Renungan Senin, 13 Februari 2017

Renungan Senin, 13 Februari 2017, Hari Biasa, Pekan Biasa VI

Bacaan I : Kej 4:1-15,25

“Kain memukul Habel, adiknya, lalu membunuh dia.”

4:1 Kemudian manusia itu bersetubuh dengan Hawa, isterinya, dan mengandunglah perempuan itu, lalu melahirkan Kain; maka kata perempuan itu: “Aku telah mendapat seorang anak laki-laki dengan pertolongan TUHAN.” 4:2 Selanjutnya dilahirkannyalah Habel, adik Kain; dan Habel menjadi gembala kambing domba, Kain menjadi petani. 4:3 Setelah beberapa waktu lamanya, maka Kain mempersembahkan sebagian dari hasil tanah itu kepada TUHAN sebagai korban persembahan; 4:4 Habel juga mempersembahkan korban persembahan dari anak sulung kambing dombanya, yakni lemak-lemaknya; maka TUHAN mengindahkan Habel dan korban persembahannya itu, 4:5 tetapi Kain dan korban persembahannya tidak diindahkan-Nya. Lalu hati Kain menjadi sangat panas, dan mukanya muram. 4:6 Firman TUHAN kepada Kain: “Mengapa hatimu panas dan mukamu muram? 4:7 Apakah mukamu tidak akan berseri, jika engkau berbuat baik? Tetapi jika engkau tidak berbuat baik, dosa sudah mengintip di depan pintu; ia sangat menggoda engkau, tetapi engkau harus berkuasa atasnya.” 4:8 Kata Kain kepada Habel, adiknya: “Marilah kita pergi ke padang.” Ketika mereka ada di padang, tiba-tiba Kain memukul Habel, adiknya itu, lalu membunuh dia. 4:9 Firman TUHAN kepada Kain: “Di mana Habel, adikmu itu?” Jawabnya: “Aku tidak tahu! Apakah aku penjaga adikku?” 4:10 Firman-Nya: “Apakah yang telah kauperbuat ini? Darah adikmu itu berteriak kepada-Ku dari tanah. 4:11 Maka sekarang, terkutuklah engkau, terbuang jauh dari tanah yang mengangakan mulutnya untuk menerima darah adikmu itu dari tanganmu. 4:12 Apabila engkau mengusahakan tanah itu, maka tanah itu tidak akan memberikan hasil sepenuhnya lagi kepadamu; engkau menjadi seorang pelarian dan pengembara di bumi.” 4:13 Kata Kain kepada TUHAN: “Hukumanku itu lebih besar dari pada yang dapat kutanggung. 4:14 Engkau menghalau aku sekarang dari tanah ini dan aku akan tersembunyi dari hadapan-Mu, seorang pelarian dan pengembara di bumi; maka barangsiapa yang akan bertemu dengan aku, tentulah akan membunuh aku.” 4:15 Firman TUHAN kepadanya: “Sekali-kali tidak! Barangsiapa yang membunuh Kain akan dibalaskan kepadanya tujuh kali lipat.” Kemudian TUHAN menaruh tanda pada Kain, supaya ia jangan dibunuh oleh barangsiapapun yang bertemu dengan dia. 4:25 Adam bersetubuh pula dengan isterinya, lalu perempuan itu melahirkan seorang anak laki-laki dan menamainya Set, sebab katanya: “Allah telah mengaruniakan kepadaku anak yang lain sebagai ganti Habel; sebab Kain telah membunuhnya.”

Mazmur 50:1.8.16bc-17.20-21

Ref. Persembahkanlah puji syukur kepada Allah sebagai kurban.

*    Yang Mahakuasa, Tuhan Allah, berfirman dan memanggil bumi, dari terbitnya matahari sampai kepada terbenamnya. Bukan karena kurban sembelihan engkau Kuhukum, sebab kurban bakaranmu senantiasa ada di hadapan-Ku.

*    ”Apakah urusanmu menyelidiki ketetapan-Ku, dan menyebut-nyebut perjanjian-Ku dengan mulutmu, padahal engkau membenci teguran dan mengesampingkan firman-Ku?

*    Engkau duduk, dan menjelek-jelekkan saudaramu, engkau memfitnah saudara kandungmu. Itulah yang engkau lakukan! Apakah Aku akan diam saja? Apakah kaukira Aku ini sederajat dengan kamu? Aku menggugat engkau dan ingin berperkara denganmu.

Bait Pengantar Injil
Ref. Alleluya
Ayat. (Yoh 14:6)
Aku ini jalan, kebenaran, dan kehidupan, sabda Tuhan. Tiada orang dapat sampai kepada Bapa tanpa melalui Aku. 

Bacaan Injil : Makus 8:11-13

“Mengapa angkatan ini meminta tanda?

8:11 Lalu muncullah orang-orang Farisi dan bersoal jawab dengan Yesus. Untuk mencobai Dia mereka meminta dari pada-Nya suatu tanda dari sorga. 8:12 Maka mengeluhlah Ia dalam hati-Nya dan berkata: “Mengapa angkatan ini meminta tanda? Aku berkata kepadamu, sesungguhnya kepada angkatan ini sekali-kali tidak akan diberi tanda.” 8:13 Ia meninggalkan mereka; Ia naik pula ke perahu dan bertolak ke seberang.

Renungan :

Pada saat Kain dan Habel mempersembahkan korban bagi Allah,  korban Kain ditolak sedangkan korban Habel diterima Allah. Kain menjadi sangat marah karena iri hati, dianggapnya ada  pembedaan yang dibuat Allah terhadap korban persembahan Kain dan Habel. Hati Kain menjadi panas dan wajahnya sangat muram.  Seharusnya Kain marah terhadap dirinya atas ketidaksalehan dan kemunafikannya sendiri, sehinggs ia telah kehilangan perkenanan Allah. Seharusnya mukanya memucat dalam pertobatan dan rasa malu yang kudus, seperti muka pemungut cukai, yang bahkan tidak berani menengadah ke langit (Luk 18:17). Tetapi, bukannya demikian, ia malah menantang Allah, dan menuduh Allah berat sebelah dan tidak adil. Kain Iri hati terhadap saudaranya, yang dianggapnya Habel  mendapat kehormatan dengan mendapat pengakuan di depan umum. Meskipun saudaranya tidak mempunyai pikiran demikian dan berniat untuk merendahkan maupun  menghina dia untuk memancing amarahnya, namun Kain menyimpan kebencian terhadap Habrl sebagai seorang musuh, atau seorang saingan.

Perhatikanlah, Sikap orang yang membuat diri sendiri tidak layak dihadapan Tuhan akan mendapat perkenanan Allah karena dosa-dosa mereka. Hal ini sama dengan sikap orang-orang Farisi yang memakai cara  Kain. Mereka sendiri tidak masuk ke dalam kerajaan Allah dan menghalang-halangi orang yang berusaha untuk masuk ( Luk 11:52). Iri hati adalah dosa yang biasanya akan terungkap dengan sendirinya, dan yang akan menjadi penghukumannya sendiri, dalam membusuknya tulang-tulang.

Mazmur, Allah adalah Tuhan.

Allah mengatur bumi dan segenap isinya demi kebaikan. Kehadiran-Nya menggentarkan, sebab Ia kudus, tiada duanya, dibandingkan raja yang paling berkuasa sekali pun (ayat 3). Daya cipta-Nya nyata, oleh kemuliaan-Nya segala sesuatu dijadikan dari tidak ada. Kedahsyatan Allah, tak mungkin dilukiskan dengan kata-kata, sebab tak seorang pun sanggup menatap Allah dalam hakikat diri-Nya.

Respons kita hanyalah gentar, takjub, dan sembah. Ibadah yang tak menghormati Allah. Israel terbiasa dengan peraturan korban. Sepertinya Allah perlu korban-korban itu, dan Israel berjasa di hadapan Allah. Kini Allah menentang dan menolak ide salah itu. Semua adalah milik Tuhan, tak satu pun merupakan pemberian manusia kepada Allah. Allah bukanlah manusia yang tubuhnya perlu istirahat, dan butuh makanan. Ibadah yang benar ialah perbuatan kebenaran dan keadilan, sikap hati tulus dan jujur, serta hubungan kepada manusia yang suci dan saling membangun.

Renungkan: Persembahan tidak menutupi dosa pencurian harta maupun perampasan hak orang lain. Pujian merdu tak dapat menutupi ketidaksetiaan, perzinahan dan ingkar janji kita. Tetapi bagi yang telah melakukan semua ini, Allah yang Maha Kasih masih membuka jalan keselamatan dalam Kristus Yesus.

Injil hari ini,

Seringkali kitapun mencobai Dia, kita sering meminta tanda kepadaNya. Keinginan untuk mencobai Dia adalah karena ketidakpercayaan. Jika ditanya kita semua pasti akan menjawab bahwa kita percaya,,,tapi setanpun juga percaya bahwa Yesus adalah anak Allah, lalu apakah bedanya kita dengan setan? Setan percaya tetapi tidak mau menyerahkan hidup mereka kepada Yesus, mereka menolak Yesus. Jika kita percaya kepada Yesus tetapi kita tidak mau menyerahkan hidup kita kepadaNya, kita sama saja dengan setan. Menyerahkan hidup kita kepadaNya berarti membiarkan Dia memiliki dan menguasai kita, kita rela menjadikan kehendakNya sebagai kehendak kita, melalui hidup kita, kita membiarkan Dia berkarya dan melaksanakan kehendak Bapa, maka Dia akan memberikan tanda. Jika hati kita kukuh mengandalkan kekuatan diri sendiri maka jangan kaget jika Ia akan meninggalkan kita dan bertolak ke seberang, kepada orang-orang yang sekalipun tidak mengimani Dia tetapi mau menyerahkan hidupnya sepenuhnya kepadaNya.

Hari demi hari kulalui dengan aktivitas sehari-hari. Mulai dari bangun pagi kemudian beraktivitas sehari, menjelang malam saat aku akan beristirahat semua kulalui dengan biasa tanpa merasa ada yang istimewa. Saat tiba hari Minggu, waktuku untuk pergi ke Gereja juga kulakukan dengan biasa seperti rutinitas, mengikuti Ekaristi, menyambut Tubuh Kristus dengan biasa, dan pulang kembali kerumah semua tidak ada yang terasa istimewa. Ketika aku hendak berdoa, biasa kunyalakan lilin lalu kupandangi nyala lilin itu, kusadari ujung-ujung lidah api itu selalu menari-nari, bentuknya tidak pernah sama, setiap detik, setiap saat bentuk nyala api itu berubah, dan keindahannya justru tampak saat itu. Jika saja nyala api itu bentuknya selalu sama, maka akan seperti gambar yang mati dan tidak hidup.

Kubandingkan nyala api itu dengan hidupku, ternyata hidupku selama inipun mati,,,,, dalam kesunyian kudengar Dia berkata, “AnakKu, jika sesaat dalam hidupmu tidak kau lihat sebagai anugerah dari Bapa, bagaimana mungkin kau mencintai Bapa? jika sejengkal langkahmu kaulihat sebagai hal yang biasa dan bukan karunia Bapa, bagaimana mungkin kau dapat merasakan kasihNya? jika setiap helaan nafasmu tidak membuatmu bersyukur, apakah Aku harus menghentikan nafasmu supaya kau mau bersyukur?” Kuhela nafas dalam-dalam,,kusadari bahwa setiap helaan nafasku adalah keajaiban dariNya, setiap tarikan nafasku adalah tanda dariNya.

DOA: Tuhan Yesus, bukalah mata kami agar dapat melihat Gereja-Mu seperti Engkau melihatnya. Kumpulkan semua pengikut-Mu dari mana-mana di bawah bendera Kasih Ilahi. Anugerahilah kami dengan kemauan kuat untuk menyebar-luaskan kasih-Mu kepada setiap orang yang kami temui. Amin. (Lucas Margono)

februari13

Renungan Minggu, 12 Februari 2017

Renungan Minggu, 12 Februari 2017, Hari Minggu Biasa, Pekan Biasa VI

Bacaan I : Sir 15:15-20

“Tuhan tidak memerintahkan siapapun untuk berdosa.”

15:15 Asal sungguh mau engkau dapat menepati hukum, dan berlaku setiapun dapat kaupilih. 15:16 Api dan air telah ditaruh oleh Tuhan di hadapanmu, kepada apa yang kaukehendaki dapat kauulurkan tanganmu. 15:17 Hidup dan mati terletak di depan manusia, apa yang dipilih akan diberikan kepadanya. 15:18 Sungguh besarlah kebijaksanaan Tuhan, la adalah kuat dalam kekuasaan-Nya dan melihat segala-galanya. 15:19 Mata Tuhan tertuju kepada orang yang takut kepada-Nya, dan segenap pekerjaan manusia la kenal. 15:20 Tuhan tidak menyuruh orang menjadi fasik, dan tidak memberi izin kepada siapapun untuk berdosa.

Mazmur 1-2.4-5.17-18.33-34, do = es, 2/4, PS 852

Ref. Sabda-Mu adalah kebenaran, hukum-Mu kebebasan.
Ayat. (Mzm 1-2.4-5.17-18.33-34; R:1b)

*    Berbahagialah orang yang hidupnya tidak bercela, yang hidup menurut Taurat Tuhan. Berbahagialah orang yang memegang peringatan-peringatan-Nya, yang mencari Dia dengan segenap hati.

*     Engkau sendiri telah menyampaikan titah-titah-Mu, supaya dipegang dengan sungguh-sungguh. Kiranya hidupku mantap, supaya aku memandang keajaiban-keajaiban hukum-Mu.

*     Perlihatkanlah kepadaku, ya Tuhan, petunjuk-petunjuk ketetapan-Mu, aku hendak memegangnya sampai saat terakhir. Buatlah aku mengerti, maka aku akan memegang hukum-Mu; dengan segenap hati aku hendak memeliharanya.

Bacaan II : 1 Korintus 2:6-10

“Sejak dahulu kala Allah menyediakan hikmat bagi kemuliaan kita.”

2:6 Sungguhpun demikian kami memberitakan hikmat di kalangan mereka yang telah matang, yaitu hikmat yang bukan dari dunia ini, dan yang bukan dari penguasa-penguasa dunia ini, yaitu penguasa-penguasa yang akan ditiadakan. 2:7 Tetapi yang kami beritakan ialah hikmat Allah yang tersembunyi dan rahasia, yang sebelum dunia dijadikan, telah disediakan Allah bagi kemuliaan kita. 2:8 Tidak ada dari penguasa dunia ini yang mengenalnya, sebab kalau sekiranya mereka mengenalnya, mereka tidak menyalibkan Tuhan yang mulia. 2:9 Tetapi seperti ada tertulis: “Apa yang tidak pernah dilihat oleh mata, dan tidak pernah didengar oleh telinga, dan yang tidak pernah timbul di dalam hati manusia: semua yang disediakan Allah untuk mereka yang mengasihi Dia.” 2:10          Karena kepada kita Allah telah menyatakannya oleh Roh, sebab Roh menyelidiki segala sesuatu, bahkan hal-hal yang tersembunyi dalam diri Allah.

Bait Pengantar Injil, do = g, 2/4, PS 952
Ref. Alleluya, alleluya, alleluya
Sesudah ayat, Alleluya dilagukan dua kali.
Ayat. (Mat 11:25)
Terpujilah Engkau, Tuhan langit dan bumi, sebab rahasia kerajaan-Mu Kaubuka untuk orang sederhana. 

Bacaan Injil : Matius 5:17-37

“Dahulu dikatakan demikian; tetapi Aku mengatakan kepadamu begini.”

5:17 “Janganlah kamu menyangka, bahwa Aku datang untuk meniadakan hukum Taurat atau kitab para nabi. Aku datang bukan untuk meniadakannya, melainkan untuk menggenapinya. 5:18 Karena Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya selama belum lenyap langit dan bumi ini, satu iota atau satu titikpun tidak akan ditiadakan dari hukum Taurat, sebelum semuanya terjadi. 5:19 Karena itu siapa yang meniadakan salah satu perintah hukum Taurat sekalipun yang paling kecil, dan mengajarkannya demikian kepada orang lain, ia akan menduduki tempat yang paling rendah di dalam Kerajaan Sorga; tetapi siapa yang melakukan dan mengajarkan segala perintah-perintah hukum Taurat, ia akan menduduki tempat yang tinggi di dalam Kerajaan Sorga. 5:20 Maka Aku berkata kepadamu: Jika hidup keagamaanmu tidak lebih benar dari pada hidup keagamaan ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi, sesungguhnya kamu tidak akan masuk ke dalam Kerajaan Sorga. 5:21 Kamu telah mendengar yang difirmankan kepada nenek moyang kita: Jangan membunuh; siapa yang membunuh harus dihukum. 5:22 Tetapi Aku berkata kepadamu: Setiap orang yang marah terhadap saudaranya harus dihukum; siapa yang berkata kepada saudaranya: Kafir! harus dihadapkan ke Mahkamah Agama dan siapa yang berkata: Jahil! harus diserahkan ke dalam neraka yang menyala-nyala. 5:23 Sebab itu, jika engkau mempersembahkan persembahanmu di atas mezbah dan engkau teringat akan sesuatu yang ada dalam hati saudaramu terhadap engkau, 5:24 tinggalkanlah persembahanmu di depan mezbah itu dan pergilah berdamai dahulu dengan saudaramu, lalu kembali untuk mempersembahkan persembahanmu itu. 5:25 Segeralah berdamai dengan lawanmu selama engkau bersama-sama dengan dia di tengah jalan, supaya lawanmu itu jangan menyerahkan engkau kepada hakim dan hakim itu menyerahkan engkau kepada pembantunya dan engkau dilemparkan ke dalam penjara. 5:26 Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya engkau tidak akan keluar dari sana, sebelum engkau membayar hutangmu sampai lunas. 5:27 Kamu telah mendengar firman: Jangan berzinah. 5:28 Tetapi Aku berkata kepadamu: Setiap orang yang memandang perempuan serta menginginkannya, sudah berzinah dengan dia di dalam hatinya. 5:29 Maka jika matamu yang kanan menyesatkan engkau, cungkillah dan buanglah itu, karena lebih baik bagimu jika satu dari anggota tubuhmu binasa, dari pada tubuhmu dengan utuh dicampakkan ke dalam neraka. 5:30 Dan jika tanganmu yang kanan menyesatkan engkau, penggallah dan buanglah itu, karena lebih baik bagimu jika satu dari anggota tubuhmu binasa dari pada tubuhmu dengan utuh masuk neraka. 5:31 Telah difirmankan juga: Siapa yang menceraikan isterinya harus memberi surat cerai kepadanya. 5:32 Tetapi Aku berkata kepadamu: Setiap orang yang menceraikan isterinya kecuali karena zinah, ia menjadikan isterinya berzinah; dan siapa yang kawin dengan perempuan yang diceraikan, ia berbuat zinah. 5:33 Kamu telah mendengar pula yang difirmankan kepada nenek moyang kita: Jangan bersumpah palsu, melainkan peganglah sumpahmu di depan Tuhan. 5:34 Tetapi Aku berkata kepadamu: Janganlah sekali-kali bersumpah, baik demi langit, karena langit adalah takhta Allah, 5:35 maupun demi bumi, karena bumi adalah tumpuan kaki-Nya, ataupun demi Yerusalem, karena Yerusalem adalah kota Raja Besar; 5:36 janganlah juga engkau bersumpah demi kepalamu, karena engkau tidak berkuasa memutihkan atau menghitamkan sehelai rambutpun. 5:37 Jika ya, hendaklah kamu katakan: ya, jika tidak, hendaklah kamu katakan: tidak. Apa yang lebih dari pada itu berasal dari si jahat.

Renungan :

Kehendak bebas,

Allah menciptakan manusia dengan memberikan kehendak bebas, agar manusia bisa memilih baik dan buruk sesuai dengan kehendaknya, manusia pun bisa mentaati segala aturan yang ada atau pun melanggarnya. Sehingga nasib umat manusia, ditentukan oleh pilihan manusia, mau hidup atau mati manusialah yang menentukan, bukan Tuhan. Itulah kebijaksanaan Tuhan, Tuhan ingin manusia datang kepada-Nya atas kehendak dan pilihan bebas manusia. Tuhan maha dahsyat kuasa-Nya namun Tuhan tidak pernah memaksakan kehendak-Nya kepada manusia. Tuhan justru mahakasih dengan memberikan anugerah rahmat ilahi-Nya supaya manusia mau menanggapinya dengan syukur dan sukarela sehingga selamat dan tidak berbuat dosa.

Bacaan II, Hal-hal Rohani Hanya Dapat Dinilai Secara Rohani

Pada perikop ini Rasul Paulus menyampaikan kepada jemaat Korintus suatu harta yang berupa hikmat yang paling sejati dan paling luhur (ay 6), kepada kalangan orang-orang yang mengerti benar tentang iman Kristen, dan telah mencapai kedewasaan di dalam perkara-perkara Allah. Mereka tidak hanya mengerti tentang kisah hidup Kristus serta diri-Nya yang disalibkan, tetapi juga dapat mengenali semua rancangan hikmat ilahi yang dalam dan mengagumkan. Meskipun apa yang kita beritakan adalah kebodohan bagi dunia, bagi mereka itu adalah hikmat. Oleh pengajaran itu mereka menjadi bijaksana, dan dapat mencerna hikmat yang ada di dalamnya. Bukan hikmat yang dari dunia ini, dan dari penguasa-penguasa dunia ini, melainkan hikmat Allah yang tersembunyi (ay.6-7).

Perhatikan, betapa berbedanya penilaian Allah dengan penilaian dunia ini! Bukan yang dilihat manusia yang dilihat Allah. Hikmat yang diajarkan Paulus berbeda dengan pemikiran yang ada di dunia. Hikmat itu tidak sama dengan hikmat yang dimiliki para ahli politik, filsuf, atau guru-guru agama (lihat ay. 6), tetapi itu adalah hikmat Allah yang tersembunyi dan rahasia. Hikmat itu disimpan-Nya bagi diri-Nya sendiri sebelum ini untuk waktu yang lama, dan dirahasiakan dari dunia. Hikmat itu, yang sekarang telah disingkapkan, kedalamannya tidak dapat diselami oleh siapa pun selain diri-Nya. Itu adalah rahasia yang tersembunyi dari abad ke abad dan dari turunan ke turunan, tetapi yang sekarang dinyatakan kepada orang-orang kudus-Nya (Kol 1:26). Hikmat itu disembunyikan sepenuhnya dari dunia yang kafir, dan dirahasiakan terhadap orang Yahudi, dengan cara dibungkus dalam berbagai perlambang yang kabur dan nubuatan-nubuatan yang samar, tetapi disingkapkan dan diberitahukan kepada kita melalui Roh Allah.

Kemunculan dan asal-usulnya. Hikmat itu telah disediakan Allah bagi kemuliaan kita sebelum dunia dijadikan (ay. 7). Hikmat itu disediakan oleh Allah. Sudah sejak lama Dia menetapkan untuk menyingkapkan dan menjadikannya supaya diketahui. Sejak berabad-abad yang lalu, sejak awal mulanya, bahkan, sejak kekekalan. Dan itu dilakukan-Nya bagi kemuliaan kita, baik kita para rasul maupun kita orang Kristen. Bagi para rasul, merupakan suatu kehormatan besar ketika mereka dipercayakan dengan pengungkapan hikmat itu. Bagi orang Kristen, merupakan hak istimewa yang luar biasa dan terhormat, ketika hikmat yang mulia ini diberitahukan kepada mereka.

Ketidaktahuan orang-orang besar di dunia mengenai hikmat. Tidak ada dari penguasa dunia ini yang mengenalnya (ay. 8), yaitu orang-orang besar yang kuat dan berkuasa, atau yang berhikmat dan berpengetahuan. Agaknya, para pejabat Roma serta para pemimpin jemaat dan bangsa Yahudi adalah orang-orang yang terutama dimaksud di sini. Mereka adalah penguasa dunia ini, atau zaman ini, yang sekiranya mengenal hikmat sorgawi yang sejati ini, tidak akan menyalibkan Tuhan yang mulia. Pilatus dan para pemimpin Yahudi ini sungguh-sungguh melakukannya ketika Penebus kita itu disalibkan karena putusan hukuman yang dijatuhkan oleh Pilatus serta tuntutan yang diseru-serukan oleh para pemimpin Yahudi. Amatilah, Yesus Kristus disebut sebagai Tuhan yang mulia, dan ini sebuah gelar yang terlalu besar untuk disandang oleh makhluk yang mana pun. Dan alasan mengapa Dia dibenci adalah karena orang tidak mengenal Dia. Sekiranya orang-orang yang menyalibkan-Nya mengenal Dia, tahu siapa diri-Nya dan apa jabatan-Nya, tentu mereka akan menahan tangan mereka yang fasik, dan tidak menyentuh serta membunuh-Nya. Inilah alasan permohonan yang diajukan Yesus kepada Bapa-Nya supaya mengampuni mereka: Ya Bapa, ampunilah mereka, sebab mereka tidak tahu apa yang mereka perbuat (Luk 23:34).

Perhatikan, ada banyak hal yang tidak akan dilakukan orang seandainya ia mengenal hikmat Allah di dalam karya penebusan yang luar biasa itu. Mereka berbuat demikian karena mereka buta atau tidak peduli. Mereka tidak mengenal kebenaran, atau tidak mau memperhatikan kebenaran.

Injil hari ini, Katakan ya, jika ya, dan katakan tidak, jika tidak!

Injil Matius 5:17-37, dengan thema:”Katakan ya, jika ya, dan katakan tidak, jika tidak”. Thema ini diambil dari kisah Yesus yang sedang mengajar orang banyak. Dalam ajaran-Nya, Yesus menegaskan:”Janganlah kamu menyangka, bahwa Aku datang untuk meniadakan hukum Taurat atau kitab para nabi. Aku datang bukan untuk meniadakannya, melainkan untuk menggenapinya”. Kata-kata Yesus itu jelas sekali bahwa Yesus merupakan kegenapan wahyu Ilahi, bahwa kehadiran Yesus adalah untuk menggenapi nubuatan-nubuatan hukum Taurat. Oleh karena itu Yesus menegaskan agar kita semua menjalankan kehidupan keagamaan yang lebih baik. Bahkan jika kita tidak lebih baik dari orang Farisi dan ahli Kitab, maka kita tidak bisa ikut ambil bagian dari Kerajaan Allah. Ada begitu banyak Firman telah diajarkan kepada kita sekalian untuk tidak berbuat dosa dengan cara membunuh, berzinah, dan banyak ajaran lainnya agar kita layak untuk memasuki Kerajaan Surga.

Untuk memasuki Kerajaan Surga, tidaklah mudah sebagaimana dibayangkan oleh banyak orang. Ada begitu banyak halangan sehingga orang tidak mudah memasuki Kerajaan Surga. Siapa pun memasuki Kerajaan Surga harus dalam kondisi kudus, atau tanpa cela dosa sedikitpun. Oleh karena untuk memasuki Kerajaan Surga sedemikian susah, maka Yesus meminta agar kita semua berjuang melalui jalan yang sempit untuk memasuki Kerajaan Surga. Salah satu syarat untuk dapat memasuki Kerajaan Surga, adalah kita harus berani melepas hal-hal yang bersifat dunia dan sekaligus bertobat. Tanpa pertobatan sulit dibayangkan bahwa seseorang begitu mudah untuk memasuki Kerajaan Surga. Ada begitu banyak hukum yang diajarkan Allah kepada manusia, agar manusia tidak terjebak dalam lembah dosa. Hukum itu antara lain 10 Perintah Allah, agar manusia mempunyai bekal untuk memasuki Kerajaan Surga, jika tidak melanggarnya.

Sebagaimana thema hari Minggu ini adalah “katakan ya, jika ya, dan katakan tidak, jika tidak”. Ini adalah ketegasan dalam menjalani hidup ini termasuk dalam menjalankan kehidupan keagamaan kita. Ketegasan itu menjadi penting agar kita diombang – ambingkan oleh keadaan karena ketidaktahuan kita.

Hidup pada era sekarang ini, sulit mendapatkan ketegasan dalam menjalani hidup ini ini. Beranikah kita mengatakan tidak jika memang itu tidak, atau mengatakan ya, jika memang ya. Contohnya, sebagaimana kita lihat di tayangan tv atau media, bahwa orang begitu mudah kawin cerai. Pada hal menurut iman Katolik, kawin cerai itu tidak akan terjadi bagi mereka yang seiman. Bahkan menginginkan wanita lain pun, sudah dianggap berzinah di dalam hatinya. Dengan kata lain, kita harus tegas dalam menjalankan hukum Tuhan, jika memang dilarang, maka jangan mencari celah untuk melanggarnya. Tentu ada banyak contoh-contoh lain sebagaimana tertulis di dalam 10 Perintah Allah.

Agar kita dapat memasuki dalam Kerajaan Surga, dibutuhkan kondisi kekudusan hidup. Tanpa itu, sulit untuk memasuki Kerajaan Surga.

“Katakan ya, jika ya, dan katakan tidak, jika tidak” adalah salah satu sarana untuk menuju kepada kekudusan atau kesalehan hidup .

Bagaimana anda? Beranikan anda mengatakan ‘ya, jika ya’, dan mengatakan’ tidak, jika tidak’. Andalah yang menjawabnya.

Doa : Tuhan Yesus, kumohon hikmat dari-Mu, agar aku dapat membedakan apa yang baik dan yang jahat, apa yang sungguh berasal dari-Mu dan yang bukan. Berikanlah kepadaku juga kerendahan hati untuk menerima ajaran Gereja, yang menuntunku untuk memahami ajaran-Mu dalam kepenuhannya. Amin. (Lucas Margono)

februari12

Renungan Sabtu, 11 Februari 2017

Renungan Sabtu, 11 Februari 2017, Hari Biasa, Pekan Biasa V

Bacaan I : Kej 3:9-24

“Tuhan Allah mengusir manusia dari Taman Eden supaya mengolah tanah.”

3:9 Tetapi TUHAN Allah memanggil manusia itu dan berfirman kepadanya: “Di manakah engkau?” 3:10 Ia menjawab: “Ketika aku mendengar, bahwa Engkau ada dalam taman ini, aku menjadi takut, karena aku telanjang; sebab itu aku bersembunyi.” 3:11 Firman-Nya: “Siapakah yang memberitahukan kepadamu, bahwa engkau telanjang? Apakah engkau makan dari buah pohon, yang Kularang engkau makan itu?” 3:12 Manusia itu menjawab: “Perempuan yang Kautempatkan di sisiku, dialah yang memberi dari buah pohon itu kepadaku, maka kumakan.” 3:13     Kemudian berfirmanlah TUHAN Allah kepada perempuan itu: “Apakah yang telah kauperbuat ini?” Jawab perempuan itu: “Ular itu yang memperdayakan aku, maka kumakan.” 3:14 Lalu berfirmanlah TUHAN Allah kepada ular itu: “Karena engkau berbuat demikian, terkutuklah engkau di antara segala ternak dan di antara segala binatang hutan; dengan perutmulah engkau akan menjalar dan debu tanahlah akan kaumakan seumur hidupmu. 3:15 Aku akan mengadakan permusuhan antara engkau dan perempuan ini, antara keturunanmu dan keturunannya; keturunannya akan meremukkan kepalamu, dan engkau akan meremukkan tumitnya.” 3:16 Firman-Nya kepada perempuan itu: “Susah payahmu waktu mengandung akan Kubuat sangat banyak; dengan kesakitan engkau akan melahirkan anakmu; namun engkau akan berahi kepada suamimu dan ia akan berkuasa atasmu.” 3:17 Lalu firman-Nya kepada manusia itu: “Karena engkau mendengarkan perkataan isterimu dan memakan dari buah pohon, yang telah Kuperintahkan kepadamu: Jangan makan dari padanya, maka terkutuklah tanah karena engkau; dengan bersusah payah engkau akan mencari rezekimu dari tanah seumur hidupmu: 3:18 semak duri dan rumput duri yang akan dihasilkannya bagimu, dan tumbuh-tumbuhan di padang akan menjadi makananmu; 3:19 dengan berpeluh engkau akan mencari makananmu, sampai engkau kembali lagi menjadi tanah, karena dari situlah engkau diambil; sebab engkau debu dan engkau akan kembali menjadi debu.” 3:20 Manusia itu memberi nama Hawa kepada isterinya, sebab dialah yang menjadi ibu semua yang hidup. 3:21 Dan TUHAN Allah membuat pakaian dari kulit binatang untuk manusia dan untuk isterinya itu, lalu mengenakannya kepada mereka. 3:22 Berfirmanlah TUHAN Allah: “Sesungguhnya manusia itu telah menjadi seperti salah satu dari Kita, tahu tentang yang baik dan yang jahat; maka sekarang jangan sampai ia mengulurkan tangannya dan mengambil pula dari buah pohon kehidupan itu dan memakannya, sehingga ia hidup untuk selama-lamanya.” 3:23 Lalu TUHAN Allah mengusir dia dari taman Eden supaya ia mengusahakan tanah dari mana ia diambil. 3:24 Ia menghalau manusia itu dan di sebelah timur taman Eden ditempatkan-Nyala beberapa kerub dengan pedang yang bernyala-nyala dan menyambar-nyambar, untuk menjaga jalan ke pohon kehidupan.

Mazmur 90:2.3-4.5-6.12-13, do = c, 2/4, PS 847

Ref. Tuhan penjaga dan benteng perkasa dalam lindungan-Nya aman sentosa.
Atau: Tuhan, Engkaulah tempat perlindungan kami turun-menurun.

*    Sebelum gunung-gunung dilahirkan, sebelum bumi dan dunia diperanakkan, bahkan dari sediakala sampai selama-lamanya Engkaulah Allah.

*    Engkau mengembalikan manusia kepada debu, hanya dengan berkata, “Kembalilah, hai anak-anak manusia!” Sebab di mata-Mu seribu tahun sama seperti hari kemarin atau seperti satu giliran jaga di waktu malam.

*    Engkau menghanyutkan manusia seperti orang mimpi seperti rumput yang bertumbuh: di waktu pagi tumbuh dan berkembang, di waktu petang sudah lisut dan layu.

*    Ajarlah kami menghitung hari-hari kami, hingga kami beroleh hati yang bijaksana. Kembalilah, ya Tuhan, -berapa lama lagi? – dan sayangilah hamba-hamba-Mu!

Bait Pengantar Injil
Ref. Alleluya
Ayat. (Mat 4:4)
Manusia hidup bukan saja dari makanan, melainkan juga dari setiap sabda Allah

Bacaan Injil : Markus 8:1-10

“Mereka semua makan sampai kenyang.”

8:1 Pada waktu itu ada pula orang banyak di situ yang besar jumlahnya, dan karena mereka tidak mempunyai makanan, Yesus memanggil murid-murid-Nya dan berkata: 8:2 “Hati-Ku tergerak oleh belas kasihan kepada orang banyak ini. Sudah tiga hari mereka mengikuti Aku dan mereka tidak mempunyai makanan. 8:3         Dan jika mereka Kusuruh pulang ke rumahnya dengan lapar, mereka akan rebah di jalan, sebab ada yang datang dari jauh.” 8:4 Murid-murid-Nya menjawab: “Bagaimana di tempat yang sunyi ini orang dapat memberi mereka roti sampai kenyang?” 8:5 Yesus bertanya kepada mereka: “Berapa roti ada padamu?” Jawab mereka: “Tujuh.” 8:6 Lalu Ia menyuruh orang banyak itu duduk di tanah. Sesudah itu Ia mengambil ketujuh roti itu, mengucap syukur, memecah-mecahkannya dan memberikannya kepada murid-murid-Nya untuk dibagi-bagikan, dan mereka memberikannya kepada orang banyak. 8:7 Mereka juga mempunyai beberapa ikan, dan sesudah mengucap berkat atasnya, Ia menyuruh supaya ikan itu juga dibagi-bagikan. 8:8      Dan mereka makan sampai kenyang. Kemudian orang mengumpulkan potongan-potongan roti yang sisa, sebanyak tujuh bakul. 8:9 Mereka itu ada kira-kira empat ribu orang. Lalu Yesus menyuruh mereka pulang. 8:10 Ia segera naik ke perahu dengan murid-murid-Nya dan bertolak ke daerah Dalmanuta.

Renungan :

Berpakaian. 

Ketika Tuhan berjalan-jalan di taman, langkah-langkah Allah terdengar bagaikan jejak-jejak penghakiman bagi manusia yang baru makan buah curian. Mereka bersembunyi. Allah bertanya kepada manusia, “Di manakah engkau?” Dua hal bisa kita amati di sini. Pertama, hubungan antara Allah dan manusia setelah kejatuhan dimulai dengan pertanyaan Allah kepada manusia. Pahamilah bahwa ketika kita jatuh ke dalam dosa, Allah menanyakan di mana diri kita. Kedua, arti dari “di mana” bukan hanya geografis, tetapi menanyakan posisi. Di mana posisi manusia setelah jatuh ke dalam dosa? Apakah ia memihak atau melawan Allah?

Adam menyalahkan Allah karena menciptakan wanita, dan Adam menyalahkan Hawa karena membuatnya jatuh ke dalam dosa. Yang satu (ayat 2:24) tidak lagi satu, terputus oleh pertikaian. Hawa menyalahkan ular. Ular tak bisa menyalahkan siapa-siapa. Ternyata memang ia memperdayakan Hawa. Lalu, mereka dihukum. Kalau Adam berasal dari debu, maka ia akan kembali kepada debu. Pekerjaannya akan menjadi lebih sulit. Kalau Hawa berasal dari Adam, ia akan ditundukkan oleh Adam, dan kesulitan melahirkan. Ular akan merayap di tanah, sebuah kehinaan. Manusia terpisah dari Allah, dari sesamanya, dari dirinya, dan dari alam.

Dalam proses kejatuhan manusia, ular (binatang) seakan-akan menjadi berada di atas manusia. Tuhan menjanjikan bahwa posisi ini akan dibalik: manusia akan menang terhadap binatang (ayat 15). Ayat ini bisa kita tafsirkan menuju penggenapan kemenangan Kristus melawan dosa dan Iblis. Lalu manusia diusir keluar dari taman Eden. Kemudian, Allah membuatkan mereka “pakaian” dari kulit binatang, suatu tanda bahwa hanya darah yang bisa menyelamatkan mereka dari ketelanjangan.

Renungkan: Pakaian Anda yang indah menunjukkan keberdosaan Anda. Hanya darah Kristus yang bisa menutupi ketelanjangan Anda dan membasuh kecemaran Anda!

Mazmur, Semua karena Allah.

Setiap orang takjub bila mendengarkan pengalaman Musa membawa keluar bangsa Israel di bawah pimpinan Allah. Pada akhirnya semua akan berkesimpulan sama: kalau bukan karena kemahakuasaan Allah, perbudakan takkan pernah lepas dari hidup bangsa Israel generasi ke generasi; kalau bukan karena Allah, bangsa Israel akan dihancurmusnahkan tentara Firaun yang kejam, terlatih dan tangkas; kalau bukan karena pemeliharaan Allah, bangsa Israel takkan lepas dari bahaya kelaparan dan kehausan; kalau bukan karena kedaulatan Allah, takkan mampu Musa menyanyikan pengalamannya yang maha besar itu.

Allah tempat perlindungan. Musa menyanyikan kuasa Allah yang maha besar yang dapat mengalahkan segala bentuk ancaman. Pengalaman perjalanan hidupnya telah memperlihatkan dan mengajarkan bahwa sekalipun kasih dan kedaulatan Allah itu dahsyat dan menggelegar, namun Ia berkenan menjadi tempat berlindung.

Mengaku kelemahan diri. Nyanyian yang dimulai dengan pujian dan pernyataan kasih Allah, diikuti ungkapan kesadaran Musa akan lemah dan piciknya pikiran manusia. Mazmur ini mengingatkan bahwa Tuhan Yesus Kristus menghampiri dan membebaskan kita dari kehinaan dan perbudakan dosa.

Injil hari ini, Tetap beriman

Pengalaman adalah guru yang paling baik, demikian kata pepatah. Melalui pengalaman, seharusnya orang bisa mempelajari banyak hal.

Pengalaman murid-murid Yesus ketika melihat mukjizat pemberian makan untuk lima ribu orang rupanya tidak membuat mereka belajar mengenal Yesus. Sudah tiga hari orang banyak mengikuti Yesus, tetapi murid-murid tidak mengingatkan Dia bahwa orang banyak itu perlu makan. Tampaknya belum peka hati mereka terhadap orang banyak. Ketika Yesus menyatakan belas kasihan-Nya kepada orang banyak itu, murid-murid tidak memberikan tanggapan positif. Meski perkataan Yesus seharusnya mengusik mereka, para murid melupakan bahwa Yesus berkuasa dan mampu melakukan apa yang tidak mungkin dilakukan manusia biasa. Mereka apatis dan pasif. Seolah tidak mau susah-susah memikirkan bagaimana mereka bisa memberi makan orang sejumlah empat ribu di tempat yang terpencil seperti itu. Betapa sabar Yesus menghadapi murid-murid-Nya yang kurang beriman dan kurang kenal hati-Nya. Meski mereka melupakan pelajaran yang telah Dia berikan, Dia bersedia mengulanginya kembali agar murid-murid-Nya sungguh-sungguh mengenal Dia.

Dalam Injil Markus ada dua kisah mengenai Yesus memberi makan ribuan orang, yaitu Mrk 6:30-44 dan Mrk 8:1-10. Menarik untuk melihat perbedaan kisah itu. Pada kisah pertama lokasi di sekitar Betsaida (lih. Luk 9:10), wilayah orang Yahudi, dengan jumlah massa 5000 orang laki-laki. Mukjizat itu dilakukan melalui lima roti dan dua ikan, dan setelah itu, masih tersisa 12 belas bakul penuh.

Pada kisah kedua, lokasi di daerah Dekapolis, wilayah non-Yahudi. Jumlah massa lebih sedikit, kira-kira 4000 orang. Berbeda dengan kisah pertama, jumlah roti yang dipakai tujuh dan hanya beberapa ikan. Sisa makanan pun lebih sedikit, tujuh bakul potongan-potongan roti. Di sini Markus ingin menunjukkan, seperti Israel, bangsa-bangsa non-Yahudi juga menerima keselamatan secara penuh.

Bangsa-bangsa non-Yahudi tak lagi menerima remah-remah di bawah meja seperti pengalaman perempuan Siro- Fenisia, tetapi roti utuh yang diterima mereka. Yang harus dicermati dalam kedua kisah ini ialah inisiatif selalu dimulai dari Allah, dari Yesus yang “tergerak hati-Nya oleh belas kasihan.” Gerakan hati Allah inilah yang menjadi motor keselamatan..

Mungkin kita heran, begitu cepatkah para murid melupakan mukjizat Yesus yang menakjubkan itu? Bukankah peristiwa itu begitu luar biasa dan sulit dilupakan? Namun mari kita menengok ke dalam diri kita sendiri. Cobalah mengingat-ingat perkara-perkara yang Tuhan telah lakukan bagi kita. Sudah berapa kali doa kita dijawab Tuhan? Sudah berapa kali Tuhan menolong kita? Bukankah setelah itu pun masih ada masa-masa kita merasa apatis, putus asa, atau mengira bahwa Tuhan tidak akan menolong? Lalu harus bagaimana? Tetap labuhkan jangkar iman Anda pada Dia. Tetaplah berjalan memegang tangan-Nya meski keraguan terkadang menggoda Anda. Dia adalah Guru yang setia, yang senantiasa sabar untuk membimbing kita tetap beriman pada-Nya.

DOA: Tuhan Yesus, tariklah kami agar mendekat pada-Mu dan segarkanlah kami dengan makanan surgawi dari-Mu. Lipat-gandakanlah rahmat-Mu dalam diri kami semua sehingga kami diberdayakan untuk berbagi kasih-Mu dengan orang-orang di sekeliling kami. Tuhan Yesus, jadikanlah hati kami seperti hati-Mu. Amin. (Lucas Margono)

februari11

Renungan Jumat, 10 Februari 2017

Renungan Jumat, 10 Februari 2017, Pw. S Skolastika, Prw, Pekan Biasa V

Bacaan I : Kej 3:1-8

“Kamu akan menjadi seperti Allah, tahu tentang yang baik dan yang jahat.”

3:1 Adapun ular ialah yang paling cerdik dari segala binatang di darat yang dijadikan oleh TUHAN Allah. Ular itu berkata kepada perempuan itu: “Tentulah Allah berfirman: Semua pohon dalam taman ini jangan kamu makan buahnya, bukan?” 3:2 Lalu sahut perempuan itu kepada ular itu: “Buah pohon-pohonan dalam taman ini boleh kami makan, 3:3 tetapi tentang buah pohon yang ada di tengah-tengah taman, Allah berfirman: Jangan kamu makan ataupun raba buah itu, nanti kamu mati.” 3:4    Tetapi ular itu berkata kepada perempuan itu: “Sekali-kali kamu tidak akan mati, 3:5 tetapi Allah mengetahui, bahwa pada waktu kamu memakannya matamu akan terbuka, dan kamu akan menjadi seperti Allah, tahu tentang yang baik dan yang jahat.” 3:6 Perempuan itu melihat, bahwa buah pohon itu baik untuk dimakan dan sedap kelihatannya, lagipula pohon itu menarik hati karena memberi pengertian. Lalu ia mengambil dari buahnya dan dimakannya dan diberikannya juga kepada suaminya yang bersama-sama dengan dia, dan suaminyapun memakannya.  3:7 Maka terbukalah mata mereka berdua dan mereka tahu, bahwa mereka telanjang; lalu mereka menyemat daun pohon ara dan membuat cawat. 3:8      Ketika mereka mendengar bunyi langkah TUHAN Allah, yang berjalan-jalan dalam taman itu pada waktu hari sejuk, bersembunyilah manusia dan isterinya itu terhadap TUHAN Allah di antara pohon-pohonan dalam taman.

Mazmur 32:1-2.5.6.7

Ref. Berbahagialah orang, yang pelanggarannya diampuni.

*    Berbahagialah orang yang pelanggarannya diampuni dan dosa-dosanya ditutupi! Berbahagialah orang yang kesalahannya tidak diperhitungkan Tuhan, dan tidak berjiwa penipu!

*    Akhirnya dosa-dosaku kuungkapkan kepada-Mu dan kesalahanku tidaklah kusembunyikan; aku berkata, “Aku akan menghadap Tuhan, dan mengakui segala pelanggaranku.” Maka Engkau sudah mengampuni kesalahanku.

*    Sebab itu hendaklah setiap orang saleh berdoa kepada-Mu, selagi ditimpa kesesakan; kendati banjir besar terjadi ia tidak akan terlanda.

*    Engkaulah persembunyian bagiku, ya Tuhan! Engkau menjagaku terhadap kesesakan Engkau melindungi aku, sehingga aku luput dan bersorak.

Bait Pengantar Injil
Ref. Alleluya
Ayat. (Kis 16:14b)
Ya Allah, bukalah hati kami, agar kami memperhatikan sabda Anak-Mu. 

Bacaan Injil : Markus 7:31-37  

“Yang tuli dijadikan-Nya mendengar, yang bisu dijadikan-Nya berbicara.”

7:31 Kemudian Yesus meninggalkan pula daerah Tirus dan dengan melalui Sidon pergi ke danau Galilea, di tengah-tengah daerah Dekapolis. 7:32 Di situ orang membawa kepada-Nya seorang yang tuli dan yang gagap dan memohon kepada-Nya, supaya Ia meletakkan tangan-Nya atas orang itu.7:33 Dan sesudah Yesus memisahkan dia dari orang banyak, sehingga mereka sendirian, Ia memasukkan jari-Nya ke telinga orang itu, lalu Ia meludah dan meraba lidah orang itu. 7:34 Kemudian sambil menengadah ke langit Yesus menarik nafas dan berkata kepadanya: “Efata!”, artinya: Terbukalah! 7:35 Maka terbukalah telinga orang itu dan seketika itu terlepas pulalah pengikat lidahnya, lalu ia berkata-kata dengan baik. 7:36 Yesus berpesan kepada orang-orang yang ada di situ supaya jangan menceriterakannya kepada siapapun juga. Tetapi makin dilarang-Nya mereka, makin luas mereka memberitakannya. 7:37 Mereka takjub dan tercengang dan berkata: “Ia menjadikan segala-galanya baik, yang tuli dijadikan-Nya mendengar, yang bisu dijadikan-Nya berkata-kata.”

Renungan :

Telanjang. 

Manusia itu miskin: telanjang. Namun, dalam ketelanjangannya ia kaya karena kemuliaan Allah terpancar membungkus badannya. Mereka mula-mula telanjang, namun mereka tidak malu — lagi pula, mengapa kemuliaan membuat malu? Kisah ini tidak berhenti dalam kemapanan dalam situasi taman tanpa cela. Narasi bergerak menuntun kita masuk ke dalam adegan-adegan mencengangkan.

Ular tokoh perantara, alat sastra penulis untuk membawa kita memahami pesan-pesan teologis yang dalam. Tidak jelas bagaimana ular itu mengetahui akibat dari memakan buah pohon pengetahuan yang baik dan yang jahat (apakah ia sudah mencicipinya?). Kita juga tidak mengetahui motivasinya berbicara kepada Hawa. Namun, ada kemungkinan bahwa ular memang sengaja memutar-balikkan perkataan Allah dengan motivasi yang masih merupakan misteri bagi kita (memperdayakankah ia [lih.3:14-14]?).

Ular menambahi perkataan Tuhan karena sebenarnya Tuhan tidak melarang Hawa untuk makan segala macam buah. Tentu ada kesan tertentu yang ular itu ingin timbulkan dalam diri Hawa terhadap Allah. Arti dari “pengetahuan yang baik dan yang jahat” mengacu ke pengetahuan yang utuh bahkan sempurna, baik di dalam pemahaman maupun pengalaman, baik intelektual maupun moral — atau lebih keras lagi dapat dikatakan mahatahu. Hawa tergoda untuk menjadi mahatahu seperti Allah, dan tidak mau tunduk kepada Allah lagi. Ia tidak puas dengan keadaannya sendiri. Adam pun demikian, ia tidak puas menjadi manusia — ia ingin melompat ke atas!

Iblis telah “jatuh ke atas” (Confessiones, St. Augustine). Manusia pun telah jatuh ke atas mengikuti anjuran iblis. Ketika sadar bahwa mereka telanjang, mereka malu dan membuat pakaian: menjadi kaya, namun sebenarnya miskin sebab keluar dari kehendak Allah.

Renungkan: Jadilah kaya dengan menjadi puas terhadap anugerah Tuhan bagi diri Anda sekarang.

Mazmur, Kebahagiaan hanya masalah pilihan.

Setiap manusia sepanjang zaman berusaha dengan segala daya upaya untuk mendapatkan kebahagiaan hidup. Bahkan ada yang bekerja tanpa mengenal waktu dan menomorduakan keluarga agar meraih promosi jabatan, karena mereka berpikir bahwa kebahagiaan akan didapatkan jika mereka bergelimang harta dan meraih kedudukan tinggi. Setelah meraih semua itu, bukan kebahagiaan yang ia dapatkan namun penyakit karena stress dan bekerja terlalu keras. Lalu dimanakah kebahagiaan?

Sesungguhnya kebahagiaan bukanlah hal yang sulit digapai oleh manusia. Daud sudah membuktikan. Ia menemukan kebahagiaan bukan dalam kekayaan, kedudukan, dan kekuasaan yang ia miliki namun dalam pilihan bijak yang ia tetapkan. Ia memilih untuk bertobat dan mohon ampun dari Allah maka ia menemukan kebahagiaan (1-2, 5). Orang yang menyadari dosanya namun tidak bertobat tidak akan mengalami kedamaian hati namun justru tekanan (3- 4). Ia juga memilih untuk menggantungkan hidupnya kepada Allah (7). Walaupun tekanan dan kesulitan tetap melandanya, ia tidak sendiri sebab Allahlah tempat perlindungannya (6). Yang terakhir ia memilih untuk menaati perintah Allah bukan seperti kuda atau bagal yang terkenal senang membangkang. Pilihannya yang terakhir adalah sangat tepat sebab orang fasik akan mengalami derita bukan selalu secara fisik, namun yang pasti secara hati dan jiwa karena hanya orang yang sudah dipulihkan hubungannya dengan Allah yang akan merasakan damai sejahtera yang sesungguhnya.

Kebahagiaan yang diajarkan oleh Daud adalah kebahagiaan yang sejati sebab tidak tergantung dari situasi dan kondisi dirinya, masyarakat sekitar maupun lingkungannya. Bencana dan derita apa pun boleh menimpanya namun karena pilihannya, ia tetap dapat bersukacita dan bersorak-sorai (11).

Renungkan: Karena itu apa sebenarnya yang Anda cari dengan bekerja keras tanpa batas hingga mengalami stres dan gangguan kesehatan yang serius? Uang, rumah, mobil mewah, atau kedudukan? Daud sudah membuktikan bahwa itu semua tidak membawa kebahagiaan. Tentukanlah apakah Anda mau memilih apa yang Daud pilih. Jika ya maka kebahagiaan sejati tidak jauh dari hidup Anda.

Injil hari ini, Di dalam kesunyian. 

Kita ada di dalam dunia ini tanpa bisa memilih untuk tidak ada. Meskipun kita adalah manusia yang bebas untuk memilih, tetapi kita tak bisa lari dari hal-hal yang dipilihkan untuk kita oleh kehidupan.

Yesus berangkat lagi ke Danau Galilea. Ada seorang yang tuli dan gagap dibawa kepada-Nya — kemungkinan bahwa ia tidak bisu dan tuli sejak lahir, tetapi ia pernah menderita sakit suatu waktu dalam kehidupannya. Orang-orang membawanya kepada Yesus supaya Ia memberkatinya — dan mereka tercengang karena Yesus bukan hanya memberkati orang itu, tetapi juga menyembuhkannya!

Demonstrasi yang dilakukan Yesus menunjukkan modus yang berbeda dari biasanya. Ia bisa saja berkata-kata dan orang itu sembuh seketika. Namun, di sini ia memakai jari dan ludah-Nya untuk menyembuhkan orang tersebut. Dalam tradisi Yunani dan Yahudi, ludah dianggap memiliki kekuatan menyembuhkan. Yesus ingin meyakinkan orang itu akan kekuasaan-Nya. Tentu saja, perintah agar telinganya terbukalah yang memulihkan orang itu — ia berbicara dengan baik.

Kontras dengan ahli-ahli Taurat yang banyak berbicara dan aktif, orang ini diam dalam kesunyian dan pasif. Namun, di dalam kesunyian ia menemukan Allah. Kita menemukan satu hal yang penting di sini, bahwa keagamaan dan doktrin-doktrin serta peraturan-peraturan kaku adalah suatu penghalang bagi kita untuk menjadi naif, penghalang bagi Allah untuk hadir menyentuh keberadaan kita sekarang dan di sini. Yesus menunjukkan bahwa keterlemparan orang itu ke dalam kehidupan dan ke dalam penyakitnya, serta iman yang melampaui doktrin, menjadi bagian dari kehidupan yang perlu kita jalani sehari-hari.

Renungkan: Saat ini mungkin Anda hanya bisa pasrah menerima realitas kehidupan yang kadang memuakkan. Dalam kesunyian dan iman, biarlah Allah menghampiri Anda.

DOA: Tuhan Yesus syukur bagiMu karena Engkau senantiasa dekat denganku. Berkenanlah Engkau membuka telinga hati dan budiku serta membuat lidahku mampu mewartakan sabdaMu. Berilah aku kemampuan untuk dapat menyentuh hati orang lain dengan kehangatan kasih yang dalam. Terpujilah Engkau Tuhan kini dan sepanjang masa. Amin.(Lucas Margono)

februari10

Renungan Kamis, 9 Februari 2017

Renungan Kamis, 9 Februari 2017, Hari Biasa, Pekan Biasa V

Bacaan I : Kej 2:18-25

“Tuhan membawa Hawa kepada Adam, dan keduanya menjadi satu daging.”   

2:18 TUHAN Allah berfirman: “Tidak baik, kalau manusia itu seorang diri saja. Aku akan menjadikan penolong baginya, yang sepadan dengan dia.” 2:19 Lalu TUHAN Allah membentuk dari tanah segala binatang hutan dan segala burung di udara. Dibawa-Nyalah semuanya kepada manusia itu untuk melihat, bagaimana ia menamainya; dan seperti nama yang diberikan manusia itu kepada tiap-tiap makhluk yang hidup, demikianlah nanti nama makhluk itu. 2:20  Manusia itu memberi nama kepada segala ternak, kepada burung-burung di udara dan kepada segala binatang hutan, tetapi baginya sendiri ia tidak menjumpai penolong yang sepadan dengan dia. 2:21 Lalu TUHAN Allah membuat manusia itu tidur nyenyak; ketika ia tidur, TUHAN Allah mengambil salah satu rusuk dari padanya, lalu menutup tempat itu dengan daging. 2:22 Dan dari rusuk yang diambil TUHAN Allah dari manusia itu, dibangun-Nyalah seorang perempuan, lalu dibawa-Nya kepada manusia itu. 2:23 Lalu berkatalah manusia itu: “Inilah dia, tulang dari tulangku dan daging dari dagingku. Ia akan dinamai perempuan, sebab ia diambil dari laki-laki.” 2:24 Sebab itu seorang laki-laki akan meninggalkan ayahnya dan ibunya dan bersatu dengan isterinya, sehingga keduanya menjadi satu daging. 2:25 Mereka keduanya telanjang, manusia dan isterinya itu, tetapi mereka tidak merasa malu.

Mazmur 128:1-2.3.4-5

Ref. Berbahagialah orang yang takwa pada Tuhan

*    Berbahagialah orang yang takwa pada Tuhan, yang hidup menurut jalan yang ditunjukkan-Nya! Apabila engkau menikmati hasil jerih payahmu, berbahagialah engkau dan baiklah keadaanmu!

*    Isterimu akan menjadi laksana pohon anggur subur di dalam rumahmu; anak-anakmu seperti tunas pohon zaitun di sekeliling mejamu!

*    Sungguh, demikianlah akan diberkati Tuhan orang laki-laki yang takwa hidupnya. Kiranya Tuhan memberkati engkau dari Sion; boleh melihat kebahagiaan Yerusalem seumur hidupmu.

Bait Pengantar Injil
Ref. Alleluya.
Ayat. Terimalah dengan lemah lembut sabda Allah yang tertanam dalam hatimu, sebab sabda itu berkuasa menyelamatkan kamu.

Bacaan Injil : Markus 7:24-30

“Anjing-anjing pun makan remah-remah yang dijatuhkan anak-anak.”

7:24 Lalu Yesus berangkat dari situ dan pergi ke daerah Tirus. Ia masuk ke sebuah rumah dan tidak mau bahwa ada orang yang mengetahuinya, tetapi kedatangan-Nya tidak dapat dirahasiakan. 7:25 Malah seorang ibu, yang anaknya perempuan kerasukan roh jahat, segera mendengar tentang Dia, lalu datang dan tersungkur di depan kaki-Nya. 7:26 Perempuan itu seorang Yunani bangsa Siro-Fenisia. Ia memohon kepada Yesus untuk mengusir setan itu dari anaknya. 7:27 Lalu Yesus berkata kepadanya: “Biarlah anak-anak kenyang dahulu, sebab tidak patut mengambil roti yang disediakan bagi anak-anak dan melemparkannya kepada anjing.” 7:28 Tetapi perempuan itu menjawab: “Benar, Tuhan. Tetapi anjing yang di bawah meja juga makan remah-remah yang dijatuhkan anak-anak.” 7:29 Maka kata Yesus kepada perempuan itu: “Karena kata-katamu itu, pergilah sekarang sebab setan itu sudah keluar dari anakmu.” 7:30     Perempuan itu pulang ke rumahnya, lalu didapatinya anak itu berbaring di tempat tidur, sedang setan itu sudah keluar.

Renungan :

Mengapa harus ada dua gender? 

Mungkin pertanyaan ini pernah terbersit di benak Anda yang telah merasakan “dinamika” hubungan antara pria dan wanita. Jelas hanya Tuhan yang bisa menjawab pertanyaan ini. Nas ini memberikan kita kisi-kisi agar dapat melihat jawaban dari pertanyaan di atas dalam cara yang, secara mengejutkan, agak humoris.

Dalam nada agak humoris, pria menjadi sosok yang tidak menemukan pendamping yang sepadan setelah suatu fit and proper test yang ketat terhadap semua ciptaan nonhomo sapien (ayat 20). Allah kemudian tampil sebagai pahlawan dengan menciptakan wanita sebagai satu-satunya yang bisa mengisi peran pendamping yang sepadan itu (ayat 21-22). Tetapi, Allah melakukan ini setelah suatu penilaian yang mengejutkan: keadaan ‘pria’ yang sendirian itu tidak baik! (ayat 18) Dengan kata lain, manusia itu (Ibrani: ha’adam) tidak lengkap tanpa wanita. Narator kisah ini menutup kisah ini dengan menuliskan bagaimana kisah ini menjadi dasar bagi institusi pernikahan. Tetapi, poin utamanya yaitu bahwa kedua pihak, pria dan wanita, adalah makhluk-makhluk yang diciptakan Allah untuk saling melengkapi dan saling menolong. Karena itu, fakta bahwa pasangan hidup, pacar, ataupun rekan kerja/sepelayanan Anda yang berbeda gender, berbeda cara berpikir, bertindak, dan seterusnya. adalah sesuatu yang justru harus kita syukuri.

Renungkan: Perbedaan gender adalah karya Allah, dan relasi yang terjadi di antara keduanya mencerminkan gambar Allah dan kasih-Nya yang agung.

Mazmur, Keluarga bahagia

Berkat atas rumah tangga dimulai dari kehidupan pribadi yang benar di hadapan Tuhan: hidup takut akan Tuhan dan hidup menurut jalan yang ditunjukkan-Nya. Sikap hidup seperti ini harus dimulai dari masing-masing pribadi anggota keluarga, sehingga keluarganya bahagia. Seorang suami sebagai kepala keluarga mengambil peran pemimpin rohani bagi keluarganya. Secara pribadi, seharusnya ia memiliki kehidupan yang berkenan kepada Tuhan, sehingga dapat mengarahkan keluarganya kepada jalan-Nya.

Keluarga bahagia. Di sini digambarkan seorang suami yang hidup benar di hadapan Tuhan dan memenuhi tanggungjawabnya sebagai kepala keluarga. Ia memiliki istri dan keturunan yang membahagiakan keluarganya. Istrinya akan menjadi seorang wanita yang menyenangkan hati suami dan anak-anaknya, sehingga suasana rumah damai dan nyaman. Demikian pula dengan anak-anaknya, kelak akan menjadi pewaris keluarga yang berguna.

Berkat yang benar dari Zion. Tuhan akan mencurahkan berkat-Nya atas rumah tangga yang menjaga kebenaran hidupnya di hadapan Tuhan, sehingga kebahagiaan sejati menjadi bagian dari kehidupan mereka.

Renungkan: Sudahkah keluarga Anda hidup takut akan Tuhan sehingga diberkati Tuhan?

Injil hari ini, Doa orang beriman

Kedatangan Yesus di daerah Tirus (kafir), walau diam-diam ternyata diketahui juga. Seorang perempuan Siro-Fenisia tidak dapat menahan diri untuk bertemu Yesus (ayat 25). Ada beban berat yang mendorong dia datang. Anak perempuannya dirasuk setan (ayat 26). Maka saat mendengar bahwa Yesus datang ke daerahnya, tanpa buang waktu ia segera menemui Yesus. Jawaban Yesus ternyata tidak sesuai harapan (ayat 27). Yesus menyebut dia sebagai anjing yang tidak layak menerima makanan yang disediakan bagi anak-anak. Bangsa Israel memang menyebut bangsa-bangsa kafir anjing, karena mereka dianggap najis. Yesus tidak menghina, Ia hanya mengingatkan posisi nonYahudi, yang tidak termasuk dalam perjanjian Allah. Namun si perempuan tidak mundur karena pernyataan ini. Ia sadar siapa dirinya. Ia memang tidak termasuk bangsa Israel yang dilayakkan untuk menerima kasih karunia Tuhan. Namun justru kesadaran itulah yang membuat dia berani berargumen dan meminta \’remah-remah\’ kasih karunia itu. Dan iman yang gigih ini diperkenan Tuhan. Kerendahan hati membuat harapannya dikabulkan (ayat 29-30).

Pernahkah kita berdoa sedemikian gigih buat orang lain, siapapun dia? Kegigihan dalam berdoa memang perlu. Lamanya menanti jawaban doa kadang-kadang membuat kita merasa tidak ada gunanya berdoa lebih lama lagi. Apalagi bila kita melihat bahwa orang yang kita doakan tetap saja hidup dalam dosa. Namun mari kita bayangkan betapa bersukacitanya perempuan itu ketika menemukan anaknya sudah dapat tidur karena setan sudah tidak lagi merasuki anaknya. Imannya kepada Kristus dan kegigihannya membuat ia mendapatkan apa yang ia minta dari Tuhan.

Marilah kita tetap bertahan dalam doa-doa kita bagi orang lain. Sebutlah tiap nama yang kita ingin doakan, yang keras, yang berkelakuan paling buruk, maupun yang paling sulit untuk percaya pada Kristus. Mungkin saja kita tidak dapat dengan segera melihat jawaban Tuhan. Namun jangan putus asa, karena Tuhan pasti mendengar kita.

DOA: Tuhan Yesus, terima kasih penuh syukur kuhaturkan kepada-Mu untuk kasih-Mu dan belas-kasihan-Mu kepada-Ku. Oleh Roh Kudus-Mu, tunjukkanlah kepadaku bagaimana aku dapat menjadi saksi-Mu yang tangguh. Anugerahkanlah kepadaku keberanian dan hikmat-kebijaksanaan untuk melayani Gereja-Mu. Amin. (Lucas Margono)
februari9

 

 

Renungan Rabu, 8 Februari 2017

Renungan Rabu, 8 Februari 2017, Hari Biasa, Pekan Biasa V

Bacaan I : Kej 2:4b-9,15-17

“Tuhan Allah mengambil manusia dan menempatkannya di Taman Eden.

2:4 Demikianlah riwayat langit dan bumi pada waktu diciptakan. Ketika TUHAN Allah menjadikan bumi dan langit, 2:5 belum ada semak apapun di bumi, belum timbul tumbuh-tumbuhan apapun di padang, sebab TUHAN Allah belum menurunkan hujan ke bumi, dan belum ada orang untuk mengusahakan tanah itu; 2:6 tetapi ada kabut naik ke atas dari bumi dan membasahi seluruh permukaan bumi itu? 2:7 ketika itulah TUHAN Allah membentuk manusia itu dari debu tanah dan menghembuskan nafas hidup ke dalam hidungnya; demikianlah manusia itu menjadi makhluk yang hidup.

2:8 Selanjutnya TUHAN Allah membuat taman di Eden, di sebelah timur; disitulah ditempatkan-Nya manusia yang dibentuk-Nya itu. 2:9 Lalu TUHAN Allah menumbuhkan berbagai-bagai pohon dari bumi, yang menarik dan yang baik untuk dimakan buahnya; dan pohon kehidupan di tengah-tengah taman itu, serta pohon pengetahuan tentang yang baik dan yang jahat.

2:15 TUHAN Allah mengambil manusia itu dan menempatkannya dalam taman Eden untuk mengusahakan dan memelihara taman itu. 2:16 Lalu TUHAN Allah memberi perintah ini kepada manusia: “Semua pohon dalam taman ini boleh kaumakan buahnya dengan bebas, 2:17 tetapi pohon pengetahuan tentang yang baik dan yang jahat itu, janganlah kaumakan buahnya, sebab pada hari engkau memakannya, pastilah engkau mati.”

Mazmur 104:1-2a.27-28.29b-30

Ref. Pujilah Tuhan, hai jiwaku!

*    Pujilah Tuhan, hai jiwaku! Tuhan, Allahku, Engkau sungguh besar! Engkau berpakaian keagungan dan semarak, berselimutkan terang ibarat mantol.

*    Semuanya menantikan Engkau, untuk mendapatkan makanan pada waktunya. Apabila Engkau memberikannya, mereka memungutnya; apabila Engkau membuka tangan-Mu, mereka kenyang oleh kebaikan.

*    Apabila Engkau mengambil roh mereka maitilah mereka dan kembali menjadi debu. Apabila Engkau mengirim roh-Mu, mereka pun tercipta kembali dan Engkau membaharui muka bumi.

Bait Pengantar Injil
Ref. Alleluya
Ayat. Sabda-Mu ya Tuhan, adalah kebenaran. Kuduskanlah kami dalam kebenaran.Alleluya

Bacaan Injil : Markus 7:14-23

“Apa yang keluar dari seseorang, itulah yang menajiskannya.”

7:14 Lalu Yesus memanggil lagi orang banyak dan berkata kepada mereka: “Kamu semua, dengarlah kepada-Ku dan camkanlah. 7:15 Apapun dari luar, yang masuk ke dalam seseorang, tidak dapat menajiskannya, tetapi apa yang keluar dari seseorang, itulah yang menajiskannya.” 7:16 (Barangsiapa bertelinga untuk mendengar hendaklah ia mendengar!) 7:17 Sesudah Ia masuk ke sebuah rumah untuk menyingkir dari orang banyak, murid-murid-Nya bertanya kepada-Nya tentang arti perumpamaan itu. 7:18 Maka jawab-Nya: “Apakah kamu juga tidak dapat memahaminya? Tidak tahukah kamu bahwa segala sesuatu dari luar yang masuk ke dalam seseorang tidak dapat menajiskannya, 7:19 karena bukan masuk ke dalam hati tetapi ke dalam perutnya, lalu dibuang di jamban?” Dengan demikian Ia menyatakan semua makanan halal. 7:20 Kata-Nya lagi: “Apa yang keluar dari seseorang, itulah yang menajiskannya, 7:21    sebab dari dalam, dari hati orang, timbul segala pikiran jahat, percabulan, pencurian, pembunuhan, 7:22 perzinahan, keserakahan, kejahatan, kelicikan, hawa nafsu, iri hati, hujat, kesombongan, kebebalan. 7:23 Semua hal-hal jahat ini timbul dari dalam dan menajiskan orang.”

Renungan :

Pribadi yang diciptakan

Kisah penciptaan kedua ini mengambil pendekatan yang berbeda. Kisah penciptaan ini memperlihatkan fokus Allah pada manusia. Nama Allah yang dipakai sekarang menjadi TUHAN Allah, yaitu Yahweh Elohim. Nama Yahweh digunakan dalam kitab Kejadian dalam konteks relasi Allah dengan manusia, dan nantinya secara khusus dengan umat pilihan-Nya.

Dalam kisah penciptaan yang pertama, Allah berfirman maka segala sesuatu menjadi ada. Dalam pasal kedua ini, kegiatan Allah dalam penciptaan yang disoroti. Kita melihat manusia sebagai karya tangan Allah. Allah sendiri yang membentuk manusia dari debu tanah, lalu dihembuskan napas kehidupan (ayat 4-7). Allah kemudian membangun bagi manusia taman Eden, suatu tempat kehidupan yang asri dan harmonis (ayat 8-14). Dan nanti, dalam perikop sesudah ini (ayat 18-25), kita memperhatikan kegiatan Allah membentuk wanita, sebagai pasangan serasi manusia.

Manusia menjadi pusat perhatian Allah. Allah menciptakan manusia sebagai makhluk paradoks. Manusia adalah pribadi yang diciptakan. Ia adalah makhluk yang tergantung sepenuhnya kepada Sang Pencipta. Namun dalam kapasitas sebagai gambar Allah, manusia adalah pribadi yang memiliki kebebasan untuk memilih, baik untuk tunduk pada Allah atau melepaskan diri dari Dia. Tentu saja dengan konsekuensi tertentu. Manusia diberi pilihan untuk taat pada tugas yang diberikan Allah yaitu mengelola taman Eden (ayat 15) dan untuk menahan diri dari apa yang sudah ditetapkan Allah agar tidak dilakukan manusia (ayat 16-17).

Godaan terbesar manusia adalah menolak bergantung pada Sang Pencipta, dan berusaha hidup dengan kekuatan dan kebijakannya sendiri. Hasilnya fatal karena meninggalkan Allah berarti melepaskan diri dari sumber hidup. Kita yang sudah ditebus oleh darah Yesus dan menjadi milik Allah lagi, harus menjalankan hidup dengan memberikan kesaksian pada dunia ini bahwa kita adalah milik Allah.

Mazmur. Kebesaran Allah.

Ketika kita menyaksikan keagungan karya ciptaan Allah, sungguh nyata kebesaran Allah, Sang Pencipta. Kali ini pemazmur mempersegar ingatan itu kembali, dengan memaparkan kepada kita bahwa kebesaran Allah tidak akan pudar, sekalipun waktu terus berputar. Hingga zaman pemazmur, dirasakan bahwa semua ciptaan-Nya dipelihara-Nya dengan setia: alam semesta, manusia, hewan dan tumbuh-tumbuhan. Itu semua terpancar dari puji-pujiannya kepada Allah. Ada banyak alasan bagi kita untuk memelihara dan menghargai segala ciptaan-Nya.

Menghargai hidup. Kini kita hidup di tengah dunia yang semakin hari semakin dipenuhi dengan berbagai peristiwa yang mencengangkan: penindasan, penganiayaan, pembunuhan. Menyedihkan, karena tindakan-tindakan ini menunjukkan betapa sikap saling menghargai hidup sudah tidak ada lagi. Sejak Allah mencipta hingga saat ini, kita tahu bagaimana Allah begitu menghargai hidup setiap ciptaan-Nya. Sebagai ciptaan yang tetap berada dalam lingkaran pemeliharan Tuhan, bagaimana kita menghargai hidup? Sikap pemazmur yang begitu mengagungkan Tuhan dalam hidupnya merupakan wujud penghargaannya atas hidupnya.

Allah mengatur segala sesuatu. Seluruh ciptaan, telah diatur Allah sedemikian rupa hingga masing-masingnya berada pada jalur dan waktu yang telah disediakan-Nya. Bulan tidak akan pernah menjadi matahari, begitu pula sebaliknya. Binatang yang keluar pada siang hari, akan beristirahat di malam hari; tumbuh-tumbuhan yang berbunga pada musim semi, tidak akan berbunga pada musim dingin, dst. Begitu pula dengan kita, meskipun kita adalah bagian tertinggi dari segenap ciptaan Allah, kita tetap berada di bawah kendali Allah. Namun fakta menunjukkan bahwa kita seringkali lupa akan posisi ini. Misalnya, ketika sukses dalam pekerjaan, keluarga, dan lain sebagainya. kita menganggap bahwa kesuksesan ini diperoleh karena usaha sendiri, tanpa campur tangan Allah; dan ketika kita berada dalam penderitaan, sengsara dan dijerat kemiskinan, kita sering beranggapan bahwa Allah membiarkan kita sendiri. Kita harus menyadari dan memahami bahwa masing-masing ciptaan telah Allah letakkan pada jalur menuju pemenuhan kehendak-Nya.

Setia pada Allah. Untuk tetap berada pada jalur yang telah Allah sediakan, dan demi memenuhi kehendak-Nya, maka sege-nap ciptaan harus setia dan tunduk pada ketetapan-ketetapan-Nya. Kesetiaan ini merupakan perwujudan respons kita terhadap kesetiaan dan pemeliharaan Allah yang telah terlebih dahulu Allah nyatakan dalam hidup kita. Tetapi seringkali kita lupa untuk bertindak setia kepada Allah. Biasanya ini disebabkan oleh kecenderungan kita untuk berusaha melupakan hal-hal yang baik yang kita terima, dan mengingat-ingat hal-hal yang merugikan kita. Begitu mudahkah karya agung Allah yang telah begitu baik mencipta, memelihara, menebus dan memulihkan itu kita lupakan? Peringatan pemazmur pada ayat 29 dapat diartikan semudah kita membalikkan telapak tangan, semudah itu pula Allah bertindak pada ciptaan-Nya yang dengan sengaja melupakan kebesaran dan keagungan-Nya.

“Pujilah Tuhan, hai jiwaku!” Sungguh suatu tindakan terpuji dan mengagumkan telah pemazmur bentangkan pada kita. Tak sedikitpun terbersit keinginannya untuk melupakan segala kebaikan Tuhan padanya. Bahkan seluruh keberadaan hidupnya diperuntukkan bagi pujian kepada Tuhan. Sampai sejauh ini kita hidup karena, dan bersama Tuhan. Pasti begitu banyak badai kehidupan yang berusaha menghancurkan hubungan kita dengan-Nya. Ikutilah jejak pemazmur yang begitu meyakini bahwa kekuatan dan kemuliaan Tuhan memberikan kekuatan (31-32).

Injil hari ini, Kemurnian hati

Orang-orang Farisi dan ahli-ahli Taurat mengutamakan kesalehan yang bersifat lahiriah. Sebab itu upacara cuci tangan sebelum makan merupakan hal yang penting bagi mereka. Tangan yang tidak dicuci dianggap menajiskan makanan yang akan mereka makan.

Yesus menegur mereka dan mengatakan bahwa bukan yang masuk yang akan menajiskan orang. Apa yang keluar dari hati orang, itulah yang akan menajiskan dia (ayat 15). Bukan makanan yang membuat orang menjadi najis, meskipun ma-kanan itu dimakan dengan tangan yang belum dicuci dalam suatu upacara. Kesucian hati bukanlah masalah mencuci atau tidak mencuci tangan, atau masalah boleh atau tidak boleh dimakan. Hal-hal itu tidak dianggap penting oleh Allah. Karena makanan hanya akan masuk ke perut, bukan ke hati. Maka pikiran yang kotorlah yang akan menajiskan orang, karena pikiran itu keluar dari hati (ayat 18-20). Di sini Yesus mengajarkan satu hal penting bahwa kesalehan yang hanya terlihat dari luar, adalah bahaya. Itu akan menjauhkan orang dari Allah dan membuat orang menjadi munafik.

Betapa parahnya penyelewengan pengajaran para pemimpin agama tersebut. Aturan Taurat yang mereka terima dari Allah berubah menjadi aturan cuci tangan, cawan, kendi, dan lain-lain (Mrk. 7:4). Kiranya hal ini menjadi peringatan bagi kita untuk waspada terhadap segala pengajaran, yang terdengar rohani dan mendukung pengajaran dalam Alkitab, tetapi sesungguhnya tidak bersumber dari Alkitab. Sekarang ini ada ajaran yang menyuruh orang untuk tidak berdoa pada jam dua belas malam. Karena saat itu merupakan saat setan bekerja. Maka doa yang dipanjatkan pada saat itu hanya akan didengar oleh setan dan bukan oleh Tuhan. Betapa sesatnya pengajaran semacam itu! Bukankah Tuhan berkuasa atas setiap jam? Dan bukankah Tuhan berkuasa atas Iblis? Mana mungkin Tuhan membiarkan Iblis mengambil alih doa-doa anak-anak-Nya? Maka waspadalah, jangan sampai kita ber-toleransi terhadap pengajaran semacam itu.

Doa: Tuhan, ampunilah saya bila selama ini saya kurang menghargai hidup yang telah Engkau anugerahkan.Terima kasih karena Engkau tetap mengasihi dan menghargai hidup saya. Amin. (Lucas Margono)

februari8

Renungan Selasa, 7 Februari 2017

Renungan Selasa, 7 Februari 2017, Hari Biasa, Pekan Biasa V.

Bacaan I : Kej 1:20-2:4a

“Baiklah kita menjadikan manusia menurut gambar dan rupa kita.”

1:20 Berfirmanlah Allah: “Hendaklah dalam air berkeriapan makhluk yang hidup, dan hendaklah burung beterbangan di atas bumi melintasi cakrawala.” 1:21 Maka Allah menciptakan binatang-binatang laut yang besar dan segala jenis makhluk hidup yang bergerak, yang berkeriapan dalam air, dan segala jenis burung yang bersayap. Allah melihat bahwa semuanya itu baik. 1:22 Lalu Allah memberkati semuanya itu, firman-Nya: “Berkembangbiaklah dan bertambah banyaklah serta penuhilah air dalam laut, dan hendaklah burung-burung di bumi bertambah banyak.” 1:23 Jadilah petang dan jadilah pagi, itulah hari kelima. 1:24 Berfirmanlah Allah: “Hendaklah bumi mengeluarkan segala jenis makhluk yang hidup, ternak dan binatang melata dan segala jenis binatang liar.” Dan jadilah demikian. 1:25 Allah menjadikan segala jenis binatang liar dan segala jenis ternak dan segala jenis binatang melata di muka bumi. Allah melihat bahwa semuanya itu baik. 1:26 Berfirmanlah Allah: “Baiklah Kita menjadikan manusia menurut gambar dan rupa Kita, supaya mereka berkuasa atas ikan-ikan di laut dan burung-burung di udara dan atas ternak dan atas seluruh bumi dan atas segala binatang melata yang merayap di bumi.” 1:27 Maka Allah menciptakan manusia itu menurut gambar-Nya, menurut gambar Allah diciptakan-Nya dia; laki-laki dan perempuan diciptakan-Nya mereka. 1:28 Allah memberkati mereka, lalu Allah berfirman kepada mereka: “Beranakcuculah dan bertambah banyak; penuhilah bumi dan taklukkanlah itu, berkuasalah atas ikan-ikan di laut dan burung-burung di udara dan atas segala binatang yang merayap di bumi.” 1:29 Berfirmanlah Allah: “Lihatlah, Aku memberikan kepadamu segala tumbuh-tumbuhan yang berbiji di seluruh bumi dan segala pohon-pohonan yang buahnya berbiji; itulah akan menjadi makananmu. 1:30 Tetapi kepada segala binatang di bumi dan segala burung di udara dan segala yang merayap di bumi, yang bernyawa, Kuberikan segala tumbuh-tumbuhan hijau menjadi makanannya.” Dan jadilah demikian. 1:31 Maka Allah melihat segala yang dijadikan-Nya itu, sungguh amat baik. Jadilah petang dan jadilah pagi, itulah hari keenam.2:1 Demikianlah diselesaikan langit dan bumi dan segala isinya. 2:2 Ketika Allah pada hari ketujuh telah menyelesaikan pekerjaan yang dibuat-Nya itu, berhentilah Ia pada hari ketujuh dari segala pekerjaan yang telah dibuat-Nya itu. 2:3 Lalu Allah memberkati hari ketujuh itu dan menguduskannya, karena pada hari itulah Ia berhenti dari segala pekerjaan penciptaan yang telah dibuat-Nya itu. 2:4 Demikianlah riwayat langit dan bumi pada waktu diciptakan. Ketika TUHAN Allah menjadikan bumi dan langit, ?

Mazmur 8:4-5.6-7.8-9, do = d, 2/4, PS 832

Ref. Betapa megah nama-Mu Tuhan, di seluruh bumi.

Ayat. (Mzm 8:4-5.6-7.8-9; R: 2)

*    Jika aku melihat langit-Mu, buatan jari-Mu, bulan dan bintang-bintang yang Kaupasang: Apakah manusia, sehingga Engkau mengingatnya? Apakah anak manusia, sehingga Engkau mengindahkannya?

*    Kauciptakan dia hampir setara dengan Allah, Kaumahkotai dengan kemuliaan dan semarak. Kauberi dia kuasa atas perbuatan tangan-Mu; segala-galanya telah Kautundukkan di bawah kakinya.

*    Domba, sapi dan ternak semuanya, hewan di padang dan margasatwa; burung di udara dan ikan di laut, dan semua yang melintasi arus lautan.

Bait Pengantar Injil
Ref. Alleluya
Ayat. Condongkanlah hatiku kepada perintah-Mu, ya Allah dan kurniakanlah hukum-Mu kepadaku

Bacaan Injil : Markus 7:1-13

“Kamu mengabaikan perintah Allah untuk berpegang pada adat istiadat manusia.”

7:1 Pada suatu kali serombongan orang Farisi dan beberapa ahli Taurat dari Yerusalem datang menemui Yesus. 7:2 Mereka melihat, bahwa beberapa orang murid-Nya makan dengan tangan najis, yaitu dengan tangan yang tidak dibasuh. 7:3 Sebab orang-orang Farisi seperti orang-orang Yahudi lainnya tidak makan kalau tidak melakukan pembasuhan tangan lebih dulu, karena mereka berpegang pada adat istiadat nenek moyang mereka; 7:4 dan kalau pulang dari pasar mereka juga tidak makan kalau tidak lebih dahulu membersihkan dirinya. Banyak warisan lain lagi yang mereka pegang, umpamanya hal mencuci cawan, kendi dan perkakas-perkakas tembaga. 7:5 Karena itu orang-orang Farisi dan ahli-ahli Taurat itu bertanya kepada-Nya: “Mengapa murid-murid-Mu tidak hidup menurut adat istiadat nenek moyang kita, tetapi makan dengan tangan najis?” 7:6 Jawab-Nya kepada mereka: “Benarlah nubuat Yesaya tentang kamu, hai orang-orang munafik! Sebab ada tertulis: Bangsa ini memuliakan Aku dengan bibirnya, padahal hatinya jauh dari pada-Ku. 7:7 Percuma mereka beribadah kepada-Ku, sedangkan ajaran yang mereka ajarkan ialah perintah manusia. 7:8 Perintah Allah kamu abaikan untuk berpegang pada adat istiadat manusia.” 7:9 Yesus berkata pula kepada mereka: “Sungguh pandai kamu mengesampingkan perintah Allah, supaya kamu dapat memelihara adat istiadatmu sendiri. 7:10 Karena Musa telah berkata: Hormatilah ayahmu dan ibumu! dan: Siapa yang mengutuki ayahnya atau ibunya harus mati. 7:11 Tetapi kamu berkata: Kalau seorang berkata kepada bapanya atau ibunya: Apa yang ada padaku, yang dapat digunakan untuk pemeliharaanmu, sudah digunakan untuk korban?yaitu persembahan kepada Allah?, 7:12 maka kamu tidak membiarkannya lagi berbuat sesuatupun untuk bapanya atau ibunya. 7:13 Dengan demikian firman Allah kamu nyatakan tidak berlaku demi adat istiadat yang kamu ikuti itu. Dan banyak hal lain seperti itu yang kamu lakukan.”

Renungan :

Gambar Allah

Menjadi gambar Allah adalah menjadi wakil Allah di dunia ini. Ini bukan semata-mata privilese melainkan juga tanggung jawab. Semakin besar hak diberikan, semakin berat pula kewajibannya. Menjadi gambar Allah bukan hanya memiliki sejumlah potensi Ilahi, tetapi bagaimana mewujudkan potensi itu bagi kemuliaan Allah.

Apa maksud Allah menciptakan manusia menurut gambar-Nya? Supaya manusia bisa mengelola dunia dan segala isinya ini untuk kemuliaan Allah. Kata-kata yang digunakan untuk menyatakan tugas manusia itu, “berkuasa”, “taklukkanlah” adalah kata-kata yang lazim digunakan dalam konteks kekuasaan seorang raja. Namun penafsiran seperti ini harus dicermati secara bijaksana, karena jika tidak, penafsiran seperti inilah yang menyebabkan manusia merajalela mengeksploitasi alam ini dengan segala kerakusannya dengan dalih atas nama Tuhan. Berapa banyak kerusakan alam dan lingkungan yang menyebabkan menurunnya kualitas hidup disebabkan ulah manusia?

Namun, kita melihat bahwa pengaturan Allah atas manusia di sini sama sekali tidak membuka peluang untuk eksploitasi atas alam ini. Pertama, manusia diaturkan bukan untuk menjadi raja dunia melainkan mewakili Raja, Sang Pemilik dunia. Tindakan manusia merusak alam milik Allah adalah tidak berkenan bahkan berdosa di hadapan-Nya. Kedua, kerusakan alam berarti pula berkurangnya kenyamanan hidup manusia. Artinya konsekuensi penyalahgunaan kekuasaan Ilahi akan dirasakan paling berat oleh manusia sendiri.

Dosa yang menyebabkan gambar Allah dalam diri manusia tidak berfungsi dengan benar. Manusia hidup bukan untuk kemuliaan Allah melainkan untuk kepentingan diri sendiri yang bersifat merusak dan menghancurkan. Hanya satu jalan untuk memperbaiki semua ini, yaitu dengan mengizinkan Allah memperbarui gambar-Nya di dalam diri kita oleh karya penyelamatan Yesus.

Makna Sabat. Apa tujuan Allah berhenti dari segala pekerjaan penciptaan-Nya pada hari yang ketujuh dan menguduskan hari itu? Apakah Allah membutuhkan istirahat setelah mengeluarkan energi yang luar biasa untuk menghasilkan karya ciptaan yang begitu sangat baik (ayat 1:31)? Tentu jawabannya tidak!

Ada dua jawaban atas pertanyaan pertama. Pertama, Allah telah menyelesaikan semua karya penciptaan-Nya secara sempurna. Oleh karena itu, hari ketujuh adalah hari perayaan atas mahakarya itu. Dengan berhenti bekerja pada hari sabat (kata sabat berasal dari kata kerja syabat yang berarti berhenti), kita sedang ikut dalam perayaan sukacita bersama Allah dalam mengagumi dan menikmati keindahan dan kesempurnaan karya-Nya itu.

Kedua, dengan berhenti dari pekerjaan-Nya pada hari ketujuh, Allah menyediakan model pola keteraturan kerja bagi manusia. Hanya manusia yang diberi mandat dan tugas dari Allah untuk mengelola dunia ini. Manusia yang terdiri dari roh dan tubuh dengan sendirinya memiliki keterbatasan secara fisik. Ia tidak bisa bekerja terus menerus tanpa henti. Ia membutuhkan istirahat untuk memulihkan tenaganya. Jauh lebih penting dari itu, peraturan Sabat mengajar manusia bahwa hidup bukan untuk bekerja saja, tetapi juga untuk menikmati hasil kerja, seperti Allah juga menikmati karya-Nya yang sungguh amat baik itu.

Berhenti bekerja untuk beristirahat menunjukkan bahwa kita tidak diperbudak oleh kerja. Dosa membuat manusia diperbudak oleh banyak hal yang kelihatannya baik, tetapi menjerat dalam ketiadaan makna yang benar. Kerja bukan lagi dilihat sebagai bagian pengabdian kita pada Tuhan, tetapi sebagai pemuasan nafsu dan ketergantungan pada diri sendiri, bukan pada Allah. Dengan beristirahat, kita mengakui bahwa tubuh kita bukan milik kita sendiri melainkan milik Allah yang harus dipelihara dengan baik agar dapat digunakan Allah untuk maksud-maksud-Nya.

Mazmur, Mulia untuk memuliakan Allah

Mazmur pujian ini menfokuskan diri pada kemuliaan nama Yahweh  pemazmur hendak menegaskan bahwa Yahweh bukan hanya Allah Israel, tetapi Pencipta dan Pemilik seisi dunia dan bangsa-bangsa di dalamnya.

Kemuliaan Yahweh semakin nyata justru lewat karya-Nya yang mulia, yaitu manusia (ayat Kej 1:26). Manusia satu-satunya makhluk ciptaan di dunia ini yang dapat berkomunikasi dengan Allah sebagai satu pribadi kepada Sang Pribadi sempurna. Manusia dikaruniai potensi Ilahi untuk mengembangkan diri agar hidupnya dapat dipakai oleh Allah. Lebih daripada itu, manusia dilengkapi dengan otoritas Ilahi untuk mengelola dunia ini atas nama Allah (dimahkotai dengan kemuliaan dan hormat; 6b). Itu sebabnya, segenap makhluk ciptaan lain di alam semesta ini tunduk pada penguasaan manusia (ayat 7-9).

Bagaimana kita memuliakan Allah? Pertama, lewat ibadah dan penyembahan, baik pribadi maupun bersama umat Tuhan. Nyatakan hormat dan sembah Anda lewat puji-pujian yang agung dan megah. Kedua, lewat menghargai sesama manusia sebagai gambar Allah, termasuk menghargai segala potensi Ilahi yang ada di dalam diri manusia tersebut. Dengan mengembangkan hidup ini menjadi berkat untuk sesama, kita sedang menyaksikan kemuliaan Allah lewat kemuliaan ciptaan-Nya. Ketiga, dengan berperan sebagai jurukunci yang baik bagi semua ciptaan Allah. Tugas kita adalah mengelola alam ini supaya menjadi wadah yang asri dan harmonis, seperti Taman Eden dulu. Mari bangkit dan bangun kembali lingkungan kita dengan memelihara kebersihannya, keseimbangan ekosistemnya, dan mengisinya dengan perilaku hidup yang mulia.

Injil hari ini, Jangan munafik

Coba ingat-ingat, peraturan apa yang berlaku khusus di gereja Anda? Lalu coba pikirkan, apa yang melandasi kelangsungan peraturan itu hingga saat ini? Apakah karena pejabat gereja memahami benar firman Tuhan yang mendasari peraturan itu, atau karena sekadar memelihara tradisi?

Orang-orang Farisi dan ahli-ahli Taurat memelihara berbagai peraturan agama dengan taat (ayat 3-4). Mereka juga bertindak bagai polisi agama, yang bertugas mengawasi apakah orang-orang benar-benar menaati berbagai peraturan itu. Tentu Yesus dan murid-murid-Nya masuk juga dalam pengawasan mereka (ayat 2, 5).

Bagaimana respons Yesus menghadapi sikap mereka? Yesus menyebut mereka munafik (ayat 6). Mereka memagari hukum Allah dengan berbagai peraturan buatan mereka sendiri, dengan alasan agar orang Israel tidak melanggar aturan. Mereka bahkan menganggap otoritas peraturan itu sama dengan otoritas hukum Tuhan (ayat 8). Padahal faktanya, berbagai peraturan itu malah bertentangan dengan hukum Tuhan. Lebih parah lagi, mereka berusaha mencari celah untuk menghindar dari kewajiban menaati hukum Allah dengan menunjukkan ketaatan pada peraturan buatan sendiri (ayat 9-13). Nyata sekali kemunafikan mereka.

Tentu kita tidak ingin menjadi orang munafik, yang beda kata dan hati. Mungkin saja orang tidak bisa mengetahui isi hati kita, tetapi kita pasti tidak merasa nyaman hidup dalam dua dunia yang berbeda seperti itu. Kuncinya adalah ketaatan penuh pada firman Tuhan.

Hendaknya kita juga tidak menambah-nambahi atau mengurangi apa yang dikatakan firman Tuhan dalam Kitab Suci. Itu sama dengan mengatakan bahwa Kitab Suci tidak sempurna dan kita lebih tahu daripada Allah sendiri. Jangan juga menolak kebenaran Kitab Suci, karena Kitab Suci dasar iman kita. Kiranya pengenalan yang benar akan Kitab Suci menolong kita untuk tetap berpegang pada kebenaran-Nya dan tidak mudah diombang-ambingkan oleh berbagai pengajaran.

DOA: Roh Kudus Allah, tunjukkanlah kepada kami sikap-sikap dan mentalitas-mentalitas kami yang selama ini menghalangi kami untuk me (Lucas Margono)ngenal Yesus sebagai “Mesias, Yang Kudus dari Allah”. Semoga oleh kuat-kuasa-Mu kami dapat mengakui Yesus dan hidup sebagai murid-murid-Nya yang sejati. Amin.

februari7