Renungan Rabu, 1 Maret 2017

Renungan Rabu, 1 Maret 2017, HARI RABU ABU, Pantang dan Puasa.

Bacaan I : Yoel 2:12-18

“Sekarang juga, berbaliklah kepada-Ku dengan segenap hatimu, dengan berpuasa, dengan menangis dan dengan mengaduh.”

2:12 “Tetapi sekarang juga,” demikianlah firman TUHAN, “berbaliklah kepada-Ku dengan segenap hatimu, dengan berpuasa, dengan menangis dan dengan mengaduh.” 2:13 Koyakkanlah hatimu dan jangan pakaianmu, berbaliklah kepada TUHAN, Allahmu, sebab Ia pengasih dan penyayang, panjang sabar dan berlimpah kasih setia, dan Ia menyesal karena hukuman-Nya. 2:14 Siapa tahu, mungkin Ia mau berbalik dan menyesal, dan ditinggalkan-Nya berkat, menjadi korban sajian dan korban curahan bagi TUHAN, Allahmu. 2:15 Tiuplah sangkakala di Sion, adakanlah puasa yang kudus, maklumkanlah perkumpulan raya; 2:16          kumpulkanlah bangsa ini, kuduskanlah jemaah, himpunkanlah orang-orang yang tua, kumpulkanlah anak-anak, bahkan anak-anak yang menyusu; baiklah penganten laki-laki keluar dari kamarnya, dan penganten perempuan dari kamar tidurnya; 2:17 baiklah para imam, pelayan-pelayan TUHAN, menangis di antara balai depan dan mezbah, dan berkata: “Sayangilah, ya TUHAN, umat-Mu, dan janganlah biarkan milik-Mu sendiri menjadi cela, sehingga bangsa-bangsa menyindir kepada mereka. Mengapa orang berkata di antara bangsa: Di mana Allah mereka?” 2:18 TUHAN menjadi cemburu karena tanah-Nya, dan Ia belas kasihan kepada umat-Nya.

Mazmur 51:3-6a.12-14-17; Ul: 3a, do = f, 3/4, PS 813
Ref. Mohon ampun kami orang berdosa.

*    Kasihanilah aku, ya Allah, menurut kasih setia-Mu, menurut besarnya rahmat-Mu, hapuskanlah pelanggaranku. Bersihkanlah aku seluruhnya dari kesalahanku dan tahirkanlah aku dari dosaku!

*    Sebab aku sadar akan pelanggaranku, dosaku selalu terbayang di hadapanku. Terhadap Engkau sendirilah aku berdosa, yang jahat dalam pandangan-Mu kulakukan.

*    Ciptakanlah hati yang murni dalam diriku, ya Allah, dan baharuilah semangat yang teguh dalam diriku. Janganlah membuang aku dari hadapan-Mu, dan janganlah mengambil Roh-Mu yang kudus dari padaku!

*    Berilah aku sukacita karena keselamatan-Mu, dan teguhkanlah roh yang rela dalam diriku. Ya Tuhan, bukalah bibirku, supaya mulutku mewartakan puji-pujian kepada-Mu!

Bacaan II : 2Korintus 5:20 – 6:2

“Berilah dirimu didamaikan dengan Allah, sesungguhnya hari ini adalah hari penyelamatan.”

5:20 Jadi kami ini adalah utusan-utusan Kristus, seakan-akan Allah menasihati kamu dengan perantaraan kami; dalam nama Kristus kami meminta kepadamu: berilah dirimu didamaikan dengan Allah. 5:21 Dia yang tidak mengenal dosa telah dibuat-Nya menjadi dosa karena kita, supaya dalam Dia kita dibenarkan oleh Allah. 6:1 Sebagai teman-teman sekerja, kami menasihatkan kamu, supaya kamu jangan membuat menjadi sia-sia kasih karunia Allah, yang telah kamu terima. 6:2 Sebab Allah berfirman: “Pada waktu Aku berkenan, Aku akan mendengarkan engkau, dan pada hari Aku menyelamatkan, Aku akan menolong engkau.” Sesungguhnya, waktu ini adalah waktu perkenanan itu; sesungguhnya, hari ini adalah hari penyelamatan itu.

Bait Pengantar Injil, do = bes, 4/4, PS 965
Ref. Terpujilah Kristus Tuhan, Raja mulia dan kekal.
Ayat. Jangan kautegarkan hatimu; dengarkanlah suara Tuhan pada hari ini.

Bacaan Injil : Matius 6:1-6.16-18

“Bapamu yang melihat yang tersembunyi akan mengganjar engkau.”

6:1 “Ingatlah, jangan kamu melakukan kewajiban agamamu di hadapan orang supaya dilihat mereka, karena jika demikian, kamu tidak beroleh upah dari Bapamu yang di sorga. 6:2 Jadi apabila engkau memberi sedekah, janganlah engkau mencanangkan hal itu, seperti yang dilakukan orang munafik di rumah-rumah ibadat dan di lorong-lorong, supaya mereka dipuji orang. Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya mereka sudah mendapat upahnya. 6:3 Tetapi jika engkau memberi sedekah, janganlah diketahui tangan kirimu apa yang diperbuat tangan kananmu. 6:4 Hendaklah sedekahmu itu diberikan dengan tersembunyi, maka Bapamu yang melihat yang tersembunyi akan membalasnya kepadamu. 6:5 Dan apabila kamu berdoa, janganlah berdoa seperti orang munafik. Mereka suka mengucapkan doanya dengan berdiri dalam rumah-rumah ibadat dan pada tikungan-tikungan jalan raya, supaya mereka dilihat orang. Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya mereka sudah mendapat upahnya. 6:6 Tetapi jika engkau berdoa, masuklah ke dalam kamarmu, tutuplah pintu dan berdoalah kepada Bapamu yang ada di tempat tersembunyi. Maka Bapamu yang melihat yang tersembunyi akan membalasnya kepadamu. 6:16 “Dan apabila kamu berpuasa, janganlah muram mukamu seperti orang munafik. Mereka mengubah air mukanya, supaya orang melihat bahwa mereka sedang berpuasa. Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya mereka sudah mendapat upahnya. 6:17 Tetapi apabila engkau berpuasa, minyakilah kepalamu dan cucilah mukamu, 6:18 supaya jangan dilihat oleh orang bahwa engkau sedang berpuasa, melainkan hanya oleh Bapamu yang ada di tempat tersembunyi. Maka Bapamu yang melihat yang tersembunyi akan membalasnya kepadamu.”

Renungan :

“Tetapi sekarang juga,” demikianlah firman TUHAN, “berbaliklah kepada-Ku dengan segenap hatimu, dengan berpuasa, dengan menangis dan dengan mengaduh.” Koyakkanlah hatimu dan jangan pakaianmu, berbaliklah kepada TUHAN, Allahmu, sebab Ia pengasih dan penyayang, panjang sabar dan berlimpah kasih setia, dan Ia menyesal karena hukuman-Nya. Siapa tahu, mungkin Ia mau berbalik dan menyesal, dan ditinggalkan-Nya berkat, menjadi korban sajian dan korban curahan bagi TUHAN, Allahmu” (Yl 2:12-14)

Selama masa Prapaskah kita diharapkan mawas diri, terutama atau lebih-lebih apa yang ada di dalam hati kita. Kiranya yang mengetahui isi hati saya adalah saya sendiri, sedangkan orang lain hanya menduga-duga saja. “Koyakkanlah hatimu dan jangan pakaianmu, berbaliklah kepada Tuhan”, demikian peringatan bagi kita semua. Memang apa yang ada dalam hati kita, yang kemudian muncul dalam pikiran, yang menentukan cara hidup dan cara bertindak kita, maka bukalah, koyakkan hati anda, agar anda sendiri juga mengetahui dengan benar dan tepat apa yang ada di dalam hati anda.

Mazmur, Pertobatan Sejati.

Dampak dosa adalah kehancuran yang luar biasa bagi semesta kehidupan. Wajah murka Allah menerpa kita dalam ketidakbahagiaan, derita lahir batin yang berpuncak pada kematian kekal. Sedangkan, wajah kasih Allah yang sebenarnya menjamin hidup tenteram seolah asing, tidak dikenal, sebab pikiran kita terselubung dosa. Hanya dengan hati yang hancur, dan penyesalan dosa, kesempatan memperoleh berkat pengampunan Allah terbuka kembali.

Roh Tuhan Berkarya. Siapakah manusia sehingga kasih dan kesetiaannya dapat bertara dengan Allah? Kesetiaan dan ketaatan manusia selalu dibayangi oleh kerentanan terhadap godaan dosa. Namun bukan tidak mungkin perjanjian damai sejahtera Allah dengan manusia terjalin sepanjang masa. Sekali lagi kasih Allah dinyatakan. Ia memberikan Roh-Nya yang kudus (ayat 12-13); sehingga kita beroleh kekuatan, ketabahan, ketekunan, penghiburan dan pembaharuan hidup untuk setia kepada Allah. Dosa membuat hidup penuh tekanan dan kesedihan. Sebaliknya, kesungguhan untuk bertobat dan keterbukaan hati menyambut uluran tangan Roh Allah, membangkitkan harapan dan kegirangan hidup.

Renungkan: Kristus menanggung kehancuran di salib, agar setiap kehancuran hidup kita dapat disembuhkan-Nya.

Bacaan II, Di dalam doa malam, doa harian, ada ‘pemeriksaan batin/hati’, yang berarti kita diharapkan setiap hari memeriksa hati atau batin kita masing-masing. Dalam hati kita pasti ada yang baik dan buruk, namun pada umumnya lebih banyak apa yang baik daripada apa yang buruk. Maka pertama-tama hendaknya dicari dan ditemukan apa-apa yang baik yang ada di dalam hati kita, agar dengan demikian kita memiliki kekuatan dan keberanian untuk melihat dan mengakui apa yang buruk yang ada di dalam hati kita. Hendaknya kita tidak takut dan tidak malu mengakui apa yang buruk yang ada di dalam hati kita, toh kiranya kita semua tidak ada satu pun yang sungguh memiliki hati bersih dan jernih, karena kita adalah orang-orang yang lemah dan rapuh.

Kesadaran dan penghayatan diri sebagai yang lemah, rapuh dan berdosa rasanya identik dengan kesadaran dan penghayatan diri sebagai yang sungguh beriman, mengingat dan memperhatikan bahwa iman merupakan anugerah Allah, dan kita sungguh beriman berarti menerima anugerah Allah melimpah ruah.

“Jadi kami ini adalah utusan-utusan Kristus, seakan-akan Allah menasihati kamu dengan perantaraan kami; dalam nama Kristus kami meminta kepadamu: berilah dirimu didamaikan dengan Allah. Dia yang tidak mengenal dosa telah dibuat-Nya menjadi dosa karena kita, supaya dalam Dia kita dibenarkan oleh Allah” (2Kor 5:20-21),

demikian kesaksian iman Paulus. Kesaksian iman Paulus ini kiranya dapat menjadi teladan dan cermin bagi kita semua.

“Dalam Dia kita dibenarkan oleh Allah”, inilah kiranya yang baik kita renungkan atau refleksikan. Jika ada yang benar dan baik dalam diri kita tidak lain adalah terutama karena Allah, buah  jerih payah atau usaha kita, dan kita hanya pekerjasama yang lemah dan rapuh. Kami berharap dalam aneka kegiatan selama masa Prapaskah kita semakin memahami dan menghayati kebenaran tersebut, dan akhirnya kita juga dapat berkata seperti Paulus “Allah menasihati kamu dengan perantaraan kami”. Jika kita mampu menasihati saudara-saudari kita tidak lain karena Allah dan kita hanyalah perantara atau penyalur kehendak dan sabda Allah, maka semakin bijak seseorang pada umumnya yang bersangkutan juga semakin rendah hati, lemah lembut.

Injil hari ini,

Sikap mental liturgis atau formalistis rasanya masih menjiwai banyak orang masa kini, yaitu melakukan sesuatu agar dilihat dan dipuji orang, tentu saja sesuatu tersebut baik adanya. Hal yang senada adalah mereka yang senantiasa menyombongkan diri dengan ijasah atau gelar yang dimilikinya. Berbuat baik agar dilihat dan dipuji orang antara lain terjadi ketika berpartisipasi dalam gerakan social untuk membantu korban bencana alam seperti banjir, gempa bumi dst.., maka orang begitu mengedepankan seragam atau bendera organisasi sementara itu pelayanan dalam gerakan social tersebut layak dipertanyakan.

Sabda Yesus hari ini mengingatkan kita semua agar “Jangan kamu melakukan kewajiban agamamu di hadapan orang supaya dilihat mereka, karena jika demikian, kamu tidak beroleh upah dari Bapamu di sorga”. Marilah peringatan ini kita renungkan dan tanggapi secara positif dalam cara hidup dan cara bertindak kita setiap hari. Ketika hendak berbuat baik kepada orang lain atau melaksanakan tugas-kewajiban, buatlah atau laksanakanlah tanpa memperhitungkan apakah akan dilihat dan dipuji orang atau tidak, dengan demikian kita akan sungguh menjadi diri pribadi yang dewasa dan bertanggungjawab, alias tidak kekanak-kanakan. Berbuat baik atau melakukan tugas kewajiban hemat kami merupakan ‘value of being’, artinya bernilai pada dirinya sendiri serta memantapkan jati diri kita masing-masing; berbuat baik dan melakukan tugas-kewajiban merupakan cara hidup dan cara bertindak kita sebagai orang beriman, maka entah dilihat atau  tidak dilihat orang lain hendaknya kita tetap setia untuk berbuat baik dan melakukan tugas-kewajiban seoptimal dan sebaik mungkin.

Apa yang mau dikatakan Yesus kepada kita? Ketika kita melakukan sebuah perbuatan kasih, seperti memberi sedekah, berdoa dan berpuasa, semuanya itu untuk kemulian Tuhan. Kita tidak melakukannya untuk memperoleh popularitas diri. Hanya orang-orang Farisi modern yang mudah bercerita kepada siapa saja sumbangan pikiran dan material kepada seseorang atau kelompok lain sambil menepuk dada dan bangga, dan lupa bahwa semuanya berasal dari Tuhan. Yesus sendiri sudah mengatakan: “Hendaknya terangmu bercahaya di depan orang, supaya mereka melihat perbuatanmu yang baik dan memuliakan Bapamu yang di surga” (Mat 5:16). Sabda Tuhan hari ini mengoreksi egoisme dan kesombongan kita dalam hal melakukan sebuah perbuatan baik. Semua yang kita lakukan itu semata-mata untuk kemuliaan Tuhan dan keselamatan jiwa-jiwa.

Doa: Tuhan, mampukanlah kami sepanjang hari ini untuk dapat mengasihi seperti Engkau sendiri telah mengasihi kami. Tuhan Yesus, kami ingin memasuki tempat doa yang tersembunyi agar kami dapat sungguh-sungguh mengenal Engkau. Ubahlah diri kami oleh kasih-Mu agar kebenaran-Mu dapat mengalir melalui segala sesuatu yang kami lakukan. Amin. (Lucas Margono)

maret117maret1701

Iklan

Renungan Selasa, 28 Februari 2017

Renungan Selasa, 28 Februari 2017, Hari Biasa, Pekan Biasa VIII

Bacaan I : Sir 35:1-12

“Tuhan berkenan kepada korban orang benar, dan ingatannya tidak akan dilupakan.”

35:1 Barangsiapa memenuhi hukum Taurat mempersembahkan banyak korban, dan orang yang memperhatikan segala perintah menyampaikan korban keselamatan. 35:2 Orang yang membalas kebaikan mempersembahkan korban sajian dan yang memberikan derma menyampaikan korban syukur. 35:3 Yang direlai oleh Tuhan ialah menjauhi kejahatan, dan menolak kelaliman merupakan korban penghapus dosa. 35:4 Jangan tampil di hadirat Tuhan dengan tangan yang kosong, sebab semuanya wajib menurut perintah. 35:5 Persembahan orang jujur melemaki mezbah, dan harumnya sampai ke hadapan Yang Mahatinggi. 35:6 Tuhan berkenan kepada korban orang benar, dan ingatannya tidak akan dilupakan. 35:7 Muliakanlah Tuhan dengan kemurahan, dan buah bungaran di tanganmu janganlah kausedikitkan. 35:8 Sertakanlah muka yang riang dengan segala pemberianmu, dan bagian sepersepuluh hendaklah kaukuduskan dengan suka hati. 35:9 Berikanlah kepada Yang Mahatinggi berpadanan dengan apa yang la berikan kepadamu, dengan murah hati dan sesuai dengan hasil tanganmu. 35:10 Sebab Dia itu Tuhan pembalas, dan engkau akan dibalas-Nya dengan tujuh lipat. 35:11 Jangan mencoba menyuap Tuhan, sebab tidak diterima-Nya, dan janganlah percaya pada korban kelaliman! 35:12 Sebab Tuhan adalah Hakim, yang tidak memihak.

Mazmur 50:5-6.7-8.14.23
Ref. Orang yang jujur jalannya, akan menyaksikan keselamatan yang dari Allah.
Ayat. ( Mzm 50:5-6.7-8.14.23)

*    ”Bawalah ke mari orang-orang yang Kukasihi, yang mengikat perjanjian dengan Daku, perjanjian yang dikukuhkan dengan kurban sembelihan!” Maka langit memberitakan keadilan-Nya: Allah sendirilah Hakim!

*    Dengarlah, hai umat-Ku, Aku hendak berfirman! Dengarkanlah, hai Israel, Aku hendak bersaksi terhadap kamu: Akulah Allah, Allahmu! Bukan karena kurban sembelihan engkau Kuhukum, sebab kurban bakaranmu senantiasa ada di hadapanku!

*    Persembahkanlah syukur sebagai kurban kepada Allah, dan bayarlah nazarmu kepada Yang Mahatinggi. Siapa yang mempersembahkan syukur sebagai kurban, ia memuliakan Daku; dan siapa yang jujur jalannya, akan menyaksikan keselamatan yang dari Allah!

Bait Pengantar Injil
Ref. Alleluya
Ayat. (Mat 11:25)
Terpujilah Engkau Bapa, Tuhan langit dan bumi, sebab misteri Kerajaan Kaunyatakan kepada kaum sederhana.

Bacaan Injil : Markus 10:28-31

“Sekalipun disertai penganiayaan, pada masa ini juga kalian akan menerima kembali seratus kali lipat dan di masa datang menerima hidup yang kekal.”

10:28 Berkatalah Petrus kepada Yesus: “Kami ini telah meninggalkan segala sesuatu dan mengikut Engkau!” 10:29 Jawab Yesus: “Aku berkata kepadamu, sesungguhnya setiap orang yang karena Aku dan karena Injil meninggalkan rumahnya, saudaranya laki-laki atau saudaranya perempuan, ibunya atau bapanya, anak-anaknya atau ladangnya, 10:30 orang itu sekarang pada masa ini juga akan menerima kembali seratus kali lipat: rumah, saudara laki-laki, saudara perempuan, ibu, anak dan ladang, sekalipun disertai berbagai penganiayaan, dan pada zaman yang akan datang ia akan menerima hidup yang kekal. 10:31 Tetapi banyak orang yang terdahulu akan menjadi yang terakhir dan yang terakhir akan menjadi yang terdahulu.”

Renungan :

 “Jangan tampil di hadirat Tuhan dengan tangan yang kosong, sebab semuanya wajib menurut perintah. Persembahan orang jujur melemaki mezbah, dan harumnya sampai ke hadapan Yang Mahatinggi. Tuhan berkenan kepada korban orang benar, dan ingatannya tidak akan dilupakan” (Sir 35:4-6).

Kapan kita ‘tampil di hadirat Tuhan’?  Kita tampil di hadirat Tuhan antara lain ketika kita sedang berdoa atau beribadat serta pada saat dipanggil Tuhan alias menjelang meninggal dunia. “Jangan tampil di hadirat Tuhan dengan tangan kosong” itulah yang baik kita renungkan atau refleksikan. Dengan kata lain kita diharapkan mempersembahkan sesuatu kepada Tuhan, dan karena  hidup kita serta segala sesuatu yang kita miliki, kuasai serta nikmati sampai saat ini adalah anugerah Tuhan, maka selayaknya sebagai orang beriman kita mempersembahkan diri seutuhnya kepada Tuhan: hidup kita dan segala sesuatu yang kita miliki, kuasai dan nikmati.

Mempersembahkan diri seutuhnya kepada Tuhan berarti hidup suci atau benar, sebagaimana pernah kita janjikan ketika dibaptis, yaitu “hanya mengabdi Tuhan saja dan menolak semua godaan setan”. Tubuh kita serta segala jenis harta benda atau kekayaan kita pada dasarnya netral, artinya dapat menjadi jalan ke sorga atau jalan ke neraka, dan sebagai orang beriman kita diharapkan menjadikannya jalan ke sorga. Kita berasal dari Tuhan/sorga dan harus kembali kepada Tuhan/sorga. Semoga kita tidak memfungsikan anggota tubuh kita sebagai ‘hamba setan’ melainkan sebagai ‘hamba Tuhan’, demikian pula aneka harta benda dan kekayaan. Kita juga diingatkan agar hidup dan bertindak jujur, tidak pernah korupsi atau berbohong. Jujur adalah sikap dan perilaku yang tidak suka berbohong dan berbuat curang, berkata-kata apa adanya dan berani mengakui kesalahan, serta rela berkorban untuk kebenaran.

Mazmur, Allah adalah Tuhan.

Allah mengatur bumi dan segenap isinya demi kebaikan. Kehadiran-Nya menggentarkan, sebab Ia kudus, tiada duanya, dibandingkan raja yang paling berkuasa sekali pun (ayat 3). Daya cipta-Nya nyata, oleh kemuliaan-Nya segala sesuatu dijadikan dari tidak ada. Kedahsyatan Allah, tak mungkin dilukiskan dengan kata-kata, sebab tak seorang pun sanggup menatap Allah dalam hakikat diri-Nya. Respons kita hanyalah gentar, takjub, dan sembah.

Ibadah yang tak menghormati Allah. Israel terbiasa dengan peraturan korban. Sepertinya Allah perlu korban-korban itu, dan Israel berjasa di hadapan Allah. Kini Allah menentang dan menolak ide salah itu. Semua adalah milik Tuhan, tak satu pun merupakan pemberian manusia kepada Allah. Allah bukanlah manusia yang tubuhnya perlu istirahat, dan butuh makanan. Ibadah yang benar ialah perbuatan kebenaran dan keadilan, sikap hati tulus dan jujur, serta hubungan kemanusia yang suci dan saling membangun.

Renungkan: Persembahan tidak menutupi dosa pencurian harta maupun perampasan hak orang lain. Pujian merdu tak dapat menutupi ketidaksetiaan, perzinahan dan ingkar janji kita. Tetapi bagi yang telah melakukan semua ini, Allah yang Maha Kasih masih membuka jalan keselamatan dalam Kristus Yesus.

Injil hari ini, Akan dihargai

Bila si orang kaya tidak bersedia melepas hartanya untuk mengikut Yesus, maka para murid telah meninggalkan segala sesuatu demi Yesus. Lalu adakah keuntungan bagi para murid yang telah melakukan semua itu?

Yesus menjelaskan bahwa segala pengorbanan bagi Tuhan akan dihargai (ayat 30). Mereka yang harus kehilangan sesuatu karena mengikut Kristus, akan menerima balasan berlipat kali ganda sebagai ganti dari semua kehilangan yang diderita. Meski yang kehilangan bersifat fisik atau materi, tetapi kita belum tentu mendapatkan ganti yang berupa demikian. Namun yang ingin Yesus katakan adalah bahwa Tuhan tidak tutup mata terhadap semua itu. Tuhan melihat dan memperhatikan. Dia tidak mengabaikan orang-orang yang telah mengorbankan segala sesuatu demi mengikut Dia. Maka meski murid-murid-Nya harus miskin, menderita, terhina, dan dianiaya karena Dia, mereka akan ditinggikan oleh Allah. Dan mereka yang duduk dalam posisi elite di dunia ini dan tidak pernah menghiraukan Kristus, akan menduduki tempat terakhir nantinya. Tidak akan ada penghormatan sedikit pun bagi mereka.

Pertanyaan para murid kadangkala menjadi pertanyaan kita juga ketika melihat pengorbanan kita dalam pelayanan begitu besar, baik berupa waktu, tenaga, pikiran, maupun harta. Lalu kita membandingkannya dengan orang lain, yang kelihatannya sedikit berkorban, tetapi mendapat nama dan penghargaan, bahkan dari apa yang kita lakukan. Mungkin terasa menyakitkan bagi kita. Namun jawaban Yesus kepada para murid memberikan kepastian bahwa Tuhan, Yang empunya pelayanan, melihat apa yang kita lakukan. Dan Dia menghargai semua itu. Tentu saja kita pun harus menyadari, hendaknya pelayanan yang kita lakukan tidak didasarkan atas bayangan penghargaan yang akan kita terima dari Allah. Lakukanlah pelayanan kita sebagai wujud ucapan syukur dan terima kasih kita kepada Dia, yang telah mempercayai kita untuk melayani Dia.

DOA: Tuhan Yesus, ajarlah aku untuk mengikuti jejak-Mu sedekat-dekatnya sehingga aku dapat melupakan diriku sendiri. Jadikanlah hatiku seperti hati-Mu, ya Tuhan. Amin. (Lucas Margono)

februari28

Renungan Senin, 27 Februari 2017

Renungan Senin, 27 Februari 2016, Hari Biasa, Pekan Biasa VIII

Bacaan I : Sir 17:24-29

“Bertobatlah kepada Tuhan dan hentikanlah dosamu.”

17:24 Namun untuk orang yang menyesalpun Tuhan membuka jalan kembali, dan orang yang kehilangan ketabahan hati dilipur oleh-Nya. 17:25 Berpalinglah kepada Tuhan dan lepaskanlah dosa, berdoalah di hadapan-Nya dan berhentilah menghina. 17:26 Kembalilah kepada Yang Mahatinggi dan berpalinglah dari yang durjana, dan hendaklah sangat benci kepada kekejian. 17:27 Siapa gerangan di dunia orang mati memuji Yang Mahatinggi, sebagai pengganti orang yang hidup dan yang mempersembahkan pujian? 17:28 Dari orang mati lenyaplah pujian seperti dari yang tiada sama sekali, sedangkan barangsiapa yang hidup dan sehat memuji Tuhan. 17:29 Alangkah besarnya belas kasihan Tuhan serta pengampunan-Nya bagi semua yang berpaling kepada-Nya!

Mazmur 32:1-2.5.6.7
Ref. Bersukacitalah dalam Tuhan dan bersorak sorailah, hai orang jujur.

*    Berbahagialah orang yang pelanggarannya diampuni dan dosa-dosanya ditutupi! Berbahagialah orang yang kesalahannya tidak diperhitungkan Tuhan, dan tidak berjiwa penipu!

*    Akhirnya dosa-dosaku kuungkapkan kepada-Mu dan kesalahanku tidaklah kusembunyikan; aku berkata, “Aku akan menghadap Tuhan” dan mengaku segala pelanggaranku. Maka Engkau sudah mengampuni kesalahanku.

*    Sebab itu hendaklah setiap orang saleh berdoa kepada-Mu, selagi ditimpa kesesakan; kendati banjir besar terjadi, ia tidak akan terlanda. 4.Engkaulah persembunyian bagiku, ya Tuhan! Engkau menjagaku terhadap kesesakan Engkau melindungi aku, sehingga aku luput dan bersorak.

Bait Pengantar Injil
Ref. Alleluya
Ayat. (2Kor 8:9)
Yesus Kristus telah menjadi miskin sekalipun Ia kaya, supaya kalian menjadi kaya berkat kemiskinan-Nya. 
   
Bacaan Injil : Markus 10:17-27

“Juallah apa yang kaumiliki, dan ikutilah aku.”

10:17 Pada waktu Yesus berangkat untuk meneruskan perjalanan-Nya, datanglah seorang berlari-lari mendapatkan Dia dan sambil bertelut di hadapan-Nya ia bertanya: “Guru yang baik, apa yang harus kuperbuat untuk memperoleh hidup yang kekal?” 10:18 Jawab Yesus: “Mengapa kaukatakan Aku baik? Tak seorangpun yang baik selain dari pada Allah saja. 10:19 Engkau tentu mengetahui segala perintah Allah: Jangan membunuh, jangan berzinah, jangan mencuri, jangan mengucapkan saksi dusta, jangan mengurangi hak orang, hormatilah ayahmu dan ibumu!” 10:20 Lalu kata orang itu kepada-Nya: “Guru, semuanya itu telah kuturuti sejak masa mudaku.” 10:21 Tetapi Yesus memandang dia dan menaruh kasih kepadanya, lalu berkata kepadanya: “Hanya satu lagi kekuranganmu: pergilah, juallah apa yang kaumiliki dan berikanlah itu kepada orang-orang miskin, maka engkau akan beroleh harta di sorga, kemudian datanglah ke mari dan ikutlah Aku.” 10:22 Mendengar perkataan itu ia menjadi kecewa, lalu pergi dengan sedih, sebab banyak hartanya. 10:23 Lalu Yesus memandang murid-murid-Nya di sekeliling-Nya dan berkata kepada mereka: “Alangkah sukarnya orang yang beruang masuk ke dalam Kerajaan Allah.” 10:24 Murid-murid-Nya tercengang mendengar perkataan-Nya itu. Tetapi Yesus menyambung lagi: “Anak-anak-Ku, alangkah sukarnya masuk ke dalam Kerajaan Allah. 10:25 Lebih mudah seekor unta melewati lobang jarum dari pada seorang kaya masuk ke dalam Kerajaan Allah.” 10:26 Mereka makin gempar dan berkata seorang kepada yang lain: “Jika demikian, siapakah yang dapat diselamatkan?” 10:27 Yesus memandang mereka dan berkata: “Bagi manusia hal itu tidak mungkin, tetapi bukan demikian bagi Allah. Sebab segala sesuatu adalah mungkin bagi Allah.”

Renungan :

 “Untuk orang yang menyesalpun Tuhan membuka jalan kembali, dan orang yang kehilangan ketabahan hati dilipur oleh-Nya. Berpalinglah kepada Tuhan dan lepaskanlah dosa, berdoalah di hadapan-Nya dan berhentilah menghina” (Sir 17:24-25).

Kiranya kita semua adalah orang berdosa, namun marilah kita sadari dan hayati bahwa kita juga dipanggil oleh Allah untuk bertobat atau memperbaharui diri. Salah satu bentuk dosa yang kita lakukan adalah ‘menghina’ atau melecehkan orang lain, antara lain membesar-besarkan kesalahan dan kekurangan orang lain atau menuduh salah orang lain, padahal yang sebenarnya mereka tak bersalah. “Berdoalah di hadapan-Nya dan berhentilah menghina”, demikian peringatan yang hendaknya kita indahkan. Berdoa antara lain mengarahkan hati sepenuhnya kepada Tuhan, sehingga perhatian senantiasa terarah kepada Tuhan yang hidup dan berkarya dalam ciptaan-ciptaanNya, antara lain dalam diri manusia, yang diciptakan sebagai gambar atau citra Allah. Maka marilah kita perhatikan karya Allah dalam diri kita sendiri maupun sesama atau saudara-saudari kita. Dengan kata lain marilah kita saling bersikap positif satu sama lain, melihat dan mengimani kebaikan yang ada dalam diri kita. Marilah kita hayati bahwa Tuhan mahamurah dan maha kasih, maka hendaknya jangan takut menyesali dosa dan kesalahan di hadapan Tuhan melalui sesama atau saudara-saudari kita. Para orangtua, pendidik/guru atau pemimpin kami harapkan dapat menjadi teladan dalam menyesali dosa dan mengakui kesalahan bagi anak-anaknya, peserta didik atau bawahannya.

Mazmur, Kebahagiaan hanya masalah pilihan.

Setiap manusia sepanjang zaman berusaha dengan segala daya upaya untuk mendapatkan kebahagiaan hidup. Bahkan ada yang bekerja tanpa mengenal waktu dan menomorduakan keluarga agar meraih promosi jabatan, karena mereka berpikir bahwa kebahagiaan akan didapatkan jika mereka bergelimang harta dan meraih kedudukan tinggi. Setelah meraih semua itu, bukan kebahagiaan yang ia dapatkan namun penyakit karena stress dan bekerja terlalu keras. Lalu dimanakah kebahagiaan?

Sesungguhnya kebahagiaan bukanlah hal yang sulit digapai oleh manusia. Daud sudah membuktikan. Ia menemukan kebahagiaan bukan dalam kekayaan, kedudukan, dan kekuasaan yang ia miliki namun dalam pilihan bijak yang ia tetapkan. Ia memilih untuk bertobat dan mohon ampun dari Allah maka ia menemukan kebahagiaan (1-2, 5). Orang yang menyadari dosanya namun tidak bertobat tidak akan mengalami kedamaian hati namun justru tekanan (3- 4). Ia juga memilih untuk menggantungkan hidupnya kepada Allah (7). Walaupun tekanan dan kesulitan tetap melandanya, ia tidak sendiri sebab Allahlah tempat perlindungannya (6). Yang terakhir ia memilih untuk menaati perintah Allah (8) bukan seperti kuda atau bagal yang terkenal senang membangkang. Pilihannya yang terakhir adalah sangat tepat sebab orang fasik akan mengalami derita bukan selalu secara fisik, namun yang pasti secara hati dan jiwa karena hanya orang yang sudah dipulihkan hubungannya dengan Allah yang akan merasakan damai sejahtera yang sesungguhnya (10).

Kebahagiaan yang diajarkan oleh Daud adalah kebahagiaan yang sejati sebab tidak tergantung dari situasi dan kondisi dirinya, masyarakat sekitar maupun lingkungannya. Bencana dan derita apa pun boleh menimpanya namun karena pilihannya, ia tetap dapat bersukacita dan bersorak-sorai (11).

Renungkan: Karena itu apa sebenarnya yang Anda cari dengan bekerja keras tanpa batas hingga mengalami stres dan gangguan kesehatan yang serius? Uang, rumah, mobil mewah, atau kedudukan? Daud sudah membuktikan bahwa itu semua tidak membawa kebahagiaan. Tentukanlah apakah Anda mau memilih apa yang Daud pilih. Jika ya maka kebahagiaan sejati tidak jauh dari hidup Anda.

Injil hari ini, Bukan karena harta

“… Meskipun saya susah, menderita dalam dunia, saya mau ikut Yesus sampai s\’lama-lamanya.” Anda tentu sudah sudah biasa mendengar atau menyanyikan lagi ini. Lagu itu sering dinyanyikan dengan nada sendu bagai ingin menunjukkan kesungguhan ikut Yesus. Namun bila kita tanyakan diri kita sendiri, seberapa jauh dan sungguhkah kita ingin ikut Yesus?

Seorang kaya yang ingin memperoleh hidup kekal ternyata belum benar-benar serius memiliki keinginan itu. Ia memang telah melakukan semua hukum Taurat, bahkan sejak masa mudanya (ayat 20). Ia mengira bahwa ketaatannya itu bisa menjadi modal untuk memiliki kehidupan kekal. Namun ketika ada syarat yang Yesus ajukan, yaitu untuk menjual harta kekayaannya, ia merasa keberatan (ayat 22). Bagi dia, harta kekayaannya jauh lebih berharga daripada harta di surga yang belum kelihatan. Mungkin dia telah bersusah payah untuk mendapatkan harta sebanyak itu. Lalu bagaimana mungkin ia harus membagikannya begitu saja kepada orang lain, meski mereka miskin? Lagi pula bagaimana ia dapat hidup selanjutnya? Ternyata ia telah menyandarkan hidupnya pada hartanya. Penolakannya untuk berpisah dari hartanya memperlihatkan bahwa ia telah menjadikan harta sebagai berhala. Kekayaannya telah membuat dia menolak hidup kekal.

Kekayaan memang dapat membuat orang merasa tidak memerlukan Allah. Haus harta dapat menggantikan kehausan akan kebenaran. Meski demikian, Yesus bukan sedang mengajarkan bahwa orang miskin lebih mudah masuk surga atau bahwa tiap orang harus melepaskan kekayaannya. Namun tiap orang harus menyadari kebutuhannya akan Allah. Semua orang harus sadar bahwa tidak ada sesuatu apapun yang bisa dilakukan untuk memperoleh hidup kekal. Hidup kekal hanya bisa diperoleh dengan harga yang sangat mahal. Dan hanya Yesuslah yang dapat membayar harga itu.

Syukur kepada Allah karena hidup kekal itu bisa kita terima dengan menerima Kristus sebagai Juruselamat kita.

DOA: Bapa surgawi, lepaskanlah kelekatan kami pada hal-hal duniawi, tunjukkanlah jalan bagaimana kami dapat dibebaskan dari ikatan yang selama ini telah membelenggu kami. Berikanlah kuasa firman-Mu yang dapat menembus hati kami dan mewahyukan Yesus kepada kami. Tumbuh-kembangkanlah iman kami untuk percaya bahwa firman-Mu dapat menyatakan realitas Yesus dan kasih-Nya bagi kami. Kami sadar, ya Allahku, bahwa iman berarti menerima kebenaran dari apa yang dikatakan firman-Mu, mengandalkan diri padanya dan bertindak atasnya. Hanya apabila kami mencari perwahyuan dari firman-Mu, maka kami dapat mengikuti cara Yesus untuk tidak mempunyai kelekatan tertentu pada hal-hal duniawi. Amin. (Lucas Margono)

februari27

Renungan Minggu, 26 Februari 2017

Renungan Minggu, 26 Februari 2017, Hari Minggu Biasa, Pekan Biasa VIII.

Bacaan I : Yes 49:14-15

“Aku tidak melupakan dikau.”

49:14 Sion berkata: “TUHAN telah meninggalkan aku dan Tuhanku telah melupakan aku.” 49:15 Dapatkah seorang perempuan melupakan bayinya, sehingga ia tidak menyayangi anak dari kandungannya? Sekalipun dia melupakannya, Aku tidak akan melupakan engkau.

Mazmur 62:2-3.6-7.8-9ab; Ul: 6a, do = d, 2/4, PS 842
Ref. Hanya pada Tuhanlah hatiku tenang.
Ayat. (Mzm 62:2-3.6-7.8-9ab; Ul: 6a)

*    Hanya dekat Allah saja aku tenang dari pada-Nyalah keselamatanku. Hanya Dialah gunung batu dan keselamatanku. Hanya Dialah kota bentengku, aku tidak akan goyah.

*    Hanya pada Allah saja aku tenang. Sebab dari pada-Nyalah harapanku. Hanya Dialah gunung batu dan keselamatanku. Hanya Dialah kota bentengku, aku tidak akan goyah.

*    Pada Allah ada keselamatan dan kemuliaanku. Gunung batu kekuatanku, tempat perlindunganku ialah Allah. Percayalah kepada-Nya setiap waktu, hai umat. Curahkanlah isi hatimu di hadapan-Nya.

Bacaan II : 1 Korintus 4:1-5

“Tuhan akan memperlihatkan apa yang direncanakan dalam hati.”

4:1 Demikianlah hendaknya orang memandang kami: sebagai hamba-hamba Kristus, yang kepadanya dipercayakan rahasia Allah. 4:2 Yang akhirnya dituntut dari pelayan-pelayan yang demikian ialah, bahwa mereka ternyata dapat dipercayai. 4:3 Bagiku sedikit sekali artinya entahkah aku dihakimi oleh kamu atau oleh suatu pengadilan manusia. Malahan diriku sendiripun tidak kuhakimi. 4:4          Sebab memang aku tidak sadar akan sesuatu, tetapi bukan karena itulah aku dibenarkan. Dia, yang menghakimi aku, ialah Tuhan. 4:5 Karena itu, janganlah menghakimi sebelum waktunya, yaitu sebelum Tuhan datang. Ia akan menerangi, juga apa yang tersembunyi dalam kegelapan, dan Ia akan memperlihatkan apa yang direncanakan di dalam hati. Maka tiap-tiap orang akan menerima pujian dari Allah.

Bait Pengantar Injil, do = f, 2/4, PS 961
Ref. Alleluya, alleluya, alleluya
Ayat. (Ibr 4:12)
Firman Allah itu hidup dan kuat, sanggup membedakan pertimbangan dan pikiran hati kita.

Bacaan Injil : Matius 6:24-34

“Janganlah khawatir akan hari esok.”

6:24 Tak seorangpun dapat mengabdi kepada dua tuan. Karena jika demikian, ia akan membenci yang seorang dan mengasihi yang lain, atau ia akan setia kepada yang seorang dan tidak mengindahkan yang lain. Kamu tidak dapat mengabdi kepada Allah dan kepada Mamon.” 6:25 “Karena itu Aku berkata kepadamu: Janganlah kuatir akan hidupmu, akan apa yang hendak kamu makan atau minum, dan janganlah kuatir pula akan tubuhmu, akan apa yang hendak kamu pakai. Bukankah hidup itu lebih penting dari pada makanan dan tubuh itu lebih penting dari pada pakaian? 6:26 Pandanglah burung-burung di langit, yang tidak menabur dan tidak menuai dan tidak mengumpulkan bekal dalam lumbung, namun diberi makan oleh Bapamu yang di sorga. Bukankah kamu jauh melebihi burung-burung itu? 6:27 Siapakah di antara kamu yang karena kekuatirannya dapat menambahkan sehasta saja pada jalan hidupnya? 6:28 Dan mengapa kamu kuatir akan pakaian? Perhatikanlah bunga bakung di ladang, yang tumbuh tanpa bekerja dan tanpa memintal, 6:29 namun Aku berkata kepadamu: Salomo dalam segala kemegahannyapun tidak berpakaian seindah salah satu dari bunga itu. 6:30 Jadi jika demikian Allah mendandani rumput di ladang, yang hari ini ada dan besok dibuang ke dalam api, tidakkah Ia akan terlebih lagi mendandani kamu, hai orang yang kurang percaya? 6:31 Sebab itu janganlah kamu kuatir dan berkata: Apakah yang akan kami makan? Apakah yang akan kami minum? Apakah yang akan kami pakai? 6:32 Semua itu dicari bangsa-bangsa yang tidak mengenal Allah. Akan tetapi Bapamu yang di sorga tahu, bahwa kamu memerlukan semuanya itu. 6:33 Tetapi carilah dahulu Kerajaan Allah dan kebenarannya, maka semuanya itu akan ditambahkan kepadamu. 6:34 Sebab itu janganlah kamu kuatir akan hari besok, karena hari besok mempunyai kesusahannya sendiri. Kesusahan sehari cukuplah untuk sehari.”

Renungan :

Kau tidak Ku lupakan

Kasih ibu sepanjang jalan, kasih anak sepanjang penggalah. Peribahasa ini berarti kasih ibu kepada anak tiada terputus sampai mati, tetapi kasih anak kepada ibu kadang-kadang amat sedikit dan dapat hilang. Ungkapan seperti ini dipakai Allah untuk menunjukkan kasih-Nya kepada Israel.

Wajarlah Israel beranggapan Allah telah melupakan mereka sebab mereka tidak ditolong-Nya saat Nebukadnezar menyerbu Yerusalem. Mereka justru ditawan ke negara Babel. Setelah puluhan tahun di tanah pembuangan, mereka semakin yakin Allah melupakan mereka (ayat 14,21). Perasaan Israel ini dijawab Allah dengan pertanyaan retoris: “Bagaimana mungkin seorang ibu tidak lagi peduli kepada anak kandungnya?” (ayat 15-16). Tuhan sekali lagi menegaskan bahwa Ia mengingat umat pilihan-Nya itu. Israel tetap akan menjadi umat yang dikasihi Tuhan.

Allah bukan sekadar mengakui bahwa Israel adalah milik-Nya, tetapi Ia membuktikannya. Pertama, Tuhan akan membangun Sion kembali. Orang-orang yang dipakai Allah untuk membangun akan berkumpul bersama untuk merestorasi Sion (ayat 17-18). Akibatnya banyak orang akan datang memadati daerah Israel dan generasi yang tertinggal akan dipulihkan (ayat 19-21). Kedua, Israel akan menjadi bangsa yang dihormati semua bangsa dan tidak lagi mendapat malu (ayat 22-23). Semua janji-Nya akan digenapi karena Ia Allah yang setia pada umat-Nya. Ia membebaskan umat-Nya dari musuh mereka dan akan menghukum musuh itu (ayat 24-26).

Pada saat penderitaan dan tekanan hidup menimpa, kita sering merasa Tuhan telah melupakan bahkan meninggalkan kita. Sebenarnya, Tuhan tetap mengasihi kita bahkan Ia mau memulihkan kita. Yang perlu kita lakukan adalah tetap percaya kepada-Nya dan tekun menantikan pertolongan-Nya meski solusi belum dapat kita lihat.

Renungkan: Tuhan mengingat setiap anak-Nya satu per satu. Setiap kita memiliki tempat khusus di hati-Nya.

Mazmur, Kontemporer.

Kontemporer atau keadaan sesuai perkembangan zaman terakhir, selalu ditandai oleh perubahan. Lagu kontemporer, musik kontemporer, mode kontemporer, artinya sesuatu yang sedang menggejala atau disukai dalam tempo atau masa kini. Tuhan Allah kekal adanya, Ia tidak tunduk kepada arus perubahan zaman tersebut. Allah tidak kontemporer! Orang yang sungguh berpaut kepada Allah pun sering kali tidak bisa dan tidak boleh kontemporer. Etika Kristen, tidak kontemporer. Prinsip hidup Kristen pun tidak. Orang Kristen berpegang dan menjalani kebenaran kekal yang serasi dengan Allah yang kekal.

Tenang dalam Allah. Berharap kepada manusia pasti akan kecewa. Manusia bisa berubah. Manusia jahat dapat lain di mulut, lain di hati dan tindakan. Allah tidak demikian. Kebenaran, kasih, kesucian, kekuasaan, kesetiaan Allah tetap selamanya. Bersandar dan berlindung pada Allah akan menghasilkan hidup yang aman tenteram. Ketika memerlukan konseling atau bimbingan, apa yang Daud lakukan? “Curahkanlah isi hatimu di hadapan-Nya. Curahkanlah melalui doa sampai habis. Curahkanlah dengan percaya sambil istirahat di dalam Dia.

Renungkan: Curahkanlah isi hatimu di hadapan Allah! Orang yang rajin melatih berdiam diri, merenungkan sabda Allah, menikmati hadirat-Nya, akan memiliki ketenangan hati.

Bacaan II, “Demikianlah hendaknya orang memandang kami: sebagai hamba-hamba Kristus, yang kepadanya dipercayakan rahasia Allah.” 1 Korintus 4:1

Istilah hamba Tuhan kian marak dalam pelayanan kekristenan masa kini di mana banyak orang bangga bila gelar hamba Tuhan tersebut melekat kepadanya, tanpa memahami makna sesungguhnya kata hamba tersebut.

Seiiring berjalannya waktu, pengertian kata hamba Tuhan secara perlahan mengalami pergeseran. Sering ada anggapan bahwa menjadi hamba Tuhan bearti harus mendapatkan perlakuan khusus atau service plus, beroleh penghormatan di mana pun melayani dengan segala fasilitas yang memadai. Hal ini tidak seratus persen keliru! Itu adalah bonus atau berkat yang mengikuti pelayanan hamba Tuhan. Namun jangan sampai hal ini mengalihkan motiviasi kita sehingga tidak lagi mencerminkan jiwa pengabdian, melainkan hanya tuntutan profesi yang menyebabkan kita ke luar dari jalur Tuhan.

Di awal suratnya yang ia tulis kepada jemaat di Roma, rasul Paulus menyebut dirinya hamba Yesus Kristus: Dari Paulus, hamba Kristus Yesus, yang dipanggil menjadi rasul dan dikuduskan untuk memberitakan Injil Allah.” (Roma 1:1), begitu juga di hadapan jemaat Korintus. Paulus menyadari benar makna kata hamba yang melekat pada dirinya, yaitu tidak lebih dari seorang budak. Sebagai budak ia harus mengabdikan diri dengan segenap jiwa dan raga untuk Tuannya. Jadi hamba Tuhan juga bisa diartikan orang-orang yang membaktikan setiap nafas hidupnya untuk Tuhan, melepaskan segala kenyamanan duniawi, tunduk kepada pemerintahan sorgawi dan tidak punya hak untuk menuntut, serta bukan seorang bos. Paulus mengakui dirinya adalah hamba Yesus Kristus. Ada pun jawaban sebagai rasul diberikan oleh Kristus kepadanya, bukan ia sendiri yang mengangkat dirinya sebagai rasul. Tetapi Paulus tetap mengedepankan status dirinya yang tidak lebih dari seorang hamba. Dalam perjalanannya sebagai seorang hamba Tuhan Paulus melayani dengan tulus, tidak bersikap menuntut, tidak mencari keuntungan diri sendiri di balik pelayanan, melainkan mengabdi dengan sungguh-sungguh demi kemajuan Injil di muka bumi.

Mari kita melayani Tuhan dengan penuh pengabdian, “sama seperti Anak Manusia datang bukan untuk dilayani…” (Matius 20:28)

Injil hari ini, Kekawatiran

Alat transportasi apapun bentuknya di zaman modern ini bisa saja menimbulkan kekawatiran. Pesawat ya, tergelincir, hilang kendali bahkan jatuh. Mobil tabrakan. Kapal laut tenggelam. Kereta api ada yang anjlok…keluar dari rel. Harga sembako yang melambung, biaya pendidikan dan kesehatan yang tidak murah juga memicu orang untuk kuatir. Ada1001 alasan yang bisa dijadikan alasan untuk kuatir.

Dalam bacaan Injil Yesus memnghibur kita dengan kata-kataNya: “Janganlah kamu kuatir akan hidupmu!” (Mat 6:25) “Siapakah di antara kalian yang karena kekuatirannya dapat menambah sehasta saja pada jalan hidupnya? (Mat 6:27) Dari kata-kata Yesus, ini, kita diajak untuk mempercayakan seluruh hidup kita hanya kepadaNya.

Dalam menjalani hidup yang penuh tantangan dan godaan ini, kita semestinya selalu mendekatkan diri kepadaNya. Sebab, semakin kita dekat dengan Tuhan, hati kita akan menjadi lebih damai, tenang dan penuh sukacita. Kalau itu sungguh-sungguh terjadi, maka, kata-kata, tindakan dan sikap kita serta pikiran-pikiran yang kita lontarkan akan menjadi berkat bagi diri sendiri maupun bagi sesama di sekitar kita.

Sekali lagi, ada 1001 alasan bagi kita untuk membuat kita menjadi kuatir dan pesimis dalam menjalani hidup. Namun, bersama Tuhan, ada 1001 alasan juga bagi kita untuk tetap optimis, menatap masa depan, menjalani hidup.

Kita perlu belajar pula dari Paulus, yang dikisahkan dalam bacaan I. Paulus berkata: “Jika aku lemah maka aku kuat” (2 Kor 12:10) Melalui, kata-kata itu, Paulus ingin menegaskan bahwa kekuatan Allah selalu melimpah dalam kemanusiaannya. Sebagi manusia, paulus merasa lemah, namun karena kekuatan Allah, ia menjadi kuat. Dalam kelemahannya, Paulus mengandalkan kekuatan Allah.

Maka, selamat berkativitas penuh semangat, jangan kuatir, penuh optimis serta selalu mohon kekuatan dan berkat-NYA, seraya berjuang sungguh menghadapi dunia. GBU

DOA: Tuhan Yesus kuatkanlah aku untuk selalu sadar memilih yang terbaik bagi kehidupan jiwaku dan keselamatan hidupku untuk selalu setia padaMu. Amin. (Lucas Margono)

februari26

 

Renungan Sabtu, 25 Februari 2017

Renungan Sabtu, 25 Februari 2017, Hari Biasa, Pekan Biasa VII.

Bacaan I : Sir 17:1-15

17:1 Manusia diciptakan Tuhan dari tanah, dan ke sana akan dikembalikan juga. 17:2 Manusia dianugerahi Tuhan sejumlah hari dan jangka waktu, dan memberinya kuasa atas segala sesuatunya di bumi, 17:3 Ia dilengkapi kekuatan yang serupa dengan kekuatan Allah sendiri, dan dijadikan Allah menurut gambar-Nya sendiri. 17:4 Di dalam segala makhluk yang hidup Tuhan menanam rasa takut terhadap manusia, agar manusia merajai binatang dan unggas. 17:6 Lidah, mata dan telinga dibentuk-Nya, dan manusia diberi-Nya hati untuk berpikir. 17:7 Tuhan memenuhi manusia dengan pengetahuan yang arif, dan menunjukkan kepadanya apa yang baik dan apa yang jahat. 17:8 Tuhan memasukkan mata-Nya sendiri di dalam hati manusia untuk menyatakan kepadanya keagungan karya Tuhan. 17:10 Maka manusia mesti memuji nama Tuhan yang kudus untuk mewartakan pekerjaan-Nya yang agung. 17:11 Tuhan telah mengaruniai manusia pengetahuan lagi dengan memberi mereka hukum kehidupan menjadi milik pusaka. 17:12 Perjanjian kekal diikat-Nya dengem mereka, dan segala hukum-Nya dipermaklumkan-Nya kepadanya. 17:13 Mata mereka telah melihat kemuliaan Tuhan yang agung, dan suara-Nya yang dahsyat telah didengar telinga mereka. 17:14 la berkata kepada mereka: “Jauhilah setiap kelaliman,” dan masing-masing diberi-Nya perintah mengenai sesamanya. 17:15 Langkah laku manusia selalu terbentang di hadapan Tuhan, dan tak tersembunyi bagi mata-Nya.

Mazmur 103:13-14,15-16,17-18a
Ref. Kekal abadilah kasih setia Tuhan atas orang yang takwa kepada-Nya.

*    Seperti bapa sayang kepada anak-anaknya, demikian Tuhan sayang kepada orang-orang yang takwa. Sebab Dia sendiri tahu dari apa kita dibuat, Dia sadar bahwa kita ini debu.

*    Adapun manusia, hari-harinya seperti rumput; seperti bunga di padang demikianlah ia berkembang. Apabila angin melintasinya, maka lenyaplah ia, dan tempatnya pun tidak diketahui lagi.

*    Tetapi kekal abadilah kasih setia Tuhan atas orang-orang yang takwa kepada-Nya; sebagaimana kekal abadilah kebaikan-Nya atas anak cucu mereka, asal saja mereka tetap berpegang pada perjanjian-Nya.

Bait Pengantar Injil
Ref. Alleluya
Ayat. Terpujilah Engkau, Bapa, Tuhan langit dan bumi, sebab misteri kerajaan Kaunyatakan kepada kaum sederhana.

Bacaan Injil : Markus 10:13-16

Anak berhak atas kabar keselamatan.

10:13 Lalu orang membawa anak-anak kecil kepada Yesus, supaya Ia menjamah mereka; akan tetapi murid-murid-Nya memarahi orang-orang itu. 10:14 Ketika Yesus melihat hal itu, Ia marah dan berkata kepada mereka: “Biarkan anak-anak itu datang kepada-Ku, jangan menghalang-halangi mereka, sebab orang-orang yang seperti itulah yang empunya Kerajaan Allah. 10:15 Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya barangsiapa tidak menyambut Kerajaan Allah seperti seorang anak kecil, ia tidak akan masuk ke dalamnya.” 10:16 Lalu Ia memeluk anak-anak itu dan sambil meletakkan tangan-Nya atas mereka Ia memberkati mereka.

Renungan :

“Langkah laku manusia selalu terbentang di hadapan Tuhan, dan tak tersembunyi bagi mata-Nya” (Sir 17:15).

Kutipan ini kiranya merupakan dukungan bagi hidup jujur dan terbuka, sebaliknya merupakan tantangan dan peringatan  bagi para penipu, pembohong dan koruptor. Kutipan di atas ini kiranya senada dengan peribahasa  “Sepandai-pandai tupai melompat akhirnya jatuh juga”. Maka untuk para penipu, pembohong dan koruptor untuk bertobat. Lebih baik mengakui kesalahan saat ini daripada nanti harus diadili di muka umum karena kejahatan anda. Tidak ada kata terlambat untuk memperbaharui atau bertobat.

Ingatlah, karena sekali menipu dan berbohong ada kemungkinan anda akan tergerak untuk lebih menipu dan berbohong. Ketika ada tuduhan atas penipuan dan kebohongan anda, kiranya anda akan semakin menipu dan berbohong dalam menanggapi tuduhan tersebut. Akhirnya semakin menipu dan berbohong akan segera ketahuan juga bagaimana moral seseorang.

Kita melihat kasus ketegangan agama dibuat-buat dan dibesar-besarkan dengan harapan masyarakat terkuras perhatiannya pada masalah kerukunan hidup beragama dan mengesampingkan masalah korupsi. Masyarakat masa kini cukup terdidik dan kritis terhadap aneka bentuk penyelewengan. “Mata-mata Tuhan” ada dimana-mana, karena Tuhan berkarya kapan saja dan dimana saja, tidak terikat oleh ruang dan waktu. Kejahatan para penipu, pembohong dan koruptor telah menjadi bahan pembicaraan di masyarakat kita, bagaikan ‘proses pengadilan’ yang pada waktunya dapat meledak dalam bentuk revolusi sebagaimana terjadi di Tunisia dan Mesir, yang kemudian menggema di negara-negara wilayah Timur Tengah. Sarana komunikasi memang membantu hidup jujur dan terbuka.

Mazmur, Kasih Allah yang besar.

Beban kehidupan yang kita alami kadang membuat kita mudah berkecil hati dan mengeluh. Dengan memperhatikan daftar panjang mazmur Daud, seharusnya segala kesusahan dan kegelisahan diganti dengan semangat memanjatkan puji syukur kepada Tuhan. Betapa tidak, Allah telah mengampuni dosa kita, menyembuhkan kita, menebus kita dari kebinasaan, melimpahi kita dengan kasih sayang, dengan kebenaran dan keadilan. Semua itu diberikan Allah kepada kita bukan karena kita berhak untuk memperolehnya, melainkan karena anugerah Allah.

Semakin mengenal kasih Allah. Kalau pun sekarang semua orang percaya mampu memanjatkan puji syukur kepada Allah, itu karena Allah telah menganugerahkan kasih dan pengampunan-Nya. Semua tindakan Allah ini, menjadi dasar pujian dalam sukacita kekristenan kita. Sebagai orang yang telah dianugerahi kasih dan pengampunan, kita harus mendisiplin diri belajar kebenaran firman Tuhan dengan penghayatan segar dalam ibadah kepada Tuhan. Itulah yang dapat kita lakukan sebagai respons umat tebusan.

Renungkan: Makin mengenal Allah, makin kita menyadari keterbatasan kita. Makin dekat Tuhan, makin kita alami kuasa dan kasih-Nya, yang memampukan kita menjadi pujian dan hormat bagi-Nya.

Injil hari ini,

Anak berhak atas kabar keselamatan. 

Di tengah perbincangan Yesus dengan para murid tentang ketidakmengertian mereka terhadap topik perceraian, para murid merasa terganggu dan marah. Mengapa? Karena ada orang-orang yang secara spontan membawa anak-anak mereka untuk Yesus jamah. Kemungkinan besar kemarahan mereka ini didasarkan pada tiga hal. Pertama, konsentrasi mereka terganggu; kedua, mereka tidak ingin Guru mereka direpotkan oleh anak-anak, dan ketiga, tradisi. Dalam agama Yahudi anak-anak sama sekali tidak ada harganya, termasuk tidak memiliki hak untuk menjadi anak-anak Allah. Pemahaman poin ketiga inilah yang Yesus jadikan senjata untuk mengubah pandangan tersebut.

Jika para murid marah melihat orang-orang yang mengantarkan anak- anak mereka, Yesus pun marah. Namun kemarahan Yesus tertuju pada tindakan para murid. Dia menolak tindakan tersebut. Jika masyarakat Yahudi menganggap bahwa anak-anak hina, tak berguna apalagi memiliki hak untuk menjadi warga Kerajaan Allah, Yesus bersikap sebaliknya. Ia membiarkan anak-anak itu datang kepada- Nya. Yesus menjelaskan bahwa Kerajaan Allah justru tersedia bagi yang kecil, yang terhina dan yang tidak berguna (ayat 14)! Ucapan Yesus ini bernada anti-Farisi, artinya Yesus ingin menunjukkan kepada mereka yang beranggapan bahwa hanya orang- orang yang telah melaksanakan hukum menurut pemahaman Farisi sajalah yang berhak masuk ke Kerajaan Allah. Tidak dipungkiri bahwa pemahaman seperti ini masih ada yang meyakini.

Yesus menggunakan keberadaan anak-anak untuk menjelaskan tentang prinsip atau sikap spiritual yang harus orang-orang Kristen laksanakan. Yesus mengajak kita agar belajar dari kepolosan, kesederhanaan, dan kesetiaan yang dimiliki oleh anak-anak ketika kita menyambut Kerajaan Allah.

Renungkan: Hanya dengan keberadaan yang kecil, rendah, dan hina itulah kita tertunduk dan takluk kepada Allah.

DOA: Tuhan Yesus, oleh Roh Kudus, bentuklah aku agar dapat menjadi seperti seorang anak kecil, dengan demikian dapat ikut ambil bagian dalam Kerajaan Allah. Amin. (Lucas Margono)

februari25

 

 

Renungan Jumat, 24 Februari 2017

Renungan Jumat, 24 Februari 2017, Hari Biasa, Pekan Biasa VII.

Bacaan I : Sir 6:5-17

“Sahabat yang setia, tiada ternilai, dan harganya tiada terbayar.”

6:5 Tenggorokan yang manis mendapat banyak sahabat, dan keramahan diperbanyak oleh lidah yang manis lembut. 6:6 Mudah-mudahan orang yang damai denganmu banyak adanya, tetapi hanya satu dari seribu hendaknya menjadi penasehatmu. 6:7 Jika engkau mau mendapat sahabat, kajilah dia dahulu, dan jangan segera percaya padanya. 6:8 Sebab ada orang yang bersahabat hanya menurut ketikanya sendiri, tetapi pada hari kesukaranmu tidak bertahan. 6:9    Ada juga sahabat yang berubah menjadi musuh, lalu menceritakan persengketaan untuk menistakan dikau. 6:10   Ada lagi sahabat yang ikut serta dalam perjamuan makan, tapi tidak bertahan pada hari kesukaranmu. 6:11           Pada waktu engkau sejahtera ia adalah seperti engkau sendiri dan lancang berbicara dengan seisi rumahmu. 6:12 Tetapi bila engkau mundur maka ia berbalik melawan dikau serta menyembunyikan diri terhadapmu. 6:13 Jauhkanlah diri dari para musuhmu, tetapi berhati-hatilah terhadap para sahabatmu. 6:14 Sahabat setiawan merupakan perlindungan yang kokoh, barangsiapa menemukan orang serupa itu sungguh mendapat harta. 6:15 Sahabat setiawan tiada ternilai, dan harganya tidak ada tertimbang. 6:16 Sahabat setiawan adalah obat kehidupan, orang yang takut akan Tuhan memperolehnya. 6:17 Orang yang takut akan Tuhan memelihara persahabatan dengan lurus hati, sebab seperti ia sendiri demikianpun temannya.

Mazmur 119:12.16.18.27.34.35; R:35,
Ref. Biarlah aku hidup menurut petunjuk perintah-perintah-Mu.
*    Terpujilah Engkau, ya Tuhan; ajarkanlah ketetapan-ketetapan-Mu kepadaku.

*    Ketetapan-ketetapan-Mu akan menjadi sumber sukacitaku, firman-Mu tidak akan kulupakan.

*    Singkapkanlah mataku, supaya aku memandang keajaiban-keajaiban hukum-Mu.

*    Buatlah aku mengerti petunjuk titah-titah-Mu, supaya aku merenungkan perbuatan-perbuatan-Mu yang ajaib.

*    Buatlah aku mengerti, maka aku akan memegang hukum-Mu; dengan segenap hati aku hendak memeliharanya.

*    Biarlah aku hidup menurut petunjuk perintah-perintah-Mu, sebab aku menyukainya.

Bait Pengantar Injil, do = g, 2/4, PS 952
Ref. Alleluya, alleluya, alleluya
Sesudah ayat, Alleluya dilagukan dua kali
Ayat.
Sabda-Mu, ya Tuhan, adalah kebenaran. Kuduskanlah kami dalam kebenaran. Alleluya.

Bacaan Injil : Markus 10:1-12

“Yang dipersatukan Allah, jangan diceraikan manusia.”

10:1 Dari situ Yesus berangkat ke daerah Yudea dan ke daerah seberang sungai Yordan dan di situpun orang banyak datang mengerumuni Dia; dan seperti biasa Ia mengajar mereka pula. 10:2              Maka datanglah orang-orang Farisi, dan untuk mencobai Yesus mereka bertanya kepada-Nya: “Apakah seorang suami diperbolehkan menceraikan isterinya?” 10:3 Tetapi jawab-Nya kepada mereka: “Apa perintah Musa kepada kamu?” 10:4 Jawab mereka: “Musa memberi izin untuk menceraikannya dengan membuat surat cerai.” 10:5 Lalu kata Yesus kepada mereka: “Justru karena ketegaran hatimulah maka Musa menuliskan perintah ini untuk kamu. 10:6 Sebab pada awal dunia, Allah menjadikan mereka laki-laki dan perempuan, 10:7 sebab itu laki-laki akan meninggalkan ayahnya dan ibunya dan bersatu dengan isterinya, 10:8 sehingga keduanya itu menjadi satu daging. Demikianlah mereka bukan lagi dua, melainkan satu. 10:9 Karena itu, apa yang telah dipersatukan Allah, tidak boleh diceraikan manusia.” 10:10         Ketika mereka sudah di rumah, murid-murid itu bertanya pula kepada Yesus tentang hal itu. 10:11 Lalu kata-Nya kepada mereka: “Barangsiapa menceraikan isterinya lalu kawin dengan perempuan lain, ia hidup dalam perzinahan terhadap isterinya itu. 10:12 Dan jika si isteri menceraikan suaminya dan kawin dengan laki-laki lain, ia berbuat zinah.”

Renungan :

“Sahabat setiawan merupakan perlindungan yang kokoh, barangsiapa menemukan orang serupa itu sungguh mendapat harta. Sahabat setiawan tiada ternilai, dan harganya tidak ada tertimbang. Sahabat setiawan adalah obat kehidupan, orang yang takut akan Tuhan memperolehnya. Orang yang takut akan Tuhan memelihara persahabatan dengan lurus hati, sebab seperti ia sendiri demikianpun temannya.”(Sir 6:14-17).

Sahabat dalam bahasa Latin adalah socius, yang dapat berarti bersama-sama, bersatu, terikat.Persahabatan sejati diikat oleh cintakasih, yang bersifat bebas, tak terbatas. Tidak terbatas tersebut dalam ikatan suami-isteri disimbolkan dengan saling mengenakan cincin yang bulat, tiada ujung dan pangkalnya alias tak terbatas. Cincin dikenakan pada jari manis dengan harapan dalam saling mengasihi senantiasa dalam keadaan manis dan lurus hati. Manis sejati memang muncul atau lahir dari hati yang lurus atau suci.

Tanda orang saling bersahabat dan mengasihi antara lain mereka semakin mirip satu sama lain, dan bagi suami-isteri semakin nampak bagaikan manusia kembar, meskipun berbeda satu sama lain. Sekali lagi kami mengingatkan: hendaklah aneka perbedaan antar kita dijadikan daya tarik untuk saling mendekat, mengenal dan bersahabat, sebagaimana laki-laki dan perempuan berbeda satu sama lain tergerak untuk saling mendekat dan mengenal. Persahabatan sejati senantiasa saling menjunjung tinggi harkat martabat manusia, saling menghormati dan melayani, saling membahagiakan dan menyelamatkan. Kami juga berharap kepada segenap anggota keluarga dan komunitas, sebagai komunitas basis, dapat menjadi teladan dalam hidup bersahabat satu sama lain; hendaknya sering diselenggarakan curhat antar anggota keluarga, berdoa dan bercakap-cakap bersama.

Mazmur, Taurat membahagiakan?

Banyak orang Kristen salah mengerti tentang Taurat. Mereka tidak habis mengerti bagaimana mungkin orang memuji-muji keindahan Taurat bahkan menyatakan kecintaan terhadapnya. Bukankah Taurat adalah peraturan- peraturan yang sebagian besar bersifat larangan? Bagaimana mungkin orang mencintai peraturan apalagi larangan, lagipula bukankah Taurat tidak berlaku lagi untuk orang Kristen?

Mazmur 119 mengoreksi pandangan keliru yang disebabkan mengidentikkan Taurat dengan hukum. Taurat bukan sekadar hukum melainkan petunjuk Ilahi berdasarkan karakter Tuhan. Tujuan Allah memberi Taurat ialah agar umat Allah menjalani dan menikmati hidup dalam anugerah-Nya. Dengan menyebut Taurat sebagai peringatan (2), titah (4), firman (9), dll., pemazmur mengajak umat Allah menghayati Taurat sebagai pemberian Allah agar umat hidup berbahagia (1-3). Taurat membahagiakan karena membukakan kekudusan Allah bagi mereka (9- 11). Taurat menjadi terang Ilahi yang membuat orang dapat menghadapi hal-hal gelap yang merusak kehidupan. Dengan hidup sesuai Taurat orang hidup dekat Allah. Merenungkan firman Tuhan dan menikmatinya sama dengan melihat karakter Allah (15). Karena Taurat Tuhan berisi kedahsyatan diri Allah sendiri maka umat perlu berdoa memohon kepada Tuhan agar mampu memahami dan mengalaminya.

Kita hidup di tengah-tengah dunia jahat yang menekan serta mengerikan (19, 22). Oleh karena itu, kita perlu dekat dengan Tuhan dan benar-benar menikmati kemerdekaan kekudusan Allah. Dengan demikian gaya hidup dosa dari dunia ini kehilangan daya tariknya. Kita memerlukan kuasa kebenaran Allah menopang kita. Sehingga serangan kejahatan tidak akan mampu menggoncang keteguhan kerohanian kita kepada Tuhan.

Ajakan: Mari kita belajar menghargai firman Tuhan sebagai anugerah yang membebaskan kita dari cara hidup yang tidak berkenan kepada-Nya.

Injil hari ini, Cita-cita Allah. 

Salah satu topik penting yang terus dibicarakan dan diperdebatkan di kalangan Kristen adalah perceraian. Dari dulu, gereja menggumuli bagaimana mengatasi persoalan ini. Namun, persoalan ini semakin pelik dan sulit dicarikan titik temunya karena masing-masing gereja memiliki persepsi sendiri. Bagaimana Kitab Suci memandang hal ini?

Dengan tujuan hendak menguji apakah Yesus sepandangan dengan Musa, orang Farisi bertanya tentang perceraian. Namun usaha pengujian ini menjadi sia-sia karena ternyata Yesus justru balik bertanya mengenai apa yang Musa perintahkan. Kemungkinan besar, Yesus sudah tahu maksud orang-orang Farisi yang ingin mengadunya dengan pandangan Musa. Tetapi, orang-orang Farisi itu tidak menjawab apa yang diperintahkan tetapi apa yang diperbolehkan Musa. Memang, menurut Ulangan 24:1, Musa memperbolehkan perceraian dengan syarat ada surat perceraian. Yesus tidak menyangkal hal itu, tetapi ketentuan itu diberikan bukan berdasarkan perintah Allah, yang diberikan sejak awal penciptaan, tetapi untuk memuaskan kedegilan hati orang-orang zaman itu.

Yesus menjelaskan dua hal penting tentang cita-cita Allah menciptakan laki-laki dan perempuan (lih. Kej 1:27 dan 2:24). Pertama, pernikahan adalah rencana Allah. Di dalamnya laki-laki dan perempuan hidup dalam suatu persekutuan yang tak terpisahkan, saling berbagi, saling mengisi, saling menerima kekurangan dan kelebihan masing-masing, dan harus berlangsung seumur hidup. Kedua, laki-laki harus meninggalkan ayah dan ibunya untuk menjadi “satu daging” dengan istrinya. Artinya, mereka berada dalam persekutuan hidup yang utuh dan permanen. Karena itu tidak mungkin dipisahkan, bahkan dengan alasan apa pun!

Renungkan: Pernikahan Anda dengan istri atau suami Anda adalah cita-cita Allah untuk Anda. Karena itu peliharalah perkawinan Anda sebagai bentuk syukur Anda kepada Allah. (Lucas Margono)

februari24

Renungan Kamis, 23 Februari 2017

 

Renungan Kamis, 23 Februari 2017, Pw. S. Polikarpus, UskMrt, Pekan Biasa VII

Bacaan I : Sir 5:1-8

“Jangan menunda-nunda berbalik kepada Tuhan.”

5:1 Jangan mengandalkan kekayaanmu, dan jangan berkata: “Ini cukup bagiku.” 5:2 Hati dan kekuatanmu jangan kauturut untuk berlaku sesuai dengan hawa nafsu hatimu. 5:3 Jangan berkata: “Siapa berkuasa atas diriku?” Memang Tuhan akan menghukum engkau dengan keras. 5:4 Jangan berkata: “Betul, aku sudah berdosa, tetapi apakah menimpa diriku? Sebab Tuhan panjang hati.” 5:5 Jangan menyangka pengampunan terjamin, sehingga engkau menimbun dosa demi dosa. 5:6 Jangan berkata: “Memang belas kasihan-Nya besar, dosaku yang banyak ini pasti diampuni-Nya.” Sebab baik belas kasihan rnaupun kemurkaan ada pada Tuhan, dan geram-Nya turun atas orang jahat. 5:7 Jangan menunda-nunda berbalik kepada Tuhan, jangan kautangguhkan dari hari ke hari. kemurkaan Tuhan, dan pada saat hukuman engkau dihancurkan. 5:8 Jangan percaya pada harta benda yang diperoleh dengan tidak adil, sebab tidak berguna sedikitpun pada hari sial.

Mazmur 1:1-2.3.4.6
Ref. Berbahagialah orang yang mengandalkan Tuhan.

*    Berbahagialah orang yang tidak berjalan menurut nasihat orang fasik, yang tidak berdiri di jalan orang berdosa, dan yang tidak duduk dalam kumpulan kaum pencemooh; tetapi yang kesukaannya ialah hukum Tuhan, dan siang malam merenungkannya.

*    Ia seperti pohon, yang ditanam di tepi aliran air, yang menghasilkan buah pada musimnya, dan tak pernah layu; apa saja yang diperbuatnya berhasil.

*    Bukan demikianlah orang-orang fasik: mereka seperti sekam yang ditiup angin. Sebab Tuhan mengenal jalan orang benar, tetapi jalan orang fasik menuju kebinasaan.

Bait Pengantar Injil
Ref. Alleluya
Ayat. Sambutlah sabda Tuhan, bukan sebagai perkataan manusia, melainkan sebagai sabda Allah.

Bacaan Injil : Markus 9:41-50

“Lebih baik bagimu dengan tangan terkudung masuk dalam kehidupan, daripada dengan keduabelah tangan masuk dalam api yang tak terpadamkan.”

9:41 Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya barangsiapa memberi kamu minum secangkir air oleh karena kamu adalah pengikut Kristus, ia tidak akan kehilangan upahnya.” 9:42 “Barangsiapa menyesatkan salah satu dari anak-anak kecil yang percaya ini, lebih baik baginya jika sebuah batu kilangan diikatkan pada lehernya lalu ia dibuang ke dalam laut. 9:43 Dan jika tanganmu menyesatkan engkau, penggallah, karena lebih baik engkau masuk ke dalam hidup dengan tangan kudung dari pada dengan utuh kedua tanganmu dibuang ke dalam neraka, ke dalam api yang tak terpadamkan; 9:44 (di tempat itu ulatnya tidak akan mati, dan apinya tidak akan padam.) 9:45 Dan jika kakimu menyesatkan engkau, penggallah, karena lebih baik engkau masuk ke dalam hidup dengan timpang, dari pada dengan utuh kedua kakimu dicampakkan ke dalam neraka; 9:46 (di tempat itu ulatnya tidak akan mati, dan apinya tidak akan padam.) 9:47 Dan jika matamu menyesatkan engkau, cungkillah, karena lebih baik engkau masuk ke dalam Kerajaan Allah dengan bermata satu dari pada dengan bermata dua dicampakkan ke dalam neraka, 9:48 di mana ulat-ulat bangkai tidak mati dan api tidak padam. 9:49 Karena setiap orang akan digarami dengan api. 9:50 Garam memang baik, tetapi jika garam menjadi hambar, dengan apakah kamu mengasinkannya? Hendaklah kamu selalu mempunyai garam dalam dirimu dan selalu hidup berdamai yang seorang dengan yang lain.”

Renungan :

“Baik belas kasihan maupun kemurkaan ada pada Tuhan, dan geram-Nya turun atas orang jahat. Jangan menunda-nunda berbalik kepada Tuhan, jangan kautangguhkan dari hari ke hari. Sebab tiba-tiba meletuslah kemurkaan Tuhan, dan pada saat hukuman engkau dihancurkan.Jangan percaya pada harta benda yang diperoleh dengan tidak adil, sebab tidak berguna sedikitpun pada hari sial” (Sir 5:6-8).

Dari kutipan ini kiranya yang baik kita renungkan atau refleksikan adalah “Jangan percaya pada harta benda yang diperoleh dengan tidak adil”. Aneka macam bentuk korupsi masih marak di negeri kita dalam berbagai tingkat atau bidang kehidupan bersama di masyarakat, sehingga ada kemungkinan sulit bagi kita untuk mengetahui mana harta yang diperoleh tidak adil. Namun kiranya kita dapat mengetahui, misalnya gaji para pejabat Negara maupun pegawai negeri dapat diketahui dalam peraturan gaji. Maka jika memperhatikan dan mencermati peraturan gaji kiranya cukup banyak harta benda yang dimiliki atau dinikmati para pejabat dan pegawai diperoleh dengan tidak adil alias dari korupsi. Jika para pejabat dan pegawai negeri melakukan korupsi, maka tidak mustahil rakyat ikut-ikutan. Baiklah kami mengajak kita semua untuk memberantas aneka bentuk korupsi, dan tentu saja kita sendiri harus dapat menjadi contoh sebagai orang yang tidak korupsi sedikitpun. Harta benda atau uang dapat menjadi ‘jalan ke sorga’ atau ‘jalan ke neraka’, dan kita semua dipanggil untuk memfungsikan harta benda atau uang sebagai ‘jalan ke sorga’ alias untuk berbuat baik kepada saudara-saudari kita. Harta benda atau uang pada dasarnya bersifat sosial, maka semakin memiliki banyak harta benda atau uang hendaknya juga semakin sosial.

Mazmur, Memilih kebahagiaan. 

Banyak orang mau melakukan apa saja asal hidupnya bahagia, puas dan tenteram. Maka, tidak heran anak-anak muda lari ke narkoba, seks bebas; orang-orang yang lebih tua menyibukkan diri dengan mencari harta dan kuasa; orang lain mencari agama-agama, kebatinan, apa pun yang dapat menenteramkan hati. Tetapi, mereka yang memilih hal-hal tadi akhirnya harus mengakui bahwa kenikmatan bertolak belakang dengan kebahagiaan. Jadi, adakah pilihan yang tepat?

Masmur 1 memberikan jawabannya. Secara negatif, kebahagiaan tidak didapat dari perbuatan fasik/berdosa (ayat 1). Maka, orang yang mau berbahagia harus menjauhi semua hal yang membawanya berdosa. Jikalau tidak, kehidupan berdosa akan membawa kegagalan hidup (ayat 4), dan akhirnya kebinasaan (ayat 6b). Sebaliknya, secara positif, kebahagiaan hanya didapatkan di dalam hidup sesuai dengan firman Tuhan (ayat 2). Orang yang hidup seturut firman- Nya akan diberkati dengan keberhasilan (ayat 3) dan Tuhan berkenan kepadanya (ayat 6a). Namun, lebih penting dari semuanya itu, orang demikian dijamin penuh oleh sang sumber hidup sendiri (ayat 3).

Hidup bahagia itu tumbuh melalui rangkaian pilihan dan keputusan yang membentuk kebiasaan seumur hidup. Hal menghindari dosa dalam segala bentuknya itu, juga hal mengasihi dan menyimpan firman dalam hati. Sudah hapir dua bulan dari tahun baru ini kita jejaki; apakah kita sedang membangun hidup melalui pilihan- pilihan dan kebiasaan-kebiasaan yang membuat kita hidup mesra serasi dengan Tuhan? Kita tidak perlu merasa bahwa perjuangan rohani itu berat, sebab Tuhan Yesus telah memasuki sejarah manusia, membuka jalan dan memberi teladan tentang hidup demikian.

Renungkan: Pilihan kebahagiaan adalah tanggung jawab kita sendiri. Allah menyediakan jalannya, tetapi Ia tidak memaksa kita untuk menjalani kehidupan ini menurut kehendak-Nya. Keputusan ada di tangan kita.

Injil hari ini, Melepas dan menerima. 

Kita bukan hanya hidup di dunia, tetapi dunia itu mengikat kita. Kadang dunia memiliki kita dan kita harus terus hidup di dunia. Namun demikian, bagaimana seharusnya hidup di dunia tanpa tercengkeram olehnya?

Para pengikut Yesus diperingatkan agar tidak menghentikan usaha mereka yang mengusir setan demi nama Yesus karena mereka juga adalah orang-orang percaya. Jika para murid “menyesatkan” mereka, yaitu, membuat mereka tidak lagi bersekutu dengan Yesus, maka para murid akan menerima ganjaran yang keras — suatu hukuman mati. Yesus meneruskan nasihat-Nya, masih berkenaan dengan bagaimana menaati kehendak Allah. Yesus berbicara tentang pengorbanan diri sampai semaksimal mungkin, dengan melepas apa yang seharusnya dilepas daripada hal-hal tertentu akan membuat orang kehilangan segala sesuatunya.

Di sini kita diingatkan lagi tentang tiga zona dalam kehidupan manusia, yang mencakup tangan, kaki, dan mata. Kehidupan orang percaya haruslah utuh untuk Tuhan, dan ia harus berusaha untuk sedapat mungkin meminimalkan kecemaran dengan melepaskan kemelekatan.

Ayat 49 memberikan kepada kita semacam peringatan akan pemurnian. Murid-murid akan menghadapi penganiayaan, dan mereka akan dimurnikan. Untuk itu, mereka perlu menyiapkan diri menghadapi masa-masa sulit. Ayat 50 berbicara bukan lagi tentang garam penyucian, tetapi tentang garam sehari-hari. Di sini para murid berfungsi sebagai garam dunia yang akan menyucikan dunia dengan tumpahnya darah mereka ke tanah. Misi yang mereka kerjakan adalah misi yang krusial, dan mereka harus bersatu padu untuk melaksanakan amanat agung Tuhan memberitakan Injil-Nya!

Renungkan: Melepaskan sesuatu yang kita sayangi dan nikmati memang tidak enak. Namun, kita akan menerima kehidupan yang sejati bila itu sesuai kehendak Allah.

DOA: Bapa surgawi, kami ingin menjadi umat-Mu yang setia dan taat kepada firman-MU. Berkatilah dan bimbinglah kami agar kami pun bisa melayani sesama kami dengan tulus ikhlas. Amin. (Lucas Margono)

februari23