Renungan Rabu, 1 Januari 2014

Renungan Rabu, 01 Januari 2014; Oktaf Natal ke 7

Hari Raya Santa Perawan Maria Bunda Allah

Bacaan I: Bilangan (6:22-27)

“Mereka harus meletakkan nama-Ku atas orang Israel: maka Aku akan memberkati mereka.”

Sekali peristiwa Tuhan berfirman kepada Musa, “Berbicaralah kepada Harun dan anak-anaknya: Beginilah harus kamu memberkati orang Israel, katakanlah kepada mereka: Tuhan memberkati engkau dan melindungi engkau; Tuhan menyinari engkau dengan wajah-Nya dan memberi engkau kasih karunia; Tuhan menghadapkan wajah-Nya kepadamu dan memberi engkau damai sejahtera. Demikianlah harus mereka meletakkan nama-Ku atas orang Israel, maka Aku akan memberkati mereka.”

Bacaan II: Galatia (4:4-7)

“Allah mengutus Anak-Nya yang lahir dari seorang perempuan.”

Saudara-saudara, setelah genap waktunya, Allah mengutus Anak-Nya yang lahir dari seorang perempuan dan takluk kepada hukum Taurat. Ia diutus untuk menebus mereka, yang takluk kepada hukum Taurat, supaya kita diterima menjadi anak. Dan karena kamu adalah anak, maka Allah telah menyuruh Roh Anak-Nya ke dalam hati kita, yang berseru: “ya Abba, ya Bapa!” Jadi kamu bukan lagi hamba, melainkan anak; jikalau kamu anak, maka kamu juga adalah ahli waris-ahli waris, oleh karena Allah.

Injil: Lukas 2:16-21

“Mereka mendapati Maria, Yusuf, dan si Bayi. Pada hari kedelapan Ia diberi nama Yesus.”

Setelah mendengar berita kelahiran penyelamat dunia, para gembala cepat-cepat berangkat ke Betlehem, dan mendampati Maria dan Yusuf serta Bayi yang terbaring di dalam palungan. Ketika melihat Bayi itu, para gembala memberitahukan apa yang telah dikatakan kepada mereka tentang Anak itu. Dan semua orang yang mendengarnya heran tentang apa yang dikatakan gembala-gembala itu. Tetapi Maria menyimpan segala perkara itu dalam hati dan merenungkannya. Maka kembalilah gembala-gembala itu sambil memuji dan memuliakan Allah karena segala sesuatu yang mereka dengar dan mereka lihat semuanya sesuai dengan apa yang telah dikatakan kepada mereka. Ketika genap delapan hari umurnya, Anak itu disunatkan, dan Ia diberi nama Yesus, yaitu nama yang disebut oleh malaikat sebelum Ia dikandung ibu-Nya.

 
Gambar
Renungan

Berkat dari Tuhan
Allah berkehendak memberkati umat-Nya melalui perantaraan imam. Terlihat di sini bahwa berkat mengalir dari kasih karunia-Nya, karena keinginan hati-Nya.

Berkat ini terdiri dari tiga bagian dan tiap bagian terdiri dari dua unsur yang saling berkaitan. Berkat yang pertama: “TUHAN memberkati engkau dan melindungi engkau”(24). Dalam berkat ini tergambar pemeliharaan Allah atas umat-Nya secara penuh. Umat dilindungi dari segala sesuatu yang jahat. Berkat Allah tercurah dalam tindakan yang menyatakan kebaikan-Nya. Berkat yang kedua: “TUHAN menyinari engkau dengan wajah-Nya dan memberi engkau kasih karunia” (25). Ini merupakan tanda perkenan Allah atas diri seseorang. Dengannya orang boleh merasa yakin bahwa Allah akan mendengar doanya dan menyelamatkan dia dari musuh, penyakit, dan dosa. Berkat yang ketiga, “TUHAN menghadapkan wajah-Nya kepadamu dan memberi engkau damai sejahtera”. Berkat ini menyatakan manifestasi kuasa yang memelihara manusia dan yang akan menghasilkan damai sejahtera. Ketika Allah memandang seseorang, itu berarti Ia berkenan atas orang itu dan akan menyelamatkan dia dari kesukaran (band. Mzm. 33:18; 34:16).

Kata berkat memiliki makna yang spesifik dalam Perjanjian Lama. Allah memberkati umat-Nya dengan menganugerahkan keturunan, kekayaan, tanah, kesehatan, dan kehadiran-Nya sendiri di tengah-tengah mereka. Mereka yang berada dalam pemeliharaan Allah akan dilindungi. Berkat Tuhan memberikan gambaran tentang suasana penuh perlindungan, kasih karunia, dan damai sejahtera. Juga gambaran kasih Allah yang makin lama makin dalam.

Banyak orang cenderung dekat dengan Allah karena mengharapkan berkat-Nya. Ini tidak sepenuhnya salah sebab Allah memang sumber berkat. Tetapi jangan hanya mengharapkan berkat lalu menomorduakan Sumber berkat. Kiranya kerinduan kita yang terutama adalah hidup dekat dengan Allah dan menikmati berkat yang lahir dari kedekatan itu.

Bacaan II, Paulus mengajarkan sebagai orang percaya tidak ada lagi perbedaan, siapa pun orangnya kita mengatakan; “Engkau Saudaraku”. Dalam masyarakat Romawi, seorang anak yang beranjak dewasa (akil balig) mengganti jubah anak-anaknya dengan jubah orang dewasa. Hal ini menandakan bahwa dia sekarang adalah seorang dewasa yang memiliki hak dan tanggung jawab penuh. Paulus memakai pengertian budaya ini untuk menjelaskan konsep baptisan. Melalui baptisan, orang-orang percaya menyatakan diri siap bersikap dewasa iman, dengan mengambil hak dan tanggung jawab penuh kedewasaan itu. Mereka telah menanggalkan jubah lama hukum Taurat dan di dalam Kristus telah mengenakan jubah baru kebenaran 3:26-27.

Salah satu hasil penyelamatan itu adalah tidak ada lagi perbedaan di antara orang percaya karena semua adalah satu di dalam Kristus Yesus (ayat 28). Mengapa Paulus menekankan hal persatuan ini? Beberapa laki-laki Yahudi, setiap pagi menaikkan doa pengucapan syukur dengan mengatakan: “Tuhan, saya bersyukur karena saya bukan orang kafir, budak, atau wanita.” Mereka sangat bangga dengan jati diri mereka yang tidak dimiliki oleh orang lain. Paulus mengingatkan mereka, bahwa sebelum Kristus datang membebaskan mereka, jati diri mereka tidak lebih daripada hamba (ayat 4:1-3). Namun, jati diri sejati umat Tuhan ada pada karya penebusan Kristus yang menjadikan semua orang percaya sebagai anak-anak Allah dan ahli waris surgawi 4:4-7.

Salah satu wujud kebebasan di dalam Kristus adalah tidak lagi ada diskriminasi ras, gender, dan status sosial di dalam gereja. Dahulu kita semua adalah hamba dosa, tetapi oleh anugerah Allah kita sekarang adalah anak-anak-Nya. Oleh sebab itu, sebelum kita keluar mengabarkan Injil lintas ras, gender, dan status sosial, kita harus lebih dahulu membereskan prasangka-prasangka seperti itu dari lingkungan gereja dan persekutuan kita.

Salah satu bukti kebebasan sejati di dalam Kristus adalah tatkala kita mampu berkata kepada orang yang paling berbeda dari kita, “Engkau saudaraku.”

Injil hari ini, Para gembala mendapatkan Berita sukacita dari Malaikat tentang kelahiran Mesias. Kelahiran seorang bayi biasanya menghadirkan tanggapan tersendiri dari orang-orang di sekitarnya. Begitu pulalah kelahiran Yesus bagi orang-orang yang mengetahuinya. Para gembala yang mendapatkan berita kelahiran Kristus dari malaikat (10-11), menjadi tertarik untuk mengetahui kebenaran berita tersebut. Lalu mereka pergi ke Betlehem, tempat di mana Yesus lahir. Memang benar, mereka menjumpai bayi Yesus tepat seperti yang dikatakan malaikat, dibungkus kain lampin dan terbaring di dalam palingan (16). Rasa takjub atas penemuan itu membuat mereka tidak dapat berdiam diri. Memang perjumpaan dengan malaikat bukanlah pengalaman semua orang. Ini pengalaman luar biasa! Terlebih lagi bertemu dengan Kristus, jelas bukan berita biasa.

Tak heran hati para gembala dipenuhi semangat menyala-nyala untuk memberitakan hal tersebut kepada orang banyak. Akibatnya, orang banyak menjadi `heran.\’ Ini memperlihatkan bahwa kesaksian tentang Yesus menggugah pikiran dan perasaan. Kesaksian yang tidak biasa karena menuntut jawaban yang tidak biasa, yaitu entah percaya kepada-Nya atau menolak-Nya. Lalu bagaimana dengan Maria? Setelah mendengar kesaksian para gembala, Maria menyimpan segala perkara itu dalam hati dan merenungkannya. Maria merenungkan karya dan perbuatan Allah yang ajaib ke dalam hidupnya.

Yusuf dan Maria melakukan beberapa hal bagi bayi Yesus sesuai perintah Allah. Mereka menamai dia Yesus sesuai dengan pesan malaikat (21). Mereka menyunatkan Yesus pada hari kedelapan sesuai tuntutan Hukum Allah (21). Perintah penyunatan bayi diberikan pertama kali kepada Abraham (Kej. 17:12) dan kemudian menjadi aturan bagi umat Israel (Im. 12:3).

Hal berbeda telah terjadi pada Bunda Maria, khususnya dalam perayaan hari raya ini, Hari Raya Santa Maria Bunda Allah, di akhir Oktaf Natal. Kita memahami bahwa Bunda Maria memperoleh gelar Bunda Allah (Theotokos) itu oleh karena Yesus, Putranya. Ia tetaplah seorang manusia yang sederhana dan saleh. Namun, karena dipilih menjadi Bunda Sang Juruselamat, ia mendapatkan tempat terhormat di antara kaum wanita. Hal ini dikatakan oleh Elisabet, “Terpujilah Engkau di antara wanita.” Kalimat ini pun telah menjadi doa yang akrab di telinga dan hati kita. Jadi, fokus dan alasan dari pernyataan iman bahwa Maria itu Bunda Allah adalah Yesus sendiri.

Iman kita menyatakan bahwa Yesus itu sungguh Allah dan sungguh manusia. Ia menjadi pendamai bagi kita dengan Allah. Sebab, dalam diri Yesuslah Allah dan manusia bersatu dalam satu pribadi. Bukan setelah Ia menginjak dewasa, tetapi sejak dalam kandungan Bunda Maria. Sabda telah menjadi daging, Putra Allah menjadi Anak Manusia dalam kandungannya. Maka dari itu, pantaslah bahwa Maria menjadi Bunda Allah. Ia bukan hanya Bunda Yesus yang menjadi simbol harapan manusia, suatu tanda perdamaian Allah dengan manusia, melainkan juga teladan bagi kita. Sebab, ia mampu bekerja sama dengan rencana Allah.

Kini kita bisa memahami bahwa Bunda Maria mendapatkan karunia yang begitu besar, menjadi Ibu Tuhan kita, Yesus Kristus. Ia telah turut ambil bagian dalam karya keselamatan manusia, melahirkan Sang Putra, Pribadi Allah yang menjadi manusia, yang membawa damai bagi setiap manusia yang percaya kepada-Nya. Ia pun menjadi ibu kita dalam beriman dan percaya akan kasih karunia Allah dalam diri Yesus, Sang Raja Damai.

Maka, tepat pula di awal tahun ini, kita juga merayakan Hari Perdamaian Sedunia. Ada pesan dari Bapa Suci, Paus Fransiskus. Singkatnya, lewat Pembaptisan, kita telah disatukan dan ambil bagian dalam kehidupan-Nya. Inilah yang membuat kita menjadi duta perdamaian. Sebagai duta, kita mulai menjalankan dari lingkungan terdekat, keluarga atau komunitas kita. Kita memulai tugas kita dengan menciptakan rasa nyaman, tenteram dan saling memaafkan sambil membiarkan Allah turut campur tangan dalam kehidupan kita.

Sebagaimana Maria menjadi Bunda Allah karena Yesus, kita pun menjadi duta perdamaian karena Yesus. Belajar dari Maria, Bunda Perdamaian, mari kita juga menyerahkan hidup dan tugas kita itu kepada rencana-Nya. Maka, usahakan ada doa bersama dalam keluarga atau komunitas, supaya Yesus sungguh sebagai alasan kita menjadi duta perdamaian, dan itulah juga sarana pembentukan karakter pribadi yang siap mengampuni dan menerima perbedaan.

 

Iklan

Renungan Selasa, 31 Desember 2013

Renungan Selasa, 31 Desember 2013; Hari ke-7 Oktaf Natal (P)

Sta. Melania; St. Silvester I, Paus

Bacaan I: 1Yoh. 2:18–21

Antikristus
2:18 Anak-anakku, waktu ini adalah waktu yang terakhir, dan seperti yang telah kamu dengar, seorang antikristus akan datang, sekarang telah bangkit banyak antikristus. Itulah tandanya, bahwa waktu ini benar-benar adalah waktu yang terakhir. 2:19 Memang mereka berasal dari antara kita, tetapi mereka tidak sungguh-sungguh termasuk pada kita; sebab jika mereka sungguh-sungguh termasuk pada kita, niscaya mereka tetap bersama-sama dengan kita. Tetapi hal itu terjadi, supaya menjadi nyata, bahwa tidak semua mereka sungguh-sungguh termasuk pada kita. 2:20 Tetapi kamu telah beroleh pengurapan dari Yang Kudus, dan dengan demikian kamu semua mengetahuinya. 2:21 Aku menulis kepadamu, bukan karena kamu tidak mengetahui kebenaran, tetapi justru karena kamu mengetahuinya dan karena kamu juga mengetahui, bahwa tidak ada dusta yang berasal dari kebenaran.

Bacaan Injil: Yoh. 1:1–18

Firman yang telah menjadi manusia
1:1 Pada mulanya adalah Firman; Firman itu bersama-sama dengan Allah dan Firman itu adalah Allah. 1:2 Ia pada mulanya bersama-sama dengan Allah. 1:3 Segala sesuatu dijadikan oleh Dia dan tanpa Dia tidak ada suatupun yang telah jadi dari segala yang telah dijadikan. 1:4 Dalam Dia ada hidup dan hidup itu adalah terang manusia. 1:5 Terang itu bercahaya di dalam kegelapan dan kegelapan itu tidak menguasainya. 1:6 Datanglah seorang yang diutus Allah, namanya Yohanes; 1:7 ia datang sebagai saksi untuk memberi kesaksian tentang terang itu, supaya oleh dia semua orang menjadi percaya. 1:8 Ia bukan terang itu, tetapi ia harus memberi kesaksian tentang terang itu. 1:9 Terang yang sesungguhnya, yang menerangi setiap orang, sedang datang ke dalam dunia. 1:10 Ia telah ada di dalam dunia dan dunia dijadikan oleh-Nya, tetapi dunia tidak mengenal-Nya. 1:11 Ia datang kepada milik kepunyaan-Nya, tetapi orang-orang kepunyaan-Nya itu tidak menerima-Nya. 1:12 Tetapi semua orang yang menerima-Nya diberi-Nya kuasa supaya menjadi anak-anak Allah, yaitu mereka yang percaya dalam nama-Nya; 1:13 orang-orang yang diperanakkan bukan dari darah atau dari daging, bukan pula secara jasmani oleh keinginan seorang laki-laki, melainkan dari Allah. 1:14 Firman itu telah menjadi manusia, dan diam di antara kita, dan kita telah melihat kemuliaan-Nya, yaitu kemuliaan yang diberikan kepada-Nya sebagai Anak Tunggal Bapa, penuh kasih karunia dan kebenaran. 1:15 Yohanes memberi kesaksian tentang Dia dan berseru, katanya: “Inilah Dia, yang kumaksudkan ketika aku berkata: Kemudian dari padaku akan datang Dia yang telah mendahului aku, sebab Dia telah ada sebelum aku.” 1:16 Karena dari kepenuhan-Nya kita semua telah menerima kasih karunia demi kasih karunia; 1:17 sebab hukum Taurat diberikan oleh Musa, tetapi kasih karunia dan kebenaran datang oleh Yesus Kristus. 1:18 Tidak seorangpun yang pernah melihat Allah; tetapi Anak Tunggal Allah, yang ada di pangkuan Bapa, Dialah yang menyatakan-Nya.

Gambar
Renungan

Di penghujung hari tahun 2013 dan menyongsong hari baru tahun 2014, bacaan pertama Kitab Suci Yohanes memperingatkan jemaat-jemaat akan kehadiran antikristus. Peringatan tersebut disampaikan Yohanes dengan gaya dan perhatian seorang bapak kepada anaknya (ayat 18).

Hal penting yang Yohanes lakukan adalah mengingatkan mereka akan ajaran Yesus yang telah mereka dengar dari para rasul (ayat 18). Ajaran tersebut terekam dalam Matius 24:24 “Sebab mesias-mesias palsu dan nabi-nabi palsu akan muncul pada akhir zaman”. Sebagai bukti bahwa jemaat telah hidup dalam waktu terakhir, Yohanes menunjuk pada kehadiran mesias palsu di dalam jemaat (ayat 18). Kehadiran anti-kristus di tengah-tengah jemaat menjadi tanda akhir zaman telah berlaku. Kedatangan Yesus yang pertama adalah tanda dimulainya akhir zaman, sehingga setiap orang Kristen yang hidup setelah kedatangan Yesus pertama, hidup dalam akhir zaman sewaktu-waktu Kristus akan datang kembali. Hadirnya antikristus di tengah-tengah jemaat merupakan peringatan agar jemaat bersiap-siap menyambut kedatangan Kristus kedua kali. Yohanes kuatir jemaat menjadi lengah dan tidak siap serta tidak hidup sesuai ajaran kitab suci ketika Yesus datang.

Yohanes juga menyatakan bahwa antikristus muncul dari dalam jemaat sendiri (ayat 19). Mereka dahulu pernah mengaku percaya pada Yesus, tetapi kemudian menyangkali Yesus sebagai Anak Allah. Yohanes menyatakan bahwa sebenarnya mereka tidak pernah menjadi murid Yesus (ayat 19), tidak pernah sungguh-sungguh menjadi bagian jemaat Kristus, dan tidak pernah percaya pada Yesus sehingga mereka tidak pernah menerima pengurapan Roh Kudus (ayat 20). Setiap orang yang percaya pada Yesus diurapi Roh Kudus. Akibat urapan Roh Kudus jemaat mengetahui kebenaran, sedang akibat urapan roh antikristus, manusia akan menghasilkan dusta (ayat 21).

Hal yang menjadi permenungan kita adalah; jangan terlalu yakin bahwa antikristus tidak pernah muncul dari dalam jemaat. Orang yang paling dekat dengan kita justru mungkin malah seorang antikristus.

Bacaan Injil hari ini Yohanes memulai Injilnya dengan menjelaskan tentang Terang yang memberi hidup

Salah satu kebutuhan dalam peradaban manusia adalah peralatan elektronis yang berfungsi sebagai penerang. Meskipun alat penerangan telah dimiliki manusia, tetapi alat itu tetap tidak mampu menerangi kegelapan dunia ini. Oleh karena itu, Allah berinisiatif untuk mengirimkan terang sejati yang menerangi hati dan memberi hidup bagi manusia (ayat 9).

Tuhan Yesus adalah terang sejati tersebut, karena: pertama, Dia adalah Firman yang kekal. Pernyataan pembuka Injil Yohanes pada dua ayat pertama sangat penting dalam menegaskan keilahian Kristus. “Pada mulanya ada Firman,” frasa ini menegaskan kekekalan Firman. “Firman itu ada bersama-sama dengan Allah dan Firman itu adalah Allah.” Berarti Firman itu berbeda pribadi dari Allah Bapa, tetapi Firman itu adalah Allah. Kedua, Firman yang kekal itu terlibat dalam karya penciptaan Allah Bapa (ayat 3). Melalui Firman, Allah Bapa menjadikan segala yang ada dan dengan Firman, Allah Bapa memelihara segala yang sudah dijadikan-Nya itu (band. Ibr. 1:3). Ketiga, Firman yang mencipta itu menjadi sumber hidup yang memberi terang (ayat 4). Itu sebabnya, kehidupan berasal dari Firman. Kehidupan yang berasal dari terang ilahi mengenyahkan kegelapan yang melingkupi dunia dan kehidupan manusia berdosa (ayat 5).

Yohanes Pembaptis diutus Allah untuk menyaksikan terang yang sedang datang ke dalam dunia ini agar orang memercayai Allah dan menerima terang ilahi itu yang akan mengenyahkan kegelapan hidupnya (ayat 6-8). Tugas pemberitaan ini tidak mudah sebab orang yang tinggal dalam kegelapan belum tentu senang menerima firman yang menelanjangi dosanya. Kristus sudah datang. Kita memperingati kelahiran-Nya hari ini. Tidak cukup hanya bersukacita atas kehadiran-Nya sebab kita dipanggil untuk menyaksikan Dia agar orang lain pun diterangi hidupnya dan memperoleh terang ilahi, yaitu keselamatan.

Siapa yang berhak menyelamatkan manusia berdosa? Bukankah manusia berdosa seharusnya dihukum Allah? Lalu, mengapa Tuhan Yesus mau menyelamatkan manusia sehingga manusia tidak binasa?

Bila pada pasal 1:1-9, Yohanes menegaskan keilahian Kristus maka pada bagian ini kemanusiaan-Nya yang ditekankan. “Firman itu telah menjadi manusia,” tinggal dan melayani di tengah-tengah manusia (ayat 14a). Tuhan Yesus adalah manusia sebagai perwujudan Allah secara sempurna (ayat 18). Hanya Dia yang bisa mewakili Allah di dunia ini, sebab Dia berasal dari Allah dan Dia adalah Allah (lih. ayat 1-2). Itulah sebabnya, orang yang tinggal bersama-sama dengan Dia melihat kemuliaan-Nya sebagai kemuliaan yang berasal dari Allah Bapa (ayat 14b). Kemuliaan-Nya itu dimanifestasikan dalam kasih karunia dan kebenaran. Artinya, melalui Kristus anugerah keselamatan diberikan kepada setiap orang yang percaya (ayat 12) dan mereka yang percaya dibenarkan Allah (band. Rm. 5:1-2). Yang dulu dinanti-nantikan oleh umat Israel melalui Hukum Taurat Musa, kini digenapi oleh kasih karunia di dalam Kristus (ayat 16). Jadi, Tuhan Yesus bisa dan berhak menyelamatkan manusia dari murka Allah yang membinasakan! Namun, fakta membuktikan bahwa tidak semua orang menyambut gembira kedatangan Kristus (ayat 10-11). Mereka menolak Kristus karena tidak mau mengubah hidup mereka yang sudah nyaman dalam dosa dan tidak mau tunduk ke bawah otoritas Allah.

Yohanes Pembaptis mengambil posisi sebagai saksi Kristus bagi dunia ini. Ketegasan ini diperlukan agar fokus keselamatan tidak bergeser dari pembawa berita kepada Sang Kabar Baik itu sendiri. Demikian pula tugas kita adalah memberitakan Kristus, Dia adalah Gambar Allah yang sempurna, yang satu-satu-Nya yang dapat memberikan kuasa kepada manusia menjadi anak-anak Allah.

Renungkan: Hanya Kristus yang berhak dan berkuasa mengubah hidup seseorang menjadi seorang anak Allah.

Terima kasih Tuhan atas penyelenggaraan-Mu sepanjang tahun yang akan segera lewat. Bimbinglah aku dengan kasih setia-Mu di tahun yang baru ini. Amin.

Renungan Senin, 30 Desember 2013

Renungan Senin, 30 Desember 2013; Hari Keenam Dalam Oktaf Natal (P).

St. Sabinus

Bacaan Pertama: 1Yoh. 2:12-17;

Perintah yang baru
2:7 Saudara-saudara yang kekasih, bukan perintah baru yang kutuliskan kepada kamu, melainkan perintah lama yang telah ada padamu dari mulanya. Perintah lama itu ialah firman yang telah kamu dengar. 2:8 Namun perintah baru juga yang kutuliskan kepada kamu, telah ternyata benar di dalam Dia dan di dalam kamu; sebab kegelapan sedang lenyap dan terang yang benar telah bercahaya. 2:9 Barangsiapa berkata, bahwa ia berada di dalam terang, tetapi ia membenci saudaranya, ia berada di dalam kegelapan sampai sekarang. 2:10 Barangsiapa mengasihi saudaranya, ia tetap berada di dalam terang, dan di dalam dia tidak ada penyesatan. 2:11 Tetapi barangsiapa membenci saudaranya, ia berada di dalam kegelapan dan hidup di dalam kegelapan. Ia tidak tahu ke mana ia pergi, karena kegelapan itu telah membutakan matanya. 2:12 Aku menulis kepada kamu, hai anak-anak, sebab dosamu telah diampuni oleh karena nama-Nya. 2:13 Aku menulis kepada kamu, hai bapa-bapa, karena kamu telah mengenal Dia, yang ada dari mulanya. Aku menulis kepada kamu, hai orang-orang muda, karena kamu telah mengalahkan yang jahat. 2:14 Aku menulis kepada kamu, hai anak-anak, karena kamu mengenal Bapa. Aku menulis kepada kamu, hai bapa-bapa, karena kamu mengenal Dia, yang ada dari mulanya. Aku menulis kepada kamu, hai orang-orang muda, karena kamu kuat dan firman Allah diam di dalam kamu dan kamu telah mengalahkan yang jahat. 2:15 Janganlah kamu mengasihi dunia dan apa yang ada di dalamnya. Jikalau orang mengasihi dunia, maka kasih akan Bapa tidak ada di dalam orang itu. 2:16 Sebab semua yang ada di dalam dunia, yaitu keinginan daging dan keinginan mata serta keangkuhan hidup, bukanlah berasal dari Bapa, melainkan dari dunia. 2:17 Dan dunia ini sedang lenyap dengan keinginannya, tetapi orang yang melakukan kehendak Allah tetap hidup selama-lamanya.

Injil: Luk. 2:36-40.

2:36 Lagipula di situ ada Hana, seorang nabi perempuan, anak Fanuel dari suku Asyer. Ia sudah sangat lanjut umurnya. Sesudah kawin ia hidup tujuh tahun lamanya bersama suaminya, 2:37 dan sekarang ia janda dan berumur delapan puluh empat tahun. Ia tidak pernah meninggalkan Bait Allah dan siang malam beribadah dengan berpuasa dan berdoa. 2:38 Dan pada ketika itu juga datanglah ia ke situ dan mengucap syukur kepada Allah dan berbicara tentang Anak itu kepada semua orang yang menantikan kelepasan untuk Yerusalem. 2:39 Dan setelah selesai semua yang harus dilakukan menurut hukum Tuhan, kembalilah mereka ke kota kediamannya, yaitu kota Nazaret di Galilea. 2:40 Anak itu bertambah besar dan menjadi kuat, penuh hikmat, dan kasih karunia Allah ada pada-Nya.

Gambar
Renungan:

Cinta dunia atau cinta Allah?
Yohanes memberi peringatan kepada orang Kristen tentang adanya ancaman yang dapat merusak persekutuan dengan Allah, yaitu cinta kepada dunia. Yohanes memberi dua alasan. Pertama, bahwa kasih pada dunia tidak berasal dari Allah (ayat 16). Dunia yang dimaksud bukanlah bumi yang kita huni, juga bukan manusia yang tinggal di bumi. Dunia menurut Yohanes adalah semua hal yang melawan Allah. Kedua, bahwa dunia yang dikasihi manusia tidak bersifat kekal (ayat 17). Sungguh merupakan kebodohan jika kita mengasihi hal-hal yang tidak kekal. Akan tetapi manusia tidak menyadarinya. Manusia lebih mencintai hal yang kelihatan yang bersifat sementara.

Bagaimana karakteristik cinta dunia? Yohanes menyebutkan tiga ciri khas cinta dunia:

[1] keinginan daging. Perlu dipahami bahwa wajar dan manusiawi jika manusia memiliki keinginan. Masalah timbul jika keinginan bercampur dengan daging membentuk keinginan daging. Istilah daging dalam ayat 16 menunjuk pada semua hal yang menentang Allah. Misalnya, keinginan seksual. Keinginan tersebut tidaklah keliru, yang keliru adalah jika perwujudan keinginan tersebut bertentangan dengan kehendak Allah. Keinginan seksual hanya boleh dilakukan dalam koridor perkawinan;

[2] keinginan mata. Misalnya, mata melihat milik orang lain dan menginginkannya. Mata membangkitkan nafsu rakus. Jika nafsu berahi dan nafsu rakus bersatu akan mengarah pada dosa perselingkuhan;

[3] keangkuhan hidup. Hidup adalah karunia Tuhan, tetapi ketika hidup disandingkan dengan keangkuhan ia menjadi dosa. Keangkuhan hidup merupakan pernyataan penolakan kehadiran Allah. Manusia angkuh melihat benda, properti, uang, karir cemerlang yang dimilikinya adalah prestasi bukan berkat Allah. Manusia angkuh merasa tidak perlu bergantung pada Allah dalam hidupnya.

Injil hari ini, Setelah segala peristiwa dan pemberitaan sebelumnya, masih ada lagi hal tentang Yesus yang mampu membuat Yusuf dan Maria “amat heran”! Ini menandakan bahwa keduanya masih terus dalam proses mengenali siapa Yesus Kristus dan misi-Nya, salah satunya seperti yang disampaikan Simeon. Yesus adalah Sang Mesias (ayat 26), yang menjadi kelepasan bagi Israel (ayat 25,38), dan memenuhi nubuat Perjanjian Lama (ayat 32, bdk. Yes. 42:6, 49:6; 34, bdk. Yes. 8:14). Yang penting untuk diperhatikan adalah bahwa pengenalan yang lebih mendalam tersebut berlangsung dalam konteks ketaatan dan kesalehan.Ketaatan itu tampak dari tokoh Simeon dan Hana. Simeon adalah seorang yang benar dan saleh (ayat 25), dan taat kepada Roh Kudus (ayat 25b-27). Demikian juga Hana, yang rutin melayani di Bait Allah dan beribadah dengan berpuasa dan berdoa (ayat 37). Kedua orang ini dipakai Allah untuk menegaskan dan meneguhkan jati diri Yesus, tidak hanya di hadapan Yusuf dan Maria, tetapi, seperti yang dilakukan oleh Hana, juga di hadapan banyak orang yang masih setia berharap kepada Allah (ayat 38). Ketaatan itu juga tampak dari apa yang dilakukan Yusuf dan Maria. Mereka menamai Yesus sesuai dengan perintah malaikat (ayat 21). Maria taat untuk mentahirkan dirinya (ayat 22). Mereka membawa Yesus ke Yerusalem dan menyerahkan-Nya kepada Tuhan (ayat 22-23) untuk mempersembahkan kurban (ayat 24), serta menyelesaikan semuanya sesuai dengan hukum Taurat (ayat 39).

Hana adalah seorang nabi perempuan yang dengan tekun berharap akan kedatangan Kristus. Ia tetap menjanda selama bertahun-tahun, tidak pernah menikah lagi, sebaliknya mengabdikan dirinya kepada Tuhan, serta “berpuasa dan berdoa” siang dan malam. Alkitab mengajarkan bahwa status tak menikah dapat menjadi berkat yang lebih besar daripada menikah. Paulus menyatakan bahwa orang yang tidak menikah memiliki kesempatan yang lebih besar untuk memusatkan perhatian pada perkara Tuhan — bagaimana dapat menyenangkan hati Tuhan dengan sepenuhnya menyerahkan diri kepada-Nya (lih. 1Kor 7:32-35).

Peristiwa yang dicatat Lukas dalam bentuk khiastik (gaya penulisan dimana bagian-bagian subnas yang bertema mirip disusun berurut menjadi seperti ini: a-b-c-d-c’-b’-a’) ini memberikan teladan kepada kita, tentang betapa indahnya karya Allah yang dinyatakan melalui orang-orang yang taat beribadah kepada-Nya dan saleh kehidupannya.

Renungan minggu, 29 Desember 2013

Renungan Minggu, 29 Desember 2013; Hari ke- 5 Oktaf Natal (P)

Pesta Keluarga Kudus, Yesus, Maria, Yusuf (P);
St. Thomas Becket dr Canterbury; St. Kaspar Del Bufalo;
Daud (Raja Israel)

Bacaan I : Sir. 3:2–6.12–14

Memang Tuhan telah memuliakan bapa pada anak-anaknya, dan hak ibu atas para anaknya diteguhkan-Nya. Barangsiapa menghormati bapanya memulihkan dosa, dan siapa memuliakan ibunya serupa dengan orang yang mengumpulkan harta.
Barangsiapa menghormati bapanya, ia sendiri akan mendapat kesukaan pada anak-anaknya pula, dan apabila bersembahyang, niscaya doanya dikabulkan.
Barangsiapa memuliakan bapanya akan panjang umurnya, dan orang yang taat kepada Tuhan menenangkan ibunya
Anakku, tolonglah bapamu pada masa tuanya, jangan menyakiti hatinya di masa hidupnya. Pun pula kalau akalnya sudah berkurang hendaklah kaumaafkan, jangan menistakannya sewaktu engkau masih berdaya. Kebaikan yang ditunjukkan kepada bapa tidak sampai terlupa, melainkan dibilang sebagai pemulihan segala dosamu.

Bacaan II : Kol. 3:12–21

3:12 Karena itu, sebagai orang-orang pilihan Allah yang dikuduskan dan dikasihi-Nya, kenakanlah belas kasihan, kemurahan, kerendahan hati, kelemahlembutan dan kesabaran. 3:13 Sabarlah kamu seorang terhadap yang lain, dan ampunilah seorang akan yang lain apabila yang seorang menaruh dendam terhadap yang lain, sama seperti Tuhan telah mengampuni kamu, kamu perbuat jugalah demikian. 3:14 Dan di atas semuanya itu: kenakanlah kasih, sebagai pengikat yang mempersatukan dan menyempurnakan. 3:15 Hendaklah damai sejahtera Kristus memerintah dalam hatimu, karena untuk itulah kamu telah dipanggil menjadi satu tubuh. Dan bersyukurlah. 3:16 Hendaklah perkataan Kristus diam dengan segala kekayaannya di antara kamu, sehingga kamu dengan segala hikmat mengajar dan menegur seorang akan yang lain dan sambil menyanyikan mazmur, dan puji-pujian dan nyanyian rohani, kamu mengucap syukur kepada Allah di dalam hatimu. 3:17 Dan segala sesuatu yang kamu lakukan dengan perkataan atau perbuatan, lakukanlah semuanya itu dalam nama Tuhan Yesus, sambil mengucap syukur oleh Dia kepada Allah, Bapa kita
3:18 Hai isteri-isteri, tunduklah kepada suamimu, sebagaimana seharusnya di dalam Tuhan. 3:19 Hai suami-suami, kasihilah isterimu dan janganlah berlaku kasar terhadap dia. 3:20 Hai anak-anak, taatilah orang tuamu dalam segala hal, karena itulah yang indah di dalam Tuhan. 3:21 Hai bapa-bapa, janganlah sakiti hati anakmu, supaya jangan tawar hatinya.

Bacaan Injil : Mat. 2:13–15.19–23

Setelah orang-orang majus itu berangkat, nampaklah malaikat Tuhan kepada Yusuf dalam mimpi dan berkata: ”Bangunlah, ambillah Anak itu serta ibu-Nya, larilah ke Mesir dan tinggallah di sana sampai Aku berfirman kepadamu, karena Herodes akan mencari Anak itu untuk membunuh Dia.” Maka Yusuf pun bangunlah, diambilnya Anak itu serta ibu-Nya malam itu juga, lalu menyingkir ke Mesir, dan tinggal di sana hingga Herodes mati. Hal itu terjadi supaya genaplah yang difirman­kan Tuhan oleh nabi: ”Dari Mesir Kupanggil Anak-Ku.”
Setelah Herodes mati, nampaklah malaikat Tuhan kepada Yusuf dalam mimpi di Mesir, katanya: ”Bangunlah, ambillah Anak itu serta ibu-Nya dan berangkatlah ke tanah Israel, karena mereka yang hendak membunuh Anak itu, sudah mati.” Lalu Yusuf pun bangunlah, diambilnya Anak itu serta ibu-Nya dan pergi ke tanah Israel. Tetapi setelah didengarnya, bahwa Arkhelaus menjadi raja di Yudea menggantikan Herodes, ayahnya, ia takut ke sana. Karena dinasihati dalam mimpi, pergilah Yusuf ke daerah Galilea. Setibanya di sana ia pun tinggal di sebuah kota yang bernama Nazaret. Hal itu terjadi supaya genaplah firman yang disampaikan oleh nabi-nabi, bahwa Ia akan disebut: Orang Nazaret.

Gambar
Renungan

Bin Sirakh membagikan pengajarannya mengenai penghormatan kepada orang tua dalam bersikap positif dan menghindarkan yang negatif. Pada umumnya ayah memainkan peranan penting, dan ibu justru sebagai kontras. Tindakan positif ini mendatangkan rahmat Tuhan dengan memberikan ganjaran-Nya; pemulihan dosa, keturunan, pengabulan doa, kehidupan dan kerukunan dalam keluarga. Konsep pemulihan dosa dengan menghormati orang tua merupakan hal yang baru dalam pandangan alkitabiah. Sebelum jaman Sirakh, juga dikembangkan nilai pemulihan dari derma (3:18; 28:2 dsb). Namun pemulihan tidak otomatis sebab dituntut juga pertobatan.

Kewajiban untuk menghindarkan yang negatif (10-16) mulai dengan kontras antara rasa malu dan kehormatan. Kalimat ini dapat diungkapkan demikian, untuk menunjukan rasa hormat terhadap orang tua adalah kehormatan bagi anak-anak; tetapirasa malu bagi seorang ibu adalah rasa malu dalam anak-anaknya.

Mengenai kehidupan keluarga, Sirakh menasehatkan perhatian atau kesopanan manusiawi bagi anak-anak. Hal ini mempunyai motif ilahi; Allah akan memperhitungkan kebaikan demikian. Kewajiban anak merawat dan menghormati ayah yang sudah tua adalah keharusan dan tidak bisa ditawar-tawar lagi.

Bacaan kedua; Transformasi hanya bisa terjadi bila identifikasi terjadi. Identifikasi yang terus menerus dengan Kristus akan menyebabkan transformasi semakin menyerupai Kristus. Kedua hal ini tidak terpisahkan. Pada perikop ini kita akan melihat bagaimana transformasi itu diteruskan dengan menerapkan tingkah laku yang mulia (ayat 16-17) dan menumbuhkan karakter ilahi (ayat 12-15).

Pertama, menumbuhkan karakter ilahi. Karakter-karakter yang dijabarkan di 12-15 adalah karakter Kristus yang dipraktikkan-Nya sepanjang hidup dan pelayanan-Nya di dunia ini. Teladan sudah ada, tinggal kita mempraktikkannya. Bagaimana caranya? “Sebagaimana Tuhan telah mengampuni kamu, kamu perbuat jugalah demikian(ayat 13b); “kenakanlah kasih … (ayat 14)”; “Hendaklah damai sejahtera Kristus memerintah dalam hatimu … (ayat 15a).”

Kedua, menerapkan tingkah laku mulia. Saling mengajar, dan saling menegur di antara sesama anak Tuhan (ayat 16a); menaikkan pujian dan syukur kepada Allah (ayat 16b); melakukan perbuatan (yang baik) dan mengatakan perkataan (yang membangun) di dalam nama Tuhan Yesus (ayat 17).

Pada masa modern ini, kadangkala perbuatan baik bukan keluar dari karakter baik, melainkan kamuflase dan manipulasi untuk mencapai keuntungan terselubung. Misalnya, kampanye pemilihan presiden yang akan berlangsung bulan Juni 2004 pasti disertai dengan berbagai perbuatan baik untuk memikat rakyat memilih capres dan cawapres tertentu. Namun, motivasi di baliknya bisa saja sekadar untuk menang dan mendapatkan kesempatan berkuasa untuk kepentingan pribadi/kelompok. Hal itu membuktikan karakter yang nonkristiani!

Sebagai orang Katolik atau Kristen dalam suatu refleksi diri ternyata: “kegagalan kita paling fatal adalah kegagalan menjadi orang Katolik/Kristen di tengah keluarga kita”. Sekali pun kita disanjung umat dimana-mana namun penilaian keluarga jauh lebih penting dan berharga. Oleh karena itu aplikasi hidup Katolik/Kristen yang dipaparkan Paulus kemarin diteruskan kepada relasi Kristen dengan keluarganya.

Apa yang membedakan keluarga Kristen dengan keluarga lainnya? Otoritas tertinggi bukanlah manusia tetapi Kristus. Relasi antar anggota keluarga, baik antar suami – istri maupun antar orang-tua – anak, semuanya berlandaskan kasih Kristus. Beberapa pengajaran mendasar akan kita pelajari: Pertama, istri sebagai pendamping suami berada di bawah pimpinan suaminya, tetapi tidak melampaui yang seharusnya menurut Tuhan (ayat 18). Apa pun jabatan istri di luar rumah, setinggi apa pun status sosial istri, dan betapa pun dominannya karakter istri, tidak membuat perintah ini dikompromikan. Kedua, suami pun tidak berarti dapat berlaku sewenang-wenang, karena dasar kepemimpinannya sebagai kepala keluarga adalah kasih (ayat 19). Kasih memampukan suami tidak bersikap demi dirinya sendiri, tetapi demi kebaikan orang yang dikasihinya. Betapa indahnya persekutuan suami istri yang sedemikian di dalam Tuhan. Keunikan masing-masing dipersatukan dan dibentuk bersama di dalam Tuhan. Ketiga, anak-anak mempercayakan hidupnya kepada orang-tuanya yang lebih dahulu belajar tentang hidup (ayat 20). Dalam proses pertumbuhannya anak-anak belajar menemukan diri dan menghadapi hal-hal baru dalam bimbingan orang- tuanya. Keempat, ayah tidak boleh menyakiti anaknya tetapi membimbing di dalam kelemahlembutan, sehingga anaknya menyaksikan kebenaran di dalam diri ayahnya (ayat 21). Teguran dan nasihat dimengerti anak-anak bukan sebagai suatu hal yang membatasi keinginan dan perkembangannya, tetapi mempersiapkan dan menempa anak-anak menjadi mandiri dalam lingkungan dan zamannya.

Terciptanya keluarga yang baik adalah dambaan dan cita-cita semua orang. Setiap keluarga yang taat kepada Tuhan akan mengupayakan terciptanya keharmonisan, kerukunan serta kesejahteraan dan agar cinta kasih merajai keluarga. Namun, tidak jarang kita menyaksikan keluarga-keluarga yang tidak harmonis dan terpecah. Suatu hal yang tidak diinginkan! Pesta Keluarga Kudus hari ini dimaksudkan untuk mengedepankan Yusuf, Maria dan Yesus sebagai panutan semua keluarga Kristiani. Ketika Tuhan hadir dalam kehidupan keluarga maka keluarga itu dikuduskan dan di tengah kesulitan dan kesukaran mereka tahu kepada siapa mereka harus berpaling untuk meminta kekuatan dan jalan keluar.

Injil hari ini menunjukkan bahwa Keluarga Kudus tidak luput dari pencobaan dan kesulitan. Kehidupan sang Bayi terancam dan Keluarga Kudus ini menjadi terasing di negeri orang. Walaupun demikian, Keluarga Kudus ini senantiasa terbuka kepada Allah dan tuntutan-Nya. Ketaatan kepada kehendak Allah menjadi ciri khas Keluarga Kudus.

Keluarga-keluarga kita dewasa ini juga tidak bisa tidak harus berhadapan dengan kesulitan dan tantangan-tantangan yang ada. Menghadirkan Tuhan melalui doa keluarga disertai cinta kasih timbal balik serta keterbukaan dan ketaatan pada kehendak dan tuntutan Allah adalah kunci setiap keluarga yang kristiani yang sakinah.

Renungkan: Keluarga bahagia adalah keluarga yang setiap anggota keluarganya, baik suami, istri, orang-tua, dan anak-anak hidup dalam ketaatan kepada firman Tuhan dan mempersilakan Dia hadir dalam keluarganya.

Tuhan Yesus, ajarilah aku untuk selalu terbuka pada kehendak dan tuntutan-Mu. Amin.

Renungan Sabtu, 28 Desember 2013

Renungan Sabtu, 28 Desember 2013; Oktaf Natal

Pesta Kanak-Kanak Suci, Mrt (M)

Bacaan I: 1Yoh. 1:5–2:2

Allah adalah terang
1:5 Dan inilah berita, yang telah kami dengar dari Dia, dan yang kami sampaikan kepada kamu: Allah adalah terang dan di dalam Dia sama sekali tidak ada kegelapan. 1:6 Jika kita katakan, bahwa kita beroleh persekutuan dengan Dia, namun kita hidup di dalam kegelapan, kita berdusta dan kita tidak melakukan kebenaran. 1:7 Tetapi jika kita hidup di dalam terang sama seperti Dia ada di dalam terang, maka kita beroleh persekutuan seorang dengan yang lain, dan darah Yesus, Anak-Nya itu, menyucikan kita dari pada segala dosa. 1:8 Jika kita berkata, bahwa kita tidak berdosa, maka kita menipu diri kita sendiri dan kebenaran tidak ada di dalam kita. 1:9 Jika kita mengaku dosa kita, maka Ia adalah setia dan adil, sehingga Ia akan mengampuni segala dosa kita dan menyucikan kita dari segala kejahatan. 1:10 Jika kita berkata, bahwa kita tidak ada berbuat dosa, maka kita membuat Dia menjadi pendusta dan firman-Nya tidak ada di dalam kita.

2:1 Anak-anakku, hal-hal ini kutuliskan kepada kamu, supaya kamu jangan berbuat dosa, namun jika seorang berbuat dosa, kita mempunyai seorang pengantara pada Bapa, yaitu Yesus Kristus, yang adil. 2:2 Dan Ia adalah pendamaian untuk segala dosa kita, dan bukan untuk dosa kita saja, tetapi juga untuk dosa seluruh dunia.

Bacaan Injil: Mat. 2:13–18

Setelah orang-orang majus itu berangkat, nampak­lah malaikat Tuhan kepada Yusuf dalam mimpi dan berkata: ”Bangunlah, ambillah Anak itu serta ibu-Nya, larilah ke Mesir dan tinggallah di sana sampai Aku berfirman kepadamu, karena Herodes akan mencari Anak itu untuk membunuh Dia.” Maka Yusuf pun bangunlah, diambilnya Anak itu serta ibu-Nya malam itu juga, lalu menyingkir ke Mesir, dan tinggal di sana hingga Herodes mati. Hal itu terjadi supaya genaplah yang difirmankan Tuhan oleh nabi: ”Dari Mesir Kupanggil Anak-Ku.” Ketika Herodes tahu, bahwa ia telah diperdayakan oleh orang-orang majus itu, ia sangat marah. Lalu ia menyuruh membunuh semua anak di Betlehem dan sekitarnya, yaitu anak-anak yang berumur dua tahun ke bawah, sesuai dengan waktu yang dapat diketahuinya dari orang-orang majus itu. Dengan demikian genaplah firman yang disampaikan oleh nabi Yeremia: ”Terdengarlah suara di Rama, tangis dan ratap yang amat sedih; Rahel menangisi anak-anaknya dan ia tidak mau dihibur, sebab mereka tidak ada lagi.”

Gambar
Renungan

Bersekutu dengan Allah
Bersekutu dengan umat Allah merupakan gambaran yang riil bagi kita. Tidak sulit membayangkannya. Namun apa artinya bersekutu dengan Allah?

Yohanes memulai penjelasannya dengan memperkenalkan konsep bahwa \’Allah adalah terang\’. Artinya di dalam Allah tidak ada kegelapan (ayat 5). Terang adalah simbol kebenaran dan gelap adalah simbol dosa. Jadi makna bersekutu dengan Allah adalah hidup di dalam kebenaran. Bagaimana caranya? Dengan menaati Allah! Orang yang telah bertobat dan menerima keselamatan, seharusnya tidak lagi hidup menuruti dosa (ayat 6). Dosa harus diusir jauh-jauh dari persekutuan orang percaya dengan Allah! Gaya hidup orang yang telah bertobat harus menampakkan kedekatannya dengan Allah, yaitu keserupaan dengan karakter-Nya. Lalu apakah itu berarti orang yang telah bertobat tidak akan jatuh ke dalam dosa sama sekali? Bukan demikian. Namun kita akan mengalami proses pengudusan yang berlangsung terus-menerus. Di dalam ketaatanlah terjadi pengudusan oleh Kristus, yang telah mencurahkan darah-Nya di kayu salib untuk mengampuni orang berdosa (ayat 7). Lalu bagaimana bila kita jatuh ke dalam dosa? Akuilah di hadapan Allah (ayat 9)! Jangan melawan suara Roh Kudus yang menegur kita. Menyangkali fakta kegagalan kita berarti menipu diri sendiri. Bukankah ini berarti merendahkan Kristus yang sudah mati demi manusia yang jatuh ke dalam dosa (ayat 8, 10)?

Selain menikmati pengudusan oleh Kristus, orang yang berada di dalam persekutuan yang benar dengan Allah, akan menikmati juga persekutuan yang indah dengan sesama orang percaya. Jika ada dua orang percaya yang tidak memiliki persekutuan satu sama lain, itu berarti salah satu atau kedua-duanya tidak hidup di dalam terang!

Lihatlah bagaimana Dosa adalah sebuah fakta yang terjadi juga di dalam hidup orang Kristen (ayat 1Yoh. 1:8). Akan tetapi, selalu ada pengampunan bagi dosa yang diakui (ayat 1Yoh. 1:9). Itulah pengajaran Yohanes kepada para pembaca suratnya.

Yohanes memang menginginkan pembacanya serius memperhatikan masalah dosa. Ia berharap mereka tidak berbuat dosa (ayat 1), karena dosa dapat merusak persekutuan mereka dengan Allah (ayat 1Yoh. 1:6). Pertobatan seharusnya mengubah hubungan manusia dengan dosa. Lagi pula Allah tidak pernah menginginkan manusia melakukan dosa. Kita bisa memperoleh seluruh kemenangan iman dari Tuhan Yesus Kristus. Jika manusia berdosa juga, itu terjadi karena kelemahan manusia sebab tidak bergantung pada Yesus. Namun tidak berhenti sampai di situ. Kita memiliki seorang Pembela, yaitu Yesus Kristus. Seorang pembela biasanya harus berargumentasi dengan menunjukkan bukti-bukti bahwa kliennya tidak bersalah. Tetapi Yesus setuju bahwa manusia bersalah! Kemudian Ia mengajukan pengorbanan-Nya untuk menggantikan kebersalahan kita, dan dosa seluruh dunia! Setelah itu persekutuan manusia dengan Allah diperbaiki.

Persekutuan itu akan berbuahkan pengenalan akan Allah. Buktinya? Ketaatan! Jadi pemulihan itu tidak membuat kita bisa bersikap seenaknya terhadap Allah. Justru dalam posisi telah dipulihkan, kita seharusnya tidak lagi suka melakukan dosa. Dosa bisa saja mencoba masuk, tetapi ingatlah bahwa dosa tidak lagi bisa menguasai hati kita! Yesus Kristus sudah mendirikan takhta-Nya di sana! Maka orang yang tinggal di dalam Tuhan harus hidup sebagaimana Yesus hidup, yakni berjalan tiap-tiap hari bersama dengan Allah. Selain itu berdisiplin dalam persekutuan dengan Allah, dalam kesetiaan dan dalam ketaatan kepada Allah!

Orang yang mengenal Allah akan bertumbuh dalam kebenaran karena Allah adalah benar. Bukan berarti bahwa ia akan tanpa dosa, tetapi ia akan hidup dan bergerak berdasarkan kebenaran Allah. Sudahkah kita seperti itu?

persekutuan dengan Allah berdampak praktis yakni persekutuan dengan sesama orang percaya. Bukan hanya itu. Persekutuan dengan Allah seharusnya terlihat juga melalui pola hidup, kata, dan karya kita!

Injil hari ini menyatakan bahwa ada kalanya Allah membiarkan orang merajalela dengan kejahatannya. Namun tidak selalu demikian. Ada saat Allah tidak akan membiarkan seorang pun melakukan tindak kejahatan yang menghalangi penggenapan rencana-Nya.

Allah tahu niat jahat Herodes. Itulah sebabnya Ia campur tangan dengan mengutus malaikat untuk memberitahu Yusuf melalui mimpi, agar Sang Bayi kudus bisa lepas dari usaha Herodes untuk melenyapkan Dia (ayat 13-15). Allah punya rencana besar bagi umat manusia dengan menghadirkan Yesus di dalam dunia ini. Oleh karena itu Dia tak akan membiarkan satu orang pun menghalangi terwujudnya rencana itu.

Kembali Yusuf menunjukkan ketaatan. Setelah mendapat peringatan dari malaikat, ia segera bangun. Malam itu juga, keluarga muda itu melarikan diri dari teror yang dapat membinasakan mereka, dan terutama kanak-kanak Yesus. Pasti tidak mudah keluarga kudus melarikan diri dengan cepat dengan membawa bayi Yesus dalam malam buta seperti itu. Namun Yusuf tahu bahwa mereka harus segera pergi.

Benar saja. Herodes memang tidak mengulur-ulur waktu. Ia segera melaksanakan niatnya membinasakan semua bayi yang berumur di bawah dua tahun (ayat 16). Ia tidak mau memberikan kesempatan sedikit pun kepada Bayi itu untuk menjadi besar. Namun Bayi Yesus sudah berada dalam perjalanan ke Mesir. Barulah setelah Herodes mati dan Yusuf mendapat pemberitahuan melalui mimpi, mereka kembali ke Galilea. Rancangan Allah memang tidak pernah gagal! Bahkan orang sekejam Herodes pun tidak akan mampu menggagalkan rancangan itu.

Memang tidak semua orang menyambut kedatangan Yesus ke dalam dunia dengan sukacita, sejak Ia lahir hingga sekarang ini. Bersyukurlah kita yang dikaruniai iman untuk memercayai Dia sebagai Anak Tunggal Allah yang diutus ke dalam dunia untuk menebus manusia. Tugas kitalah untuk memberitakan kedatangan-Nya agar makin banyak orang yang beroleh kesempatan untuk mendengar kabar baik itu.

Dalam masyarakat kita menyaksikan melalui media komunikasi, tontonan kebohongan, keserakahan dan pembelaan diri sejumlah orang yang terlibat masalah-masalah hukum seperti korupsi. Merasa bahwa kedudukan, kekuasaan dan hartanya terancam, maka kebohongan, pembelaan diri, akal bulus menjadi alternatif untuk menutupi kenyataan yang sebenarnya dan perasaan yang bergejolak dalam hati. Apa pun bisa ditempuh untuk menyelamatkan diri.

Pesta kanak-kanak yang mati sebagai martir ini, sudah dirayakan di Gereja Barat sejak abad keempat. Anak-anak yang dibunuh itu dipandang sebagai martir karena mereka tidak hanya mati demi Kristus tetapi juga menggantikan Kristus. Dengan menghormati mereka Gereja menghormati semua orang yang meninggal secara tidak berdosa, khususnya anak-anak serta bayi-bayi muda, dan sekaligus menghibur para orang tua mereka dengan keyakinan bahwa mereka juga mewarisi kemuliaan Kanak-Kanak Yesus.

Tuhan Yesus, jauhkanlah aku dari sikap sombong, serakah, kejam, gila kuasa, agar aku menyembah Engkau, sang Juru Selamatku yang sejati. Amin.

Renungan Jumat, 27 Desember 2013

Renungan Jumat, 27 Desember 2013, Oktaf Natal

Pesta St. Yohanes, Rasul, Penginjil

Bacaan pertama : 1 Yoh 1:1-4

Kesaksian rasul tentang Firman hidup
1:1 Apa yang telah ada sejak semula, yang telah kami dengar, yang telah kami lihat dengan mata kami, yang telah kami saksikan dan yang telah kami raba dengan tangan kami tentang Firman hidup — itulah yang kami tuliskan kepada kamu. 1:2 Hidup itu telah dinyatakan, dan kami telah melihatnya dan sekarang kami bersaksi dan memberitakan kepada kamu tentang hidup kekal, yang ada bersama-sama dengan Bapa dan yang telah dinyatakan kepada kami. 1:3 Apa yang telah kami lihat dan yang telah kami dengar itu, kami beritakan kepada kamu juga, supaya kamupun beroleh persekutuan dengan kami. Dan persekutuan kami adalah persekutuan dengan Bapa dan dengan Anak-Nya, Yesus Kristus. 1:4 Dan semuanya ini kami tuliskan kepada kamu, supaya sukacita kami menjadi sempurna.

Injil: Yohanes 20:2-8

“Murid yang lain itu berlari lebih cepat daripada Petrus sehingga lebih dahulu sampai di kubur.”

20:1 Pada hari pertama minggu itu, pagi-pagi benar ketika hari masih gelap, pergilah Maria Magdalena ke kubur itu dan ia melihat bahwa batu telah diambil dari kubur. 20:2 Ia berlari-lari mendapatkan Simon Petrus dan murid yang lain yang dikasihi Yesus, dan berkata kepada mereka: “Tuhan telah diambil orang dari kuburnya dan kami tidak tahu di mana Ia diletakkan.” 20:3 Maka berangkatlah Petrus dan murid yang lain itu ke kubur. 20:4 Keduanya berlari bersama-sama, tetapi murid yang lain itu berlari lebih cepat dari pada Petrus sehingga lebih dahulu sampai di kubur. 20:5 Ia menjenguk ke dalam, dan melihat kain kapan terletak di tanah; akan tetapi ia tidak masuk ke dalam. 20:6 Maka datanglah Simon Petrus juga menyusul dia dan masuk ke dalam kubur itu. Ia melihat kain kapan terletak di tanah, 20:7 sedang kain peluh yang tadinya ada di kepala Yesus tidak terletak dekat kain kapan itu, tetapi agak di samping di tempat yang lain dan sudah tergulung. 20:8 Maka masuklah juga murid yang lain, yang lebih dahulu sampai di kubur itu dan ia melihatnya dan percaya.

Gambar
Renungan

Firman yang menjadi daging
Pemikiran tentang Firman merupakan pemikiran tentang Pribadi yang besar bagi orang Yunani dan bagi orang Yahudi pada zaman Yohanes. Bagi orang Yahudi, Allah berkaitan erat dengan Firman. Mereka tahu bahwa Allah menyatakan diri-Nya di dalam Firman. Para filsuf Yunani selama berabad-abad telah membicarakan tentang Sang Logos/Firman, yang telah memulai dan terus berdaulat atas alam semesta. Meski filsuf-filsuf Yunani dan para rabi Yahudi berbicara tentang Firman Ilahi, tidak ada satu pun dari antara mereka yang pernah berkata tentang Firman yang menjadi manusia.

Maka Yohanes seolah mengatakan, “Firman yang telah kalian bicarakan dan tulis selama berabad-abad itu sesungguhnya telah kami dengar, lihat, dan raba!” (ayat 1). Dengan berkata demikian, Yohanes ingin menegaskan bahwa Firman itu sungguh-sungguh telah menjadi manusia. Dia nyata secara fisik sehingga Yohanes dapat memberikan kesaksian tentang Dia, sebagai seorang saksi mata (ayat 2). Kesaksian itu bukan dongeng, hasil rekaan atau imajinasi manusia, tetapi kisah nyata tentang hidup dan pelayanan Yesus.

Peranan Yohanes sebagai saksi tidak terbatas hanya menceritakan peristiwa yang terjadi. Ia juga perlu memaparkan makna dan signifikansi peristiwa tersebut. Dan bagi Yohanes signifikansi dari kisah Yesus dapat diringkas ke dalam satu kata: hidup. Yesus adalah Firman hidup atau Logos (ayat 1). Ia ada bersama-sama dengan Bapa di dalam kekekalan. Tujuan pernyataan Yohanes tentang kekekalan dan kehadiran Yesus, adalah untuk membawa pembacanya kepada persekutuan dengan umat Allah dan dengan Allah sendiri (ayat 3). Bila itu terjadi, sempurnalah sukacita Yohanes (ayat 4).

Apa yang menjadi sumber sukacita kita? Perolehan materi, hubungan baik, atau sesuatu yang lain lagi? Pernahkah Anda berhasrat agar orang lain mengenal Allah? Marilah kita mengembangkan sukacita kita bukan hanya pada apa yang kita peroleh atau miliki, tetapi juga pada masuknya seseorang ke dalam persekutuan dengan Allah dan umat-Nya.

Injil hari ini Firman telah melahirkan Iman. Kesimpulan apa lagi yang ada dalam benak Maria Magdalena ketika ia melihat kubur Yesus telah terbuka dan kosong, selain bahwa jasad-Nya telah diambil orang? Dalam situasi seperti itu, tentu saja tidak akan terpikir kemungkinan-kemungkinan lain. Maka kemungkinan itu pulalah yang dia sampaikan kepada Simon Petrus dan seorang murid Yesus yang lain (ayat 2).

Kemungkinan itu membuat kedua orang murid Yesus tidak sabar untuk memeriksa kebenaran berita yang disampaikan Maria Magdalena (ayat 3-4). Dan ternyata memang benar. Kubur terbuka! Namun kedua murid tidak hanya terpaku pada fakta itu. Mereka juga memperhatikan sesuatu yang aneh. Kain peluh, yang tadinya menutupi kepala Yesus, saat itu sudah tergulung dan terletak di tempat lain (ayat 7). Tentu telah terjadi sesuatu yang aneh. Akan tetapi, bila jasad Yesus memang dicuri, tentu pencurinya tidak akan menanggalkan kain yang dikenakan pada jasad Yesus. Keanehan tersebut mengingatkan murid-murid akan apa yang tertulis dalam Kitab Suci mengenai kebangkitan (ayat 9). Saat itu mereka menyaksikan bahwa apa yang tertulis dalam Kitab Suci telah digenapi. Mereka pun kemudian percaya bahwa Yesus telah bangkit (ayat . Mendengar firman Tuhan memang membangkitkan rasa percaya pada Tuhan.

Orang memang tidak mudah memercayai Yesus, karya salib-Nya, kebangkitan-Nya, atau segala perbuatan ajaib yang Dia lakukan. Padahal semua kisah itu telah ditulis, baik sebagai nubuat maupun sebagai fakta historis. Meski demikian, ada saja orang yang berusaha memberikan penjelasan-penjelasan logis untuk menerangkan semua itu agar mudah diterima akal. Namun bila orang pernah mendengar firman Tuhan, bukan tidak mungkin ingatan akan firman membangkitkan iman. Hal ini pun harus didasari dengan sikap yang mau terbuka menerima kebenaran Tuhan. Karena hanya dengan memiliki sikap demikianlah, orang akan mau percaya walau sulit memahami.

”Ia melihatnya dan percaya” (Yoh 20:8). Itulah ucapan spontan yang keluar dari Yohanes ketika tiba di kubur Yesus yang sudah kosong. Ia dan Petrus berlari ke kubur Yesus setelah mendapat warta dari Maria Magdalena. Pengalaman Yohanes, murid yang dikasihi Yesus, sebagai saksi mata kebangkitan Yesus sungguh istimewa. Ia merupakan sosok yang menunjukkan kualitas-kualitas ideal seorang murid Yesus, yakni duduk paling dekat dengan Yesus pada Perjamuan Malam Terakhir; dia melihat arti terdalam dari makam kosong; dia mengenali Tuhan yang bangkit dengan berucap ”Itu Tuhan,” ketika para murid kembali ke pekerjaan sebagai nelayan pascakebangkitan.

Yohanes dilukiskan bersama Petrus berlari dan mendapati kubur kosong serta ”melihatnya dan percaya” mengandung makna yang mendalam. Hal ini barangkali bukan masalah kekuatan fisik tetapi urgensi untuk berjumpa dan ada bersama dengan Tuhannya. Walaupun ketika sampai di kubur, Petrus diizinkan masuk terlebih dahulu, karena ia adalah pemimpin yang diberi prioritas, namun bagi Petrus, kubur itu sudah kosong karena Yesus tidak ada lagi di situ. Tetapi, perasaan berbeda dialami oleh Yohanes ketika ia melihat ke dalam: ”ia melihatnya dan percaya.” Sikap dan pernyataan iman Yohanes-lah yang mengemuka. Ia melihat dengan iman bahwa Tuhannya telah bangkit dan kembali kepada Bapa-Nya.

Yohanes mengajak kita untuk melangkah lebih dalam melampaui hal-hal yang kelihatan dan terjangkau oleh pikiran manusia, yakni mengakui dalam iman Kristus yang bangkit dan bertumbuh menjadi saksi setia dari kebangkitan-Nya.

Tuhan Yesus, tumbuhkanlah imanku akan Kristus yang bangkit dan kuatkanlah aku untuk menjadi saksi kebangkitan-Nya yang setia. Amin.

Renungan Kamis, 26 Desember 2013

Renungan Kamis, 26 Desember 2013; Oktaf Natal

Pesta St. Stefanus, Mrt. Pertama (P)

Bacaan I : Kis. 6:8–10; 7:54–59

Tuduhan terhadap Stefanus
6:8 Dan Stefanus, yang penuh dengan karunia dan kuasa, mengadakan mujizat-mujizat dan tanda-tanda di antara orang banyak. 6:9 Tetapi tampillah beberapa orang dari jemaat Yahudi yang disebut jemaat orang Libertini — anggota-anggota jemaat itu adalah orang-orang dari Kirene dan dari Aleksandria — bersama dengan beberapa orang Yahudi dari Kilikia dan dari Asia. Orang-orang itu bersoal jawab dengan Stefanus, 6:10 tetapi mereka tidak sanggup melawan hikmatnya dan Roh yang mendorong dia berbicara.

Stefanus dibunuh — Saulus hadir
7:54 Ketika anggota-anggota Mahkamah Agama itu mendengar semuanya itu, sangat tertusuk hati mereka. Maka mereka menyambutnya dengan gertakan gigi. 7:55 Tetapi Stefanus, yang penuh dengan Roh Kudus, menatap ke langit, lalu melihat kemuliaan Allah dan Yesus berdiri di sebelah kanan Allah. 7:56 Lalu katanya: “Sungguh, aku melihat langit terbuka dan Anak Manusia berdiri di sebelah kanan Allah.” 7:57 Maka berteriak-teriaklah mereka dan sambil menutup telinga serentak menyerbu dia. 7:58 Mereka menyeret dia ke luar kota, lalu melemparinya. Dan saksi-saksi meletakkan jubah mereka di depan kaki seorang muda yang bernama Saulus. 7:59 Sedang mereka melemparinya Stefanus berdoa, katanya: “Ya Tuhan Yesus, terimalah rohku.”

Bacaan Injil : Mat. 10:17–22

”Waspadalah terhadap semua orang; karena ada yang akan menye­rahkan kamu kepada majelis agama dan mereka akan menyesah kamu di rumah ibadatnya. Dan karena Aku, kamu akan digiring ke muka penguasa-penguasa dan raja-raja sebagai suatu kesaksian bagi mereka dan bagi orang-orang yang tidak mengenal Allah. Apabila mereka menyerahkan kamu, janganlah kamu kuatir akan bagaimana dan akan apa yang harus kamu katakan, karena semuanya itu akan dikaruniakan kepadamu pada saat itu juga. Karena bukan kamu yang berkata-kata, melainkan Roh Bapamu; Dia yang akan berkata-kata di dalam kamu. Orang akan menyerahkan saudaranya untuk dibunuh, demikian juga seorang ayah akan anaknya. Dan anak-anak akan memberontak terhadap orang tuanya dan akan membunuh mereka. Dan kamu akan dibenci semua orang oleh karena nama-Ku; tetapi orang yang bertahan sampai pada kesudahannya akan selamat.”

Gambar
Renungan

Menguasai kebencian.
Ada dua jenis manusia dalam bacaan ini: (a) Stefanus, orang yang penuh iman dan Roh Kudus serta (b) orang Yahudi yang penuh dengan kebohongan dan dengki. Kelompok orang Yahudi ini disebut Libertini, nama lain dari “orang yang merdeka.” Tetapi sebenarnya mereka tidak merdeka karena justru mereka adalah orang yang dibelenggu oleh dosa kebencian. Sebaliknya, Stefanus adalah orang yang merdeka untuk menyatakan kebenaran dan untuk tidak membenci.

Kebencian adalah pembunuhan tingkat pertama yang belum direalisasikan. Memang kita belum melakukan apa-apa, namun sesungguhnya kita telah menyusun rancangan jahat dalam benak kita. Karena kebencianlah Kain membunuh Habel, adiknya (Kej. 4:7). Kain menyerah terhadap dosa yang telah mengintipnya dan membunuh Habel, demikian pula kelompok Yahudi ini, mereka pun menyerah terhadap kebencian dan membunuh Stefanus.

Kita tidak bisa menghalau kebencian dengan cara mengusirnya berulangkali. Jangan pusatkan segenap tenaga kita pada usaha membuang kebencian itu; sebaliknya, isilah hati kita dengan firman Tuhan dan mintalah agar Ia memenuhi jiwa kita dengan kasih-Nya. Dengan cara inilah kebencian akan berkurang dan akhirnya hilang. Memang sangat disayangkan karena kelompok Yahudi ini tidak mengisi hatinya dengan firman dan kasih Tuhan; sebaliknya, mereka malah mengisi hati mereka dengan kebohongan.

Martir perdana
Seakan belum cukup umat Tuhan menyalibkan Yesus, kini mereka menambah dosa dengan membunuh seorang murid Tuhan. Kisah martir perdana ini menunjukkan satu hal penting. Manusia berdosa tidak berdaya memerdekakan diri mereka sendiri. Hanya anugerah Allah yang bisa melepaskan mereka dari belenggu dosa.

Sesuai namanya, Stefanus (artinya: yang dimahkotai) memperoleh mahkota kemartiran. Dialah pengikut Kristus yang pertama menerima kehormatan mati demi iman akan Kristus. Dalam Gereja Perdana, Stefanus adalah salah satu dari tujuh diakon yang bertugas untuk memperhatikan karya sosial seperti mengurus para janda dan kaum miskin. Melalui tangan Stefanus Tuhan mengerjakan banyak mukjizat dan menghantar banyak orang menjadi pengikut Kristus. Melihat hal ini, para anggota Mahkamah Agama, yang memusuhi Gereja, sangat terusik dan merasa geram, lalu bersekongkol untuk menghabisi Stefanus. Mereka tidak mampu membantah kata-kata bijaksananya yang berasal dari Roh Kudus dan meminta agar saksi-saksi dusta dihadapkan untuk menjatuhkan dia. Ia dituduh menghujat Allah. Tanpa takut Stefanus menghadapi para musuh dan tuduhan-tuduhan palsu terhadapnya. Ia menengadah ke langit, melihat kemuliaan Allah dan Yesus di sebelah kanan-Nya. Ia akhirnya diseret keluar kota untuk dirajam. Sebelum menghembuskan nafas terakhir dengan penuh keikhlasan dan penyerahan diri ia berdoa: ”Tuhan Yesus, terimalah rohku”. Ia berlutut dan memohon untuk tidak menghukum para pembunuhnya. Di antara mereka yang menyaksikan peristiwa ini adalah Saulus. Kematian Stefanus menjadi benih pertumbuhan Gereja.

Seluruh sejarah Gereja dari masa ke masa diwarnai dengan kemartiran. Darah para martir bukannya melemahkan Gereja tetapi menjadi aliran air baru yang menyuburkan Gereja. Benarlah apa yang ditulis oleh Tertullianus (160–225): sanguis martyrum semen christianorum (darah para martir adalah benih orang-orang Kristiani).

Di mata Allah dan juga gereja Tuhan, kematian Stefanus bukan merupakan kekalahan melainkan kemenangan. Itu sebabnya Stefanus mendapatkan peneguhan bahwa saat-saat genting musuh hendak menerkam, ia melihat kemuliaan Allah dan Yesus yang berdiri di samping kanan Allah (ayat 56). Ungkapan \’Yesus berdiri\’ bisa dipahami sebagai suatu penghargaan kepada Stefanus yang rela mati demi menyatakan kebenaran Allah. Menghadapi kematiannya, Stefanus menunjukkan kebesaran hati seperti yang diperlihatkan oleh Tuhannya, yaitu mengampuni musuh (ayat 60; lih. Luk. 23:34).

Apa dampak kemenangan Stefanus? Pertama, Injil terse-bar ke luar Yerusalem. Lewat penganiayaan begitu dahsyat yang dimulai dari penganiayaan Stefanus, para murid dipaksa ke luar dari kota itu (ayat 8:1b). Mulailah kita melihat penga-baran Injil dilakukan di luar Yerusalem, misalnya Filipus mengabarkan Injil ke Samaria (ayat 8:5). Kemudian muncullah Saulus, yang kelak berganti nama menjadi Paulus. Kelak dia akan menjadi rasul Allah yang dikhususkan bagi bangsa-bangsa nonYahudi. Memang Saulus saat itu adalah penganiaya umat. Namun justru lewat peristiwa perjumpaan dengan Tuhan, ia menyadari kekeliruannya dan dapat melihat serta menyadari betapa jahatnya ia. Pertobatan Saulus merupakan anugerah Allah yang berdampak dahsyat bagi perkembangan gereja dan Injil Kristus di kemudian hari.

Tiap penderitaan yang Tuhan izinkan terjadi pada umat-Nya sebagai bagian dari pikul salib selalu mendatangkan kemajuan bagi kerajaan-Nya. Injil bertambah mahsyur, dan hamba-hamba Tuhan sejati dibangkitkan untuk menjadi agen-agen Injil Allah. Mungkin Anda adalah salah satunya!

Injil hari ini; Hidup di tengah-tengah musuh yang siap sedia mengintai dan menerkam sangat menakutkan setiap orang. Gambaran inilah yang Yesus berikan kepada pengikut-Nya. Mereka bagaikan domba-domba yang diutus ke tengah-tengah serigala. Dalam mengemban tugas, ada kemungkinan mereka ditangkap, diadili, dibenci, bahkan dibunuh. Untuk itu Yesus berpesan agar mereka cerdik namun tulus (ayat 16).

Yesus meminta mereka untuk waspada terhadap: majelis agama yang adalah serigala yang bengis (ayat 17); pemerintah, dengan otoritas yang dimilikinya dapat menindas dengan cara yang halus tapi menyakitkan (ayat 18-19); keluarga yang seharusnya menjadi tempat yang aman bagi kita namun bisa menjadi musuh dalam selimut (ayat 22). Semuanya dapat membenci (ayat 22), mengancam (ayat 26), bahkan membunuh tubuh meskipun tidak dapat membinasakan jiwa (ayat 28). Lalu, perlukah para murid takut dan kuatir menghadapi semua ancaman tersebut? Yesus menggambarkan bahwa Allah sangat peduli terhadap mereka karena mereka lebih berharga di mata-Nya dibandingkan dengan burung pipit (ayat 29-31). Oleh karena itu, mereka tidak perlu takut dan kuatir menghadapi kesulitan dan ancaman. Dia berjanji akan memperlengkapi dengan kekuatan, kemampuan, dan perlindungan karena mereka sangat berharga di mata-Nya. Namun, tidak berarti Allah akan mencegah terjadinya kesulitan dalam diri kita. Itu adalah ujian bagi kita sebagai pengikut Yesus yang sejati untuk bertahan menghadapi tekanan hidup sehari-hari.

Sampai saat ini pun mengikut dan menaati Yesus serta memberitakan Dia selalu membangkitkan berbagai perlawanan. Mengingat tugas dan tantangan berat yang harus dihadapi, maka kesetiaan dan keberanian mutlak diperlukan. Mereka yang menghadapi segala kesulitan dan bertahan sampai akhir akan menerima penghargaan yang mulia dari Allah.