marilah ke tempat yang sunyi, supaya kita sendirian, dan beristirahatlah seketika!” Sebab memang begitu banyaknya orang yang datang dan yang pergi, sehingga makanpun mereka tidak sempat. 6:32 Maka berangkatlah mereka untuk mengasingkan diri dengan perahu ke tempat yang sunyi. 6:33 Tetapi pada waktu mereka bertolak banyak orang melihat mereka dan mengetahui tujuan mereka. Dengan mengambil jalan darat segeralah datang orang dari semua kota ke tempat itu sehingga mendahului mereka. 6:34 Ketika Yesus mendarat, Ia melihat sejumlah besar orang banyak, maka tergeraklah hati-Nya oleh belas kasihan kepada mereka, karena mereka seperti domba yang tidak mempunyai gembala. Lalu mulailah Ia mengajarkan banyak hal kepada mereka.

Renungan:

Paulus dalam nasehatnya kepada jemaat Ibrani menyatakan bahwa, korban Kristus di salib telah mendamaikan Allah dengan manusia. Hubungan manusia dengan Allah dipulihkan berkat penebusan-Nya. Maka kepada para pembaca suratnya, Paulus . meminta para jemaat Kristen untuk senantiasa bersyukur dalam doa dengan memuliakan Allah dan hidup benar. Ini semua menjadi korban persembahan yang sungguh berkenan kepada Allah. .

Yesus Kristus sebagai Gembala dan Imam Agung yang menjadi perantara manusia dengan Allah, telah melakukan persembahan penghapus dosa kepada Allah bukan dengan darah binatang melainkan dengan darah-Nya sendiri, sekali untuk selama-lamanya. Sehingga Kristus dengan darah perjanjian-Nya yang telah dicurahkan-Nya di kayu salib, membawa kembali umat manusia dari jurang kematian kepada kehidupan kekal. Maka umat Kristen harus menanggapi kasih Allah itu dengan hidup yang berkenan kepada Allah dengan segala perbuatan baik.

Sebagai orang beriman kita harus bersyukur dan berterima kasih atas berbagai anugerah yang kita terima dari Allah melalui orang-orang yang telah berbuat baik kepada kita dalam berbagai kesempatan sampai kini. Syukur dan terima kasih tersebut kemudian kita teruskan kepada saudara-saudari kita dengan ‘berbuat baik dan memberi bantuan’ bagi mereka yang sungguh membutuhkan. “Sithik ora ditampik, akeh soyo pikoleh” = sedikit tidak ditolak, banyak lebih baik, demikian motto berbuat baik yang pernah disampaikan oleh Mgr. Ignasius Suharyo Pr. Uskup Agung Semarang (sekarang Uskup Jakarta) dalam himbauan beliau umat katolik terlibat dan rela membantu orang lain. Diharapkan kebiasaan berbuat baik dan memberi bantuan ini sedini mungkin dibiasakan pada anak-anak di dalam keluarga dan diperdalam di sekolah-sekolah, tentu saja dengan teladan konkret dari para orangtua maupun pendidik/guru. Marilah kita sadari dan hayati bahwa kita dapat tumbuh berkembang seperti apa adanya saat ini, karena kebaikan dan bantuan begitu banyak orang, dan selayaknya kita juga suka berbuat baik dan memberi bantuan.

Injil hari ini, Ia sumber yang tak terbatas
Menanggapi panggilan Allah dengan hidup sebagai pastor/ romo, bruder atau suster alias tidak menikah pada umumnya memang dapat membaktikan diri seutuhnya bagi pelayanan orang banyak, tanpa pandang bulu. Mereka terpanggil untuk meneladan Yesus yang ‘tergerak hatiNya oleh belas kasihan kepada mereka, karena mereka seperti domba yang tidak mempunyai gembala’. Hati yang tergerak kepada keselamatan jiwa manusia, sehingga hatinya tertambat pada Allah sepenuhnya, itulah yang dialami atau dinikmati oleh mereka yang terpanggil secara khusus untuk hidup tidak menikah. “Hati yang tergerak oleh belas kasihan” kiranya juga menjadi panggilan kita semua umat beriman, orang yang percaya kepada Allah. “Compassion”, kepedulian kepada orang lain, lebih-lebih mereka yang miskin dan menderita itulah yang harus kita hayati, perdalam dan sebar-luaskan.

Marilah kita perhatikan anak-anak atau sesama kita yang kurang memperoleh perhatian kasih sayang dari orangtua mereka atau saudara-saudarinya, sehingga mereka harus menggelandang atau menjadi anak jalanan. Dengan jujur kita melihat banyak orang yang mau peduli dengan mereka, dengan berbagai tindakan nyata misalnya memberikan uang secara spontan,tapi banyak juga yang memikirkan hari depan mereka dengan menampung, memberikan pendidikan dan mengasuh mereka dengan baik. Hal ini sebagai wujud kepedulian kita terhadap orang lain. Tentu saja ini panggilan khusus untuk mereka yang memiliki kemampuan dan kepeduliaan/ . Perikop Injil hari ini memperingatkan kita, mengajak siapapun yang cukup berada atau kaya akan harta benda dan uang untuk tidak serakah dan berfoya-foya, melainkan peduli terhadap mereka yang miskin, berkekurangan dan menderita.

Jika Yesus dapat melakukan hal yang luar biasa pada sumber yang begitu terbatas, Ia pun dapat melakukan hal yang sama bagi hidup kita. Jika kita memiliki sesuatu yang kita anggap tidak berarti, tetapi kita ingin melayani orang lain melalui milik kita itu, kita bisa letakkan di tangan Yesus. Ia dapat melakukan hal besar dengan karunia dan talenta yang ada pada kita untuk menyentuh hidup orang lain.

DOA: Tuhan Yesus, aku menyadari bahwa tanpa Engkau aku tidak ubahnya seperti seekor domba tanpa gembala. Aku menyadari bahwa aku tidak dapat hidup sendiri dan tidak dapat mengandalkan kekuatanku sendiri dalam menghadapi berbagai godaan. Tetaplah bersama-Mu, ya Tuhan dan Juruselamatku. Amin. (Lucas Margono)

Yesus