Renungan Sabtu 17 Juni 2017

Renungan Sabtu 17 Juni 2017, Hari Biasa, Pekan Biasa 

Bacaan I : 2Kor 5:14-21

“Dia yang tidak mengenal dosa, telah dibuat-Nya menjadi dosa bagi kita.”

5:14 Sebab kasih Kristus yang menguasai kami, karena kami telah mengerti, bahwa jika satu orang sudah mati untuk semua orang, maka mereka semua sudah mati. 5:15 Dan Kristus telah mati untuk semua orang, supaya mereka yang hidup, tidak lagi hidup untuk dirinya sendiri, tetapi untuk Dia, yang telah mati dan telah dibangkitkan untuk mereka. 5:16 Sebab itu kami tidak lagi menilai seorang jugapun menurut ukuran manusia. Dan jika kami pernah menilai Kristus menurut ukuran manusia, sekarang kami tidak lagi menilai-Nya demikian. 5:17    Jadi siapa yang ada di dalam Kristus, ia adalah ciptaan baru: yang lama sudah berlalu, sesungguhnya yang baru sudah datang. 5:18 Dan semuanya ini dari Allah, yang dengan perantaraan Kristus telah mendamaikan kita dengan diri-Nya dan yang telah mempercayakan pelayanan pendamaian itu kepada kami. 5:19      Sebab Allah mendamaikan dunia dengan diri-Nya oleh Kristus dengan tidak memperhitungkan pelanggaran mereka. Ia telah mempercayakan berita pendamaian itu kepada kami. 5:20 Jadi kami ini adalah utusan-utusan Kristus, seakan-akan Allah menasihati kamu dengan perantaraan kami; dalam nama Kristus kami meminta kepadamu: berilah dirimu didamaikan dengan Allah. 5:21 Dia yang tidak mengenal dosa telah dibuat-Nya menjadi dosa karena kita, supaya dalam Dia kita dibenarkan oleh Allah.

Mazmur 103:1-2.3-4.8-9.11-12, do = a, 4/4, PS 823
Ref. Pujilah, puji Allah, Tuhan yang maharahim.

*    Pujilah Tuhan, hai jiwaku! Pujilah nama-Nya yang kudus, hai segenap batinku! Pujilah Tuhan, hai jiwaku, janganlah lupa akan segala kebaikan-Nya!

*    Dialah yang mengampuni segala kesalahanmu, dan menyembuhkan segala penyakitmu! Dialah yang menebus hidupmu dari liang kubur, dan memahkotai engkau dengan kasih setia dan rahmat!

*    Tuhan adalah pengasih dan penyayang, panjang sabar dan berlimpah kasih setia. Tidak terus menerus Ia murka, dan tidak untuk selamanya Ia mendendam.

*    Setinggi langit dari bumi, demikianlah besarnya kasih setia Tuhan atas orang-orang yang takut akan Dia!

Bait Pengantar Injil
Ref. Alleluya
Ayat. Condongkanlah hatiku kepada peringatan-peringatan-Mu, dan karuniakanlah hukum-Mu kepadaku. Alleluya.

Bacaan Injil : Matius 5:33-37

“Aku berkata kepadamu, jangan sekali-kali bersumpah.”

5:33 Kamu telah mendengar pula yang difirmankan kepada nenek moyang kita: Jangan bersumpah palsu, melainkan peganglah sumpahmu di depan Tuhan. 5:34      Tetapi Aku berkata kepadamu: Janganlah sekali-kali bersumpah, baik demi langit, karena langit adalah takhta Allah, 5:35 maupun demi bumi, karena bumi adalah tumpuan kaki-Nya, ataupun demi Yerusalem, karena Yerusalem adalah kota Raja Besar; 5:36     janganlah juga engkau bersumpah demi kepalamu, karena engkau tidak berkuasa memutihkan atau menghitamkan sehelai rambutpun. 5:37 Jika ya, hendaklah kamu katakan: ya, jika tidak, hendaklah kamu katakan: tidak. Apa yang lebih dari pada itu berasal dari si jahat.

Renungan :

Motivasi dalam melayani.

Motivasi orang dalam berbuat sesuatu dapat bermacam-macam. Ada yang ingin dipuji, mendapat keuntungan materil, mendapat kedudukan dan lain-lain. Motivasi Paulus melayani jelas: ia takut akan Tuhan dan kasih Kristus yang menguasainya (ayat 11-14). Perbuatan-perbuatannya bukan untuk memuji diri melainkan agar jemaat mendapat bahan dalam menjawab guru-guru palsu yang memegahkan diri. Paulus tetap termotivasi melayani dengan membuang kepentingan diri sendiri, dan bercermin kepada Kristus (ayat 15). Motivasi seperti itulah yang seharusnya berkobar di dalam dada setiap orang percaya!

Pelayanan itu apa? Pelayanan pekabaran Injil bukan sekadar menambah jumlah orang percaya atau mengajak orang mengganti imannya. Ada hal lain yang lebih penting disebutkan di sini, yakni mendamaikan setiap orang yang mendengar Injil itu dengan Kristus (ayat 18). Untuk itu orang harus berbalik dari hidup lama dalam dosa dan masuk ke dalam hidup baru dalam Kristus (ayat 17). Korban yang diberikan Kristus untuk pendamaian itu amat mahal (ayat 21). Tahukah Anda bahwa begitu banyak orang hidup tanpa damai, karena tak mengenal pendamaian dengan Allah oleh Kristus?

Doa: Selidiki dan singkirkan motivasi pelayanan kami yang salah, Tuhan.

Mazmur, Kasih Allah yang besar.

Beban kehidupan yang kita alami kadang membuat kita mudah berkecil hati dan mengeluh. Dengan memperhatikan daftar panjang mazmur Daud, seharusnya segala kesusahan dan kegelisahan diganti dengan semangat memanjatkan puji syukur kepada Tuhan. Betapa tidak, Allah telah mengampuni dosa kita, menyembuhkan kita, menebus kita dari kebinasaan, melimpahi kita dengan kasih sayang, dengan kebenaran dan keadilan. Semua itu diberikan Allah kepada kita bukan karena kita berhak untuk memperolehnya, melainkan karena anugerah Allah.

Semakin mengenal kasih Allah. Kalau pun sekarang semua orang percaya mampu memanjatkan puji syukur kepada Allah, itu karena Allah telah menganugerahkan kasih dan pengampunan-Nya. Semua tindakan Allah ini, menjadi dasar pujian dalam sukacita kekristenan kita. Sebagai orang yang telah dianugerahi kasih dan pengampunan, kita harus mendisiplin diri belajar kebenaran firman Tuhan dengan penghayatan segar dalam ibadah kepada Tuhan. Itulah yang dapat kita lakukan sebagai respons umat tebusan.

Renungkan: Makin mengenal Allah, makin kita menyadari keterbatasan kita. Makin dekat Tuhan, makin kita alami kuasa dan kasih-Nya, yang memampukan kita menjadi pujian dan hormat bagi-Nya.

Injil hari ini, Jika ya katakan ya.

Di manakah kita bisa mendapatkan kebenaran? Bahkan di pengadilan pun kadang kita dapat menemukan saksi yang berbohong. Padahal ia sudah disumpah untuk hanya mengatakan kebenaran. Celakanya lagi, banyak orang yang sengaja menerima kesaksian palsu itu sebagai kebenaran.

Dalam bacaan ini kita menemukan bahwa Perjanjian Lama menekankan integritas umat untuk tidak bersumpah palsu (ayat 33). Bersumpah berarti mengikutsertakan Tuhan dalam kesepakatan bahwa apa yang dikatakan oleh orang yang bersumpah itu benar. Bersumpah palsu berarti mengklaim bahwa Tuhan akan membenarkan orang tersebut bahkan ketika ia berbohong. Dengan kata lain orang yang bersumpah palsu “menjebak” Tuhan untuk membenarkan dirinya. Itu sama saja dengan menjadikan Tuhan pembohong.

Oleh karena kenyataan banyak orang menyalahgunakan sumpah untuk membenarkan dirinya, Yesus menegaskan bahwa orang yang percaya kepada-Nya tidak perlu bersumpah. Bila dipertanyakan kebenarannya, seorang pengikut Tuhan cukup mengatakan ya bila ya dan tidak bila tidak (ayat 37). Pengikut Tuhan tidak memiliki hak untuk mengklaim Tuhan membela dirinya (ayat 34-36). Janji Tuhan untuk membela anak-anak-Nya merupakan anugerah semata. Artinya pengikut Tuhan harus hidup sedemikian sehingga kata-katanya, baik “ya” maupun “tidak” sudah cukup menjadi jaminan kebenaran.

Era ini sering disebut sebagai era informasi. Informasi dalam sekejap mata dapat beredar ke seluruh dunia. Namun, informasi yang beredar bisa sangat menyesatkan. Isinya penipuan dan kebohongan namun karena dibungkus dengan kata dan gambar yang sangat memikat akhirnya diterima sebagai kebenaran. Anak Tuhan harus memerangi kebohongan seperti itu. Caranya adalah dengan berkata benar, bersikap dan bertindak benar pula.

Makna kata-kata atau ucapan makin mengalami kemerosotan. Kata-kata yang baik dan suci sering dipakai untuk menutupi kebenaran dan menciptakan kemunafikan. “Jangan bersumpah” dimaksudkan agar kita mau menghargai dan memperjuangkan nilai-nilai kejujuran, yang terkandung dalam kata-kata kita setiap hari.

Renungkan: Integritas Kristen terlihat ketika mulut sepadan dengan hati, tingkah laku selaras dengan perkataan.

DOA: Roh Kudus Allah, terima kasih penuh syukur kuhaturkan kepada-Mu untuk karya-Mu di dalam hidupku. Tolonglah aku untuk berbicara dalam kebenaran dan dengan integritas. Aku bertekad untuk senantiasa setia dalam sabda-Mu dan menjadi suatu cerminan kasih-Mu dan belaskasih-Mu. Amin. (Lucas MMargono)

Juni 1717

Renungan Jumat 16 Juni 2017

Renungan Jumat 16 Juni 2017, Hari Biasa Pekan Biasa X 

Bacaan I : 2Kor 4:7-15

4:7 Tetapi harta ini kami punyai dalam bejana tanah liat, supaya nyata, bahwa kekuatan yang melimpah-limpah itu berasal dari Allah, bukan dari diri kami. 4:8 Dalam segala hal kami ditindas, namun tidak terjepit; kami habis akal, namun tidak putus asa; 4:9       kami dianiaya, namun tidak ditinggalkan sendirian, kami dihempaskan, namun tidak binasa. 4:10 Kami senantiasa membawa kematian Yesus di dalam tubuh kami, supaya kehidupan Yesus juga menjadi nyata di dalam tubuh kami. 4:11 Sebab kami, yang masih hidup ini, terus-menerus diserahkan kepada maut karena Yesus, supaya juga hidup Yesus menjadi nyata di dalam tubuh kami yang fana ini. 4:12 Maka demikianlah maut giat di dalam diri kami dan hidup giat di dalam kamu. 4:13 Namun karena kami memiliki roh iman yang sama, seperti ada tertulis: “Aku percaya, sebab itu aku berkata-kata”, maka kami juga percaya dan sebab itu kami juga berkata-kata. 4:14 Karena kami tahu, bahwa Ia, yang telah membangkitkan Tuhan Yesus, akan membangkitkan kami juga bersama-sama dengan Yesus. Dan Ia akan menghadapkan kami bersama-sama dengan kamu kepada diri-Nya. 4:15 Sebab semuanya itu terjadi oleh karena kamu, supaya kasih karunia, yang semakin besar berhubung dengan semakin banyaknya orang yang menjadi percaya, menyebabkan semakin melimpahnya ucapan syukur bagi kemuliaan Allah.

Mazmur 116:10-11.15-16.17-18
Ref. Kepada-Mu, ya Tuhan, kupersembahkan kurban syukur.

*    Aku tetap percaya, sekalipun aku berkata, “Aku ini sangat tertindas” sekalipun aku berkata dalam kebingunganku, “Semua manusia pembohong.”

*    Sungguh berhargalah di mata Tuhan kematian semua orang yang dikasihi-Nya. Ya Tuhan, aku hamba-Mu! Aku hamba-Mu, anak dari sahaya-Mu! Engkau telah melepaskan belengguku!

*     Aku akan mempersembahkan kurban syukur kepada-Mu, dan akan menyerukan nama Tuhan; aku akan membayar nazarku kepada Tuhan di depan seluruh umat-Nya.

Bait Pengantar Injil
Ref. Alleluya
Ayat. Hendaknya kalian bersinar di dunia seperti bintang-bintang sambil berpegang pada sabda kehidupan.

Bacaan Injil : Matius 5:27-32

5:27 Kamu telah mendengar firman: Jangan berzinah. 5:28 Tetapi Aku berkata kepadamu: Setiap orang yang memandang perempuan serta menginginkannya, sudah berzinah dengan dia di dalam hatinya. 5:29 Maka jika matamu yang kanan menyesatkan engkau, cungkillah dan buanglah itu, karena lebih baik bagimu jika satu dari anggota tubuhmu binasa, dari pada tubuhmu dengan utuh dicampakkan ke dalam neraka. 5:30 Dan jika tanganmu yang kanan menyesatkan engkau, penggallah dan buanglah itu, karena lebih baik bagimu jika satu dari anggota tubuhmu binasa dari pada tubuhmu dengan utuh masuk neraka. 5:31 Telah difirmankan juga: Siapa yang menceraikan isterinya harus memberi surat cerai kepadanya. 5:32 Tetapi Aku berkata kepadamu: Setiap orang yang menceraikan isterinya kecuali karena zinah, ia menjadikan isterinya berzinah; dan siapa yang kawin dengan perempuan yang diceraikan, ia berbuat zinah.

Renungan :

Sumber harta dan daya.

Melayani Injil tidak mudah. Dalam penginjilan orang berada di front terdepan, bertempur melawan Iblis yang berusaha agar tawanannya tidak lepas. Dalam penginjilan, hamba Tuhan sering harus memikul berbagai beban berat (ayat 8), bahkan seolah menjalani kematian Yesus dalam hidup ini (ayat 9-12). Bagaimanakah kita dapat terdorong menginjili dengan penuh semangat, daya tahan dan keyakinan? Injil itu sendiri adalah sumber kuasa (ayat 7)! Hanya dengan menginjili, kita beroleh kesempatan menyaksikan kuasa Injil mematahkan belenggu dosa dan Iblis. Hanya bila kita menginjili, kita mengalami kesukaan, boleh membagikan kekayaan harta rahasia Allah di dalamnya.

Tidak tawar hati. Orang seperti Paulus bisa tergoda untuk tawar hati? Rasanya tidak mungkin bukan? Tetapi itulah pengakuan jujur Paulus (ayat 8-9). Namun godaan itu mampu ditepis Paulus. Sebaliknya, dari tawar hati atau hancur karena tekanan-tekanan dalam pelayanan, ia malah bertahan dan mengalami kuasa kebangkitan Yesus (ayat 10-11). Justru di tengah kelemahannya itulah Paulus mengalami kesetiaan Allah yang senantiasa menyegarkan dan menguatkannya oleh anugerah-Nya (ayat 13).

Renungkan: Dedikasi yang tinggi adalah akibat dari pengenalan yang jelas akan daya dan harta Injil Yesus Kristus.

Mazmur, Allah pasti mempertahankan milik-Nya.

Mazmur ini dibuka dengan ungkapan pemazmur, “Aku mengasihi Tuhan”. Kasih pemazmur ini merupakan respons terhadap kasih Allah yang telah menyendengkan telinga-Nya kepadanya (ayat 2). Ungkapan ini didasari pada pengalamannya dibebaskan dari bahaya maut. Memang tidak disebutkan oleh apa bahaya maut itu disebabkan, tetapi ia merasa sudah tertangkap oleh sang maut (ayat 3). Pemazmur menuturkan bagaimana ia mengalami krisis iman ketika tenggelam dalam penderitaannya. Tidak ada seorang pun yang menolong. Sendiri dalam penderitaan melahirkan kekecewaan yang dalam (ayat 11). Namun, keadaan itu tidak menggoyahkan kepercayaannya kepada Tuhan (ayat 10). Wajar bila pemazmur rindu untuk membalas segala kebaikan Allah. Ia akan mengangkat piala keselamatan, menyerukan nama-Nya (ayat 13), membayar nazarnya di depan umat Allah (ayat 14, 18); mempersembahkan kurban syukur kepada Allah. Arti nya, ia ingin hidupnya selalu memuliakan Allah.

Dari pengalaman iman pemazmur bersama Allah ini, kita belajar tiga hal. Pertama, hakikat hidup kita adalah karunia Tuhan semata-mata, dan bernilai kekal. Kedua, hidup kita berharga di mata-Nya. Hal ini makin membuat kita menghayati kehadiran dan keberadaan Allah yang mempedulikan keberadaan umat-Nya. Bahkan tidak akan dibiarkan-Nya kematian menjemput mereka sebelum waktunya (ayat 15). Ketiga, kebaikan Allah yang juga bernilai kekal itu diresponi dengan sikap paling mulia, yaitu mengabdi sebagai hamba-Nya, makin mengasihi-Nya untuk selama-selamanya.

Renungkan: Allah mengizinkan kita mengalami “krisis iman” agar kita menyadari dan makin menghayati kasih setia Allah dalam hidup kita.

Injil hari ini, Kudusnya pikiran, kudusnya hidup.

Ajaran Tuhan Yesus yang tidak mengizinkan perceraian kecuali karena perzinaan (ayat 32) sebenarnya menunjukkan dua hal. Pertama, pernikahan itu kudus maka tidak boleh sembarang bercerai. Kedua, perzinaan itu dosa maka cara penyelesaiannya harus radikal! Penyelesaian radikal harus mulai dari hati seseorang.

Yesus mengajarkan bahwa pusat kehidupan seseorang adalah hatinya. Kalau hatinya kudus, maka tingkah lakunya pun akan kudus. Sebaliknya kalau hati penuh pikiran busuk, busuk pula tingkah lakunya. Oleh sebab itu, jauh lebih penting menjaga hati dari pikiran-pikiran buruk daripada hanya mencegah perbuatan-perbuatannya. Yesus menegaskan hal tersebut dengan menyoroti dosa seksual yang seringkali tersembunyi, tetapi menggerogoti moral seseorang. Zina sudah terjadi tatkala seseorang memikirkannya di dalam hati (ayat 28). Bila hati sudah berpikiran kotor maka tubuh akan mudah dikendalikan untuk melakukan perbuatan-perbuatan najis.

Yesus memaparkan bahwa dosa bersumber dalam pikiran, sebelum terungkap dalam tindakan. Bagi Allah, manusia tidak bisa setengah-setengah dalam memenuhi kehendak-Nya. Bahkan dikatakan jika ada anggota tubuh yang menyesatkan kita, hendaknya kita memenggalnya (ayat 29). Ini menunjukkan kepada kita bahwa Allah menginginkan seluruh keberadaan kita memenuhi tuntutan Allah hidup saleh dan kudus. Kesalehan yang Allah inginkan bukan saja yang tampak di luar, tetapi yang bersumber di lubuk hati kita terdalam.

Oleh sebab itu, perlu tindakan drastis dan radikal untuk mengatasi dosa perzinaan. Kita harus rela menyingkirkan segala sesuatu yang bisa menjatuhkan kita kepada dosa seksual itu seperti bacaan pornografi, vcd porno, situs-situs porno di internet, dll. Semua itu bisa menjadi alat Iblis. Sebaliknya, isilah hati dan pikiran kita dengan hal-hal yang menyenangkan Tuhan, yang baik, dan yang membangun.

Renungkan: Perubahan revolusioner yang Allah ingin lakukan ialah pembaruan hati Anda.

DOA: Tuhan Yesus, aku mengakui kedosaanku di hadapan-Mu sekarang ini. Engkau telah membayar harga dosa-dosaku di atas kayu salib sehingga aku dapat diperdamaikan dengan Allah Bapa. Tuhan, aku bersyukur dan berterima kasih kepada-Mu dengan segenap hatiku. Amin. (Lucas Margono)

Juni 1716

Renungan Kamis 15 Juni 2017

Renungan Kamis 15 Juni 2017, Hari Biasa Pekan  Biasa X

Bacaan I : 2Kor 3:15-4:1.3-6

3:15 Saudara-saudara, memang benar, setiap kali orang-orang Israel membaca kitab Musa ada selubung yang menutup hati mereka, sampai pada hari ini. 3:16 Tetapi apabila hati seorang berbalik kepada Tuhan, maka selubung itu diambil dari padanya. 3:17 Sebab Tuhan adalah Roh; dan di mana ada Roh Allah, di situ ada kemerdekaan. 3:18 Dan dengan muka yang tidak terselubung kita semua mencerminkan kemuliaan Allah. Dan karena kemuliaan itu datang dari Tuhan yang adalah Roh, maka kita diubah menjadi serupa dengan gambar-Nya, dalam kemuliaan yang semakin besar. 4:1 Oleh kemurahan Allah kami telah menerima pelayanan ini. Karena itu kami tidak tawar hati. 4:3 Jika Injil yang kami wartakan masih tetap tertutup maka hanya tertutup untuk mereka yang akan binasa, 4:4 yaitu orang yang tidak percaya, yang pikirannya telah dibutakan oleh ilah zaman ini, sehingga mereka tidak melihat cahaya Injil tentang kemuliaan Kristus, yang tidak lain adalah gambaran Allah sendiri. 4:5 Sebab yang kami wartakan bukan diri kami sendiri! Yang kami wartakan adalah Yesus Kristus sebagai Tuhan, dan kami sendiri sebagai hambamu karena kehendak Yesus. 4:6 Sebab Allah yang telah bersabda, “Dari dalam gelap akan terbit terang!” Dialah juga yang membuat terang-Nya bercahaya dalam hati kita, supaya kita beroleh terang dari pengetahuan tentang kemuliaan Allah yang nampak pada wajah Kristus.

Mazmur 85:9ab-10.11-12.13-14, do = a, 4/4, PS 815 
Ref. Perlihatkanlah kepada kami kasih setia-Mu, ya Tuhan. 

*    Aku ingin mendengar apa yang hendak difirmankan Allah! Bukankah Ia hendak berbicara tentang damai kepada umat-Nya dan kepada orang-orang yang dikasihi-Nya. Sungguh, keselamatan dari Tuhan dekat pada orang-orang takwa, dan kemuliaan-Nya diam di negeri kita.

*    Kasih dan kesetiaan akan bertemu, keadilan dan damai sejahtera akan berpelukan. Kesetiaan akan tumbuh dari bumi, dan keadilan akan merunduk dari langit.

*    Tuhan sendiri akan memberikan kesejahteraan, dan negeri kita akan memberikan hasil. Keadilan akan berjalan di hadapan-Nya, dan damai akan menyusul di belakang-Nya.

Bait Pengantar Injil
Ref. Alleluya
Ayat. Perintah baru Kuberikan kepada kalian, sabda Tuhan, yaitu supaya kalian saling mengasihi, sebagaimana Aku telah mengasihi kalian. Alleluya.

Bacaan Injil : Matius 5:20-26

5:20 Maka Aku berkata kepadamu: Jika hidup keagamaanmu tidak lebih benar dari pada hidup keagamaan ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi, sesungguhnya kamu tidak akan masuk ke dalam Kerajaan Sorga. 5:21 Kamu telah mendengar yang difirmankan kepada nenek moyang kita: Jangan membunuh; siapa yang membunuh harus dihukum. 5:22 Tetapi Aku berkata kepadamu: Setiap orang yang marah terhadap saudaranya harus dihukum; siapa yang berkata kepada saudaranya: Kafir! harus dihadapkan ke Mahkamah Agama dan siapa yang berkata: Jahil! harus diserahkan ke dalam neraka yang menyala-nyala. 5:23 Sebab itu, jika engkau mempersembahkan persembahanmu di atas mezbah dan engkau teringat akan sesuatu yang ada dalam hati saudaramu terhadap engkau, 5:24              tinggalkanlah persembahanmu di depan mezbah itu dan pergilah berdamai dahulu dengan saudaramu, lalu kembali untuk mempersembahkan persembahanmu itu. 5:25 Segeralah berdamai dengan lawanmu selama engkau bersama-sama dengan dia di tengah jalan, supaya lawanmu itu jangan menyerahkan engkau kepada hakim dan hakim itu menyerahkan engkau kepada pembantunya dan engkau dilemparkan ke dalam penjara. 5:26 Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya engkau tidak akan keluar dari sana, sebelum engkau membayar hutangmu sampai lunas.

Renungan :

Maju ke arah Kristus

Karena merasa diri memiliki janji-janji Allah, orang Yahudi yakin bahwa mereka pasti bisa memahami Perjanjian Lama. Padahal Paulus melihat ada selubung yang menutupi mata mereka dan membekukan pikiran mereka, bagaikan selubung yang menutupi wajah Musa saat ia turun dari Gunung Sinai dengan wajah yang memancarkan sinar kemuliaan Allah. Selubung itu mengakibatkan mereka tidak bisa memahami maksud perjanjian Allah (14-15).

Paulus menjelaskan bahwa hanya jika terang kemuliaan Kristus bersinar atas diri seseorang, barulah ia memiliki pengertian akan pernyataan Tuhan. Itu bisa terjadi ketika orang berbalik pada Tuhan dan menyambut anugerah Kristus (16). Pada saat itulah Tuhan menyingkapkan selubung dari hatinya sehingga penglihatan rohaninya tidak terhalang lagi. Maka pada saat itu orang akan memahami bahwa anugerah Tuhan Yesus memenuhi tuntutan hukum Taurat (Rm 10:4), dan di situlah terletak makna kemerdekaan (17). Kemerdekaan yang bukan hanya meliputi selubung yang tersingkap; tetapi juga kemerdekaan dari dosa, maut dan tuntutan hukum Taurat. Pada saat dimerdekakan, orang akan memancarkan kemuliaan Tuhan (18). Bukan hanya di wajah, tetapi dalam hidup dan terpancar melalui karakter. Kemuliaan ini tidak akan memudar tetapi akan terus mentransformasi hidup hingga makin lama makin menyerupai Kristus.

Keserupaan dengan Kristus ini bukan hasil pencapaian manusia. Itu merupakan pertumbuhan yang dihasilkan oleh karya dan kuasa Roh Kudus. Kita memang harus mengerjakan keselamatan kita sebagai respons atas karya Allah di dalam hidup kita. Kita sadar bahwa proses transformasi menuju keserupaan dengan Kristus tidaklah selalu lancar dan mudah, karena merupakan arena peperangan melawan dosa dan si jahat. Dalam proses pertumbuhan meninggalkan dosa dan makin maju ke arah Kristus ini, kita perlu dua hal bersamaan: bergantung pada kuasa Roh Kudus dan menaklukkan diri pada proses pemurnian-Nya.

Kekuatan dalam pelayanan. Apa rahasia Paulus sehingga ia tidak tawar hati meski mengalami banyak rintangan dalam pelayanan? Karena ia sadar bahwa pelayanan pemberitaan Kristus begitu mulia (3:17-15). Maka menjadi pelayan Injil merupakan kehormatan yang berasal dari kemurahan Allah semata (1). Kesadaran ini membangkitkan dua hal. Pertama, ketegasan untuk tidak menodai pelayanan yang mulia dengan tindakan dan motivasi yang tidak murni (2a). Kedua, bersungguh-sungguh agar Injil dapat diberitakan dengan cara yang membuat pendengarnya dapat memahami dengan benar (2b).

Lalu jika dalam kenyataannya masih ada juga orang yang tidak menerima Injil, bagaimana kita harus menilai pelayanan tersebut? Paulus menegaskan bahwa penolakan terhadap Injil adalah fakta bahwa hati orang digelapkan oleh dosa, kuasa kejahatan dan daya tarik dunia (3-4). Mereka yang termasuk di dalamnya adalah orang yang memang tidak ingin percaya kepada Allah. Mereka tidak menyadari bahwa di luar Injil tidak ada keselamatan sejati, juga tidak ada makna hidup yang sejati.

Oleh karena pelayanan Injil adalah mewartakan kemuliaan Kristus, maka Paulus tidak menonjolkan dirinya (5). Tema ini menegaskan ulang perbedaan prinsip pelayanan Paulus dibandingkan dengan hamba-hamba Tuhan palsu, yang menonjolkan diri mereka untuk mencari hormat dari jemaat Korintus. Perhatian Paulus bukan dipusatkan pada upaya untuk membuat orang mengaguminya, tapi pada kesetiaan melayani agar Kristus dinyatakan dengan terang (6). Ia yang pernah berjumpa dengan terang kemuliaan Kristus di jalan menuju Damaskus, terus berharap bahwa melalui pelayanannya orang kembali berjumpa terang Kristus itu.

Renungkan: Untuk setiap kita, ada bagian yang Tuhan ingin kita lakukan dalam pelayanan. Baiklah kita menerimanya sebagai anugerah. Lakukan dengan hati yang murni hanya demi kemuliaan Injil Kristus makin terpancar, bukan demi alasan-alasan lain!

Mazmur, Allah telah menyelamatkan.

Tuhan telah menyelamatkan umat-Nya dari pembuangan. Keselamatan itu utuh dan total. Dosa diampuni, hak atas tanah dipulihkan )ayat 2-4). Masa lampau telah lalu, namun masa untuk memperbaiki akibat-akibat dosa yang menghancurkan itu kini terbentang menantang karya umat Allah. Desa dan kota yang tinggal puing-puing, tanah yang gersang tak siap untuk menghasilkan, kelumpuhan ekonomi; itulah yang kini mereka gumuli dalam doa di hadapan kasih setia Tuhan. Pengampunan memang penting dan vital tetapi bukan segala-galanya. Kini mereka memerlukan keyakinan dan kekuatan bahwa Tuhan yang telah mengampuni dan memulihkan itu akan memampukan mereka membangun kehidupan baru bersama-Nya (ayat 11-14).

Arti keselamatan. “Selamat” istilah Indonesia untuk salam atau syalom mengandung arti sangat luas. Akibat hubungan mesra umat dengan Tuhan, umat menjalani kehidupan yang serasi de-ngan kehendak Allah dan berkat penyertaan Allah mengalir ke segala segi kehidupan. Ketenangan jiwa, keserasian sosial, kualitas hidup terhormat, kemakmuran merata, dlsb. adalah bagian yang tercakup dalam keselamatan. Ketika Israel balik kembali dari pembuangan, pengalaman pertama mereka adalah diampuni Tuhan. Pengalaman berikut adalah tantangan bahwa mereka harus bertindak dalam iman yang taat untuk membangun kembali kehidupan ekonomi-sosial-politik yang telah hancur sebelumnya. Banyak keluh kesah dalam hidup ini dilontarkan orang. Banyak doa permohonan ampun atas dosa-dosa yang terjadi di antara bangsa Indonesia telah kita tujukan kepada Tuhan. Dalam terang janji firman-Nya, kita tahu bahwa Dia mengampuni. Namun akibat-akibat buruk dosa-dosa itu tidak dapat lenyap begitu saja. Kita ditantang untuk berusaha keras menata kembali kehidupan bermasyarakat, bekerja, bersosial-politik yang berintikan takut akan Tuhan (ayat 11-12). Sebagai orang yang memahami kebenaran firman, Kristen seharusnya lebih aktif bersinar di tengah situasi sekarang ini. Saksikan Kristus dan wujudkan karya iman kita!

Injil hari ini, Pembunuhan karakter?

Salah satu ciri kristiani yang harus nyata dalam hidup anak-anak Tuhan adalah sikapnya terhadap sesama manusia. Sikap tersebut harus berpadanan dengan bagaimana Tuhan bersikap terhadap manusia, ciptaan-Nya.

Hukum Taurat memberikan larangan `jangan membunuh.’ Di balik perintah itu ada prinsip ilahi bahwa Tuhanlah yang memiliki hak atas hidup dan mati seseorang. Oleh sebab itu manusia harus menghargai hidup sesamanya. Jadi, Yesus menegaskan bahwa bukan hanya tindakan membunuh yang disebut sebagai dosa. Marah terhadap sesama, mengata-ngatai sesama manusia sebagai kafir atau jahil sudah dikategorikan pembunuhan (ayat 22). Istilah sekarang ialah pembunuhan karakter. Artinya, baik kemarahan maupun pembunuhan merupakan pelanggaran terhadap hukum Taurat yang keenam. Sikap demikian adalah sikap yang merendahkan sesama manusia yang adalah gambar Allah. Itu adalah sikap yang tidak manusiawi. Sikap sedemikian turut menghina Sang Pencipta. Maka Allah akan menghukum keras orang yang bersikap demikian.

Oleh karena Allah membenci sikap demikian maka pertobatan mutlak harus terjadi sebelum hidup kembali berkenan kepada-Nya. Jangan mengira ibadah diterima oleh Tuhan bila perilaku terhadap sesama salah (ayat 23-24). Allah akan membela orang yang diperlakukan tidak manusiawi. Jadi, sebelum orang tersebut mengadukannya kepada Allah dan hukuman dijatuhkan cepat-cepatlah berdamai (ayat 25-26).

Ingatlah menumpuk kemarahan dalam hati kita akan meracuni pikiran dan tindakan kita. Kemarahan dapat menyebabkan kita kehilangan kendali diri dan berbuat apa saja pada orang lain. Kita perlu belajar mengendalikan diri agar dapat meredam kemarahan dan tetap tenang. Itulah kunci kemenangan kita atas kemarahan!

DOA: Tuhan Yesus, kami mengakui desakan-Mu agar kami menerima “kasih” sebagai perintah-Mu yang besar dan agung. Kami mohon rahmat-Mu agar kami dapat sungguh menghayatinya dalam kehidupan kami. Amin. (Lucas Margono)

Juni 1715

Renungan Rabu 14 Juni 2017

Renungan Rabu 14 Juni 2017, Hari Biasa Pekan Biasa X

Bacaan I : 2Kor : 3-4-11

“Kami dijadikan pelayan suatu perjanjian baru, bukan yang terdiri dari suatu hukum yang tertulis, melainkan dari roh.

3:4 Demikianlah besarnya keyakinan kami kepada Allah oleh Kristus. 3:5 Dengan diri kami sendiri kami tidak sanggup untuk memperhitungkan sesuatu seolah-olah pekerjaan kami sendiri; tidak, kesanggupan kami adalah pekerjaan Allah. 3:6 Ialah membuat kami juga sanggup menjadi pelayan-pelayan dari suatu perjanjian baru, yang tidak terdiri dari hukum yang tertulis, tetapi dari Roh, sebab hukum yang tertulis mematikan, tetapi Roh menghidupkan. 3:7  Pelayanan yang memimpin kepada kematian terukir dengan huruf pada loh-loh batu. Namun demikian kemuliaan Allah menyertainya waktu ia diberikan. Sebab sekalipun pudar juga, cahaya muka Musa begitu cemerlang, sehingga mata orang-orang Israel tidak tahan menatapnya. Jika pelayanan itu datang dengan kemuliaan yang demikian 3:8 betapa lebih besarnya lagi kemuliaan yang menyertai pelayanan Roh!

3:9 Sebab, jika pelayanan yang memimpin kepada penghukuman itu mulia, betapa lebih mulianya lagi pelayanan yang memimpin kepada pembenaran. 3:10 Sebenarnya apa yang dahulu dianggap mulia, jika dibandingkan dengan kemuliaan yang mengatasi segala sesuatu ini, sama sekali tidak mempunyai arti. 3:11      Sebab, jika yang pudar itu disertai dengan kemuliaan, betapa lebihnya lagi yang tidak pudar itu disertai kemuliaan.

Mazmur 99:5.6.7.8.9
Ref. Kuduslah Engkau, ya Tuhan Allah kami.

*    Tinggikanlah Tuhan, Allah kita, dan sujudlah menyembah kepada tumpuan kaki-Nya! Kuduskanlah Ia!

*    Musa dan Harun di antara imam-imam-Nya, dan Samuel di antara orang-orang yang menyerukan nama-Nya. Mereka berseru kepada Tuhan, dan Ia menjawab mereka.

*     Dalam tiang awan Ia berbicara kepada mereka; mereka telah berpegang pada peringatan-peringatan-Nya, dan pada ketetapan yang diberikan-Nya kepada mereka.

*     Tuhan, Allah kami, Engkau telah menjawab mereka, bagi mereka, Engkaulah Allah yang mengampuni tetapi juga membalas perbuatan-perbuatan mereka.

*     Tinggikanlah Tuhan, Allah kita, dan sujudlah menyembah di hadapan gunung-Nya yang kudus! Sebab kuduslah Tuhan, Allah kita!

Bait Pengantar Injil
Ref. Alleluya
Ayat. Tunjukkanlah lorong-Mu kepadaku, ya Tuhan, bimbinglah aku menurut sabda-Mu yang benar.

Bacaan Injil : Matius 5:17-19 

“Aku datang untuk menggenapi hukum
5:17 “Janganlah kamu menyangka, bahwa Aku datang untuk meniadakan hukum Taurat atau kitab para nabi. Aku datang bukan untuk meniadakannya, melainkan untuk menggenapinya. 5:18 Karena Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya selama belum lenyap langit dan bumi ini, satu iota atau satu titikpun tidak akan ditiadakan dari hukum Taurat, sebelum semuanya terjadi. 5:19 Karena itu siapa yang meniadakan salah satu perintah hukum Taurat sekalipun yang paling kecil, dan mengajarkannya demikian kepada orang lain, ia akan menduduki tempat yang paling rendah di dalam Kerajaan Sorga; tetapi siapa yang melakukan dan mengajarkan segala perintah-perintah hukum Taurat, ia akan menduduki tempat yang tinggi di dalam Kerajaan Sorga.

Renungan

Alat Roh Allah

Paulus tidak merasa perlu meminta surat pujian dari siapa pun (1). Bagi dia, jemaat Korintus yang merupakan hasil pelayanannya itulah yang menjadi surat rekomendasinya. Keberadaan jemaat Korintus menjadi bukti bahwa Paulus sungguh seorang rasul (2). Lebih-lebih cintanya kepada jemaat Korintus, membuat jemaat itu terukir di hatinya menjadi surat pujian. Surat pujian itu bukan ditulis oleh tinta tetapi oleh Roh Allah (3). Paulus merujuk kepada Musa yang menerima dua loh batu yang berisi hukum Allah, yang ditulis oleh jari-jari Allah sendiri. Musa adalah pelayan dari perjanjian yang lama, sementara Paulus adalah pelayan dari perjanjian yang baru. Dengan pemberitaan Injil yang dia lakukan, Paulus menjadi gerak jari-jari Kristus menulis, bukan di batu tetapi di hati manusia. Sifat dari surat pujian Paulus ini sungguh mengandalkan dan meninggikan Allah semata (4-6).

Inilah perbedaan yang sangat menonjol antara Paulus yang sedang dianggap enteng dan para pelayan palsu yang sedang dikagumi oleh jemaat Korintus. Meski sadar bahwa pemberitaan Injil yang dia kerjakan menampakkan hasil, Paulus paham bahwa itu bukan karena kecakapan dirinya. Roh Allah saja yang membuat orang merespons Injil. Oleh sebab itu surat rekomendasinya bukan berisi tulisan tangan manusia tentang pekerjaannya, tetapi pemaparan karya Roh Kudus dalam pemberitaan Injil.

Kita harus sadar bahwa Allah yang memampukan kita untuk melayani. Maka kita tidak perlu meninggikan diri bila merasa mampu, dan tidak perlu mundur bila merasa tidak sanggup. Ingatlah bahwa Dia yang bekerja dalam pelayanan yang kita lakukan bagi Dia. Bila kita tidak terlibat pelayanan, marilah kita menghormati pelayan Tuhan. Jangan kita mengkultuskannya bila ia punya banyak kemampuan atau merendahkannya bila ia terlihat belum mampu. Yang lebih penting, jangan kita mudah menilai menurut ukuran-ukuran lahiriah. Belajarlah menilai segala sesuatu dari sudut rohani!

Orang Yahudi begitu bangga memiliki Perjanjian Lama dengan Hukum Taurat yang tertulis di dalamnya. Mereka bahkan cenderung menjunjung tinggi tokoh-tokohnya, seperti Musa dan Abraham. Peristiwa Musa turun dari Gunung Sinai, setelah menerima dua loh batu bertuliskan sepuluh hukum Taurat, tentu tidak dilupakan oleh orang Yahudi. Setelah menemui Tuhan, wajah Musa memancarkan kemuliaan-Nya. Maka saat dia turun dari Sinai, wajahnya bersinar cemerlang. Akibatnya orang Israel tak tahan melihat dia. Tetapi lambat laun, cahaya itu memudar (7).

Kisah ini dipakai Paulus untuk membandingkan kemuliaan Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru. Paulus menyatakan bahwa Perjanjian Lama akan berakhir dengan penghukuman (7a). Mengapa demikian? Karena Hukum Taurat berisi standar kebenaran yang tidak dapat dipenuhi oleh siapa pun! Dengan demikian, semua orang akan dianggap berdosa! Tetapi Perjanjian Baru adalah pembenaran Allah bagi orang yang berdosa (9). Mengapa bisa demikian? Karena tuntutan Hukum Taurat telah dipenuhi oleh Tuhan Yesus melalui penumpahan darah-Nya. Betapa besar perbedaan antara penghukuman dan pembenaran! Perjanjian Lama memang memancarkan kemuliaan; namun kemudian kemuliaannya memudar bagai sinar lampu saat fajar merekah (10-11).

Sampai sekarang banyak orang berpikir bahwa keselamatan dapat diperoleh dengan berbuat baik. Kitab Suci menyatakan dengan jelas bahwa keselamatan adalah karena anugerah Allah. Upaya manusia akan menemui jalan buntu. Segala yang dihasilkan orang yang sudah digelapkan oleh dosa akan berakhir pada kegagalan dan hukuman Allah. Kita yang sudah menerima anugerah penebusan Allah, perlu memiliki hati yang terbeban untuk mendoakan dan memberitakan jalan keselamatan anugerah Allah ini kepada sesama kita. Begitu banyak hal menjadi masalah bagi kita, namun janganlah kita alpa berdoa dan menyebarkan Injil kepada orang-orang dalam lingkar pergaulan kita.

Mazmur, Raja sejati.

“Titah raja adalah hukum!” Konsep pemikiran itu dianut oleh raja yang menganggap dirinya setara dengan dewa dan “dianggap” tidak pernah berbuat salah. Raja menjadi “maha kuasa”, berdaulat penuh memerintah dan “harus” ditakuti rakyat. Tetapi konsep ini tidak berlaku pada Allah, Sang Raja sejati. Ia bukan manusia yang memuja diri sendiri. Ia adalah Allah yang mulia yang mengungkapkan karakter-Nya yang murni dalam hukum yang tak bercela. Tak ada penyelewengan kuasa dalam diri-Nya, tak ada “niat” menindas umat dalam diri-Nya. “Siapakah yang berkuasa atas diri kita, raja manusiakah atau Allah, Sang Raja sejati?”

Tanggapan orang Kristen. Dalam terang firman, keadilan dan kebenaran harus diperjuangkan. Kebenaran tidak tergantung pada situasi dan kehendak penguasa. Tidak ada unsur yang menentang penguasa bila kebenaran diperjuangkan. Tanggapan orang Kristen terhadap masalah ketidakadilan tidak sebatas pada belas kasihan, tetapi berlandaskan tekad dan semangat membela dan menegakkan keadilan. Tanggapan orang Kristen merupakan perjuangan yang tidak sia-sia, karena Allah, Raja sejati ada di pihak kita.

Renungkan: Allah telah menuntaskan pekerjaan keselamatan-Nya untuk kita. Sekarang tugas kita memperjuangkan ditegakkannya kembali keadilan dan kebenaran-Nya. Marilah kita berjuang dalam Firman-Nya!

Injil hari ini, Firman kekal untuk diterapkan.

Yesus datang ke dunia ini bukan untuk membatalkan Hukum Taurat, tetapi untuk menggenapinya (ayat 17) menurut hakikat dan semangat yang terdalam, yaitu untuk mengasihi Allah. Hidup, ajaran, dan karya penebusan Kristus adalah penggenapan Hukum Taurat. Ia menegaskan pula bahwa Perjanjian Lama adalah firman Allah yang kekal (ayat 18). Artinya Perjanjian Lama menyatakan kehendak Allah yang tidak berubah bagi umat-Nya. Oleh karena itu, siapa pun yang melalaikan atau melanggar satu perintah saja dari firman Tuhan itu, ia telah melanggar seluruh firman Tuhan. Ia bukan anggota Kerajaan Surga (ayat 19).

Yang mengejutkan adalah Yesus memakai ilustrasi kehidupan keagamaan para ahli Taurat dan orang Farisi. Bagi Yesus kehidupan agama mereka tidak sejati. Mereka bukan pelaku firman Tuhan. Bagaimana mungkin orang-orang yang kesehariannya bergaul dengan firman Tuhan ternyata di mata Yesus bukanlah pewaris Kerajaan Surga? Ketaatan orang Farisi hanya bersifat lahiriah. Apa yang mereka lakukan tidak didasarkan atas kasih kepada Allah dan sesama.

Oleh sebab itu, Yesus menasehati para murid-Nya untuk tidak memiliki hidup keagamaan seperti yang dimiliki ahli Taurat dan orang Farisi. Yesus ingin para murid-Nya memberlakukan firman Tuhan dengan sungguh-sungguh mulai dari dalam hati bukan hanya sekadar tingkah laku lahiriah. Lalu bagaimana mungkin Ia mengharapkan kita berbuat lebih dari orang Farisi? Bisa! Hidup keagamaan kita bisa lebih baik karena berasal dari Kristus. Karena kita memiliki kebenaran Kristus, kita dapat mematuhi Tuhan dengan kasih.

Hanya Yesus yang dapat membebaskan manusia untuk hidup benar di hadapan Allah dan dalam hubungan yang benar dengan sesama manusia. Dia mampu mengubah kondisi manusia berdosa untuk hidup benar dan menghayati kehendak Tuhan dari hati yang diperbarui-Nya.

Marilah kita juga belajar dari Yesus: menjadikan kasih sebagai dasar dalam melaksanakan segala macam aturan yang ada agar kita dibebaskan baik dari sikap legalis maupun dari sikap semaunya sendiri. Kita taat pada aturan yang dibuat oleh Gereja, juga karena kita cinta pada Gereja dan kepada umat. Kita tahu, bahwa cinta itu mempersatukan. Maka, kalau kita tidak taat dan sampai ada perpecahan di antara umat, itu bukti nyata bahwa kita belum mencintai Gereja. “Ama et fac quod vis” (Cintailah dan lakukanlah apa yang kamu inginkan), kata St. Agustinus.

Doa: Tuhan, berilah kami rahmat-Mu agar kami mampu manjadikan kasih sebagai dasar dari ketaatan kami terhadap aturan-aturan hidup yang ada. Amin. ((Lucas Margono)

Juni 1714

 

Renungan Selasa 13 Juni 2017

Renungan Selasa 13 Juni 2017, Peringatan Wajib St, Antonius dari Padua, ImPujG, Pekan Biasa X

Bacaan I : 2Korintus 1:18-22 

“Pada Yesus bukanlah terdapat “ya” dan “tidak, melainkan hanya ada “ya”.

1:18 Demi Allah yang setia, janji kami kepada kamu bukanlah serentak “ya” dan “tidak”. 1:19 Karena Yesus Kristus, Anak Allah, yang telah kami beritakan di tengah-tengah kamu, yaitu olehku dan oleh Silwanus dan Timotius, bukanlah “ya” dan “tidak”, tetapi sebaliknya di dalam Dia hanya ada “ya”. 1:20 Sebab Kristus adalah “ya” bagi semua janji Allah. Itulah sebabnya oleh Dia kita mengatakan “Amin” untuk memuliakan Allah. 1:21 Sebab Dia yang telah meneguhkan kami bersama-sama dengan kamu di dalam Kristus, adalah Allah yang telah mengurapi, 1:22 memeteraikan tanda milik-Nya atas kita dan yang memberikan Roh Kudus di dalam hati kita sebagai jaminan dari semua yang telah disediakan untuk kita.

Mazmur 119:129.130.131.132.133.135                       
Ref. Sinarilah hamba-Mu dengan wajah-Mu, ya Tuhan.

*    Peringatan-peringatan-Mu ajaib, itulah sebabnya jiwaku memegangnya.

*    Bila tersingkap, firman-Mu memberi terang, memberi pengertian kepada orang-orang bodoh.

*    Mulutku kungangakan dan megap-megap, sebab aku mendambakan perintah-perintah-Mu.

*    Berpalinglah kepadaku dan kasihanilah aku, sebagaimana patutnya orang-orang yang mencintai nama-Mu.

*    Teguhkanlah langkahku oleh janji-Mu, dan janganlah segala kejahatan berkuasa atasku.

*    Sinarilah hamba-Mu dengan wajah-Mu, dan ajarkanlah ketetapan-ketetapan-Mu kepadaku.

Bait Pengantar Injil
Ref. Alleluya
Ayat. (Mat 5:16)
Hendaknya cahayamu bersinar di depan orang, agar mereka melihat perbuatanmu yang baik, dan memuji Bapamu di surga. Alleluya.
 
Bacaan Injil : Matius 5:13-16 

“Kalian ini cahaya dunia.”

5:13 “Kamu adalah garam dunia. Jika garam itu menjadi tawar, dengan apakah ia diasinkan? Tidak ada lagi gunanya selain dibuang dan diinjak orang. 5:14 Kamu adalah terang dunia. Kota yang terletak di atas gunung tidak mungkin tersembunyi. 5:15   Lagipula orang tidak menyalakan pelita lalu meletakkannya di bawah gantang, melainkan di atas kaki dian sehingga menerangi semua orang di dalam rumah itu. 5:16 Demikianlah hendaknya terangmu bercahaya di depan orang, supaya mereka melihat perbuatanmu yang baik dan memuliakan Bapamu yang di sorga.”

Renungan :

Mengubah rencana

Perencanaan adalah langkah awal yang harus dilakukan, sebelum kita melakukan pekerjaan. Namun melaksanakan rencana yang ditetapkan jauh hari sebelumnya mungkin memerlukan modifikasi. Karena, bisa saja terjadi perubahan situasi dan kondisi seiring perjalanan waktu.

Setelah Paulus menyatakan tujuannya melayani jemaat Korintus, ia menjelaskan bahwa semua tindakannya disesuaikan dengan pimpinan Roh Tuhan. Sebelumnya ia memang mengatakan kepada jemaat Korintus tentang rencananya mengunjungi mereka setelah ia ke Makedonia (1Kor 16:5). Ternyata perjalanan itu dibatalkan, dan kemudian memang terjadi perubahan dalam realisasi perjalanannya (15-16). Namun, jemaat Korintus jadi salah mengerti dan menganggap Paulus sebagai orang yang tidak bisa dipercaya. Sebab itu, mereka meragukan juga kasihnya pada mereka. Tentu saja Paulus tidak ingin mendiamkan kesalahpahaman itu. Ia menjelaskan bahwa perubahan rencana bukan merupakan petunjuk karakter yang tak dapat dipercaya (17-18). Jika dia tidak konsisten, bagaimana mungkin orang yang dia layani bisa mempercayai khotbahnya sebagai pesan Allah? Lagi pula ia membuat perencanaan bukan berdasarkan ambisi pribadi, tetapi berdasarkan tuntunan Roh Kudus. Perubahan rencana bukanlah tanda bahwa dirinya tidak konsisten. Sebagai rasul Yesus Kristus, ia harus menyesuaikan diri dengan karakter Allah yang tentu saja konsisten.

Mengubah rencana pelayanan tentu tidak mudah, karena pasti sudah melibatkan doa dan pemikiran matang sebelumnya. Hal yang tidak kalah sulit adalah menghadapi reaksi orang yang bisa jadi akan menganggap kita tidak konsisten. Namun, kita sendiri perlu peka dan tanggap menyikapi perkembangan situasi dan kondisi. Ingat juga bahwa Allah memimpin kita langkah demi langkah. Rencana yang baik adalah yang terus-menerus peka akan kehendak Allah dalam menggenapi situasi berubah-ubah. Ini inti yang harus disadari oleh setiap pembuat dan pelaksana rencana.

Mazmur, Firman Tuhan ajaib.

Keajaiban firman Tuhan tidak akan dialami oleh orang yang tidak percaya terhadap firman Tuhan sebagai firman yang diinspirasikan Allah. Bukti dari keajaiban firman ialah hidup Kristen yang berubah dan terus diperbaharui. Firman Tuhan menuntun jiwa yang disegarkan ke jalan yang benar adalah merupakan keajaiban di dalam hidup manusia. Firman Tuhan mampu mengajar dan membentuk kita untuk hidup benar dan kudus. Keajaiban firman Tuhan dan Roh Kudus yang bekerja dalam hidup kita memurnikan kerohanian kita. Roh Kudus mengerjakan pembaharuan di dalam hidup kita. Roh Kudus juga yang memampukan kita bertahan dalam menghadapi berbagai tekanan dan kesulitan hidup.

Cinta firman Tuhan memberi penghiburan. Kerinduan jiwa untuk dekat Tuhan merupakan cerminan haus dan lapar akan hadirat Tuhan; yang mewujud dalam jiwa yang senantiasa haus dan lapar akan kebenaran firman Tuhan. Allah berkenan terhadap orang yang rendah hati dan miskin (sikap haus dan lapar) akan firman-Nya. Sikap demikian merupakan kunci untuk mencintai firman Tuhan. Cinta firman Tuhan tidak bisa dipaksakan, tetapi akan muncul dari sikap hati yang sadar akan kebutuhan yang paling mendasar pada saat pribadi bersekutu dengan Tuhan.

Injil hari ini, Bila garam menjadi tawar.

Hidup Kristen adalah hidup yang berarti karena telah ditebus dengan darah Kristus. Hidup yang demikian bisa menjadi sarana menjangkau orang lain untuk mengalami anugerah yang sama. Masalah muncul ketika anak-anak Tuhan kehilangan kegunaannya sehingga ia menjadi tidak berharga di mata Tuhan!

Yesus mengajarkan bahwa anak-anak Tuhan adalah garam dan terang dunia. Dunia ini gelap, memerlukan terang untuk menyinarinya. Dunia ini membusuk, memerlukan garam untuk mencegahnya. Sebagai garam, anak Tuhan harus berfungsi untuk mencegah kebusukan dan kebobrokan moral yang semakin merajalela. Ia harus menghadirkan kehidupan yang menyaksikan Allah sehingga orang lain rindu mengenal Allah.

Sedangkan terang berfungsi menyingkapkan kegelapan dan menuntun orang pada jalan yang benar. Terang tidak boleh ditutupi, apalagi disimpan (ayat 15). Fungsi orang Kristen sebagai terang adalah menyuarakan kebenaran dan keadilan. Anak Tuhan harus berani berkata kepada orang lain bahwa salah adalah salah, dan dosa adalah dosa. Ia harus memberi tuntunan pada orang lain untuk menemukan kebenaran di dalam Kristus.

Perintah Yesus ini harus diterapkan dengan berani dan sungguh-sungguh karena akan ada banyak tantangan yang berusaha meredupkan terang kita dan menggagalkan fungsi kita sebagai garam. Kita harus masuk dan terlibat dalam kehidupan masyarakat dan memberikan pengaruh positif. Firman Tuhan harus nyata dalam hidup kita. Pertahankan nilai-nilai, tolok ukur, dan gaya hidup kristiani. Jadilah peka dan tolaklah segala tindakan yang tidak sesuai dengan kebenaran firman Tuhan. Bila kita setia mengikuti jalan-Nya, kita akan memberikan pengaruh yang menyehatkan bagi orang-orang di sekitar kita.

Camkan: Iman adalah sarana untuk memberikan kesaksian kepada banyak orang. Ketika iman itu benar-benar diwujudnyatakan dalam kehidupan sehari-hari dalam rupa tata tingkah laku dan berbagai latihan rohani, orang lain akan melihat dan merasakan keunggulan nilai iman tersebut.
Orang Kristen yang kekristenannya tidak nyata, tidak berguna bagi sesamanya.

DOA: Bapa surgawi, aku membutuhkan rahmat-Mu untuk membentuk diriku menjadi gambaran Putera-Mu terkasih, Yesus. Kuatkanlah diriku agar iman-kepercayaanku tidak akan goyah. Aku ingin mengenal, mengasihi dan melayani Dikau dengan lebih baik lagi. Semoga aku dapat bersinar terang seperti sebuah bintang demi kemuliaan-Mu. Amin.(Lucas Margono)

Juni13

Renungan Senin 12 Juni 2017

Renungan Senin 12 Juni 2017, Hari Biasa Pekan Biasa X

Bacaan I : 2Kor 1:1-7

“Allah menghibur kita, sehingga kita sanggup menghibur semua orang yang berada dalam macam-macam penderitaan.”

1:1 Dari Paulus, yang oleh kehendak Allah menjadi rasul Kristus Yesus, dan dari Timotius saudara kita, kepada jemaat Allah di Korintus dengan semua orang kudus di seluruh Akhaya. 1:2  Kasih karunia dan damai sejahtera dari Allah, Bapa kita, dan dari Tuhan Yesus Kristus menyertai kamu. 1:3 Terpujilah Allah, Bapa Tuhan kita Yesus Kristus, Bapa yang penuh belas kasihan dan Allah sumber segala penghiburan, 1:4 yang menghibur kami dalam segala penderitaan kami, sehingga kami sanggup menghibur mereka, yang berada dalam bermacam-macam penderitaan dengan penghiburan yang kami terima sendiri dari Allah. 1:5 Sebab sama seperti kami mendapat bagian berlimpah-limpah dalam kesengsaraan Kristus, demikian pula oleh Kristus kami menerima penghiburan berlimpah-limpah. 1:6 Jika kami menderita, hal itu menjadi penghiburan dan keselamatan kamu; jika kami dihibur, maka hal itu adalah untuk penghiburan kamu, sehingga kamu beroleh kekuatan untuk dengan sabar menderita kesengsaraan yang sama seperti yang kami derita juga. 1:7 Dan pengharapan kami akan kamu adalah teguh, karena kami tahu, bahwa sama seperti kamu turut mengambil bagian dalam kesengsaraan kami, kamu juga turut mengambil bagian dalam penghiburan kami.

Mazmur 34:2-3.4-5.6-7.8-9
Ref. Kecaplah dan lihatlah, betapa baiknya Tuhan.

*    Aku hendak memuji Tuhan setiap waktu; puji-pujian kepada-Nya selalu ada di dalam mulutku. Karena Tuhan jiwaku bermegah; biarlah orang-orang yang rendah hati mendengarnya dan bersukacita.

*    Muliakanlah Tuhan bersama dengan daku, marilah kita bersama-sama memasyhurkan nama-Nya. Aku telah mencari Tuhan, lalu Ia menjawab aku, dan melepaskan daku dari segala kegentaranku.

*    Tujukanlah pandanganmu kepada-Nya, maka mukamu akan berseri-seri, dan tidak akan malu tersipu-sipu. Orang yang tertindas ini berseru, dan Tuhan mendengarkan; Ia menyelamatkan dia dari segala kesesakannya.

*    Malaikat Tuhan berkemah di sekeliling orang-orang yang takwa, lalu meluputkan mereka. Kecaplah dan lihatlah, betapa baiknya Tuhan! Berbahagialah orang yang berlindung pada-Nya!

Bait Pengantar Injil
Ref. Alleluya
Ayat. (Mat 5:12a)
Bersukacitalah dan bergembiralah, sebab besarlah ganjaranmu di surga.

Bacaan Injil : Matius 5:1-12

“Berbahagialah orang yang miskin di hadapan Allah.”

5:1 Ketika Yesus melihat orang banyak itu, naiklah Ia ke atas bukit dan setelah Ia duduk, datanglah murid-murid-Nya kepada-Nya. 5:2 Maka Yesuspun mulai berbicara dan mengajar mereka, kata-Nya: 5:3 “Berbahagialah orang yang miskin di hadapan Allah, karena merekalah yang empunya Kerajaan Sorga. 5:4 Berbahagialah orang yang berdukacita, karena mereka akan dihibur. 5:5  Berbahagialah orang yang lemah lembut, karena mereka akan memiliki bumi. 5:6       Berbahagialah orang yang lapar dan haus akan kebenaran, karena mereka akan dipuaskan. 5:7 Berbahagialah orang yang murah hatinya, karena mereka akan beroleh kemurahan. 5:8 Berbahagialah orang yang suci hatinya, karena mereka akan melihat Allah. 5:9 Berbahagialah orang yang membawa damai, karena mereka akan disebut anak-anak Allah. 5:10 Berbahagialah orang yang dianiaya oleh sebab kebenaran, karena merekalah yang empunya Kerajaan Sorga. 5:11 Berbahagialah kamu, jika karena Aku kamu dicela dan dianiaya dan kepadamu difitnahkan segala yang jahat. 5:12 Bersukacita dan bergembiralah, karena upahmu besar di sorga, sebab demikian juga telah dianiaya nabi-nabi yang sebelum kamu.”

Renungan :

Penghiburan dalam penderitaan

Kata “hibur” bisa memberikan gambaran tentang upaya memberi semangat atau dukungan. Mengapa Paulus memakai kata ini untuk memberi tekanan pada suratnya?

Kata “penghiburan”, dipakai Paulus pertama kali untuk menyebut Allah sebagai “sumber segala penghiburan” (3). Siapakah yang dihibur? Dialah Paulus yang mengalami segala penderitaan (4). Melalui penjelasan Paulus, dapat dikatakan bahwa apapun jenis penderitaan yang kita alami dan bagaimanapun intensitasnya, Allah akan menyediakan penghiburan dan kekuatan yang kita perlukan. Namun tidak berhenti untuk manfaat diri kita sendiri saja. Kita harus menjadi agen Allah dalam menghibur orang lain yang juga menderita (4). Orang yang pernah menderita akan lebih tahu bagaimana menghibur orang lain yang sedang menderita.

Paulus sendiri mengalami penderitaan, yang dia sebut “kesengsaraan Kristus” (5). Tetapi jemaat Korintus tidak menghargainya, meski hal itu dialaminya karena pelayanannya pada mereka. Disinilah Paulus mulai meluruskan sikap yang tidak simpatik itu, serta pemikiran salah yang melatarbelakanginya. Penderitaan itu tidak membuat dia lemah sebab ia justru mengalami penghiburan melimpah dari Kristus (5). Ia menderita bagi “penghiburan dan keselamatan” jemaat di Korintus (6). Itu yang memampukan dia menghibur mereka agar tabah menderita karena Kristus, sampai Allah menolong mereka. Namun demikian, meski sikap jemaat Korintus mendukakan Paulus, ia yakin bahwa mereka akan terus bertumbuh dalam anugerah Allah (band. Flp 1:6).

Kunci untuk melihat penderitaan terletak dalam Pribadi dan karya Tuhan Yesus. Akhir hidup Yesus menyatakan bahwa Ia telah mengubah kutuk menjadi berkat! Asal kita menanggapinya sebagaimana yang Paulus lakukan, yakni bagi kemuliaan Allah dan untuk kebaikan kita, penderitaan dapat mengantar kita makin dekat dengan Allah dan juga saudara-saudara seiman. Ingatlah bahwa penderitaan selalu hadir dengan janji penghiburan Ilahi!

Mazmur, Merasakan perlindungan Tuhan

Bagaimana meyakinkan orang lain bahwa Tuhan itu baik? Untuk orang-orang yang berpikiran modern, kita bisa mengajukan sejumlah bukti akan kebaikan Tuhan yang dinyatakan dalam Alkitab, atau yang dapat diperiksa dari kenyataan alam semesta ciptaan-Nya. Namun orang-orang yang dipengaruhi oleh pandangan pascamodern, yang merelatifkan segala kebenaran, tidak butuh pengajaran dan berbagai bukti tertulis. Yang mereka butuhkan adalah pengalaman sebagai bukti.

Mazmur ini mengajak para pembacanya untuk mengalami Tuhan. Alami sendiri kebaikan-Nya (ayat 9), sebagaimana yang telah pemazmur rasakan. Apa yang pemazmur rasakan dan alami? Rupanya mazmur ini lahir dari pengalaman Daud yang dilindungi Tuhan saat melarikan diri dari Saul, yang hendak membunuh dirinya (ayat 1; lih. 1 Samuel 18-27). Sebagai seorang buronan, berulang kali Daud mengalami kesesakan, penindasan, dan merasa terjepit. Namun setiap kali ia menjerit kepada Tuhan, Tuhan menolong tepat pada waktunya (ayat 7). Perlindungan Tuhan dirasakan bagai dijaga oleh pasukan malaikat yang mengelilingi dia (ayat 8).

Pemazmur mengajak para pembacanya merespons Tuhan agar pengalaman hidup mereka diperkaya. Mari, pandanglah Tuhan, maka hidup ini akan penuh kesukacitaan (ayat 7). Ayo, takutlah akan Tuhan, maka Dia akan mencukupkan segala kebutuhan kita. Mengalami Tuhan bisa terjadi dalam kehidupan sehari-hari, tak usah menunggu saat tekanan hidup tak tertahankan lagi. Alami Tuhan dengan melibatkan Dia dalam segala aspek hidup Anda. Dekatkan diri pada-Nya dengan sikap yang terbuka agar Dia dengan bebas menyapa dan menjamah hidup Anda. Saat Anda mengalami kehadiran atau pertolongan-Nya, naikkan syukur bersama-sama umat Tuhan lainnya. Mahsyurkan nama-Nya di hadapan orang lain.

Injil hari ini, Siapakah saya?

Hingga kwartal tahun ini, baiklah kita mencoba mawas diri. Bila sampai saat ini kita masih diberi hidup dan kesehatan, nyatalah besar anugerah dan sayang-Nya atas kita. Dalam pelayanan Yesus, tidak semua orang yang telah menerima pertolongan-Nya akan menjadi murid atau pengikut-Nya. Pengikut Tuhan memiliki ciri yang jelas karena Ia membuat berbagai tuntutan yang tinggi dan harus terjelma dalam hidup orang yang meresponi-Nya.

Pola hidup baru. Tuhan ingin para pengikut-Nya bahagia. Itu pasti! Namun kebahagiaan itu dikaitkan dengan mutu manusianya, bukan apa yang dimilikinya. Kebahagiaan diawali pertobatan, yaitu perpalingan hidup dari perbuatan, kebiasaan, budaya salah dlsb. Kesadaran akan betapa miskinnya kita di hadapan Allah, menjadi titik tolak dari proses pemuridan selanjutnya, yang kelanjutannya masih perlu kita tapaki. Semakin dekat Dia semakin kita mirip Dia dan sifat-sifat-Nya. Lemah lembut bukannya keras, lapar dan haus akan kebenaran bukannya kecemaran, murah hati bukannya kikir atau tamak, berhati murni, juru damai. Itulah jalan bahagia, jalan penuh tuntutan harga namun juga jalan hidup sepenuhnya dalam pembentukan Tuhan.

Renungkan: Kita akan bahagia esok bila menanggapi  pembentukan Allah atas diri kita dengan meninggalkan hidup lama kita.

DOA: Yesus Kristus, Tuhan dan Juruselamat kami. Berikanlah kepada kami suatu hasrat yang baru untuk menjadi seperti Engkau dalam “Sabda-sabda Bahagia”. Mampukanlah kami untuk mengetahui bahwa Engkau akan memberikan segalanya yang kami butuhkan. Amin.(Lucas Margono)

jm_200_NT1.pd-P13.tiff

Renungan Minggu 11 Juni 2017

Renungan Minggu 11 Juni 2017, Hari Raya Tritunggal Mahakudus

Bacaan I : Kel 34:4b-6, 8-9 

“Tuhan, Tuhan Allah, Engkaulah pengasih dan murah hati.”

34:4 Lalu Musa memahat dua loh batu sama dengan yang mula-mula; bangunlah ia pagi-pagi dan naiklah ia ke atas gunung Sinai, seperti yang diperintahkan TUHAN kepadanya, dan membawa kedua loh batu itu di tangannya. 34:5 Turunlah TUHAN dalam awan, lalu berdiri di sana dekat Musa serta menyerukan nama TUHAN. 34:6 Berjalanlah TUHAN lewat dari depannya dan berseru: “TUHAN, TUHAN, Allah penyayang dan pengasih, panjang sabar, berlimpah kasih-Nya dan setia-Nya, 34:8 Segeralah Musa berlutut ke tanah, lalu sujud menyembah 34:9 serta berkata: “Jika aku telah mendapat kasih karunia di hadapan-Mu, ya Tuhan, berjalanlah kiranya Tuhan di tengah-tengah kami; sekalipun bangsa ini suatu bangsa yang tegar tengkuk, tetapi ampunilah kesalahan dan dosa kami; ambillah kami menjadi milik-Mu.

Mazmur Tanggapan, KIDUNG Dan 3:52-56, do = c, 2/2, PS 835
Ref. Puji, jiwaku, nama Tuhan, jangan lupa pengasih Yahwe.

*    Terpujilah Engkau, Tuhan, Allah leluhur kami. Kepada-Mulah pujian selama segala abad. Terpujilah nama-Mu yang mulia dan kudus. Kepada-Mu lah pujian selama segala abad.

*    Terpujilah Engkau dalam bait-Mu yang mulia dan kudus. Kepada-Mulah pujian selama segala abad. Terpujilah Engkau di atas takhta kerajaan-Mu. Kepada-Mulah pujian selama segala abad.

*    Terpujilah Engkau yang mendugai samudera raya. Kepada-Mulah pujian selama segala abad. Terpujilah Engkau di bentangan langit. Kepada-Mulah pujian selama segala abad.

Bacaan II : Korintus 13:11-13       

“Kasih karunia Yesus Kristus, cinta kasih Allah dan persekutuan Roh Kudus.”

13:11 Akhirnya, saudara-saudaraku, bersukacitalah, usahakanlah dirimu supaya sempurna. Terimalah segala nasihatku! Sehati sepikirlah kamu, dan hiduplah dalam damai sejahtera; maka Allah, sumber kasih dan damai sejahtera akan menyertai kamu! 13:12  Berilah salam seorang kepada yang lain dengan cium yang kudus. 13:13 Salam dari semua orang kudus kepada kamu.

Bait Pengantar Injil, do = bes, gregorian, PS 964
Ref. Alleluya
Ayat. (lih. Why 1:8)
Kemuliaan kepada Bapa dan Putra dan Roh Kudus, kepada Allah yang ada sejak dahulu, kini dan sepanjang masa mendatang.
  
Bacaan Injil : Yohanes 3:16-18 

“Allah mengutus Anak-Nya untuk menyelamatkan dunia.”

3:16 Karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini, sehingga Ia telah mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal, supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal. 3:17 Sebab Allah mengutus Anak-Nya ke dalam dunia bukan untuk menghakimi dunia, melainkan untuk menyelamatkannya oleh Dia. 3:18 Barangsiapa percaya kepada-Nya, ia tidak akan dihukum; barangsiapa tidak percaya, ia telah berada di bawah hukuman, sebab ia tidak percaya dalam nama Anak Tunggal Allah.

Renungan :

Tuhan sumber pertolongan

Tuhan mengulangi perintah-Nya supaya Musa kembali menghadap-Nya dan menerima lagi berbagai peraturan Taurat (lihat 24:12-18). Musa harus pergi seorang diri dengan membawa dua loh batu baru (Kel 34:1-4). Tidak boleh ada makhuk hidup apa pun yang mendekati Gunung Sinai sebab Tuhan akan menjumpai Musa di puncak gunung itu (ayat 3).

Hal ini merupakan jawaban Tuhan bagi permohonan Musa dalam pasal 33, yang dilakukan-Nya sebagai peneguhan janji-Nya bagi Musa dan Israel. Sama seperti penampakan Tuhan di depan umat-Nya dalam bentuk tiang awan maka Ia pun melakukan hal yang sama saat bertemu dengan Musa (ayat 5). Tuhan menyerukan nama-Nya dan menyatakan kasih-Nya bagi setiap orang yang menaati firman-Nya (ayat 5-7). Pada saat itu juga terjadi pengulangan jawaban yang sama yang pernah Ia berikan pada Musa (ayat 7b; lihat Kel 32:33). Seperti dua sisi mata uang, demikianlah keadilan dan kasih-Nya. Ia mengasihi setiap orang yang berbalik pada-Nya, namun Ia tetap menghukum semua orang yang melanggar hukum-Nya. Meski demikian, kasih Tuhan melampaui hukuman-Nya kepada umat-Nya.

Peristiwa itu meneguhkan Musa akan penyertaan Tuhan atas umat-Nya, Israel yang telah Tuhan sudah lepaskan dari penjajahan Mesir. Musa menyadari dengan penuh bahwa tanpa Tuhan sendiri yang berpihak kepadanya dan umat-Nya, mereka tidak mungkin berhasil tiba di Tanah Perjanjian. Jika hal ini yang terjadi maka Israel akan menjadi cemoohan bangsa-bangsa yang mengenali mereka sebagai umat-Nya (ayat 32:12).

Hanya orang-orang yang takut akan Tuhan yang mengerti arti hukuman Tuhan. Orang-orang seperti ini mengetahui bahwa hukuman Tuhan yang Ia berikan bagi mereka bukan untuk menghajar melainkan untuk mendidik umat-Nya.

Renungkan: Siapa seperti Allah kita? Hanya Dia yang memberikan kasih yang melampaui hukuman dalam pengurbanan Tuhan Yesus di kayu salib.

Bacaan II, Berkat

Paulus mengakhiri suratnya dengan desakan, salam dan berkat. Semua ini dimaksudkan untuk menekankan mengenai dasar dan pentingnya kesatuan di antara mereka, dan antara mereka dengan dirinya.

Paulus memotivasi jemaat Korintus untuk saling memberi salam dengan cium kudus. Ini merupakan pernyataan kasih, pengampunan, dan kesatuan di dalam Kristus. Paulus kemudian memberi salam pada jemaat Korintus atas nama seluruh orang kudus. Ini mengingatkan mereka bahwa mereka adalah bagian dari tubuh Kristus. Paulus kemudian mengakhiri suratnya dengan berkat, yang mengingatkan jemaat Korintus akan kesatuan mereka dengan Tritunggal, Bapa-Anak-Roh Kudus. Kesatuan itu mengalirkan berkat: anugerah, kasih dan persekutuan. Melalui pengorbanan diri Kristus, orang beriman mengalami kasih Allah yang besar dan kuat kuasa Roh Kudus.

Setelah surat ini, jemaat Korintus menantikan kunjungan Paulus yang ketiga. Paulus menjamin mereka bahwa mereka tidak akan melupakan kedatangannya. Pertemuan mereka dapat menjadi reuni yang menggembirakan atau bisa terjadi konfrontasi karena mereka tidak juga bertobat.

Kita juga sedang menantikan kedatangan Tuhan kita yang kedua kali. Ada yang imannya melemah karena menyangka Ia tidak akan datang atau mengira bahwa semuanya akan baik-baik saja. Ia akan datang lagi dan penundaannya merupakan kesempatan bagi kita untuk mempersiapkan diri menyambut kedatangan-Nya (band. 2Ptr 2:1-13). Kiranya kita menguji diri kita untuk melihat apakah kita tetap teguh di dalam iman. Kita yang percaya, hendaknya menjauhkan diri dari dosa dan berusaha menjadi sempurna di dalam kuat kuasa Roh Kudus. Semua itu kita lakukan supaya kita kedapatan taat karena telah melakukan semua perintah-Nya bagi kita. Marilah kita menantikan kedatangan-Nya. Saat itu akan menjadi pertemuan indah yang membawa sukacita besar bagi kita. Maranatha! Datanglah ya Tuhan Yesus!

Injil hari ini,

”Karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini, sehingga Ia telah mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal, supaya setiap orang yang percaya kepada [Yesus] tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal.” Yoh 3:16.

Itu adalah salah satu ayat Kitab Suci yang paling dikenal dan paling sering dikutip. Tidak ada ayat lain yang ”sesingkat itu merangkumkan cara memperoleh keselamatan dan hubungan Allah dengan manusia”.

Alam semesta, bumi, dan manusia diciptakan Allah. Sebagai Pribadi cerdas Allah menciptakan semua itu karena kasih. Kita wajib berterima kasih kepada Allah setiap hari atas pemberian-Nya berupa kehidupan. Orang benar-benar bergantung pada Allah, karena hanya Allah yang bisa menyediakan segala hal yang diperlukan untuk hidup, yaitu udara, air, makanan, dan lain-lain. Dengan demikian, manusia bisa terus hidup dan menikmati kehidupan.

Kita bersyukur kepada Allah atas semua kasih-Nya itu, sebab Dia-lah Pencipta dan Pemelihara kita. (Mazmur 104:10-28; 145:15-16, Kis 4:24). Itu sesuai dengan kata-kata Paulus: ”Allah memberikan kehidupan dan napas dan segala sesuatu kepada semua orang. Sebab oleh Dialah kita mempunyai kehidupan, kita bergerak, dan kita ada.”— Kis 17:25, 28.

Allah menunjukkan kasih-Nya dengan banyak cara, tidak hanya sekadar memenuhi kebutuhan jasmani kita. Allah juga membuat kita istimewa dengan memberi kita kesadaran akan kebutuhan rohani dan membantu kita memenuhinya. (Mat 5:3) Maka di masa depan, umat manusia yang taat dapat menjadi anggota keluarga Allah, ”anak-anak”-Nya.— Roma 8:19-21.

Allah menunjukkan kasih-Nya dengan mengirim Putra-Nya ke bumi (Yoh 3:16). Dengan demikian, Yesus dapat mengajar kita tentang Allah dan Bapak-Nya, serta kematian-Nya demi kita. Namun, banyak orang tidak paham mengapa Yesus perlu mati bagi manusia dan apa hubungan kematian Yesus dengan kasih Allah bagi kita. Kitab Suci menjelaskan mengapa Yesus harus mati dan apa makna kematiannya bagi kita.

Semua manusia bisa sakit, tua, dan mati. Tetapi, bukan itu yang Allah maksudkan sejak semula. Ia memberi pasangan manusia pertama masa depan untuk hidup selamanya di firdaus di bumi. Namun ada syaratnya: Mereka harus taat kepada-Nya. Allah berkata bahwa jika mereka tidak mau, mereka pasti akan mati. (Kejadian 2:17) Adam ternyata melawan wewenang Allah, sehingga dia dan keturunannya harus mati. ”Dosa masuk ke dalam dunia melalui satu orang, dan dari dosa itu timbullah kematian. Akibatnya, kematian menjalar pada seluruh umat manusia, sebab semua orang sudah berdosa,” Roma 5:12.

Namun, Allah adalah ”pencinta keadilan”. (Mazmur 37:28) Allah tentu tidak mengabaikan pelanggaran yang sengaja Adam lakukan. Namun, Ia juga tidak akan membuat semua manusia menderita dan mati karena pelanggaran satu orang. Dengan menerapkan prinsip hukum ’nyawa ganti nyawa’, Ia bertindak adil dan sekali lagi membuat manusia yang taat bisa hidup selamanya (Keluaran 21:23). Kehidupan semacam itu telah Adam hilangkan. Pertanyaannya, Bagaimana itu bisa diperoleh kembali? Jawabannya: Seseorang harus mengorbankan nyawanya, yakni nyawa manusia yang sempurna, yang sama nilainya dengan nyawa Adam.

Yesus rela datang ke bumi untuk mati demi menghapus dosa dan kematian

Karena tidak tidak ada keturunan Adam yang sempurna dan sanggup melakukannya, tetapi Yesus sanggup. (Mazmur 49:6-9) Yesus dilahirkan tanpa noda dosa warisan, maka ia sempurna, sama seperti Adam pada mulanya. Karena itu, dengan menyerahkan nyawanya, Yesus menebus umat manusia dari perbudakan dosa. Dengan melakukan itu, ia menawarkan kesempatan kepada keturunan manusia yang pertama untuk menikmati kesempurnaan seperti yang dulu Adam dan Hawa miliki. (Roma 3:23, 24; 6:23) Itu adalah bukti kasih Allah yang sangat besar bagi  kita. Apakah ada yang perlu kita lakukan untuk mendapat manfaat?

Kembali ke Yohanes 3:16, kita membaca kata-kata ”Supaya setiap orang yang percaya kepada Yesus tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal”. Ini berarti bahwa pemberian hidup yang kekal ada syaratnya. Jika ingin ”beroleh hidup yang kekal”, kita perlu percaya pada Yesus dan taat kepadanya.

’Apa yang harus dilakukan untuk taat? Bukankah Yesus mengatakan ”setiap orang yang percaya” akan hidup kekal?’ Ya, kepercayaan, atau iman, memang penting. Akan tetapi, dalam Kitab Suci, iman bukan sekadar percaya. Percaya mengandung arti ”bergantung pada sesuatu atau seseorang”. Jika seseorang ingin menyenangkan Allah, dia tidak akan sekadar mengakui Yesus sebagai Juru Selamat. Orang itu akan sungguh-sungguh berusaha melakukan apa yang Yesus ajarkan. Jika tidak ada tindakan, pengakuan apa pun tidak ada artinya. ”Iman tanpa perbuatan adalah mati,” . (Yakobus 2:26) Dengan kata lain, seseorang yang percaya kepada Yesus perlu mempraktekkan kepercayaan dan imannya dalam kehidupan sehari-hari.

Paulus mengatakan, ”Kasih Kristus mendesak kami, sebab inilah yang telah kami putuskan, bahwa satu orang (Yesus) telah mati untuk semua . . . Dan ia telah mati untuk semua orang agar mereka yang hidup tidak lagi hidup bagi dirinya sendiri, tetapi bagi dia yang telah mati untuk mereka dan dibangkitkan.” (2Kor 5:14-15), Jika kita benar-benar menghargai pengorbanan Yesus, kita akan membuat perubahan dalam kehidupan kita, dari hidup untuk diri sendiri menjadi hidup demi Yesus, yang telah mati untuk kita. Dengan kata lain, hal yang akan kita utamakan dalam kehidupan kita adalah melakukan apa yang Yesus ajarkan. Perubahan itu akan memengaruhi prinsip hidup kita, pilihan kita, dan segala sesuatu yang kita lakukan. Apa berkatnya jika kita benar-benar percaya dan hidup sesuai dengan iman kepada Yesus?

Yohanes 3:16 menyatakan janji Allah bagi orang-orang yang beriman pada tebusan dan hidup sesuai dengan hukum Allah. Allah ingin agar orang-orang itu ”tidak binasa melainkan beroleh hidup yang kekal”.

Allah telah banyak memberi.

Jika Anda merenungkan semua hal yang Allah beri untuk Anda dan umat manusia, jelaslah bahwa Ia telah banyak memberi. Kita bisa hidup, berpikir, sehat, dan punya berbagai hal yang kita perlukan untuk tetap hidup. Lebih dari itu, Allah telah menyediakan tebusan melalui Yesus, yang mati demi kita. Melalui pemberian itu, kita bisa menerima berkat-berkat yang jauh lebih besar (Yohanes 3:16),.

Kehidupan abadi ini damai dan menyenangkan, karena bebas dari penyakit, perang, kelaparan, atau kematian. Pada saat itulah, kita akan menikmati kebahagiaan dan berkat yang tak ada habisnya. Entah Anda akan menerima berkat-berkat itu atau tidak, sepenuhnya bergantung pada Anda. Yang sekarang jadi pertanyaan, Apa yang Anda beri untuk Allah?

DOA: Bapa surgawi, kami berterima kasih penuh syukur kepada-Mu karena Engkau telah mengutus Putera-Mu yang tunggal ke tengah dunia. Melalui Putera-Mu ini, Engkau telah memberikan kepada kami akses ke surga dan menyambut kami ke dalam hidup kekal bersama-Mu – walaupun kami pantas dihukum karena dosa-dosa dan pemberontakaan kami. Siapakah kami, ya Allah yang baik, sehingga Engkau begitu berbelas kasih kepada kami? Ya Tuhan dan Allah kami, kobarkanlah kerinduan kami untuk hidup dalam hadirat-Mu. Amin. (Lucas Margono)

Juni 1711Lucas