Renungan Kamis 1 Juni 2017

Renungan Kamis 1 Juni 2017, Peringatan Wajib St. Yustimus Martir, Pekan VII Paskah.

Bacaan I : Kis 22:30,23:6-11

“Hendaknya engkau pergi bersaksi di Roma.”

22:30 Namun kepala pasukan itu ingin mengetahui dengan teliti apa yang dituduhkan orang-orang Yahudi kepada Paulus. Karena itu pada keesokan harinya ia menyuruh mengambil Paulus dari penjara dan memerintahkan, supaya imam-imam kepala dan seluruh Mahkamah Agama berkumpul. Lalu ia membawa Paulus dari markas dan menghadapkannya kepada mereka. 23:6 Dan karena ia tahu, bahwa sebagian dari mereka itu termasuk golongan orang Saduki dan sebagian termasuk golongan orang Farisi, ia berseru dalam Mahkamah Agama itu, katanya: “Hai saudara-saudaraku, aku adalah orang Farisi, keturunan orang Farisi; aku dihadapkan ke Mahkamah ini, karena aku mengharap akan kebangkitan orang mati.” 23:7 Ketika ia berkata demikian, timbullah perpecahan antara orang-orang Farisi dan orang-orang Saduki dan terbagi-bagilah orang banyak itu. 23:8 Sebab orang-orang Saduki mengatakan, bahwa tidak ada kebangkitan dan tidak ada malaikat atau roh, tetapi orang-orang Farisi mengakui kedua-duanya. 23:9 Maka terjadilah keributan besar. Beberapa ahli Taurat dari golongan Farisi tampil ke depan dan membantah dengan keras, katanya: “Kami sama sekali tidak menemukan sesuatu yang salah pada orang ini! Barangkali ada roh atau malaikat yang telah berbicara kepadanya.” 23:10 Maka terjadilah perpecahan besar, sehingga kepala pasukan takut, kalau-kalau mereka akan mengoyak-ngoyak Paulus. Karena itu ia memerintahkan pasukan untuk turun ke bawah dan mengambil Paulus dari tengah-tengah mereka dan membawanya ke markas. 23:11 Pada malam berikutnya Tuhan datang berdiri di sisinya dan berkata kepadanya: “Kuatkanlah hatimu, sebab sebagaimana engkau dengan berani telah bersaksi tentang Aku di Yerusalem, demikian jugalah hendaknya engkau pergi bersaksi di Roma.”

Mazmur 16:1-2.5.7-8.9-10.11; R: 5a, do = g, 2/4, PS 840
Ref. Bahagia kuterikat pada Yahwe. Harapanku pada Allah Tuhanku.

*    Jagalah aku ya Allah, sebab pada-Mu aku berlindung. Aku berkata kepada Tuhan, “Engkaulah Tuhanku, Engkau bagian warisan dan pialaku, Engkau sendirilah yang meneguhkan bagian yang diundikan kepadaku.”

*    Aku memuji Tuhan yang telah memberikan nasihat kepadaku, pada waktu malam aku diajar oleh hati nuraniku. Aku senantiasa memandang kepada Tuhan karena Ia berdiri di sebelah kananku, aku tidak goyah.

*    Sebab itu hatiku bersukacita dan jiwaku bersorak-sorai, dan tubuhku akan diam dengan tentram; sebab Engkau tidak menyerahkan aku ke dunia orang mati dan tidak membiarkan orang kudus-Mu melihat kebinasaan.

*    Engkau memberitahukan kepadaku, ya Allah, jalan kehidupan; di hadapan-Mu ada sukacita berlimpah, di tangan kanan-Mu ada nikmat yang abadi.

Bait Pengantar Injil
Ref. Alleluya, alleluya, alleluya.
Ayat. (Yoh 17:23)
Semoga mereka semua menjadi satu, sama seperti Engkau, ya Bapa, ada di dalam Aku dan Aku di dalam Engkau, supaya dunia percaya bahwa Engkaulah yang telah mengutus Aku.

Bacaan Injil : Yohanes 17:20-26  

“Supaya mereka sempurna menjadi satu.” 

17:20 Dan bukan untuk mereka ini saja Aku berdoa, tetapi juga untuk orang-orang, yang percaya kepada-Ku oleh pemberitaan mereka; 17:21 supaya mereka semua menjadi satu, sama seperti Engkau, ya Bapa, di dalam Aku dan Aku di dalam Engkau, agar mereka juga di dalam Kita, supaya dunia percaya, bahwa Engkaulah yang telah mengutus Aku. 17:22 Dan Aku telah memberikan kepada mereka kemuliaan, yang Engkau berikan kepada-Ku, supaya mereka menjadi satu, sama seperti Kita adalah satu: 17:23 Aku di dalam mereka dan Engkau di dalam Aku supaya mereka sempurna menjadi satu, agar dunia tahu, bahwa Engkau yang telah mengutus Aku dan bahwa Engkau mengasihi mereka, sama seperti Engkau mengasihi Aku. 17:24 Ya Bapa, Aku mau supaya, di manapun Aku berada, mereka juga berada bersama-sama dengan Aku, mereka yang telah Engkau berikan kepada-Ku, agar mereka memandang kemuliaan-Ku yang telah Engkau berikan kepada-Ku, sebab Engkau telah mengasihi Aku sebelum dunia dijadikan. 17:25 Ya Bapa yang adil, memang dunia tidak mengenal Engkau, tetapi Aku mengenal Engkau, dan mereka ini tahu, bahwa Engkaulah yang telah mengutus Aku; 17:26 dan Aku telah memberitahukan nama-Mu kepada mereka dan Aku akan memberitahukannya, supaya kasih yang Engkau berikan kepada-Ku ada di dalam mereka dan Aku di dalam mereka.”

Renungan :

Kebangkitan Kristus membuat orang Kristen berbeda.

Paulus yang telah melalui saat-saat yang sulit dan genting, mengalami kemerosotan fisik dan psikis. Karena itulah ia sempat kehilangan kontrol emosi setelah mendapat tamparan pada mulutnya, sehingga ia membalas tamparan itu dengan kutukan. Pernyataan Paulus (1) adalah hujatan kepada Allah, karena menurut Yudaisme, jika seorang yang mengaku Yahudi namun mengikuti ajaran Yesus, ia adalah seorang pendosa besar di hadapan Allah.

Hanya sesaat Paulus kehilangan kontrol. Begitu menyadari bahwa ia berhadapan dengan Imam Besar, ia pun mengakui kesalahannya. Tindakan ini mempunyai dua implikasi sebab-akibat yang dalam. Pertama, Paulus masih mentaati tradisi Yahudi yang begitu menghormati seorang pemimpin bangsanya. Kedua, ini merupakan penegasan tidak langsung dari Paulus bahwa persengketaan yang terjadi antara dia dan orang-orang Yahudi bukanlah permasalahan tradisi, kebudayaan, ataupun etnis. Ada persoalan yang lebih hakiki. Karena itulah, tanpa membuang waktu, Paulus segera mengungkapkan alasan utama penangkapan dirinya. Paulus hanya melihat bahwa hadirnya 2 partai besar (Farisi dan Saduki) ditambah dengan wakil pemerintah Romawi dalam satu sidang merupakan kesempatan berharga bagi Paulus untuk menyatakan kebenaran fundamental Kekristenan yaitu kebangkitan Kristus yang menjadi dasar bagi kebangkitan orang mati. Sebab Saduki mempunyai pengaruh yang cukup dominan di dalam Mahkamah Agama. Sedangkan Farisi mempunyai suara yang lebih dominan di masyarakat.

Bahkan bagi Paulus kebangkitan Kristus bukan sekadar kebenaran yang ia yakini namun kebenaran yang ia alami sebab kuasa kebangkitan Kristus senantiasa hadir dan menguatkannya. Setelah diselamatkan untuk yang kedua kalinya oleh tentara Romawi, adalah wajar jika dia cemas dan bertanya-tanya tentang masa depannya. Harapan untuk meninggalkan Yerusalem hidup-hidup apalagi kesempatan untuk pergi ke Roma sangat kecil.

Renungkan: Orang Kristen berbeda dengan orang lain bukan karena perbedaan etnis, ras, ataupun latar belakang budaya. Orang Kristen beda karena Yesus dan kuasa kebangkitan-Nya yang senantiasa hadir di dalam kita, apa yang perlu kita takutkan?

Mazmur, Iman dan kesehatan manusia.

Berbicara tentang iman seringkali membawa kita kepada konsep-konsep yang abstrak, seakan tak ada hubungannya dengan realita kehidupan sehari-hari. Mazmur 16 mengajarkan kepada kita realita iman, manifestasi iman, dan peran iman bagi kebahagiaan manusia.

Doa pemazmur (ayat 1) mengungkapkan imannya terhadap Allah. Imannya senantiasa menyadarkannya akan realita kehidupan yang sering tidak bersahabat. Iman yang ia miliki juga terungkap di dalam kepuasannya terhadap Allah (ayat 2, 5). Apa pun yang ia alami, ia tetap yakin bahwa Allah yang terbaik dan akan selalu menjadi yang terbaik. Pemazmur mengungkapkan bahwa orang yang beriman kepada Allah adalah orang yang selalu rindu untuk bersekutu dengan saudara lainnya yang seiman, dan berbuat kebaikan kepada mereka (ayat 3). Perbedaan antara orang beriman dan yang tidak, dapat diidentifikasikan dengan melihat perbuatan dan perkataan mereka (ayat 4).

Di samping membuat orang puas dengan Allah, iman juga membuat orang puas dengan kehidupannya (ayat 6). Ini tidak berarti bahwa iman membuat orang menjadi cepat puas sehingga tidak ada niat dan kerja keras untuk terus memperbaiki taraf hidupnya. Namun kepuasan ini yang memampukan orang beriman untuk mensyukuri setiap yang dimiliki dan tidak iri hati terhadap apa yang dimiliki orang lain. Iman juga akan menjauhkan orang Kristen dari rasa kuatir dan gentar menghadapi masa depan, sebab masa depan terletak dalam genggaman tangan Tuhan dan Ia senantiasa menyertainya (ayat 8, 11). Dengan demikian dapat dikatakan bahwa iman berhubungan erat dengan kesehatan jiwa dan fisik seseorang (ayat 9).

Renungkan: Seorang yang merasa puas, hatinya akan bersukacita dan tentram. Jika Anda mengalami stress, depresi, tekanan darah tinggi, sakit maag, jantung, dll., evaluasilah kehidupan iman Anda.

Injil hari ini, Kesatuan orang beriman

Ada orang yang mendefinisikan bahwa agama adalah sesuatu yang dilakukan seseorang di dalam kesendiriannya. Ini mungkin tepat untuk beberapa agama tertentu. Namun tidak demikian dengan kekristenan. Kita, yang menjadi pengikut Kristus, harus mengingat bahwa Kristus satu dengan Bapa dan di dalam kesatuan itu Ia mengharapkan pengikut-Nya menjadi satu dengan Dia. Ia juga mengharapkan terjadinya kesatuan di antara murid-murid-Nya.

Beberapa kali dalam doa-Nya, Yesus mendoakan “supaya mereka menjadi satu”. Jelas bahwa Yesus sangat memperhatikan apa yang akan murid-murid-Nya lakukan di waktu kemudian. Ia menginginkan agar mereka bersatu. Kesatuan yang dimaksud bukanlah keseragaman atau bahwa semua orang Kristen harus berpikir dan melakukan hal yang sama. Kesatuan justru terlihat dengan baik di dalam keragaman. Orang memang senang berkumpul dengan orang yang sama dengan mereka, tetapi Tuhan memanggil kita bukan supaya kita merasa nyaman di tengah orang lain melainkan untuk menyesuaikan diri dengan gambaran Anak-Nya. Betapa indahnya kesaksian gereja yang memiliki anggota yang terdiri dari berbagai suku, budaya, dan strata sosial.

Kesatuan Kristen bukan hanya untuk dipraktikkan di gereja sendiri atau di kota yang kita tinggali. Kesatuan seperti yang Tuhan bicarakan adalah kesatuan global, mencakup luasnya dunia. Bila kita mendengar adanya orang Kristen yang terkena bencana, janganlah tinggal diam. Sebagai anggota tubuh Kristus, kita adalah satu dengan orang yang terkena bencana itu. Maka seharusnyalah kita, bersama dengan orang Kristen lainnya, memberikan bantuan sebagai sebuah pelayanan kepada saudara seiman yang tinggal di sana. Kita harus bersukacita dengan mereka yang bersukacita, menangis dengan mereka yang menangis, dan melayani mereka yang membutuhkan, entah mereka adalah anggota gereja kita atau orang yang tidak kita kenal. Mari kita mempraktikkan kesatuan orang percaya bagi pujian dan kemuliaan-Nya.

Renungkan : Sungguh indah doa yang diajarkan Yesus bagi kita. Ia menginginkan agar kita bersatu seperti Yesus dan Bapa adalah satu. Dari kesatuan ini mengalirlah rahmat cinta kasih-Nya yang berlimpah dalam hidup kita.

DOA: Roh Kudus Allah, pada hari-hari menjelang Pentakosta ini penuhilah diri kami  masing-masing dengan suatu pengalaman akan kasih Allah sendiri. Bebaskanlah kami dari rasa takut dan sikap serta perilaku yang mementingkan diri sendiri dan gantikanlah semua itu dengan kasih akan Tritunggal Mahakudus (Trinitas), sehingga kami dapat menjadi satu dengan Allah dan satu dengan semua saudari-saudara. Bangkitkanlah kami sebagai saksi-saksi Kristus di tengah dunia ini yang dengan berani mengundang setiap orang yang kami temui untuk menemukan kasih Allah yang mengubah kehidupan melalui Putera-Nya, Yesus Kristus, Tuhan dan Juruselamat kami. Amin. (Lucas Margono)
Juni 1701

Iklan

Renungan Rabu 31 Mei 2017

Renungan Rabu 31 Mei 2017, Pesta SP aria Mengunjungi Elisabet

Bacaan I : Zef 3:14-18a

“Tuhan, Raja Israel, ada di tengah-tengahmu.”

3:14 Bersorak-sorailah, hai puteri Sion, bertempik-soraklah, hai Israel! Bersukacitalah dan beria-rialah dengan segenap hati, hai puteri Yerusalem! 3:15 TUHAN telah menyingkirkan hukuman yang jatuh atasmu, telah menebas binasa musuhmu. Raja Israel, yakni TUHAN, ada di antaramu; engkau tidak akan takut kepada malapetaka lagi. 3:16 Pada hari itu akan dikatakan kepada Yerusalem: “Janganlah takut, hai Sion! Janganlah tanganmu menjadi lemah lesu. 3:17 TUHAN Allahmu ada di antaramu sebagai pahlawan yang memberi kemenangan. Ia bergirang karena engkau dengan sukacita, Ia membaharui engkau dalam kasih-Nya, Ia bersorak-sorak karena engkau dengan sorak-sorai, 3:18   seperti pada hari pertemuan raya.” “Aku akan mengangkat malapetaka dari padamu, sehingga oleh karenanya engkau tidak lagi menanggung cela.

Atau

Bacaan I : Roma 12:9-16b

“Bantulah orang yang kudus dalam kekurangannya, dan berusahalah selalu memberi tumpangan.”

12:9 Hendaklah kasih itu jangan pura-pura! Jauhilah yang jahat dan lakukanlah yang baik. 12:10 Hendaklah kamu saling mengasihi sebagai saudara dan saling mendahului dalam memberi hormat. 12:11 Janganlah hendaknya kerajinanmu kendor, biarlah rohmu menyala-nyala dan layanilah Tuhan. 12:12 Bersukacitalah dalam pengharapan, sabarlah dalam kesesakan, dan bertekunlah dalam doa! 12:13 Bantulah dalam kekurangan orang-orang kudus dan usahakanlah dirimu untuk selalu memberikan tumpangan! 12:14  Berkatilah siapa yang menganiaya kamu, berkatilah dan jangan mengutuk! 2:15 Bersukacitalah dengan orang yang bersukacita, dan menangislah dengan orang yang menangis! 12:16 Hendaklah kamu sehati sepikir dalam hidupmu bersama; janganlah kamu memikirkan perkara-perkara yang tinggi, tetapi arahkanlah dirimu kepada perkara-perkara yang sederhana. Janganlah menganggap dirimu pandai!

Mazmur, Yes 12:2-3.4bcd.5-6; R: 6b, do = c, 4/4, PS 864
Ref. Tuhan, Dikaulah sumber air hidup.

*    Sungguh, Allah itu keselamatanku; aku percaya dengan tidak gemetar; sebab Tuhan Allah itu kekuatan dan mazmurku, Ia telah menjadi keselamatanku. Maka kamu akan menimba air dengan kegirangan dari mata air keselamatan.

*    Pada waktu itu kamu akan berkata, “Bersyukurlah kepada Tuhan, panggillah nama-Nya, beritahukanlah karya-Nya di antara bangsa-bangsa, masyhurkanlah bahwa nama-Nya tinggi luhur!”

*    Bermazmurlah bagi Tuhan, sebab mulialah karya-Nya; baiklah hal ini diketahui di seluruh bumi! Berserulah dan bersorak-sorailah, hai penduduk Sion, sebab Yang Mahakudus, Allah Israel, agung di tengah-tengahmu!

Bait Pengantar Injil, do = d, 2/4, PS 961
Ref. Alleluya, alleluya, alleluya
Ayat. Berbahagialah dia yang telah percaya, sebab firman Tuhan yang dikatakan kepadanya akan terlaksana.

Bacaan Injil : Lukas 1:39-56

“Siapakah aku ini sampai ibu Tuhanku datang mengunjungi aku?”

1:39 Beberapa waktu kemudian berangkatlah Maria dan langsung berjalan ke pegunungan menuju sebuah kota di Yehuda. 1:40 Di situ ia masuk ke rumah Zakharia dan memberi salam kepada Elisabet. 1:41 Dan ketika Elisabet mendengar salam Maria, melonjaklah anak yang di dalam rahimnya dan Elisabetpun penuh dengan Roh Kudus, 1:42 lalu berseru dengan suara nyaring: “Diberkatilah engkau di antara semua perempuan dan diberkatilah buah rahimmu. 1:43 Siapakah aku ini sampai ibu Tuhanku datang mengunjungi aku? 1:44 Sebab sesungguhnya, ketika salammu sampai kepada telingaku, anak yang di dalam rahimku melonjak kegirangan. 1:45 Dan berbahagialah ia, yang telah percaya, sebab apa yang dikatakan kepadanya dari Tuhan, akan terlaksana.” 1:46 Lalu kata Maria: “Jiwaku memuliakan Tuhan, 1:47 dan hatiku bergembira karena Allah, Juruselamatku, 1:48 sebab Ia telah memperhatikan kerendahan hamba-Nya. Sesungguhnya, mulai dari sekarang segala keturunan akan menyebut aku berbahagia, 1:49 karena Yang Mahakuasa telah melakukan perbuatan-perbuatan besar kepadaku dan nama-Nya adalah kudus. 1:50 Dan rahmat-Nya turun-temurun atas orang yang takut akan Dia. 1:51 Ia memperlihatkan kuasa-Nya dengan perbuatan tangan-Nya dan mencerai-beraikan orang-orang yang congkak hatinya; 1:52 Ia menurunkan orang-orang yang berkuasa dari takhtanya dan meninggikan orang-orang yang rendah; 1:53 Ia melimpahkan segala yang baik kepada orang yang lapar, dan menyuruh orang yang kaya pergi dengan tangan hampa; 1:54 Ia menolong Israel, hamba-Nya, karena Ia mengingat rahmat-Nya, 1:55 seperti yang dijanjikan-Nya kepada nenek moyang kita, kepada Abraham dan keturunannya untuk selama-lamanya.” 1:56 Dan Maria tinggal kira-kira tiga bulan lamanya bersama dengan Elisabet, lalu pulang kembali ke rumahnya.

Renungan :

Zefanya

Pujian sukacita

Dalam Bacaan Pertama berlatar belakang sabda Tuhan datang kepada Nabi Zefanya pada masa pemerintahan Raja Yosia (609-504 SM), yaitu pada masa “gelap” setelah penyerbuan Bangsa Asyur tahun 701 SM di bahwah pimpinan Sannakherib. Masa gelap ini ditandai dengan kemerosotan dalam segala bidang kehidupan. Dalam suasana serba hitam itulah Nabi Zefanya menyerukan penyesalan dan pertobatan dari dosa. Ia mewartakan 3 hal : 1. “hari Tuhan” yang menakutkan akan datang bahwa Yehuda dan Yerusalem akan dihukum (1:2-18), 2. bangsa Israel harus berani melawan bangsa-bangsa yang membawa kekafiran, yaitu bangsa Filistin, Moab, Ammon, Etiopia dan Asyur (2:1-15), 3. Tuhan menjanjikan keselamatan kekal di masa mendatang (3:1-20). Nabi Zefanya secara tidak langsung mencoba mempersiapkan pembaharuan rohani oleh Raja yosia yang saleh.

Bacaan Pertama berisikan pujian kegembiraan terhadap Tuhan yang meraja (3:14-15) dan hiburan bagi Yerusalem di masa mendatang (3:16-18a). Suasana sukacita bahwa keselamatan Tuhan sudah terasa kini, karena Tuhan sendiri telah menyingkirkan rasa takut dan gelisah kota Yerusalem. Tuhan yang hidup – yang memperhatikan manusia – tidak bisa digambarkan lain daripada pengalaman kegembiraan manusia. Kegembiraan suasana ilahi memang berbeda dengan kegembiraan duniawi. Manusia bergembira, tetapi ada batasnya; sedangkan kegembiraan Tuhan adalah abadi.

Roma.

Kasih: tulus, aktif timbal balik.

Kasih tak boleh pura-pura, sebab bila demikian kita menipu diri sendiri, mendustai orang yang kita kasihi. Hal itu ditolak Tuhan, sebab mengasihi sesama adalah perintah Tuhan yang harus ditaati. Di dalam Tubuh Kristus, kasih harus aktif timbal balik. Kasih yang sudah kita terima dari Tuhan, dan yang menjadi teladan bagi kita mempersatukan kita dalam suatu persekutuan kasih yaitu Gereja-Nya. Sikap Kristen, baik dalam kalangan sendiri, dan terlebih lagi keluar adalah aktif pro kasih.

Bantulah orang-orang kudus. Membantu para hamba Tuhan dalam kebutuhan hidup mereka, terutama yang sedang kekurangan berarti turut serta menunjang pekerjaan Tuhan. Sikap dan tindakan kasih itu pasti sangat diperhatikan oleh Tuhan sebab mengandung nilai sebagai persembahan kepada Tuhan sendiri (Mat 25:40).

Balaslah kejahatan dengan kebaikan. Lakukan kebaikan, utamakan hidup damai dan berilah tempat kepada murka Allah. Dengan hati lembut, kita bawa permasalahan dalam doa kepada Tuhan. Biar Tuhan yang akan mengadili dengan kebijaksanaan-Nya yang dalam itu. Bila musuh yang lapar kita beri makan, dan yang haus kita beri minum, mereka akan takjub diperhadapkan dengan sifat-sifat Allah sendiri.

Mazmur, Kesabaran Allah.

Orang-tua yang baik bukan yang tidak pernah marah kepada anak-anaknya yang nakal, bukan juga yang hanya memarahi anaknya yang nakal, sehingga menimbulkan luka yang membekas, dan tidak tersembuhkan. Orang-tua yang baik mampu memberi penghiburan, supaya luka-luka yang timbul dapat sembuh. Allah, sebagai orang tua yang sejati, juga marah bila kita melakukan hal-hal yang tidak berkenan kepada-Nya. Namun bila kita menyesal dan bertobat, Dia tidak hanya mengampuni, tetapi juga menghibur kita. Allah sabar dan sumber penghiburan (Rm 15:5). Tidak ada dosa sebesar apa pun yang tidak diampuni-Nya, bila kita sungguh menyesal dan mohon ampun (ayat 1-18).

Bersyukur kepada Allah. Ungkapan syukur kepada Allah tidak hanya diucapkan dalam doa, tetapi patut disaksikan kepada semua orang. Berita sukacita yang kita terima karena anugerah-Nya itu tidak mungkin kita simpan dalam hati dan dinikmati sendiri. Itu akan menjadi luapan syukur tak terbendung. Apakah Saudara benar-benar mengalami kesabaran dan penghiburan Allah tersebut?

Renungkan: Datanglah kepada-Nya, akui semua dosa dan nikmatilah kuasa pengampunan-Nya, agar dapat bersaksi dengan sukacita! Bagi orang percaya, Hari Tuhan adalah pembebasan yang dinanti-nantikan.

Injil hari ini, Perspektif dua perempuan pilihan Allah.

Dua atau lebih perempuan berkumpul, gosip, atau kabar burung pasti menjadi topik hangat dalam kumpulan itu. Demikian penilaian sinis sebagian orang. Seharusnya penilaian ini tidak tercetus ketika perempuan-perempuan Kristen berkumpul. Justru mereka harus menepis anggapan tersebut dengan menunjukkan bahwa di mana mereka berkumpul, kemuliaan Allah terpancar dalam percakapan mereka.

Maria mengunjungi Elisabet kemungkinan untuk dua hal: (ayat 1). Maria ingin mengungkapkan kebahagiaan dan rasa kasihnya karena sepupunya Elisabet juga mengalami kasih karunia Allah, mengandung anak yang Allah persiapkan untuk mempersiapkan jalan bagi Mesias; (ayat 2). Untuk berbagi pergumulan, karena anugerah Allah atas dirinya. Dua perempuan itu bukan bertemu untuk memperbincangkan hal-hal negatif. Mereka berbagi sukacita dan pergumulan. Seharusnyalah perempuan-perempuan Kristen masa kini, belajar tentang perspektif dari Elisabet dan Maria, dua perempuan pilihan Allah.

Elisabet dan Maria adalah dua perempuan Allah yang bersyukur karena dipilih dan dipercayakan Allah untuk mengandung utusan-utusan Allah: Yohanes sebagai yang mempersiapkan jalan bagi Mesias, dan Yesus adalah Mesias yang akan menyelamatkan seluruh umat manusia. Tidak ada perasaan saling iri, dengki di antara mereka, justru mereka berbahagia karena menerima anugerah yang luar biasa yaitu dipakai Allah untuk melaksanakan rencana-Nya.

Hal menarik yang kita dipelajari dari Maria adalah bahwa kemuliaan yang ia peroleh adalah bentuk perhatian Allah kepada kaum yang lemah dan miskin. Bahkan perhatian-Nya juga meluas kepada seluruh umat Israel yang selama ini hidup dalam penindasan. Dari Maria kita belajar meluaskan wawasan, dan melihat berkat Tuhan bukan hanya untuk diri sendiri.

Maria dan Elisabet adalah contoh manusia yang menaruh sukacitanya dalam Allah. Maria bersukacita pertama-tama bukan karena pengalaman indah dalam hidupnya, tapi terutama karena Allah berkenan menjadi Juruselamatnya.

Renungkan: Apakah sikap yang tepat terhadap orang yang diberkati Tuhan dan juga terhadap diri sendiri yang juga diberkati?

DOA: Tuhan Yesus, Engkau datang mengangkat orang yang rendah dan lemah. Angkatlah juga diriku oleh rahmat-Mu. Biarlah aku mengetahui tujuan hidup yang Engkau rencanakan bagiku. Terpujilah nama-Mu selalu, ya Tuhan Yesus. Amin. (Lucas Margono)

Mei 1731

Renungan Selasa 30 Mei 2017

Renungan Selasa 30 Mei 2017, Hari Biasa Pelan VII Paskah

Bacaan I : Kis 20:17-27                               

“Aku dapat mencapai garis akhir, dan menyelesaikan pelayanan yang ditugaskan oleh Tuhan Yesus.”

20:17 Karena itu ia menyuruh seorang dari Miletus ke Efesus dengan pesan supaya para penatua jemaat datang ke Miletus. 20:18 Sesudah mereka datang, berkatalah ia kepada mereka: “Kamu tahu, bagaimana aku hidup di antara kamu sejak hari pertama aku tiba di Asia ini: 20:19 dengan segala rendah hati aku melayani Tuhan. Dalam pelayanan itu aku banyak mencucurkan air mata dan banyak mengalami pencobaan dari pihak orang Yahudi yang mau membunuh aku. 20:20 Sungguhpun demikian aku tidak pernah melalaikan apa yang berguna bagi kamu. Semua kuberitakan dan kuajarkan kepada kamu, baik di muka umum maupun dalam perkumpulan-perkumpulan di rumah kamu; 20:21 aku senantiasa bersaksi kepada orang-orang Yahudi dan orang-orang Yunani, supaya mereka bertobat kepada Allah dan percaya kepada Tuhan kita, Yesus Kristus. 20:22 Tetapi sekarang sebagai tawanan Roh aku pergi ke Yerusalem dan aku tidak tahu apa yang akan terjadi atas diriku di situ 20:23 selain dari pada yang dinyatakan Roh Kudus dari kota ke kota kepadaku, bahwa penjara dan sengsara menunggu aku. 20:24 Tetapi aku tidak menghiraukan nyawaku sedikitpun, asal saja aku dapat mencapai garis akhir dan menyelesaikan pelayanan yang ditugaskan oleh Tuhan Yesus kepadaku untuk memberi kesaksian tentang Injil kasih karunia Allah. 20:25 Dan sekarang aku tahu, bahwa kamu tidak akan melihat mukaku lagi, kamu sekalian yang telah kukunjungi untuk memberitakan Kerajaan Allah. 20:26 Sebab itu pada hari ini aku bersaksi kepadamu, bahwa aku bersih, tidak bersalah terhadap siapapun yang akan binasa. 20:27 Sebab aku tidak lalai memberitakan seluruh maksud Allah kepadamu.

Mazmur 68:10-11.20-21
Ref. Hai kerajaan-kerajaan bumi, menyanyilah bagi Allah!

*    Hujan yang melimpah Engkau siramkan, ya Allah; tanah milik-Mu yang gersang kaupulihkan, sehingga kawanan hewan-Mu menetap di sana; dalam kebaikan-Mu Engkau memenuhi kebutuhan orang yang tertindas.

*    Terpujilah Tuhan! Hari demi hari Ia menanggung beban kita; Allah adalah keselamatan kita. Allah kita adalah Allah yang menyelamatkan, Allah, Tuhanku, memberi keluputan dari maut.

Bait Pengantar Injil

Ref. Alleluya, alleluya.

Ayat. Aku akan minta kepada Bapa, dan Ia akan memberikan kepadamu seorang penolong yang lain, supaya Ia menyertai kamu selama-lamanya.
  
Bacaan Injil : Yohanes 17:1-11a

“Bapa, permuliakanlah Anak-Mu.

17:1 Demikianlah kata Yesus. Lalu Ia menengadah ke langit dan berkata: “Bapa, telah tiba saatnya; permuliakanlah Anak-Mu, supaya Anak-Mu mempermuliakan Engkau. 17:2 Sama seperti Engkau telah memberikan kepada-Nya kuasa atas segala yang hidup, demikian pula Ia akan memberikan hidup yang kekal kepada semua yang telah Engkau berikan kepada-Nya. 17:3 Inilah hidup yang kekal itu, yaitu bahwa mereka mengenal Engkau, satu-satunya Allah yang benar, dan mengenal Yesus Kristus yang telah Engkau utus. 17:4 Aku telah mempermuliakan Engkau di bumi dengan jalan menyelesaikan pekerjaan yang Engkau berikan kepada-Ku untuk melakukannya. 17:5 Oleh sebab itu, ya Bapa, permuliakanlah Aku pada-Mu sendiri dengan kemuliaan yang Kumiliki di hadirat-Mu sebelum dunia ada. 17:6 Aku telah menyatakan nama-Mu kepada semua orang, yang Engkau berikan kepada-Ku dari dunia. Mereka itu milik-Mu dan Engkau telah memberikan mereka kepada-Ku dan mereka telah menuruti firman-Mu. 17:7 Sekarang mereka tahu, bahwa semua yang Engkau berikan kepada-Ku itu berasal dari pada-Mu. 17:8 Sebab segala firman yang Engkau sampaikan kepada-Ku telah Kusampaikan kepada mereka dan mereka telah menerimanya. Mereka tahu benar-benar, bahwa Aku datang dari pada-Mu, dan mereka percaya, bahwa Engkaulah yang telah mengutus Aku. 17:9 Aku berdoa untuk mereka. Bukan untuk dunia Aku berdoa, tetapi untuk mereka, yang telah Engkau berikan kepada-Ku, sebab mereka adalah milik-Mu 17:10 dan segala milik-Ku adalah milik-Mu dan milik-Mu adalah milik-Ku, dan Aku telah dipermuliakan di dalam mereka. 17:11 Dan Aku tidak ada lagi di dalam dunia, tetapi mereka masih ada di dalam dunia, dan Aku datang kepada-Mu. Ya Bapa yang kudus, peliharalah mereka dalam nama-Mu, yaitu nama-Mu yang telah Engkau berikan kepada-Ku, supaya mereka menjadi satu sama seperti Kita.

Renungan :

Paulus yang profesional.

Para top eksekutif perusahaan besar berhasil mencapai segudang prestasi di dalam bidangnya karena mereka menjalankan tugas dan tanggung jawab dengan profesionalisme yang tinggi. Bagaimanakah seorang dikatakan profesional? Pertama, ia mempunyai wawasan, pengetahuan, dan pemahaman yang mendalam dan luas dalam bidang yang ditekuni. Kedua, ia dapat menterjemahkan pengetahuan yang dimiliki ke dalam ketrampilan yang berguna untuk berkarya. Ketiga, ia mempunyai integritas yang tinggi yang diakui oleh kolega (teman sejawat) dan masyarakat dimana ia berkarya.

Bila dibandingkan dengan para top eksekutif, Paulus tidak kalah. Sebagai pelayan Tuhan, ia mempunyai profesionalisme yang tinggi sesuai standar masa kini. Ceramah Paulus di depan para penatua Efesus secara tidak langsung mengungkapkan bahwa Paulus adalah seorang profesional sejati. Ia mempunyai integritas yang tinggi, dibuktikan dengan hidupnya yang transparan di hadapan jemaatnya (18b). Integritas ini meliputi setia terhadap tujuan hidupnya yaitu melayani Tuhan, tetap setia dan taat mengemban misi dan tanggung jawabnya walaupun situasi dan kondisi tidak mendukung (19 , 23-24), tuntas dalam menjalankan tugasnya (26), kesungguhannya, bersih dan jujur dalam soal keuangan. Siapa yang meragukan bahwa Paulus mempunyai pengetahuan dan pemahaman yang mendalam tentang Injil dan doktrin-doktrin Kristen.

Tidak hanya itu, ia juga mempunyai wawasan yang luas sehingga ia tahu apa yang akan dihadapi oleh jemaat Efesus dan ia pun tahu Siapa yang dapat mendukung dan menopang mereka. Di dalam setiap pelayanan yang ia lakukan, Paulus tidak pernah menggunakan hanya satu metode pendekatan dan pengajaran. Ia memberitakan dan mengajar baik dalam kelompok besar maupun kelompok kecil (20), bersaksi (21), menasehati, memperingati, membimbing, dan memimpin kepada sumber kasih karunia yaitu Allah. Tiga Faktor inilah yang selalu mewarnai setiap gerak dan langkah pelayanannya. Karena itulah Paulus pun mempunyai ‘segudang prestasi’.

Renungkan: Bagaimana jika setiap pelayan Tuhan baik mereka yang melayani penuh waktu maupun yang melayani sebagai majelis, aktivis gereja dan kampus, tidak memilih tiga faktor ini?

Mazmur, Lebih dari Marching Band Istana.

Mazmur ini agak panjang. Sungguh berbahagia orang yang membaca seluruh ayatnya. Anda bagaimana? Ini merupakan Mazmur Perarakan. Di dalamnya dijelaskan mengenai kemenangan Allah Penakluk. Para biduan yang cakap menyanyikannya menuju ke kemah Kudus. Nyanyian ini tak tertandingi oleh lagu apa saja dalam hal keagungannya, semangat, ataupun kemenangan pujiannya. Lebih dari marching band istana! Mazmur ini melukiskan kemenangan Allah, yang diarak dengan penuh keunggulan dari Mesir ke Kanaan, lalu ke Bait-Nya di Gunung Sion. Anda ikut? Anda dapat mengikuti dengan penuh sukacita kemenangan demi kemenangan ilahi dalam hidup Anda.

Lebih dari Siapa saja. Pelayanan Kristus dapat kita lihat dalam ayat (Ef 4:7-16). Secara terus menerus Daud menyebut nama Allah dan mengungkapkan keunggulan dan kuasa-Nya. Dari Mazmur ini ditemukan bahwa Allah itu ternyata Bapa Yang Maha Kasih, Pemimpin yang berwibawa, Penolong yang berbelas kasihan, Sahabat Sejati dan Penebus yang menyelamatkan. Bukankah itu semua digenapkan dalam Tuhan Yesus Kristus, Allah seratus persen dan manusia seratus persen.

Renungkan: Allah telah menjadi segala-galanya bagi kita dalam Kristus. Janganlah perlakukan semena-mena!

Injil hari ini, Sumber hidup kekal

Setelah meyakinkan para murid tentang jati diri-Nya,hubungan-Nya dengan Bapa, dan misi-Nya, Yesus kini sebagai imam merangkumkan semua itu dalam doa. Syafaat bagi para murid-Nya ini bertujuan mempertegas hubungan-Nya yang tiada tara dengan Bapa dan mempersiapkan mereka untuk menghadapi fakta salib serta meneruskan misi Yesus yang dibebankan-Nya di pundak mereka. Inti syafaat Yesus adalah agar para murid dan semua pengikut Yesus dijaga dan dipelihara oleh Bapa dari dunia yang jahat, serta dipersatukan dengan Bapa, Sang Pemilik segala sesuatu, dalam persekutuan kudus yang mempermuliakan-Nya.

Doa syafaat Yesus dalam pasal 17  ini terdiri dari tiga bagian: ayat 1-5; ayat 6-13; dan ayat 14-26. Perikop hari ini (ayat 1-5) adalah permohonan Yesus agar Bapa menerima segala karya Yesus yang telah dikerjakan-Nya seturut rencana dan kehendak Bapa (ayat 1). Karya Yesus sesuai dengan pemberian kuasa dari Allah kepada-Nya, adalah memberikan hidup kekal kepada setiap orang yang ditetapkan Bapa untuk menerimanya (ayat 2). Hidup kekal itu adalah pengenalan sejati terhadap Bapa, Sang Sumber Kehidupan, dan menyambut Yesus yang melalui-Nya rencana Allah terwujud (ayat 3). Dengan menyelesaikan semua pekerjaan yang dipercayakan Bapa kepada-Nya, Yesus telah mempermuliakan Bapa (ayat 4). Sebagai tanda bahwa Bapa berkenan akan pekerjaan Yesus dan Ia telah menyelesaikan misi-Nya secara sempurna dan tuntas maka Yesus memohon agar Bapa memuliakan Dia (ayat 1, 5).

Doa Yesus berbeda dengan doa kita dalam hal sifat hubungan dan isi doa kepada Allah. Doa Yesus sepenuhnya memaparkan hubungan intim Anak dan Bapa, satu dalam kehendak, misi, dan kuasa karena satu hakikat. Karena itu hidup kekal identik dengan atau akibat dari mengenal Kristus, yaitu mengenal Allah.

Pemeliharaan Bapa. Pokok doa kedua dari doa syafaat Yesus kepada Bapa adalah permohonan kepada Bapa untuk para murid. Yesus memohon agar Bapa memelihara mereka karena mereka telah menjadi milik Yesus dalam kasih Bapa (ayat 11b).

Beberapa hal penting tentang para murid-Nya, Yesus nyatakan dalam doa-Nya. Pertama, Yesus telah memberitahukan nama Allah kepada mereka. Berarti para pengikut-Nya mengenal kemuliaan Bapa karena Yesus telah menyatakan itu melalui hidup-Nya, ucapan-ucapan-Nya, dan salib-Nya. Kedua, mereka percaya karena diberikan Bapa kepada Yesus (ayat 6, 10). Ketiga, menjadi percaya berarti menaati firman Kristus (ayat 6b, 8). Mereka percaya bahwa Ia berasal dari Bapa dan Bapalah yang telah mengutus-Nya untuk keselamatan mereka. Keempat, Yesus telah memelihara para pengikut-Nya dan tidak seorang pun dari mereka yang binasa, kecuali yang telah ditentukan untuk binasa (ayat 12). Sekarang Ia akan kembali kepada Bapa, tetapi para pengikut-Nya masih tinggal dalam dunia karena ada misi yang harus mereka laksanakan. Maka Yesus berdoa bagi pemeliharaan Bapa atas mereka.

Yesus tidak berdoa bagi dunia, tetapi hanya bagi milik-Nya. Mengapa? Karena Dia ingin agar mereka terjamin pasti dalam hubungan dengan Allah sehingga hidup mereka penuh sukacita (ayat 13, bdk. 16:22), juga agar mereka dapat disiapkan untuk menruskan misi-Nya bagi dunia ini. Doa ini membentangkan kasih Yesus dan Allah yang luar biasa besar bagi para pengikut-Nya, juga keajaiban rencana-Nya bagi orang beriman.

Doa Yesus menunjukkan perhatian dan peduli-Nya bagi kita, murid-murid-Nya pada masa kini yang percaya pada-Nya. Agar kita dapat menjadi penerus pemberita Injil bagi dunia ini maka kita perlu pemeliharaan dan perlindungan Bapa senantiasa. Oleh karena itu, kita harus berdoa tak putus-putusnya memohonkan hal tersebut agar tergenapi.

DOA: Datanglah, ya Roh Kudus, penuhilah hati umat-Mu dan nyalakanlah api cintakasih-Mu. Baharuilah muka bumi ini. Amin. (Lucas Margono)

Mei 1730a

 

Renungan Senin 29 Mei 2017

Renungan Senin 29 Mei 2017, Hari Biasa Pekan VII Paskah

Bacaan I : Kis 19:1-8

“Sudahkah kamu menerima Roh Kudus, ketika kamu menjadi percaya?”

19:1 Ketika Apolos masih di Korintus, Paulus sudah menjelajah daerah-daerah pedalaman dan tiba di Efesus. Di situ didapatinya beberapa orang murid. 19:2 Katanya kepada mereka: “Sudahkah kamu menerima Roh Kudus, ketika kamu menjadi percaya?” Akan tetapi mereka menjawab dia: “Belum, bahkan kami belum pernah mendengar, bahwa ada Roh Kudus.” 19:3 Lalu kata Paulus kepada mereka: “Kalau begitu dengan baptisan manakah kamu telah dibaptis?” Jawab mereka: “Dengan baptisan Yohanes.” 19:4 Kata Paulus: “Baptisan Yohanes adalah pembaptisan orang yang telah bertobat, dan ia berkata kepada orang banyak, bahwa mereka harus percaya kepada Dia yang datang kemudian dari padanya, yaitu Yesus.” 19:5 Ketika mereka mendengar hal itu, mereka memberi diri mereka dibaptis dalam nama Tuhan Yesus. 19:6 Dan ketika Paulus menumpangkan tangan di atas mereka, turunlah Roh Kudus ke atas mereka, dan mulailah mereka berkata-kata dalam bahasa roh dan bernubuat. 19:7 Jumlah mereka adalah kira-kira dua belas orang. 19:8 Selama tiga bulan Paulus mengunjungi rumah ibadat di situ dan mengajar dengan berani. Oleh pemberitaannya ia berusaha meyakinkan mereka tentang Kerajaan Allah.

 Mazmur 68:2-3.4-5ac.6-7ab
Ref. Hai kerajaan-kerajaan bumi, menyanyilah bagi Allah.

*    Allah bangkit, maka terseraklah musuh-musuh-Nya, orang-orang yang membenci Dia melarikan diri dari hadapan-Nya. Seperti asap hilang tertiup, seperti lilin meleleh di depan api, demikianlah orang-orang fasik binasa di hadapan Allah.

*     Tetapi orang-orang benar bersukacita, mereka beria-ria di hadapan Allah, bergembira dan bersukaria. Bernyanyilah bagi Allah, bermazmurlah bagi nama-Nya! Nama-Nya ialah Tuhan!

*     Bapa bagi anak yatim dan pelindung bagi para janda, itulah Allah di kediaman-Nya yang kudus; Allah memberi tempat tinggal kepada orang-orang sebatang kara, Ia mengeluarkan orang-orang tahanan, sehingga mereka bahagia.

Bait Pengantar Injil
Ref. Alleluya
Ayat. (Kol 3:1)
Kalau kamu dibangkitkan bersama dengan Kristus, carilah perkara yang di atas, di mana Kristus ada, duduk di sebelah kanan Allah.
 
Bacaan Injil : Yohanes 16:29-33

“Kuatkanlah hatimu, Aku telah mengalahkan dunia.”

6:29 Kata murid-murid-Nya: “Lihat, sekarang Engkau terus terang berkata-kata dan Engkau tidak memakai kiasan. 16:30    Sekarang kami tahu, bahwa Engkau mengetahui segala sesuatu dan tidak perlu orang bertanya kepada-Mu. Karena itu kami percaya, bahwa Engkau datang dari Allah.” 16:31Jawab Yesus kepada mereka: “Percayakah kamu sekarang? 16:32 Lihat, saatnya datang, bahkan sudah datang, bahwa kamu diceraiberaikan masing-masing ke tempatnya sendiri dan kamu meninggalkan Aku seorang diri. Namun Aku tidak seorang diri, sebab Bapa menyertai Aku. 16:33                Semuanya itu Kukatakan kepadamu, supaya kamu beroleh damai sejahtera dalam Aku. Dalam dunia kamu menderita penganiayaan, tetapi kuatkanlah hatimu, Aku telah mengalahkan dunia.”

Renungan :

Injil buat semua
Rupanya Apolos tidak sendirian. Di Efesus, Paulus juga menemui orang-orang yang hanya mengetahui baptisan Yohanes (1-2). Mereka mengenal Mesias hanya dari pemberitaan Kitab Suci (Perjanjian Lama) melalui pengajaran Yohanes Pembaptis.

Bagi Paulus, menjadi percaya berarti menerima Roh Kudus, dan menerima Roh Kudus adalah bukti bahwa orang telah percaya. Rupanya waktu itu pertanyaan tentang iman kepada Yesus Kristus, pertobatan, dan menerima Roh Kudus adalah pertanyaan standar saat orang menerima baptisan. Maka waktu Paulus tahu bahwa mereka belum kenal Roh Kudus, ia tahu bahwa sesungguhnya mereka belum terhitung dalam bilangan orang percaya. Sebab itu Paulus mengajar mereka (3-4). Lalu mereka percaya dan menerima Roh Kudus (6), seperti yang telah dialami para murid pada peristiwa Pentakosta (Kis 2). Ini bukan peristiwa pembaptisan ulang atau pengalaman rohani kedua, karena baptisan pertobatan yang telah mereka terima dari Yohanes bukan hanya tidak lengkap tetapi juga jadi usang (lih. Luk. 16:16). Penumpangan tangan Paulus atas mereka menjadi tanda bahwa mereka saat itu tergabung ke dalam gereja, yaitu orang-orang yang percaya kepada Kristus dan menerima Roh Kudus (band. Kis 8:17). Dalam kebesaran kasih karunia-Nya, Tuhan menganugerahkan karunia bahasa roh dan nubuat sebagai konfirmasi bahwa berkat keselamatan telah menjadi milik mereka.

Mempelajari kisah ini membuat kita memahami, bahwa Injil perlu diberitakan bukan hanya kepada mereka yang belum pernah mendengarnya sama sekali. Injil juga harus diwartakan kepada mereka yang tahu tentang Yesus Kristus namun belum menerima Dia sebagai Juruselamat mereka secara pribadi. Kita tidak boleh lupa membimbing orang-orang (terutama generasi muda), agar mereka sungguh mengenal Yesus oleh Roh Kudus dan bukan sekadar tahu tentang Yesus.

Mazmur, Allah dalam hidup umat

Bagi bangsa Israel, Allah bukan hanya dikenal sebagai Allah Pencipta saja. Kisah campur tangan Allah saat mereka keluar dari Mesir, membekas kuat dalam ingatan mereka. Israel, yang begitu lama berada dalam kungkungan Mesir, kemudian bebas merdeka. Bila bukan karena Allah, mana mungkin identitas mereka sebagai bangsa bisa pulih?

Mazmur yang menjadi bacaan hari ini merupakan hasil ingatan akan keperkasaan Allah saat Ia berhasil mengalahkan tentara Mesir, yang mengejar bangsa Israel. Bagai prajurit tangguh, Allah berhasil membuat musuh-musuh Israel bertekuk lutut (ayat 2-3). Musuh-musuh lari tunggang langgang karena ketakutan (ayat 2). Mereka kemudian lenyap bagai asap tertiup angin dan hancur bagai lilin meleleh terbakar api (ayat 3). Begitulah nasib orang-orang yang memusuhi Allah dan umat-Nya. Di sisi lain, orang-orang yang berdiri di pihak Allah, yaitu orang-orang benar akan bersukacita karena hal itu (ayat 4). Allah, yang berkuasa atas alam semesta itu, memang adalah Pelindung bagi orang-orang yang lemah dan tertindas (ayat 6).

Pemazmur ingat, waktu Israel membutuhkan pertolongan, Allah memimpin mereka seperti gembala memimpin kawanan domba. Mereka harus melalui padang belantara sampai akhirnya mereka dapat tiba di negeri yang dituju (ayat 8-11). Namun Tuhan tidak berhenti sampai di situ saja. Ia masih tetap terlibat ketika Israel masih harus berperang dengan para penguasa yang menduduki tanah itu, supaya mereka bisa tinggal di sana. Kehadiran Tuhan di tempat itu digambarkan bagai arak-arakan karena menang perang. Puluhan ribu kereta kuda disertai dengan tawanan-tawanan yang tertunduk malu karena kalah perang.

Kisah perjalanan hidup Israel sebagai suatu bangsa memperlihatkan karya dan keperkasaan Allah, juga menunjukkan kepedulian dan campur tangan Allah. Begitu jugakah kisah hidup kita? Bila Anda ragu untuk mengatakan ya, cobalah tanyakan hati Anda, sudahkah Anda mempersilakan Allah berkarya sepenuh dan seutuhnya dalam hidup Anda?

Injil hari ini, Bukan pada iman kita

Rasa takut tidak akan pernah bisa memberi perspektif yang sehat untuk melihat masa depan. Maka pengajaran Yesus berikutnya bukan merupakan peringatan yang dapat membuat mereka takut, melainkan berupa janji.

Sebelumnya para murid merasa tertekan karena perkataan Yesus tentang masa depan begitu membingungkan mereka. Maka Tuhan berjanji bahwa untuk seketika waktu lagi mereka akan memahami apa yang mereka perlukan untuk hidup sebagai seorang murid. Janji ini berakar dari janji keakraban dengan Bapa yang sebelumnya tidak mereka kenal. Namun setelah Yesus mati di salib dan kemarahan Allah terhadap pendosa ditanggung-Nya, keakraban dengan Bapa telah dimungkinkan sebab pendosa telah dikuduskan. Allah sendiri memang tidak segan memberkati anak-anak-Nya. Ia sendiri mengasihi milik-Nya dan memenuhi kebutuhan mereka karena Dia adalah Bapa yang penuh kasih.

Jaminan itu diberikan dalam penegasan bahwa Yesus adalah Anak Allah yang diutus oleh Bapa, yang kemudian akan kembali kepada Bapa (ayat 28). Namun saatnya belum tiba. Memang para murid telah menemukan keyakinan di dalam perkataan Yesus. Namun mereka akan menghadapi perlawanan yang akan membuat iman mereka diguncang (ayat 31-32). Lalu di mana letak penghiburan itu? Inilah penghiburan itu: Yesus tahu bahwa para murid akan pergi ketika situasi memburuk. Meski demikian, para murid perlu tahu bahwa kemenangan tidak bergantung pada iman mereka, melainkan pada karya Juruselamat di Kalvari (ayat 33). Kristus telah mengalahkan dunia, maka kita pun dapat menang atas dunia.

Sekarang ini banyak pengajaran yang menekankan bahwa kemenangan iman tergantung pada kualitas iman kita. Tentu saja ini tidak sepenuhnya benar. Allah memang menginginkan kita untuk hidup dari iman (Rm 1:17). Namun jangan tempatkan keyakinan kita pada iman kita, karena iman kita tidaklah lebih berharga daripada obyek iman itu, yaitu Yesus Kristus.

DOA: Bapa surgawi, hanya dengan kehadiran Roh Kudus dalam hidup kami, maka kami dapat mengalami kehadiran Yesus dalam diri kami. Kami pun menjadi kuat menghadapi berbagai pencobaan dalam hidup ini. Biarlah Roh Kudus masuk lebih dalam lagi ke dalam hati kami. Bapa, kami menyerahkan kehendak kami kepada-Mu. Terpujilah Allah Tritunggal Mahakudus, Bapa dan Putera dan Roh Kudus, sekarang dan selama-lamanya. Amin. (Lucas Margono)

Mei 1729

Renungan Minggu 28 Mei 2017

Renungan Minggu 28 Mei 2017, Hari Minggu Paskah VII

Bacaan I : Kis 1:12-14

“Dengan sehati mereka semua bertekun dalam doa.”

1:12 Maka kembalilah rasul-rasul itu ke Yerusalem dari bukit yang disebut Bukit Zaitun, yang hanya seperjalanan Sabat jauhnya dari Yerusalem. 1:13 Setelah mereka tiba di kota, naiklah mereka ke ruang atas, tempat mereka menumpang. Mereka itu ialah Petrus dan Yohanes, Yakobus dan Andreas, Filipus dan Tomas, Bartolomeus dan Matius, Yakobus bin Alfeus, dan Simon orang Zelot dan Yudas bin Yakobus. 1:14 Mereka semua bertekun dengan sehati dalam doa bersama-sama, dengan beberapa perempuan serta Maria, ibu Yesus, dan dengan saudara-saudara Yesus.

Mazmur 27:1,4,7-8a, R:13

Ref. Bahagia kuterikat pada Yahwe. Harapanku pada Allah Tuhanku.

*    Tuhan adalah terang dan keselamatanku, kepada siapakah aku harus takut? Tuhan adalah benteng hidupku, terhadap siapakah aku harus gentar?

*    Satu hal telah kuminta kepada Tuhan, satu inilah yang kuingini: Diam di rumah Tuhan seumur hidupku, menyaksikan kemurahan Tuhan, dan menikmati bait-Nya.

*     Dengarlah, ya Tuhan, seruan yang kusampaikan, kasihanilah aku dan jawablah aku! Wajahmu kucari, ya Tuhan, seturut firman-Mu “Carilah wajah-Ku!”

Bacaan II : 1Petrus 4:13-16 

“Berbahagialah kamu, jika kamu dinista karena nama Kristus.”

4:13 Sebaliknya, bersukacitalah, sesuai dengan bagian yang kamu dapat dalam penderitaan Kristus, supaya kamu juga boleh bergembira dan bersukacita pada waktu Ia menyatakan kemuliaan-Nya. 4:14 Berbahagialah kamu, jika kamu dinista karena nama Kristus, sebab Roh kemuliaan, yaitu Roh Allah ada padamu. 4:15 Janganlah ada di antara kamu yang harus menderita sebagai pembunuh atau pencuri atau penjahat, atau pengacau. 4:16 Tetapi, jika ia menderita sebagai orang Kristen, maka janganlah ia malu, melainkan hendaklah ia memuliakan Allah dalam nama Kristus itu.

Bait Pengantar Injil, do = g, 4/4, kanon, PS 960
Ref. Alleluya, alleluya, alleluya.
Ayat. (Yoh 14:18)
Aku tidak akan meninggalkan kamu sebagai yatim piatu, sabda Tuhan. Aku akan datang lagi, dan hatimu akan bersukacita.
  
Bacaan Injil : Yohanes 17:1-11a 

“Bapa, permuliakanlah Anak-Mu.”

17:1 Demikianlah kata Yesus. Lalu Ia menengadah ke langit dan berkata: “Bapa, telah tiba saatnya; permuliakanlah Anak-Mu, supaya Anak-Mu mempermuliakan Engkau. 17:2 Sama seperti Engkau telah memberikan kepada-Nya kuasa atas segala yang hidup, demikian pula Ia akan memberikan hidup yang kekal kepada semua yang telah Engkau berikan kepada-Nya. 17:3 Inilah hidup yang kekal itu, yaitu bahwa mereka mengenal Engkau, satu-satunya Allah yang benar, dan mengenal Yesus Kristus yang telah Engkau utus. 17:4 Aku telah mempermuliakan Engkau di bumi dengan jalan menyelesaikan pekerjaan yang Engkau berikan kepada-Ku untuk melakukannya. 17:5 Oleh sebab itu, ya Bapa, permuliakanlah Aku pada-Mu sendiri dengan kemuliaan yang Kumiliki di hadirat-Mu sebelum dunia ada. 17:6 Aku telah menyatakan nama-Mu kepada semua orang, yang Engkau berikan kepada-Ku dari dunia. Mereka itu milik-Mu dan Engkau telah memberikan mereka kepada-Ku dan mereka telah menuruti firman-Mu. 17:7 Sekarang mereka tahu, bahwa semua yang Engkau berikan kepada-Ku itu berasal dari pada-Mu. 17:8 Sebab segala firman yang Engkau sampaikan kepada-Ku telah Kusampaikan kepada mereka dan mereka telah menerimanya. Mereka tahu benar-benar, bahwa Aku datang dari pada-Mu, dan mereka percaya, bahwa Engkaulah yang telah mengutus Aku. 17:9 Aku berdoa untuk mereka. Bukan untuk dunia Aku berdoa, tetapi untuk mereka, yang telah Engkau berikan kepada-Ku, sebab mereka adalah milik-Mu 17:10 dan segala milik-Ku adalah milik-Mu dan milik-Mu adalah milik-Ku, dan Aku telah dipermuliakan di dalam mereka. 17:11 Dan Aku tidak ada lagi di dalam dunia, tetapi mereka masih ada di dalam dunia, dan Aku datang kepada-Mu. Ya Bapa yang kudus, peliharalah mereka dalam nama-Mu, yaitu nama-Mu yang telah Engkau berikan kepada-Ku, supaya mereka menjadi satu sama seperti Kita.

Renungan :

Menantikan kuasa dari Atas

Apa yang bisa dilakukan oleh para pengikut Yesus, sepeninggal Yesus naik ke surga untuk melaksanakan tugas yang Tuhan embankan kepada mereka (Mat 28:19-20)? Mereka hanya kawanan kecil, tak lebih dari 120 orang (ayat 15). Mereka pun bukan orang-orang yang memiliki nama besar atau kekuatan tertentu. Di antara sebelas rasul, sebagian besar pernah melarikan diri atau menyangkal Yesus, dan punya konsep Kerajaan Allah yang masih keliru (ayat 6). Memang mereka murid-murid inti Yesus, tetapi apa yang bisa mereka lakukan? Kemudian ada para wanita yang mengikut Yesus. Mungkin sebagian dari antara mereka memiliki kekayaan yang pernah mendukung pelayanan Yesus (Luk 8:1-3). Yang agak mencengangkan adalah para saudara Yesus. Dulu waktu Yesus masih hidup, mereka termasuk yang menentang dan memusuhi Dia (Mrk 3:21). Akhirnya ada juga para pengikut Yesus yang lain. Mereka hanyalah sekelompok orang yang tidak memiliki apa-apa yang dapat diandalkan.

Apa yang mereka bisa lakukan? Yang jelas mereka menaati pesan Tuhan Yesus untuk tinggal di Yerusalem menantikan kuasa Roh Kudus memenuhi mereka (ayat 4-5). Hanya oleh kuasa Roh Kudus mereka akan dimampukan menjadi saksi-Nya hingga ke ujung dunia. Mereka melakukannya dengan sikap bersekutu, bersehati dalam doa (ayat 14).

Gereja pada masa kini tidak beda jauh dengan persekutuan murid-murid Tuhan yang perdana ini. Tidak signifikan secara jumlah dan sepertinya tidak memiliki kekuatan apa-pun untuk melaksanakan misi yang Allah embankan kepada mereka. Bahkan di berbagai penjuru dunia, gereja dikejar-kejar dan dianiaya agar musnah. Namun kunci kekuatan bahkan kemenangan terletak pada sikap mereka yang bersandar penuh kepada Allah sumber kekuatan mereka. Oleh karena itu, dalam masa-masa menjelang peringatan Pentakosta mari kita meneladani para murid Yesus dengan bertekun dan bersekutu dalam doa. Mari kita menantikan sampai kuasa yang dari Atas dicurahkan atas umat-Nya.

Mazmur, Hanya Tuhan penolongku

Dalam zaman yang serba tidak pasti dan penuh ancaman ini, apakah yang menjadi andalan Anda? Bersama pemazmur, mari kita nyatakan keyakinan bahwa Tuhan adalah persandaran yang teguh dan yang satu-satunya (ayat 1-6). Keyakinan demikian akan memberanikan kita untuk datang dan memohon pertolongan-Nya (ayat 7-14).

Pemazmur mulai dengan pertanyaan retoris, “Jika Tuhan adalah terang, keselamatan, dan benteng hidupnya, kepada siapakah dia harus takut?” Ketiga lambang ini menegaskan sifat Allah. Terang melambangkan kehadiran Allah yang mengenyahkan kegelapan, sekaligus memberi rasa aman. Keselamatan jelas merupakan akibat dari perlindungan Tuhan. Sedangkan benteng menggambarkan pertahanan dan perlindungan yang kokoh terhadap serangan musuh.

Di manakah tempat perlindungan paling aman bagi anak-anak Tuhan (ayat 4-6)? Tentu di rumah Tuhan! Dua kata dipakai di sini, yaitu rumah Tuhan dan bait-Nya. Yang dimaksud bukanlah wujud fisik melainkan kehadiran dan penyertaan Tuhan atas umat-Nya, yakni ketika umat beribadah dan Dia menyatakan berkat-Nya. Bandingkan dengan keyakinan pemazmur untuk tinggal selamanya di rumah Tuhan (Mzm 23:6). Dengan keyakinan seperti inilah pemazmur berani meminta pertolongan Tuhan atas semua kesesakan yang ia alami. Delapan kata kerja dipakai untuk mengajukan permohonannya (ayat 7), diselingi dengan motivasi yang mendorong pemazmur bermohon: “wajah-Mu kucari, ya Tuhan” (ayat 8). Mencari wajah Tuhan berarti mencari perkenan-Nya. Kalau Tuhan berkenan, pasti Ia menolong.

Keyakinan pemazmur kiranya menjadi keyakinan sekaligus komitmen Anda. Pertolongan manusia terbatas baik oleh daya, waktu, dan juga kemauan). Saat kesusahan datang, ingat dua hal: sifat Tuhan yang peduli dan mau menolong umat-Nya, dan bahwa Dia pernah menolong Anda. Katakan, \’Tuhan aku percaya pada-Mu\’ dan nantikanlah pertolongan-Nya!

Bacaan II, Tujuan penderitaan orang Kristen.

Bila Anda melihat tayangan fear factor (sesuatu yang menyebabkan ketakutan) di salah satu televisi swasta maka Anda akan menyaksikan bagaimana para peserta ditantang untuk melakukan berbagai kegiatan yang berbahaya, menakutkan bahkan menjijikkan. Mengapa mereka mau melakukannya? Karena ada hadiah sebesar $ 50.000 AS (empat ratus juta rupiah) yang diberikan kepada peserta yang juara. Dalam acara fear factor ini, para peserta rela menderita sesaat ketika mereka berlomba untuk mendapatkan hadiah uang $ 50.000 AS itu.

Penderitaan sesaat di dunia ini yang juga dialami oleh orang Kristen berbeda dengan perlombaan tersebut. Orang Kristen rela menjalani penderitaan sesaat ini bukan untuk mendapatkan sebuah pujian atau penghargaan dunia. Tentu saja penderitaan sesaat yang dimaksudkan di sini bukanlah hukuman akibat tindakan kejahatan (ayat 15). Sebab jika ini yang terjadi, penderitaan sesaat itu ialah hukuman atas dosa. Ada dua alasan mengapa orang Kristen mengalami penderitaan sesaat tersebut. Pertama, melalui penderitaan orang Kristen dapat ambil bagian dalam penderitaan yang telah dialami Kristus (ayat 13). Kedua, kalau orang Kristen menderita karena nama Kristus berarti hal ini bertujuan supaya Tuhan dimuliakan (ayat 14,16). Sejarah gereja mula-mula membuktikan bahwa justru melalui penderitaan nama Tuhan semakin dikenal di Yerusalem (Kis 4:1-4).

Perhatikan: Penderitaan sesaat bagi orang Kristen sejati justru menghasilkan iman kepada Tuhan yang makin diteguhkan.

Injil hari ini, Doa Imam Besar.

Inilah saat yang paling menentukan bagi Yesus. Dia menghadapi saat akhir penggenapan misi-Nya, yakni sengsara dan kematian. Sungguh suatu keadaan yang berat yang harus Yesus hadapi. Itulah sebabnya Ia datang kepada Bapa-Nya dalam doa; yang dikenal dengan sebutan “Doa Imam Besar”. Yesus minta dimuliakan kembali seperti kemuliaan-Nya semula sebelum Ia datang sebagai manusia. Permintaan-Nya ini menegaskan tentang siapa Dia. Ia akan merampungkan karya penyelamatan-Nya melalui kematian-Nya di kayu salib. Bukan hanya itu, bahkan dalam sengsara dan kematian-Nya itulah sebenarnya Ia tengah dimuliakan.

Doa Yesus untuk murid-murid-Nya. Yesus mendoakan murid-murid-Nya agar mereka dipelihara dan menjadi satu (11), dilindungi dari segala yang jahat (15), dan dikuduskan di dalam kebenaran (17), supaya mereka mampu dan layak melaksanakan misi sebagai utusan-utusan Kristus. Mereka yang adalah milik Kristus dan juga milik Bapa, justru akan menjadi musuh dunia. Karena itu, mereka perlu ditopang oleh doa agar setia dalam tugas dan tekun dalam penderitaan.

Renungkan: Di saat yang paling genting dalam hidup-Nya, Yesus masih mampu berdoa untuk orang lain. Bagaimana dengan kita, pernahkah tindakan Yesus ini kita hayati dan menjadikan bagian dalam hidup kita?

DOA: Datanglah, ya Roh Kudus, penuhilah hati umat-Mu dan nyalakanlah api cintakasih-Mu. Baharuilah muka bumi ini. Amin. (Lucas Margono)

Mei 1728

Renungan Sabtu 27 Mei 2017

Renungan Sabtu 27 Mei 2017, Hari Biasa Pekan VI Paskah

Bacaan I : Kis 18:23-28

“Apolos membuktikan dari Kitab Suci, bahwa Yesus adalah Mesias.”

18:23 Setelah beberapa hari lamanya ia tinggal di situ, ia berangkat pula, lalu menjelajahi seluruh tanah Galatia dan Frigia untuk meneguhkan hati semua murid. 18:24 Sementara itu datanglah ke Efesus seorang Yahudi bernama Apolos, yang berasal dari Aleksandria. Ia seorang yang fasih berbicara dan sangat mahir dalam soal-soal Kitab Suci. 18:25 Ia telah menerima pengajaran dalam Jalan Tuhan. Dengan bersemangat ia berbicara dan dengan teliti ia mengajar tentang Yesus, tetapi ia hanya mengetahui baptisan Yohanes. 18:26 Ia mulai mengajar dengan berani di rumah ibadat. Tetapi setelah Priskila dan Akwila mendengarnya, mereka membawa dia ke rumah mereka dan dengan teliti menjelaskan kepadanya Jalan Allah. 18:27 Karena Apolos ingin menyeberang ke Akhaya, saudara-saudara di Efesus mengirim surat kepada murid-murid di situ, supaya mereka menyambut dia. Setibanya di Akhaya maka ia, oleh kasih karunia Allah, menjadi seorang yang sangat berguna bagi orang-orang yang percaya. 18:28 Sebab dengan tak jemu-jemunya ia membantah orang-orang Yahudi di muka umum dan membuktikan dari Kitab Suci bahwa Yesus adalah Mesias.

Mazmur  47:2-3.8-9.10; R: 6, do = a, 4/4, PS 825
Ref. Allah telah naik diiringi sorak-sorai, Tuhan mengangkasa diiringi bunyi sangkakala.

*    Hai segala bangsa, bertepuktanganlah, elu-elukanlah Allah dengan sorak-sorai! Sebab Tuhan, Yang Mahatinggi, adalah dahsyat, Raja agung atas seluruh bumi.

*    Sebab Allah adalah Raja seluruh bumi, bermazmurlah dengan lagu yang paling indah! Allah merajai segala bangsa, di atas takhta-Nya yang kudus Ia bersemayam.

*    Para pemimpin bangsa-bangsa berdatangan bergabung dengan umat Allah Abraham. Sebab segala perisai di atas bumi adalah milik-Nya; sangat agunglah Dia!

Bait Pengantar Injil
Ref. Alleluya
Ayat. (Yoh 16:28)
Aku datang dari Bapa dan Aku datang ke dalam dunia; kini Aku meninggalkan dunia lagi dan pergi kepada Bapa
 
Bacaan Injil : Yohanes 16:23b-28

“Bapa mengasihi kamu, karena kamu telah mengasihi Aku dan percaya.”  

16:23 Dan pada hari itu kamu tidak akan menanyakan apa-apa kepada-Ku. Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya segala sesuatu yang kamu minta kepada Bapa, akan diberikan-Nya kepadamu dalam nama-Ku. 16:24 Sampai sekarang kamu belum meminta sesuatupun dalam nama-Ku. Mintalah maka kamu akan menerima, supaya penuhlah sukacitamu. 16:25 Semuanya ini Kukatakan kepadamu dengan kiasan. Akan tiba saatnya Aku tidak lagi berkata-kata kepadamu dengan kiasan, tetapi terus terang memberitakan Bapa kepadamu. 16:26 Pada hari itu kamu akan berdoa dalam nama-Ku. Dan tidak Aku katakan kepadamu, bahwa Aku meminta bagimu kepada Bapa, 16:27 sebab Bapa sendiri mengasihi kamu, karena kamu telah mengasihi Aku dan percaya, bahwa Aku datang dari Allah. 16:28 Aku datang dari Bapa dan Aku datang ke dalam dunia; Aku meninggalkan dunia pula dan pergi kepada Bapa.”

Renungan :

Menuntun, melengkapi, menyiapkan

Andaikan kita mendengar Apolos menjelaskan Injil, kita mungkin akan menganggap dia sebagai pemberita Injil yang hebat. Kita mungkin tidak akan mengira bahwa seorang yang memiliki pengetahuan tentang Kristus serta mampu menjelaskan segala sesuatu tentang Dia, ternyata belum sungguh-sungguh mengenal Kristus.

Begitulah gambaran yang kita peroleh dari bagian ini tentang Apolos. Ia seorang yang pandai. Rupanya ia memanfaatkan sumber perpustakaan yang baik di kota Alexandrian, serta perjumpaannya dengan para murid Yohanes (24). Ia tampaknya tertarik dengan semua informasi tersebut, bahkan sanggup mengajarkannya kepada orang lain (26), padahal ia belum sungguh diperbarui oleh Kristus. Ia hanya tahu baptisan Yohanes dan hanya belajar mengenai “Jalan Tuhan” (25-26). Itu sebabnya, Priskila dan Akwila yang mendengar pengajaran Apolos menemukan sesuatu yang “kurang”. Maka kemudian mereka mengajar Apolos tentang “Jalan Allah” (26). Mereka memberitahu Apolos bahwa Yesus Kristus adalah jalan Allah, yang turun ke dalam dunia sebagai manusia. Pengajaran Priskila dan Akwila menjadi alat anugerah yang membawa Apolos ke dalam kebenaran utuh, dan kemudian memperlengkapi dia untuk mengabarkan Injil sampai ke Akhaya (27-28).

Priskila dan Akwila memiliki kepekaan untuk melihat kebutuhan rohani orang yang seolah sudah rohani. Priskila dan Akwila tidak terpaku hanya pada apa yang tampak. Tanpa segan, mereka melengkapi dan menuntun Apolos, sampai dia sungguh berjumpa dengan Yesus Kristus dan siap menjadi pelayan Injil sejati. Apa yang dilakukan oleh Akwila dan Priskila merupakan area pelayanan yang tidak kalah penting. Kita pun bisa seperti mereka. Bila ada orang seperti Apolos di gereja kita, kita bisa mengajak mereka mengikuti kelompok pembinaan, memberikan buku-buku bermutu atau mengusulkan agar dia mengikuti pelajaran khusus yang akan membuat pelayanannya efektif.

Mazmur, Allah adalah Raja!

Raja adalah gelar politis, sama seperti presiden, kaisar dan yang sejenisnya. Oleh karena itu, menyebut Allah sebagai raja membawa kepada implikasi politis. Penyebutan Allah Israel sebagai raja bukan dimulai oleh Israel sendiri, melainkan oleh Allah sendiri. Allah berkenan memakai gelar politis itu untuk menyatakan kehadiran dan kedaulatan-Nya atas Israel di tengah-tengah percaturan politik dunia pada masa Perjanjian Lama.

Pemazmur di sini mengajak semua bangsa di dunia ini mengakui kerajaan Allah atas Israel, tetapi juga melalui Israel atas bangsa-bangsa lain. Pada saat Israel diinaugurasikan sebagai sebuah bangsa, TUHAN, raja Israel sendiri telah menaklukkan bangsa-bangsa ke bawah Israel (ayat 4). Israel sendiri mendapatkan tanah pusaka sebagai milik yang patut dibanggakan (ayat 5). Pada saat itulah Allah memproklamasikan diri sebagai Raja mereka.

Mazmur ini tidak berhenti hanya pada pujian bagi Raja Israel, tetapi meneruskannya dengan memanggil semua bangsa lainnya untuk me-Raja-kan Dia, karena sesungguhnya Tuhan adalah Raja atas seluruh bumi (ayat 3, 8, 9). Sekarang ini, pengakuan itu belum datang dari mulut bangsa-bangsa di luar Israel. Akan tetapi, sesuai dengan janji Allah kepada Abraham, semua bangsa akan diberkati melalui Israel. Berkat itu yang paling terutama adalah Allah sebagai Raja mereka.

Implikasi politis bagi pengakuan bahwa Allah sebagai Raja adalah pertama, semua bangsa harus membuang ibadah kepada dewa-dewi mereka karena hanya Dia saja Allah mereka. Kedua, semua bangsa harus tunduk kepada Allah sebagai Raja mereka. Ketiga, semua raja bangsa-bangsa harus tunduk kepada Raja diraja mereka (ayat 10).

Renungkan: Beritakan kepada semua orang bahwa Tuhan Yesus adalah Raja atas hidup mereka.

Injil hari ini, DALAM NAMA YESUS KITA BERDOA

Nama Yesus bukanlah sekadar nama biasa, tetapi sebuah kekuatan yang berwujud Pribadi yang sangat dekat dengan Allah. Menyebut namaNya menjadi jaminan bahwa apa yang dialamatkan kepada Bapa menjadi lebih nyata, lebih mudah dikomunikasikan dan jaminan bahwa dampak positifnya lebih terlihat.

Dalam ungkapan Kitab Suci, sebuah nama memiliki pengertian yang mendalam dan yang merujuk kepada misi perutusan dan identitas dari si pemilik nama tersebut, bahkan tak jarang nama-nama itu ditentukan oleh Tuhan Allah sendiri, sesuai dengan maksud tujuan dan kehendakNya. Sebagai contoh, Allah sendiri merubah dan menentukan nama Abram menjadi Abraham, Yakub menjadi Israel, Simon menjadi Petrus, Saulus menjadi Paulus, dan Allah sendiri lewat perantaraan malaikat Gabriel yang membawa wahyu Allah ke dunia menentukan nama bagi Yohanes Pembaptis dan Yesus Sang Putera. Nah, Yesus memberikan kepada para muridNya ajaran tentang doa. Dan hari ini tema itu diperjelas dengan kenyataan bahwa berdoa itu akan jauh lebih hebat pengaruhnya kalau dialamatkan kepada Bapa melalui NamaNya.

Persis inilah yang dilakukan Gereja sepanjang masa. Doa Gereja dan doa-doa kita selama ini selalu mengandung unsur rumusan ini, “dengan perantaraan Kristus, Tuhan kami.” Apakah kebetulan bahwa kita diminta Yesus menyampaikan doa kepada Bapa dalam NamaNya? Kita tentu tahu juga seruan Doa Gereja yang mengatakan bahwa, “Dalam nama Yesuslah semua lutut bertelut, di surga dan di bumi …. karena Allah telah meninggikan Dia dan menganugerahkan kepadaNya nama yang mengatasi segala nama”.

Sejalan dengan iman Gereja inilah kita hari ini diajak dan diingatkan betapa kuat kuasanya Nama Yesus itu, dan betapa efisien dan efektifnya kalau setiap doa yang kita sampaikan kepada Bapa, kita formulasikan selalu dalam nama Yesus. Mengapa mesti demikian? Karena di hadapan Bapa, Yesus bagi kita adalah Imam Agung dan Dia yang menghadapkan kita kepada Bapa. Dialah yang berada bersama Bapa, maka setiap doa dan penyampaian intensi kepada Bapa yang kita alamatkan melalui Nama Yesus  menjadi doa dan penyampaian Yesus sendiri kepada Bapa. Permohonan-Nya kepada Bapa tidak pernah ditolak dan pasti dikabulkan.

Jadi ketika kita berdoa dalam Nama Yesus, doa itu menjadi doa Yesus  sendiri di hadapan Bapa. Dia berdoa bersama kita dan berdoa untuk kita. Dia melindungi kita dari yang jahat dan menganugerahkan kita rahmat yang menguduskan kita dan karya kita.

Dan yang terakhir sikap kita dalam memohon dan berdoa kepada Bapa, dalam Nama Yesus. Yesus menegaskan bahwa apa saja yang kita minta kepada Bapa dalam namaNya akan dikabulkan. Walau demikian, kita juga alami bahwa kadang-kadang doa yang kita sampaikan kepada Bapa sepertinya tidak didengarkan. Atau lebih tepat: kita merasa bahwa doa-doa kita tidak pernah dijawab oleh Tuhan. Apakah benar demikian? Jawabnya: tidak. Karena Yesus sendiri berjanji kepada kita bahwa apa saja yang kita minta kepada Tuhan pasti akan mendapatkan jawabanNya; hanya saja  jawaban Tuhan itu tidak sesuai dengan apa yang kita impikan; atau cara Tuhan menjawab tidak sesuai dengan cara yang kita perkirakan.

DOA:

Yesus, biarlah hanya namaMu saja yang aku muliakan dalam pengalaman hidupku sehari-hari. Amin. (Lucas Margono)

Mei 1727

Renungan Jumat 26 Mei 2017

Renungan Jumat 26 Mei 2017, Peringatan Wajib St. Filipus Neri, Pekan VI Paskah.

Bacaan I : Kis 18:9-18

“Banyak umat-Ku di kota ini!”

8:9 Pada suatu malam berfirmanlah Tuhan kepada Paulus di dalam suatu penglihatan: “Jangan takut! Teruslah memberitakan firman dan jangan diam! 18:10     Sebab Aku menyertai engkau dan tidak ada seorangpun yang akan menjamah dan menganiaya engkau, sebab banyak umat-Ku di kota ini.” 18:11 Maka tinggallah Paulus di situ selama satu tahun enam bulan dan ia mengajarkan firman Allah di tengah-tengah mereka. 18:12 Akan tetapi setelah Galio menjadi gubernur di Akhaya, bangkitlah orang-orang Yahudi bersama-sama melawan Paulus, lalu membawa dia ke depan pengadilan. 18:13 Kata mereka: “Ia ini berusaha meyakinkan orang untuk beribadah kepada Allah dengan jalan yang bertentangan dengan hukum Taurat.” 18:14 Ketika Paulus hendak mulai berbicara, berkatalah Galio kepada orang-orang Yahudi itu: “Hai orang-orang Yahudi, jika sekiranya dakwaanmu mengenai suatu pelanggaran atau kejahatan, sudahlah sepatutnya aku menerima perkaramu, 18:15 tetapi kalau hal itu adalah perselisihan tentang perkataan atau nama atau hukum yang berlaku di antara kamu, maka hendaklah kamu sendiri mengurusnya; aku tidak rela menjadi hakim atas perkara yang demikian.” 18:16 Lalu ia mengusir mereka dari ruang pengadilan. 18:17 Maka orang itu semua menyerbu Sostenes, kepala rumah ibadat, lalu memukulinya di depan pengadilan itu; tetapi Galio sama sekali tidak menghiraukan hal itu. 18:18 Paulus tinggal beberapa hari lagi di Korintus. Lalu ia minta diri kepada saudara-saudara di situ, dan berlayar ke Siria, sesudah ia mencukur rambutnya di Kengkrea, karena ia telah bernazar. Priskila dan Akwila menyertai dia.

Mazmur  47:2-3.4-5.6-7, do = a, 4/4, PS 825
Ref. Allah telah naik, diiringi sorak-sorai. Tuhan mengangkasa diiringi bunyi sangkakala.

*    Hai segala bangsa, bertepuktanganlah, elu-elukanlah Allah dengan sorak-sorai! Sebab Tuhan, Yang Mahatinggi, adalah dahsyat, Raja agung atas seluruh bumi.

*    Ia menaklukkan bangsa-bangsa ke bawah kuasa kita, Ia menundukkan suku-suku bangsa ke bawah telapak kaki kita; Ia memilih bagi kita tanah pusaka kita, kebanggan Yakub yang dikasihi-Nya.

*     Allah telah naik diiringi sorak-sorai, Tuhan mengangkasa diiringi bunyi sangkakala. Bermazmurlah bagi Allah, bermazmurlah! Kidungkanlah mazmur bagi Raja kita, kidungkan mazmur!

Bait Pengantar Injil, do = g, gregorian, PS 959
Ref. Alleluya, alleluya, alleluya.
Ayat. Mesias harus menderita dan bangkit dari antara orang mati untuk masuk ke dalam kemuliaan-Nya.
   
Bacaan Injil : Yohanes 16:20-23a  

“Tidak ada seorang pun yang dapat merampas kegembiraanmu itu daripadamu.” 

16:20 Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya kamu akan menangis dan meratap, tetapi dunia akan bergembira; kamu akan berdukacita, tetapi dukacitamu akan berubah menjadi sukacita. 16:21 Seorang perempuan berdukacita pada saat ia melahirkan, tetapi sesudah ia melahirkan anaknya, ia tidak ingat lagi akan penderitaannya, karena kegembiraan bahwa seorang manusia telah dilahirkan ke dunia. 16:22 Demikian juga kamu sekarang diliputi dukacita, tetapi Aku akan melihat kamu lagi dan hatimu akan bergembira dan tidak ada seorangpun yang dapat merampas kegembiraanmu itu dari padamu. 16:23 Dan pada hari itu kamu tidak akan menanyakan apa-apa kepada-Ku. Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya segala sesuatu yang kamu minta kepada Bapa, akan diberikan-Nya kepadamu dalam nama-Ku.

Renungan :

Jika Allah menghendaki
“Manusia berencana, Tuhan yang menentukan”, kalimat bijak ini tepat menyimpulkan pelayanan Paulus dalam bagian ini. Paulus sempat cukup lama mengabarkan Injil di Korintus (11). Namun, reaksi keras orang Yahudi terhadap pemberitaan Injil yang dia lakukan, membuat Paulus dibawa ke pengadilan. Ternyata upaya orang Yahudi untuk melawan Paulus tidak berhasil (14-16). Inilah bukti genapnya janji Tuhan untuk menyertai dan melindungi Paulus. Maka Tuhan “memakai” Galio, gubernur Akhaya, sebagai alat untuk menggenapi janji-Nya. Melalui pendirian Galio, yang hanya ingin mengadili suatu pelanggaran atau kejahatan,dan tidak mau mencampuri masalah agama, Tuhan menyatakan intervensi-Nya (9-10).

Di Kengkrea, Paulus mencukur rambut nazirnya. Rupanya sejak mendapat penglihatan Makedonia, Paulus bernazar demi misi yang ke dalamnya ia telah dipanggil. Dengan mengakhiri masa nazirnya, Paulus hendak mensyukuri penyertaan Tuhan yang telah membuat misinya berhasil. Di Efesus, kota Romawi ketiga terbesar secara politik dan ekonomi, Paulus tidak tinggal lama (20). Respons Paulus terhadap permintaan agar ia kembali ke Efesus menegaskan, bahwa perjalanan hidup dan pelayanannya ditentukan oleh Tuhan (21).

Referensi Paulus pada kehendak Allah dalam perencanaan hidupnya di masa mendatang memperlihatkan pada kita bahwa ia menundukkan diri pada pimpinan Allah. Paulus memberi kita teladan bahwa keinginan pribadi dan pimpinan Allah akan berinteraksi sehingga rencana manusia hanya akan terlaksana, jika rencana itu merupakan bagian dari rancangan Allah. Karena itu, hendaknya doa kita bukan merupakan suatu instruksi agar Allah melakukan pekerjaan yang tertera dalam daftar permohonan yang kita susun. Pemahaman akan kedaulatan Allah seharusnya membuat kita membatasi permohonan kita, hanya pada segala sesuatu yang sesuai dengan maksud atau janji-Nya.

Mazmur. Ke-Raja-an Allah

Allah adalah Raja. Ini adalah pernyataan yang bersifat politis. Dunia pada zaman Alkitab hanya mengenal satu tipe pemerintahan yaitu kerajaan. Di sebuah kerajaan yang berdaulat, raja adalah pemimpin tertinggi yang dihormati dan ditaati oleh rakyatnya. Seseorang menjadi raja karena tindakan kepahlawanannya bagi rakyat, sehingga rakyat menerima dan mengangkat dia sebagai raja.

Allah adalah Raja bukan karena manusia menerima dan mengangkat Dia sebagai Raja. Bukan pula karena Allah telah berjasa bagi manusia. Allah adalah Raja sebab Dialah Sang pemilik alam semesta dan segala isinya, termasuk manusia. Dia Sang Pencipta, Pemilik, dan Penebus manusia yang sudah jatuh ke dalam perbudakan dosa.

Tindakan penebusan Allah, yang dinyatakan lewat penyelamatan-Nya atas Israel yang diperbudak Mesir, adalah akibat dari tindakan Allah mewujudkan ke-Raja-an-Nya. Dialah yang menaklukkan bangsa-bangsa ke bawah kuasa umat-Nya agar mereka mengakui bahwa Dialah Raja atas segala raja di muka dunia ini (ayat Mzm 2). Itu sebabnya sejarah di Alkitab (lih. Dan 2) maupun dunia memberi kesaksian bahwa tak ada bangsa yang menolak Allah, yang akan terus berjaya. Satu persatu mereka akan tumbang.

Di dalam Perjanjian Baru, Ke-Raja-an Allah dinyatakan secara sempurna lewat Tuhan Yesus. Dialah Raja bukan dalam konteks bangsa-bangsa, tetapi dalam hati setiap orang percaya. Dia adalah Pencipta dan Pemilik, bahkan Penebus hidup. Karya penebusan Kristus mengkonfirmasi bahwa Dialah satu-satunya yang berhak atas titel Raja. Tugas kita yang sudah menjadi anggota Keraja-an-Nya adalah memproklamasikan Injil Kerajaan Allah. Sebab ketika Injil diberitakan dan disambut, kuasa Ke-Raja-an Allah sedang dinyatakan (Flp 2:10-11).

Injil hari ini, Duka jadi suka

Seperti kebanyakan orang masa kini, para murid Yesus juga mengikut Yesus dengan harapan akan mendapat kehormatan dan kemuliaan. Lalu ketika harapan tidak sesuai dengan kenyataan, siapkah mereka untuk tetap ikut Yesus?

Yesus mempersiapkan murid-murid-Nya. Ia berkata bahwa mereka akan mengalami kesedihan yang teramat dalam setelah kematian-Nya. Pada saat yang sama, orang-orang yang telah menyalibkan Yesus justru akan bersukacita karena kematian Dia. Hari kematian Yesus bagaikan hari kemenangan bagi mereka. Namun kesedihan para murid tidak akan lama. Dukacita mereka akan berubah menjadi sukacita. Betapa besarnya sukacita yang akan dialami para murid ketika mereka tahu bahwa Yesus telah bangkit dari kematian (Luk. 24:41, 52). Yang Yesus maksud bukanlah menggantikan duka mereka dengan suka, melainkan duka mereka akan menjadi sukacita. Apa bedanya?

Banyak orang mengharapkan sukacita, tetapi tidak ingin mengalami dukacita dulu untuk memperoleh sukacita itu. Namun jika sukacita yang dimaksud Yesus adalah dukacita yang ditransformasi Allah menjadi sukacita, maka murid Kristus harus menanggung dukacita dulu, baru mengalami sukacita. Kebenaran ini digambarkan Yesus seperti seorang ibu yang akan melahirkan bayinya (ayat 21). Si ibu harus menanggung rasa sakit lebih dulu saat melahirkan. Sesudah itu, ia dapat bersukacita, yakni saat ia melihat dan menggendong bayinya. Seperti itulah derita dan kesedihan dalam hidup murid-murid Tuhan. Ada rasa sakit untuk seketika waktu lamanya, tetapi rasa sakit itu ditransformasi ke dalam sukacita kekal (band. 2Kor 4:16-18).

Sukacita kita sebagai orang Kristen bukan ditemukan dalam kepemilikan segala sesuatu yang kita inginkan. Seharusnya kita bersukacita karena kita membutuhkan Allah dan mengalami bagaimana hidup kita dipuaskan oleh Dia. Sukacita semacam itu adalah sukacita kekal, yang hanya dapat kita miliki bila kita berpaut pada Kristus.

DOA: Roh Kudus Allah, aku menyambut kedatangan-Mu ke dalam hatiku. Penuhilah diriku dengan pengharapan agar aku dapat menanggung setiap pencobaan dan tetap menatap kedatangan sukacita abadi dalam kehadiran Allah pada Hari Akhir. Amin. (Lucas Margono)

Mei 1726